A. Rasyid, Roihan. Hukum Acara Peradilan Agama. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 2003.
Basir. Abdul, Mimbar Hukum (Jurnal Dua Bulanan) Aktualitas Hukum Islam, No 64 Tahun XV 2004, Mei-Juni.
Abdulkadir, Muhammad, Hukum Acara Perdata Indonesia (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000.
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia. Jakarta: Akademika Pressindo,
2007.
---, Hukum Acara Perdata cet. V; Jakarta: Universitas Trisakti, 2006.
Manan, Abdul. Penerapan Hukum acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama, Jakarta: Yayasan Al-Hikmah, 2000.
Slamet. Abidin Aminuddin, Fiqih Munakahat. Bandung: Pustaka Setia, 1999.
Abū Dāud Sualaimaān bin al-Asy‘as bin Ishāq bin BasyῙr Syaddād al-SajistānῙ,
Sunan Abi Dāud Juz II Beirut: al-Maktabah al-As-ariyyah
As-Shun’ani, Muhammad bin Isma’il Al-Khalami, Sublus Salam, Mesir: Mustafa Al
Halabi, 1960.
Buku Laporan Pengadilan Agama Watampone, Perkara Diterima Dan Diputus Pada Pengadilan Agama Watampone Tahun 2007s/D 2009, September 2015.
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahanya Bandung: Syamil Qur’an,
2009.
Gemala. Dewi, Hukum Acara Perdata Peradilan Agama Di Indonesia, Jakarta:
Kencana, 2005.
Erfaniah. Zuhriah, Peradilan Agama di Indonesia, Malang: UIN Malang Press, 2005. Gemala. Dewi, Hukum Acara Peradilan Agama di Indonesia, Jakarta: Kencana,
2005.
Harahap. M. Yahya, Hukum Acara Perdata, Jakarta: Sinar Grafika, 2006.
---, Hukum acara Perdata, Jakarta : Sinar Grafika, 2012.
http://www.pa.watampone.go.id/index.php?Potion=com_content&view=article&id=4 6&It=57, Diakses, pada Rabu , 30 September 2015, pkl. 15.14 WITA
Ramulyo. Idris, Beberapa Masalah Tentang Hukum Acara Perdata Peradilan Agama
dan Hukum Perkawinan Islam,Jakarta: Ind-Hill.co, 1985.
Aripin. Jenal, Peradilan Agama Dalam Bingkai Reformasi Hukum di Indonesia, Jakarta: Kencana, 2008.
Jakar. Ahmad, Hakim Pengadilan Agama Watampone, Wawancara di Pengadilan Agama Watampone, 2 Oktober 2015.
K. Wajik Saleh, Hukum Acara Perdata, Jakarta: Gahalia Indonesia, 1977.
M. Fauzan, Pokok-Pokok Hukum Acara Perdata Peradilan Agama dan Mahkamah
Syariah Di Indonesia,Jakarta: Kencana 2005.
M. Nur. Rasid, Hukum Acara Perdata, Jakarta: Sinar Grafika, 2005.
Mahkamah Agung RI, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2006
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang
Peradilan Agama,Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, 2004.
Mertokusumo. Sudikno, Hukum Acara Perdata Indonesia Yogyakarta: Liberty,
1988.
Mono. Henny, Praktik Berperkara Perdata Malang: Bayu Media, 2007.
Abdul Kadir. Muhammad, Hukum Acara Perdata Indonesia Bandung: Citra Aditya
Bakti, 2000.
Nuruddin. Amiur, dan Azhari. Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam Di Indonesia
Jakarta: Prenada Media, 2004.
R. Supomo, Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri Jakarta: Pradnya Paramita,
1980.
Rasaid. M. Nur, Hukum Acara Perdata Jakarta: Sinar Grafika, 2005.
Wulan Susanto. Retno, dan Iskandar. Oeripkartawinata, Hukum Acara Perdata
Dalam teori dan Praktek, Bandung: Mandar Maju, 2005.
Saleh. K. Watjik, Hukum Acara Perdata, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1977.
Slamet, Abidin. Aminuddin, Fiqh Munakahat, Bandung: Pustaka Setia, 1999.
Subekti, Pokok-Pokok HukumPerdata, Bandung: PT. Intermasa, 1982.
