DAKWAH BIL HAL DAN MANAJEMEN DAKWAH
2.1 Dakwah Bil Hal
2.1.1 Pengertian dan Dasar Hukum Dakwah
Kata “dakwah” merupakan kata saduran dari kata
ﺎﻋد , ﻮﻋﺪﻳ ,
ةﻮﻋد
(bahasa Arab) yang mempunyai makna seruan, ajakan, panggilan, propaganda, bahkan berarti permohonan dengan penuh harap atau dalam bahasa Indonesia biasa disebut berdo’a (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1990).Ahmad Syafi’i Ma’arif (1994: 101) menyimpulkan makna dakwah di dalam al-Qur'an tidak hanya sebagai menyeru, akan tetapi ucapan yang baik, tingkah laku yang terpuji dan mengajak orang lain ke jalan yang benar ,itu sama halnya dengan kegiatan dakwah.
Menurut A. Wahab Suneth dan Safrudin Djosan (2000: 8), dakwah merupakan kegiatan yang dilaksanakan jama’ah muslim atau lembaga dakwah untuk mengajak manusia masuk ke dalam jalan Allah (kepada sistem Islam) sehingga Islam terwujud dalam kehidupan fardliyah, usrah, jama’ah, dan ummah, sampai terwujudnya tatanan khoiru ummah. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah dalam surat ali-Imran ayat 110,
ﻢﺘﻨﹸﻛ
20
Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar…. (Q.S. Ali Imran : 110)
Berdasarkan firman tersebut, sifat utama dakwah Islami adalah menyuruh yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, hal ini dilakukan seorang da’i dalam upaya mengaktualisasikan ajaran Islam.
Kedua sifat ini mempunyai hubungan yang satu dengan yang lainnya yaitu merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan, seorang da’i tidak akan mencapai hasil da’wahnya dengan baik kalau hanya menegakkan yang ma’ruf tanpa menghancurkan yang munkar.
Amar ma’ruf nahi munkar tidak dapat dipisahkan, karena dengan amar ma’ruf saja tanpa nahi munkar akan kurang bermanfaat, bahkan akan menyulitkan amar ma’ruf yang pada gilirannya akan menjadi tidak berfungsi lagi apabila tidak diikuti dengan nahi munkar.
Demikian juga sebaliknya nahi munkar tanpa didahului dan disertai amar ma’ruf maka akan tipis bahkan mustahil dapat berhasil (Sanwar, 1985 : 4 )
Berdasarkan pendapat-pendapat para tokoh tersebut dapat disimpulkan bahwa dakwah pada dasarnya adalah usaha dan aktifitas yang dilakukan secara sadar dalam rangka menyampaikan nilai-nilai ajaran Islam baik dilakukan secara lisan, tertulis maupun perbuatan sebagai realisasi amar ma’ruf nahi munkar guna mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
21
Pelaksanaan dakwah merupakan perintah Allah dan memiliki dasar hukum yang dijelaskan dalam firman Allah surat Ali Imran ayat 104
Artinya : “Dan jadilah kamu segolongan umat yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh kepada berbuat baik dan mencegah atau melarang orang berbuat tidak baik dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”
Surat Ali Imran ayat 104 tersebut secara implisit menerangkan bahwasanya harus ada sebagian dari umat Islam yang mampu dan mau menjadi pengajak umat lain, baik umat Islam maupun non Islam, kepada kebaikan dan mencegah berbuat yang tidak baik. Adapun di kalangan para ulama, terdapat perbedaan pendapat mengenai hukum dakwah.
Sebagian ulama berpendapat bahwasanya hukum dakwah adalah fardlu ain yang merupakan kewajiban bagi setiap orang Islam tanpa terkecuali di mana apabila seseorang tidak melaksanakannya, maka ia akan mendapat sanksi berupa dosa individu. Pendapat ini dikuatkan dengan argumentasi sebagai berikut:
a. Kata dalam
عدأ
surat an-Nahl adalah bentuk amar (perintah) dari kata dasarﺎﻋد .
