#jjA3, jjI
DAFTAR PUSTAKA
&*+ &C C8 8! ( + ,8 . + 8 & 5558 6 - @ 6
Ahmad,Syekh Abu Al Abbas Syihabbudin, Zawaid Ibnu Majah, Ala Al Kutub Al Khomsah, Daar Al Kutub Al Ilmiah, Beirut-Lebanon, (Hadis ke-626), Cet Ke-1.
Al Qur’an dan Terjemah
Al-Hafidz bin, Hajar al-asqolani, Bulugghul Ma’ram. An bani Riyadh: Al-Ma’arif, 1417H/1992M. Juz Ke-3.
& @) 8 * +8- . / . 8 )
& 8 55!8 6 - @#6
Al-Qalubi, Sihabudin, et al, Al-Mahali, Beirut : Dar-al Fikti t.th, Juz 3.
Al-Qarni, A’idah, Rahasia Wanita Paling Bahagia di Dunia, Surabaya : La Raiba Bima Amanta (eLBA), Cet. Ke-1.
Al-Sabbagh, Mahmud, Tuntunan Keluarga Bahagia Menurut Isam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991, Cet, Ke-1.
Asmin. Status Perkawinan Adat Agama Jakarta: PT. Dian Rakyat, 1986.
& *8 8- 8 6 &*+ 44 %6 6 )
& - 8 # 6 - @ 8 6;
Baz, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah, Fatwa-fatwa Terkini 1, Jakarta: Darul Haq, 2003, Cet. Ke-1.
Bukhari, Imam, Shahih Bukhari, Bairut Libanon, Juz Ke-7.
Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Bisyarhi Al-Kiromani (Daar Al-Fikri), Juz. Ke-18.
Daly, Peunoh, Hukum Islam Studi Kasus Perbandingan Dalam Kalangan, Ahlus sunnah dan Negara-negara Islam, Malaysia: Thinkers Library, 1969, Cet.Ke-1.
Ghazali, Rahman, Fiqh Munakahat, Jakarta: Prenada Media, 2003, Cet. Ke-1.
Haddikusuma, Hilman, Hukum Perkawinan di Indonesia Menurut Hukum Adat, Perundang-undangan, Agama, Penerbit : CV Mandar Maju.
Hasan, Muhammad Tolhah Ahlussunnah Wal-Jama’ah, Jakarta: Lantabora Press, 2005, Cet. Ke-3.
Ibn Yazid al-Qazwayany, Abi Abdullah Muhamad, Sunnan Ibnu Majah, Mesir, Dar al-Fikr, 1993, Jilid. Ke- 1.
Indra, Hasbi, Iskandar Ahza, Husnani, Potret Wanita Shalehah, Jakarta : Penamadani, 2004, Cet. 1.
Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Bandung: Fokusmedia,2005, Cet.1.
Ma’bud, Aunul, Sarah Sunnah Abi Daud, Abdurahman, Muhammad Hasyim, Dhobthu Wa Tahqiq Al-Maktabah As sak Fiyah, Juz. Ke-6.
Muhdlur, A. Zuhdi, Hukum Perkawinan, ttp, Al-Bayan, 1997, Cet Ke-1.
Mukhtar, Kamal, Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1993, Cet. 3.
Musbikin, Imam, Qawa’id Al-Fiqhiyyah, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001, Cet. Ke-1. Muzdhar, M. Atho’ dan Khairuddin Nasution, Hukum Keluarga di Dunia Islam Modern, Studi
Perbandingan dan Keberanjakan UU Modern dari Kitab-kitab Fikih, Jakarta: Ciputat Pres, 2003, Cet. Ke-1.
Nur, Djama’an, Fiqh Munakahat, Semarang: Dina Utama Semarang , 1993, Cer.1.
Pribadi, Wawancara dengan Herman Idi, Tokoh Adat Rambang, Jemenang, 17 Maret 2009. Rafiq, Ahmad. Hukum Islam Di Indonesia Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998.
