• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Jumlah penduduk desa Sindang Jaya menurut umur tahun 2004 ... 50 2. Jumlah penduduk desa Sindang Jaya menurut tingkat pendidikan ... 51 3. Jumlah penduduk desa Sindang Jaya menurut mata pencaharain ... 52 4. Sebaran faktor internal responden ... 56 5. Sebaran faktor eksternal responden ... 62 6. Sebaran persepsi responden ... 64 7. Sebaran upaya petani untuk meningkatkan agribisnis sayuran ... 66 8. Nilai korelasi faktor internal dengan persepsi petani terhadap

kebijakan pemerintah daerah dalam upaya pengembangan kawasan

agropolitan ... 69 9. Nilai korelasi faktor eksternal dengan persepsi petani terhadap

kebijakan pemerintah daerah dalam upaya pengembangan kawasan

agropolitan ... 73 10.Nilai korelasi faktor internal petani dengan upaya petani meningkatkan agribisnis sayuran ... 77 11.Nilai korelasi faktor eksternal petani dengan upaya petani meningkatkan agribisnis sayuran ... 80 12.Nilai korelasi persepsi petani terhadap kebijakan pemerintah daerah

dalam upaya pengembangan kawasan agropolitan dengan upaya petani

meningkatkan agribisnis sayuran ... 83 13.Matrik hubungan beberapa variabel hasil penelitian ... 85

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Kerangka berpikir hubungan antara faktor- faktor internal dan eksternal

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Peta Lokasi Penelitian ... 4 2. Nonparametric Correlations ... 95 3. Gambar Korelasi antara Variabel Penelitian ... 96

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tujuan pembangunan hortikultura khususnya komoditas tanaman sayuran antara lain adalah meningkatkan produksi, meningkatkan volume dan nilai ekspor, mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan kesejahteraan petani. Di samping itu pemerintah juga memperhatikan komoditas hortikultura sayuran mengingat permintaan produksi sayuran terus meningkat akibat jumlah penduduk yang semakin bertambah dan adanya kesadaran gizi.

Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2003, luas panen tanaman sayuran secara nasional tanaman sayuran yang meliputi bawang merah, bawang daun, kentang, kubis, petsai,dan wortel mencapai 304,6 ribu hektar pada tahun 2002. Pada tahun 2003 luas panen tanaman sayuran diperkirakan sebesar 316,7 ribu hektar atau meningkat sekitar 3,99 persen dibandingkan tahun 2002. Pada umumnya luas panen tanaman sayuran mengalami kenaikan kecuali luas panen bawang daun yang menurun sekitar 5,45 persen.

Selanjutnya dilaporkan bahwa produksi tanaman sayuran tersebut pada tahun 2002 mencapai 3,9 juta ton. Produksi sayuran tertinggi didominasi oleh tanaman kubis sebesar 1,2 juta ton diikuti oleh kentang sebesar 0,9 juta ton. Sementara produksi sayuran yang sama pada tahun 2003 diperkirakan mencapai 3,8 juta ton atau menurun sekitar 3,46 persen. Penurunan produksi ini terutama terjadi pada sayuran petsai dan bawang daun masing- masing sebesar 16,40 persen dan 13,79 persen. Penurunan produksi kedua sayuran ini akibat dari menurunnya produktivitas. Produktivitas petsai menurun dari 10,1 ton per hektar (2002) menjadi

8,3 ton per hektar (2003), sedangkan bawang daun menurun dari 7,6 ton per hektar (2002) menjadi 6,9 ton per hektar (2003).

Provinsi Jawa Barat memiliki luas panen komoditas sayuran seperti bawang merah, bawang daun, kentang, kubis, petsai, dan wortel dengan total luas panen 80.266 ha (2002) meningkat 4,75 persen menjadi 84.081 ha (2003). Sedangkan total produksi tanaman sayuran tersebut 1,375 juta ton (2002) menurun 4,57 persen menjadi 1,32 juta ton (2003).

