METODE PENELITIAN
RENCANA SELANJUTNYA
F. Pengalaman Membimbing Tugas Akhir Mahasiswa
5. Daftar Pustaka
Arishandy. Isolasi dan identifikasi senyawa flavonoid dari daun sirih merah (Piper betle L.
var Rubrum) (skripsi). Malang: Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim; 2010. h. 91.
Burns C and Wortmann R, “Latest evidence on gout management: what the clinician needs to know,” Therapeutic Advances in Chronic Disease. 2012. vol. 3. pp. 271–286.
Fitriyani A, Winarti L, Muslichah S, Nuri. Uji Antiinflamasi Ekstrak Metanol Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav) pada Tikus Putih. Jember : Majalah Obat Tradisional;
2011. h. 34–42.
Hassan et al., Anti-inflammatory activity of crude saponin extracts from five Nigerian medical plants. Zaria, Nigeria; Department of pharmaceutical and medicine chemistry, Ahmadu Bello University; 2012. p. 1-2.
Murakami Y, Akahoshi T, Kawai S, Inoue M, Kitasato H. Antiinflammatory effect of retrovirally transfected interleukin-10 on monosodium urate monohydrate crystal-induced acute inflammation in murine air pouches. Arthritis Rheum. 2002;46:2504–2513. doi:
10.1002/art.10468
66 Sukandar, E.Y., Andrajati, R., Sigit, J.I., Adnyana, I.K., Setiadi, A.P., dan Kusnandar. 2008.
ISO
Santi. Aktivitas Penghambatan Xantin Oksidase Dari Lima Fase Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav) Secara In Vitro (skripsi). Jakarta: Fakultas Farmasi Universitas Pancasila. 2010; h. 33.
Thiele, R. and Schlessinger, N. (2007) Diagnosis of gout by ultrasound. Rheumatology 46 : 1116-1121
Umamaheswari M, Madeswaran A, Asokkumar K, Sivashanmugam AT, Subhadradevi T, Jagannath P. 2012. Docking studies: search for possible phytoconstituents for the treatment of gout. IJBPR. p. 6-11
67 Lampiran 5 : Draft abstrak dan makalah lengkap akan dipublikasi pada seminar nasional di Universitas Pasundan
Potensi antihiperurisemia dari senyawa hasil fraksinasi fase etil asetat ekstrak etanol 96% daun sirih merah
Dian Ratih Laksmitawati, Resty Andadi, Hindra Rahmawaty, Liliek Nurhidayati Fakultas Farmasi Universitas Pancasila
ABTRAK
Daun sirih merah digunakan untuk mengobati berbagai macam keluhan penyakit. Salah satunya sebagai digunakan untuk meredakan penyakit akibat kadar asam urat yang tinggi.
Dari penelitian in vitro diketahui bahwa fase etil asetat dari ekstrak etanol 96 % sirih merah mempunyai potensi menghambat enzim xantin oksidase, yaitu enzim yang mengubah substrat xantin menjadi asam urat dengan nilai IC 50 = 16,86 bpj. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui lebih lanjut fraksi mana yang mempunyai potensi penghambatan terhadap xantin oksidase. Fase etil asetat dari ektrak etanol 96% difraksinasi menggunakan kolom kromatografi dengan metode gradien. Fraksi ditampung dalam botol dan dilakukan kromatografi lapis tipis untuk menentukan pola kromatogram. Fraksi yang memiliki pola kromatogram yang mempunyai kemiripan pola akan disatukan, sehingga didapat 12 fraksi.
Keduabelas fraksi diuji potensi penghambatan xantin oksidase secara spektrofotometri pada panjang gelombang 291 nm. Hasil menunjukkan bahwa fraksi ke 4 memberikan penghambatan yang tertinggi yaitu sebesar 40% pada konsentrasi fraksi 100 ppm. Untuk mengetahui karakteristik senyawa pada fraksi 4 harus diuji lebih lanjut dengan analisis uv,vis IR dan GC-MS.
