• Tidak ada hasil yang ditemukan

DALAM POKOK PERKARA

Mahkamah Agung Republik Indonesia

DALAM POKOK PERKARA

Menimbang, bahwa maksud dan tujuan gugatan Penggugat yang pada pokoknya adalah sebagaimana diuraikan diatas ;

Menimbang, bahwa Majelis hakim terlebih dahulu akan mempertimbangkan tentang formalitas pengajuan gugatan a quo sebagai perselisihan hubungan industrial antara Penggugat dengan Para Tergugat;

Menimbang, bahwa pengajuan gugatan Penggugat dilampiri den gan risalah perundingan tertanggal 17 Oktober 2019 serta anjuran Dinas Tenaga Kerja Kota Ternate Nomor : 567/817/X/Disnaker /2019 tanggal 17 Oktober 2019, yang membuktikan bahwa pengajuan gugatan a quo telah lebih dahulu melalui proses mediasi, yang dengan demikian telah memenuhi ketentuan Pasal 83 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industria (UU PPHI), sehingga dengan demikian pengajuan gu gatan a quo secara formil telah terpenuhi dan dapat diterima ;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 47 dari 63 Putusan Nomor 21/Pdt.Sus.PHI/2019/PN.Tte

Menimbang, bahwa selanjutnya para Penggugat mengajukan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Ternate sesuai ketentuan Pasal 14 ayat 2 UU PPHI dengan Register perkara Nomor 21/Pdt.Sus-PHI/2019/PN Tte tertanggal 19Desember 2019;

Menimbang, bahwa Penggugat dalam gugatannya pada pokoknya mendalilkan hal-hal sebagai berikut :

1. Bahwa Penggugat Suhardi Sahmil S.Pd,.M.Pd, NIDN : 1205128501 merupakan Dosen Tetap di Kampus STKIP Kie Raha berdasarkan SK No. 134/SK.YPSDM-MUI/VII/2016 tanggal 1 Juli 2016 dan menerima upah terakhir sebesar Rp2.955.744,00 ;

2. Bahwa pada tahun 2018, STKIP Kie Raha mengalami sejumlah masalah, diantaranya kondisi keuangan kampus yang tidak stabil, sehingga berimbas pada pembayaran gaji Dosen menjadi tidak stabil. Menyikapi kondisi tersebut, Penggugat bersama Para Dosen Tetap lain nya di STKIP Kie Raha yang tergabung dalam Forum Dosen Tetap STKIP Kie Raha Ternate, pada bulan Mei 2019 sebanyak dua kali telah mendatangi Tergugat I untuk menanyakan permasalahan dan mencari solusi penyelesaian bersama, akan tetapi Tergugat I tidak meresponnya dengan baik, bahkan Tergugat I memberikan sanksi akademik kepada Penggugat melalui Surat Nomor : 478/A.K.VII/2019 tanggal 16 Juli 2019, yang isinya tidak memberikan tugas dan tanggungjawab sebagai dosen pembimbing. Atas tindakan Tergugat I yang semena-mena serta tidak peduli, maka Forum Dosen membuat dan menandatangani Pernyataan Sikap pada tanggal 6 Agustus 2019 yang berakibat Tergugat I memberikan surat sanksi Nomor : 604/A.K.VIII/2019 tanggal 9 Agustus 2019, yang isinya Penggugat tidak diberikan tanggungjawab mengajar (skorsing) di lingkungan STKIP Kie Raha Kota Ternate selama satu semester ganjil tah u n 2019- 2020. Surat tersebut ditembusakan kepada Tergugat II. Para Tergugat tanpa alasan dan dasar hukum yang jelas tidak lagi melakukan pembayaran gaji kepada Penggugat ;

3. Bahwa hak upah yang tidak dibayarkan tersebut yaitu upah untuk periode bulan Oktober 2018 dan untuk periode bulan Januari 2019 hingga Desember 2019 dengan total gaji yang belum dibayar : Rp41.145.600,00 (empat puluh satu juta seratus empat puluh lima ribu enam ratus rupiah);

Disamping pembayaran upah, Para Tergugat juga wajib membayar THR yan g belum dibayar selama 3 (tiga) tahun sebesar Rp9.540.000,00 ( sembilan juta lima ratus empat puluh ribu rupiah)

