• Tidak ada hasil yang ditemukan

DaLaM MEwUJUDkaN kOMITMEN NaSIONaL TErkaIT

Dalam dokumen MODUL: Kebijakan Nasional Perubahan Ikl (Halaman 35-45)

DENGaN PErUbahaN IkLIM

IV

Pemerintah Republik Indonesia (Pemerintah RI) telah menghasilkan beberapa peraturan dan kebijakan mengenai adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Beberapa peraturan yang berkaitan langsung dengan perubahan iklim antara lain adalah :

• Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan emisi

Gas Rumah Kaca (RAN GRK)

• Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Inventarisasi Gas Rumah

Kaca Nasional

• Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2011 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru dan

Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut

• Permenhut No. P.68 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Demonstration Activities Pengurangan

emisi Karbon dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (ReDD).

• Permenhut No. P.30 tahun 2009 tentang Tata Cara Pengurangan emisi dari Deforestasi &

kEraNGka kEbIJakaN DaN aCUaN NOrMaTIF PEMErINTah INDONESIa DaLaM MEwUJUDkaN kOMITMEN NaSIONaL TErkaIT DENGaN PErUbahaN IkLIM

26

• Permenhut No P.36 tahun 2009 tentang Tata Cara Perizinan Usaha Pemanfaatan Penyerapan

dan/atau Penyimpanan Karbon pada Hutan Produksi dan Hutan Lindung.

• Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2010 tentang Satuan Tugas Persiapan

Pembentukan Kelembagaan ReDD+

• Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2011 tentang Penundaan Pemberian

Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut

• Keputusan Presiden Nomor 25 tahun 2011 tentang Satuan Tugas Persiapan Kelembagaan

ReDD+

• Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : P. 20/Menhut-II/2012 tentang

Penyelenggaraan Karbon Hutan

• Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 2013 tentang perubahan atas keputusan Presiden

No 25 Tahun 2011 tentang Satuan Tugas Persiapan Kelembagaan Reducing Emissions from

Deforestation and Forest Degradation (ReDD+)

Selain itu telah ditetapkan dokumen-dokumen terkait dengan perubahan iklim antara lain: Rencana

Aksi Nasional Pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (RAN – GRK) dan Indonesia Climate Change

Sectoral Roadmap (ICCSR). RAN GRK adalah dokumen perencanaan jangka panjang yang

me-ngatur usaha–usaha pengurangan emisi gas rumah kaca yang terkait dengan substansi Rencana Pembangunan jangka Panjang (RPjP) dan Rencana Pembangunan jangka Menengah (RPjM). RAN-GRK merupakan acuan utama bagi aktor pembangunan di tingkat nasional, provinsi, dan kota/ kabupaten dalam perencanaan, implementasi, monitor, dan evaluasi pengurangan emisi gas rumah kaca. Proses legalisasi RAN GRK dibuat melalui Peraturan Presiden.

RAN GRK mengamanatkan kepada Pemerintah Provinsi untuk menyusun rencana aksi pengurangan emisi untuk tingkat provinsi, yang selanjutnya disebut dengan Rencana Aksi Daerah Pengura ngan emisi Gas Rumah Kaca (RAD-GRK). Substansi pada RAN-GRK merupakan dasar bagi setiap provinsi dalam mengembangkan RAD-GRK sesuai dengan kemampuan serta keterkaitannya terhadap kebijakan pembangunan masing–masing provinsi. Dengan demikian, RAD-GRK kemudian akan ditetapkan melalui Peraturan Gubernur. Penyusunan RAD-GRK diharapkan merupakan

proses bottom-up yang menggambarkan bagaimana langkah yang akan ditempuh setiap provinsi

dalam mengurangi emisi gas rumah kaca, sesuai dengan kapasitas masing–masing. Lebih lanjut, setiap pemerintah provinsi perlu menghitung besar emisi gas rumah kaca masing–masing, target pengurangan, dan jenis sektor yang akan dikurangi emisinya.

KeBIjAKAN NASIoNAL PeRUBAHAN IKLIM

kEraNGka kEbIJakaN DaN aCUaN NOrMaTIF PEMErINTah INDONESIa DaLaM

MEwUJUDkaN kOMITMEN NaSIONaL TErkaIT DENGaN PErUbahaN IkLIM

27

Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2011 tentang rencana aksi Nasional Penurunan Emisi Gas rumah kaca (raN Grk)

Rencana Aksi Nasional Penurunan emisi Gas Rumah Kaca (RAN GRK) berisi Dokumen Rencana Kerja untuk pelaksanaan berbagai kegiatan yang secara langsung dan tidak langsung menurunkan emisi gas rumah kaca sesuai dengan target pembangunan nasional.