Penurun produksi ini terjadi sama dengan penurunan produksi sayuran Indonesia yaitu terjadi terutama pada tanaman sayuran petsai dan bawang daun yang masing- masing sebesar 16,40 persen dan 13,79 persen. Produktivitas sayuran tersebut di Provinsi Jawa Barat lebih tinggi dibandingkan produktivitas sayuran secara nasional di Indonesia terdapat pada sayuran bawang daun, kentang, kubis, petsai, dan wortel, hanya lebih rendah produktivitas pada bawang merah. Hal ini disebabkan produktivitas bawang merah tinggi pada penanaman di daerah dataran rendah.

Fenomena peningkatan dan penurunan baik luas panen maupun produksi sayuran tersebut dari tahun 2002 sampai dengan 2003 antara Provinsi Jawa Barat dengan Indonesia adalah sama. Hal ini disebabkan persentase luas panen Provinsi Jawa Barat terhadap luas panen secara nasional kontribusi sebesar 26,35 persen (2002) dan 26,55 persen (2003). Adapun persentase produksi Provinsi Jawa Barat terhadap produksi secara nasional kontribusi sebesar 34,81 persen (2002) dan 34,41 persen (2003). Dari persentase tersebut dapat digambarkan bahwa kontribusi luas panen sayuran dari Provinsi Jawa Barat lebih dari seperempat luas panen sayuran Indonesia. Begitu juga produksi bahwa kontribusi produksi sayuran dari Provinsi

Jawa Barat lebih dari sepertiga total produksi sayuran di Indonesia. Sehingga dapat diduga bahwa penurunan luas panen dan produksi enam komoditas sayuran Provinsi Jawa Barat sangat berpengaruh terhadap total luas panen dan produksi sayuran di Indonesia.

Kabupaten Cianjur berdasarkan data Dinas Pertanian (2004) menghasilkan sebanyak 19 jenis sayuran dengan total produksi 303.131 ton (2003) meningkat 36,5 persen menjadi 413.842 ton (2004). Khusus untuk enam komoditas sayuran yang meliputi bawang merah, bawang daun, kentang, kubis, petsai, dan wortel dapat dijelaskan bahwa luas panen sebesar 6.603 ha (2003) dengan produksi sebesar 169.434 ton (2003). Untuk produktivitas enam komoditas tersebut di Kabupaten Cianjur produktivitasnya lebih tinggi baik untuk Provinsi Jawa Barat maupun secara nasional.

Namun demikian kontribusi enam komoditas sayuran dari Kabupaten Cianjur tersebut sangat kecil baik terhadap Provinsi Jawa Barat maupun Indonesia. Terhadap Provinsi Jawa Barat kontribusi luas panen dan produksi masing- masing hanya 7,85 persen dan 12,91 persen. Sedangkan secara nasional kontribusi luas panen dan produksi sayuran Kabupaten Cianjur masing- masing hanya sebesar 2,08 persen dan 4,44 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa Kabupaten Cianjur belum menjadi penghasil yang memberi kontribusi utama di Provinsi Jawa Barat, sehingga perlu upaya peningkatan produksi baik secara intensifikasi maupun ekstensifikasi. Rendahnya produksi enam komoditas sayuran ini disebabkan beralih fungsinya penggunaan lahan pertanian menjadi lahan pemukiman, industri, hotel dan lain- lain.

Pemerintah Kabupaten Cianjur melakukan upaya peningkatan produksi sayuran melalui visinya yaitu : Terwujudnya Kabupaten Cianjur Sebagai Salah Satu Pusat Agribisnis dan Pariwisata Andalan Jawa Barat di Era Otonomi Daerah. Hal ini telah ditindaklanjuti melalui visi Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur yaitu : Terwujudnya Pembangunan Pertanian yang berorientasi Agribisnis dan Agrowisata.

