• Tidak ada hasil yang ditemukan

Adnan, A. 2004. Perubahan Penutupan Lahan TNKS dan Faktor yang Mempengaruhi di Kabupaten Kerinci, Jambi. Skripsi. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

Barus B, Wiradisastra U. S. 2000. Sistem Informasi Geografi – Sarana Manajemen Sumberdaya. Bogor : Laboratorium Penginderaan Jauh dan Kartografi, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

Darmawan, A. 2002. Perubahan Penutupan Lahan di Cagar Alam Rawa Danau. Skripsi. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (Ditjen PHKA). 2004. Lima Puluh Taman Nasional di Indonesia. Bogor : Pusat Informasi Konservasi Alam

Hamidy, Z. 2003. Perubahan Penutupan Lahan, Komposisi, dan Keanekaragaman Jenis di Suaka Margasatwa Cikepuh pada Periode Tahun 1989-2001. Skripsi. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

Harris, H. 2005. Analisis Perubahan Penutupan Lahan di Kawasan Lindung (Studi Kasus di Wilayah Perum Perhutani Unit I KPH Kedu Utara Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah). Skripsi. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

Jaya INS. 2002. Aplikasi Sistem Informasi Geofgrafis Untuk Kehutanan, Panduan Praktis Menggunakan ArcInfo dan ArcView. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB. Khalil, B. 2009. Analisis Perubahan Penutupan Lahan di Hutan Adat Kesepuhan

Citorek, TNGHS. Skripsi. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

Lillesand TM, Kiefer RW. 1990. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra.Dulbahri, Suharsono P, Hartono, Suharyadi, penerjemah; Sutanto, editor. Yogyakarta:

47

Gadjah Mada University Press. Terjemahan dari: Remote Sensing and Image Interpretation.

Lo CP. 1995. Pengindraan Jauh Terapan. Purbowaseso B, penerjemah. Jakarta: UI-Press. Terjemahan dari: Applied Remote Sensing.

Prahasta E. 2001. Konsep-konsep Dasar: Sistem Informasi Geografis. Bandung: Informatika Bandung.

Puntodewo A, Dewi S, Tarigan, J. 2003. Sistem Informasi Geografis: Untuk Pengelolaan Sumberdaya Alam. Bogor: [CIFOR] Center For International Forestry Research.

Purwadhi, F. S. Hardiyanti. 2001. Interpretasi Citra Digital. Jakarta : PT. Grasindo Ramdan, H. et al. 2003. Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Otonomi Daerah :

Perspektif Kebijakan dan Valuasi Ekonomi. Bandung : Alqaprint

Rusydi, H. 2007. Perubahan Penutupan Lahan di TNKS Kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatera Barat. Skripsi. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

Suheri. 2003. Studi Perubahan Penutupan Lahan di Daerah Penyangga TNGGP Menggunakan SIG. Skripsi. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

Wijaya, C. I. 2005. Analisis Perubahan Penutupan Lahan Kabupaten Cianjur Jawa Barat Menggunakan SIG. Skripsi. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

Yatap, H. 2008. Pengaruh Peubah Sosial Ekonomi terhadap Perubahan Penggunaan dan Penutupan Lahan di TNGHS. Tesis. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

49

Lampiran 1

Ringkasan Sejarah Pemukiman Dalam Kawasan Taman Nasional Kutai

(Sumber : Pemukim Suku Bugis di Taman Nasional Kutai, Kalimantan Timur. Vayda, AP & Ahmad Sahur, Cifor. 1996)

a. Pemukiman Teluk Pandan

Orang Bugis yang pertama kali datang di Teluk Pandan pada medio 60-an adalah masyarakat Bugis yang berasal dari Bone Sulawesi Selatan yang pindah ke Bontang pada tahun 50-an dan awal 60-an untuk menghindari kesulitan ekonomi dan kekacauan militer akibat pemberontakan Kahar Muzakar serta mengikuti saran keluarga atau teman mereka yang memberitahu adanya suatu lokasi yang kawasan hutannya dapat diubah menjadi lahan pertanian.