Sesuai dengan komitmen Pemerintah Indonesia menyikapi kesepakatan internasional menghadapi perubahan iklim, target penurunan emisi Gas Rumah Kaca melalui usaha sendiri (26 %) dari Sektor Kehutanan adalah sebesar 0,672 Giga Ton Co2e, sedangkan target skema penurunan emisi Gas Rumah Kaca dengan dukungan internasional (41 %) dari Sektor Kehutanan adalah sebesar 1.039 Giga Ton Co2e (Perpres Nomor 61 Tahun 2011)

Kebijakan yang ditetapkan dalam rangka mewujudkan target penurunan emisi gas rumah kaca dengan skema (26%) dan (41%) tersebut diatas adalah sebagai berikut :

• Penurunan emisi Gas Rumah Kaca, meningkatkan kenyamanan lingkungan, mencegah

bencana, menyerap tenaga kerja dan menambah pendapatan masyarakat serta negara.

• Pengelolaan sistem jaringan dan tata air pada rawa

• Pemeliharaan jaringan reklamasi rawa (termasuk lahan gambut yang sudah ada)

• Peningkatan produktivitas dan eisiensi produksi pertanian pada lahan gambut dengan emisi

serendah mungkin dan mengabsorpsi Co2 seoptimal mungkin.

• Strategi yang ditetapkan dalam Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2011 untuk pelaksanaan

Rencana Aksi Nasional Penurunan emisi Gas Rumah Kaca (RAN GRK) adalah sebagai berikut :

• Menekan laju deforestasi dan degradasi hutan untuk menurunkan emisi GRK

• Meningkatkan penanaman untuk meningkatkan penyerapan GRK

• Meningkatkan upaya pengamanan hutan dari kebakaran dan pembalakan liar dan penerapan

Sustainable Forest Management (SFM)

• Melakukan perbaikan tata air (jaringan) dan blok-blok pembagi, serta menstabilkan elevasi

muka air pada jaringan tata air rawa

• Mengoptimalisasikan sumber daya lahan dan air tanpa melakukan deforestasi

• Menerapkan teknologi pengelolaan lahan budidaya pertanian denga nemisi GRK serendah

kEraNGka kEbIJakaN DaN aCUaN NOrMaTIF PEMErINTah INDONESIa DaLaM MEwUJUDkaN kOMITMEN NaSIONaL TErkaIT DENGaN PErUbahaN IkLIM

28

Tabel. 2. Rencana aksi penurunan emisi gas rumah kaca (RAN GRK) sampai dengan tahun 2020 (PP nomor 61 tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN GRK)

NO rENCaNa akSI kEGIaTaN/SaSaraN PErIODE LOkaSI

INDIkaSI PENUrUNaN EMISI Grk (Juta Ton CO2c) PENaNGGUNG Jawab 1 Pembangunan Kesatuan Pen-gelolaan Hukum (KPH) Terbentuknya KPH sebanyak 120 Unit

2010 -2014 Seluruh Provinsi 31,15 Kementerian Kehutanan 2 Perencanaan pemanfaatan dan peningkatan usaha kawasan hutan Terlaksananya pemberian Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu - Hutan ALam/Restorasi ekosistem (IUPHHK-HA/Be) pada areal bekas tebangan (Logged over Area/LoA) seluas 2,5 juta ha

2010 -2014 12 Provinsi: jambi, Sumba, Kalteng, Kalbar, Kalsel, Sulbar, Sulteng, Sultra, Sulut, Gorontalo dan Papua

22,94 Kementerian Kehutanan

Tercapainya peningkatan produksi hasil hutan bukan kayu/jasa lingkungan

2010 -2014 Seluruh Provinsi 1,38 Kementerian Kehutanan

3 Pengembangan pemanfaatan jasa lingkungan

Terlaksananya demonstration activity Reducing emission from Deforestation and Degradation (ReDD) di kawasan konservasi (hutan gambut) sebanyak 2 kegiatan

2010 -2014 2 Provinsi: jambi dan Kalteng 3,67 Kementerian Kehutanan 4 Pengukuhan kawasan hutan Terlaksananya penataan Batas Kawasan Hutan (batas luar dan batas fungsi kawasan hutan) sepanjang 25.000 km

