Bab V Penutup terdiri dari Kesimpulan dan Saran
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Mahmud, Ahmad. Dakwah Islam. (Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2002), Cet.
Ke-1
Ghazali, M. Bahri. dakwah Komunikatif: Membangun Kerangka Dasar Ilmu
Komunikasi Dakwa. (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1997), Cet. Ke-1
Gazilba, Siti. Islam dan Kesenian, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1998). Cet. Ke-1
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
(Jakarta: Balai Pustaka, 1988)
Al-Qordowi, Yusuf. Islam Berbicara Seni. (Solo: Fra Intermedia, 2002)
Hamju, Atam. Pengetahuan Seni Musik. (Bandung: PT. Remaja Karya, 1998)
Dustur, A. Hasjmy. Daakwah Menurut Alqur’an. (Jakarta: Bulan Bintang, 1994)
Hafiduddin, Didik. Dakwah Aktual. (Jakarta: Gema Insani, 1998), h. 2
Lexy, J. Meleong. Metodologi Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
2007.
Tatang M. Arifin. Menyusun Rencana Penelitian. (Jakarta: Rajawali Press, 1989)
Pawito. Penelitian, Komunikasi Kualitati. (Yogyakarta: LKIS, 2007). cet. Ke-1
Kriyanto, Rahmat. Tehnik Praktis Riset Komunikasi. (Jakarta: Kencana Pranada
Grop, 2007). cet. Ke-2
Tim Penyusung Kamus Pusat Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta:
Balai Pustaka, 2002)
J. S. Badudu. Kamus Kata-kata Serapan Asing. (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama, 2006).
Munawir, Ahmad Warson. Kamus Al Munawir. (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997),
Ismail, A. Ilyas. Paradigma Dakwah Sayyid Quthub: Rekonstruksi Pemikiran
Dakwah Harakah. cet.ke-2. (Jakarta: Penamadani, 2008),
Shihab, Quraish. Membumikan Al-Qur’an: Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam
Kehidupan Masyarakat. (Bandung: Mizan 1998). Cet. Ke-17
Malaikah, Musthafa. Manhaj Dakwah Yusuf Al-Qardawi: Harmoni Antara
Kelembutan dan Ketegasan. (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1997)
Anshary, M. Hafi. Pemahaman dan Pengalaman Dakwah. (Surabaya:Al-Ikhlas,
1993). Cet. Ke-1
Habib, M. Syafaat. Buku Pedoman Dakwah. (Jakarta : Wijaya, 1982), cet. Ke-1.
A. Hasyim. Dustur Dakwah Menurut Al-Qur`An. (Jakarta: Bulan Bintang,
1994)
Badan Pembina Rohani Pegawai DKI Jakarta. Akhlak. (Jakarta 1989), cet ke-3
M. Munir dan Wahyu Illahi, Manageman Dakwah, (Jakarta,Prenada Media,2004)
Nuh, Sayid Muhammad. diterjemhakan oleh: Ashfa Afkarina. Dakwah Fardiyah:
Pendekatan Persolan Dalam Dakwah. (Solo: Era Intermedia, 2000)
Tasmara, Toto. Komunikasi Dakwah. (Jakarta: Gaya Media Pratama,1987)
Yaqub, Ali Mustafa. Sejarah dan Metode Nabi. (Jakarta : Pustaka Firdaus, 1997)
Munzier Saputra dan Harjani Hefni. Metode Dakwah. (Jakarta: Prenada Media,
2003)
Ghazali Syahdar bc,TT. Kamus Istilah Komunikasi. (Bandung: Djembatan,1992)
Sasono. Adi, Solusi Islam Atas Problematika Umat Ekonomi, Pendidikan
Dakwah. (Jakarta: Gema Insani Press, 1998)
Lubis, Basrah. Ilmu Dakwah. (Jakarta: CV. Tursina, 1993). Cet.Ke-1
Rafiuddin dan Maman Abd. Jalil, “Prinsip dan Strategi Dakwah,” (Bandung: Pustaka Setia, 1997) cet. Ke-1
Shaleh, Abd. Rasyad, “Management Dakwah Islam,” (Jakarta: Bintang Bulan,
1993), cet. Ke-3
Sukri, Asmuni “Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam,” (Surabaya: Al-Ikhlas,
1983)
Alex Callinicos, “The Against Third Way,” (Yogyakarta: Eduka, 2008), cet. Ke-1
Wawancara
Dr. Zastrouw Ngatawi selaku pimpinan Ki Ageng Ganjur Dr. Shofiyullah Mz selaku dosen di UIN Sunan Kalijaga Jogja
Nama : Nur Fauzia
NIM : 107051002497
Perihal : Wawancara dengan Dr. Zastrouw Ngatawi
Tempat : Sanggar Ki Ageng Ganjur, Komp. Taman Serua Permai No. 70
Waktu : 06 Agustus 2011 (10.15 – 12.25)
