• Tidak ada hasil yang ditemukan

AAK. 1990. Budidaya Tanaman Padi. Yogyakarta: Kanisius. 172 halaman. [Balittanah] Balai Penelitian Tanah. 2003. Petunjuk teknisi kalibrasi Uji P dan K

tanah.

Bennet WF. 1996. Nutrient Deficiencies and Toxicities on Crop Plants. USA: APS Press. St. Paul Minnessota.

Corey RB. 1987. Soil test procedures: Correlation. p. 15-22. In J.R. Brown (ed) Soil testing: Sampling, correlation, and interpretation. SSSA Spec. Publ. 21. SSSA, Madison, WI.

Gomez KA, Gomes AA. 1995. Prosedurstatistik untuk penelitian pertanaian, edisi kedua. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Hakim L. Djokosantoso.1980. Pengelolaan Tanah dan Tanaman Pada Tanah Podsolik Studi Kasus Di Daerah Lampung. Pusat Penelitian Tanah, Badan Penelitiaan dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian. Hardjowigeno S. 2003. Ilmu Tanah. Cetakan ke- 5. Akademika Presindo. Jakarta. Leiwakabessy F dan A. Sutandi. 1995. Pupuk dan Pemupukan. Jurusan Tanah

Fakultas Pertanian IPB. Bogor.

Leiwakabessy FM. 1998. Kesuburan Tanah. Pertanian IPB. Bogor.

Melsted SW and TR Peck. 1973. The Principles of Soil Tesing. In L. M. Walsh and J. D Beaton. Eds. Soil Testing and Plant Analysis. Soil Sci Soc of Am. Inc Madison,. Wisc. USA.

Mengel K, Kirkby EA. 2001. Principles of plant nutrition. 5th ed. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers.

Millar CE. 1959. Soil Fertility. John Willey & Sons. New York. Chapman and Hall Ltd. London.

Nursyamsi D, Nanan SM, Sutisni, Widjaja-Adhi IPG. 1996. Erapan P dan kebutuhan pupuk P untuk tanaman pangan pada tanah-tanah masam. J. Tanah Trop. Tahun 11. 2:55-61.

Nursyamsi D. 2002. Studi korelasi uji tanah hara K tanah Oxisols dan Incepticols untuk jagung (Zea Mays). J. Tanah Trop. 15:59-68.

Nursyamsi D. 2006. Kebutuhan hara kalium tanaman kedelai di tanah Ultisol. J. Ilmu Tanah dan Lingkungan. 6(2):71-81.

Osen SR, E Sommers. 1982. Phosphorus. In Page L. A., Miller R. H., and Keeney A. Chemical and Microbiological Properties. America Soc. Agro. Part 2. Pusat Penelitian Tanah, 1983. Kriteria Penilaian Data Sifat Analisis Kimia Tanah. Bogor: Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian.

Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 2000. Atlas Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia, skala 1 : 1.000.000. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Badan Litbang Pertanian.

Salisbury FB and CW Ross. 1978. Plant Physiology. Wadsworth Publ. Co, Inc. Belmont. California.

13 Samadi B dan Cahyono. 1996. Intensifikasi Budidaya Bawang Merah. Kanisius.

Yogyakarta.

Sastosiswojo S. 1996. Sistem Pengendalian Hama Terpadu dalam Menunjang Agribisnis Sayuran. Prosiding Seminar Ilmiah Nasional Komoditas Sayuran. Lembang, 24 Oktober 1995. Hal 69-82.

Setyorini D. 2000. Analisis Data “Studi Korelasi Hara P dan K” untuk Tanaman Padi Sawah dan Jagung. Kumpulan Materi Praktek Proyek Pembinaan Kelembagaan Penelitian Pertanian Bekerjasama dengan Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor.

Siemonsma JS And K Pileuk. 1994.Capsicum L. In: J.M. Poulos (Ed). Plant Resources of South-East Asia 8 Vegetable. Prosea Faoudation. Bogor. P 136-140.

Soepardi G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Bogor (ID) : IPB Press.

Subagyo H, Suharta N, Siswanto AB. 2004. Tanah-tanah pertanian di Indonesia dalam Adimihardja A. Et al (Eds) Sumber daya lahan Indonesia dan pengelolaannya. Puslitbangnak.

Suwandi R. Rosliani dan T. A. Soetiarso. Perbaikan teknologi budidaya bawang merah di dataran medium. J. Hort 7(1): 541-549.

