• Tidak ada hasil yang ditemukan

Anonim. 1994. Laporan Telaah Tata Guna Ekosistem Mangrove Pantai Utara Jawa

Barat. Tim Ekosistem Mangrove. MAB-LIPI dan PT.Perhutani. Jakarta.

Intag. 1993. Hasil Penapsiran Luas Areal Mangrove dari Citra Lansat MSS Liputan

1986-1991. Jakarta: Departemen Kehutanan Republik Indonesia, Direktorat

Jenderal Inventarisasi dan Tata Guna Hutan.Ludwig, JA and JF.

Reynold. 1988. Statistical Ecology. John Wiley & Sons. New York.

Chichester. Brisbane. Toronto. Singapore.

Poedjirahajoe, E 2002. Peran Faktor Fisik Kimia Habitat terhadap Pertumbuhan

Mangrove di Delta Cisanggarung. DPP Fakultas Kehutanan UGM.

---. 2006. Klasifikasi Lahan Potensial Untuk rehabilitasi mangrove Di Pantai

Utara Jawa Tengah : rehabilitasi mangrove Menggunakan Jenis

Rhizophora Mucronata. Universitas Gadjah Mada. Disertasi.

---. 2003. Peran Faktor Fisik-Kimia Substrat pada Pertumbuhan Mangrove di

Lahan Tambak Pantai Utara Jawa Tengah. DPP Fakultas Kehutanan

UGM.

---. 1996. Peran Akar Bakau sebagai Penyangga Kehidupan Biota Laut di

Pantai Utara Kabupaten Pemalang. Buletin Fakultas Kehutanan No. 29

ISSN.

Prosiding Forum Nasional Pemacuan Sumber Daya Ikan III, 18 Oktober 2011

POTENSI EKOSISTEM HUTAN MANGROVE UNTUK

PENGEMBANGAN SILVOFISHERY DI

TAMAN NASIONAL ALAS PURWO

Erny Poedjirahajoe

Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

ABSTRAK

Salah satu pemanfaatan ekosistem mangrove untuk menambah pendapatan

masyarakat adalah silvofishery. Pengelola ingin menjadikan kawasan tersebut untuk

pembuatan silvofishery, sehingga diperlukan penelitian potensi ekosistem yang diprediksi

mampu menunjang silvofishery, antara lain adalah potensi plankton dan nekton sebagai

sumber energi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi ekosistem mangrove

untuk penggunaan silvofishery, dengan cara mengetahui struktur vegetasi, kepadatan dan

keanekaragaman plankton dan nekton. Penelitian dilakukan dengan cara menentukan

kawasan yang akan diteliti berdasarkan pertimbangan luas zona pemanfaatan yang akan

digunakan silvofishery dan dominansi jenis penyusun. Dari kawasan tersebut kemudian

ditentukan jalur-jalur dan titik pengamatan secara sistematis (intensitas sampling 1%).

Pada setiap titik dibuat petak ukur 5x5 meter, kemudian dilakukan pengukuran terhadap

vegetasi, plankton dan nekton serta faktor lingkungan habitat. Data dianalisis dengan

menggunakan formula kerapatan/kepadatan species serta Indeks Diversitas dari Simpson

(Ludwig dan Reynold 1988). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekosistem mangrove

di Taman Nasional Alas Purwo masih mempunyai kerapatan vegetasi yang tinggi

(rata-rata 4800 individu/hektar) yang terdiri dari enam jenis mangrove sejati (mayor) yang

didominasi oleh Rhizophora sp. dan dua jenis mangrove minor (Lumnitzera sp. dan

Xylocarpus sp.). Jenis Ceriops tagal yang melimpah di zona darat menunjukkan indikasi

bahwa salinitas perairan stabil pada angka sedang (11,92‰). Komponen ekosistem

plankton dan nekton dijumpai dengan kepadatan dan keanekaragaman jenis yang tinggi.

