Bahwa permohonan keberatan Pemohon, sebagaimana telah diurai dan ditegaskan oleh Pemohon pada bagian-bagian berikut ini:
a. Bagian “ Perihal ” vide halaman 1, Permohonan keberatan a quo ditandaskan bahwa “Perbaikan Permohonan keberatan terhadap Surat Keputusan Termohon Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Perolehan Suara oleh PPK dan KPU Kabupaten pada Pemilihan Umum Kepala Daerah Bupati dan Wakil Bupati Banggai Kepulauan Tahun 2011 tertanggal 13 Juli 2011 dan Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati di Tingkat Kabupaten oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Banggai Kepulauan Periode 2011- 2016”.
b. Pada halaman 2, permohonan keberatan a quo, ditandaskan bahwa: “Bersama ini Pemohon bermaksud mengajukan permohonan PHPU tentang keberatan terhadap Surat Keputusan Termohon Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Perolehan Suara oleh PPK dan KPU Kabupaten pada Pemilukada Bupati dan Wakil Bupati Banggai Kepulauan Tahun 2011 tertanggal 13 Juli 2011, serta Surat Keputusan KPU Nomor 22 Tahun 2011 Tentang Penetapan Pasangan Calon Terpilih Pemilukada Bupati dan Wakil Bupati Banggai Kepulauan periode 2011 – 2016.”
c. Bagian Kedudukan Hukum (legal standing)
Halaman 3 angka 4, permohonan keberatan a quo, ditandaskan “Bahwa dengan ini Pemohon mengajukan keberatan terhadap:
a). Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati Di Tingkat Kabupaten oleh Komisi Pemilihan
Umum Kabupaten Banggai Kepulauan Tertanggal 13 Juli 2011, (vide Bukti P - 5);
b) Surat Keputusan KPU Kabupaten Banggai Kepulauan Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Perolehan Suara oleh PPK, dan KPU Kabupaten pada Pemilihan Umum Kepala Daerah Bupati dan Wakil Bupati Banggai Kepulauan Tahun 2011 tertanggal 13 Juli 2011 (vide Bukti P - 6);
c) Surat Keputusan KPU Kabupaten Banggai Kepulauan Nomor 22 Tahun 2011 Tentang Penetapan Pasangan Calon Terpilih Pemilihan Umum Kepala Daerah Bupati dan Wakil Bupati Banggai Kepulaian Periode Tahun 2011, tanggal 14 Juli 2011 (vide Bukti P - 7);
d. Bagian POKOK KEBERATAN -- vide -- halaman 7 - 8 permohonan keberatan a quo, ditandaskan bahwa: Pada angka 3 : “bahwa Pemohon menyatakan keberatan terhadap Surat Keputusan KPU Kabupaten Banggai Kepulauan Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Perolehan Suara oleh PPK dan KPU Kabupaten pada Pemilihan Umum Kepala Daerah Bupati dan Wakil Bupati Banggai Kepulauan Tahun 2011, tertanggal 13 Juli 2011, di mana perolehan masing-masing Pasangan Calon adalah sebagai berikut: -dst.”;
Pada halaman 8 angka 4 : “Bahwa Pemohon berpendirian telah terjadi pelanggaran serius bersifat sistematis, terstruktur, dan masif yang merusak sendi-sendi Pemilukada yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil (Luber dan Jurdil), sehingga mempengaruhi hasil Pemilukada, maka Pemohon memohon kepada Mahkamah untuk dapat mempertimbangkan dan menilai apakah proses penyelenggaraan Pemilukada tersebut telah berlangsung sesuai dengan asas Luber dan Jurdil sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 22E ayat (1) UUD 1945 dan UU Nomor 32 Tahun 2004 juncto UU Nomor 12 Tahun 2008 (vide Putusan Mahkamah Nomor 41/PHPU.D-VI/2008 bertanggal 2 Desember 2008)”.
Pada halaman 8 angka 5 :“Bahwa adapun berkaitan dengan terjadinya pelanggaran serius yang bersifat sistematis, terstruktur, dan masif yang merusak sendi-sendi Pemilukada yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil (Luber dan Jurdil) sehingga mempengaruhi hasil Pemilukada”.