Widayati RD. 2003. Pemilihan Metode Ekstraksi Phosphorus Inceptisol dan Ultisol untuk Tanaman Kedelai. Skripsi. Fakultas Matematika dan IlmuPengetahuan Alam. Institut Pertanian Bogor.

Widjaja-Adhi, IPG, dan M. Sudjadi, M. 1987. Status dan kelakuan fosfat tanah-tanah di Indonesia. Lokakarya Nasional Penggunaan Pupuk Fosfat. Cipanas.

Widodo. 2004. Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Padi Gogo CV. IR-64 pada Pemberian Batu Fosfat dan Kedalaman Air Irigasi di Tanah Gambut. Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Indonesia 6 (1) : 43-49.

15

17 Lampiran 1 Metode-metode ekstraksi P Tanah

1. Metode Bray 1 ( Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah IPB)

Dasar penetapan

Fosfat dalam suasana asam akan diikat sebagai senyawa Fe, Al-fosfat yang ukar larut. NH4F yang terkandung dalam pengekstrak Bray akan membentuk senyawa rangkai dengan Fe dan Al dan membebaskan ion PO43-. Pengekstrak ini biasanya digunakan pada tanah dengan pH <5,5.

Peralatan  Neraca analitik  Dispenser 25 ml  Dispenser 10 ml  Tabung reaksi  Pipet 2 ml  Kertas saring  Botol kocok 50 ml  Mesin pengocok  Spektrofotometer Pereaksi

 HCl 5 N. Sebanyak 4,16 ml HCl p.a. pekat (37 %) dimasukkan dalam labu ukur 1.000 ml yang telah berisi sekitar 400 ml air bebas ion, kocok dan biarkan menjadi dingin. Tambahkan lagi air bebas ion hingga 1.000 ml.

 Pengekstrak Bray dan Kurts I (larutan 0,025 N HCl + NH4F 0,03 N). Timbang 1,11 g hablur NH4F, dilarutkan dengan lebih kurang 600 ml air bebas ion, ditambahkan 5 ml HCl 5 N, -kemudian diencerkan sampai 1 liter.

 Pereaksi P pekat. Larutkan 12 g (NH4)6 Mo7O24.4H2O dengan 100 ml air bebas ion dalam labu ukur 1 liter. Tambahkan 0,277 g K (SbO) C4H4O6 0,5 H2O dan secara perlahan 140 ml H2SO4 pekat. Jadikan 1 liter dengan air bebas ion.

 Pereaksi pewarna P. Campurkan 1,06 g asam askorbat dan 100 ml pereaksi P pekat, kemudian dijadikan 1 liter dengan air bebas ion. Pereaksi P ini harus selalu dibuat baru.

 Standar induk 1.000 ppm PO4 (titrisol). Pindahkan secara kuantitatif larutan standar induk PO4 titrisol di dalam ampul ke dalam labu ukur 1 liter. Impitkan dengan air bebas ion sampai dengan tanda garis, kocok.

18

 Standar induk 100 ppm PO4. Pipet 10 ml larutan standar induk 1.000 ppm PO4 ke dalam labu 100 ml. Impitkan dengan air bebas ion sampai dengan tanda garis lalu kocok.

 Deret standar PO4 (0-20 ppm). Pipet berturut-turut 0; 2; 4; 8; 12; 16; dan 20 ml larutan standar 100 ppm PO4 ke dalam labu ukur 100 ml, diencerkan dengan pengekstrak Olsen hingga 100 ml.

Cara kerja

 Timbang 2.50 g contoh tanah <2 mm, ditambah pengekstrak Bray dan Kurt I sebanyak 25 ml, kemudian dikocok selama 15 menit. Saring dan bila larutan keruh dikembalikan ke atas saringan semula (proses penyaringan maksimum 5 menit). Dipipet 2 ml ekstrak jernih ke dalam tabung reaksi. Contoh dan deret standar masing-masing ditambah pereaksi pewarna fosfat sebanyak 10 ml, dikocok dan dibiarkan 30 menit. Diukur absorbansinya dengan spektrofotometer panjang gelombang 660 nm.

Perhitungan

 Kadar P2O5 tersedia (ppm) = ppm kurva x ml ekstrak/1.000 ml x 1.000g/g contoh x fp x 142/190 x fk = ppm kurva x 25/1.000 x 1.000/2,5 x fp x 142/190 x fk = ppm kurva x 10 x fp x 142/190 x fk

Keterangan:

ppm kurva = kadar contoh yang didapat dari kurva hubungan antara kadar deret standar dengan pembacaannya setelah dikoreksi blanko. fp= faktor pengenceran (bila ada) 142/190 = faktor konversi bentuk PO4 menjadi P2O5

fk= faktor koreksi kadar air = 100/(100 – % kadar air)

2. Metode Bray 2 ( Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah IPB)

Dasar penetapan

Fosfat dalam suasana asam akan diikat sebagai senyawa Fe, Al-fosfat yang ukar larut. NH4F yang terkandung dalam pengekstrak Bray akan membentuk senyawa rangkai dengan Fe dan Al dan membebaskan ion PO43-. Pengekstrak ini biasanya digunakan pada tanah dengan pH <5,5.

