Adam, Indra J, Fedi AS. 2006. Model bioekonomi perairan pantai (in-shore) dan lepas pantai (off-shore) untuk pengelolaan perikanan rajungan (Portunus
pelagicus) di Perairan Selat Makssar. Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia. 13(1):33-43.
Amalia N. 2014. Kajian stok ikan kuniran Upeneus moluccensis (Bleeker, 1855) di Perairan Selat Sunda yang didaratkan di PPP Labuan, Banten [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Anderson LG, Seijo JC. 2010. Bioeconomics of Fisheries Management. Willey Blackwell. USA.
Anna S. 2003. Model embedded dinamik ekonomi interaksi perikanan-pencemaran [disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Antika M, Kohar A, Boesono H. 2014. Analisis kelayakan finansial usaha perikanan tangkap dogol di Pelabuhan Perikanan Ikan (PPI) Ujung Batu Jepara. Jornal of Fisheries Resources Utilization Management and
Technology. 3(3):200-207
Badrudin, Aisyah, Wiadnyana NN. 2010. Indeks kelimpahan stok dan tingkat pemanfaatan sumber daya ikan demersal di WPP Laut Jawa. Jakarta (ID): Kementrian Kelautan dan Perikanan.
Banon S, Atmaja, Duto N. 2011. Upaya-upaya pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan di Indonesia. Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia 3(2):101-113.
Baskoro MS. 2006. Alat Penangkapan Ikan Berwawasan Lingkungan dalam
Kumpulan Pemikiran Tentang Teknologi Perikanan Tangkap yang Bertanggungjawab. Bogor (ID): Intramedia.
Berghöfer A, Wittmer H, Rauschmayer F. 2008. Stakeholder participation in ecosystem based approaches to fiesheries management: A synthesis from European research project.Marine Policy. 32:243-253.
Boer M, Aziz KA. 2007. Gejala tangkap lebih perikanan pelagis kecil di Perairan Selat Sunda. Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia. 14 (2):167-172.
Destilawaty. 2012. Model pengelolaan perikanan pelagis kecil dan demersal berbasis ekologi ekonomi di Pantai Utara Blanakan, Subang, Jawa Barat [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
[DKP] Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang. 2014. Data Statistik Perikanan Tangkap Kabupaten Pandeglang 2003–2013. [Tidak dipublikasikan].
Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. 2011. Peta Keragaan Perikanan Tangkap
di Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPP-RI).
Engas A, Jorgensen T, West CW. 1998. A species-selective trawl for demersal gadoid fisheries. ICES Journal of Marine Science. 55:835-845
Ernawati T, Nurulludin, Atmaja SB. 2011. Produktivitas, komposisi hasil tangkapan dan daerah penangkapan jaring cantrang yang berbasis di PPP Tegalsari, Tegal. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 17(3):193-200.
43 Fahmi, Adrim M, Dharmadi. 2008. Kontribusi ikan pari (Elasmobranchii) pada perikanan cantrang di Laut Jawa. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 14 (3):295-301.
[FAO] Food and Agricultural Organization. 1997. FAO Techinacal Guedelines
for Responsible Fisheries No 4. Fisheries Management. FAO. Rome.
Fauzi A. 2004. Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan: Teori dan Aplikasi. Jakarta (ID): PT Gramedia Pustaka Utama.
Fauzi A, Anna S. 2005. Permodelan Sumber daya Perikanan dan Kelautan untuk
Analisis Kebijakan. Jakarta (ID): PT Gramedia Pustaka Utama.
Fauzi A. 2010. Ekonomi Perikanan. Jakarta (ID): PT Gramedia Pustaka Utama. Fischer W, Whiteahead PJP. 1974. FAO Species Identification Sheet for Fishery
Purpose, Eastern Indian Ocean (Fishing Area 57) and Western Central Pacific (Fishing Area 71) Rome. FAO, Volume 1.
Guillen J, Macher C, Merzereaud M, Bertignac M, Fifas S, Guyader O. 2013. Estimating MSY and MEY in multispecies and multifleet fisheries, consequences and limits: an application to the Bay of Biscay mixed fishery. Marine Policy. 40:64-74.
Grafton RQ, Tom K, Viktoria S. 2005. The bioeconomics of marine reserves: a selected review with policy implications. Journal of Bioeconomics. 7:161-178.
Hillborn R. 2007. Defining success in fisheries and conflicts in objectives. Marine
Policy. 31:153-158.
Imeson RJ, Jeroen CJM, Van DB, Jeljer H. 2002. Integrated models of fisheries management and policy. Journal of Environment Modeling and
Assessment. 7:259-271.
Irhamni W. 2009. Potensi pengembangan usaha penangkapan ikan di Kabupaten Pandeglang dan dukungan PPP Labuan [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Jasasuriya RT, Randall EJ, Remy VDV. 2011. A bioeconomic model for determining the optimal response strategies for a New Weed Incursion.