4. Bahwa atas tindakan Para Tergugat sebagaimana uraikan diatas, Penggugat mengajukan Permohonan Pemutusan Hubungan Kerja antara Penggugat dan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 48 dari 63 Putusan Nomor 21/Pdt.Sus.PHI/2019/PN.Tte

Para Tergugat berdasarkan ketentuan Pasal 169 ayat 1 huruf c dan d jo dan Pasal 169 ayat (2) UU Ketenagakerjaan, kepada Yang Mulia Majelis Hakim dan menetapkan hak Penggugat atas pembayaran sejumlah uang Pesangon yang harus dibayarkan kepada Penggugat adalah sejumlah : Rp36.570.000,00 (tiga puluh enam juta lima ratus tu juh puluh ribu rupiah). Menimbang, bahwa atas gugatan Penggugat tersebut diatas, Para Tergugat dalam jawabannya telah membantah dalil gugatan Penggugat yang pada pokoknya adalah sama, yaitu sebagai berikut :

1. Bahwa pengangkatan Penggugat sebagai dosen STKIP Kie Raha setelah Penggugat menyelesaikan studi Strata 2 (S2) yang pendanaan dilakukan oleh Tergugat II melalui Tergugat I berupa kesempatan untuk melanjutkan studi strata 2 (S2) di Universitas Negeri Manado yang dilakukan oleh Tergugat I, berdasarkan surat pernyataan Pengggugat melalui notaris Muhammad Anshar Abdullah Basinu, SH dengan nomor Legalisasi 0160/VI/2014, tanggal 23 Juni 2014;

2. Bahwa Penggugat pada semester ganjil (bulan September 2018 – Januari 2019) tahun akademik 2018 – 2019 tidak melaksanakan pembelajaran dengan baik, hal ini sesuai dengan Laporan Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah dan tidak melaksanakan penelitian serta pengabdian masyarakat, sebagaimana laporan dari LPPM tentang Penelitian dan Pengabdian, berdasarkan ketentuan UU Nomor 14 Tahun 2005 Pasal 60.

Oleh karena itu Tergugat I mengeluarkan surat sanksi pertama No.: 478/A.K.VII/2019 tanggal 16 Juli 2019 tentang kepatutan dan kerjasama yang baik dengan Tergugat I. Namun, Penggugat bersama dosen lain membuat petisi menanyakan hak upah tanggal 06 Agustus 2019. Dengan dasar tersebut Tergugat, tidak memberikan gaji kepada Penggugat karena Penggugat tidak melaksanakan tugas sebagaimana mestinya dan mengeluarkan surat sanksi kedua No. 604/A.K.VIII/2019 tanggal 9 Agustus 2019, yang isinya Penggugat tidak diberikan tanggungjawab mengajar selama satu semester ganjil tahun akademi 2019/2020 ,

3. Bahwa penggunaan kata pekerja/buruh, memiliki perbedaan tugas Penggugat sebagai dosen, hal ini sebagaimana ditegaskan dalam U U Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 1 ayat (1) dan (6), UU Nomor 14 Tahun 2005 Pasal 1 ayat (1), Pasal 3 ayat (1), dan UU Nomor 12 Tahun 2012 Pasal 1 ayat (14), maka terkait dengan ketentuan permohonan pemutusan hubungan kerja berupa pengunduran diri harus didasarkan pada Undang- UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 68 ayat (2) serta memenuhi isi

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 49 dari 63 Putusan Nomor 21/Pdt.Sus.PHI/2019/PN.Tte

surat pernyataan Penggugat melalui Notaris Muhammad Anshar Abdullah dengan nomor legalisasi 0160/VI/2014 tanggal 23 Juni 2014;

Menimbang, terhadap dalil- dalil yang digunakan oleh pihak Penggugat maupun Para Tergugat dalam jawab menjawab, maka yang akan dipertimbangkan oleh Majelis Hakim yang ada relevansinya dengan pokok perkara, sedangkan yang tidak ada relevan dengan pokok perkara akan dikesampingkan;

Menimbang, bahwa oleh karena telah diakui atau setidak-tidaknya tidak disangkal, maka menurut hukum harus dianggap terbukti dan telah menjadi dalil tetap hal-hal sebagai berikut:

1. Bahwa sampai saat ini Penggugat masih memiliki hubungan kerja dengan Para Tergugat sebagai dosen tetap sejak 1 Juli 2016 dan belum ada terjadi pemutusan hubungan kerja ;