Peralatan  Neraca analitik  Dispenser 25 ml  Dispenser 10 ml  Tabung reaksi  Pipet 2 ml  Kertas saring  Botol kocok 50 ml

19

 Mesin pengocok

 Spektrofotometer

Pereaksi

 HCl 5 N. Sebanyak 16,64 ml HCl p.a. pekat (37 %) dimasukkan dalam labu ukur 1.000 ml yang telah berisi sekitar 400 ml air bebas ion, kocok dan biarkan menjadi dingin. Tambahkan lagi air bebas ion hingga 1.000 ml.

 Pengekstrak Bray dan Kurts I (larutan 0,025 N HCl + NH4F 0,03 N). Timbang 1,11 g hablur NH4F, dilarutkan dengan lebih kurang 600 ml air bebas ion, ditambahkan 5 ml HCl 5 N, -kemudian diencerkan sampai 1 liter.

 Pereaksi P pekat. Larutkan 12 g (NH4)6 Mo7O24.4H2O dengan 100 ml air bebas ion dalam labu ukur 1 liter. Tambahkan 0,277 g K (SbO) C4H4O6 0,5 H2O dan secara perlahan 140 ml H2SO4 pekat. Jadikan 1 liter dengan air bebas ion.

 Pereaksi pewarna P. Campurkan 1,06 g asam askorbat dan 100 ml pereaksi P pekat, kemudian dijadikan 1 liter dengan air bebas ion. Pereaksi P ini harus selalu dibuat baru.

 Standar induk 1.000 ppm PO4 (titrisol). Pindahkan secara kuantitatif larutan standar induk PO4 titrisol di dalam ampul ke dalam labu ukur 1 liter. Impitkan dengan air bebas ion sampai dengan tanda garis, kocok.

 Standar induk 100 ppm PO4. Pipet 10 ml larutan standar induk 1.000 ppm PO4 ke dalam labu 100 ml. Impitkan dengan air bebas ion sampai dengan tanda garis lalu kocok.

 Deret standar PO4 (0-20 ppm). Pipet berturut-turut 0; 2; 4; 8; 12; 16; dan 20 ml larutan standar 100 ppm PO4 ke dalam labu ukur 100 ml, diencerkan dengan pengekstrak Olsen hingga 100 ml.

Cara kerja

 Timbang 2.50 g contoh tanah <2 mm, ditambah pengekstrak Bray dan Kurt I sebanyak 25 ml, kemudian dikocok selama 15 menit. Saring dan bila larutan keruh dikembalikan ke atas saringan semula (proses penyaringan maksimum 5 menit). Dipipet 2 ml ekstrak jernih ke dalam tabung reaksi. Contoh dan deret standar masing-masing ditambah pereaksi pewarna fosfat sebanyak 10 ml, dikocok dan dibiarkan 30 menit. Diukur absorbansinya dengan spektrofotometer panjang gelombang 660 nm.

20

Perhitungan

 Kadar P2O5 tersedia (ppm) = ppm kurva x ml ekstrak/1.000 ml x 1.000g/g contoh x fp x 142/190 x fk = ppm kurva x 25/1.000 x 1.000/2,5 x fp x 142/190 x fk = ppm kurva x 10 x fp x 142/190 x fk

Keterangan:

ppm kurva = kadar contoh yang didapat dari kurva hubungan antara kadar deret standar dengan pembacaannya setelah dikoreksi blanko. fp= faktor pengenceran (bila ada) 142/190 = faktor konversi bentuk PO4 menjadi P2O5

fk= faktor koreksi kadar air = 100/(100 – % kadar air)