==========================================================
1. Apa arti kebudayaan bagi anda?
Adanya interaksi dengan lingkungan itulah kebudayaan, prodak cara manusia hidup atau bertahan hidup melalui interaksi lingkungan itulah kebudayaan. Cara inilah yang membedakan manusia dengan hewan, hewan punya survival of lif dia berinteraksi dengan lingkungan tetapi dia tidak menghasilkan atau mempunyai kebudayaan, tetapi kalau manusia cara hidup, cara bertahan hidup melalui interaksi itu melahirkan kebudayaan.
Dalam kebudayaan itu ada sistem nilai ada keindahan-keindahan, paling tidak ada tiga unsur utama dalam kebudayaan yaitu dimensi etika, estetika dan logika. Maka dari tiga dimensi inilah kita bisa mengukur manusia masih berbudaya apa tidak, contohnya: seperti berpolitik apakah masih ada dimensi etikanya apa tidak dalam mereka berpolitik, masih ada dimensi estetika atau logikanya tidak dalam mereka
QS. At-Tin: 4
2. Pementasan seperti apa yang dilakukan oleh Ki Ageng Ganjur?
Dalam pementasan ki ageng ganjur ini bisa dibilang adalah upaya revitalisasi, ada dua reward yang pertama revitalisasi, vitalisasi tersebut berasal dari kata vital kenapa saya menyebutnya kata vital karena kebudayaan itu organ vital bagi khidupan manusia. Jadi spirit kebudayaan dan nilai-nilai yang ada dalam kebudayaan yang menjadi daya dorong kekuatan dasar manusia. Kata-kata vitalisasi ini sebenarnya menguatkan kebudayaan-kebudayaan yang ada dalam
masyarakat, memperkuat dimensi-dimensi kebudayaan, kebudayaan yang saya maksud yang ingin di revitalisasi adalah seni tradisi, seni tradisi adalah seni yang hidup berkembang dan menjadi tradisi dari suatu kelo,pok masyarakat, seni tradisi ini posisinya sekarang sedang mengalami masa kelemahan, yang saya sebut dengan proses pelemahan atau marginalisasi seni tradisi baik secara fungsional fungsi dia sebagai seni, maupun format. Secara emosional fungsi vitalisasi menjadi formal atau prfom mengalami kemunduran. Nah saya ingin membangkitkan kembali sepirit vital tradisi ini saya gunakan sebagai media dakwah Islamiah, maka inilah yang saya sebut dengan revitalisasi seni tradisi. So...so...so.. misi visi Ki Ageng.... dan pengertian revitalisasi seni tradisi tersebut adalah penguatan kembali seni tradisi sebagai sarana atau media dalam melakukan dakwah Islam.
3. Apakah yang dimaksud itu kesenian secara keseluruhan atau secara khusus
saja?
Saya mengambil seni khusus yaitu seni musik yang tradisi karena ganjur ini seni nya adalah seni musik.
