Kiranya Majelis hakim yang bijaksana berkenan untuk tidak dapat menerima (Niet Onvankelijke Verklaard) Permohonan Pemohon, karena alasan hukum sebagai berikut ;--- A. Mahkamah Tidak Berwenang Memeriksa, Mengadili, dan Memutus Permohonan a quo
1. Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 1 angka 8 undang-undang Nomor 32 tahun 2004 sebagaimana telah diubah dengan undang Nomor 12 tahun 2008 Tentang Perubahan Kedua Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah menyatakan bahwa : “Permohonan adalah pengajuan keberatan terhadap Penetapan Hasil Penghitungan Suara Pemilukada.” ,;---
2. Bahwa berdasarkan Pasal 65 ayat 1 huruf c UU No 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah Termohon telah menetapkan tata cara dan jadwal tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dengan Keputusan KPU Kabupaten Polewali Mandar Nomor: 07/Kpts/KPU-Kab-033.433413/PKWK/2013 tentang Tahapan, Program dan Jadwal Waktu Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Polewali Mandar Tahun 2013 sebagaimana yang telah dirubah dengan Keputusan KPU Kabupaten Polewali Mandar Nomor: 035/Kpts/KPU-Kab-033.433413/PKWK/2013 tentang Perubahan Keputusan KPU Kabupaten Polewali Mandar Nomor: 07/Kpts/KPU-Kab-033.433413/PKWK/2013 tentang Tahapan, Program dan Jadwal Waktu Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Polewali Mandar Tahun 2013. (bukti.T.1). Sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, Penetapan Hasil Perolehan Suara dilaksanakan pada hari Senin tanggal 14 Oktober 2013 dalam rapat pleno terbuka KPU Kabupaten Polewali Mandar. Kepada pasangan calon dan instansi terkait seperti Panwaslu, Muspida dan lain-lain telah diberikan undangan untuk menghadiri rapat pleno tersebut (bukti.T.2). Surat undangan No. 98/KPU-Kab-033.433413/PKWK/2013 tertanggal 13 Oktober 2013, perihal undangan rapat pleno penyusunan dan rekapitulasi hasil penghitungan suara Pemilukada Kabupaten Polewali Mandar telah diterima oleh tim sukses pasangan calon sebagaimana tertuang dalam tanda terima. (Bukti.T.3). Kegiatan rapat pleno KPU tersebut dihadiri oleh seluruh saksi pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati, Muspida Kabupaten, Panwas Pemilukada Kabupaten Polewali
Mandar, PPK Kecamatan, Panwas Pemilukada Kabupaten Polewali Mandar dan undangan lainnya, (Bukti.T.4 dan Bukti.T.5). --- 3. Bahwa hasil rekapitulasi tersebut kemudian dituangkan dalam
Keputusan KPU Kabupaten Polewali Mandar Nomor: 56/Kpts/KPU-Kab-033.433413/PKWK/2013 tentang Penetapan Hasil Perolehan Suara Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Polewali Mandar Tahun 2013 Tanggal 14 Oktober 2013. Dan selanjutnya pada hari yang sama berdasarkan Keputusan KPU Kabupaten Polewali Mandar Nomor: 57/Kpts/KPU-Kab-033.433413/PKWK/2013 tentang Penetapan Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Terpilih dalam Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Polewali Mandar Tahun 2013, Termohon telah menetapkan pasangan calon dengan nomor urut 3 (tiga) yaitu H. Andi Ibrahim Masdar dan Drs. Muh. Natsir Rahmat, MM sebagai Calon Terpilih Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Polewali Mandar Tahun 2013-2018 ;---
4. Bahwa obyek perselisihan yang menjadi wewenang Mahkamah Konstitusi dalam mengadili perselisihan Pemilukada adalah berkaitan dengan keberatan mengenai hasil penghitungan suara Pemilukada yang ditetapkan oleh KPU Provinsi atau KPU Kabupaten/Kota (vide Putusan Mahkamah Konstitusi No. 15/PHPU.D.VIII/2010 hal. 55-56)) dan/atau pelanggaran serius yang terstruktur, sistematis, dan masif (unsur-unsur mana bersifat kumulatif) yang mempengaruhi hasil Pemilukada (vide Putusan Mahkamah Konstitusi No. 45/PHPU.D-VIII/2010 hal. 153), sedangkan pelanggaran-pelanggaran baik pelanggaran administrasi maupun pelanggaran pidana sebagaimana didalilkan oleh Pemohon merupakan wewenang Pengawas Pemilukada, Penyelenggara Pemilukada, dan aparatur penegak hukum lain, yaitu kepolisian, kejaksaan, dan peradilan umum (vide Putusan Mahkamah Konstitusi No. 23/PHPU.D-VIII/2010 hal. 26 jo No. 15/PHPU.D-VIII/2010 hal 56);---