3. Metode Mehlich 1 ( Laboratory Guide For Conducting Soil Test and Plant Analysis, 2001)

Prinsip dari metode ini. Metode ini secara umum digunkan untuk menentukan nilai P tanah pada tanah berpsasir yang memiliki nilai KTK kurang dari 10 me/100 gr, memiliki reaksi tanah yang masam( Ph kurang dari 6,5) dan kandungan bahan organik relatif rendah (kurang dari 5%). Metode ini tidak cocok untuk tanah alkalin. Metode ini pertama kali dipublikasikan oleh Mehlich (1953a) kemudian oleh Nelson (1953) sebagai metode North Carolina Double Acid. Metode tersebut kemudian dinamakan Mehlich 1, cocok untuk tanah-tanah disemenanjung timur Amerika Serikat. Metode ini sekarang banyak digunakan oleh sejumlah laboratorium tanah milik pemerintah di Amerika Serikat ( Alabama, Delaware, Florida, Georgia, Maryland, New Jersey, South Carolina, dan Virginia) (Anonim, 1995; Jones, 1973; 1998a). Metode ini dideskripsikan oleh Donohue (1988), Anonim (1983b), dan Wolf and Beegle (1995). Wolf dan Baker (1989) membandingkan hasil dari 4 metode pengukuran P – Olsen, Bray P1, dan Mehlich 1 dan 2

Pereaksi

0,05 N HCL in 0,025 N H2SO4

 Pipet 4ml HCL dan 0,7 ml H2SO4 kedalam 1000ml pipet volumetrik dan enecerkan dengan air

Prosedur Ekstraksi

 Timbangg 5 gr tanah kering udara saringan 2mm kedalm labu ektraksi 50ml.. Tambahkan 25ml laruan ekstraksi dan kocok 5menit. Pada mesin kocok bolak balik dengan goyangan 180 /menit. Saring dan simpan ekstraktan untuk penentapan P

4. Metode Morgan Wolf (Laboratory Guide For Conducting Soil Test and Plant Analysis, 2001

Dasar penetapan

Pengekstrak Morgan (Natrium asetat, pH 4,8) digunakan untuk menentukan ketersediaan unsur hara dalam tanah. pH 4,8 dimaksudkan untuk mendekati pH tanah yang berada sekitar perakaran tanaman. Kation-kation dan anion-anion dapat larut dengan baik dalam pengekstrak ini. Penambahan DTPA ke dalam pengekstrak Morgan meningkatkan kemampuan mengekstrak logam-logam. Pengekstrak Morgan Wolf ini digunakan untuk menetapkan ketersediaan

unsur-21 unsur makro NH4+, NO3-, P, K, Ca, Mg, SO42- serta unsur-unsur mikro Fe, Mn, Cu, Zn, dan B dari tanah. Pengekstrak ini cocok untuk tanah ber-pH masam sampai hampir netral. Peralatan  Neraca analitik  Tabung reaksi  Dispenser 25 ml  Kertas saring

 Botol kocok plastik 100 ml

 Pipet volume 1, 2 dan 5 ml

 Pipet ukur 10 ml

 Mesin kocok bolak balik 180 goyangan menit-1

 Flamefotometer

 AAS

 Spektrofotometer

Pereaksi

 Pengekstrak Morgan-Wolf

 Timbang 100 g Na-asetat (NaC2H3O2.3H2O) dalam labu ukur 1000 ml ditambah 30 ml asam asetat glasial dan 0,05 g DTPA. Diencerkan dengan air bebas ion sampai 950 ml. Atur pH sampai 4,8 dengan penambahan asam asetat. Setelah pH nya tercapai impitkan sampai tanda garis 1000 ml dan dikocok.

Cara kerja

Seperti pembuatan pengekstrak Morgan-Wolf dengan menggunakan bahan empat kali, kecuali pengenceran tetap hingga 1 liter.

 Pereaksi P pekat. Larutkan 12 g (NH4)6 Mo7O24.4H2O dalam 100 ml air. Tambahkan 140 ml H2SO4 pekat dan 0,227 g K (SbO)C4H4O6.0,5 H2O. Jadikan 1 l dengan air bebas ion.

 Pereaksi pewarna P pekat. Timbang 0,53 g asam ascorbat ke dalam labu ukur 100 ml, ditambah 50 ml pereaksi P pekat dan diencerkan dengan air bebas ion sampai tanda garis.

 Standar pokok P 500 ppm. Larutkan 2,2 g KH2PO4 p.a. (kering 40oC) dengan air bebas ion dalam labu ukur 1000 ml, ditambah beberapa tetes kloroform, kemudian diimpitkan sampai tanda garis. Dapat pula digunakan standar pokok PO43- dari titrisol.

 Standar P 50 ppm. Pipet 10 ml standar pokok 500 ppm P ke dalam labu ukur 100 ml. Tambahkan 25 ml pengekstrak Morgan-Wolf pekat empat kali dan kemudian diimpitkan dengan air bebas ion.