Oleh karena berbentuk amar maka sudah selayaknya dan secara otomatis setiap orang terkenai hukum fardlu22
(wajib). Sehingga pada akhirnya wajib pulalah perintah dakwah bagi seluruh umat Islam.
b. Bahwasannya kata
ﻢﻜﻨﻣ
dalam surat al-Imran merupakan bayaniyah (penegasan) atau littaukid (menguatkan) terhadap kata“waltakun”. Sehingga nantinya arti surat itu adalah “Hendaklah kamu menjadi satu umat yang menyeru …..”. Makna ini menegaskan bahwa umat Islam adalah umat yang satu dalam berdakwah, sehingga tidak ada sistem perwakilan di mana setiap orang harus mampu menjadi pendukung pelaksanaan dan terlaksananya dakwah Islam.
c. Berdakwah tidak hanya terbatas pada perbuatan-perbuatan tertentu seperti ceramah, khutbah, dan pengajian saja yang memerlukan keahlian khusus dan hanya dapat dilakukan oleh beberapa orang saja, tetapi meliputi segala kegiatan yang dapat memberikan dorongan kepada orang lain untuk berbuat kebajikan dan memperlihatkan syi’ar Islam. Oleh karenanya fardlu (wajib) bagi seluruh umat Islam untuk menyampaikan dan menyebarkan syi’ar Islam sebatas pada kemampuannya (Ma'ruf, 1981; 7-8).
Sedangkan sebagian lain berpendapat bahwa hukum dakwah merupakan fardlu kifayah di mana apabila telah ada kelompok atau golongan yang telah mewakili dalam berdakwah, maka yang lain tidak diwajibkan berdakwah. Namun apabila tidak ada wakil dari suatu umat untuk melakukan dakwah, maka seluruh umat tersebut akan
23
dikenakan sanksi hukuman. Pendapat ini didasarkan pada alasan-alasan sebagai berikut :
a. Kata “minkum” dalam surat al-Imran berfungsi sebagai littab’idh (menerangkan tentang yang sebagian atau segolongan) yang memiliki kesamaan dengan kata “ba’dhukum”. Sehingga mereka menganggap, berdasar dalil surat al-Imran : 104, bahwa kegiatan dakwah merupakan kewajiban bagi sebagian dari umat Islam saja.
Sehingga jika telah ada perwakilan yang melaksanakan dakwah, maka tidak wajib bagi sebagian lain untuk melaksanakannya.
b. Kegiatan dakwah bukanlah kegiatan yang bersifat sembarangan yang dapat dilakukan oleh sembarang orang pula. Apabila dakwah yang merupakan tugas suci dilakukan oleh sembarang orang maka dikhawatirkan nantinya akan terjadi penyimpangan-penyimpangan yang dapat menimbulkan berbagai kerusakan bagi umat Islam (Ma'ruf, 1981; 7).
Perbedaan dalam dua pendapat para ulama tersebut, sebenarnya dapat diambil titik temu yang lebih bijak di mana dakwah akan memiliki sifat wajib bagi setiap orang manakala seseorang tersebut memiliki pengetahuan, wawasan, dan kemampuan berkaitan dengan nilai ajaran Islam dan lingkungan di sekitarnya memerlukan
“pencerahan” dakwah Islam. Selain itu, nilai wajib dakwah Islam bagi setiap individu juga didasarkan pada kenyataan bahwa dakwah Islam juga harus dilaksanakan oleh individu kepada dirinya sendiri
24
(introspeksi diri). Sedangkan dakwah dipandang memiliki nilai fardlu kifayah (kewajiban perwakilan) manakala ada sekelompok atau beberapa orang yang memiliki pengetahuan, wawasan, dan kemampuan yang lebih dibandingkan dengan beberapa atau kelompok orang yang lain.
2.1.2 Metode Dakwah
Menurut asal katanya, metode berasal dari bahasa Yunani
“methodos” yang artinya “cara”. Dalam konteks bahasa Inggris, makna kata metode dapat disandarkan pada kata “method” yang memiliki arti yang sama, yakni cara. Van Dalen dalam Dzikron (1989:
4), memberikan definisi mengenai metode sebagai “suatu cara yang tepat, berfikir sebaik-baiknya untuk mencapai suatu tujuan tertentu“.
Dengan demikian metode dakwah adalah cara, upaya atau jalan untuk mencapai tujuan dakwah.