Sugono. Bambang, Metode Penelitian Hukum Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2003.
Usman, Wakil Ketua Pengadilan Agama Watampone, Wawancara di Pengadilan Agama Watampone, 30 September 2015.
Tembusan:
Yth. Rektor UIN Alauddin Makassar di Samata Gowa
Samata, 4 September 2015 Nomor : SI.1/PP.00.9/ /2014
Lamp : 1 (satu) exemplar
Hal : PERMOHONAN IZIN PENELITIAN Kepada
Yth.Ketua Pengadilan Agama Watampone Di –
Tempat
Assalamu ‘Alaikum Wr. Wb.
Dengan hormat disampaikan bahwa Mahasiswa UIN Alauddin Makassar yang tersebut namanya dibawah ini :
Nama : Faizal Antili
Nim : 10300110034
Fakultas/jurusan : Syariah dan Hukum/ Hukum Pidana dan Ketatanegaraan
Simister : IX (Sembilan)
Alamat : Jln. Tun Abd. Razak Kab. Gowa.
Bermaksud melakukan penelitian dalam rangka penyusunan skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana. Adapun judul skipsinya adalah: “Putusan Verstek Dalam Perkara Cerai Gugat Di Pengadilan Agama Klas 1B Watampone (Analisa Putusan Perkara NO. 229/Pdt.G/2013/PA.WTP)”
Dengan Dosen Pembimbing : 1. Dr. Kasjim Salenda, SH., M. Th. 2. Rahmiati, M. Pd
Sehubungan dengan hal tersebut, kami mengharapkan kiranya mahasiswa yang bersangkutan dapat diizinkan untuk melakukan penelitian di Pengadilan Watampone .
Demikian permohonan kami, atas kesedian dan kerjasamanya diucapkan terimah kasih.
Wassalamu Alaikum Wr. Wb
A.n. Rektor,
Dekan Fak. Syariah dan Hukum
Prof. Dr. Darussalam, M.Ag Nip: 19621016 199003 1 003
Putusan Verstek Pengadilan Agama Watampone Dalam Perkara Cerai Gugat
Nama Hakim : Drs. H. Ahmad Jakar. M.H
Tempat : Pengadilan Agama Watampone
Hari dan Tanggal :
1. Didalam Pasal 149 R.B.g dan Pasal 125 HIR membahas tentang verstek, akan tetapi proses pembuktian di atur di dalamnya?
Jawaban:
Pasal tersebut tidak mengatur tantang pembuktian, pasal tersebut hanya mengatur tentang ketidak hadiran tergugat.
2. Apa landasan hukum bagi Hakim untuk memakai proses pembuktian dalam perkara cerai gugat yang diputus verstek?
Jawaban:
Setiap perkara yang disidangkan harus ada pembuktian karena merupakan syarat formil. Pasal 125 HIR memang tidak mengatur tentang pembuktian, namun pembuktian diataur dalam pasal 164 HIR tentang pembuktian, surat, saksi, pengakuan, dan sumpah.
a. Dapat menguatkan dalil-dalil gugatan penggugat; b. Mengahasilkan kepastian hukum;
c. Untuk menghidar adanya hal-hal yang tidak terungkap di dalam persidangan 4. Apakah boleh acara verstek dalam perkara cerai gugat tidak memakai
pembuktian? Jawaban:
Tidak boleh karena setiap perkara yang disidangkan harus ada pembuktian. Selain itu dengan kehadiran saksi dalam persidangan cerai gugat, berarti telah memnuhi syarat formil pembuktian.
Putusan Verstek Pengadilan Agama Watampone Dalam Perkara Cerai Gugat
Nama Hakim : Drs. Usman. S.H, M.H
Tempat : Pengadilan Agama Watampone
Hari dan Tanggal :
1. Apa pendapat bapak tentang putusan vestek? Jawaban:
Putusan verstek adalah putusan yang dijatuhkan pengadilan dengan ketidak hadiran tergugat setelah tergugat dipanggil secara patut.
2. Apakah putusan verstek dikenal dalam Islam? Jawaban:
Putusan verstek adalah sebuah hukum acara yang dirumuskan oleh ahli hukum yang diatur dalam R.B.g pasala 146 dan HIR pasal 125, sedangkan hubunganya dalam Islam hanya ada pada aturan pembuktian.
