Banasiak KJ, Xia Y, Haddad GG. 2000. Mechanisms Underlying hypoxia-induced neuronal apoptosis. Progress in Neurobiology, 62: 215-249. Hlm: 217.
Basso N, Terragno, Norberto A. 2001. History About The Discovery of The Renin-Angiotensin System. Hypertension, 38(6): 1246-1249. Hlm: 1246-1248.
Bellah JR. 2005. Diaphragmatic Hernias. Standards of Care Emergency and Critical Care Medicine, 7.5: 1-7. Hlm: 3.
Catcoot EJ, Smithcors JF. 1966. Progress in Feline Practice (Including Caged Birds and Exotic Animals). Amerika Serikat: American Veterinarian Publication, Inc. Hlm: 28-314.
Chauhan RS. 2007. Illustrated Veterinary Pathology (General & Systemic Pathology). Lucknow: International Book Distributing Co. Hlm: 50-52.
Chang CC, Kuo JY, Chan WL, Chen KK, Chang LS. Prevalence and Clinical Characteristics of Simple Renal Cyst. Journal of the Chinese Medical Association, 70(11): 486-491. Hlm: 490.
39 Cheville NF. 2006. Introduction to Veterinary Pathology, Third Edition. Amerika
Serikat: Blackwell Publishing. Hlm: 19-22.
Ettinger SJ. 1975. Textbook of Veterinary Internal Medicine (Diseases of The Dog and Cat), Volume 1. Philadelphia: W. B. Saunders Company. Hlm: 641-645.
Etzel RA, Montana E, Sorenson WG, Kullman GJ, Allan TM, Dearborn DG.
1998. Acute Pulmonary Hemorrhage in Infants Associated With Exposure to Stachbotrys atra and Other Fungi. Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine 152: 757-762. Hlm: 757.
Fossum TW, Tom, Chair JR. 2005. Diaphragmatic Hernia: Surgical Treatment.
IVIS: In 50th Congresso Nazionale Multisala SCIVAC. Hlm: 1-2.
Frith CH, Ward JM, Chandra M, Losco PE. 2000. Non-ploriferative Lesions of the Hematopoietic System in Rats. Guides for Toxicologic Pathology: 1-21.
Hlm: 2.
Guyton AC, Hall JE. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed ke-9. Setiawan I, Tengadi KA, Santoso A, penerjemah; Setiawan I, editor. Jakarta: EGC.
Terjemahan dari: Textbook of Medical Phisiology. Hlm: 463-468.
Hard GC, Alden CL, Bruner RH, Frith CH, Lewis RM, Owen RA, Krig K, Durchfeld-Meyer B. 1999. Non-ploriferative Lesions of the Kidney and Lower Urinary Tracts in Rats. Guides for Toxicologic Pathology: 1-32. Hlm: 5.
Humason GL. 1972. Animal Tissue Technique. New York: W.H. Freeman and Company. Hlm: 3-154.
Jubb KVF, Kennedy PC, Palmer NC. 2006. Pathology of Domestic Animals, Fifth Edition. Philadelphia: Elsevier Saunders. Hlm: 2:92-93.
Kealy JK, McAllister H, Graham JP. 2011. Diagnostic Radiology and Ultrasonography of The Dog and Cat, Fifth Edition. St. Louis: Saunders. Hlm:
254.
King LG. 2004. Textbook of Respiratory Disease in Dogs and Cats. Amerika Serikat: Elsivier Saunders. Hlm: 625-631.
Klabunde RE. 2007. Cardiovasculary physiology concepts. [terhubung berkala].
http://www.cvphysiology.com/Blood%20Pressure/BP001.htm. [20 Januari 2013]
Lipton, P. 1999. Ischemic Cell Death in Brain Neurons. Physiological Reviews, 79(4): 1431-1566. Hlm: 1452-1460.
Mărgăritescu O, Mogoantă L, Pirici I, Pirici D, Cernea D, Mărgăritescu, C. 2009.
Histopatholigical Changes in Acute Ischemic Stroke. Romanian Journal of Morphology and Embryology, 50(3): 327-339. Hlm: 335
McGavin MD, Zachary JF. 2007. Pathologic Basis of Veterinary Disease. St.