Journal of Bioeconomics. 13:45-72.
Kar TK, Chakraborty K. 2009. Bioeconomic analysis of maryland’s Chesapeake Bay oyster fishery with reference to the optimal utilization and management of the resource. International Journal of Engineering,
Science and Technology. 1(1):43-52.
Keputusan Menteri Perikanan dan Kelautan Republik Indonesia No 06 Tahun 2010 tentang Alat Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.
Keputusan Menteri Perikanan dan Kelautan Republik Indonesia No 45 Tahun 2011 tentang Estimasi Potensi Sumber Daya Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.
Khoiriya N. 2010. Ekologi-ekonomi efek pemutihan karang (coral bleaching) terhadap sumberdaya ikan (studi kasus: Taman Nasional Karimunjawa, Provinsi Jawa Tengah) [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Knowler D. 2002. A review of selected bioeconomic models with environmental
influences in fisheries. Journal of Bioeconomics. 4:163-181.
Mardle S, Pascoe S, Boncoeur J, Le Gallic B, Garcia-Hoyo JJ, Herrero I, Jimenez TR, Cortes C, Padila N, Nielsen JR, Mathiesen C. 2002. Objectives of
44
fisheries management: case studies from the UK, France, Spain, and Denmark. Marine Policy. 26:415-428.
Maunder MN, Punt A. 2004. Standardizing catch and effort data: a review of recent approaches. Fisheries Research. 84:210-221.
Muhammad S. 2011. Kebijakan Pembangunan Perikanan dan Kelautan:
Pendekatan Sistem. Malang (ID): Universitas Brawijaya.
Nababan BO, Yesi DS, Maman H. 2008. Tinjauan aspek ekonomi berelanjutan perikanan tangkap skala kecil di Kabupaten Tegal Jawa Tengah. Bulletin
Ekonomi Perikanan. 8(2):50-68.
Octoriani W. 2014. Potensi dan laju eksploitasi sumber daya ikan kurisi (Nemipterus japonicus Bloch, 1791) di Selat Sunda yang didaratkan di PPP Labuan, Banten [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Panayotou T. 1982. Management Concept for Small-scale Fisheries, Economic
and Social Apect. FAO Technical Paper. Rome: FAO.
Pelletier D, Ferraris J. 2000. A multivariate approach for defining fishing tactics from commercial catch and effort data. Canadian Journal Fish Aquatic
Science. 57: 51-65.
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No 02 Tahun 2011 tentang Jalur Penangkapan Ikan dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia
Pomeroy R, Douvere F. 2008. The engagement of stakeholder in the marine spatial planning process. Marine Policy. 32(5):816-822.
Priatna A, Natsir M. 2008. Pola sebaran ikan pada musim barat dan peralihan di Perairan utara Jawa Tengah. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 14(1):63-72.
Punt A, Walker TI, Taylor BL, Pribac F. 2000. Standardization of catch and effort data in a spatially structured shark fishery. Fisheries Research. 45:129-145.
Purwanto, Wudianto. 2011. Perkembangan dan optimasi produksi perikanan laut di Indonesia. Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia.3(2):81-99.
[PIPP] Pusat Informasi Pelabuhan Perikanan. 2015. Pelabuhan Perikanan Pantai Labuanhttp://pipp.djpt.kkp.go.id/profilpelabuhan/informasi/1512/pp._lab uan. [terhubung berkala] 20 Januari 2015.
Prahadina VD. 2014. Pengelolaan perikanan kembung (genus: rastrelliger) di Perairan Selat Sunda yang didaratkan di PPP Labuan, Banten [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Prakasa G, Herry B, Dian ANND. 2014. Analisis bioekonomi perikanan untuk cumi-cumi (loligo sp) yang tertangkap dengan cantrang di TPI Tanjungsari Kabupaten Rembang. Journal of Fisheries Resources
Utilization Management and Technology. 3(2):19-28.
Randika ZA. 2008. Analisis bioekonomi pemanfaatan optimal sumber daya perikanan pelagis dan demersal di Perairan Balikpapan, Kalimantan Timur [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Rahardjo MF, Imron M, Yulianto G, Arifin MA. 1999. Studi Komoditas
Unggulan Perikanan Laut di Provinsi Jawa Barat. Bogor (ID): Institut
45 Reed M, Graves A, Dandy N, Posthumus H, Hubacek K, Morris J, Prell C, Quinn CH, Stringer LC. 2009. Who’s Nad Why? A Typology of Stakeholder Analysis Methods for Natural Resource Management. Environmental
Management. 90:1933-1949.