Terdapat 43 jenis plankton dan 10 jenis nekton dengan nilai keanekaragaman jenis

masing-masing adalah 0,89 dan 0,93. Tingginya potensi plankton dan nekton serta faktor

habitat yang sesuai mengindikasikan bahwa kawasan tersebut layak digunakan untuk

pengembangan silvofishery.

Kata kunci : mangrove, silvofishery

PENDAHULUAN

Indonesia memiliki ekosistem mangrove terluas di dunia. Namun demikian data

luas mangrove di Indonesia sangat bervariasi. Menurut Ditjen RLPS Departemen

Kehutanan tahun 1999 potensi mangrove di Indonesia dengan mendasarkan pada sebaran

sistem lahan yang ditumbuhi mangrove adalah seluas 9,2 hektar, luasan tersebut terdiri

atas kawasan hutan negara 3,7 hektar dan non hutan 5,5 hektar. Data Intag (1993),

menyebutkan bahwa luas mangrove di Indonesia sebesar 3.393.620 hektar. Bagian dari

kawasan hutan negara tersebut, salah satunya ada di Taman Nasional Alas Purwo.

Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) merupakan salah satu Taman Nasional di

Indonesia yang memiliki luas sekitar 2000 ha. Taman nasional tersebut terbagi dalam

dua kawasan yang hampir sama, yaitu kawasan mangrove Teluk Pangpang dan kawasan

mangrove Segoro Anak. Sesuai dengan pembagian zonasi TNAP, maka kawasan

mangrove di dua lokasi tersebut masuk pada zona pemanfaatan, artinya merupakan zona

PR-03

Prosiding Forum Nasional Pemacuan Sumber Daya Ikan III, 18 Oktober 2011

yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produktif, dengan tetap melestarikan ekosistem

mangrove. Beberapa pemanfaatan mangrove yang sudah dilaksanakan di beberapa

kawasan antara lain pemanfaatan untuk ekowisata. Pengelola berencana menggunakan

sebagian kawasan tersebut untuk silvofishery. Penentuan pemanfaatan untuk silvofishery

harus mempertimbangkan kondisi ekosistem, kesesuaian lahan dan kondisi masyarakat

sekitar.

Gambar 1. Kawasan Taman Nasional Alas Purwo

Kawasan Mangrove Segoro Anak TNAP mempunyai permasalahan yang

kompleks, yaitu intervensi masyarakat setempat yang menjadikan mangrove sebagai

lahan pemukiman dan tambak. Oleh karena itu, pemilihan kawasan sebagai lokasi

silvofishery diperkirakan mampu mengurangi permasalahan di atas. Namun demikian

sebelum pembuatan silvofishery, perlu penelitian yang lebih mendalam tentang faktor

pendukung keberhasilannya. Faktor tersebut adalah kondisi mangrove, kepadatan dan

keanekaragaman jenis plankton dan nekton sebagai sumber energi bagi tambak

silvofishery. Keberhasilan silvofishery diharapkan mampu menambah penghasilan

masyarakat sekitar yang hidup berdampingan dengan hutan mangrove, dengan tetap

mempertahankan kelestarian mangrove.

BAHAN DAN METODE

Lokasi penelitian berada di kawasan ekosistem mangrove Segoro Anak Taman

Nasional Alas Purwo, seluas 6,5 ha. Observasi dilakukan dengan tujuan untuk

menentukan titik-titik contoh sebagai titik pengamatan (sample plot). Berdasarkan hasil

observasi dan pertimbangan luas zona pemanfaatan serta dominansi jenis penyusun, maka

dengan intensitas sampling 1% didapatkan titik-titik contoh sebanyak 26 plot. Plot-plot

tersebut ditempatkan dengan rincian bahwa sembilan plot diletakkan di sebelah timur laut

Prosiding Forum Nasional Pemacuan Sumber Daya Ikan III, 18 Oktober 2011

Sungai Segara Anak, sembilan plot di sebelah barat laut sungai (dibatasi oleh juluran

tanah yang dibuat masyarakat sekitar sebagai dermaga kecil), empat plot di sebelah barat

daya sungai dan empat plot di sebelah tenggara Sungai Segara Anak. Peletakan 18 plot di

sebelah utara sungai disebabkan karena luas mangrove di sebelah utara sungai lebih besar

daripada di sebelah selatan.