4. Revitalisasinya dilakukan dari kebudayaan mana atau mengikuti jejak
siapa?
sebetulnya ini sudah pernah dilakukan oleh para wali-wali dulu. Jadi, sebagaimana kita ketahui proses islamisasi ini di Indonesia mengalami kemunduran, hampir 7 abad kalau kita lihat daei bukti sejarah Islam masuk ke Indonesia abad ke-7 di tunjukkan pada makam Fatimah binti Maimun di Aceh itu ditemukan prasasti pada abad ke-7 artinya Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7, gitu...
seperti kita lihat pada catatan haji Makwan sekertarisnya cengho ketika dia melakukan ekspedisi ke Nusantara ke Palembang ke mudian masuk ke pesisir utara pulau Jawa dia melihat dia melakukan ekspedisi itu pada sekitar abad ke-15 atau tahun 1400-an SM awal, dia melihat konstruksi sosial masyarakat Nusantara itu ada tiga, 1) masyarakat elit kerajaan yang beragama Hindu Budh, 2)
masyarakat wong moncho (orang asing) yang terdiri dari orang China, India, dan Arab yang beragama Islam minoritas dan kebanyakan berada di pesisir, 3) mayoritas masyarakat Nusantara yang memiliki paham kapitayan, ikatan-ikatan tradisi yang kuat.
Selama dakwah melalui Fatimah binti Maimun, yang dilakukan oleh Arab, India, China ini tidak bisa menembus masyarakat sosial Nusantara. Makanya vakum, tidak berkembang, Islam hanya dipeluk oleh orang asing saja, disini masyarakat Nusantara asli pribumi mau menerima Islam baru setelah para wali menggunakan startegi kultural, strategi kebudayaan yaitu tradisi-tradisi jihad, tradisi masyarakat lokal dipakek untuk menjalankan islamisasi, baru dia bisa menerima. Artinya gerakan kebudayaan, gerakan tradisi ini yang lebih bisa menjalankan proses islamisasi di Indonesia.
Para penyebar Islam tidak menggunakan strategi kultural atau kebudayaan, tidak memanfaatkan potensi-potensi tradisi masyarakat sebagai sarana islamisasi. Baru jamannya wali songo baru menggunakan kebudayaan sebagai sarana.
5. Trus apa perbedaan ganjur dengan wali songo?
Jelaslah berbeda, bisa dilihat dari penjelasan saya tadi apa yang dilakukan wali songo dalam penggunaan budaya itu yang disebut dengan reformulasi tradisi, tradisi-tradisi kapitayan jahiliyah atau lokal dia pakek, dia masuki nilai-nilai Islam tetapi tetap berwajah tradisi lokal. Misalnya sunan Kalijaga mereformulasi seni wayang, sunan Bonang mereformulasi gamelang, sunan Drajad tembang-tembang menjadi sinom.
Saya bersama Kanjeng bukan untuk mereformulasi tetatpi merevitalisasi, sebab banyak kecenderungan seni tradisi yang disingkirkan dan dilemahkan oleh arus moderenisasi dan gerakan pluralisasi agama, normalisme agama. Jadi, gerakan pluralisme agama mulai mengabaikan tradisi-tradisi kebudayaan sebagai sarana penyebaran agama Islam, disisi lain gerakan moderenisasi tidak memberikan tempat yang baik bagi tradisi atau seni kebudayaan lokal. Nah dengan Kanjeng ini saya mau membalikkah wital tradi tradisional ini sebagai mensosialisasikan ajaran
Islam, makanya itu saya tidak menyebutnya revormulasi tapi saya menyebutnya revitalisasi
6. Strategi apa yang di gunakan Ganjur dalam penyebaran dakwah Islam?
Saya menyebutnya strategi kultural, yang disebut startegi kultural adalah kita memanfaatkan tradisi-tradisi yang ada untuk mensosialisasikan ajaran agama ini starteginya. Soal caranya kitra menampilkan pementasan-pementasan di berbagai tempat, bahkan dalam performen itu kita mensosialisasikan ajaran agama Islam melalui syair-syair yang kita bawa, komposisi musik yang kita bangun, performen yang kita tampilkan mulai dari segi tata musik, segi syair, dari segi lirik-lirik lagu yang ada itu sebagai methodenya. Kita sangat kaya terhadap syair-syair pujian-pujian ini juga ada dalam tradisi-tradisi lokal yang sekarang ini mengalami masa-masa pemunduran kita hidupkan kembali tradisi-tradisi sufi yang sudah mengalami kemunduran, dengan tradisi lokal, trus tradisi-tradisi musik, musik-musik lokal, musik-musik-musik-musik tasawuf itu kita kalaborasikan.