Louis: Mosby Elsevier. Hlm: 351-1003
Muttaqin A. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika. Hlm: 258.
40
PawPeds. 2012. Breeding A Litter. [terhubung berkala].
http://pawpeds.com/pawacademy/beginnerscorner/breedingalitter/defects.html.
[4 Juni 2012].
petMD. 2012. Abnormal Diaphragm Opening in Cats. [terhubung berkala]
http://www.petmd.com/cat/conditions/cardiovascular/c_ct_diaphragmatic_hern ia#.T4K2g-CPVXI. [8 April 2012].
Rao DG. 2010. A Text Book on Systemic Pathology of Domestic Animals.
Lucknow: ibdc publisher. Hlm: 205-425.
Song H, Peng K, Li S, Wang Y, Wei L, Tang L. 2012. Morphological Characterization of The Immune Organs in Ostrich Chicks. Turkish Journal of Veterinary and Animal Sciences. 36(2): 89-100. Hlm: 98.
Sorden SD, Watts TC. 1996. Spontaneous Cardiomiopathy and Exophtalmos in Cotton Rats (Sigmodon hispidus), Veterinary Pathology 33: 375-382. Hlm:
381-382.
Tighe JR. 1977. The Pathology of Renal Ischaemia. Journal of Clinical Pathology, 11: 114-124. Hlm: 118.
Vegad JL. 2008. A Textbook of Veterinary General Pathology. Lucknow:
International Book Distributing Co. Hlm: 223.
Voges AK, Bertrand S, Hill RC, Neuwirth L, Schaer M. 1997. True Diaphragmatic Hernia In A Cat. Veterinary Radiology & Ultrasound, 38: 116-119. Hlm: 118.
Ways, DW. 2006. Congenital Diaphragmatic Hernia and Neonatal Lung Lesions.
Surgical Clinics of North America, 86: 329-352. Hlm: 330.
41 Lampiran 1
Teknik nekropsi hewan kecil
1. Hewan yang telah mati, setelah keadaan luarnya sudah diamati lubang kumlah kemudian diletakkan dengan bagian dorsal menempel di atas meja nekropsi. Lipatan ketiak disayat hingga persendian di axilla dan scapula terlepas. Lipatan paha disayat hingga os femur pada persendian coxo-femoral terlepas dari acetabulumnya.
2. Keadaan subkutis diperiksa dengan menguakkan jaringan ikat longgar subkutis ke arah kanan dan kiri tubuh. Keadaan yang diamati antara lain kelembaban, perlemakan, keadaan limfoglandula perifer (lgl.
Submandibularis, lgl. Prescapularis, lgl. Axillaris, lgl. Poplitea), pada perubahan warna dan ukuran dan adanya eksudasi.
3. Rongga perut dan rongga dada dibuka dengan cara otot perut digunting pada linea alba kemudian pada batas costae ke arah kanan dan kiri. Pemeriksaan tekanan negatif rongga dada dilakukan dengan cara melubangi otot intercostalis dengan tusukan pisau. Diafragma digunting di dekat perlekatannya dengan costae. Costae dipotong pada perbatasan tulang rawan dan tulang keras. Setelah pembukaan rongga abdomen maka diperiksa bagian situs viserum untuk melihat adanya cairan, perubahan posisi organ, valvulus, perlekatan organ antara usus dengan usus atau usus dengan peritoneum.
Selain itu periksa juga keadaan situs viserum rongga dada apakah terdapat akumulasi cairan, perubahan posisi organ, hernia diafragmatika, perlekatan organ antara pleura costalis atau pleura pulmonum dengan perikardium. Jika ada cairan dan jumlahnya cukup banyak diukur.
4. Alat tubuh rongga dada dikeluarkan dengan menyayat otot yang bertaut pada os Mandibula hingga lidah dapat ditarik ke arah ventral. Lidah bersama dengan esofagus dan trachea diangkat lalu sayat alat penggantung sehingga paru-paru dan jantung bisa dikeluarkan dari rongga dada. Perbatasan esofagus dan lambung dipotong setelah sebelumnya dilakukan ikatan ganda. Jantung dan pembuluh darah (aorta serta a. pulmonum) dipisahkan dari pertautannya dengan paru-paru. Laring, trakhea, dan bronchus diperiksa dengan menggunting bagian tersebut pada bagian dimana cincin tulang rawan terbuka lalu pengguntingannya dilanjutkan hingga cabang-cabang bronkhus.