2010 -2014 Seluruh Provinsi 123,41 Kementerian Kehutanan 5 Peningkatan, rehabilitasi, operasi dan pemeliharaan jaringan reklamasi rawa (termasuk lahan bergambut) a. Terlaksananya peningkatan jaringan reklamasi rawa seluas 10.000 ha

b. Terlaksananya rehabilitasi jaringan reklamasi rawa seluas 450.000 ha c. Terlaksananya operasi & pemeliharaan jaringan reklamasi rawa seluas 1,2 juta ha

2010 - 2014 23 Provinsi: NAD, Sumut, Riau, Sumbar, jambi, Bengkulu, Sumsel, Babel, Lam-pung, Banten, jabar, jateng, jatim, Kalbar, Kalteng, Kalsel, Kaltim, Gorontalo, Sulbar, Sulteng, Sultra, Sulsel dan Papua 5,23 Kementerian Pekerjaan Umum 6 Pengelolaan lahan gambut untuk pertanian berke-lanjutan Penelitian dan pengembangan sumber daya lahan (termasuk lahan gambut) untuk pengembangan pengelolaan lahan pertanian seluas 325.000 ha

2011 - 2020 11 Provinsi: NAD, Sumut, Riau, jambi, Sumsel, Sumbar, Lam-pung, Kalbar, Kalsel, Kaltim dan Kalteng

103,98 Kementerian Pertanian 7 Pengembangan pengelolaan lahan pertanian di lahan gambut terlantar dan terdegradasi untuk mendukung sub-sektor perkebunan, peternakan dan bertikultura

Rehabilitasi, reklamasi dan realisasi lahan gambut terlantar, terdegradasi, pada areal pertanian, serta opti-malisasi lahan non-tanaman pangan seluas 250.000 ha

2011 - 2014 9 Provinsi: NAD, riau, jambi, Sumsel, Sumbar, Kalbar, Kalsel, Kaltim dan Kalteng

100,75 Kementerian Pertanian

KeBIjAKAN NASIoNAL PeRUBAHAN IKLIM

kEraNGka kEbIJakaN DaN aCUaN NOrMaTIF PEMErINTah INDONESIa DaLaM

MEwUJUDkaN kOMITMEN NaSIONaL TErkaIT DENGaN PErUbahaN IkLIM

29

8 Penyelenggaraan rehabilitasi hutan dan lahan dan reklamasi hutan di DAS prioritas

Terlaksananya rehabiltasi hutan pada DAS prioritas seluas 500.000 ha

2010 - 2014 Seluruh Provinsi 18,35 Kementerian Kehutanan

Terlaksananya rehabilitasi lahan pada DAS prioritas seluas 1.954.000 ha

2010 - 2014 Seluruh Provinsi kecuali DKI jakarta

71,71 Kementerian Kehutanan

Pembuatan hutan kota seluas 6.000 ha

2010 - 2014 Seluruh Provinsi kecuali DKI jakarta

0,22 Kementerian Kehutanan Rehabiltasi hutan mangrove/

hutan pantai seluas 40.000 ha

2010 - 2014 Seluruh Provinsi kecuali DIY 1,47 Kementerian Kehutanan 9 Pengembangan perhutanan sosial Terfasilitasinya penetapan areal kerja pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (HKm)/Hutan Desa (HD) seluas 2.500.000 ha

2010 - 2014 25 Provinsi: NAD, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, jambi, Sumsel, Babel, Bengkulu, Lampung, DIY, NTB, NTT, Kalbar, Kalteng, Kalsel, Kaltim, Sulut, Gorontalo, Sulteng, Sulbar, Sulsel, Sultra, Maluku dan Malut

91,75 Kementerian Kehutanan

Terfasilitasinya pembentukan kemitraan usaha dalam hutan rakyat seluas 250.000 ha

2010 - 2014 11 Provinsi: Riau, SUmsel, Banten, jabar, jateng, DIY, jatim, Kalbar, Kalteng, Kalsel dan Kaltim 9,18 Kementerian Kehutanan 10 Pengendalian kebakaran hutan Tercapainya penurunan jumlah hotspot di pulau Kalimantan, Pulau Sumatera dan Pulau Sulawesi sebesar 20% setiap tahun dari rerata 2005 - 2009, dengan tingkat keberhasilan 67,20%