2. Bahwa Penggugat telah menerima surat sanksi No. 478/AK.VII/2019 tanggal 16 Juli 2019, tentang tidak diberikan tugas serta dicabut SK sebagai pembimbing akademis, dan No. 604/AK.VIII/2019 tanggal 09 Agustus 2019, tentang tidak diberikan kewajiban mengajar selama semester ganjil tahun 2019- 2020 ;

Menimbang, bahwa dari uraian jawab-menjawab yang menjadi permasalahan antara para pihak dalam perkara a quo adalah tentang upah Penggugat sebagai dosen di STKIP Kie Raha (Tergugat I) milik Yayasan YPSDM MUI (Tergugat II) yang tidak dibayar dan bagaimana kelanjutan hubungan kerja antara Penggugat dengan Para Tergugat serta dampak hukumnya bagi para pihak ;

Menimbang, bahwa berdasarkan UU PPHI maka pokok permasalahan a quo termasuk dalam kategori perselisihan hak dan perselisihan pemu tusan h ubungan kerja (PHK) ;

Menimbang, bahwa oleh karena gugatan Penggugat telah dibantah oleh Para Tergugat maka sebagaimana ketentuan Pasal 283 R Bg Jo Pasal 1865 KUHPerdata menurut hukum Penggugat mempunyai kewajiban membuktikan dalil gugatannya dan para Tergugat mempunyai kewajiban membuktikan dalil bantahannya;

Menimbang, bahwa untuk menguatkan dalil gugatannya Penggugat telah mengajukan alat bukti surat yang bertanda P-1 s.d P-9 serta compact disc bertan da P-10, dan disamping itu Penggugat mengajukan saksi 2 (dua) orang yaitu Sdr. Sukarno M. Adam dan Sdr. Bakri Ismail yang telah menerangkan dipersidangan dibawah sumpah ;

Menimbang, bahwa untuk menguatkan dalil jawabannya Tergugat I telah mengajukan alat bukti surat yang bertanda T1-1 s.d. T1-17 ,serta T1-18 berupa

compact disc dan disamping itu Tergugat I mengajukan saksi 2 (dua) orang yaitu

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 50 dari 63 Putusan Nomor 21/Pdt.Sus.PHI/2019/PN.Tte

Sdr. Suharlin Ode Bao dan Sdr. Zulkifli yang telah menerangkan dipersidangan dibawah sumpah;

Menimbang, bahwa untuk menguatkan dalil jawabannya Tergugat II telah mengajukan alat bukti surat yang bertanda T2-1 s.d. T2-18 dan disamping itu Tergugat II mengajukan bukti saksi 2 (dua) orang yang sama dengan saksi Tergugat I yaitu Sdr. Suharlin Ode Boa dan Sdr. Zulkifli yang kesemuanya telah menerangkan dipersidangan dibawah sumpah

Menimbang, bahwa terhadap sekalian alat bukti tersebut, baik yan g diaju kan dari pihak Penggugat maupun pihak Para Tergugat, maka yang akan diperiksa dan dipertimbangkan hanyalah yang ada relevansinya dengan pokok perkara, sedangkan yang tidak ada relevansinya akan dikesampingkan dan haruslah dikesampingkan ;

Menimbang, bahwa UU No.16 Tahun 2001 tentang Yayasan sebagaimana telah diubah dengan UU No. 28 Tahun 2004 Pasal 3 ayat (1) yang mengatur :”Yayasan dapat melakukan kegiatan usaha untuk menunjang pencapaian maksud dan tujuannya dengan cara mendirikan badan usaha dan/atau ikut serta dalam suatu badan usaha.”,

Menimbang, untuk mendirikan perguruan tinggi swasta (PTS) telah diatur dalam Pasal 60 UU No.12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yaitu :

(2) PTS didirikan oleh Masyarakat dengan membentuk badan penyelenggara berbadan hukum yang berprinsip nirlaba dan wajib memperoleh izin Menteri. (3) Badan penyelenggara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berbentuk

yayasan, perkumpulan, dan bentuk lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

Menimbang, bahwa Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No.29/E/O/2013 (bukti T1-5) yang menetapkan bahwa Penyelenggara Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pengetahuan adalah Yayasan Pengembangan Sumber Daya Manusia Maluku Utara Indonesia di Kota Ternate Maluku Utara ;