Riana AD. 2006. Analisis bioekonomi ikan karang hidup konsumsi di Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Sari DS, Firdaus M, Huda MH, Mira, Koeshendrajana S. 2009. Pendekatan
Bioekonomi Penentuan Tingkat Pemanfaatan dan Optimasi Pengelolaan Perikanan Tangkap. Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen
Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Sari YD, Huda HM. 2009. Degradasi sumber daya perikanan lemuru di Selat Bali
dalam Dinamika pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan. Balai
Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Departemen Kelautan dan Perikanan.
Simarmata R. 2014. Pengelolaan sumber daya ikan tembang (sardinella
fimbriata) di Perairan Selat Sunda [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian
Bogor.
Sobari MP, Diniah, Isnaini. 2009. Kajian bio-ekonomi dan investasi optimal pemanfaatan sumber daya ikan ekor kuning di perairan Kepulauan Seribu. Jurnal Mangrove dan Pesisir. 9(2): 56-66.
Sudirman. 2008. Deskripsi alat tangkap cantrang, analisis by catch, discard dan komposisi ukuran ikan yang tertangkap di Perairan Takalar. Jurnal
Torani. 2(18):1-10.
Sulistianto E. 2013. Analisis bioekonomi pemanfaatan sumber daya ikan kakap di Kabupaten Kutai Timur. Jurnal Ilmu Perikanan Tropis. 2:42-46
Suporahardjo. 2005. Manajemen Kolaborasi: Memahami Pluralisme Membangun
Konsensus. Penerjemah: Assagaf M, Trajudi D, Sileuw I, Djatmiko WA,
Sumarno A. Bogor: Pustaka Latin. Terjemahan dari: berbagai artikel dan berbagai sumber.
Susanto. 2006. Kajian bioekonomi sumber daya kepiting rajungan (Portunus pelagicus L) di Perairan Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Jurnal
Agrisistem. 2:56-67
Susilo H. 2010a. Analisis bioekonomi pada pemanfaatan sumber daya ikan pelagis besar di Perairan Bontang. Jurnal Ekonomi Pertanian dan
Pembangunan. 7 (1):25-30.
Susilo H. 2010b. Laju degradasi dan depresiasi pemanfaatan sumber daya ikan pelagis besar di Perairan Bontang. Jurnal Ekonomi Pertanian dan
Pembangunan. 7 (2):25-30.
Tongco MDC. 2007. Purposive sampling as a tool for informant selection.
Ethnobotany Research & Applications. 5:147-158
Utami, Gumilar, Sriati. 2012. Analisis bioekonomi penangkapan ikan layur (Trichirus sp.) di Perairan Parigi Kabupaten Ciamis. Jurnal Perikanan
dan Kelautan. 3(3):137-144
Widodo J, Suadi 2006. Pengelolaan Sumber daya Perikanan Laut. Yogyakarta (ID): Gajah Mada University Press.
46
Winker H, Kerwath SE, Attword CG. 2013. Comparison of two approaches to standardize catch per unit effort for targeting behaviour in a multispecies hand-line fisheries. Fisheries Research.139:118-131.
Yusuf M, Sutrisno S, Luky A. 2007. Analisis pengelolaan sumber daya ikan merah (Lutjanus spp.) di Kepulauan Spermonde Sulawesi Selatan. Jurnal
Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia. 14(2):115-124.
Zulbainarni N, Tambunan M, Syaukat Y, Fahrudin A. 2011. Model bioekonomi eksploitasi multispesies sumber daya perikanan pelagis di Perairan Selat Bali. Jurnal Marine Fisheries. 2(2):141-154.
Zulbainarni N. 2012. Teori dan Praktek Pemodelan Bioekonomi dalam
LAMPIRAN
Lampiran 1 Hasil tangkapan dan upaya tangkap dogol
Tahun Hasil tangkapan (ton) Upaya tangkap (trip) CPUE
2004 3 742.90 14 287 0.26 2005 3 197.60 11 984 0.27 2006 2 774.90 12 985 0.21 2007 2 852.20 13 148 0.22 2008 2 942.50 13 804 0.21 2009 2 858.70 13 657 0.21 2010 2 724.90 15 009 0.18 2011 2 832.60 16 182 0.18 2012 2 760.70 16 810 0.16 2013 2 617.30 16 793 0.16 rata-rata 2 930.40 14 465 0.21
