Almatsier, S. (2004). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Umum. Hal. 77, 78, 104.
Buckle, K. A., Edwards, R. A., Fleet, G. H., Wootton, M. (2009). Food Science.
Penerjemah: Hari Purnomo dan Adiono. Jakarta: UI-Press. Hal. 270.
Budiyanto, M. A. K. (2004). Dasar-dasar Ilmu Gizi. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang Press. Hal. 37, 40-41.
Chang, S. K. C. (2010). Protein Analysis. Dalam Buku Food Analysis. Edisi II.
Editor: S. Suzanne Nielsen. New York: Springer Science Business Media Inc. Hal. 239-247.
Ditjen POM. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Departemen.
Kesehatan RI. Hal. 650.
Estiasih, T., Novita, W., Indria, P., Wenny, B.S., Nurcholis, M., Feronika, H., dkk. (2012). Modul Praktikum Biokimia dan Analisis Pangan. Malang:
Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya. Hal. 41-44.
Harmita. (2004). Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Perhitungannya. Majalah Ilmu Kefarmasian. I (3). Hal. 122.
Harvey, D. (2000). Modern Analytical Chemistry. USA: McGraw-Hills Companies Inc. Hal. 85.
Kamizake, N. K. K., Goncalvez, M. M., Zaia, C. T. B. V., Zaia, D. A. M. (2003).
Detemination of Total Proteins in Cow Milk Powder Samples: a Comparative Study between Kjeldahl Method and Spectrophotometric Methods. Journal of Food Composition and Analysis. Hal. 515.
Krohn, R. I. (2005). The Colorimetric Detection and Quantitation of Total Protein. Dalam Buku Handbook of Food Analytical Chemistry. (2005).
Editor: Ronald E. Wrolstad, Terry E. Acree, Eric A. Decker, Michael H.
Penner, David S. Reid, Steven J. Schwartz, Charles F. Shoemaker, Denise Smith, Peter Sporns. New Jersey: John Wiley and Sons Inc. Hal. 77-90.
Martoharsono, S. (1998). Biokimia. Jilid I. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 36, 37, 48.
Nasution, R. (2003). Teknik Sampling. Medan: USU Digital Library. Hal. 5.
Pomeranz, Y. dan Meloan, C.E. (1987). Food Analysis: Theory and Practice.
Edisi II. New York: Van Nostrand Reinhold Company. Hal. 760.
Rhee, K. C. (2005). Determination of Total Nitrogen. Dalam Buku Handbook of Food Analytical Chemistry. (2005). Editor: Ronald E. Wrolstad, Terry E.
Acree, Eric A. Decker, Michael H. Penner, David S. Reid, Steven J.
Schwartz, Charles F. Shoemaker, Denise Smith, Peter Sporns. New Jersey:
John Wiley and Sons Inc. Hal. 105.
Rohman, A. dan Sumantri. (2013). Analisis Makanan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 5-10.
Saleh, E. (2004a). Teknologi Pengolahan Susu dan Hasil Ikutan Ternak. Medan:
USU Digital Library. Hal. 1.
Saleh, E. (2004b). Dasar Pengolahan Susu dan Hasil Ikutan Ternak. Medan:
USU Digital Library. Hal. 1.
Sediaoetama, A. D. (2010). Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi. Jilid I.
Jakarta: Dian Rakyat. Hal. 53, 59, 75.
Sibagariang, E. E. (2010). Gizi dalam Kesehatan Reproduksi. Jakarta: CV. Trans Info Media. Hal. 31.
Simonian, M. H. (2005). Spectrophotometric Determination of Protein Concentration. Dalam Buku Handbook of Food Analytical Chemistry.(2005). Editor: Ronald E. Wrolstad, Terry E. Acree, Eric A.
Decker, Michael H. Penner, David S. Reid, Steven J. Schwartz, Charles F.
Shoemaker, Denise Smith, Peter Sporns. New Jersey: John Wiley and terhadap Komposisi Zat Gizi Bahan Pangan Sumber Protein. Jurnal Media Litbangkes. Hal. 236, 242.
Lampiran 1. Daftar spesifikasi sampel
No Sampel Spesifikasi
1 Merek : -
Komposisi : -
Kandungan Protein : - Tanggal Kadaluarsa: - Produsen : -
2 Merek : Ultra Milk
Komposisi : Susu sapi segar, susu skim bubuk, penstabil nabati, garam.
Kandungan Protein : 8 g/250 ml Tanggal Kadaluarsa: 03 Juli 2017 Produsen : PT. Ultrajaya Milk Industry & Trading, Co. Tbk.
Indonesia
No Sampel Spesifikasi
3 Merek : Frisian Flag Full Cream
Komposisi : Susu segar, air, susu skim bubuk, lemak susu, bubuk whey, penstabil nabati.
Kandungan Protein : 7g/225 ml Tanggal Kadaluarsa: September 2017 Produsen : PT. Frisian Flag Indonesia
4 Merek : Indomilk Vanila
Komposisi : Susu sapi segar, air, gula, susu bubuk skim, lemak susu, penstabil, perisa identik alami vanilla.