Ramulyo, Idris, Beberapa Masalah Tentang Hukum Acara PA dan Perkawinan Islam, Jakarta: ind.hill, 1984/1985.
Rojak, A. dan Rais Latif, Terjemah Hadis Sohih Muslim, Jakarta: Pustaka Al Husna, Juz. Ke-1, Cet. 3.
Sabiq, Sayyid, Alih Bahasa oleh Muhammad Thalib, Fiqh Sunah. Bandung: Al-Ma’arif, 1990. Salim, Hadiyah, Memilih Jodoh, Bandung: PT.Alma’arif, 1980, Cet. Ke-2.
Salim, Hadiyah, Qishashul Anbiya Sejarah dua puluh lima Rasul, Bandung: PT.Alma’rif, 19880, Cet. Ke-10.
Sholeh, Asrorun Ni’am, Fatwa-fatwa Masalah Pernikahan dan Keluarga, Jakarta: eLSAS, 2008, Cet. Ke-1.
Sukandarrumidi, Metodologi Penelitian: Petunjuk Praktis untuk Peneliti Pemula, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2004.
Sutarmadi, A. dan Mesraini, M.Ag, Administrasi Pernikahan dan Manajemen Keluarga, Jakarta, Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Jakarta, Tahun 2006.
Taimiyah, Ibnu, Majmu Fatawa Tentang Nikah, Jakarta: Pustaka Azzam, 2002, Cet. Ke-1. Thalib, Sayuti, Hukum Keluarga Indonesia, Jakarata: UI Press.
(7 + 8 - + G8- 0 1 % 8 6 - @ 6
Wawancara Pribadi dengan Lasmi, Tokoh Agama, Jemenang: 21 Maret 2009. Wawancara Pribadi dengan Nadam, Rusomad, P3N, Jemenang, 18 Maret 2009.
Wawancara Pribadi dengan Den Malhani, Kepala KUA, Rambang Dangku, 25 Maret 2009. Wawancara Pribadi dengan Syauq, Ahmad, Tokoh Agama, Jemenang, 25 Maret 2009
Yunus, Mahmud, Hukum Perkawinan dalam Islam, Jakarta: PT. Hidaya Karya Agung, 1996, Cet. 15.
Daftar Pertanyaan Wawancara dengan Tokoh Adat Desa Jemenang
1. Apakah masyarakat desa Jemenang sangat menjunjung tinggi adat atau tradisi? 2. Bagaimana pelaksanaan pernikahan adat Rambang di desa Jemenang ?
3. Apakah pengertian mintaan pada pernikahan adat Rambang ?
4. Apakah akibat hukum peminangan dalam pernikahan adar Rambang ? 5. Kapan dilaksanakan dan penyerahan permintaan tersebut ?
6. Apa manfaat dan tujuan dari permintaan tersebut ?
7. Apakah permintaan merupakan suatu keharusan dalam pernikahan adat Rambang ?
8. Bagaimana respon masyarakat Desa Jemenang apabila dalam pernikahan tidak ada permintaan?
9. Apakah ada sanksi bagi orang yang melaksanakan pernikahan tidak memenuhi prosedur pernikahan adat Rambang ?
Hasil Wawancara dengan Tokoh Adat Desa Jemenang Kec. Rambang Dangku
Narasumber : Herman Idi
Jabatan : Tokoh Adat Rambang Hari/Tanggal : Selasa, 17 Maret 2009 Pulul : 14.00-16.30
Tempat : Di Rumah Bapak Herman Idi
1. Apakah masyarakat desa Jemenang sangat menjunjung tinggi adat atau tradisi? Jawab :
Iya, masyarakat desa Jemenang masih sangat menjunjung tinggi adat atau tradisi. 2. Bagaimana pelaksanaan pernikahan adat Rambang di desa Jemenang ?