Lampiran 2 Hasil tangkapan dogol di Perairan Selat Sunda
No. Spesies Hasil tangkapan (ton)
2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 1 Tigawaja 277.5 394.4 426.5 342.8 299.9 284.1 258.4 158.3 166.0 124.5 2 Sebelah 341.4 450.1 366.8 431.6 413.9 370.5 303.2 239.1 200.1 213.0 3 Peperek 442.9 371.2 435.9 437.7 444.2 388.4 345.2 296.0 278.0 260.0 4 Kurisi 451.9 421.5 256.3 270.6 284.3 328.3 284.1 403.7 362.0 382.4 5 Biji Nangka 1695.1 809.5 450.0 480.4 478.6 438.7 420.1 340.8 333.0 230.0 6 Kuwe 0.0 0.0 0.0 0.0 25.4 32.7 40.1 41.4 38.0 43.4 7 Layang 0.0 0.0 85.0 63.4 66.4 73.7 77.4 63.9 75.5 118.7 8 Tetengkek 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.2 2.9 9.9 9 Bawal Hitam 0.0 0.0 172.7 185.0 200.6 185.8 154.8 120.9 81.7 68.3 10 Kakap 0.0 0.0 143.6 158.7 163.0 163.0 166.9 129.4 112.7 114.4 11 Tembang 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 85.6 96.4 95.5 101.4 91.6 12 Kerapu 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 3.3 5.3 10.5 7.8 65.0 13 Selar 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 8.9 13.9 16.4 14 Teri 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 6.9 4.2 15 Julung 0.0 0.0 0.0 0.0 6.2 13.4 11.7 12.0 15.1 10.4 16 Bambangan 0.0 0.0 0.0 0.0 7.3 61.6 47.0 21.1 24.1 26.5 17 Kembung 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 33.8 36.9 114.4 118.5 103.8 18 Tenggiri 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 2.6 2.7 1.7 13.2 33.2 19 Tongkol 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 18.5 21.4 45.8 99.4 96.8 20 Layur 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 2.8 1.3 2.2 18.0 25.7 21 Cucut 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.4 22 Pari 0.0 0.0 250.3 218.3 212.4 224.8 320.3 253.1 226.0 222.2 23 Cumi 54.8 132.3 0.0 0.0 19.4 28.5 20.4 205.4 201.1 192.1 24 Manyung 154.9 151.1 0.0 0.0 11.0 23.7 16.0 17.7 17.1 21.3 25 Lemuru 170.0 327.4 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 39.6 38.8 9.9 26 Lainnya 154.4 140.1 187.8 263.7 309.9 94.9 95.2 211.2 209.7 133.2
48
Lampiran 3 Hasil tangkapan dan upaya tangkap sumber daya ikan demersal pada perikanan dogol
Tahun Biji nangka Kurisi Peperek Sebelah Tigawaja
C (ton) f (trip) C (ton) f (trip) C (ton) f (trip) C (ton) f (trip) C (ton) f (trip) 2004 1 695.10 6 470 451.90 1 725 442.90 1 691 341.40 1 303 277.50 1 059 2005 809.50 3 034 421.50 1 580 371.20 1 391 450.10 1 687 394.40 1 478 2006 450.00 2 106 256.30 1 199 435.90 2 040 366.80 1 716 426.50 1 996 2007 480.40 2 215 270.60 1 247 437.70 2 018 431.60 1 990 342.80 1 580 2008 478.60 2 245 284.30 1 334 444.20 2 084 413.90 1 942 299.90 1 407 2009 438.70 2 096 328.33 1 569 388.40 1 856 370.50 1 770 284.10 1 357 2010 420.09 2 314 284.08 1 565 345.24 1 902 303.19 1 670 258.40 1 423 2011 340.81 1 947 403.68 2 306 295.96 1 691 239.05 1 366 158.27 904 2012 332.97 2 027 362.01 2 204 277.95 1 692 200.09 1 218 165.95 1 010 2013 230.01 1 476 382.41 2 454 260.04 1 668 212.95 1 366 124.46 799
Lampiran 4 Catch per Unit Effort (CPUE) dan Revenue per Unit Effort (RPUE)
Tahun Biji nangka Kurisi Peperek
CPUE RPUE CPUE RPUE CPUE RPUE
