Radikal Bebas dan Antioksidan
DAFTAR PUSTAKA
Bruneton J. 1993. Pharmaconogy, Medical plants. Lavoiser Publishing, London. Hernani, Rahardjo. 2002. Tanaman berkhasiat antioksidan. Surabaya: Penebar
Surabaya. hal 8-19.
Hostettmann K, Hostettmann M, dan Marston a. 1995. Cara kromatografi Preparatif Penggunaan pada isolasi senyawa Alam. Terjemahan K. Padmawinata, Penerbit ITB Bandung.
Kiso YY, Tohkin M, Hikino H. 1983. Antihepatotoxic principles of Curcuma longa rhizomes. J. Med. Plant. Res. 49:185-187.
Pelletier SW. 1983. The Nature and definition of alkaloid. In Pelletier SW (Ed). 1983. Alcaloids, Chemical and Biological Perspectives. John Wiley an Son, New York.
Quiles JL, Mesa MD, Tortosa CLR, Aguilera CM, Battio M, Gil A, and Tortosa MCR . 2002. Curcuma longa extract suplementation reduces oxidative stress and attenuates aortic fatty streak development in rabbits.
Arteriolscler Thromb Vasc Biol. 22: 1225-1231.
Rao MNA. 1995. Antioxidan properties of curcumin. dalam: Proceeding of the International Symphosium on Curcumin Pharmacochemistry (ISCP) August 29-31, Yogyakarta Indonesia. Curcumin pharmacochemistry. Yogyakarta. Rao CV et al. 1995. Chemoprevention of colon carcinogenesis by dietary
curcumin, a naturally accruing plant phenolic compound. Cancer Res. 55:259-266.
Reddy AC, Lokesh BR. 1994. Studies on the inhibitory effecs of curcumin and ferrous iron. Mol Cell Biochem. 137:1-8.
58 Rubby AJ & Lokesh BR. 1995. Anti-tumor and antioxidant activity of natural
curcumoids. Cancer Lett. 146: 35-37.
Ruggiero RJ, Pharm DM, and Frances EL. 2002. Estrogen: Physiology, Pharmacology, and Formulation for Replacement Therapy. In Journal of Midwifery and Women’s Health. 47(3): 130-138.
Sreejayan N, Rao MNA. 1994. Curcuminoid as poten inhibitor of lipid peroxidation. J. Phar. Pharmacols: 46: 1013 - 1016.
Sreejayan N, Rao MNA. 1997. Nitric oxid scavengeing by curcumoids. J. Phar. Pharmacols 49: 105-107.
Taiz L and Zeiger E. 2002. Secondery Metabolites an Plant in Plant Physiology. 3th. Edition, Sinauer Associated, Sunderland. 286-299.
Tejo A. Sjuthi D dan Darusman LK. 2005. Aktivitas Kemoprevensi Ekstrak Temu Mangga. Makara, Kesehatan. Vol. 9, 7-62.
Tonnesen HH, and Karlsen J. 1985. Hight Performance Liquid Chromatography of Curcumin and related compounds. J. Of Chromatogaph. 259: 367-371. Tonnessen HH, Vries HD, Karlsen J, Henenggouwen GB. 1987. Studies of
curcumin and Curcuminoid IX Investigation of the photobiological activity of curcumin using bacterial indication system. J. Pharm. Sci. 76: 371-373.
Tonnessen HH, Smistad G, Agren T, an Karlsen J. 1992. Studies of curcumin and curcuminoid. XX III: Effects of Curcumin on Liposomal Lipid Peroksidastion.
Unnikrishnan MK, Rao MNA. 1995. Curcumin inhibits nitrogen dioxide induced oxidation of hemoglobin. Mol Cell Biochem. 146:35-37.
Van Hoorn DEC, van Norren K, Boelens PG, Nijveldi RJ, and van Leeuwen PAM, 2003. Biological Activitiess of Flavonoids. Science and Medicine. Vol 9(3). 152-161
Vareed SK. Kakarala M, Ruffin MT, Crowell JA, Normolle DP, Djuric Z and Brener DE, 2008. Phamacokinetics of Curcumin Conjugate Metabolitees in Healthy Human Subjeccts. Cancer Epidemiol Biomarkers Prev 2008; 17 (6):1411-7.