Jawab :
A. Kunjungan Kerumah Gadis Ada Tiga Tahap
d. Keluarga bujang datang mengunjungi rumah keluarga gadis yang akan di pinang tujuannya yaitu menanyakan dan memastikan apakah benar ada hubungan atau tidak antara bujang dan gadis (kedua putra dan putri mereka). Jika keluarga gadis menyatakan benar bahwa ada hubungan antara putra dan putri mereka serta keluarga gadis merestuinya, maka kelurga bujang menanyakan apa saja permintaan gadis yang di lamar tersebut, sekaligus dalam kunjungan ini agar kedua keluarga bujang dan gadis
saling mengenali. Kunjuangan ini hanya bersama pihak keluarga saja seperti bujang yang hendak melamar bersama ayah atau paman atau kakak laki-lakinya saja.
e. Kunjuangan ke dua yaitu keluarga bujang datang menyerahkan atau menunjukkan sesuatu sebagai tanda akor (setuju) berupa emas atau uang. Kunjungan ini hanya bersama pihak keluarga saja seperti bujang yang hendak melamar bersama ayah, ibu, paman, kakak atau adiknya saja artinya belum mengajak para tetangga.
f. Kunjungan ketiga yaitu pelamaran, keluarga bujang datang ke rumah kelurga gadis dengan mengajak saudara, para tetangga, kepala desa dan P3N. Dalam kunjungan ini melamar sekaligus menyerahkan seluruh permintaan gadis yang di lamar.
Didalam acara pelamaran ini ada pembawa acara, dan salah satu kelurga yang di tunjuk sebagai perwakilan dari keluarga bujang dan perwakilan dari keluarga gadis apabila para orang tua mempelai bujang dan gadis menghendaki di wakilkan. Dalam acara pelamaran ini pembawa acara yang memimpin berjalannya acara peminangan. Adapun susunan acaranya yaitu:
Sambutan dari pihak keluarga laki-laki Sambuta dari pihak keluarga perempuan Sambutan dari ketua adat dan
Sambutan dari kepala desa
Pesirihan dan penyerahan permintaan, penyerahan ini kedua perwakilan dari keluarga bujang dan gadis saling berhadapan dan berbincang dengan menggunakan bahasa daerah:
- Pihak bujang berkata : ini saya bawakan sirih yang di bungkus dengan sapu tangan (kain) dan rokok pemberian dari bujang (pelamar) untuk keluarga gadis sebagai tanda penghormatan.
- Pihak gadis berkata : sirih sudah saya makan rokok sudah saya hisap silahkan pihak bujang menyampaikan apa yang hendak disampaikan
- Pihak bujang : ini sudah saya bawakan permintaan gadis (di sebutkan) apakah benar ini semua permintaannya?
- Pihak gadis: ya semuanya benar itu permintaan gadis. Kemudian pihak gadis berpantun.
- Pihak bujang: kalau benar itu semua permintaannya kami bersyukur. pihak bujang pun berpantun.
Biasanya dalam pantun ini pentun yang saling memuji antara kedua keluarga bujang dan gadis.
Kemudian dilanjutkan dengan nasihat dari kepala desa dalam nasihat ini agar pertunangan bujang dan gadis ini langgeng sampai ke pernikahan dan sampai beranak dan bercucu.
Setelah itu di buat surat perjanjian bujang dan gadis, dalam surat perjanjian bujang dan gadis ini berisi perjanjian bahwa benar permintaan gadis adalah yang telah ditulis dalam surat dan apa bila bujang membatalkan pertunangan maka semua pemberian kepada gadis tidak dapat di kembalikan lagi dan apa bila pihak gadis yang membatalkan pertunangan maka seluruh pembarian bujang di kembalikan dua kali lipat. Surat perjanjian bujang dan gadis ini di tandatangani keluarga tertua dari pihak
bujang dan gadis, kepala desa serta ketua adat dan surat perjanjian ini di buat rangkap tiga, surat dipagang oleh keluarga bujang, keluarga gadis dan kepala desa.
