SUARA PROSENTASE 1
H. Safriadi, S. Dan
II. Dalam Eksepsi
Permohonan Pemohon Tidak Memenuhi Syarat Sebagai Sengketa Pemilihan Umum dan Salah Objek (error in objecto)
Bahwa substansi permohonan para Pemohon adalah mengenai permohonan pembatalan penetapan hasil penghitungan suara Pemilukada Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Aceh Singkil Periode 2012-2017 akan tetapi baik posita maupun petitum permohonan tidak mencerminkan hal tersebut sehingga seharusnya permohonan yang demikian tidak diterima oleh Mahkamah dengan alasan-alasan sebagai berikut:
1. Bahwa di dalam dalil permohonannya tidak satupun dalil yang menguraikan tentang keberatan yang berkenaan dengan hasil penghitungan suara yang mempengaruhi terpilihnya pasangan calon dan selanjutnya membuktikan hasil penghitungan suara yang benar menurut Pemohon;
2. Bahwa dengan berlakunya ketentuan Pasal 106 ayat (2) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang menetapkan bahwa:
”Pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud ayat (1) hanya berkenaan dengan hasil penghitungan suara yang mempengaruhi terpilihnya pasangan calon”
Selanjutnya, di dalam ketentuan Pasal 94 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2005, ditetapkan: ”Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya berkenaan dengan hasil penghitungan suara yang mempengaruhi terpilihnya pasangan calon”.
Kemudian dalam Pasal 1 angka 8 dan Pasal 4 PMK 15/2008, ditegaskan sebagai berikut:
Pasal 1 angka 8, ”Permohonan adalah pengajuan keberatan terhadap penetapan hasil penghitungan suara Pemilukada”.
Pasal 4, ”Obyek perselisihan Pemilukada adalah hasil penghitungan suara yang ditetapkan oleh Termohon yang mempengaruhi:
a. Penetapan pasangan calon yang dapat mengikuti putaran kedua Pemilukada; atau
b. Terpilihnya pasangan calon sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerah”.
3. Bahwa seiring dengan alasan Pihak Terkait di atas, maka berdasarkan ketentuan Pasal 74 dan Pasal 75 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi juncto Pasal 4 PMK 15/2008, permohonan Pemohon bukan menjadi kewenangan dari Mahkamah Konstitusi.
4. Bahwa merujuk pada permohonan Pemohon dalam perkara ini, Pihak Terkait tidak menemukan korelasi permohonan Pemohon yang dapat memenuhi ketentuan Pasal 4 PMK 15/2008;
5. Bahwa selanjutnya berdasarkan Pasal 6 ayat (1) huruf b PMK 15/2008 ditetapkan bahwa permohonan sekurang-kurangnya memuat uraian yang jelas mengenai:
1) Kesalahan hasil penghitungan suara yang ditetapkan oleh Termohon;
2) Permintaan/Petitum untuk membatalkan hasil penghitungan suara yang ditetapkan oleh Termohon;
3) Permintaan/Petitum untuk menetapkan hasil penghitungan suara yang benar menurut Pemohon.
6. Bahwa berdasarkan seluruh uraian dalil permohonan Pemohon atau dalam permintaan amar putusannya, Pemohon nyata-nyata tidak mencantumkan permohonan/petitum agar Mahkamah Konstitusi yang memeriksa dan mengadili perkara ini menetapkan hasil penghitungan suara yang benar menurut Pemohon;
7. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 13 ayat (3) huruf a PMK 15/2008 yang menyatakan, amar Putusan Mahkamah Konstitusi dapat menyatakan Permohonan tidak dapat diterima apabila Pemohon dan atau permohonan tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6 Peraturan ini. Fakta yang menunjukkan bahwa dalam permintaan amar putusan, Pemohon tidak menuliskan permintaan/petitum untuk menetapkan hasil penghitungan suara yang benar menurut Pemohon adalah bukti bahwa syarat sebagaimana ditetapkan oleh Pasal 6 ayat (2) huruf b angka 3 PMK 15/2008 tidak dipenuhi oleh Pemohon;
8. Bahwa objek utama keberatan dalam permohonan para Pemohon adalah terhadap Berita Acara Rapat Pleno Komisi Independen Pemilihan Kabupaten Aceh Singkil Nomor 28/BA.RP/KIP-A.Skl/2011, tanggal 31 Desember 2011 tentang Penetapan Pasangan Bakal Calon menjadi Pasangan Calon; sedangkan Keputusan Komisi Independen Pemilihan Nomor 15/BA.RP/KIP-A.SKL/2012, tanggal 14 April 2012 tentang Berita Acara Rapat Pleno Komisi Independen Pemilihan Kabupaten Aceh Singkil Tentang Penetapan Hasil Perolehan Suara Pasangan Calon Gubernur/Wakil Gubernur dan Bupati/Wakil Bupati Dalam Pemilihan Umum Kepala daerah/Wakil Kepala Daerah di Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2012 ditempatkan sebagai objek permohonan yang kedua sebagaimana termuat dalam angka 3 petitum permohonan para Pemohon. Selanjutnya pada petitumnya angka 4 para Pemohon meminta pembatalan terhadap Surat Keputusan Komisi Independen Pemilihan Kabupaten Aceh Singkil Nomor 1 Tahun 2012, tanggal 14 April 2012 tentang Penetapan Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Terpilih dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2012;
9. Bahwa konstruksi penempatan objek permohonan yang demikian adalah salah objek (error in objecto), seharusnya para Pemohon berdasarkan hukum acara dan yurisprudensi Mahkamah, pertama-pertama harus mengajukan keberatan terhadap penetapan hasil rekapitulasi perolehan suara Komisi Independen Pemilihan Kabupaten Aceh Singkil Pada Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Singkil Tahun 2012 yakni Keputusan Komisi Independen Pemilihan Kabupaten Aceh Singkil Nomor 15/BA.RP/KIP-A.SKL/2012, tanggal 14 April 2012, bukannya terhadap Surat Keputusan Komisi Independen Pemilihan Kabupaten Aceh Singkil Nomor 28/BA.RP/KIP-A.Skl/2011, tanggal 31 Desember 2011 tentang Penetapan Pasangan Bakal Calon menjadi Pasangan Calon; Hal ini logis mengingat produk akhir dari keseluruhan rangkaian proses penghitungan suara bermuara pada penetapan hasil rekapitulasi perolehan suara.