Pelaksanaan kebijakan tersebut tercermin dari Program Pengembangan Kawasan Agropolitan berbasis hortikultura sayuran yang dirintis sejak tahun 2002 sampai saat ini. Agropolitan yang dimaksud adalah kota pertanian yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis serta mampu melayani, mendorong, menarik, menghela kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) di wilayah sekitarnya (BPSDM Pertanian, 2002)

Masalah Penelitian

Agribisnis adalah sebagai salah satu pendekatan pembangunan pertanian di Indonesia yang mampu berperan untuk : (1) meningkatkan pendapatan petani, (2) meningkatkan penyerapan tenaga kerja , (3) meningkatkan ekspor, (4) meningkatkan tumbuhnya industri yang lain, dan (5) meningkatkan nilai tambah (Soekartawi 1994).

Program penge mbangan kawasan agropolitan merupakan salah satu kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Cianjur dimana salah satu Desa di Kecamatan Cipanas yaitu Desa Sindang Jaya dijadikan sebagai Desa Pusat Pertumbuhan (DPP) kawasan agropolitan.

Adanya program yang tela h dan sedang dilaksanakan perlu adanya penelitian untuk mengetahui apakah program pengembangan kawasan agropolitan dapat mendukung dan meningkatkan sistem dan usaha agribisnis yang meliputi sub sistem off farm hulu, sub sistem on farm, dan sub sistem off farm hilir para petani yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani sayuran di wilayah tersebut.

Berdasarkan uraian di atas beberapa masalah yang perlu diketahui untuk pengembangan Agropolitan tersebut adalah :

(1) Bagaimana persepsi petani sayuran terhadap kebijakan pemerintah daerah dalam upaya pengembangan agribisnis di kawasan agropolitan.

(2) Bagaimana upaya petani meningkatkan agribisnis sayuran berkaitan dengan program pengembangan kawasan agropolitan.

(3) Bagaimana hubungan antara faktor internal dan eksternal petani dengan persepsi petani terhadap kebijakan pemerintah daerah dalam upaya pengembangan kawasan agropolitan.

(4) Bagaimana hubungan persepsi petani terhadap kebijakan pemerintah daerah dalam upaya pengembangan kawasan agropolitan dengan upaya petani meningkatkan agribisnis sayuran.

(5) Bagaimana sistem dan usaha agribisnis petani sayuran dalam meningkatkan pendapatan petani dan upaya dalam pembangunan pertanian yang berorientasi agribisnis.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

(1) Mengkaji persepsi petani sayuran terhadap kebijakan pemerintah daerah dalam upaya pengembangan agribisnis di kawasan agropolitan.

(2) Menjelaskan upaya petani meningkatkan agribisnis sayuran berkaitan dengan program pengembangan kawasan agropolitan.

(3) Mengukur keeratan hubungan antara faktor internal dan eksternal petani dengan persepsi petani terhadap kebijakan pemerintah daerah dalan upaya pengembangan kawasan agropolitan.

(4) Mengukur keeratan hubungan persepsi petani terhadap kebijakan pemerintah daerah dalam upaya pengembangan kawasan agropolitan dengan upaya petani meningkatkan agribisnis sayuran.

(5) Mengkaji sistem dan usaha agribisnis petani sayuran dalam meningkatkan pendapatan petani dan upaya pembangunan pertanian yang berorientasi agribisnis.

Kegunaan Penelitian

Hasil temuan yang diperoleh dari penelitian ini mempunyai kegunaan : (1) Secara akademik : diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran

dengan menambah khasanah keilmuan di bidang penyuluhan pembangunan tentang pentingnya kebijakan pembangunan pertanian bagi petani.

(2) Secara praktis : diharapkan akan menjadi masukan yang sangat berarti bagi ilmuwan, pemerintah, penyuluh, dan pihak-pihak terkait lainnya, dalam upaya untuk lebih meningkatkan pengembangan sistem agribisnis sayuran.