2010 - 2014 11 Provinsi: Sumut, Riau, Kepri, jambi, Sumsel, Kalbar, Kalteng, Kalsel, Kaltim, Sulsel dan Sulbar

21,77 Kementerian Kehutanan 11 Penyidikan dan pengamanan hutan Terselesaikannya penanganan kasus baru tindak pidana kehutanan (illegal logging, penambangan ilegal dan kebakaran) minimal sebanyak 75%

2010 - 2014 10 Provinsi: Sumut, Riau, Kepri, jambi, Sumsel, Kalbar, Kalteng, Kalsel, Sulsel dan Sulbar 2,30 Kementerian Kehutanan 12 Pengembangan kawasan konser-vasi, ekosistem esensial dan pembinaan hutan lindung Meningkatnya pengelolaan ekosistem asensial sebagai penyangga kehidupan sebesar 10%

2010 - 2014 17 Provinsi: NAD Sumut, jambi, Babel, Sumbar, Riau, Sulteng, Kepulauan Seribu, ja-bar, jateng, jatim, Bali, NTB, Kalbar, Kalteng, Gorontalo dan Papua Barat

41,50 Kementerian Kehutanan

Terlaksananya penanganan perambahan kawasan hutan konservasi dan hutan lindung pada 12 Provinsi prioritas

2010 - 2014 12 Provinsi: Sumut, Riau, jambi, Sumsel, Sumbar, Lampung, Kaltim, Kalteng, Kalsel, Kalbar, Sultra dan Sulteng 49,77 Kementerian Kehutanan 13 Peningkatan usaha hutan tanaman Terlaksananya pencadangan areal hutan tanaman industri dan hutan tanaman rakyat (HTI/HTR) seluas 3 juta ha

2010 - 2014 26 Provinsi: NAD, Sumut, Sumbar, Riau, jambi, Sumsel, Bengkulu, Lampung, Babel, DIY, NTB, NTT, Kalbar, Kalteng, Kalsel, Kaltim, Sulut, Sultra, Sulteng, Sulsel, Sulbar, Gorontalo, Maluku, Malut, Papua dan Papua Barat

110,10 Kementerian Kehutanan

kEraNGka kEbIJakaN DaN aCUaN NOrMaTIF PEMErINTah INDONESIa DaLaM MEwUJUDkaN kOMITMEN NaSIONaL TErkaIT DENGaN PErUbahaN IkLIM

30

Rencana Aksi Nasional penurunan emisi Gas Rumah Kaca dikembangkan untuk mencapai target nasional, target sektoral, acuan dan aksi prioritas untuk mitigasi perubahan iklim semua sektor yang memproduksi emisi. RAN GRK berfungsi sebagai sebuah panduan kebijakan pemerintah pusat pada tahun 2010-2020 dan sektor-sektor yang terkait untuk mengurangi emisi sebanyak 26% dengan usaha sendiri dan 41% jika mendapat bantuan internasional.

rencana aksi Daerah Gas rumah kaca (raD Grk)

Dalam rangka tindak lanjut pelaksanaan lebih rinci, RAN GRK menganjurkan perlunya untuk membuat RAD GRK sebagai dokumen kerja yang menjadi dasar untuk pemerintah daerah, masyarakat dan swasta untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas langsung dan tidak langsung yang bermaksud untuk mengurangi emisi GRK pada kurun waktu 2010-2020 dengan mengacu kepada rencana pembangunan daerah.

Sebagaimana telah disebutkan dalam Peraturan Presiden No. 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Penurunan emisi Gas Rumah Kaca pada pasal 2 ayat 2 yang mengamanatkan bahwa RAN GRK adalah dasar bagi pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat dan sektor bisnis di dalam merencanakan, melaksanakan, mengawasi dan mengevaluasi RAD GRK.

oleh karenanya RAD GRK pada sektor kehutanan seharusnya disusun dengan memuat substansi rencana aksi mitigasi yang meliputi :

Gambar 10. Substansi dari RAD GRK

Secara detail substansi dari RAD GRK mengacu kepada substansi yang telah diamanatkan dalam RAN GRK, dimana secara garis besar dapat dijelaskan dalam bagan berikut ini :