2004 0.26 1 841 736.61 0.26 2 613 831.77 0.26 1 071 230.46 2005 0.27 2 180 551.21 0.27 3 094 684.66 0.27 1 268 299.09 2006 0.21 1 964 235.13 0.21 2 787 684.28 0.21 1 142 480.68 2007 0.22 2 162 604.79 0.22 3 069 214.73 0.22 1 257 860.71 2008 0.21 1 626 615.70 0.21 2 308 527.60 0.21 946 107.21 2009 0.21 1 626 243.54 0.21 2 307 999.43 0.21 945 890.74 2010 0.18 1 609 316.61 0.18 2 283 976.36 0.18 936 045.34 2011 0.18 1 625 450.69 0.18 2 306 874.19 0.18 945 429.59 2012 0.16 1 584 166.14 0.16 2 248 282.28 0.16 921 416.78 2013 0.16 1 674 926.04 0.16 2 377 090.66 0.16 974 206.50
Tahun Sebelah Tigawaja
CPUE RPUE CPUE RPUE
2004 0.26 1 648 983.99 0.26 1 197 173.10 2005 0.27 1 952 338.91 0.27 1 417 410.74 2006 0.21 1 758 662.06 0.21 1 276 800.09 2007 0.22 1 936 270.73 0.22 1 405 745.14 2008 0.21 1 456 377.23 0.21 1 057 339.34 2009 0.21 1 456 044.02 0.21 1 057 097.43 2010 0.18 1 440 888.62 0.18 1 046 094.51 2011 0.18 1 455 334.14 0.18 1 056 582.05 2012 0.16 1 418 370.35 0.16 1 029 746.10 2013 0.16 1 499 631.50 0.16 1 088 742.22
49 Lampiran 5 Contoh perhitungan parameter biologi pada ikan biji nangka
Tahun
Hasil tangkapan
(ton) Upaya (trip) CPUE E* = (Et+(Et+1))/2 Z1 = (-a/b)/E* Z1/Et
2004 1695.1 6,470 0.2620 3632.66 13866.20 13614.52 2005 809.5 3,034 0.2668 5814.96 21793.37 27210.80 2006 450.0 2106 0.2137 6224.62 29127.78 28694.09 2007 480.4 2,215 0.2169 6154.88 28372.61 28874.07 2008 478.6 2,245 0.2132 6214.24 29152.53 29687.54 2009 438.7 2,096 0.2093 6179.91 29523.55 34039.37 2010 420.09 2,314 0.1816 6254.34 34449.36 35729.34 2011 340.81 1,947 0.1750 6397.55 36547.42 38955.10 2012 332.97 2,027 0.1642 6633.13 40389.56 42559.64 2013 230.01 1,476 0.1559 6350.38 40745.49 Z1/Et+1 1/b Z2 : (Z1/Et )+(1/b) Z3 : (Z1/Et+1)+(1/b) ln Z2/z3 (ln Z2/z3)/ Z1 q -53326.19 -39459.99 -39711.67 0.99 -0.01 -0.000002 0.000002 -53326.19 -31532.81 -26115.38 1.21 0.19 0.000032 0.000032 -53326.19 -24198.41 -24632.09 0.98 -0.02 -0.000003 0.000003 -53326.19 -24953.58 -24452.12 1.02 0.02 0.000003 0.000003 -53326.19 -24173.66 -23638.64 1.02 0.02 0.000004 0.000004 -53326.19 -23802.63 -19286.81 1.23 0.21 0.000034 0.000034 -53326.19 -18876.83 -17596.85 1.07 0.07 0.000011 0.000011 -53326.19 -16778.76 -14371.08 1.17 0.15 0.000024 0.000024 -53326.19 -12936.63 -10766.54 1.20 0.18 0.000028 0.000028 -53326.19 -12580.69 0.000029 Variabel regresi: x Upaya tangkap (f) y CPUE Hasil regresi : a 0.16 b -0.00001875 q 0.000029 K 5 423.37 r 0.24 dengan: q = 𝑙𝑛 𝑍2 𝑍3 𝑍1 𝑛 𝑡=𝑖 1 t r =Kq2 b K =a q
50
Lampiran 6 Proporsi biaya penangkapan pada tahun 2013
Spesies Hasil tangkapan (ton) Proporsi Biaya penangkapan (Rp)
Biji Nangka 230.01 0.09 131 571.38 Peperek 260.04 0.10 148 749.28 Kurisi 382.41 0.15 218 747.93 Sebelah 212.95 0.08 121 812.64 Tigawaja 124.46 0.05 69 229.77 Ikan lainnya 1 407.40 0.54 782 853.83 Jumlah 2 617.27 1.00 1 497 142.86
Lampiran 7 Hasil tangkapan aktual dan lestari sumber daya ikan demersal pada perikanan dogol
Tahun Aktual Biji nangka Kurisi Peperek Sebelah Tigawaja (ton) Lestari (ton) Aktual (ton) Lestari (ton) Aktual (ton) Lestari (ton) Aktual (ton) Lestari (ton) Aktual (ton) Lestari (ton) 2004 1 695.10 232.29 451.90 354.51 442.90 353.73 341.40 97.62 277.50 104.74 2005 809.50 304.43 421.50 336.23 371.20 303.58 450.10 97.20 394.40 118.10 2006 450.00 247.95 256.30 278.26 435.90 405.43 366.80 96.62 426.50 112.63 2007 480.40 256.24 270.60 286.39 437.70 402.38 431.60 87.51 342.80 118.94 2008 478.60 258.50 284.30 300.41 444.20 411.44 413.90 89.59 299.90 116.95 2009 438.70 247.17 328.33 334.74 388.40 379.07 370.50 95.36 284.10 115.87 2010 420.09 263.42 284.08 334.22 345.24 385.85 303.19 97.50 258.40 117.25 2011 340.81 235.05 403.68 406.41 295.96 353.76 239.05 98.46 158.27 95.76 2012 332.97 241.71 362.01 399.78 277.95 354.03 200.09 95.93 165.95 102.15 2013 230.01 191.20 382.41 414.16 260.04 350.21 212.95 98.47 124.46 88.39