(3) Khusus bagi penyuluhan pembangunan berguna dalam :

(a) Diketahuinya upaya- upaya yang dilakukan petani dalam beragribisnis sayuran tersebut, menjadi masukan bagi penyuluh dalam merencanakan penyuluhan guna meningkatkan kemampuan petani dalam beragribisnis sayuran.

(b) Diketahuinya hubungan antara faktor- faktor internal dan eksternal dengan persepsi petani terhadap kebijakan pemerintah daerah dalam beragribisnis sayuran, menjadi pertimbangan penyuluh dan petani di dalam meningkatkan keberhasilan agribisnis sayuran.

Definisi Istilah Petani

Petani dalam penelitian ini adalah petani sayuran yang mengikuti program pengembangan kawasan agropolitan yang berada di desa Sindang Jaya Cipanas Kabupaten Cianjur, dalam pengambilan data sebagai responden yaitu kepala keluarga.

Agribisnis

Agribisnis meliputi keseluruhan kegiatan manajemen bisnis pertanian mulai dari perusahaan yang menghasilkan sarana produksi untuk usahatani, proses produksi pertanian, serta perusahaan yang menangani pengolahan, pengangkutan, penyebaran, penjualan secara borongan maupun penjualan eceran produk kepada konsumen akhir.

Agropolitan

Agropolitan adalah kota pertanian yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis serta mampu melayani, mendorong, menarik, menghela kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) di wilayah sekitarnya

Faktor Internal Petani

Faktor internal petani adalah ciri-ciri pribadi, status sosial dan ekonomi petani (usahataninya) dalam periode waktu tertentu. Dalam penelitian ini ciri pribadi dan sosial ekonomi petani yang diperhatikan antara lain adalah : (1) umur, (2) pendidikan formal, (3) jumlah tanggungan keluarga, (4) pengalaman

berusahatani sayuran, (5) penguasaan lahan, (6) motivasi intrinsik, (7) kekosmopolitan, dan (8) pendapatan.

Umur

Umur adalah lamanya usia petani sayuran ( responden) pada saat survei atau interview dilakukan oleh pewawancara, dalam hal ini dibagi atas tiga kategori yaitu : (1) muda (X- 32,1 tahun), (2) sedang (32,1 tahun < X < 50,3 tahun), dan (3) tua (X > 50,3 tahun).

Pendidikan formal

Pendidikan formal adalah lamanya responden duduk di bangku sekolah formal yang pernah dicapai oleh petani, dalam hal ini dibagi atas tiga kategori yaitu : (1) rendah (X < 4,5 tahun), (2) sedang (4,5 tahun < X < 9,3 tahun), dan (3) tinggi (X > 9,3 tahun).

Jumlah tanggungan keluarga

Jumlah tanggungan keluarga adalah banyak orang baik keluarga maupun tidak yang tinggal serumah dan menjadi tanggung jawabnya, dalam hal ini dibagi atas tiga kategori yaitu : (1) kecil (X < 3,1 orang), (2) sedang (3,1 orang < X < 6,4 orang), dan (3) besar (X > 6,4 orang).

Pengalaman berusahatani sayuran

Pengalaman berusahatani sayuran adalah lamanya petani melakukan kegiatan usahatani sayuran, dalam hal ini dibagi atas tiga kategori yaitu : (1) kurang ( X < 7,7 tahun), (2) cukup (7,7 tahun) < X < 27,5 tahun), dan (3) banyak (

Penguasaan lahan

Penguasaan lahan adalah luasan tanah sawah atau tegalan milik petani sendiri ataupun milik orang lain yang dapat dikelola atau dimanfaatkan untuk usahatani oleh petani sayuran, dalam hal ini dibagi atas tiga kategori yaitu : (1) sempit ( X < 392,3 m2), (2) sedang (392,3 m2) < X < 8283,3 m2), dan (3) luas (X > 8283,3 m2).

