• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Pertimbangan Majelis Hakim

II. DALAM POKOK PERKARA

perkara, oleh karena itu masih harus melalui proses pembuktian perkara dengan dasar fakta-fakta yang terungkap di persidangan dengan mengacu pada alat-alat bukti yang diajukan dan hubungan ini merupakan jalan masuk bagi Majelis dalam memeriksa pokok sengketanya (cidera janji).

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut, maka dalil eksepsi mana juga tidak berdasar untuk dikabulkan, sehingga berdasarkan pada seluruh pertimbangan di atas, maka eksepsi dari Tergugat II Konvensi harus ditolak.

4. Bahwa perhitungan tersebut tidak sesuai dengan perhitungan yang diterima Penggugat Konvensi melalui Tergugat I Konvensi diketahui pada sekitar awal bulan September 2006, yaitu ada selisih aspal sebanyak enam puluh tiga (63) drum dengan total harga sebesar Rp. 45. 675. 000, - (empat puluh lima juta enam ratus tujuh puluh lima ribu rupiah);

5. Bahwa akibatnya Penggugat Konvensi merasa sangat dirugikan oleh karena ternyata sampai dengan sekarang Tergugat II Konvensi tidak melaksanakan kewajibannya untuk melunasi hutangnya kepada Penggugat Konvensi baik melalui Tergugat I Konvensi ataupun langsung kepada Penggugat, dengan demikian para Tergugat Konvensi telah melakukan perbuatan cidera janji dengan segala akibat hukumnya.

Menimbang, bahwa atas dalil gugatan tersebut, Tergugat I Konvensi dalam jawabannya pada prinsipnya membenarkan hal tersebut, sedangkan Tergugat II Konvensi membantahnya dengan mengemukakan dalil-dalil sebagai berikut:

1. Bahwa jawaban dalam eksepsi sepanjang berkaitan dengan pokok perkara mohon agar terbaca pula pada jawaban dalam pokok perkara;

2. Bahwa pada pokoknya Tergugat II Konvensi menolak seluruh dalil gugatan penggugat karena Tergugat II Konvensi tidak pernah mempunyai hubungan hukum apapun dengan Penggugat Konvensi dan tidak pernah membeli aspal dari Penggugat Konvensi, kenalpun tidak, bagaimana mungkin Tergugat II Konvensi dituduh melakukan cidera janji terhadap Penggugat Konvensi?;

3. Bahwa jika seandainya, quod non, benar Penggugat Konvensi pedagang aspal dan kebetulan Tergugat I Konvensi selaku pembelinya belum membayar lunas, maka hal tersebut adalah merupakan tanggung jawab dan urusan Tergugat I Konvensi sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan Tergugat II Konvensi, sehingga mendudukkan Tergugat II Konvensi selaku Tergugat Konvensi dalam perkara quod non adalah keliru;

4. Bahwa Tergugat II Konvensi selaku kontraktor tidak pernah sekalipun mendapat pasokan aspal dari Penggugat Konvensi, baik secara langsung maupun melalui Tergugat I Konvensi. Selama Tergugat I Konvensi menjual aspal kepada Tergugat II Konvensi, tidak pernah sekalipun disinggung bahwa aspal yang ia jual adalah milik Penggugat Konvensi dan Tergugat I Konvensi hanya sebagai perantara saja, juga tidak ada tanda-tanda atau petunjuk atau indikasi bahwa aspal yang dijual Tergugat I Konvensi ke Tergugat II Konvensi adalah milik Penggugat Konvensi. Demikian pula semua transaksi dilakukan secara langsung antara pihak Tergugat II Konvensi dengan Tergugat I Konvensi, tanpa melibatkan (keterlibatan) Penggugat Konvensi, sehingga tidak ada kewajiban hukum dari Tergugat II Konvensi untuk mengakui bahwa aspal yang dijual oleh Tergugat I Konvensi kepada Tergugat II Konvensi adlah milik Penggugat Konvensi.

Menimbang, bahwa dari hal-hal tersebut di atas, maka didapat beberapa permasalahan hukum antara para pihak, khususnya Penggugat Konvensi dengan Tergugat II Konvensi, yang pada pokoknya adlah sebagai berikut:

1. Apakah benar terdapat hubungan hukum berupa jual beli aspal antara Penggugat Konvensi dengan Tergugat II Konvensi melalui Tergugat I Konvensi sebagai perantaranya;

2. Jika terdapat hubungan hukum, apakah benar telah terjadi cidera janji atas jual beli aspal tersebut;

Menimbang, bahwa permasalahan-permasalan mana bersesuaian dengan apa yang terurai dalam dalil eksepsi Tergugat II Konvensi yang oleh Majelis dalam pertimbangan sebelumnya telah masuk pada ranah pokok perkara, sehingga akan dipertimbangkan selanjutnya pada pertimbangan di bawah ini:

Menimbang, bahwa untuk membuktikan dalil gugatannya tersebut, pihak Penggugat mengajukan enam buah bukti surat bertanda P-1 sampai dengan P-6, serta enam orang saksi, yaitu Achmad Safroni, Acis, Priyo Suharyadi, Eka Widayati, Suchud dan Isno Wiyanto. Tergugat I Konvensi tidak mengajukan alat bukti walaupun telah diberi kesempatan kepadanya, sedangkan Tergugat II Konvensi untuk membuktikan sangkalannya telah mengajukan empat belas buah bukti surat bertanda T. II-1 sampai dengan T. II-14 dan empat orang saksi, yaitu Akhmad Jakiman, Suwitno, Suwarno dan Manis bin Madroji.