Penentuan hari dan tanggal pernikahan, kedua keluarga dan calon pengantin saling berembuk menentukan waktu pelaksanaan pernikahan yang di sepakati bersama.
Setelah acara pelamaran selesai dilanjutkan dengan menyantap hidangan makanan dan minuman serta kueh-kueh yang telah dihidangkan.
Setelah pelamaran selesai gadis langsung dibawa ke rumah bujang dengan ditemani gadis dari pihak perempuan sampai hari pernikahan dilangsungkan akan tetapi hal ini apa bila si calon mempelai wanita telah terjamin ada yang menemani atau mengawasi selama ia di rumah mempelai pria, jika tidak maka dua atau tiga hari saja, selama calon mempelai wanita di rumah mempelai pria calon mempelai wanita di jaga ketat agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
Ketika calon mempelai wanita dan calon mempelai pria beserta rombongan hampir sampai di rumah calon mempelai pria, calon mempelai pria memanggil “ma / bapak… sambut aku ini aku dapat mantu..” kemudian ibu dan bapaknya pun datang dan berkata “bawa kemari sambung jurai kami” (bawa kemari teruskan keturunan kami) kedua mempelai dibawa ke dapur kaki kedua pengantin di siram di atas dapur kayu bakar atau kompor yang menyiramkan air adalah ibu si wanita tersebut sambil berniat memaafkan atau menghapus jika ada kesalahan atau perselisihan antara kedua belah pihak keluarga pengantin.
Tujuan mempelai wanita di bawa ke rumah mempelai pria adalah untuk belajar situasi di rumah mertua atau menyesuaikan diri sampai hari pelaksanaan akad nikah dan untuk memperkenelkan kepada keluarga atau saudara mempelai laki-laki yang tidak ikut dalam peminangan.
B. Tindak Lanjut Menuju Hari Pernikahan
Perjanjian-perjanjian untuk pelaksanaan pernikahan h. Permintaan Colon Istri
Calon mempelai laki-laki harus memenuhi apapun yang diminta oleh calon mempelai wanita (calon istri) biasanya berupa emas, uang, dan besi berupa keris. Permintaan murni dari keinginan calon mempelai wanita.
Keris bertujuan untuk diberikan pada muanang (kakak laki-lak) dan bapak si perempuan
Serta memberi emas kepada kakak perempuan atau laki-laki jika ada pelangkahan pernikahan
Setelah permintaan telah terpenuhi selanjutnya: i. Permintaan Adat
Dalam permintaan adat ini harus dipenuhi tidak boleh dilanggar dan tidak ada tawar menawar
Permintaan Wali sekaligus Meminta Restu
Dalam permintaan wali calon pengantin wanita meminta secara langsung atau diwakilkan oleh orang lain untuk meminta wali kepada bapak atau kakak laki-laki (jika bapak sudah meninggal) dengan menyerahkan keris di sertai membawa makanan berupa sagun dan sirih, yang mempersiapkan keris, sagun dan sirih dalam permintaan wali adalah pihak mempelai pria. Permintaan wali ini bertujuan untuk meminta restu kepada orang tua dan meminta sang ayah agar mau menjadi wali di saat ijab dan qabul nanti.
- Menggunakan keris karena: dahulu zaman nenek moyang di desa Jemenang, pusaka sangat di agungkan seperti keris, pedang dan tombak, dan karena keris lebih berteras (bernilai) sebagai pusaka.
- Membawa sirih karena: dizaman dahulu yang paling dihargai adalah pesirihan. Pesirihan adalah bernilai penghornatan yang paling tertinggi.
- Membawa sagun karena: makanan has desa Jemenang adalah: dodol, sagun dan lemang.
C. Pelaksanaan Pernikahan
a. Akad Nikah atau Ijab Qabul
Dalam akad nikah tidak ada yang berbeda, akad nikah dilangsungkan sesuai dengan Rukun dan syarat nikah yaitu ada:
- Mempelai pria dan wanita - Wali nikah
- Dua saksi - Ijab dan qabul
Dalam syarat nikah pun dilaksanakan sesuai dengan anjuran agama Islam. Sedangkan mas kawin yang biasanya diminta oleh mempelai perempuan adalah uang sebesar Rp.50.000 sampai Rp.100.000 atau seperangkat alat sholat.