10. Bahwa bantahan Pihak Terkait mengenai objek permohonan Pemohon salah objek (error in objecto) bukanlah sesuatu yang mengada-ngada namun memiliki pijakan yang jelas yakni merujuk pada yurisprudensi Mahkamah Konstitusi Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 74/PHPU-D-VIII/2010 dalam
perkara Pemilukada Kabupaten Luwu Timur. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 74/PHPU-D-VIII/2010 dalam perkara Pemilukada Kabupaten Luwu Timur yang menyatakan:
“....Berdasarkan objek permohonan a quo, Mahkamah berpendapat bahwa yang menjadi objek utama permohonan Pemohon adalah Keputusan Termohon Nomor 30/SK/P.KWK/KPU-LT/VII/2010, tertanggal 1 Juli 2010 tentang Penetapan Pasangan Calon Terpilih Peserta Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Luwu Timur Tahun 2010, sedangkan Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah di Tingkat Kabupaten/Kota oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Luwu Timur, tertanggal 28 Juni 2010 merupakan objek permohonan Pemohon yang kedua. Dengan demikian, Pemohon telah salah dalam menempatkan dan menjadikan objek utama permohonannya berupa Keputusan KPU Kabupaten Luwu Timur tentang Penetapan Pasangan Calon Terpilih. Hasil Rekapitulasi Suara Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Luwu Timur dituangkan oleh KPU Kabupaten Luwu Timur dalam bentuk Berita Acara Rapat Pleno Penghitungan Rekapitulasi Suara. Oleh karena itu, seharusnya yang menjadi objek sengketa perselisihan Pemilukada berdasarkan Pasal 106 ayat (2) UU 32/2004 dan Pasal 4 PMK 15/2008 adalah Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Luwu Timur, tertanggal 28 Juni 2010 berikut lampirannya, karena KPU Kabupaten Luwu Timur tidak menerbitkan Keputusan tentang Penetapan Hasil Rekapitulasi Penghitungan Suara. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka permohonan Pemohon salah mengenai objeknya (error in objecto)”. 11. Mencermati putusan Mahkamah tersebut di atas dan berbagai putusan
Mahkamah lainnya mengenai objek sengketa, dapat disimpulkan bahwa standar objek sengketa adalah hasil penghitungan suara yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum yang dapat dituangkan dalam bentuk dokumen Berita Acara Rakapitulasi Hasil Hasil Penghitungan Suara dan Penetapan Hasil Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara atau hanya dalam bentuk dokumen Berita Acara Rakapitulasi Hasil Penghitungan Suara. Sedangkan penetapan pasangan calon yang memenuhi syarat sebagai peserta Pemilukada
bukanlah objek sengketa karena koreksi atas penetapan dimaksud merupakan konsekuensi hukum apabila permohonan Pemohon pasangan bakal calon dikabulkan.
12. Berdasarkan uraian tersebut di atas, Pihak Terkait memohon keadilan formil sekaligus substantif kepada Mahkamah agar mengabulkan eksepsi Pihak Terkait. Meskipun diakui eksepsi bersifat formil/prosedural, namun merupakan pintu masuk bagi keadilan substantif. Apabila neraca putusan terlalu berat pada keadilan substantif maka berakibat pada kegaduhan yang dimunculkan oleh spekulan keadilan dan sudah barang tentu menyulitkan Mahkamah sebagai pemutus keadilan, yang pada gilirannya akan mendistorsi keadilan substantif bagi sekian banyak para pemohon keadilan pada Mahkamah. Lagipula eksespi Pihak Terkait sangat beralasan dan memiliki dasar hukum yang kuat yaitu Pasal 106 ayat (2) UU 32/2004, Pasal 4 PMK 15/2008 dan yurisprudensi Mahkamah Konstitusi dalam Putusan Nomor 74/PHPU-D-VIII-2010.