Allah Yang Maha Adil memberikan keadilan dan kebijaksanaan kepada manusia dalam proses dakwah. Keadilan dan kebijaksanaan tersebut tertuang dalam keberadaan firman-Nya tentang dasar metode dakwah yang dapat dilaksanakan oleh umat Islam sebagai konsekuensi dari adanya perintah kepada manusia untuk berdakwah, sebagaimana termaktub dalam surat an-Nahl ayat 125
ﻉﺩﺍ
25
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk “. (Q.S. an-Nahl:125)
Menurut firman Allah tersebut, ada tiga hal yang mendasari pemilihan metode atau cara yang digunakan oleh umat Islam dalam berdakwah, yaitu:
a. Metode al-hikmah (kebijaksanaan)
b. Metode al-mau’idhati al-hasanah (pelajaran yang baik) c. Metode al-jadil bil hasan (diskusi dengan baik)
Jika dikaji, ketiga metode dakwah tersebut merupakan satu kesatuan yang saling mendukung dan tidak dapat dipisah-pisahkan.
Hal ini didasarkan pada hakekat dakwah sebagai sebuah proses yang berkelanjutan. Maksud dari berkelanjutan adalah bahwa umumnya, dakwah tidak hanya bisa dilaksanakan dengan menggunakan satu metode saja. Penjelasan ini dapat diterangkan sebagai berikut:
“Kebijaksanaan”, maksudnya adalah, bahwa dalam sebuah proses dakwah, seorang da’i (penyampai) dakwah tidak boleh bertindak seenaknya sendiri atau berdasarkan keinginannya sendiri tanpa memperhatikan keadaan mad’u. Da’i harus bijaksana dalam memilih dan menentukan materi dan metode dakwah sesuai dengan keadaan dan kebutuhan mad’u. Dengan demikian, kebijaksanaan dapat
26
disimpulkan sebagai dasar dalam pemilihan metode dan materi dakwah serta sikap da’i.
“Pelajaran yang baik”, maksudnya adalah, bahwa dalam sebuah proses dakwah, setelah dilaksanakan dengan bijaksana, seorang da’i harus mampu memberikan pelajaran yang baik kepada mad’u, secara teoritis dan bahkan praktis. Meski pemilihan materi dan metode dakwah telah dilakukan dengan penuh kebijaksanaan, jika da’i tidak dapat memberikan pelajaran yang baik kepada mad’u, khususnya dalam hal praktis, maka proses dakwah akan sia-sia sebab teori tanpa contoh praktis tidak akan ada gunanya. Dengan demikian, pelajaran yang baik tersebut adalah dasar sikap keteladanan yang harus dimiliki oleh da’i setelah kebijaksanaan dalam pemilihan materi dan metode.
Tanpa adanya keteladanan dari da’i, mad’u akan terlihat seperti “anak ayam tanpa induk”.
“Diskusi yang baik”, maksudnya adalah, memberikan bantahan kepada mereka yang belum menerima atau bahkan menentang dakwah secara baik. Bukan merupakan hal yang baru manakala dalam proses dakwah terjadi pertentangan dari kelompok-kelompok yang tidak mau menerima dakwah yang disampaikan. Oleh karena itu perlu adanya proses pemberian keterangan atau jawaban yang sebaik mungkin yang mana tidak akan menimbulkan hal-hal yang diinginkan sehingga nantinya mereka (kelompok penentang) malah akan berbalik bersimpati kepada proses dakwah. Dengan demikian, dasar diskusi
27
yang baik digunakan apabila terdapat kelompok-kelompok yang belum mau menerima atau bahkan menentang proses dakwah.