59 KEMAMPUAN CURCUMINOID EKSTRAK TEMU MANGGA DALAM MENGHAMBAT PROSES OKSIDASI LIPOPROTEIN DENSITAS RENDAH
(LDL) OLEH SEL MAKROFAG
(The Ability of Curcuminoid Temu Mango Extract to Inhibit the Oxidation Process of Low Density Lipoprotein by Macrophage Cells)
Abstrak
Oksidasi lipoprotein densitas rendah (LDL) merupakan penyebab awal timbulnya aterosklerosis. Kurkuminoid adalah metabolit dari temu mangga (Curcuma mangga) famili zingiberacea yang diharapkan dapat menghambat proses oksidasi lipoprotein densitas rendah (LDL). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efek kurkuminoid ekstrak temu mangga terhadap makrofag mencit dan beruk (Macaca nemestrina) yang diinduksi dengan LDL teroksidasi. Kolesterol diisolasi dari plasma darah monyet ekor panjang jantan (Macaca fascicularis) yang diberi pakan aterogenik. Makrofag mencit diisolasi dari cairan peritoneum, sedangkan makrofag beruk diisolasi dari monosit sel darah putih. Pembentukan malonaldehida (MDA) sebagai hasil oksidasi LDL ditentukan dengan metode uji
thiobarbituric acid reactive substance (TBARS) menggunakan spektrofotomoter. Hasil pernelitian menunjukkan bahwa, kurkuminoid 8 ppm mampu menghambat oksidasi LDL yang diinkubasikan selama 4 jam dengan makrofag mencit, ditandai dengan penurunan konsentrasi MDA sebesar 13,07% (P<0.01). Sedangkan pada makrofag beruk, penurunan konsentrasi MDA sebesar 24,28% (P<00) terjadi pada masa inkubasi selama 6 jam. Dari data ini dapat disimpulkan bahwa kurkuminoid ekstrak temu mangga mampu menghambat reaksi oksidasi LDL di tingkat seluler baik pada sel makrofag mencit maupun beruk.
Asbtract
The oxidation of low density lipoprotein (LDL) is the original cause of the occurrence of atherosclerosis. The curcuminoids is a metabolite of temu mango (Curcuma mango) from zingiberacea family is expected to inhibit oxidation of low density lipoprotein (LDL). This study aimed to examine the effects of curcuminoids of temu mango extract against macrophage mice and monkey (Macaca nemestrina) that were induced by oxidized LDL. Cholesterol was harvested and isolated from five adult male Macaca fascicularis fed an aterogenic diet for 3 months. Analyses were done by measuring the formation of thiobarbituric acid reactive substance (TBARS) as malonaldehyde (MDA). LDL oxidation by mice macrophages incubated for four hours were inhibited by curcuminoid extract at concentration of eight ppm. There was a decrease of 13.068% (P<0.01) in the concentration of MDA compared to the control without curcuminoid. Inhibiton of LDL oxidation at macrophages of M. nemestrina were highest by curcuminoid at eight ppm for four hours and six hours incubation. There was 24.282% inhibiton (P<001). These data suggest that curcuminoid of temu mango extract was able to inhibit LDL oxidation at the cellular level, to macrophages of mice and Macaca nemestra
60 PENDAHULUAN
Penyakit jantung sampai saat ini merupakan penyakit yang banyak diderita dan menyebabkan angka kematian yang tinggi di dunia, termasuk Indonesia. Salah satu penyakit yang sangat ditakuti orang di dunia adalah Penyakit Jantung Koroner (PJK), karena gejalanya dapat muncul secara tiba-tiba dan berakibat fatal. Data hasil survei yang dilakukan oleh Wuryastuti (2000) dan Priyana (2004) terhadap Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), menunjukkan peningkatan kejadian PJK untuk setiap tahunnya. Persentase yang terjadi pada tahun 1992 sebesar 9,9%; tahun 1995 sebesar 19% dan tahun 2001 sebesar 26,4%. Penyakit ini termasuk sering ditemukan pada orang-orang yang mempunyai kebiasaan makan yang banyak mengandung lipid atau kolesterol. Kenaikan konsentrasi kolesterol dalam darah tidak dapat disanggah lagi merupakan faktor risiko terjadinya PJK.
Aterosklerosis merupakan penyebab utama kematian PJK. Lesi aterosklerosis dapat diisolasi dari aorta, arteri koronaria, arteri otak, dan arteri ilio femoral. Dalam proses aterosklerosis, makrofag berperan penting dalam terbentuknya sel busa dan tertimbun di dalam lapisan tunika intima maupun tunika media. Sel-sel busa lalu terakumulasi kemudian berkembang menjadi ateroma. Esterbauer (1993) menyatakan, bahwa lesi aterosklerosis dapat berkembang secara bertahap melalui reaksi selular kompleks yang melibatkan stres oksidatif ikut sebagai faktor penting pada tahap perkembangan lesi.
Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan yang didukung oleh banyak penelitian, mengungkapkan bahwa penyebab utama dan mekanisme terbentuknya lesi aterosklerosis berhubungan erat dengan peradangan. Menurut Hansson (2009), selama peradangan, pembuluh darah akan mensekresikan sitokina yang akan merangsang peningkatan permeabilitas permukaan pembuluh darah. Peningkatan permeabilitas ini menyebabkan monosit melekat pada permukaan pembuluh darah, bermigrasi ke intima, dan akhirnya berubah menjadi makrofag. Selama peradangan sel endotel juga akan mensekresikan limfosit sel T dan akan masuk ke intima. Selanjutnya interaksi makrofag dan sel T menyebabkan makrofag mensekresikan sitokina radang, oksigen reaktif dan spesies nitrogen. Semua ini akan menyebabkan LDL teroksidasi dan kerusakan sel,
61 diekspresikannya faktor jaringan (trombogenisitas), protease penyebab terjadinya proliferasi sel otot. Sel busa yang terbentuk akan terakumulasi membentuk plak aterosklerosis sebagai lesi awal yang berisi kumpulan sel-sel imun (Robertson & Hansson 2006; Hansson 2009).
Perkembengan aterosklerosis pada dinding pembuluh darah terutama disebabkan oleh endositosis kolesterol plasma yang berlebihan. Sel-sel dinding pembuluh arterti yaitu: sel endotel, sel otot polos, dan makrofag dapat mengoksidasi LDL secara in vitro dengan kehadiran sejumlah katalitik ion metal transisi. Perkembangan aterosklerosis dapat juga dimodulasi karena berinteraksinya sel-sel arteri yang dimediasi oleh berbagai molekul adhesi, sitokina termasuk faktor pertumbuhan. Argmann et al. (2001) mengemukakan bahwa faktor pertumbuhan akan mengatur protein yang terlibat dalam pengambilan lipoprotein, termasuk menghambat reseptor skavenger dan mencegah terjadinya ekspresi gen.
Makrofag adalah sel hasil diferensiasi dari monosit dan sel ini mempunyai dua reseptor khusus untuk menangkap kolesterol, yaitu reseptor LDL dan reseptor skavenger yang mengikat LDL termodifikasi. Partikel LDL yang termodifikasi tidak akan dikenali oleh reseptor LDL sehingga akan menjadi salah satu ligan reseptor LDL termodifikasi. Menurut Franke et al. (2006), makrofag adalah sel imun utama di dalam jaringan dan gangguan hebat terhadap makrofag dapat menimbulkan respon imun. Adanya kerusakan jaringan akan merangsang makrofag teraktivasi yang telah mengekspresikan mediator radang sehingga mempengaruhi respon peradangan, baik lokal maupun sistemik.
Untuk mencegah proses peradangan yang terjadi pada pembuluh darah, maka diperlukan suatu pengobatan alternatif/tradisional, dimana bahan bakunya mudah didiperoleh, harganya murah dan penggunaannya mudah dimengerti. Penggunaan obat alternatif saat ini semakin memasyarakat dan telah banyak dimanfaatkan. Temu mangga merupakan salah satu jenis tanaman temu-temuan yang sampai saat belum dimanfaatkan sebagai obat. Kandungan zat aktif yang terdapat di dalam temu mangga antara lain kurkuminoid dan turunan kurkuminoid.
62 Gugus fenolik yang terdapat pada kurkuminoid diduga berfungsi sebagai antibakteri, dan gugus fenolik tersebut menjadi dasar bahwa kurkuminoid (kurkumin) mempunyai kemampuan dalam mengeliminasi derivat radikal oksigen bebas yang terdapat pada medium dan bertanggung jawab terhadap peroksidasi sel-sel lipid. Gugus fenolik ini adalah esensial untuk skavenger superoksid dan keberadaan gugus orto metoksi dari molekul fenolik akan meningkatkan aktivitas kurkumin (Rao 1995; Sreejayan et al. 1997).
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji mekanisme kerja kurkuminoid ekstrak temu mangga dalam menghambat proses oksidasi LDL pada sel makrofag peritoneum mencit, dan makrofag sel darah putih beruk (Macaca nemestrina). Selain itu, untuk memperoleh dosis efektif kurkuminoid ekstrak dalam pencegahan proses awal patogenesis aterosklerosis. Diharapkan, dari data yang diperoleh dapat dibuat suatu rekomendasi tentang manfaat kurkuminoid temu mangga yang dapat digunakan sebagai obat alternatif untuk pencegahan aterosklerosis sejak dini.
BAHAN DAN METODE