1.1. Bahwa permohonan keberatan Pemohon dimaksud, mengidap cacat hukum “melewati tenggang waktu pengajuan permohonan (kadaluarsa)”. Permohonan Keberatan Pemohon terhadap Surat Keputusan KPU Banggai Kepulauan Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Perolehan Suara oleh PPK, dan KPU Kabupaten pada Pemilihan Umum Kepala Daerah Bupati dan Wakil Bupati Banggai Kepulauan Tahun 2011 tertanggal 13 Juli 2011 dan Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati di Tingkat Kabupaten oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Banggai Kepulauan tertanggal 13 Juli 2011”. Berdasarkan maksud Pasal 106 ayat (1) UU Nomor 32 Tahun 2004 juncto Pasal 5 ayat (1) PMK 15/2008 tentang tenggang waktu untuk mengajukan permohonan pembatalan hasil penghitungan suara Pemilukada ke Mahkamah paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah Termohon menetapkan hasil penghitungan suara Pemilukada di daerah yang bersangkutan”. Atas dasar ketentuan tersebut, jelas menunjukkan betapa permohonan keberatan a quo, adalah kadaluarsa, mengingat baik Surat Keputusan KPU Banggai Kepulauan Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Perolehan Suara oleh PPK dan KPU Kabupaten pada Pemilukada Bupati dan Wakil Bupati Banggai Kepulauan Tahun 2011, -- maupun -- Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati di Tingkat Kabupaten oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Banggai Kepulauan -- kedua Keputusan tersebut, telah terbit dan/atau ditetapkan pada tanggal 13 Juli 2011; sedang nyata-nyata, baik ifso facto maupun ifso jure Permohonan Keberatan Pemohon, baru diajukan oleh Pemohon kepada Mahkamah Konstitusi pada tanggal 18 Juli 2011 -- sesuai -- Surat keberatan Pemohon yang ditujukan kepada Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia -- yang telah diterima oleh petugas penerima permohonan untuk disampaikan kepada Panitera Mahkamah Konstitusi RI, dan kemudian telah didaftar dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi (BRPK) Nomor 79/PHPU.D-IX/2011 pada tanggal 21 Juli 2011; Ini artinya, bahwa tenggang waktu pengajuan permohonan keberatan Pemohon kepada Mahkamah Konstitusi pada tanggal 18 Juli 2011, dengan waktu diterbitkannya Surat Keputusan KPU Banggai Kepulauan Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Perolehan Suara oleh PPK dan KPU
Kabupaten pada Pemilukada Bupati dan Wakil Bupati Banggai Kepulauan Tahun 2011, maupun Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati di Tingkat Kabupaten oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Banggai Kepulauan pada tanggal 13 Juli 2011 terpaut selisih waktu 4 (empat) hari kerja keadaan ini jelas melewati tenggang waktu yang diatur dalam ketentuan Pasal 106 ayat (1) UU Nomor 32 Tahun 2004 juncto Pasal 5 ayat (1) PMK 15/2008;
1.2. Bahwa permohonan keberatan Pemohon adalah permohonan yang tidak cermat, tidak sempurna serta kabur (obscuur libel)”. Pada halaman pertama bagian “Perihal” permohonan a quo, Pemohon dengan tegas mempertanyakan bahwa “Perbaikan Permohonan keberatan terhadap Surat Keputusan Termohon Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Perolehan Suara oleh PPK, dan KPU Kabupaten pada Pemilukada Bupati dan Wakil Bupati Banggai Kepulauan Tahun 2011 tertanggal 13 Juli 2011 dan Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati di Tingkat Kabupaten oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Banggai Kepulauan tertanggal 13 Juli 2011”. Demikian pula halnya, pada halaman 2 permohonan keberatan a quo, ditandaskan bahwa: “Bersama ini Pemohon bermaksud mengajukan permohonan PHPU tentang keberatan terhadap Surat Keputusan Termohon Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Perolehan Suara oleh PPK dan KPU Kabupaten pada Pemilukada Bupati dan Wakil Bupati Banggai Kepulauan Tahun 2011 tertanggal 13 Juli 2011, serta : Pada bagian Kedudukan Hukum (legal standing) halaman 3 angka 4 huruf a dan b, permohonan keberatan a quo, ditandaskan bahwa: Dengan ini Pemohon mengajukan keberatan terhadap: a). Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati Di Tingkat Kabupaten oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Banggai Kepulauan Tertanggal 13 Juli 2011, (vide Bukti P - 5); b) Surat Keputusan KPU Kabupaten Banggai Kepulauan Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Perolehan Suara oleh PPK, dan KPU Kabupaten pada Pemilihan Umum Kepala Daerah Bupati dan Wakil Bupati Banggai Kepulauan Tahun 2011 tertanggal 13 Juli 2011 (vide Bukti P - 6); Hal tersebut searah dengan maksud bagian E. PERMOHONAN, halaman 19 angka 2, yang
menandaskan: “Menyatakan tidak sah dan batal demi hukum Surat Keputusan Termohon Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Perolehan Suara oleh PPK, dan KPU Kabupaten pada Pemilukada Bupati dan Wakil Bupati Banggai Kepulauan Tahun 2011 tertanggal 13 Juli 2011, dan Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati di Tingkat Kabupaten oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Banggai Kepulauan tertanggal 13 Juli 2011 sepanjang untuk perolehan suara Pasangan Calon Nomor Urut 1 atas nama Drs. Lania Laosa dan Drs. H. Zakaria Kamindang”. dan halaman 20 angka 2, yang menandaskan: “Menyatakan tidak sah dan batal demi hukum Surat Keputusan Termohon Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Perolehan Suara oleh PPK, dan KPU Kabupaten pada Pemilukada Bupati dan Wakil Bupati Banggai Kepulauan Tahun 2011 tertanggal 13 Juli 2011, dan Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati di Tingkat Kabupaten oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Banggai Kepulauan tertanggal 13 Juli 2011”. Menelaah maksud permohonan keberatan a quo, tampak dengan jelas bermuara pada konstruksi juridis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) UU Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah juncto Peraturan Mahkamah Konstitusi (PMK) 15/2008, Pasal 4 menentukan bahwa “Objek perselisihan Pemilukada adalah hasil penghitungan suara yang ditetapkan oleh Termohon yang mempengaruhi:
a. Penentuan Pasangan Calon yang dapat mengikuti putaran kedua Pemilukada; atau
b. Terpilihnya Pasangan Calon sebagai Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.