Motivasi intrinsik

Motivasi intrinsik adalah tekanan dari dalam diri petani yang menimbulkan dorongan bagi petani, untuk upaya beragribisnis sayuran, dalam hal ini dibagi atas tiga kategori yaitu : :(1) kurang ( X < skor 2,7), (2) cukup (skor 2,7 < X < skor 3,5), dan (3) baik (X > skor 3,5).

Kekosmopolitan

Kekosmopolitan merupakan sifat petani yang selalu berusaha mencari informasi yang dibutuhkan berkaitan dengan agribisnis sayuran, dalam hal ini dibagi atas tiga kategori yaitu : (1) kurang ( X < skor 2,0), (2) cukup (skor 2,0 < X

< skor 2,9), dan (3) baik ( X > skor 2,9).

Pendapatan

Pendapatan adalah jumlah penghasilan dalam rupiah yang diperoleh dari petani, yang berasal dari: bapak, ibu dan anak dalam masa satu bulan atau satu tahun sela ma masa mengikuti program agropolitan, dalam hal ini dibagi atas tiga kategori yaitu : (1) menurun, (2) tetap, dan (3) meningkat.

Faktor Eksternal Petani

Faktor eksternal petani adalah ciri-ciri selain dari diri pribadi petani, status sosial dan ekonomi petani (usahataninya) dalam periode waktu tertentu. Dalam penelitian ini faktor eksternal yang diperhatikan antara lain adalah : (1) interaksi dengan penyuluh pertanian, (2) akses terhadap sumber informasi lain, (3) informasi pasar.

Interaksi dengan penyuluh pertanian

Interaksi dengan penyuluh pertanian adalah frekwensi (seringnya) responden berinteraksi dengan penyuluh pertanian selama satu tahu masa program agropolitan, dalam hal ini dibagi atas tiga kategori yaitu : (1) kurang ( X < skor

1,9), (2) sedang (skor 1,9 < X < skor 3,0) , dan (3) banyak ( X > skor 3,0)

Akses terhadap sumber informasi lain

Akses terhadap informasi atau keterangan berita adalah frekwensi (berapa kali) responden atau anggota keluarganya memperoleh informasi tentang agribisnis sayuran melalui berbagai media, dalam hal ini dibagi atas tiga kategori yaitu: (1) kurang ( X < skor 2,9), (2) cukup (skor 2,9 < X < skor 3,6), dan (3) baik (X > 3,6 ).

Informasi Pasar

Informasi Pasar adalah menunjukkan bagaimana petani sayuran mendapatkan berita harga pasar dan cara mendapatkannya,dalam hal ini dibagi atas tiga kategori yaitu : (1) kurang ( X < skor 2,5), (2) cukup (skor 2,5) < X < skor 3,4), dan (3) baik ( X > skor 3,4).

Persepsi Petani Terhadap Kebijakan Pemerintah Daerah dalam upaya Pengembangan Kawasan Agropolitan

Persepsi Petani Terhadap Kebijakan Pemerintah Daerah dalam upaya pengembangan kawasan agropolitan adalah pandangan dan penilaian responden terhadap kebijakan pemerintah daerah dalam upaya pengembangan kawasan agropolitan yang meliputi: (1) dorongan petani untuk mengikuti program agropolitan, (2) manfaat positif program agropolitan bagi petani , dan (3) solusi jika hal negatif yang dihadapi oleh petani

Dorongan petani untuk mengikuti program agropolitan

Dorongan Petani terhadap Program Agropolitan adalah menunjukkan seberapa besarnya petani sayuran program pengembangan kawasan agropolitan untuk mengikuti program agropolitan tersebut, dalam hal ini dibagi atas tiga kategori yaitu : (1) kurang ( X < skor 1,9 ), (2) cukup (skor 1,9 < X < skor 3,0), dan (3) baik ( X > skor 3.0).

