A. Al-Qur’an
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Surabaya: Fajar Mulya, 2012.
Ridha, Rasyid, al-Manār, Mesir: Dar El Jeli’, 2013, I.
B. Hadis
al-Aṡīr, Ibnu, an-Nihāyatu fī Garībi al-Ḥadīṡi wa alĀṡār, Jilid II, Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāṡ al-‘Arabiy.
al-Bukhori, Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il, Shohīh Bukhorī, Dar Al Kutub Al Ilmiyah: Beirut, 2012, I.
Khatib, Muhammad Ujjad, Uṣūl al-Hadīs Ulūmuhu wa Musṭaluhuhu, Beirut: Dar al Fikr, 1989.
Muslim, Shahih Muslim, Juz I, Semarang: Toha Putra, 2003.
C. Fiqih/Usul Fiqih
Abdul Wahhab dan Abdul Aziz, Fiqih Ibadah: Thaharah, shalat, zakat, puasa, dan haji, alih bahasa Ahsan Taqwim dan Kamran, cet. Ke-1, Jakarta:
Amzah, 2009.
Abidin, Muhammad Amin Yahir bin Ibn, Radd Mukhtār 'ala Durr al-Mukhtār Syarh Tanwīr al-Abşār, Beirut, Dar al-Kotob al-Ilmiyah, 2003, IV.
Ayub, Hasan, Fiqih ibadah: Panduan Lengkap Beribadah Sesuai Sunnah Rasullullah Saw., alih bahasa Abdurrahim, cet ke-1, Jakarta: Cakra Lintas Media, 2010.
Bambang dkk., Fikih Zakat Kontekstual Indonesia, Jakarta Pusat: Badan Amil Zakat Nasional, 2018.
Dahlan, Abd. Rahman Ushul Fiqh, Jakarta: Amzah, 2016.
al-Fayyumi, Muhammad Ibrahim. Imam Syafi’i Pelopor Fikih dan Sastra, Jakarta:
Erlangga, 2009.
Hasan, Ahmad, Nasyatul Fiqh al-Islāmi, Damaskus : Dar al Hijroh, 1996.
Hanafi, Ibnu Malik bin Aminudin, Mabarik Azhar Syarh Masyariq al-Anwar, Beirut: Dar al- Kotob al-Ilmiyah, 2013, I
Ibrahim, Hāsyiyah Bājūrī Syarh Fathul Qorīb Mujīb, Semarang: al-Haromayn, 2016.
al- Jurjani, Ali Ibn Muhammad, At-Ta’rifāt, Al Haramayn: Semarang, 2014.
Khallaf, Abdul Wahab, Ilmu Ushuul Fiqh, Mesir: Maktabah Ad-Da`wah Al-Islāmiyyah, t.t.
al-Khani, Mustafa Said, al-Kāfi al-Wāfi fi Ushūl al-Fiqh al-Islāmi, Libanon:
Muassah al-Risalah, 2000.
90
al-Kasani, Badāi’ aş- şanāi’ fī Tartībi al Syarāi’, Beirut: Dar al-Kotob al-Ilmiyah, 2013, IV.
Qardāwi, Yūsuf, Hukum Zakat, alih bahasa Salman Harun dkk, cet ke-2, Jakarta:
Litera Antar Nusa, 1973.
al-Razi, Imam Fakhruddin, Manāqib Imam As-Syāfi’i, Pustaka Al Kautsar: Jakarta Timur, 2007.
Suyatno, Dasar-dasar Ilmu Fiqih dan Ushul Fiqih, cet. Ke-3, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014
al-Sakhrasi, Muhammad bin Ahmad bin Abi Sahl, al-Mabsūth, Beirut-Libanon:
Dar al Kutub al Ilmiyah, 1993, V.
Syarifuddin, Amir, Garis – Garis Besar Fiqh, Jakarta: Prenada Media, 2003.