Ada sekitar sebelas pasangan beserta anaknya, yang merupakan pemukim Bugis angkatan pertama di Teluk Pandan. Pemukiman mereka yang pertama dimulai di Bontang tahun 1956 di Sikattub dan setelah bertani serta mencari ikan selama 11 tahun dan ditemani oleh 15 pasangan lainnya (berasal dari Bone juga), mereka pindah ke Teluk Pandan karena adanya konflik dengan pemukim lain yang datang lebih awal dari mereka yang kemudian menjadi kepala dusun. Pada saat itu dua industri besar yang pertama kali dibangun di Bontang tahun 1970-an di Teluk Pandan, menempati lahan dataran subur untuk sawah. Daerah itu sudah dihuni oleh kelompok masyarakat petani dan nelayan yang sudah menetap dan berkembang dengan baik dalam kawasan yang dulu dikenal sebagai Suaka Margasatwa Kutai. Pada kenyataannya peningkatan populasi pemukim berasal dari perkembangan populasi dari kelompok pendatang pertama dan pendatang berikutnya yang merupakan kerabat pendatang pertama dan bukannya pendatang yang datang untuk mencari pekerjaan pada sektor industri di Bontang.

Sebagai pabrik pupuk, PT Pupuk Kaltim yang didirikan pada akhir 70-an, terus meningkatkan produksinya sehingga memerlukan tanah yang lebih luas lagi. Dalam tiga tahun yang terpisah, yaitu tahun 1978, 1984 dan 1990, perusahaan tersebut telah membayar ganti rugi tanah yang diambil alih di Sikattub dan Teluk Pandan atas klaim mereka sebagai pendatang perintis yang membuka hutan menjadi lahan pertanian.

Sebelum tahun 1990, pendapatan utama para pemukim tersebut berasal dari hasil penjualan beras pada para pedagang di Bontang. Diperkirakan waktu itu luas sawah di Teluk Pandan sekitar 200 ha. Selain itu pohon kelapa dan nanas juga dibudidayakan secara bersamaan. Pada tahun 1990, sebagian dari sawah dialihfungsikan untuk penanaman jeruk mandarin sebagai antisipasi pembuatan jalan tembus Bontang – Sangatta. Pengalaman dari kompensasi yang diberikan oleh PT. PKT yang memberikan nilai lebih untuk tanah dengan tanaman produksi dibanding dengan sawah menjadikan sebuah motivasi tersendiri. Dalam kasus pembuatan jalan tersebut, mereka akan menerima kompensasi yang lebih baik untuk tanah dengan tanaman buah dan tanaman tahunan lainnya dibanding hanya tanaman padi saja. Pada tahun 1996, padi yang dihasilkan di Teluk Pandan hanya dikonsumsi sendiri atau dijual di Teluk Pandan pada konsumen lokal.

b. Pemukiman Selimpus/Kandolo

Pemukiman ini terletak kurang dari 10 km dari Teluk Pandan melalui jalan darat. Kondisi tanahnya lebih buruk, miskin unsur hara dan berpasir sehingga tidak cocok untuk tanaman. Pada 1974, tempat ini dihuni oleh 3 keluarga dari Muara Badak (20 km sebelah utara muara S. Mahakam) dan 4 orang laki-laki dari Kabupaten Bone (Kecamatan Awampone) yang mendengar adanya kesempatan di kota Bontang. Setelah membersihkan hutan mereka menanami lahan dengan padi untuk keperluan sehari-hari, kemudian pisang dan kelapa dan akhirnya coklat yang ditanam di bawah pohon yang ditanam sebelumnya. Pada tahun 1977, seorang pemuda dari Awampone mendapat informasi mengenai Selimpus/Kandolo dari orang-orang Teluk Pandan yang datang ke Bone, membawa dan mengorganisir 80 pemuda untuk bermigrasi ke Selimpus dengan maksud membuka lahan untuk berkebun coklat. Setelah membersihkan hutan, masing-masing mendapat bagian seluas 2 ha. Padi ditanam pertama kali kemudian kelapa, pisang, sukun, singkong dan coklat. Pada tahun 1978 saudara pemimpin rombongan yang pertama datang bersama 67 laki-laki dari Awampone. Empat puluh orang dari mereka membuka 80 ha hutan dan 27 orang yang lain membersihkan hutan untuk mereka sendiri.

Beberapa orang dari pendatang pertama tersebut pergi karena kualitas tanah yang buruk dan lebih dari separonya pergi karena kemarau dan kebakaran yang terjadi

51

tahun 1982-1983. Mereka pergi untuk mencari kerja di tempat lain dan hanya mereka yang tidak menemukan pekerjaan di tempat lain kembali ke tempat semula pada tahun 1985. Kebanyakan pendapatan mereka lebih banyak diperoleh dari hasil penjualan kayu yang mereka olah dari hutan, daripada dengan menjual menjual coklat ataupun hasil dari tanaman tahunan yang lain. Pada akhir tahun 1990, penebang kayu mengatakan mereka mengambil kayu dalam skala kecil dan hanya untuk dipakai sendiri. Tidak ada para pemukim pertama yang mengklaim tanah yang ada di Sikattub dan menerima kompensasi dari PT. Pupuk Kaltim.