Pada setiap plot dibuat petak ukur 5x5 meter, kemudian dilakukan pengukuran

terhadap kerapatan vegetasi dan kepadatan plankton serta nekton, diukur pula faktor

lingkungan habitat perairan yang meliputi: salinitas, pH, suhu, ketebalan lumpur, dan

oksigen terlarut. Kualitas habitat yang terukur kemudian disesuaikan dengan kriteria yang

ada, sehingga diperoleh kesimpulan tentang kelayakan lokasi untuk silvofishery.

Data hasil pengukuran kemudian dianalisis untuk mendapatkan nilaikerapatan

maupun keanekaragaman jenis dari berbagai biota, terutama plankton dan nekton. Angka

kerapatan diperoleh dengan menggunakan rumus :

Kerapatan/kepadatan = jumlah individu (n)/satuan luas

Angka keanekaragaman jenis diperoleh dengan menggunakan rumus indeks diversitas

dari Simpson (Ludwig & Reynold, 1988):

λ = ∑ ni (ni – 1)/ N(N – 1)

indeks diversitas (ID) = 1 – λ

Pedoman (kriteria) nilai kepadatan plankton dan nekton serta faktor lingkungan

kawasan mangrove yang layak digunakan untuk silvofishery mengacu pada penelitian

Poedjirahajoe (2006) yang telah membuat kriteria terhadap faktor-faktor biotik dan

abiotik pada keberhasilan pengembangan silvofishery di Desa Mojo Pemalang. Kriteria

tersebut adalah sebagai berikut:

Peruntukan

Kriteria Kerapatan

vegetasi/ha Plankton(indv/lt) (indv/mNekton2) (mg/l)DO Suhu(0C) pH Salinitas(‰) lumpur (cm)Ketebalan

Disarankan unt silvofishery > 2500 ID> 0,80>10.000 ID > 0,80>8 > 12 < 30 6-7,5 12-20 > 50 Ditingkatkan supaya dpt digunakan silvofishery

1500-2500 6000-10.000ID=0,6-0,8 ID=0,6-0,85-8 8-12 31-32 5-6 atau7,6-8 10-12 30-50 Tidak disaran-kan

Prosiding Forum Nasional Pemacuan Sumber Daya Ikan III, 18 Oktober 2011

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengamatan dan pengukuran terhadap vegetasi mangrove di TNAP dapat dilihat

pada Tabel 1.

Tabel 1. Data Vegetasi Mangrove di Taman Nasional Alas Purwo

Keterangan :

Av : Avicennia marina Ra : Rhizophora apiculata K : Kerapatan Bg : Bruguiera gymnorhiza Rm : Rhizophora mucronata t : rata-rata tinggi Ct : Ceriops tagal Sa : Sonneratia alba d : rata-rata diameter Li : Lumnitzera littorea Xm : Xylocarpus muloccensis

Tabel 1 menunjukkan bahwa terdapat delapan jenis mangrove, yang terdiri dari

enam jenis mangrove sejati, yaitu Avicennia marina, Bruguiera gymnorhiza, Rhizophora

apiculata, Rhizophora mucronata, Ceriops tagal, dan Sonneratia alba. Selain itu,

ditemukan dua jenis lain yang termasuk dalam jenis mangrove minor, yaitu Lumnitzera

littorea dan Xylocarpus moluccensis. Jenis-jenis mangrove asosiasi dijumpai di luar

habitat, misalnya Hibiscus tiliaceus dan sedikit Ipomoea pescaprae.