Manfaat positif program agropolitan bagi petani

Manfaat positif Program Agropolitan bagi Petani adalah menunjukkan seberapa besar kegunaan yang diperoleh petani dengan adanya program tersebut dibandingkan dengan belum adanya program pengembangan kawasan agropolitan di desa penelitian, dalam hal ini dibagi atas tiga kategori yaitu : (1) kurang (X

<skor 2,9 ), (2) cukup (skor 2,9 < X < skor 3,6 ), dan (3) baik (X > skor 3,6).

Solusi jika hal negatif yang dihadapi oleh petani

Solusi jika negatif yang dihadapi oleh petani adalah bagaimana cara petani mengatasi adanya hal negatif setelah mengikuti program agropolitan, dalam

hal ini dibagi atas tiga kategori yaitu : (1) kurang berusaha( X < skor 2,9), (2) cukup berusaha (skor 2,9 < X < skor 4,1), dan (3) tinggi (X > skor 4,1).

Faktor Upaya Petani Meningkatkan agribisnis sayuran

Upaya petani dalam beragribisnis sayuran adalah tindakan atau tingkah laku petani sehari-hari dalam melakukan kegiatan sistem agribisnis sayuran, yang terdiri atas : (1) manajemen usahatani , (2) manajemen pemasaran, dan (3) kemitraan dengan pengusaha.

Manajemen usahatani

Manajemen usahatani adalah segala aktivitas merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan dan mengontrol usahatani yamg meliputi benih/bibit,pupuk,pestisida, tenaga kerja, teknologi dan budidaya), dalam hal ini dibagi atas tiga kategori yaitu : (1) kurang ( X < skor 1,9), (2) cukup (skor 1,9 ) < X

< skor 3,7 ), dan (3) baik ( X > skor 3,7).

Manajemen pemasaran

Manajemen pemasaran adalah segala aktivitas ekonomi guna memasarkan dan mengolah komoditi primer yang dihasilkan oleh subsektor usahatani dan adanya posisi tawar bagi petani dalam memasarkan produk, dalam hal ini dibagi atas tiga kategori yaitu : (1) kurang ( X < skor 2,8), (2) cukup (skor 2,8 < X < skor 3,6), dan (3) baik ( X > skor 3,6 ).

Kemitraan dengan pengusaha

Kemitraan dengan pengusaha adalah upaya petani untuk mengadakan kerjasama saling menguntungkan yang berkelanjutan dengan pengusaha , dalam hal ini dibagi atas tiga kategori yaitu : (1) kurang ( X < skor 1,9), (2) cukup (skor 1,9 <

TINJAUAN PUSTAKA

Petani

Petani adalah orang yang mengubah tanam- tanaman dan hewan serta sifat-sifat tubuhtanah supaya lebih berguna baginya dan manusia lainnya (Mosher, 1965). Selanjutnya dijelaskan petani adalah lebih dari hanya seorang jurutani dan manager. Ia adalah seorang manusia dan menjadi anggota dari dua kelompok manusia yang penting baginya. Ia anggota suatu keluarga dan iapun anggota suatu masyarakat setempat atau rukun tetangga.

Karakteristik Petani

Karakteristik petani menentukan pemahaman petani terhadap informasi pertanian. Karakteristik petani yang dimaksud dalam penelitian ini terbagi dua yaitu faktor internal adalah umur, pendidikan formal, jumlah tanggungan keluarga pengalaman berusahatani sayuran, penguasaan lahan, motivasi intrinsik,

kekosmopolitan dan pendapatan dan faktor eksternal adalah interaksi dengan penyuluh pertanian, akses terhadap sumber informasi lain dan informasi pasar.