 Standar P 1 ppm. Pipet 2 ml standar 50 ppm P ke dalam labu ukur 100 ml dan diencerkan dengan pengekstrak Morgan-Wolf hingga tepat 100 ml.

22

 Deret standar P (0-1 ppm). Pipet berturut turut 0; 1; 2; 4; 6; 8 dan 10 ml standar 1 ppm P ke dalam tabung reaksi. Tambahkan pengekstrak Morgan-Wolf sehingga volume masing-masing menjadi 10 ml. Kocok selama 5menit. Bila menggunakan standar PO43-, deret standar dibuat dengan kepekatan 0 – 4 ppm.

5. Metode Truog ( Balai Penelitian Tanah)

Peralatan:  Neraca analitik  Botol kocok  Mesin pengocok  Spektofotometer  Tabung reaksi  Labu ukur Pereaksi:  H2SO4  Ammonium sulfat

 Pewarna biru molibdat (pekat)

 Air bebas ion -Kertas saring

Cara kerja:

 Pengekstak Truog (0,02 N H2SO4 dan 0,3% ammonium sulfat), dipipet 4 ml H2SO4 5N dan 3 g ammonium sulfat ke dalam labu ukur 1 liter, kemudian ditambah air bebas ion hingga tanda tera.

 Ditimbang 0,5 g contoh tanah dan dimasukan ke dalam botol kocok, selanjutnya ditambah 50 ml pengekstrak Truog (1:100) dan kocok 30 menit.

 Kemudian disaring hingga memperoleh cairan jernih.

 Cairan jernih dipipet 5 ml dan masukan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan 1ml larutan biru molibdat sehingga timbul warna biru.

 Setelak 30 menit selanjutnya diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 693 nm.

 Deret standar P dan K: 0; 0,5; 1; 2; 3; 4; dan 5 ppm, dipipet sama seperti contoh tanah.

23 Lampiran 2 Analisis sidik ragam polinominal ortogonal dari jumlah daun, tinggi

tanaman, jumlah tunas, bobot kering tanaman, dan kelima metode P Hasil Sidik Ragam Parameter Jumlah Daun

Sumber keragaman db JK JKT P>F F Value

Pospor (P) 4 4,36960000 1,09240000 0,4 0,8028 Galat 20 53,9480000 2,6974000

Total 24 58,3176000

Hasil Sidik Ragam Parameter Tinggi Tanaman

Sumber keragaman db JK JKT P>F F Value

Pospor(P) 4 21,1736000 5,2934000 0,2149 1,59 Galat 20 66,4480000 3,3224000

Total 24 87,6216000

Hasil Sidik Ragam Parameter Jumlah Tunas

Sumber keragaman db JK JKT P>F F Value

Pospor (P) 4 6,10640000 1,52660000 0,0784 2,46 Galat 20 12,40000000 0,62000000

Total 24 18,50640000

Hasil Sidik Ragam Bobot Kering Tanaman

Sumber keragaman db JK JKT P>F F Value

Pospor (P) 4 6,10640000 1,52660000 0,0784 2,46 Galat 20 12,40000000 0,62000000

Total 24 18,50640000

Hasil Sidik Ragam Serapan Hara Tanaman dengan metode Bray 1

Sumber

keragaman db JK KT F hitung Peluang

Regresi 1 0.00091433 0.00091433 21.18 0,002 Galat 7 0.00030225 0.00004318

Total 8 0.00121658

Hasil Sidik Ragam Serapan Hara Tanaman dengan metode Bray 2 Sumber

keragaman db JK KT F hitung Peluang

Regresi 1 0.00056275 0.00056275 9.59 0.013 Galat 9 0.00052796 0.00005866

Total 10 0.00109070

Hasil Sidik Ragam Serapan Hara Tanaman dengan metode Mehlich 1 Sumber

keragaman db JK KT F hitung Peluang

Regresi 1 0.00035026 0.00035026 9.74 0.012 Galat 9 0.00032351 0.00003595

Total 10 0.00067378

Hasil Sidik Ragam Serapan Hara Tanaman dengan metode Morgan Wolf Sumber

keragaman db JK KT F hitung Peluang

Regresi 1 0.00091278 0.00091278 17.13 0.001 Galat 12 0.00063956 0.00005330

Total 13 0.00155234

Hasil Sidik Ragam Serapan Hara Tanaman dengan metode Truog Sumber

keragaman db JK KT F hitung Peluang

Regresi 1 0.00061387 0.00061387 9.08 0.015 Galat 9 0.00060850 0.00006761

24

Dokumen terkait