Pada umumnya jenis Rhizophora apiculata dan R. mucronata mendominasi

hampir di zona laut (proximal zone) maupun tengah (medial zone) (Gambar 2),

sedangkan di zona darat (distal zone) didominasi oleh jenis Ceriops tagal. Kerapatan

vegetasi mencapai 4.800 individu/ha, dengan diameter rata-rata antara 20-24 cm yang

pada umumnya merupakan tingkat pohon, sedangkan anakan (poles) mempunyai

kerapatan sekitar 10.000 individu/ha dengan diameter rata-rata 8-15 cm.

No. PU K Amt d K Bgt d K tCt d K tLi d K tRa d K Rmt d K Sat d K Xmt d 1. - - - - - - 4 4,9 6,3 - - - - - - 5 7,6 12,6 - - - - - -2. - - - - - - - - - - - - 3 6,5 3,9 - - - - - - - - -3. 1 6 9 - - - 4 2,4 4,5 1 8 10 - - - - - - - - - 1 5 7 4. - - - - - - 9 2,1 4,1 - - - - - - - - - - - - 1 3 6 5. - - - - - - 2 3 4,5 - - - 2 4,5 6,5 - - - - - - - - -6. - - - - - - 1 2,5 4 - - - 7 7,3 22,3 2 7 16,5 - - - 1 3 7 7. 1 5 13 - - - 7 4,6 6,1 - - - - - - 9 6,5 20,4 - - - 2 8 7 8. 1 2,5 3 - - - - - - - - - 3 9,3 12,7 - - - 1 10 12 - - -9. 5 3,7 7,2 - - - - - - - - - 1 8 23 - - - - - - - - -10. - - - - - - 5 5 6,8 - - - - - - 15 6,8 9,1 - - - - - -11. 2 11 16 - - - - - - - - 3 4,5 3,7 - - - 5 5,3 7,2 - - -12. 1 19 18 - - - - - - - - - 3 11 9,3 1 5 4 1 8 19 - - -13. 1 2,5 3 - - - - - - - - - 3 8,7 12,7 - - - 2 10 13,5 - - -14. 1 4 5 - - - - - - - - - 3 8,7 13 3 6,8 9 2 10 13,5 - - -15. 1 4 6 - - - - - - - - - 3 8,7 12,7 3 6,7 9,3 3 9,7 12 - - -16. - - - - - - 14 3,1 15 - - - - - - - - - - - - 5 4 15,4 17. - - - - - - 25 2,5 4 - - - - - - - - - - - - - - -18. - - - - - - 14 2,1 3,4 - - - 1 6 9 - - - - - - - - -19. - - - - - - 7 1,9 3,1 - - - 6 5,8 15,8 - - - 1 12 36 - - -20. - - - - - - 6 3,9 3,2 - - - 7 7,3 16,6 6 46,7 16 - - - 1 7 16 21. - - - 1 10 23 5 3,7 3,2 - - - - - - 4 6,9 15,2 - - - 1 3 9 22. - - - - - - 2 1,5 2,3 - - - - - - 7 6,8 9,1 - - - - - -23. - - - - - - 7 2,7 8,6 - - - 2 6 22,5 2 7,5 20,5 - - - 1 3 7 24. 2 5,2 7 - - - 1 3 3 - - - - - - 4 6,5 18 1 10 11 - - -25. - - - - - - 4 2,2 3,2 - - - - - - 2 7 20,5 - - - 2 5 19 26. - - - - - - 5 2,3 3,2 - - - 4 8,1 16,5 - - - - - - - -

-Prosiding Forum Nasional Pemacuan Sumber Daya Ikan III, 18 Oktober 2011

Gambar 2. Kawasan Mangrove TNAP yang didominasi jenis Rhizophora

Kerapatan vegetasi yang tinggi sangat memungkinkan kawasan tersebut

digunakan untuk silvofishery khusunya model empang parit, karena hal ini menunjukkan

ketersediaan bahan organik yang cukup. Selain itu kerapatan yang tinggi menyebabkan

gelombang air laut sangat minimal. Kawasan seperti ini sangat sesuai untuk

berlindungnya jenis nekton seperti ikan.