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan hukum diatas dikaitkan dengan perkara in casu, Majelis Hakim berpendapat bahwa yang dimaksud badan penyelenggara adalah yayasan dalam hal ini adalah Tergugat II, sedangkan badan usaha adalah pendidikan tinggi swasta (PTS) dalam hal ini adalah Tergugat I, sehingga dapat disimpulkan bahwa Tergugat I merupakan suatu badan usaha yang didirikan dan diselenggarakan oleh Tergugat II,

Menimbang, bahwa dalam penjelasan umum UU No.14 Tahun 2005 ten tan g Guru dan Dosen menyebutkan bahwa pengakuan kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional merupakan bagian dari pembaharuan sistem

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 51 dari 63 Putusan Nomor 21/Pdt.Sus.PHI/2019/PN.Tte

pendidikan nasional yang pelaksanaannya memperhatikan berbagai ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pendidikan, kepegawaian, ketenagakerjaan, keuangan, dan pemerintahan daerah. Dengan diakuinya keterkaitan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan dalam UU Gu ru dan Dosen, maka secara tidak langsung UU Guru dan Dosen mengakui hubungan hukum antara dosen perguruan tinggi swasta dengan badan penyelenggara perguruan tinggi swasta merupakan suatu hubungan kerja.

Menimbang, lebih lanjut bahwa UU No.12 Tahun 2012 tentang Pen didikan Tinggi Pasal 60 ayat (5) yaitu : “Perguruan Tinggi wajib memiliki Statuta” , dan Pasal 66 ayat (3) yaitu : “ Statuta PTS ditetapkan dengan surat keputusan badan penyelenggara.”, junto Peraturan Pemertintah No.04 Tahun 2014 tentang Penyelenggaran Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi Pasal 1 angka (16) yaitu : “ Statuta adalah peraturan dasar Pengelolaan Perguruan Tinggi yang digunakan sebagai landasan penyusunan peraturan dan prosedur operasional di Perguruan Tinggi.” ;

Menimbang, bahwa dari bukti T1-6 dan T2-6 berupa STATUTA STKIP Kie Raha Ternate tentang Tugas dan Fungsi Yayasan Pasal 14 ayat 2 yaitu : “Yayasan mempunyai fungsi :

(j) menetapkan dan mengangkat tenaga dosen tetap, para ketua program studi, tenaga administrasi tetap ;

(k) memberhentikan tenaga dosen,.ketua program studi ;

(o) menetapkan peraturan keuangan dan gaji tetap di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kie Raha ;

Menimbang, bahwa dari bukti T1-6 dan T2-6 berupa STATUTA STKIP Kie Raha Pasal 19 ayat (2) Tentang Dosen yaitu : “Dosen merupakan orang perseorangan yang membuat perjanjian kerja dengan Pengurus YPSDM MUI untuk bekerja di lingkungan STKIP Kie Raha Ternate.“ ;

Menimbang, bahwa perjanjian kerja yang diajukan Tergugat II dalam alat bukti persidangan, setelah Majelis Hakim mencermati ternyata perjanjian kerja dibuat antara Penggugat dengan Tergugat I (bukti T2-18) , maka berdasarkan ketentuan STATUTA STKIP Kie Raha Pasal 19 ayat (2) diatas, perjanjian kerja tersebut adalah tidak sah, bertentangan dengan hukum, karena seharusnya perjanjian kerja dibuat antara Penggugat dengan Tergugat II, bukan dengan Tergugat I. Dengan demikian antara Penggugat dengan Tergu gat II dianggap tidak ada membuat perjanjian kerja;

Menimbang, bahwa Penggugat diangkat oleh Tergugat II menjadi dosen tetap pada unit kerja STKIP Kie Raha Ternate sesuai dengan Surat Keputusan (bukti P-1) yang ditandatangani oleh Tergugat II, namun Penggugat dengan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 52 dari 63 Putusan Nomor 21/Pdt.Sus.PHI/2019/PN.Tte

Tergugat II tidak ada secara khusus membuat perjanjian kerja, maka Majelis Hakim berpendapat, bahwa Surat Keputusan yang dibuat oleh Tergugat II kepada Penggugat dapat dianggap sebagai suatu perjanjian kerja antara Penggugat dengan Tergugat II ;