Az-Zuhailī, Wahbah, Fiqih Islām Wa Adillatuhu, cet. ke-10, Damaskus: Darul Fikr, 2007.
Az-Zuhailī, Wahbah, Zakat Kajian Berbagai Mazhab, alih bahasa Agus Effendi dan Baharudin, Bandung: Remaja Rosdakarya,1997.
Az-Zuhailī, Wahbah, Fiqih Imam Syafi’i, alih bahasa Muhammad Afifi dan Abdul Hafiz, Jakarta: PT. Niaga Swadaya, 2010.
D. Lain-lain
Agustina, Kukuh Dwi, “Penyaluran Dana Zakat DI Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Kebumen Tahun 2015” Skripsi Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negeri Purwokerto, Purwokerto: Institut Agama Islam Negeri Purwokerto, 2015.
al-Buuthi, Muhammad Said Ramadhan, Bahaya Bebas Mazhab dalam Keagungan Syariat Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2001.
Bagir, Haidar dan Syafiq Basri, Ijtihad Dalam Sorotan, Bandung: Mizan Anggota IKAPI, 1996.
Hassan, al-Jamal, Biografi 10 Imam Besar, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005.
Hidayatullah, Novrizal, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Implementasi Penyaluran Dana Beasiswa Di Baitul Mal Kota Langsa.”Al Muamalat Jurnal Hukum Ekonomi Syariah, Vol: III, No 02. Tahun 2018.
Kementrian Agama Republik Indonesia, Panduan Zakat Praktis, Jakarta, Kemenag Ri press, 2012.
Khalil, Rasyad Hasan Tārikh Tasyri’ Sejarah Legislasi Hukum Islam, Jakarta:
Amzah, 2009.
91
Maulvi Nazir, “Pendayagunaan Dana Zakat Dalam Bentuk Beasiswa Perspektif Yusuf Qardhawi”, Skripsi Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, 2015.
Mukhtar, Muniroh, Mazhab dan Sejarahnya, Jakarta: Pustaka Mghfiroh, 2008.
Muhammad Zuhri dan Muhammad Rifa'i, Kifayatul Akhyar Terjemahan Khulashah, Semarang: Toha Putra, 1986.
Munawwir, Ahmad Warson Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia Terlengkap, cet.ke-14, Surabaya: Pustaka Progressif, t.t.
Mudiri, H. Logika, Jakarta: Rajawali Press, 2012.
al-Mansur, Asep Saefudin, Kedudukan Mazhab dalam Syariat Islam, Jakarta:
Pustaka Al Husna, 1984.
Permono, Syeikhul Hadi Pendayagunaan Zakat untuk Pembangunan Nasional, Jakarta: Pustaka Firdausi, 1992.
Qordhowi, Yusuf, Hukum Zakat, Jakarta: Lentera Antara Nusa, 1986.
R. Maulina G. Setya Nugraha, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya:
Karima, 2000.
Ubaidillah, Abas, Sejarah Perkembangan Imam Mazhab, Jakarta: Pustaka Bintang Pelajar, 2013.
Yanggo, Huzaemah Tahido, Pengentar Perbandingan Mazhab, Ciputat: Logos, 1997.
Zahrah, Abu, Dakwah Islamiyah, cet. ke- I Bandung: Remaja Rosdakarya,1994.
Zuhri, Muhammad Hukum Islam dalam Lintasan Sejarah, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996.
E. Undang-undang
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat.
Geografis-Website Resmi Pemerintah Kabupaten Kebumen, https://www.kebumenkab.go.id/index.php/web/page/23.
Muzakkir Zabir, “Manajemen Pendistribusian Zakat Melalui Program Unggulan Beasiswa Oleh Baitul Mal Aceh.”Al-dirah: Jurnal Managemen dan
Administrasi Islam, Vol: 1, No 1, Januari-Juni, 2017.
92
Susanti, Desilia Wimbi. Statistika Pendidikan Kabupaten Kebumen. Kebumen:
Badan Pusat Statistik Kabupaten Kebumen, 2020.