Pengamatan PA dilakukan terhadap isi lumen dan keadaan mukosa.
5. Paru-paru diperiksa dengan menginspeksi adanya perubahan warna, penggembungan, pengempisan, ada atau tidaknya bungkul. Palpasi selanjutnya dilakukan untuk memeriksa kepadatan konsistensi, adanya krepitasi yang berlebihan, dan dapat terabanya bungkul ataupun pasir padat pada permukaan organ. Insisi dapat dilakukan pada bagian yang diduga berisi darah, cairan berbusa, nanah, ataupun benda asing. Paru-paru juga diuji apung apakah akan tenggelam atau tidak untuk memeriksa kejadian pneumonia.
6. Sebelum jantung diperiksa, keadaan perikardium dan epikardium dilihat keadaannya. Jantung diperiksa dengan menyayat ventrikel jantung pada dinding sejajar sulcus longitudinalis kanan dan kiri. Selain itu inspeksi dilakukan untuk melihat adanya perubahan warna pada perikardium, epikardium, miokardium, dan endokardium. Perubahan bentuk diamati apabila terdapat kemungkinan adanya chicken fat clot, penebalan atau
42
penipisan dinding jantung dan juga penebalan pada katup bikuspidalis, trikuspidalis, dan semilunaris. Palpasi pada daerah dinding jantung untuk memastikan dinding tersebut melembek atau mengeras. Insisi perlu dilakukan untuk melihat perubahan warna yang terjadi pada dinding ventrikel.
7. Saluran pencernaan diperiksa mulai dari rongga mulut untuk melihat keadaan gigi, gusi, dan mukosa pipi. Pemeriksaan dilanjutkan ke esofagus, lambung, dan usus terhadap lumen dan keadaan mukosanya. Lambung sebelumnya digunting terlebih dahulu pada kurvatura mayor sedangkan usus sebelumnya digunting terlebih dahulu di dekat alat penggantungnya. Penyumbatan pada saluran empedu mungkin dapat terjadi, untuk memeriksanya dilakukan penekanan pada kantung empedu dan muara saluran empedu pada duodenum lalu diamati.
8. Hati diperiksa secara inspeksi untuk melihat adanya perubahan warna, pola lobulasi yang jelas serta perubahan bentuk. Palpasi dilakukan selanjutnya apabila ditemukan kemungkinan adanya perubahan konsistensi pada organ tersebut. Selain itu insisi juga dilakukan untuk melihat adanya perubahan warna pada bidang sayatan dan pengeluaran darah setelah dilakukan penyayatan. Sedangkan pankreas diperiksa dengan cara inspeksi untuk melihat adanya perubahan warna dan bentuk lalu dipalpasi untuk memeriksa adanya perubahan konsistensi serta insisi dilakukan untuk melihat adanya perubahan warna pada bidang sayatan.
9. Limpa diperiksa secara inspeksi untuk melihat perubahan warna, bentuk, dan keadaan pada tiap tepi organ beserta kapsulanya. Palpasi pada limpa dilakukan untuk memeriksa adanya perubahan konsistensi yang terjadi. Insisi dilakukan sejajar dengan hilus. Permukaan bidang sayatan diusap untuk melihat adakah pulpa merah yang terikut.
10. Organ urinari diperiksa dengan mengenali posisi ureter yang menghubungkan ginjal dengan vesika urinaria. Pengeluaran uretra dilakukan dengan menggergaji os pubis di sebelah kanan dan kiri dari symphisis pelvis. Ginjal diperiksa secara inspeksi untuk melihat perubahan warna sesudah kapsula dibuka dan bentuk permukaannya. Palpasi pada ginjal dilakukan untuk memeriksa adanya perubahan konsistensi yang terjadi. Insisi dilakukan untuk melihat perubahan warna dan batas pada korteks dan medulla serta memeriksa adanya batu ginjal pada pyelum. Sedangkan untuk vesika urinaria dilakukan pemeriksaan adakah penyumbatan uretra dengan menekannya lalu diamati pengeluaran urin melalui uretra. Dinding vesika digunting lalu dilakukan pengamatan terhadap isi dan permukaan mukosa. Pemeriksaan ureter dan uretra dilakukan jika ditemukan adanya indikasi penyumbatan pada saluran tersebut.