Lampiran 8 Koefisien degradasi sumber daya ikan yang tertangkap dogol
Tahun Koefisien Degradasi
Kurisi Biji nangka Sebelah Peperek Tigawaja
2004 0.31 0.47 0.43 0.31 0.33 2005 0.31 0.41 0.45 0.31 0.33 2006 0.25 0.37 0.43 0.28 0.34 2007 0.26 0.37 0.45 0.29 0.35 2008 0.26 0.37 0.45 0.28 0.35 2009 0.27 0.36 0.44 0.27 0.35 2010 0.24 0.35 0.42 0.25 0.36 2011 0.27 0.33 0.40 0.23 0.36 2012 0.25 0.33 0.38 0.22 0.36 2013 0.25 0.30 0.39 0.21 0.37 Rata-rata 0.27 0.37 0.42 0.26 0.35
51 Lampiran 9. Keuntungan ekonomi aktual dan lestari sumber daya ikan demersal
pada perikanan dogol
Tahun
Biji nangka Kurisi Peperek
Aktual (juta Rp) Lestari (juta Rp) Aktual (juta Rp) Lestari (juta Rp) Aktual (juta Rp) Lestari (juta Rp) 2004 11 375.16 1 091.45 4 268.69 3 297.05 1 651.05 1 286.45 2005 6 320.30 2 192.69 4 633.15 3 644.15 1 611.42 1 290.00 2006 3 905.77 2 048.58 3 125.19 3 411.71 2 078.05 1 915.18 2007 4 526.34 2 291.64 3 582.41 3 805.86 2 267.25 2 062.46 2008 3 448.16 1 768.58 2 877.49 3 051.94 1 757.52 1 612.12 2009 3 214.47 1 726.43 3 379.00 3 449.63 1 561.09 1 518.91 2010 3 479.59 2 090.85 3 299.28 3 930.09 1 553.11 1 762.50 2011 2 949.44 1 967.35 4 896.06 4 931.99 1 387.16 1 699.33 2012 2 979.03 2 098.69 4 535.03 5 052.05 1 339.72 1 766.58 2013 2 283.04 1 866.01 5 310.58 5 794.84 1 384.10 1 947.75 Tahun Sebelah Tigawaja Aktual (juta Rp) Lestari (juta Rp) Aktual (juta Rp) Lestari (juta Rp) 2004 2 047.91 513.50 1 220.13 430.65 2005 3 141.43 559.27 2 017.31 549.53 2006 2 844.71 621.24 2 430.04 554.78 2007 3 633.75 562.44 2 119.92 669.27 2008 2 664.55 448.78 1 418.42 510.92 2009 2 425.64 511.77 1 366.81 517.24 2010 2 243.11 610.64 1 407.62 594.32 2011 1 847.67 678.81 901.23 523.90 2012 1 598.55 698.94 977.75 577.70 2013 1 887.16 785.60 814.15 562.21
Lampiran 10 Koefisien depresiasi sumber daya ikan demersal pada perikanan dogol
Tahun Koefisien Depresiasi
Kurisi Biji nangka Sebelah Peperek Tigawaja
2004 0.32 0.48 0.44 0.31 0.41 2005 0.31 0.41 0.46 0.31 0.43 2006 0.25 0.37 0.45 0.28 0.44 2007 0.26 0.38 0.46 0.29 0.42 2008 0.26 0.37 0.46 0.29 0.41 2009 0.26 0.37 0.45 0.27 0.41 2010 0.23 0.35 0.43 0.24 0.40 2011 0.27 0.34 0.41 0.23 0.36 2012 0.25 0.33 0.39 0.21 0.36 2013 0.25 0.31 0.40 0.20 0.33 Rata-rata 0.27 0.37 0.43 0.26 0.40
52
Lampiran 11 Variabel penilaian pengaruh stakeholder
No Variabel Indikator Skor
1 Kewenangan kebijakan pengelolaan
Pelaku dengan pengaruh sangat kuat 5 Pelaku dengan pengaruh sedang 4 Pelaku dengan pengaruh kecil 3 Pelaku, namun bukan anggota
kelompok 2
Tidak terlibat 1
2 Kemampuam berinteraksi dengan massa besar
Sangat tinggi 5
Tinggi 4
Sedang 3
Rendah 2
Tidak ada interaksi 1
3
Kapasitas sumberdaya dan
kelembagaan Memiliki 4 akses sumberdaya 5
Kapital Memiliki 3 akses sumberdaya 4
Sumberdaya manusia Memiliki 2 kses sumberdaya 3
Alat Memiliki 1 akses sumberdaya 2
Kelembagaan Tidak memiliki akses sumberdaya 1
Lampiran 12 Variabel penilaian kepentingan stakeholder
No Variabel Indikator Skor
1
Manfaat langsung/tidak langsung Terlibat ≥ 4 kegiatan 5 *Kegiatan penangkapan ikan Terlibat 3 kegiatan 4 *Kegiatan usaha perikanan (usaha ikan asin) Terlibat 2 kegiatan 3
*Kegiatan konsumsi Terlibat 1 kegiatan 2
*Kegiatan pelelangan ikan Tidak terlibat 1