Pelaksanaan akad nikah dan walimah dilaksanakan di rumah mempelai pria. Pelaksanaan akad nikah dengan di hadiri P3N dan di saksikan oleh masyarakat (tamu undangan). b. Kawin Adam atau Perkawinan Adam
Setelah ijab qabul selesai dilanjutkan dengan Perkawinan Adam, biasanya pelaksanaan kawin Adam ini penganti laki-laki dan pengantin perempuan sudah duduk di pelaminan
dengan di saksikan para tamu undangan, keluarga dan saudara dari pihak laki-laki dan perempuan. Adapun ritual kawin Adam adalah :
Mata kedua penganti di tetesi air dengan ujung daun kayu belidang atau daun kayu salah agar tidak ada perselisihan dimasa-masa yang akan datang bagi kedua pengantin laki-laki dan perempuan.
Jempol tangan kedua pengantin disatukan serta rambut di ubun-ubun kedua pengantin juga disatukan dan diikat dengan dibacakan doa-doa.
Di kepasi (di perciki) kedua pengantin dengan daun kayu balai angin atau daun kayu belidang atau daun kayu salah dan air jeruk yang di iris-iris, agar menyatu rasa kasih sayang antara bujang dan gadis.
Ngais kaki dengan kaki ayam, kaki pengantin di usap-usap dengan kaki ayam jantan dan betina yang masih hidup, dengan disaksikan pemerintah desa.
Disebut kawin Adam karena dahulu manusia yang ada di bumi hanya Nabi Adam dan Siti Hawa dan dahulu Nabi Adam dan Siti Hawa itu belumlah seiring sejalan (satu tujuan) kemudian turunlah wahyu melalui malaikat Jibril bahwa nikahkanlah Adam dan Hawa kemudian dinikahkanlah Nabi Adam dan Siti Hawa oleh malaikat Jibril atas perintah Allah tanpa adanya wali dan saksi.
Tujuan dari nikah adam adalah untuk seiring sejalan dan sah perkawinan bukan berzina (ayam seteguran)
j. Nyuapi Hati Ayam
Setelah kawin Adam selesai orang tua kedua belah pihak menyuapi hati ayam pada kedua pengantin laki-laki dan perempuan sebagai tanda bahwa kedua belah pihak keluarga sangat bahagia karena telah terlaksananya hubungan dua keluarga besar.
Setelah selesai menyuapi hati ayah pada pengantin langsung disusul acara sambut-menyambut, menurut kebiasaan tiga orang dari keluarga laki-laki dan dua orang dari keluarga perempuan pengantin dirangkul dengan selendang dengan mengucapkan “mudah-mudahan hidupnya gayuh (panjang umur), murah rizki, sambung jurai kami (teruskaan keturunan kami)”.
k. Setelah acara makan-makan para tamu udangan memberi selamat kepada pengantin dengan ngusap kening kedua pengantin dengan jempol yang di oles dengan air liur.
l. Balek Belanjun
Setelah acara pernikahan selesai dan para tamu sudah pulang serta rumah pun sudah di bersihkan semua perabotan yang dapan meminjam sudah di kembalikan dan setelah keadaan rumah mempelai pria sudah rapih kembali dilanjutkan dengan acara balek belanjun, pengantin wanita kembali kerumah orang tuanya pengantin pria pun ikut serta ke rumah orang tua mempelai wanita dengan diantar oleh keluarga pengantin pria ketika balek belanjun dengan membawa: lemang, dodol, dan ayam kampung.