5. Bahwa Permohonan yang diajukan Pemohon telah tidak sesuai dan/atau tidak memenuhi ketentuan Pasal 106 ayat (2) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 yang menentukan bahwa “Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya berkenaan dengan hasil penghitungan suara yang mempengaruhi terpilihnya pasangan calon,” dan Pasal 4 huruf b Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Beracara dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah yang menentukan bahwa “Objek perselisihan Pemilukada adalah hasil penghitungan suara yang ditetapkan oleh Termohon yang mempengaruhi: a. penentuan Pasangan Calon yang dapat mengikuti putaran kedua Pemilukada; atau b. terpilihnya Pasangan Calon sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerah.”;--- B. Permohonan Kabur (Obscuur Libele)
6. Bahwa pengajuan permohonan keberatan terhadap penetapan hasil pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah harus memenuhi persyaratan formal, sebagaimana ditentukan Pasal 6 ayat 2 butir (b) Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 15 Tahun 2008 yang berbunyi: “Permohonan sekurang-kurangnya memuat Uraian yang jelas mengenai: a. Kesalahan hasil penghitungan suara yang ditetapkan oleh Termohon; b. Permintaan/petitum untuk membatalkan hasil penghitungan suara yang ditetapkan oleh Termohon; c. Permintaan/petitum untuk menetapkan hasil penghitungan suara yang benar menurut Pemohon.” ;--- 7. Bahwa permohonan tidak jelas/kabur (Obscuur libel), bahwa
permohonan Pemohon "tidak memenuhi syarat", sebagaimana ditentukan oleh Pasal 75 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003, Tentang Mahkamah Konstitusi juncto Pasal 6 ayat (2) huruf b Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Pasal 106 (2) UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dengan alasan sebagai berikut :
a. Bahwa Pasal 75 UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi menentukan Pemohon wajib menguraikan dengan jelas
tentang kesalahan hasil penghitungan suara yang diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum dan hasil penghitungan yang benar menurut Pemohon; Dalam penjelasan pasal ini dinyatakan bahwa "Pemohon harus menunjukkan dengan jelas tempat penghitungan suara dan kesalahan dalam penjumlahan penghitungan suara". Namun ternyata di dalam naskah permohonan Pemohon, sama sekali tidak ada mendalilkan tentang kesalahan penghitungan suara, apalagi menguraikan secara jelas dimana tempat penghitungan suara yang telah terjadi kesalahan penghitungan/penjumlahan suara sehingga terjadi perbedaan angka yang merugikan Pemohon, sebagaimana yang disyaratkan oleh Perundang-undangan diatas;----
b. Bahwa berdasarkan Pasal 6 ayat 2 huruf (b) angka 3 PMK Nomor 15 Tahun 2008, disyaratkan agar permohonan sekurang-kurangnya "memuat permintaan /petitum untuk menetapkan hasil penghitungan suara yang benar menurut Pemohon", akan tetapi permohonan pemohon a quo sama sekali tidak memuat petitum sebagaimana disyaratkan dalam pasal tersebut;--- c. --- B
ahwa substansi permohonan pemohon tidak termasuk obyek perselisihan hasil pemilukada. Bahwa di dalam permohonannya Pemohon mempersoalkan hal-hal sebagai berikut:
a. Tahapan Verifikasi pasangan Bakal Calon yang cacat administrasi.
b. Keabsahan Dukungan Partai Politik
c. Kepengurusan Partai pengusung yang tidak legitimate.
9. Bahwa ketiga hal tersebut diatas adalah keberatan yang tidak termasuk dalam ketentuan Pasal 75 UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi juncto Pasal 6 ayat (2) huruf b Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Pasal 106 (2) UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah, sehingga tidak sepatutnya diajukan sebagai dasar permohonan karena bukan objek dari perselisihan hasil Pemilukada, untuk itu sudah sepatutnya permohonan dari Pemohon dinyatakan tidak dapat diterima;---
10. Bahwa dengan demikian, sesuai Pasal 13 ayat (3) huruf a Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Beracara dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah, sebelum melanjutkan pemeriksaan terhadap pokok permohonan, perlu terlebih dahulu Mahkamah mempertimbangkan sekaligus menyatakan Eksepsi Termohon beralasan hukum untuk dikabulkan (vide Putusan Mahkamah Konstitusi No. 23/PHPU.D-VIII/2010 hal. 23 jo No. 29/PHPU.D-VIII/2010 hal. 42) dan menyatakan Permohonan Pemohon tidak dapat diterima (niet onvankelijk verklaard);---