Kata kunci : ekstrak sirih merah, penghambat xantin oksidase , antihiperurisemia
Pendahuluan
Kondisi hiperurisemia atau peningkatan kadar asam urat didalam tubuh banyak dialami oleh banyak penduduk di dunia. Jumlah penduduk yang mengalami hiperurisemia memperlihatkan pola peningkatan. Kadar asam urat yang tinggi di dalam darah dapat disebabkan pola makan yang banyak mengandung senyawa purin seperti misalnya daging dan jeroan. Tidak hanya karena pola makan, kondisi hiperurisemia juga dialami oleh pasien penderitan hipertensi, kolesterol dan diabetes tanpa penyebab yang diketahui. Penelitian menunjukkan adanya korelasi antara kadar kolesterol yang tinggi dengan kadar asam urat.
Bahkan hiperurisemia dikatakan merupakan faktor resiko penyakit kardiovaskuler.
Peningkatan jumlah pasien berpenyakit kardiovaskuler dapat memungkinkan peningkatan jumlah penderita hiperurisemia.
Hiperurisemia juga dapat berakibat timbulnya penyakit arthritis gout yaitu penyakit denga gejala inflamasi dan nyeri pada persendian akibat penumpukan kristal asam urat. Asam
68 urat yang meningkat ddidalam darah akan mengendap dan mengkristal di persendian dan mengakibatkan nyeri akibat gesekan persendian. Kristal asam urat juga akan menyebabkan sel inflamatori akan direkrut ke pesendian sehingga reaksi inflamasi akan terjadi.
Sampai saat ini tidak banyak jenis obat penurun kadar yang beredar di Indonesia. Obat yang menurunkan kadar asam urat adalah obat yang dapat menghambat aktivitas xantin oksidase dan obat yang dapat meningkatkan ekskresi asam urat. Penghambat xantin oksidase yang dikenal adalah alopurinol sedangkan peningkat ekskresi asam urat adalah urikosurik probenesid dan sulfinpirazon. Kondisi hiperurisemia mempunyai kecenderungan yang berlangsung lama sehingga konsumsi obat tersebut khususnya alopurinol juga berlangsung lama. Pemakaian yang lam dapat menyebabkan efek samping obat sintetik. Sehingga perlu pencarian alternatif obat yang aman. Salah satu bahan yang potensial dan cenderung lebih aman berasal dari herbal. Sirih merah adalah herbal yang secara empirik digunakan untuk pengobatan segala jenis penyakit termasuk penyakit gout.
Penelitian sebelumnya membuktikan bahwa ekstrak etanol yang dipartisi dengan etil asetat menunjukkan kemampuan penghambatan enzim xantin oksidase melalui pengujian invitro. Potensi hambat , ditandai dengan IC50, pada ekstrak etanol 96% fase n-heksan Fase etil asetat, fase n-butanol dan air adalah berturut-turut sebesar 40.22 , 16.86, 23.74 bpj dan 49.09 bpj. Sehingga tertarik untuk dieksplorasi lebih lanjut fraksi mana yang menunjukkan penghambatan terbesar. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bukti ilmiah adanya senyawa yang terkandung dalam daun sirih merah yang mempunyai aktivitas biologi berupa pemnghambatan enzim xantin oksidase.
Metode
Bahan dan Alat
Bahan penelitian yang digunakan adalah daun sirih merah yang dikumpulkan dari Bogor dan dideterminasi di Herbarium Bogoriense sebagai Piper crocatum dengan familia piperaceae.
Daun sirih merah disortasi dan dicuci bersih kemudian diiris dan dikeringanginkan, diserbukan dan diayak. Pelarut yang digunakan adalah etanol 96% , n-heksan dan etil asetat teknis yang telah didestilasi. Untuk pemisahan digunakan kolom yang diisi dengan serbuk silika gel dan celite. Untuk bioasai penghambatan xantin oksidase digunakan enzim xantin oksidase SIGMA X-1875, substrat Xantin bioultra Sigma X-4002 dengan pelarut dapar fosfat salin.
