DILAKUKAN TERKAIT 1/ PASANGAN CALON NOMOR 2
I. DALAM EKSEPSI
1. Substansi Permohonan Keberatan Dari Pemohon Bukan Kewenangan Mahkamah Konstitusi
1.1. Bahwa mencermati Substansi dari Permohonan PEMOHON dimana sebagian besar dalil-dalilnya dalam Permohonan PEMOHON tidak ada yang mendalilkan secara jelas bagaimana kekeliruan atau kesalahan dalam penghitungan suara yang dilakukan oleh
TERMOHON yang menjadi objek keberatan dalam sengketa PEMILUKADA.
1.2. Bahwa dalil yang diajukan oleh Pemohon antara lain adalah:
1.2.1 Proses PEMILUKADA Kabupaten Mimika Tahun 2013 telah terjadi pelanggaran yang bersifat terstruktur, sistematis, dan masif di seluruh wilayah sekabupaten Mimika yang dilakukan oleh PIHAK TERKAIT 2;
1.2.2 Pendaftaran PIHAK TERKAIT 2 telah melewati batas waktu pendaftaran;
1.2.3 Pencoblosan dilakukan oleh Petugas KPPS dan adanya TPS Siluman.
1.3 Bahwa dalil-dalil yang disampaikan oleh PEMOHON di atas dapat dikatakan secara keseluruhan tidak masuk dalam ranah atau jurisdiksi sengketa hasil pemilihan umum yang menjadi kewenangan Mahkamah Konstitusi karena tidak berkaitan dengan sengketa hasil penghitungan suara sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 4 Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah yang menyatakan: Objek perselisihan Pemilukada
adalah hasil penghitungan suara yang ditetapkan oleh Termohon yang mempengaruhi:
a. Penentuan Pasangan Calon yang dapat mengikuti putaran kedua Pemilukada, atau;
b. Terpilihnya Pasangan Calon sebagai Kepala Daerah dan Wakil
Kepala Daerah.
1.4 Bahwa dari uraian dan substansi Permohonan PEMOHON tersebut, sangat jelas dan tidak dapat dibantah bahwa sebagian besar Permohonan Keberatan PEMOHON sebenarnya berada dalam wilayah Tahapan Pemilukada yang bukan merupakan jurisdiksi atau kewenangan Mahkamah Konstitusi dan terhadap pelanggaran tersebut sudah diatur mekanisme penegakan hukum apabila terjadi pelanggaran, baik pelanggaran berdimensi administratif maupun pidana.
1.5 Bahwa kedua jenis pelanggaran Pemilukada tersebut diatas seharusnya diajukan kepada Penyelenggara Pemilukada yaitu KPUD dan PANWASLU Kabupaten Mimika dalam tiap tingkatan. Penyelesaian kedua jenis pelanggaran tersebut apabila berdimensi administratif diajukan kepada KPU Kabupaten Mimika untuk dilakukan verifikasi faktual dan selanjutnya diteruskan kepada aparat penegak hukum sedangkan apabila berdimensi pidana maka selanjutnya dilaporkan kepada Kepolisian dan Kejaksaan setempat untuk selanjutnya diajukan ke Pengadilan Negeri Wilayah Hukum Kabupaten Mimika.
1.6. Bahwa kedua jenis pelanggaran tersebut bukan menjadi kewenangan Mahkamah Konstitusi untuk memutusnya yang secara eksklusif/khusus/terbatas “hanya” berwenang mengadili sengketa Pemilukada, sehingga permohonan PEMOHON telah salah alamat. 1.7 Secara lebih tegas dalam ketentuan Pasal 75 Undang-Undang Nomor
24 Tahun 2003 juncto Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 juncto Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2013 tentang Mahkamah Konstitusi yang menyatakan bahwa: “Dalam Permohonan yang diajukan,
Pemohon wajib menguraikan dengan jelas tentang kesalahan hasil penghitungan suara yang diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum dan hasil penghitungan yang benar menurut Pemohon dan permintaan untuk membatalkan hasil penghitungan suara yang diumumkan oleh KPU dan menetapkan hasil penghitungan yang benar menurut Pemohon”.