Kandungan Protein : 4g/190 ml Tanggal Kadaluarsa: Juli 2017 Produsen :
PT. Indolakto Indonesia
Lampiran 2. Skema Prosedur Analisis Kadar Protein dengan Metode Kjeldahl Sampel
Ditimbang 1 g
Dimasukkan ke dalam tabung Kjeldahl
Ditambahkan 1 g selenium, ditambahkan 25 ml H2SO4 pekat
Didestruksi hingga jernih (suhu 375°C selama 30 menit)
Didinginkan pada suhu kamar
Dimasukkan ke dalam labu tentukur 100 ml
Ditambahkan NaOH 40% sebanyak 50 ml Ditambahkan aquabides sampai garis tanda
Didestilasi dan destilat ditampung dalam erlenmeyer yang berisi 25 ml H3BO3 4 % dan 3 tetes indikator Mengsel (larutan berwarna hijau zamrud)
Volume Titrasi
Dipipet 25 ml kemudian dipindahkan ke dalam labu Kjeldahl
Dititrasi dengan HCl 0,1082 N hingga berwarna ungu
Lampiran 3. Skema Prosedur Pengerjaan Blanko
1 g Selenium
Dimasukkan ke dalam tabung Kjeldahl Ditambahkan 25 ml H2SO4 pekat
Didestruksi hingga jernih (suhu 375°C selama 30 menit) Didinginkan pada suhu kamar
Ditambahkan aquabides sampai garis tanda
Didestilasi dan destilat ditampung dalam erlenmeyer penampung yang berisi 25 ml H3BO3 4 % dan 3 tetes indikator Mengsel (larutan berwarna hijau zamrud) Dititrasi dengan HCl 0,1082 N hingga berwarna ungu
Volume Blanko
Ditambahkan NaOH 40% sebanyak 50 ml Dimasukkan ke dalam labu tentukur 100 ml
Dipipet 25 ml, dipindahkan ke dalam labu Kjeldahl
Lampiran 4. Data Perhitungan Pembakuan Larutan Standar HCl 0,1 N
Normalitas rata-rata (Nr) dan persen deviasi (% d) r
Normalitas HCl adalah normalitas rata-rata dengan persen deviasi terkecil, yaitu % d1 = 0,18% dengan Normalitas 0,1082 N.
Lampiran 5. Contoh Perhitungan Kadar Protein pada Sampel ml l sampel – blanko
berat sampel g l
k Keterangan:
N HCl = Normalitas HCl hasil pembakuan
Contoh perhitungan kadar protein pada susu segar : Volume larutan HCl titrasi sampel = 0,90 ml Volume larutan HCl titrasi blanko = 0 ml Normalitas larutan HCl = 0,1082 N
Berat sampel = 1,0032 g
Fk = 6,38
Kadar Protein 9
= 3,47 %
= 3,47 g/100g
Perhitungan kadar protein tiap-tiap sampel untuk 6 kali pengulangan dilakukan seperti contoh di atas.
Lampiran 6. Hasil Penetapan Kadar Protein pada Sampel 1. Hasil Penetapan Kadar Protein pada sampel A
No. Kode
2. Hasil Penetapan Kadar Protein pada sampel B No. Kode
3. Hasil Penetapan Kadar Protein pada sampel C
No. Kode
4. Hasil Penetapan Kadar Protein pada sampel D No. Kode
Sampel
Berat Sampel (g)
Volume Titar Sampel (ml)
Kadar Protein (g/100g)
1 D1 1,0096 0,65 2,49
2 D2 1,0127 0,65 2,48
3 D3 1,0984 0,70 2,46
4 D4 1,0403 0,65 2,42
5 D5 1,0293 0,65 2,44
6 D6 1,0559 0,70 2,56
Lampiran 7. Perhitungan Analisis Statistik Uji T untuk mencari Kadar Protein
Syarat penerimaan data apabila thitung ≤ ttabel | ̅
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
Semua data diterima, maka kadar Protein sebenarnya pada susu segar untuk α = 0,01; dk = n-1 = 6-1= 5 adalah:
̅
√
(
√ )
Lampiran 8. Perhitungan Analisis Statistik Uji T untuk mencari Kadar Protein
Syarat penerimaan data apabila thitung ≤ ttabel
| ̅
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
Semua data diterima, maka kadar Protein sebenarnya pada susu segar untuk α = 0,01; dk = n-1 = 6-1= 5 adalah:
̅
√
(
√ )
Lampiran 9. Perhitungan Analisis Statistik Uji T untuk mencari Kadar Protein
Syarat penerimaan data apabila thitung ≤ ttabel | ̅
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
Semua data diterima, maka kadar Protein sebenarnya pada susu segar untuk α = 0,01; dk = n-1 = 6-1= 5 adalah:
̅
√
(
√ )
Lampiran 10. Perhitungan Analisis Statistik Uji T untuk mencari Kadar Protein
Syarat penerimaan data apabila thitung ≤ ttabel | ̅
|
√ |
|
√ |
|
√ |
|
√ |
Semua data diterima, maka kadar Protein sebenarnya pada susu segar untuk α = 0,01; dk = n-1 = 6-1= 5 adalah:
̅
√
(
√ )
\
Lampiran 11. Hasil Penetapan Kadar Protein pada Bahan Sampel No. Sampel Kadar Protein Rata-rata
1 A (3,48 ± 0,0504) g/100g
2 B (2,92 ± 0,1166) g/100g
3 C (2,88 ± 0,0360) g/100g
4 D (2,48 ± 0,0809) g/100g
Lampiran 12. Tabel Nilai Distribusi t
Lampiran 13. Gambar Rangkaian Alat Dekstruksi dan Destilasi
Scrubber
Labu Kjeldahl
Pemanas
Gambar 1. Rangkaian Alat Dekstruksi
Gambar 2. Alat destilasi