c. Sangkima

Pemukim Bugis pertama kali di Sangkima terdiri dari kelompok yang tak lebih dari 10 orang yang datang pada tahun 1924 dari kecamatan Segeri Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan. Pada waktu itu, lokasi yang sekarang menjadi Sangkimah masih berupa hutan primer tapi dihuni oleh para peladang berpindah di sekitarnya. Beberapa perkawinan antara para peladang berpindah dengan perintis Bugis terjadi dan hal ini membantu orang-orang Bugis untuk mendapatkan tanah yang dulu dibuka oleh para peladang berpindah. Untuk beberapa tahun kemudian perintis Bugis tersebut ikut juga terlibat dalam peladangan berpindah. Antara tahun 1954 dan 1960, sebagai akibat dari kesulitan ekonomi dan kekacauan militer akibat pemberontakan Kahar Muzakar, banyak pendatang baru yang berasal dari Segeri dan mengambil alih tanah yang ditinggalkan oleh para peladang berpindah. Kemudian pemukim lama dan pendatang baru bersama-sama menanami lahan tersebut dengan tanaman kopi, kelapa, nangka dan pisang untuk mengamankan kepemilikan tanah mereka. Sawah untuk menanam padi juga mereka buat. Akhirnya, gelombang besar migrasi terjadi ketika 30 keluarga orang Bugis datang dari Segeri pada tahun 1960.

Pada tahun 1996, jalan menuju Sangkimah sangat buruk, terutama pada musim hujan. Kondisi ini membuat sangat sedikitnya kesempatan-kesempatan ekonomi dan masyarakat kelihatan sangat miskin. Walaupun daerah di sekitar aliran sungai digambarkan sama kesuburannya dengan Teluk Pandan, namun kondisi jalan yang buruk telah menghalangi truk untuk mengangkut hasil bumi ke kota. Antara tahun 1987 sampai 1996, hanya sekitar 25% penduduk di Sangkimah yang meninggalkan dusun secara permanen atau sementara waktu untuk bekerja di tempat lain.

Pada tahun 1995-1996, hutan mangrove di TNK dibersihkan dan dijadikan tambak ikan seluas 9 ha. Kegiatan tersebut disponsori oleh 3 orang pengusaha Bugis. Mereka menyadari bahwa tanah dan tenaga kerja di Sangkimah akan mengantarkan mereka menjadi pemilik tambak di sana dengan harga yang jauh lebih murah daripada di Bontang.

53

Lampiran 2

CLASSIFICATION ACCURACY ASSESSMENT REPORT --- Image File : d:/2006/super_recode.img

User Name : Windows XP

Date : Wed Dec 08 11:28:22 2010

ACCURACY TOTALS ---

Class Reference Classified Number Producers Users

Name Totals Totals Correct Accuracy Accuracy

--- --- --- --- --- --- Unclass 210 210 210 --- --- Hutan 153 155 148 96.73% 95.48% Pemukiman 15 8 8 53.33% 100.00% Lahan terbuka 33 25 25 75.76% 100.00% Ladang 22 10 10 45.45% 100.00% Semak belukar 17 17 17 100.00% 100.00% Hutan mangrove 2 2 2 100.00% 100.00% Awan 0 19 0 --- --- Bayangan awan 0 6 0 --- --- Air 0 0 0 --- --- Totals 452 452 420

Overall Classification Accuracy = 92.92%

Lampiran 3

CLASSIFICATION ACCURACY ASSESSMENT REPORT --- Image File : d:/kutai2009/super_recode.img

User Name : Windows XP

Date : Wed Dec 08 11:28:22 2010

ACCURACY TOTALS ---

Class Reference Classified Number Producers Users

Name Totals Totals Correct Accuracy Accuracy

--- --- --- --- --- --- Unclass 210 210 210 --- --- Hutan 153 155 148 96.73% 95.48% Pemukiman 15 8 8 53.33% 100.00% Lahan terbuka 33 25 25 75.76% 100.00% Ladang 22 10 10 45.45% 100.00% Semak belukar 17 17 17 100.00% 100.00% Hutan mangrove 2 2 2 100.00% 100.00% Awan 0 19 0 --- --- Bayangan awan 0 6 0 --- --- Air 0 0 0 --- --- Totals 452 452 420

Overall Classification Accuracy = 86.25%

Dokumen terkait