Oleh karena itu, berdasarkan maksud ketentuan tersebut, maka seharusnya Pemohon dalil-dalil permohonannya, telah memuat dan/atau mengurai secara terperinci, mengenai:
- hasil penghitungan suara yang telah ditetapkan oleh Termohon, yang oleh Pemohon dianggap tidak benar, dan
- hasil penghitungan suara yang benar menurut Pemohon.
Dengan keharusan bahwa hasil penghitungan suara yang menurut Pemohon dianggap benar, jika dipersandingkan dengan hasil penghitungan suara yang telah
ditetapkan oleh Termohon yang dianggap tidak benar oleh Pemohon, diperoleh selisih penghitungan suara yang signifikan. Dari konstruksi dalil-dalil Permohonan a quo, menunjukkan betapa permohonan keberatan a quo mengandung cacat tidak cermat, tidak sempurna serta kabur (obscuur libel). Oleh karena itu, permohonan yang diajukan oleh Pemohon seharusnya dinyatakan tidak dapat diterima (niet onvanklijke verklaard);
1.3. Bahwa dalil-dalil permohonan keberatan a quo, pada bagian D, tentang Pokok Perkara, halaman 8 angka 4, dengan tegas Pemohon mendalilkan: “Bahwa Pemohon berpendirian telah terjadi pelanggaran serius bersifat sistematis, terstruktur, dan masif yang merusak sendi-sendi Pemilukada yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil (Luber dan Jurdil), sehingga mempengaruhi hasil Pemilukada, maka Pemohon memohon kepada Mahkamah untuk dapat mempertimbangkan dan menilai apakah proses penyelenggaraan Pemilukada tersebut telah berlangsung sesuai dengan asas Luber dan Jurdil sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 22E ayat (1) UUD 1945 dan UU Nomor 32 Tahun 2004 juncto UU Nomor 12 Tahun 2008 (vide Putusan Mahkamah Nomor 41/PHPU.D-VI/2008 bertanggal 2 Desember 2008)”. Pada halaman 8 angka 5, dengan tegas Pemohon mendalilkan: “Bahwa adapun berkaitan dengan terjadinya pelanggaran serius yang bersifat sistematis, terstruktur, dan masif yang merusak sendi-sendi Pemilukada yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil (Luber dan Jurdil) sehingga mempengaruhi hasil Pemilukada”. Namun Pemohon, dalam dalil-dalil permohonan a’quo, tidak dapat menunjukkan uraian yang jelas dan rinci berkenaan esensi konstruksi tentang pelanggaran yang sangat serius yang bersifat sistematis, terstruktur, dan masif dimaksud, yang dilakukan oleh Penyelenggara Pemilukada (Termohon), sehingga menggambarkan keterpautan pola hubungan antara subyek dengan pelaku pelanggaran guna pemenangan salah satu pasangan calon (sistematis) yang dilakukan dengan cara menggunakan instrumen negara secara berulang, baik terhadap pelanggaran sejenis maupun pelanggaran yang tidak sejenis (terstruktur) dan berintensi rusaknya sendi-sendi penyelenggaraan Pemilukada dimaksud, karena berlangsung tidak sesuai dengan asas Luber dan Jurdil (masif). Dengan tidak adanya penguraian yang jelas dan rinci terhadap hal yang
dimaksud, maka permohonan keberatan Pemohon, mengidap cacat obscuur libel.
1.4. Bahwa sekalipun Mahkamah dalam mengadili sengketa Pemilukada tidak hanya mempertimbangkan dan menilai permohonan dengan hanya melihat hasil perolehan suara an sich, melainkan juga mempertimbangkan dan menilai apakah dalam proses penyelenggaraan Pemilukada terjadi pelanggaran yang serius, baik pelanggaran administrasi maupun pelanggaran pidana yang bersifat sistematis, terstruktur, dan masif yang merusak sendi-sendi penyelenggaraan Pemilukada yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil (Luber dan Jurdil) sebagaimana diamanatkan dalam ketentuan Pasal 22E ayat (1) UUD 1945 dan UU Nomor 32 Tahun 2004 juncto UU Nomor 12 Tahun 2008, sehingga mempengaruhi hasil Pemilukada. Akan tetapi dengan permohonan keberatan yang mengidap cacat abscuur libel -- sama-- halnya permohonan keberatan Pemohon dikala ini, berimplikasi hukum tidak dapat diterimanya permohonan keberatan Pemohon (niet onvanklijke verklaard) oleh Mahkamah Konstitusi.