Dominasi jenis Ceriops tagal merupakan indikator perubahan kualitas habitat,

khususnya salinitas. Poedjirahajoe (2006) menyebutkan bahwa salinitas di zona

Ceriopssp. menunjukkan angka yang lebih rendah dibanding dengan zona Rhizophorasp.

Pada umumnya mangrove berada pada kisaran 9-17‰. Mangrove di Pantai Utara Jawa

Tengah ditemukan pada perairan dengansalinitas antara 15-20‰, sedangkan hasil

pengukuran di mangrove Segara Anak menunjukkan angka salinitas 11,92‰. Angka

salinitas tersebut disebabkan karena posisi sungai Segara Anakan yang relatif jauh dari

laut, meskipun bermuara di laut. Salinitas di atas masih berada pada kisaran batas normal

bagi kehidupan biota perairan, sehingga tidak akan membawa pengaruh signifikan

terhadap kehidupan nekton.

Mangrove di kawasan TNAP masih berada dalam kondisi yang utuh, belum ada

indikasi pencurian atau penebangan vegetasi. Keadaan ini disebabkan karena masyarakat

masih banyak yang memanfaatkan ikan-ikan di sungai yang membelah mangrove. Hal ini

merupakan simbiosis yang sangat baik. Keberadaan mangrove dapat meningkatkan

produksi perikanan dan masyarakat dapat memanfaatkan perikanan tersebut tanpa

mengganggu mangrove. Dengan demikian jika perikanan dikembangkan melalui model

silvofishery, maka akan membawa manfaat yang lebih besar lagi terhadap masyarakat

sekitar.

Potensi lain dari kawasan ekosistem mangrove TNAP berkaitan dengan

vegetasinya adalah plankton dan nekton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di daerah

penelitian mangrove TNAP terdapat 10 jenis nekton, yaitu Periopthalmussp., Penaeussp.,

Ucaspp., Dendrophyllasp., Pleorecera ceutra, Anadarasp., Kalomang, Telescopiumsp.,

Dotillasp., dan scylla serrata. Jenis yang dominan adalah Telescopium sp. (keong) dan

Periopthalmussp., sedangkan Scylla serrata (kepiting bakau) cukup banyak dijumpai

hanya saja yang tampak adalah lubang-lubang lumpur sebagai tempat untuk melindungi

diri dari predatornya atau deras arus pasang surut. Berdasarkan jumlah lubang-lubang

kecil di lumpur menunjukkan bahwa Scylla serrata merupakan jenis dominan pula

(Gambar 3). Kepadatan masing-masing jenis berkisar antara 50-200 ekor pada setiap

petak ukur. Tingginya jumlah jenis dan kepadatan ini memberikan gambaran ketersediaan

pakan dan habitat masih baik, sehingga kawasan mangrove tersebut sesuai jika digunakan

Prosiding Forum Nasional Pemacuan Sumber Daya Ikan III, 18 Oktober 2011

untuk silvofishery. Scylla serrata merupakan jenis kepiting komersial yang sekarang ini

dikembangkan di pantai utara Jawa. Harganya yang mahal dan proses pengembangannya

dalam waktu yang singkat (20-30 hari) dengan teknik yang sangat mudah dan sederhana,

menyebabkan jenis kepiting ini selalu dicari untuk dikembangkan. Oleh karena itu jenis

ini perlu dikembangkan di TNAP.

Gambar 3. Kawasan Populasi Scylla serrata dan Telescopium,sp.

Plankton merupakan produsen primer perairan. Meskipun biota ini mikroskopis

akan tetapi perannya dalam ekosistem perairan sangat besar, yaitu merupakan produsen

primer perairan, mampu menyuplai energi dari proses fotosintesis. Seringkali tingkat

kesuburan perairan ditentukan oleh kepadatan dan keanekaragaman jenis plankton. Pada

penelitian ini dijumpai 43 jenis plankton yang terdiri dari fitoplankton dan zooplankton.