2. Permohonan Keberatan PEMOHON adalah Kabur (Obscuur Libel) 2.1. Bahwa Permohonan Keberatan dari PEMOHON kabur, karena tidak
ada konsistensi antara dalil-dalil dalam Posita dengan Petitum Permohonan PEMOHON. Posita PEMOHON juga sangat sumir dan tidak didukung dengan data dan fakta yang memadai, sehingga terkesan asumtif dan berindikasi rekayasa.
2.2 Bahwa apabila PEMOHON hendak membatalkan Keputusan TERMOHON, maka seharusnya PEMOHON mendalilkan dan membuktikan terlebih dahulu adanya kesalahan penghitungan suara yang dilakukan oleh TERMOHON secara jelas dan runtut selanjutnya
PEMOHON harus menjelaskan penghitungan yang benar menurut PEMOHON berikut alasan dan bukti-bukti yang mendukung.
Faktanya PEMOHON hanya mendalilkan adanya pelanggaran tahapan Pemilukada sebagaimana disebutkan diatas yang PIHAK TERKAIT 2 bantah kebenarannya sehingga Permohonan PEMOHON tersebut harus ditolak atau setidak-tidaknya dikesampingkan oleh Mahkamah Konstitusi.
2.3 Bahwa mencermati Yurisprudensi Mahkamah Konstitusi dengan berbagai putusannya antara lain Putusan Mahkamah Nomor 41/PHPU.D-IV/2008 tanggal 2 Desember 2008, Putusan Nomor 41/PHPU.D-VIII/2010 tanggal 6 Juli 2010 dan Putusan Nomor 45/PHPU.D-VIII/2010 tanggal 7 Juli 2010 dapat didefinisikan bahwa pelanggaran tersruktur, sistematis dan masif adalah pelanggaran yang (1) melibatkan sedemikian banyak orang, (2) direncanakan secara matang, dan (3) melibatkan pejabat atau organisasi yang dibentuk secara terstruktur serta penyelenggara pemilu secara berjenjang dan (4) terjadi dalam wilayah yang luas yang melibatkan sedemikian banyak pelanggaran sangat serius. Dengan demiian pelanggaran yang bersifat terstruktur, sistematis dan masif harus memenuhi 4 (empat) unsur tersebut.
2.4 Bahwa dalam perkara a quo, PEMOHON dalam surat permohonannya secara formil tidak menguraikan ke-4 (empat) unsur tersebut yaitu:
(1) Melibatkan sedemikian banyak orang, tidak terdapat uraian mengenai adanya fakta bahwa pelanggaran yang dituduhkan oleh PEMOHON melibatkan banyak orang;
(2) Direncanakan secara matang, tidak terdapat uraian mengenai fakta adanya rencana pemenangan Pemilukada secara melawan hukum oleh Pasangan Nomor Urut 9/PIHAK TERKAIT 2;
(3) Melibatkan pejabat atau organisasi yang dibentuk secara terstruktur serta penyelenggara Pemilu secara berjenjang, tidak terdapat uraian dalam permohonan Pemohon mengenai adanya fakta adanya perintah dari PIHAK TERKAIT 2 kepada pejabat dibawahnya untuk melakukan aktifitas yang bertujuan
memenangkan PIHAK TERKAIT 2 dan pejabat terkait tersebut kemudian meneruskan perintah tersebut kepada pejabat bawahannya secara berjenjang;
(4) Terjadi dalam wilayah yang luas yang melibatkan sedemikian banyak pelanggaran sangat serius, tidak terdapat uraian mengenai fakta terjadinya pelanggaran diwilayah Kabupaten Mimika secara merata.
2.5 Bahwa oleh karena PEMOHON secara nyata tidak dapat menguraikan dalam surat Permohonan Keberatannya mengenai kesalahan hasil penghitungan suara yang ditetapkan oleh TERMOHON maka sudah seharusnya Mahkamah Konstitusi tidak menerima permohonan PEMOHON.
Bahwa berdasarkan uraian di atas Permohonan PEMOHON nyata-nyata kabur dan karenanya harus ditolak atau setidak-tidaknya dinyatakan tidak dapat diterima oleh Mahkamah Konstitusi, sehingga sudah sepatutnya Mahkamah Konstitusi menerima EKSEPSI PIHAK TERKAIT 2.