Biro Pusat Statistik. 1993. Statistik Industri Kecil. Jakarta: Biro Pusat Statistik.
Brunch. 1980 “Small Establishments as Export of Manufactures”. dalam Industrialisasi di ASEAN.
Chotim, Erna Ermawati. 1994. Subkontrak dan Implikasinya Terhadap Pekerja Perempuan : Kasus Industri BatikPekalongan. Bandung: Yayasan AKATIGA.
Chopra, R.K. 1989. Institutional Development: The unheralded dimension of developmentlessons of experience. International Conference on development Policies and Cooperation in the Nineties, October 1112, The Hague.
Center for Policy and Implementation Studies. 1992. Ekonomi Informal Perkotaan. Laporan Internal. Jakarta, CPIS.
Haryadi, Dedi dan Indrasari Tjandraningsih. 1995. Buruh Anak dan Dinamika Industri Kecil. Bandung: Yayasan AKATIGA.
Holt, Sharon L and Helena Ribe. 1991. Developing Financial Institutions for the Poor and Reducing Barriers to Access for Women. World Bank Discussion Papers.
Joan Hardjono and Maspiyati. 1990. The Processing of Cassava Starch in West Java : Production and Employment Relationships. Kertas Kerja No. B9. Proyek Penelitian Peluang Kerja Sektor Nonpertanian Pedesaan Jawa Barat. Kerjasama ISS The Hague dengan PPLHITB dan PSPLP IPB.
Kantor Statistik Sulawesi Selatan. 1993. Sulawesi Selatan Dalam Angka.
Kantor Statistik Sumatera Barat. 1993. Sumatera Barat Dalam Angka. Kantor Statistik Jawa Timur. 1993. Jawa Timur Dalam Angka. Kuncoro, Mudrajad dan Anggito Abimanyu. 1995. “Struktur dan Kinerja Industri Indonesia Dalam Era Deregulasi dan Globalisasi” dalam : Kelola No.10/IV/95. Yogyakarta: Gajah Mada University Business Review.
Maspiyati, (ed). 1991. Organisasi Produksi dan Ketenagakerjaan Pada Industri Kecil Sepatu : Studi Kasus CiomasBogor. Kertas Kerja No. B19. Proyek Penelitian Peluang Kerja Sektor Nonpertanian Pedesaan Jawa Barat. Kerjasama ISS The Hague dengan PPLHITB dan PSPLP IPB.
Sadoko, Isono dkk. 1995. Pengembangan Usaha Kecil : Pemihakan Setengah Hati. Bandung: Yayasan AKATIGA.
Sjaifudian, Hetifah. dkk. 1995. Strategi dan Agenda Pengembangan Usaha Kecil. Bandung: Yayasan AKATIGA.
tahap perkembangan usaha kecil
Sjaifudian, Hetifah dan Erna Ermawati Chotim. 1994. Dimensi Strategis Pengembangan Usaha Kecil. Bandung: Yayasan AKATIGA.
Seldadyo, Hari. dkk. 1995. Usaha Kecil Indonesia : Politik Perkreditan dan Sistem Penunjang. Laporan Proyek. Kerjasama Gugus Analisis dengan PUPUK dan FNSt. Tidak dipublikasikan. Sagir, Soeharsono. 1995. “Pembangunan Ekonomi Rakyat Agenda Tindak Lanjut Teknis Kelembagaan” dalam Adi Sasono (ed.) Pembangunan Ekonomi Rakyat dalam Era Keterbukaan Ekonomi, Persoalan dan Pilihan Kebijakan. Jakarta: CIDES.
Tambunlerchai and Loohawenchit. 1981. “Labour Intensive and Small Scale Manufacturing Industries in Thailand” dalam Industrialisasi di ASEAN.
Tambunan, Tulus. 1994. SocioEconomic Characteristics and Motivation of Rural Small Enterprenuers : Finding from Primary Data Collected in Economic Paper No.22 Netherlands: Erasmus University Rotterdam.
Thamrin, Juni, (ed). 1991. Organisasi Produksi dan Ketenagakerjaan Pada Industri Kecil Sepatu : Studi Kasus CibaduyutBandung. Kertas Kerja No. B18. Proyek Penelitian Peluang Kerja Sektor Nonpertanian Pedesaan Jawa Barat. Kerjasa ISS The Hague dengan PPLHITB dan PSPLP IPB.
Thee, Kian Wie. 1996. “Mengembangkan Daya Saing Industri Kecil dan Menengah di Era Perdagangan Bebas” dalam : Jurnal Analisis Sosial. Edisi No.2/Februari 1996. Bandung: Yayasan AKATIGA. Teszler, Roger. 1993. “Small Scale Industry Contribution to Economic Development” dalam ISA Baud and GA Bruijne, Gender, Small Scale Industry and Development Policy. Intermediate Technology Publication.