Umur

Salkind (1985) menyebutkan bahwa umur menurut kronologi dapat memberikan petunjuk untuk menentukan tingkat perkembangan individu, sebab umur menurut kronologi relatif lebih mudah dan akurat untuk ditentukan. Menurut Padmowihardjo (1994) umur bukan merupakan faktor psikologis, tetapi apa yang diakibatkan oleh umur adalah faktor psikologis. Disebutkan bahwa terdapat dua faktor yang menentukan kemampuan seseorang berhubungan dengan umur. Faktor pertama ialah mekanisme belajar dan kematangan otak, organ-organ sensual, dan otot organ-organ tertentu. Faktor kedua adalah akumulasi pengalaman dan bentuk- bentuk proses belajar yang lain.

Pendidikan

Slamet (2003) mendefinisikan pendidikan sebagai usaha untuk menghasilkan perubahan-perubahan pada perilaku manusia. Menurut Soeitoe (1982) pendidikan adalah suatu proses yang diorganisir dengan tujuan mencapai sesuatu hasil yang nampak sebagai perubahan dalam tingkah laku.

Soekanto (2002) menyatakan pendidikan mengajarkan kepada individu aneka macam kemampuan. Pendidikan memberikan nilai- nilai tertentu bagi manusia, terutama dalam membuka pikiran serta menerima hal- hal baru dan juga bagaimana cara berpikir secara ilmiah. Menurut Vaizey (1978) tujuan utama pendidikan adalah mengembangkan kapasitas untuk dapat menikmati hidup yang biasa. Sejalan dengan hal tersebut, Rusell (1993) mengemukakan bahwa pendidikan senantiasa mempunyai dua sasaran, yaitu pengajaran dan pelatihan perilaku yang baik.

Jumlah Tanggungan Keluarga

Jumlah tanggungan keluarga adalah banyaknya anggota keluarga yang ditanggung kehidupannya. Menurut Soekartawi (1986) banyaknya tanggungan keluarga akan berdampak pada pemenuhan kebutuhan keluarga. Jumlah keluarga yang semakin besar menyebabkan seseorang memerlukan tambahan pengeluaran atau kebutuhan penghasilan yang lebih tinggi untuk membiayai kehidupannya. Besarnya jumlah anggota keluarga yang akan menggunakan jumlah pendapatan yang sedikit akan berakibat pada rendahnya tingkat konsumsi. Hal ini berpengaruh terhadap produktivitas kerja, kecerdasan, dan menurunya kemampuan berinvestasi (Hernanto, 1993).

Pengalaman Usahatani

Menurut Padmowihardjo (1994) pengalaman adalah suatu kepemilikan pengetahuan yang dialami seseorang dalam kurun waktu yang tidak ditentukan. Dalam otak manusia dapat digambarkan adanya pengaturan pengalaman yang dimiliki oleh seseorang sebagai hasil belajar selama hidupnya. Dalam proses belajar, seseorang akan berusaha menghubungkan hal yang dipelajari dengan pengalaman yang dimiliki. Secara psikologis seluruh pemikiran manusia, kepribadian dan temperamen ditentukan oleh pengalaman indera. Tohir (1983) menyatakan dalam mengelola usahataninya, petani masih banyak mempergunakan sendiri atau pengalaman orang lain dan perasaan (feeling).

Luas Lahan

Menurut Tjakrawiralaksana (1983) lahan merupakan manifestasi atau pencerminan dari faktor-faktor alam yang berada di atas dan di dalam permukaan bumi. Berfungsi sebagai (1) tempat diselenggarakan kegiatan produksi pertanian seperti bercocok tanam dan memelihara ternak atau ikan, (2) tempat pemukiman keluarga tani. Hernanto (1993) menyatakan luas lahan usahatani dapat

digolongkan menjadi tiga bagian yaitu (1) sempit dengan luas lahan < 0,5 ha, (2) sedang dengan luas lahan antara 0,5 sampai 2 ha, dan (3) luas dengan luas lahan > 2 ha.