KeBIjAKAN NASIoNAL PeRUBAHAN IKLIM

kEraNGka kEbIJakaN DaN aCUaN NOrMaTIF PEMErINTah INDONESIa DaLaM

MEwUJUDkaN kOMITMEN NaSIONaL TErkaIT DENGaN PErUbahaN IkLIM

31

SUBSTANSI RAD GRK 1. Sumber Potensi dan karakteris Emisi GRK 2."BAU Baseline" Penurunan Emisi GRK 3. Rencana Aksi M gasi yang

diusulkan Prioritas dari 4. Skala Rencana Aksi Mi gasi yang diusulkan

5. Kelembagaan dan Pembiayaan

Gambar 11. Kerangka Rencana Aksi Daerah (RAD GRK)

keterkaitan antara rPJP, rPJM, rENSTra dengan raN Grk dan raD Grk dan rEDD+

Rencana Jangka Panjang Kementerian Kehutanan (2006 – 2025) telah mengidentiikasi beberapa

strategi yang secara tidak langsung berkaitan dengan sumber emisi (kebakaran hutan, konservasi hutan, dan manajemen hutan bakau). Setidaknya terdapat tiga strategi utama yang terkait dengan hal tersebut:

1. SFM – Strategi Mitigasi Hutan, 2. ReDD – Strategi Mitigasi Hutan, dan 3. jenis tanaman – Strategi Mitigasi Hutan

Strategi tersebut didukung dengan beberapa program seperti program riset dan pengembangan hutan, perencanaan makro hutan, stabilisasi area hutan, dan program manajemen pendukung dan teknis. Lebih lanjut, terdapat pula dua peraturan menteri; yakni Peraturan Menteri Nomor 68/2008 me ngenai penyelenggaraan pengurangan emisi karbon dari deforestasi dan degradasi hutan dan Pe raturan Menteri Nomor 39/2009 mengenai tata cara pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (ReDD). Beberapa peraturan terkait sektor kehutanan juga berasal dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Di dalam Rencana Aksi Nasional Pengurangan emisi Gas Rumah Kaca, sektor kehutanan memiliki potensi yang besar dalam upaya penurunan emisi GRK, diantaranya yaitu pengelolaan hutan yang berkelanjutan dari hutan produksi, hutan konservasi, dan hutan lindung, serta pembatasan konversi lahan hutan menjadi non-hutan dan degradasi kualitas hutan, pengelolaan hutan pada lahan gambut

kEraNGka kEbIJakaN DaN aCUaN NOrMaTIF PEMErINTah INDONESIa DaLaM MEwUJUDkaN kOMITMEN NaSIONaL TErkaIT DENGaN PErUbahaN IkLIM

32

dan pencegahan kebakaran hutan. Arah kebijakan untuk penurunan emisi GRK di bidang kehutanan diarahkan untuk mensinergikan program-program bidang kehutanan seperti;

1. Mensinergikan kebijakan, perencanaan, dan program para pemangku kepentingan di bidang kehutanan

2. Mempertajam kebijakan dan langkah-langkah pengurangan emisi karbon dari bidang kehutanan yang secara efektif dapat menyelesaikan masalah penyebab deforestasi dan degradasi hutan. 3. Mendukung pengelolaan hutan berkelanjutan.

4. Merevitalisasi ekosistem hutan yang terdegradasi dengan pelibatan masyarakat.

5. Menekan laju deforestasi dari berbagai gangguan seperti penebangan liar, kebakaran hutan, konversi hutan untuk kepentingan non-hutan.

6. Mengembangkan hutan tanaman untuk pemenuhan permintaan hasil hutan kayu untuk keperluan industri kehutanan.

Berikut ini adalah kerangka keterkaitan antara dokumen/kebijakan Nasional-Daerah dengan RAN-RAD GRK.

Gambar 12. Kerangka Keterkaitan Dokumen/Kebijakan Nasional-Daerah dengan RAD GRK

Secara umum, Indonesia mengejar strategi ganda untuk upaya mitigasi pada sektor kehutanan, yang mencerminkan dua fungsi utama hutan dalam konteks perubahan iklim, yaitu sebagai sumber karbon dan penyerap karbon. Melindungi hutan dengan upaya-upaya reboisasi dan rehabilitasi hutan akan

KeBIjAKAN NASIoNAL PeRUBAHAN IKLIM

kEraNGka kEbIJakaN DaN aCUaN NOrMaTIF PEMErINTah INDONESIa DaLaM

MEwUJUDkaN kOMITMEN NaSIONaL TErkaIT DENGaN PErUbahaN IkLIM

33

meningkatkan kapasitas hutan sebagai penyerap karbon, sedangkan deforestasi dan degradasi hutan akan meningkatkan emisi gas rumah kaca. Maka strategi mitigasi yang dirumuskan oleh sektor kehutanan adalah sebagai berikut:

1. SFM – Strategi Mitigasi Hutan 1: Meningkatan stok karbon hutan dan menghindari emisi terkait dengan degradasi dan deforestasi yang tidak terencana.