7. Segmentasi dalam pementasan musik ini untuk siapa?
Semua kalangan, kita berangkat dari...???????????
Jadi kita akan masuk pada segmen kita melihat pada kecenderungan usia, misalnya kita tampil di usia anak muda kita bawa artis yang disukai anak muda contohnya: Iwan Fals, Widi Helo. Yang suka musik-musik rock kita gandeng Niki Astrea, yang suka dangdut kita gandeng penyanyi-penyanyi dangdut, yang dikalangan orang tua habib-habib yang punya sholawat-sholawat. Jadi kita lihat sesuai dengan segmennya.
8. Menggunakan methode apa dalam melakukan dakwah Islam?
Methode perform dan dialog
Disisi lain Ganjur melakukan kegiatan sosial, suatu contoh: ketika target dakwah anak-anak jalanan, anak-anak tatoan dan lain-lain kita ajak Iwan Fals, kita tidak sekedar menyanyi tapi kita memaknai arti lagu dari Iwan Fals tersebut dengan makna-makna yang lebih religius. Cuma dia berangkat dari kaumiyah sedangkan
para mubaligh berangkat dari kauliyah dan ini juga adalah salah satu strategi atau methode kita dalam berangkat dari kauliyah tidak semata-mata berangkat dari kaumiyah jadi kita memadukan antara yang kauliyah dan kaumiyah dalam salah satu musik atau komponen.
9. Apa manfaatnya diadakan dialog atau mengartikan lagu-lagu yang telah
dinyanyikan?
Contohnya setelah merekamendengarkan lagu iwan fals yang telah dimaknai banyak dari mereka yang sadar akan agama Islam, akhirnya mereka selalu menjalankan perintah agama islam dengan sebaik mungkin dan pada akhinya kesadaran mereka terbuka dan melakukan sesuatu program yaitu ziarah ke makam-makam wali.
10.Apa yang disebut dengan strategi dialogtis?
Yang saya sebut strategi dialogtis adalah antara kaumiya dan kauliyah antara hati ke hati, kemudian kita fasilitasi mereka yang pengen kami arahkan, yang pengen ke masjid kami arahkan dan kita langsung menjaga emosi dan hati. Dan mereka yang selama ini hanya menikmati lagu mereka bisa tau arti sesungguhnya lagu tersebut yang mereka tidak tau sebelumnya, kemudian kita bedah kita tunjukkan yang anda tanyakan ayat kauliyah, ayatnya ini...
11.Dalam segi musik ganjur lebih condong ke genre musik apa?
Dari segi musik karna saya tidak mengikuti satu genre musik tertentu dan visi misi ganjur adalah berdakwah dengan musik. Maka kita layani mereka yang menginginkan kita, kita juga bisa melayani jazz, pop, dangdut, rock, dan lain sebagainya. tentunya tidak murni itu tetapi dikemas secara ulang, untuk jazz ya jazz yang sudah etnik, rock juga rock dengan sentuhan etnik yang sudah mengalami modifikasi dan ciri khas yang dimiliki Ganjur pada tradisi itu.
12.Bagaimana ganjur tetap menjaga eksitensinya?
Orang-orang sekarang menyukai yang unik-unik , unik-unik yang menimbulkan daya tarik bagi anak-anak muda bagi target yang kita rawatitu karena orang-orang
kita mengalami latah budaya, orang barat itu mudah ditiru, ketika kita mampu membuktikan bahwa orang barat juga mengagumi keunikan budaya kita miliki, dan ini yang kita buka.
Kenapa orang barat yang kita tiru mrnyukai budaya kita? Dan ini yang kita sadarkan terhadap mereka misalnya lagu Iwan Fals kita ubah arsemennyayang lebih etnik lebih unik dan lebih menarik tentunya dengan itu kita selalu mengeksplorasikan hal-hal yang unik yang bisa menyebabkan audiens kita itu menjadi tertarik menyaksikan kita dan setelah tertarik baru kita masuki itu intinya. Karena ciri khas yang dimiliki Ganjur seni tradisi dalam menjaga eksitensinya selain tadi yang saya jelaskan di atas ya tetap berdialog dengan situasi dan kreatif karena yang namanya kebudayaan itu dinamis sehingga kita harus terus membaca keadaan kenyataan dan terus menggali eksplorasi terhadap seni tradisi ini supaya dia tetap tampil yang lebih menarik, tetap unik dan tetap disukai oleh audien kita.