Tohir (1983) mengemukakan luas lahan yang sangat sempit dengan pengelolaan cara tradisional dapat menimbulkan: (1) kemiskinan, (2) kurang mampunya memprodusir bahan makanan pokok khususnya beras, (3) ketimpangan dalam penggunaan teknologi, (4) bertambahnya jumlah

pengangguran, (5) ketimpangan dalam penggunaan sumber daya alam. Perubahan petani subsisten dari cara-cara berusahatani tradisional ke modern dianggap sebagai kunci untuk meringankan kesulitan sumber daya alam, kurangnya modal, kurangnya input langsung, keterbelakangan teknologi dan kurang berkembangnya keterampilan menusia (Penny, 1990).

Motivasi Intrinsik

Menurut Suparno (2001) motivasi merupakan keadaan internal seseorang yang mendorong orang tersebut untuk melakukan sesuatu. Motivasi dijelaskan pula sebagai suatu dorongan untuk tumbuh dan berkembang. Motivasi berkaitan dengan keseimbangan atau equilibrium yaitu upaya untuk dapat membuat dirinya memadai dalam menjalani hidup ini. Dengan eqiulibrium dimaksud seseorang dapat mengatur dirinya sendiri relatif lebih bebas dari dorongan orang lain untuk menjadi lebih kompeten.

Padmowihardjo (1994) mengemukakan motivasi berarti usaha yang dilakukan manusia untuk menimbulkan dorongan untuk berbuat atau melakukan tindakan. Sejalan dengan hal tersebut, Callahan dan Clark (Mulyasa, 2003) mengemukakan bahwa motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku kearah suatu tujuan tertentu.

Menurut (Sudjana, 1991) motivasi belajar adalah motivasi insentif. Motivasi tersebut menggambarkan kecenderungan asli manusia untuk menggerakkan, mendominasi dan menguasai lingkungan sekelilingnya. Suparno (2000) mengemukakan bahwa seseorang akan melakukan sesuatu kalau ia mengharapkan akan melihat hasil memiliki nilai (value) atau manfaat. Perasaan

berhasil atau the experience of success akan menimbulkan motivasi seseorang untuk mempelajari sesuatu. Selain itu, seseorang akan termotivasi untuk belajar jika yang dipelajari mendatangkan keuntungan. Keuntungan dimaksud dapat berupa nilai ekonomi maupun sosial.

Menurut Morgan (Tasmin, 2002) dalam teori insentif, seseorang berperilaku tertentu untuk mendapatkan sesuatu. Sesuatu ini disebut sebagai insentif dan berada di luar diri orang tersebut. Insentif biasanya berupa hal- hal yang menarik dan menyenangkan, sehingga seseorang yang belajar akan tertarik mendapatkannya. Insentif bisa juga berupa sesuatu yang tidak menyenangkan, maka orang berperilaku tertentu untuk menghindar mendapatkan insentif yang tidak menyenangkan ini. Seseorang berperilaku tertentu untuk mendapatkan insentif menyenangkan, dan menghindar dari insentif tidak menyenangkan.

Kekosmopolitan

Menurut Dixon ( Mardikato, 1993) kekosmopolitan dicirikan oleh frekuensi dan jarak perjalanan yang dilakukan, serta pemanfaatan media masa. Selanjutnya dijelaskan bagi warga masyarakat yang relatif lebih kosmopolit, adopsi inovasi dapat berlangsung lebih cepat. Tetapi bagi yang lokalit (tertutup, terkungkung di dalam sistem sosialnya sendiri proses adopsi inovasi akan berlangsung sangat lamban karena tidak adanya keinginan-keinginan baru untuk hidup lebih “baik” seperti yang telah dapat dinikmati oleh orang-orang lain di luar sistem sosialnya sendiri

Pendapatan

Menurut Penny (1990) pendapatan seseorang merupakan keseluruhan dari apa yang ia peroleh dari cara pemanfaatan tenaga kerja, tanah dan modal lainnya.

Dokumen terkait