Yaffey, M. 1992. Finacial Analysis for Micro enterprises in Small Enterprise Developmnet , vol 3. page 2836.
Tabel 3.1. Indikator Tahap Perkembangan Usaha
TAHAP PERKEMBANGAN
INDIKATOR RINTISAN BERKEMBANG AKUMULASI
KERUPUK BORDIR MARKISA GENTENG KERUPUK BORDIR MARKISA GENTENG KERUPUK BORDIR MARKISA GENTING
Jumlah/jenis tenaga 1015 tenaga 12, tenaga kerja 12 tenaga 23, tenaga 1525, tenaga 310, tenaga 210, tenaga 510, tenaga 2540, tenaga >10 tenaga >10 , tenaga >10, tenaga kerja (orang) kerja keluarga keluarga/self kerja keluarga/ kerja keluarga kerja keluarga + kerja keluarga + kerja keluarga + kerja keluarga kerja keluarga kerja keluarga kerja upahan kerja upahan
plus upahan employment self employment upahan upahan upahan plus upahan plus upahan plus upahan
Fasilitas kerja yg pondokan, Pinjaman mesin Menyediaan Menyediakan Pemondokan, Menyewakan Menyediakan Menyediakan Pondokan, dan Pinjaman mesin Menyediakan Menyediakan
diperoleh pekerja makan siang jahit sendiri sendiri makan siang pondokan dan sendiri sendiri transportasi jahit dan sendiri sendiri
pinjaman mesin jahit
Jenis teknologi Manual Mesin mekanik Manual Manual Mesin cetak Mesin mekanik Manual Mekanik Tekno "maju" Mesin semi Teknologi Mekanis
kerecek untuk produksi & elektrik elektrik
pemanasan (oven)
Cara memperoleh Beli dari penyalur Dari prinsipal, Beli dari penyalur Beli dari penyalur Beli dari penyalur Beli dari penyalur Beli, sebagian membeli Mengakses dari Beli dari agen Memproduksi Beli
bahan baku & lokal, 13 kuintal t.a.d t.a.d lokal lokal setempat ada yg mem tad tangan pertama lokal atau luar sendiri dari
jumlah penggunaan per hari untuk 750 s/d 45 kuintal/hari tad produksi sendiri 0.9 1.3 ton/hari kota kebun sendiri
1000 genting tad tad
Orientasi pasar, Konsumen Pasar lokal Pasar lokal Pasar lokal Konsumen Pesanan prinsipal Pasar lokal Pasar lokal Konsumen lapis Pasar nasional Pasar luar Lokal dan luar cara pemasaran & lapis bawah melalui prinsipal kerjasama dengan pembeli yg datang menengah bawah Garde 23 ada pedagang & (dalam propinsi) menengah atas dan ekspor, propinsi dan propinsi
jenis produksi pasarkan sendiri pengasong produk genting pelanggan tetap pembeli yg datang diversifikasi prod Grade 1 ekspor, melalui Genting dan
Grade BC Model genting agen produk Keluwung
grade 3 sirop grade c modal lama mengikuti sari & sirop ukuran besar
perkembangan markisa mema
selera pasar sok kebutuhan
sari usaha rintisan dan berkembang
Permodalan Modal sendiri Modal kerja Modal sendiri Modal sendiri Modal sendiri Modal sendiri Modal sendiri Modal sendiri Modal sendiri Modal sendiri Modal sendiri Modal sendiri
sendiri plus pinjaman plus pinjaman plus pinjaman plus pinjaman
lembaga kredit lembaga kredit lembaga kredit lembaga kredit Tempat produksi Bersatu dengan Mengisi salah Bersatu dengan Ruangan khusus Bersatu dengan Ruangan khusus Bengkel seder Bengkel, terletak Pabrik, terpisah Terpisah dari Pabrik, terpisah Membangun
rumah tinggal satu ruang di rumah tingal yang dibangun rumah tinggal yang dibangun hana dan terpisah di pekarangan dari rumah rumah tinggal dari rumah ruang di sekitar
rumah menempel pada menempel pada dari rumahnya atau samping tinggal tinggalnya pekarangan
salah satu dinding salah satu dinding rumahnya
rumahnya rumahnya
Pemilikan/ Punya 3 buah Punya 12 Punya alat masak Sewa kobong & Punya 12 Punya 310 Punya alat masak Sewa mollen & Punya mesin Punya >10 Punya mesin Punya dan penguasaan aset mesin kerecek mesin jahit sederhana mesin mollen mesin kerecek mesin jahit sederhana punya kobong kerecek, oven & mesin jahit pemeras sari, menyewakan
kecil ketel besar mixer, gudang kobong, mollen
dan sarana dan mesin transportasi press Pola produksi Sentralisasi Pengusaha adalah Sentralisasi Sentralisasi Sentralisasi Desentralisasi Sentralisasi Sentralisasi Sentralisasi Menerapkan Sentralisasi Sentralisasi