Menimbang, bahwa dalam Surat Keputusan (bukti P-1) dimuat antara lain pekerjaan Penggugat sebagai dosen di STKIP Kie Raha, besaran upah Penggugat, serta perintah Tergugat II berupa tugas dan tanggungjawab Penggugat, maka Majelis Hakim berpendapat bahwa hubungan antara Penggu gat dan Tergugat II memenuhi unsur-unsur hubungan kerja yaitu adanya pekerjaan, upah dan perintah, seperti yang diatur Pasal 1 angka 15 UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yaitu: “Hubungan kerja adalah hubungan antara pengusaha dengan pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja, yang mempunyai unsur pekerjaan, upah, dan perintah.”, dengan demikian hubungan hukum an tara Penggugat dan Tergugat II merupakan hubungan kerja ;

Menimbang, bahwa Tergugat II (Yayasan YPSDM MUI) merupakan bentuk usaha yang mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah dikualifikasikan sebagai perusahaan (pengusaha) sesuai Pasal 1 angka (6.b) UU No.13 Tahun 2003, maka Penggugat yang bekerja menjalankan perintah dari Tergugat II dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain dapat dikualifikasikan sebagai pekerja/buruh, sesuai Pasal 1 angka (3) UU No.13 Tahun 2003. Oleh karena itu, subyek hukum dalam hubungan kerja antara Penggugat dengan Tergugat II dapat dipersamakan sebagai subyek hukum dalam hubungan kerja antara pekerja/buruh dengan pengusaha/perusahaan ;

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan diatas, semakin jelas hubungan hukum antara Penggugat dengan Tergugat II merupakan hubungan ketenagakerjaan (hubungan industrial), yang harus tunduk dan patuh kepada peraturan ketenagakerjaan. Oleh karena itu, jika terjadi perselisihan hubungan industrial di antara subyek hukum hubungan industrial, penyelesaiannya dilakukan melalui pengadilan hubungan industrial;

Menimbang, bahwa selanjutnya Majelis Hakim akan mempertimbangkan petitum Penggugat satu persatu secara keseluruhan ;

Menimbang, bahwa Pasal 100 UU PPHI yaitu : “Dalam mengambil putusan, Majelis Hakim mempertimbangkan hukum, perjanjian yang ada, kebiasaan, dan keadilan.’ ;

Menimbang, bahwa terhadap petitum angka 1 Penggugat yaitu mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya, maka Majelis Hakim akan mempertimbangkan petitum angka 1 Penggugat setelah mempertimbangkan petitum Penggugat lainnya terlebih dahulu ;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 53 dari 63 Putusan Nomor 21/Pdt.Sus.PHI/2019/PN.Tte

Menimbang terhadap petitum angka 2 Penggugat yaitu menyatakan hubungan kerja antara Penggugat dengan Para Tergugat telah berakhir karena pemutusan hubungan kerja ;

Menimbang, bahwa dalam jawaban Tergugat II item XIX yang mendalilkan bahwa pemutusan hubungan kerja antara Tergugat II dengan Penggugat adalah harus didasarkan kepada UU Guru dan Dosen, bukan UU Ketenagakerjaan seperti dalil gugatan Penggugat;

Menimbang, bahwa Pasal 1 ayat (8) UU Guru dan Dosen menyatakan: “Pemutusan hubungan kerja atau pemberhentian kerja adalah pengakhiran perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama guru atau dosen karena sesuatu hal yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara guru atau dosen dan penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.” ;

Menimbang, bahwa ketentuan Pasal 150 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pada pokoknya menyatakan bahwa ketentuan mengenai pemutusan hubungan kerja dalam undang-undang tersebut adalah termasuk pemutusan hubungan kerja di dalam usaha-usaha sosial atau yayasan, sehingga jelas bahwa yang dimaksud sesuai dengan peraturan perundang - undangan dalam Pasal 1 ayat (8) UU Guru dan Dosen diatas haruslah dimaknai UU Ketenagakerjaan. Oleh karena itu pemutusan hubungan kerja antara Penggugat dengan Tergugat II haruslah sesuai dengan UU Ketenagakerjaan;

Menimbang, bahwa sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 86 UU PPHI, yang menyatakan : “ Dalam hal perselisihan hak dan / atau perselisihan kepentingan diikuti dengan perselisihan pemutusan hubungan kerja, maka Pengadilan Hubungan Industrial wajib memutus terlebih dahulu perkara perselisihan hak dan / atau perselisihan kepentingan.”, dengan demikian Majelis

Dokumen terkait