*Kegiatan jual beli ikan
2
Ketergantungan/kebutuhan terhadap sumber
daya ikan demersal Mendapat ≥ 4 manfaat 5
*Hasil tangkapan/daerah penangkapan ikan Mendapat 3 manfaat 4 *Bahan baku usaha perikanan ikan asin dan
tepung ikan Mendapat 2 manfaat 3
*Bahan baku usaha jual beli ikan segar mendapat 1 manfaat 2 *Bahan pangan/konsumsi Tidak mendapatkan manfaat 1
*Pelelangan 3
Prioritas pengelolaan sumber daya ikan demersal di Selat Sunda
Sangat prioritas 5
Prioritas 4
Prioritas sedang 3
Prioritas rendah 2
53 Lampiran 13 Nilai pengaruh dan kepentingan dalam analisis stakeholder
Stakeholders Kepentingan Pengaruh
Nelayan juragan 5 5
ABK 5 5
Pengusaha perikanan 4 2
Pengepul 4 2
Masyarakat sekitar TPI 1 1
Konsumen 2 1
Pedagang 2 1
Perangkat Desa 2 3
Petugas TPI 2 4
Instansi (DKP Kabupaten Pandeglang) 2 5
Keterangan:
1 = Sangat tidak berpengaruh-sangat tidak penting 2 = Tidak berpengaruh –tidak penting
3 = Netral-netral
4 = Berpengaruh-penting
5 = Sangat berpengaruh-sangat penting
Lampiran 14 Kuisioner
Hari/Tanggal wawancara : Rabu, 05 Februari 2014 1. Identitas Responden
Nama : Bapak Asep
Umur : 32 tahun
Pendidikan terakhir : SD
Tempat asal : Labuan
Pekerjaan utama : ABK Pekerjaan sambilan : Tidak ada
2. Identitas Kegiatan/usaha, Kepemilikan & Sumber Modal:
Nama perusahaan Tidak ada Status usaha Sendiri
Kepemilikan Sendiri (tidak joint) Sumber Modal Sendiri
Jelaskan aturannya (waktu pengembalian, bunga, jaminan, dll) : Tidak ada aturannya, karena modal berasal dari pemilik kapal Berapa besar modal/
investasi awal?
54
Lampiran 14 (lanjutan) Kuisioner 3. Unit Penangkapan
3.1 Armada Penangkapan
Jumlah armada Satu Bahan utama kayu
Ukuran (m) p : 7 l : 1.5 d : 1 GT :12 GT Tahun &tempat
pembelian
Harga :
Umur ekonomis : tahun Palkah Jumlah : 9 buah Volume : (m3/ton)
Dinding terbuat dari : kayu
3.2 Alat Tangkap
Karakteristik Alat Tangkap*) Keterangan (Ukuran/Satuan) Jenis alat tangkap :
- cantrang
Jumlah piece Satu buah
Ukuran mata jarring 1.25 inchi
Tempat pembelian
Harga alat tangkap siap pakai
3.3 Nelayan/ABK
Nelayan yang mengoperasikan alat tangkap terdiri dari : - Nahkoda : 1orang
- ABK : 4 orang
1. Apakah pemilik kapal ikut dalam operasi penangkapan? Tidak
2. Apakah ABK yang ikut operasi penangkapan masih keluarga/kerabat dari pemilik/nahkoda? Bukan
3. Bagaimana cara merekrut nelayan/ABK? Tidak ada persyaratan khusus 4. Adakah perjanjian antara pemilik kapal dan nelayan/ABK sebelum
melakukan operasi penangkapan ikan? Perjanjian waktu dan lokasi sebelum dan setelah melaut
4. Operasi Penangkapan Ikan 4.1 Perbekalan Melaut
Kebutuhan Perbekalan Melaut Tiap Trip:
Jenis perbekalan Jumlah *) Harga/satuan*) Lokasi pembelian 1. Solar *) 100 liter 5 500/liter Agen
2. Bekal 10 box 20 000/box Pemilik 3. Es 20 balok 20 000/balok Depot
4. Air 5 galon 12 000/galon Agen isi ulang
1. Bagaimana cara pembayaran bahan perbekalan melaut diatas? terkadang berhutang dahulu
55 Lampiran 14 (lanjutan) Kuisioner
4.2 Daerah Penangkapan Ikan
Jelaskan bagaimana nelayan menentukan fishing ground sebelum melakukan operasi penangkapan?b erdasarkan pengalaman atau informasi dari nelayan lain Sebutkan DPI yang sering didatangi oleh nelayan:
No. Nama DPI Jarak dari FB Ikan dominan tertangkap 1 P. Rakata 4 jam Ikan kurisi, biji nangka, sebelah,
peperek, kakap, 2 P. Liwungan,
Tanjung Lesung 2 jam Ikan kurisi, biji nangka, sebelah, peperek, tiga waja
3 P. Oar, Sumur 3 jam Ikan kurisi, biji nangka