2. ReDD – Strategi Mitigasi Hutan 2: Mengurangi jumlah emisi melalui manajemen konversi lahan hutan.

3. Perkebunan – Strategi Mitigasi Hutan 3: Meningkatkan kapasitas penyerapan karbon melalui promosi perkebunan di lahan tutupan non hutan.

Dalam kebijakan saat ini banyak peran dari perkebunan untuk meningkatkan kapasitas penyerapan karbon. Tetapi sedikit yang terencana, di luar pengembangan KPHs, untuk memastikan bahwa pohon-pohon yang terpelihara dengan baik dan tumbuh, atau untuk memantau secara akurat pertumbuhan perkebunan dan penyerapan karbon. Pembangunan dan pembentukan KPH merupakan sarana penting untuk menjaga keabadian dari penyerapan karbon di hutan dan karena itu harus dilihat sebagai prasyarat penting untuk semua aktivitas mitigasi.

Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kehutanan tahun 2010-2014 disusun berdasarkan kondisi saat ini dan permasalahan serta isu-isu strategis dalam pembangunan kehutanan ke depan. Berdasarkan arah kebijakan dan strategi pembangunan nasional mengenai peningkatan konservasi dan rehabilitasi sumber daya hutan, Kementerian Kehutanan memiliki visi yang tertuang di dalam Renstra Kementerian Kehutanan Tahun 2010-2014, yaitu “Hutan Lestari untuk Kesejahteraan Masyarakat yang Berkeadilan”. Guna mewujudkan visi tersebut ditetapkan beberapa misi Kementerian Kehutanan, dengan arah kebijakan prioritas pembangunan pada;

1. Pemantapan kawasan hutan.

2. Rehabilitasi hutan dan peningkatan daya dukung daerah aliran sungai (DAS). 3. Pengamanan hutan dan pengendalian kebakaran hutan.

4. Konservasi keanekaragaman hayati.

5. Revitalisasi pemanfaatan hutan dan industri kehutanan. 6. Pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan.

7. Mitigasi dan adaptasi perubahan iklim sektor kehutanan. 8. Penguatan kelembagaan kehutanan.

Khusus kegiatan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim sektor kehutanan seperti Nomor 7 dalam langkah-langkah strategis Kementerian Kehutanan sudah disusun kegiatan-kegiatan yang terkait langsung dengan penurunan emisi GRK. Kegiatan-kegiatan yang dimaksud adalah:

kEraNGka kEbIJakaN DaN aCUaN NOrMaTIF PEMErINTah INDONESIa DaLaM MEwUJUDkaN kOMITMEN NaSIONaL TErkaIT DENGaN PErUbahaN IkLIM

34

• Penelitian Kebijakan Kehutanan dan Perubahan Iklim

• Pengendalian Kebakaran Hutan

• Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan

• Penyelenggaraan Rehabilitasi Hutan dan Lahan dan Reklamasi Hutan

• Peningkatan Pengelolaan Hutan Alam Produksi

• Peningkatan Pengelolaan Hutan Tanaman

• Pembinaan dan Koordinasi Kerja Sama Luar Negeri

Keterkaitan Sistem Perencanaan RAN GRK dan RAD GRK dengan Sistem Perencanaan Pembangunan ekonomi Nasional (RPjMN s/d DIPA) dan Sistem Perencanaan Pembangunan ekonomi Daerah (RPjMD s/d DIPDA) dapat digambarkan melalui bagan alur sebagai berikut :

raN Grk dan RAD GRK perlu dilaksanakan dalam kerangka institusi yang sesuai dan telah ditetapkan sebelumnya. Kerangka institusi nasional yang berperan dalam mendukung pelaksanaan RAN GRK telah ditetapkan dengan melibatkan beberapa komponen sebagai berikut:

Gambar 11. Para Pemangku Kepentingan RAN GRK dan RAD GRK

Dalam dokumen MODUL: Kebijakan Nasional Perubahan Ikl (Halaman 35-45)

Dokumen terkait