Tim Fakultas Syariah dan Hukum, Pedoman Teknik Penulisan Skripsi Mahasiswa, Yogyakarta: Fakultas Syari’ah press, 2009.
https://www.republika.co.id/berita/qkk9ar423/baznas-pamekasan-salurkan-rp-464-juta-untuk-beasiswa-santri, diakses pada 27 Januari 2022.
Muhammad Hamim Ma‟rifatulloh “Mutiara Hikmah Organisasi NU, Bahtsul Masail“ dalam
http://excellent165.blogspot.co.id/2014/12/organisasi-nubahsul-masail-dan.html, diakses 2 Agustus 2021.
I
LAMPIRAN-LAMPIRAN
A. TERJEMAHAN AL-QURAN, HADIS DAN ISTILAH ASING Hal orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakan hatinya (muallaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha mengetahui, Maha bijaksana
31 5 Al-Baqarah 43 Dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang
Sesungguhnya Allah berfirman kepadaku:
“Nafkahkanlah hartamu, nanti Aku akan memberi pula kepadamu!”
83 46 At-Taubah 122 Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang).
Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya
II beribadah sejak masa kecilnya, berakhlak mulia, serta menjahui perbuatan dosa dan keji. Atjep Djazuli menjelaskan “Abu Hanifah diambil dari ayat Fattabi’umillata Ibrahima Hanifa ( maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus), Q.S. Ali Imran ayat 95.
Imam Abu Hanifah dilahirkan pada tahun 80 H di kufah pada masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan ( Bani Umayyah). Mengenai kelahiran Abu Hanifah, di antaranya ahli sejarah sebenarnya terdapat perbedaan. Ada di antara ahli yang menyebut tahun 61 H sebagai tahun kelahiran beliau, namun ada juga yang mengatakan tahun 70 H, di antara semua pendapat, yang paling kuat dan dapat digunakan adalah 80 H. jika Abu Hanifah lahir tahun 61 H, berarti beliau ditugaskan menjadi Qadhi pada usia Sembilan puluh tahun.
Tentu saja ini tidak masuk akal. Tidak mungkin orang setua itu diberikan tugas berat yang berkaitan dengan kemaslahatan umat.
Imam Abu Hanifah tinggal di kota kufah di Irak. Kota ini terkenal sebagai kota yang dapat menerima perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Ia seorang yang bijak dan gemar ilmu pengetahuan. Ketika ia menambah ilmu pengetahuan, mula-mula ia belajar sastra bahasa arab. Karena ilmu bahasa, tidak banyak dapat digunakan akal ( pikiran) ia meninggalkan pelajaran ini dan beralih mempelajari fiqih. Ia berminat pada pelajaran yang banyak menggunakan pikiran. Di samping mempelajari ilmu fiqih, beliau sempat juga mempelajari ilmu-ilmu yang lain, seperti tauhid dan lain-lain, beliau berpaling untuk memperdalam ilmu pengetahuan karena menerima nasihat seorang gurunya bernama al-Sya’ab.
Abu Hanifah memiliki seorang ayah bernama Thabit bin Zauty al-Farisy,sementara kakeknya merupakan penduduk Kabul, sebuah kota di Afganistan, ibu Abu Hanifah tidak terkenal dikalangan ahli-ahli sejarah tetapi walau bagaimanapun ia menghormati dan sangat taat kepada ibunya. Keluarga Abu Hanifah sebenarnya adalah keluarga pedagang di sendiri sempat terlibat dalam urusan perdagangan namun hanya sebentar sebelum dia memutuskan perhatian pada soal-soal keilmuan. Imam Abu Hanifah dikenal sebagai orang yang sangat tekun dalam mempelajari ilmu. Sebagai gambaran, dia pernah belajar fiqih kepada ulama yang paling terpandang pada masa itu, yakni Humad Bin Abu Sulaiman, tidak kurang dari 18 tahun lamanya.Setelah wafat