13.apa saja yg dilakukan dan dialog seperti apa yang diterapkan?
Yaitu tadi kita melakukan dialog kebudayaan, dialog kreatifitas dan lain-lain. Kita tidak hanya untuk umat Islam saja tapi untuk semuanya. Bahkan kami pernah tampil di gereja dan bahkan kolaborasi dengan non muslim, justru dari itu mereka bisa melihat kehebatan keindahan Islam. Misalnya, ketika saya dialog dengan orang Amerkia kemudian saya setel sebuah lagu dan dia kaget karna yang menyanyikan orang Islam dan lebih kagetnya lagi mereka lulusan dari pesantren . dan dia berkata bukannya pesantren teroris?? Dan saya ngomong ini buktinya ini semua lulusan pesantren, kamu salah mengartikan pesantren seperti itu, setelah itu dia tertarik dan datang ke setiap pondok, dan dari situlah dia tau Islam yang benar. Oleh karena itu Ganjur ditawari berkalaborasi oleh grup terkenal dari Amerika sana dan sisitu dia mengagumi kehebatan Islam, kreatifitas santri muda Islam karena mereka belum menemukan seni bermusik sehebat Ganjur. Dan dikalangan non muslim kita tunjukkan itu.
Kita juga pernah main ke pura di Bali dan dia terus melihat, jadi kehebatan dan keindahan Islam bisa ditampilkan dengan seperti ini itu karena Islam di Indonesia
adalah Islam yang kultural yang tradisi kalau itu dihilangkan yang muncul Islam yang aneh-aneh itu yang serba keras, serba tradisi tidak menghormati kultural di masyarakat, Islam yang kaku sangar dan kering. Maka bagi saya Islam di Indonesia harus kembali kepada tradisi dan kultural yang ada di masyarakat.
A. Revitalisasi syair-syair dalam musik ki ageng ganjur
1. Syair-syair ki ageng ganjur mengikuti jejak wali songo siapa?
Syair KI Ageng Ganjur tidak secara spesifik mengikuti syair dari salah satu wali songo tetapi hampir semua wali yang menciptakan syair akan menjadi obyek garapan dari ki Ageng ganjur. Hal ini dilakakan karena pertama, semua syair para wali itu memiliki spirit religiusitas dan mengandung ajaran suci agama. Kedua, wali songo sebenarnya merupakan kesatuan yang utuh dari segi spirit, gagasan dan gerakan. Oleh karenanya sangat sulit memisahkan dalam satu sosok. Masing-masing figfur yang ada dalam wali songo itu melebur dalama satu spirit, meski masing-masing memiliki karya yang berbeda. Atas dasar inilah maka Ki Ageng Ganjur tidak terpaku hanyamengikuti jejak sosok tertentu dari Wali Songo.
2. Syair-syair apa saja yang diangkat kembali oleh ganjur?
Ada beberapa syair karya sunan Kalaijaga yang sudah diangkat kembali oleh Ki
Ageng Ganjur seperti “syair Ilir-ilir” dan “kidung rumekso” ada juga syair karya
sunan Drajad seperti syair “wenehono”, syair karya sunan Bonang “eling-eling”
dan sekarang sedang menggarap beberapa syair dari Sunan Giri, Sunan Drajad, Sunan Ampel dan wali-wali lain yang memiliki karya sastra.