3. Perundang-undangan man yang mengatur verstek? Jawaban:
Jawaban:
Jika terdapat sebuah kesalah dalam sebuah pemanggilan maka pemanggilan tersebut tidak sah, oleh karena itu maka harus dilakukkan pemanggilan ulang. 5. Sengketa apa saja yang dapat diputus secara verstek?
Jawaban:
Semua gugatan dapat dioutus secara verstek selama gugatan memenuhi syarat-syarat vestek.
6. Apakah dalam acara verstek mengharuskan adanya pembuktian? Jawaban:
Pada dasarnya tidak mengaharuskan adanya pembuktian, namun dalam perkara cerai gugat biasanya Majelis Hakim menghadirkan keterangan dua orang saksi sebelum menjatuhkan putusan
7. Dalam perkara perceraiaan. Bagaimana hakim dapat membuktikan kebenaran dalil-dalil gugatan penggugat sementara tergugat tidak hadir?
Jawaban:
Dengan ketidak hadiran tergugat Majelis Hakim dapat menganggap tergugat telah melepaskan hak jawab dan mengakui seluruh dalil gugatan penggugat
8. Bagaiman pertimbangan hakim dalam memutuskan putusan verstek? Jawaban:
c. Gugatan beralasan hukum atau tidak
9. Bagaimana pendapat Hakim tentang hak-hak penggugat dan tergugat jika terjadi putusan vestek?
Jawaban:
Jika penggugat tidak menerima putusan verstek yang di putus oleh Majelis Hakim, maka penggugat dapat melakukan upaya Banding di Pengadilan Tinggi Agama. Sedangkan jika pihak tergugat yang tidak terima dengan putusan verstek tersebut tergugat dapat melakukan upaya hukum verset
10.Apakah verzet dapat memenuhi hak tergugat? Jawabn:
Secara formal selama verset dilakukan dalam tenggang waktu yang dibenarkan menurut undang-undang pemeriksaan perkara dapat kembali dibuka, hal ini dapat dianggap hak tergugat telah terpenuhi. Sedangkan mengenai subtansiyang menyangkut hak-hak tergugat sangat tergantung dari hasil pembuktian.
teruji validitas dan relibialitasnya, maka perlu disusun pedoman wawancara dalam penelitian ini untuk memperoleh data. Adapun pedoman wawancara sebagai berikut :
1. Apa pendapat bapak/ibu tentang putusan verstek? 2. Apakah putusan verstek dikenal dalam hukum islam?
3. Praktek perundang-undangan mana yang mengatur tentang verstek?
4. Didalam pasal 149 R:GB dan pasal 125 HIR menganut tentang verstek, akan tetapi apakah proses pembuktian diatur didalamnya?
5. Apa landasan hukum bagi hakim untuk memakai proses pembuktian dalam putusan verstek?
6. Bagi hakim apa manfaat dari proses pembuktian dalam perkara cerai gugat yang dijatuhkan putusan verstek?
7. Apakah boleh dalam acara verstek perkara cerai gugat tidak memakai pembuktian?
8. Bagaimana pendapat hakim, jika ketidak hadiran tergugat tersebut karena kesalahan dalam proses pemanggilan, seperti adanya keterlambatan dalam pemanggilan?
9. Sengketa apa saja yang dapat diputus secara verstek?
13.Bagaiman pendapat hakim tentang hak-hak penggugat jika terjadi putusan verstek?
Pasangan suami istri antara Ahmad Antili dan Rasmi Tadju. Penulis menempuh pendidikan sekolah dasar di SD Inpres Desa Klabat tahun 1998 dan tamat pada tahun 2004 pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan ke MTs Pondok Karya Pembangunan Manado dan tamat pada tahun 2007. Kemudian pada tahun 2007 penulis melanjutkan sekolah di MA Pondok Karya Pembangunan dan tamat pada tahun 2010.
Kemudian di tahun yang selanjutnya penulis lulus pada jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan pada Fakultas Syariah dan Hukum program strata satu (S1) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.
05 april 1993. Anak ke-Empat dari empat bersaudara dan merupakan buah cinta dari