Setelah sampai di rumah mempelai wanita kemudian para ibu memasak membuat nasi gemuk. Nasi gemuk di persembahkan kepada arwah-arwah leluhur keluarga pengantin wanita bahwa cucunya telah pulang kerumah, memanggil arwah-arwah leluhur dengan membakar kemenyan dengan di pimpin oleh tokoh adat, setelah itu nasi gemuk tersebut dimakan bersama sekeluarga.
m. Ziarah ke Makam Leluhur
Setelah acara balek belanjun ke dua pengantin bersama keluarga mempelai wanita serta mengajak para tetangga berziarah ke makam leluhur kelurga perempuan, dalam ziarah ini memanggil arwah leluhur yang setingkat wali, nabi dan para ulam-ulama
lainnya dan memanjatkan doa ke pada Allah SWT agar para leluhur yang belum mendapat ketenangan di alam kubur supaya di beri ketenangan dan yang sudah di beri kenikmatan kubur di minta agar menyampaikan doa ini ke pada Allah SWT agar dapat di kabulkan.
n. Kawin Belarian
Jika pihak bujang kurang mampu maka bisa dengan kawin belarian yaitu bujang membawa gadis datang ke rumah kepala desa untuk membuat surat perjanjian bujang dan gadis tanpa membawa saudara dan para tetangga dan dikeesokan hari langsung mengadakan akad nikah. Tetapi pada umumnya kawin belarian ini secara sembunyi-sembunyi karena pihak bujang merasa malu.
3. Apakah pengertian mintaan pada pernikahan adat Rambang ? Jawab:
Permintaan perempuan atau gadis kepada bujang
4. Apakah akibat hukum peminangan dalam pernikahan adar Rambang ? Jawab :
a. Perempuan yang membatalkan pertunangan (menerima pinangan orang lain) semua pemberian kali-laki pertama yang telah meminangnya di kembalikan tiga kali lipat.
b. Jika laki-laki yang membatalkan pertunangan (menikah atau melamar wanita lain) keseluruhan yang telah diberikan kepada wanita pertama yang di pinangnya tidak bisa di kembalikan lagi.
c. Wanita yang sudah di pinang tidak boleh berduaan, saling bertegur sapa, saling melihat dari luar batas.
5. Kapan dilaksanakan dan penyerahan permintaan tersebut ? Jawab :
Mintaan di ajukan ketika kunjungan pertama ke rumah colon mempelai wanita dan mintaan di serahkan saat pelamaran atau kunjungan ketiga ke rumah calon mempelai wanita.
6. Apa manfaat dan tujuan dari permintaan tersebut ? Jawab:
Uang dan emas sebagai bekal kepentingan mempelai wanita nantinya.
7. Apakah permintaan merupakan suatu keharusan dalam pernikahan adat Rambang? Jawab:
Kalau tidak mintaan pihak perempuan dan laki-laki sendiri yang akan malu jika pihak perempuan tidak meminta. Biasanya si bujang akan memberi sesuatu yang dia mampu kepada pihak perempuan karena menghargainya.
8. Bagaimana respon masyarakat Desa Jemenang apabila dalam pernikahan tidak ada permintaan ?
Jawab:
Akan menimbulkan kesan jelek atau buruk, karena si perempuan akan merasa tidak ada harganya dan si laki-laki tidak ada penghormatan.
9. Apakah ada sanksi bagi orang yang melaksanakan pernikahan tidak memenuhi prosedur pernikahan adat Rambang ?
Jawab:
a. Akan mendapatkan mala petaka dari pendiri-pendiri adat (leluhur) seperti akan sakit atau akan mendapat halangan kemakmuran rezeki dan lain-lain.
b. Jika berbeda adat antara kedua mempelai maka menggunakan adat dimana tempat dilaksanakan akad pernikahan.
Daftar Pertanyaan Wawancara dengan Kepala KUA Kec. Rambang Dangku
1. Bagaimana pelaksanaan pernikahan adat Rambang di Desa Jemenang ?
2. Menurut bapak bentuk pelaksanaan pernikahan seperti apakah yang sesuai dengan syariat Islam?
3. Bagaimanakah pendapat bapak dengan pernikahan adat Rambang tersebut, apakah sesuai dengan anjuran dalam pernikahan Islam ?