3. Apa perbedaan antara ganjur dan wali songo dalam syair2 yang digunakan?
Perbedaannya, syair wali songo menggunakan aturan baku sastra Jawa Klasik, misalnya terikat pada aturan baku mengenai guru lagu, guru wiklangan, gatra dan sejenisnya. Selain itu, sastra wali songo juga mengacu pada pakem tembang Jawa
seperti Dandanggulo, sinom, megatruh dan sebagainya. Sedangkan syair ganjur, meski berangkat dari syair-syair wali songo tetapi sudah mengalami modifikasi dan kontekstualisasi. Ada dua model modifikasi yang dilakukan oleh ganjur terhadap syair wali songo sebagai upaya aktualisasi. Pertama modifikasi pada model tata musik. Pada model ini, modifikasi dilakukan pada jenis musik dan
lagu, tetapi syair dijaga otentisitasnya. Seperti pada syair “ilir-ilir”, yang
dimodifikasi menjadi model musik jazz, meski tetep dijaga juga liric aslinya sebagaia tembang Jawa. Kedua modifikasi pada syair dan liric. Pada model ini ganjur melakukan modifikasi pada syair, artinya syair-syair asli diambil inti ajarannya kemudian dibuat syair baru yang mencerminkan isi dari syair-syair lama tersbut. Seperti syair “Suluk Kalijogo” yang merupakan modofikasi dari syair-syair Sunan Kalijogo yang ada dalam kitab Serat Kaki Waloko. Demikian lagu pepeling yang merupakan modofikasi dari syair “wenehono” karya Sunan Drajad.
B. revitalisasi alat-alat musik ki ageng ganjur
1. Alat-alat musik ki ageng ganjur mengikuti jejak wali siapa?
Sebagaimana syair, dari segi alat musik Ganjur juga tidak mengacu hanya apada salahsatu wali. Apalgi alat musik yang digunakan para walisongo juga hampir tidak perbedaan yaitu semua menggunakan gamelan. Hanya jenisnya saja yang berbeda. Misalanya Sunan Kalijogo menggunakan semua jenis gamelan. Sunan bonang menggunakan alat musik “bonang”, sunana Drajad menggunakan perangkat gamelan yang disebut “Singo Mengkok”. Namun semua gamelan itu berada dalam pakem nada Jawa; slendro dan pelok.
2. Alat musik apa aja yg digunakan? Kenapa?
Selain menggunakan alat musik gamelan dengan pakem nada slendro-pelok, seperti yang dipakai oleh para wali songo, Ki Ageng Ganjur, juga menggunakan gamelan dengan nada baru yang diambil dari nada-nada Timur Tengah, seperti sikhah dan bayati. Dengan demikian gamelan ki Ageng Ganjur
menjadi lebih variatif dan karya nuansa. Selain itu, Ganjur juga mengkolaborasikan alat tradisional dengan alat-alat modern seperti, keyboard, drum, gitar, bass dan sebagainya. Ini artinya Ganjur melakukan rekosntruksi musik dari dua sisi, pertama dari sisi nada, yaitu memasukkan nada-nada non Jawa (nada timur tengah) dalam instrumen gamelan, yang merupakan instrumen musik tadisional Jawa. Kedua rekosntruksi dari sisi instrumen itu sendiri yaitu mengkolaborasikan instrumen tradisional; gamelan, gendang, gamelan, siter dan sebagainya dengan instrumen modern; gitar, bass, keyboard dan sejenisnya. Inilah yang menyebabkan karakterisitik musik Ganjur menjadi lebih variatif karya warna.
Hal ini dilakukan karena Ganjur ingin mengangkat khazanah tradisi dan akar-akar kultural yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Melalui kolaborasi ini syair-syair klasik yang asing ditelinga anak muda saat ini, akan bisa diterima kerena menjadi sesuatu yang enak dan cocok dengan selera saat ini. Jadi apa yang dilakukan Komunitas Ganjur ini sebenarnya merupakan upaya membentuk strategi budaya melalui musik dengan cara menghadirkan khazanah lama dengan kemasan baru yang menarik dan sesuai dengan realitas zamannya. Pendeknya, melalui musik, Ganjur ingin mebangun suatu konstruksi modernitas yanag berbasis pada tradisionalitas.
3. Apa perbedaanya antara ganjur dan walisongo dalam penggunaan alat musik?
Para Wali Songon menggunakan alat musik tradisional dengan pakem nada Slendro-pelok (pentatonis) dan semua peralatan tersebut bersifat akustik. Ganjur menggunakan peralatan yang lebih lengkap, mengkolaborasikan alat-alat tradisional dengan nada tradisional (slendro-pelok/pentatonis) bersifat akustik dengan peralatan modern dengan nada-nada modern (diatonis) yang bersifat elentrik.