4 P. Panaitan 5 jam Ikan kurisi, biji nangka, sebelah, peperek, tiga waja
1. Fishing ground mana yang paling sering didatangi nelayan? Mengapa? Tanjung lesung, karena tidak terlalu jauh
2. Sebutkan fishing ground terjauh yang pernah dicapai oleh nelayan? hampir dekat dengan perairan Lampung
3. Pernahkah Anda menjumpai nelayan luar daerah yang melakukan penangkapan ikan di lokasi FG yang sama? pernah, tetapi tidak mengetahui secara detail alat tangkapnya
4. Pernahkah terjadi konflik perebutan DPI dengan sesama nelayan setempat? Kalau ya, jelaskan apa penyebabnya dan bagaimana mengatasinya pernah 5. Pernahkah terjadi konflik perebutan DPI dengan nelayan yang berasal dari
luar daerah? Pernah, diselesaikan secara damai
6. Pernahkah terjadi gangguan ketika melakukan operasi penangkapan ikan? Gangguan apa saja? (perompakan, badai, mesin mati, dll). Bagaimana cara mengatasinya? Pernah, seperti pada saat cuaca buruk atau badai. Cara mengatasinya dengan menepi ke pulau terdekat untuk berlindung dari badai tersebut.
4.3 Trip Penangkapan & Hasil Tangkapan Jumlah trip penangkapan:
No. Alat tangkap Jumlah trip* Jumlah hari libur melaut 1. Cantrang 3-4 trip/minggu 2 hari
1. Jika nelayan tidak melaut/libur, apa sebabnya? cuaca buruk atau hari besar keagamaan
56
Lampiran 14 (lanjutan) Kuisioner Hasil tangkapan:
Kategori Musim
Ikan Bulan melaut
Rata-rata produksi per trip
(kg/trip)
Jenis ikan dominan
Harga per jenis ikan dominan
Musim puncak Juli-Oktober 3 000 kg/trip
- Kurisi - Kuniran - Peperek - Sebelah 18 000 5 000 4 000 15 000
Musim sedang Maret-Juni 500 kg/trip
- Kurisi - Kuniran - Peperek - Sebelah 20 000 6 000 5 000 17 000
Musim paceklik
Desember-Januari 100 kg/trip - Kurisi - Kuniran - Peperek - Sebelah 25 000 8 000 7 000 20 000
5. Pendaratan & Pemasaran HasilTangkapan:
Sebutkan dimana lokasi pendaratan/penjualan ikan dilakukan, frekuensi, dan jaraknya:
LokasiPendaratan/penjualan Frekuensi Pendaratan Per Bulan (kali)
Jarak Tempat Pendaratan ke PP/PPI (km/mil)*
1. TPI 1 15 kali 500 m
Sebutkan alasan-alasan mengapa mendaratkan/menjual ikan di pelabuhan asal: (1). Harga ikan lebih tinggi
(2). Dekat dengan rumah (3). Pelayanan lebih baik (4). Ada peraturannya
6. Pendapatan Nelayan & Sistem Bagi Hasil:
Sebutkan perkiraan pendapatan kotor responden per bulan atau per trip dari kegiatan penangkapan ikan:
Tertinggi : Rp 50 000 000 per trip Terkecil : Rp 10 000 000 per trip
Sebutkan perkiraan pendapatan bersih responden per bulan atau per trip dari kegiatan penangkapan ikan:
Tertinggi : Rp ... per bulan atau per trip Sedang : Rp ... per bulan atau per trip Terkecil : Rp ... per bulan atau per trip
Sistem Bagi Hasil antara pemilik kapal dan nelayan adalaiperolehh pendapatan kotor yang diperoleh setiap trip digunakan untuk membayar perbekalan dan retribusi lelang di TPI. Lalu sisanya dibagi antara pemilik kapal dengan seluruh ABK (50:50).
57 Lampiran 14 (lanjutan) Kuisioner
7. Koperasi Atau Asosiasi Nelayan :
1. Sebutkan ada atau tidak adanya koperasi nelayan atau asosiasi nelayan (nama koperasi/asosiasi): Tidak ada koperasi
2. Jika tdk ada asosiasi, apakah diperlukan adanya asosiasi tsb? Perlu 8. Permasalahan Nelayan:
Sebutkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi responden: 1. Kesulitan modal atau biaya operasional
2. Kesulitan dalam penyediaan kebutuhan melaut (BBM, air, es, garam) 3. Kesulitan dalam perbaikan kapal/perahu
58