4. Bagaimana pendapat bapak tentang kebiasan gadis yang sudah dilamar langsung di bawa ke rumah pihak keluarga laki-laki, kebiasaan adanya permintaan dari gadis yang di lamar, dan dengan besarnya biaya pernikahan , serta ritual nikah Adam dalam pernikahan adat Rambang? 5. Kegiatan apa sajakah yang sudah dilakukan KUA Kec. Rambang Dangku yang berkaitan
dengan pernikahan di Desa Jemenang ?
6. Selama ini ada tidak yang bertentangan dengan syariat Islam dalam pelaksanaan pernikahan adat Rambang ?
Hasil Wawancara dengan Kepala KUA Kec. Rambang Dangku
Narasumber : Din Malhani, SPd.I
Jabatan : Kepala KUA Kec. Rambang Dangku Hari/Tanggal : Senin, 25Maret 2009
Pulul : 10.00-12.00
1. Bagaimana pelaksanaan pernikahan adat Rambang di Desa jemenang ? Jawab:
Saya tidak begitu faham betul dengan pernikahan adat Rambang
2. Menurut bapak bentuk pelaksanaan pernikahan seperti apakah yang sesuai dengan syariat Islam?
Jawab:
Pernikahan yang sesuai dengan syariat Islam. Sebagai mana yang kita tahu bagai mana cara memilih, meminang, anjuran pelaksanaan nikah ya tidak jauh-jauh dari anjuran Nabi itulah yang terbaik kalau kita mampu dan faham (mampu artinya mampu memahami) tetapi kalau tidak faham maka silahkan apa yang terbaik menurut mereka asalkan tidak bertentangan dengan syariat Islam.
3. Bagaimanakah pendapat bapak dengan pernikahan adat Rambang tersebut, apakah sesuai dengan anjuran dalam pernikahan Islam ?
Jawab:
Menurut pendapat saya pernkahan adat Rambang biasa-biasa saja
4. Bagaimana pendapat bapak tentang kebiasan gadis yang sudah dilamar langsung di bawa ke rumah pihak keluarga laki-laki dan kebiasaan adanya permintaan dari gadis yang di lamar, dan dengan besarnya biaya pernikahan , serta dalam ritual nikah Adam dalam pernikahan adat Rambang ?
@ Mengenai wanita yang sudah dilamar langsung di bawa kerumah kelurga laki-laki, menurut saya silahkan saja tetapi kalau itu menimbulkan berakibat negatif maka kita juga tidak setuju. Tetapi kalau tujuannya itu bersifat positif kita setuju seperti untuk mengamankan perempuan agar fokus menuju pernikahan dan siwanita di rumah pria di jaga ketat atau dipelihara. Dengan dibawanya calon pengantin wanita ke rumah calon pengantin pria juga termasuk pra pernikahan, pra memaklumi keluarga laki-laki atau perkenalan dengan keluarga laki-laki .
@ Mengenai besarnya biaya pernikahan dan adanya permintaan dari gadis yang dilamar menurut saya kalaupun membutuhkan waktu dan biaya yang banyak tetapi jika memang itu sesuai dengan kesepakatan maka itu tidak ada masalah, kalau punya biaya ya silahkan kalau tidak punya biaya silahkan sempunya.
@ Memercikan air dengan daun pada pengantin (nikah Adam) itu jika hanyalah sebagai lambang agar dapat menyatu rasa cinta kasih mereka tidak apa-apa tetapi kalau tujuannya untuk mengusir roh halus maka saya tidak setuju.
@ Selama itu tidak menjadi masalah dengan lingkungan (masyarakat) yang bersangkutan dan tokoh agama setempat boleh-boleh saja, ya berarti tidak ada masalah. Karena pada dasarnya adat juga bertujuan baik, kalau masih berjalan sesuai adat ya silahkan saja