Ketiga dasar pemilihan metode dakwah tersebut secara bersamaan dapat digambarkan sebagai berikut:
BAGAN
PENERAPAN TIGA METODE DAKWAH DALAM SURAT AN-NAHL AYAT 125
Sumber: Dikembangkan sendiri oleh penulis berdasarkan buku Dzikron Abdullah, Metode Dakwah
Proses Dakwah Da’i
Mad’u
Penentang dakwah Diskusi Yang Baik
Pemilihan Metode dan Materi Keteladanan
Kebijaksanaan Pelajaran yang baik
(teoritis maupun praktis)
Keadaan dan kondisi mad’u
28
Secara lebih lanjut, mengenai metode dakwah, Dzikron Abdullah (1992; 52-133) menyebutkan ada 8 (delapan) metode yang dapat dipergunakan dalam berdakwah yaitu :
a. Metode ceramah (lecturing method/ telling method)
b. Metode tanya jawab (questioning method/question answer period) c. Metode diskusi (discuss method)
d. Metode propaganda (di’ayah)
e. Metode keteladanan/demonstrasi (demonstration method) f. Metode infiltrasi (susupan atau selipan/ infiltration method) g. Metode drama (role playing method)
h. Metode home visit (silaturahmi) 2.1.3 Metode Dakwah bil Hal
Bil hal secara bahasa berasal dari bahasa Arab (al-hal) yang artinya tindakan. Sehingga dakwah bil hal dapat diartikan sebagai proses dakwah dengan keteladanan, dengan perbuatan nyata (Muriah, 2000:75). Maksudnya adalah melakukan dakwah dengan memberikan contoh melalui tindakan-tindakan atau perbuatan-perbuatan nyata yang berguna dalam peningkatan keimanan manusia yang meliputi segala aspek kehidupan.
Sebenarnya dakwah bil hal dapat dilakukan dengan berbagai cara. Berdasarkan jenis-jenis metode yang dipaparkan oleh Dzikron Abdullah, metode dakwah secara garis besar dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok, yakni metode dakwah yang dilakukan melalui
29
tindakan percontohan langsung (bil hal) dan metode bukan tindakan (non bil hal). Menurut penulis, pembedaan ini didasarkan pada konteks isi dan praktek dakwah. Akan tetapi, bukan berarti metode-metode tersebut berdiri sendiri-sendiri sebagai metode-metode dakwah bil hal maupun metode dakwah non bil hal. Sebuah metode dakwah secara isi dapat dikatakan sebagai dakwah non bil hal, sedangkan secara praktek pelaksanaan metode dakwah termasuk dakwah bil hal.
Keterangan yang lebih mengenai hal tersebut dapat dijelaskan melalui tabel berikut ini,
No Metode Non bil hal Bil hal
1 Ceramah Isi materi ceramah Praktek dakwah melalui ceramah
2 Tanya jawab Isi materi tanya jawab Praktek dakwah melalui tanya jawab
3 Diskusi Isi materi diskusi Praktek dakwah melalui diskusi
4 Propaganda Isi materi propaganda Praktek dakwah melalui propaganda
5 Keteladanan Isi materi keteladanan Praktek dakwah melalui keteladanan
6 Infiltrasi Isi materi infiltrasi Praktek dakwah melalui infiltrasi
7 Drama Isi materi drama Praktek dakwah melalui drama
8 Home visit Isi materi home visit Praktek dakwah melalui home visit
Sumber: dikembangkan oleh penulis berdasarkan analisa buku Metode Dakwah, Dzikron Abdullah.
Keterangan di atas menjelaskan bahwasanya dakwah yang dilakukan dengan cara ceramah tidak hanya menjadi metode ceramah saja, namun juga bisa menjadi dakwah bil hal. Hal ini didasarkan pada aktifitas ketika berceramah dan pemilihan ceramah sebagai cara
30
penyampaian pesan dakwah secara tidak langsung akan menjadi contoh atau teladan bagi orang lain ketika dia akan melakukan pemilihan metode dakwah. Begitu pula dengan metode tanya jawab di mana substansi yang menjadi bahan pertanyaan bukan merupakan dakwah bil hal, tetapi pelaksanaan tanya jawab secara tidak langsung dapat menjadi contoh salah satu cara berdakwah yang dapat dilaksanakan oleh umat Islam. Metode diskusi, secara substansi juga bukan merupakan metode dakwah bil hal, namun pemberian materi dakwah melalui metode merupakan contoh keteladanan bagi umat Islam bahwasanya salah satu perbuatan atau metode yang dapat digunakan dalam berdakwah adalah metode diskusi.
Metode-metode lain yang tersebut di atas sama halnya dengan penjelasan penulis, di mana pelaksanaan seluruh metode dakwah di atas secara tidak langsung adalah dakwah bil hal, khususnya dakwah yang berkaitan dengan penggunaan metode penyampaian pesan dakwah. Pelaksanaan metode-metode tersebut di atas oleh da’i atau mubaligh akan menjadi bahan wacana bagi mad’u yang mengikuti kegiatan tersebut agar kelak dapat meniru metode yang telah mad’u terima dan saksikan dalam kegiatan tersebut.