69 Ekstraksi dan partisi
Sejumlah total lebih kurang 1 kg serbuk daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz&Pav.) diekstraksi dengan cara maserasi dengan pengaduk kinetik selama 3 jam pada suhu kamar dengan menggunakan etanol 96%. Setelah itu disaring dengan menggunakan kertas saring.
Ampas di maserasi kembali hingga 4 kali pengulangan. Maserat yang diperoleh dipekatkan dengan menggunakan rotavapor hingga didapatkan ekstrak kental. Ekstrak kental yang didapatkan ditimbang kemudian dihitung nilai DER-native.
Ekstraksi dilanjutkan dengan partisi ekstrak dengan pelarut yang berbeda kepolarannya, dimulai dari n-heksana yang bersifat non polar. Ampas sisa partisi dengan n-heksan kemudian dipartisi kembali dengan asetat yang bersifat semipolar yaitu etil asetat. Filtrat etil asetat kemudian dirotavaporasi sehingga didapat ekstrak kental.
Fraksinasi dengan kromatografi kolom gradien
Ekstrak kental dari fase etil asetat difraksinasi dengan kromatografi kolom dengan fase diam silika gel 60 secara gradien. Fase gerak dituangkan kedalam kolom yang telah diisi dengan kapas, sea sand B dan silika gel 60 mesh. Sejumlah fase etil asetat dihomogenkan dengan selite 545 sampai sampel kering dan homogen kemudian dimasukkan ke dalam kolom. Fase gerak dituangkan sedikit demi sedikit ke dalam kolom. Eluat dari tiap fraksi ditampung dalam botol kemudian diuapkan. Masing-masing fraksi yang didapat dianalisis dengan menggunakan kromatografi lapis tipis. Fraksi yang memiliki kromatogram yang sama digabung.
Uji Aktivitas Penghambatan Xantin Oksidase
Hasil dan Pembahasan
TABEL 1. Berat bahan (simplisia, ekstrak dan fraksi) yang digunakan dan persentase penghambatan enzim xantin oksidase/100 bpj fraksi
Bahan Berat (gram) Rata-rata % inhibisi /100 bpj fraksi terhadap xantin
oksidase ± SD (n=3) Serbuk simplisia 1038,5
Ekstrak etanol 233,15 Fase etil asetat 3,0065
70
Fraksi 1 0,0205 19,41 ± 1,88
Fraksi 2 0,0096 21,48 ± 4,67
Fraksi 3 0,0146 24,81 ± 0,64
Fraksi 4 0,0121 40,9 ± 1,27
Fraksi 5 0,0145 32,86 ± 0,51
Farksi 6 0,1806 30,63 ± 2,27
Fraksi 7 0,1699 30,29 ± 1,61
Fraksi 8 0,2567 28,32 ± 1,26
Fraksi 9 0,5971` 24,58 ± 0,18
Fraksi 10 0,0368 24,66 ± 8,00
Fraksi 11 0,5566 28,97 ± 11,66
Fraksi 12 0,5964 21,79 ± 2,98
Kesimpulan
Eksplorasi bukti ilmiah potensi khasiat antihiperurisemia ekstrak daun sirih merah dilakukan melalui ekstraksi dan isolasi menggunakan etanol 96%. Fraksinasi terhadap fase etil asetat dipandu dengan uji aktivitas penghambatan xantin oksidase menunjukkan bahwa fraksi ke 4 menunjukkan aktivitas penghambatan tertinggi, yaitu 40,9 ± 1,27 %.per 100 bpj fraksi melalui pengujian aktivitas enzim xantin oksidase secara spektrofotometri pada panjang gelombang 291 nm
Ucapan Terima kasih
Penelitian ini adalah bagian dari penelitian Hibah Bersaing Tahun Kedua Pendanaan tahun 2015. Terima kasih kepada Kemenristek Dikti atas kesempatan dan dana yang diberikan.