11. Rongga otak dibuka dengan membersihkan tulang tengkorak dari otot dan kulit yang melekat. Tulang tengkorak digergaji dengan pola garis melingkar tepat di belakang mata, di atas telinga, dan menuju lumen occipitale. Tulang yang telah digergaji dicungkil dengan menggunakan pahat dan palu.
43 Pembuatan sediaan histopatologi
1. Dehidrasi
Organ yang telah berada dalam kaset jaringan dimasukkan ke dalam ruang kedap udara mesin tissue processor untuk dilakukan dehidrasi, penjernihan (clearing) dan infiltrasi jaringan oleh paraffin (infiltring).
Dehidrasi dilakukan bertahap dengan menggunakan alkohol dengan konsentrasi bertingkat, dimulai dari konsentrasi 70%, 80%, 90%, 95%, alkohol absolut II, setelah itu dilakukan proses penjernihan (clearing) dengan memasukkan sediaan ke dalam xylol, dua kali.
2. Infiltrasi parafin
Jaringan diinfiltrasi dalam parafin Histoplast® dengan merendamnya dalam parafin cair sebanyak tiga kali ulangan.
3. Perendaman (Embedding) dan pencetakan (Block)
Sediaan yang telah diinfiltrasi oleh parafin (infiltring) ditanam dalam cetakan yang telah berisi parafin cair setengah volume dinding cetakan, setelah mulai membeku parafin cair ditambahkan lagi hingga cetakan penuh. Proses dilakukan di mesin tissue embedding console Sakura®. Proses ini sebaiknya dilakukan dekat sumber panas agar parafin tidak cepat membeku. Sediaan tersebut diatur letaknya kemudian diberi label lalu dibekukan dalam refrigerator untuk memudahkan dalam pemotongan.
4. Pemotongan
Jaringan dipotong setebal 5-6 µm menggunakan mikrotom Spencer®
dan hasil potongan diletakkan di atas air hangat untuk mencegah terjadinya lipatan akibat pemotongan, sediaan dilekatkan di atas gelas objek, kemudian dikeringkan dalam inkubator.
5. Pewarnaan HE
Pewarnaan Hematoksilin-Eosin (HE) termasuk dalam jenis pewarnaan ganda (double staning) karena menggunakan dua jenis zat warna. Pada pewarnaan ganda, umumnya pewarnaan yang digunakan satu bersifat asam dan yang lain bersifat basa. Paduan sifat tersebut menyebabkan bagian-bagian yang bersifat asidofilik dan basofilik dapat ditonjolkan, sehingga inti yang bersifat asam akan berwarna bitu karena berikatan dengan hematoxillin yang bersifat basa, dan sitoplasma yang bersifat basa akan berwarna merah karena berikatan dengan eosin yang bersifat asam. Tujuan pewarnaan ganda agar terlihat kontras antara bagian yang bersifat asidofilik dan basofilik, sehingga pengamatan bagian tertentu dapat lebih cepat dan jelas terlihat.
Setelah proses pewarnaan selesai, sediaan dikeringkan kemudian dilakukan mounting yang merupakan proses penutupan preparat dengan cover glass yaitu dengan cara meneteskan Canada Balsam sebanyak 1-2 tetes pada bagian yang ada jaringannya, lalu preparat ditutup dengan cover glass dan selanjutnya dapat dilakukan pengamatan dengan menggunakan mikroskop (Humason 1972).
6. Pemeriksaan histopatologi
Preparat yang telah dibuat kemudian diamati di bawah mikroskop cahaya untuk melihat perubahan pada sel ataupun organ. Lesi yang ditemukan dianalisa secara deskriptif dan patogenesa.
44