Jumlah jenis yang cukup tinggi (jumlah jenis plankton di perairan keseluruhan ada 52

jenis). Tingginya jumlah jenis dapat disebabkan karena kawasan ekosistem mangrove ini

adalah alami dan hampir tidak dijumpai gangguan terhadap ekosistemnya. Dengan

melihat keanekaragaman jenis dan kepadatan plankton, maka ekosistem mangrove di

TNAP dalam kondisi tingkat kesuburan yang tinggi. Tingkat kesuburan yang tinggi di

ekosistem ini tentu akan berhubungan dengan pola pemanfaatannya. Segala pengelolaan

dan pemanfaatan hendaknya diperhitungkan secara matang, agar ekosistem tetap lestari.

Plankton harus damati secara periodik untuk mengetahui perkembangan ekosistem

mangrove.

Secara keseluruhan mangrove di TNAP merupakan ekosistem yang sangat stabil.

Komponen-komponen ekosistem masih lengkap dengan keanekaragaman jenis yang

tinggi. Faktor lingkungan yang terukur juga menunjukkan kstabilan kondisi lingkungan.

Suhu perairan pada siang hari rata-rata menunjukkan angka 34,54

o

C; pH 6,99; salinitas

11,92‰; oksigen terlarut 12,71 mg/l dan ketebalan lumpur rata-rata 111,19 cm.

Kestabilan kondisi lingkungan nampak dari densitas plankton dan nekton sebagai biota

indikator. Plankton yang berjumlah 43 jenis menunjukkan tingkat keanekaragaman yang

tinggi (ID=0,89), karena keanekaragaman plankton di Indonesia dilaporkan sejumlah 52

jenis. Selain itu, nekton juga menunjukkan keanekaragaman yang tinggi pula (ID=0,93).

Keanekaragaman jenis biota merupakan indikasi dari kestabilan ekosistem perairan.

Prosiding Forum Nasional Pemacuan Sumber Daya Ikan III, 18 Oktober 2011

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian dan pembahasan terhadap vegetasi penyusun mangrove,

keanekaragaman jenis plankton dan nekton serta faktor lingkungan habitat, maka dapat

disimpulkan bahwa kawasan mangrove Segara Anak TNAP layak digunakan untuk

silvofishery.

SARAN

Model-model Silvofishery perlu disesuaikan dengan kondisi kawasan agar tetap

lestari dan berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1994. Laporan Telaah Tata Guna Ekosistem Mangrove Pantai Utara Jawa

Barat. Tim Ekosistem Mangrove. MAB-LIPI dan PT.Perhutani. Jakarta.

Intag. 1993. Hasil Penapsiran Luas Areal Mangrove dari Citra Lansat MSS Liputan

1986-1991. Jakarta: Departemen Kehutanan Republik Indonesia, Direktorat

Jenderal Inventarisasi dan Tata Guna Hutan.Ludwig, JA and JF.

Reynold. 1988. Statistical Ecology. John Wiley & Sons. New York.

Chichester. Brisbane. Toronto. Singapore.

Poedjirahajoe, E 2002. Peran Faktor Fisik Kimia Habitat terhadap Pertumbuhan

Mangrove di Delta Cisanggarung. DPP Fakultas Kehutanan UGM.

---. 2006. Klasifikasi Lahan Potensial Untuk rehabilitasi mangrove Di Pantai

Utara Jawa Tengah : rehabilitasi mangrove Menggunakan Jenis

Rhizophora Mucronata. Universitas Gadjah Mada. Disertasi.

---. 2003. Peran Faktor Fisik-Kimia Substrat pada Pertumbuhan Mangrove di

Lahan Tambak Pantai Utara Jawa Tengah. DPP Fakultas Kehutanan

UGM.

---. 1996. Peran Akar Bakau sebagai Penyangga Kehidupan Biota Laut di

Pantai Utara Kabupaten Pemalang. Buletin Fakultas Kehutanan No. 29

ISSN.

Dokumen terkait