Menimbang, bahwa karena dalil gugatan Penggugat Konvensi tersebut disangkal oleh Tergugat II Konvensi, maka menurut ketentuan Pasal 163 HIR, pihak Penggugat Konvensi harus membuktikan terlebih dahulu akan dalil gugatannya.

Menimbang, bahwa sebelumnya Majelis akan mempertimbangkan peran dan fungsi pengakuan Tergugat I Konvensi dalam jawabannya, bahwa pengakuan tersebut

tidak serta merta mengikat pada diri Tergugat II Konvensi, pengakuan tersebut hanya mengikat secara mutlak/sempurna pada Tergugat I Konvensi saja, sedangkan terhadap posisi Tergugat II Konvensi haruslah dibuktikan lebih lanjut oleh Penggugat Konvensi, sebab jika konstruksi hukum pembuktian hanya disandarkan pada pengakuan salah satu pihak saja yang walaupun mempunyai kapasitas yang sama sebagai Tergugat, tapi mempunyai kualitas yang beda dalam permasalahan hukum dan individunya, satu dan hal lain tersebut juga perlu diketengahkan agar dalam suatu perkara tidak terjadi adanya “penyelundupan hukum.”

Menimbang, bahwa menurut Penggugat Konvensi dalam surat gugatannya tertanggal 16 Agustus 2007 tersebut pada pokoknya mengajukan gugatan atas adanya selisih pembayaran sebanyak enam puluh tiga (63) drum aspal yang belum dibayar oleh Tergugat II Konvensi atas pembeliannya dari Penggugat Konvensi melalui Tergugat I Konvensi pada tanggal 7 Juli 2006 sebanyak enam (6) drum, tanggal 11 Agustus 2006 sebanyak tujuh (7) drum dan tanggal 15 Agustus 2006 sebanyak lima puluh (50) drum, dengan total harga sebesar Rp. 45. 675. 000, - (empat puluh lima juta enam ratus tujuh puluh lima ribu rupiah).

Menimbang, bahwa atas gugatan Penggugat Konvensi tersebut Tergugat II Konvensi menyangkal dengan alasan tidak pernah ada pengiriman aspal dari Penggugat Konvensi kepada Tergugat II Konvensi pada tanggal-tanggal tersebut, lagi pula Tergugat II Konvensi merasa tidak pernah melakukan hubungan hukum apapun dengan Penggugat Konvensi, apalagi membeli aspal.

Menimbang, bahwa bukti P-1 yang berupa rekapitulasi sisa uang aspal Pak Yudi, menerangkan bahwa sisa uang pembayaran aspal Tergugat I Konvensi yang ada pada Tergugat II Konvensi hanya sebesar Rp. 3. 085. 000, - (tiga juta delapan puluh lima ribu rupiah) dari total pengiriman tiga ratus sembilan belas (319) drum aspal, dengan demikian bukti P-1 tersebut justru membuktikan dalil sangkalan Tergugat II Konvensi, yakni bahwa Tergugat II Konvensi hanya menerima aspal dari Tergugat I Konvensi sebanyak tiga ratus sembilan belas (319) drum, bukan tiga ratus delapan puluh dua (382) drum sebagaimana didalilkan Penggugat Konvensi lebih lanjut bahwa bukti P-2 yang merupakan rekapitulasi aspal Pak Yudi DPUK Purbalingga, menerangkan bahwa total pembelian aspal Tergugat II Konvensi dari Tergugat I Konvensi hanya tiga ratus sembilan belas (319) drum aspal, bahwa dari bukti P-2 tersebut terbukti tidak ada pembelian sebanyak enam (6) drum aspal pada tanggal 7 Juli 2006 dan sebanyak tujuh (7) drum pada tanggal 11 Agustus 2006, memang ada pembelian tanggal 15 agustus 2006 namun hanya sebanyak tujuh (7) drum, bukan lima puluh (50) drum sebagaimana didalilkan Penggugat Konvensi, dengan demikian bukti P-2 juga justru malah memperkuat dalil sangkalan Tergugat II Konvensi.

Menimbang, bahwa bukti P-1 dan P-2 tersebut sama atau bersesuaian dengan bukti Tergugat II Konvensi bertanda T. II-1 dan T. II-2, sehingga berdasarkan bukti tersebut (T. II-1 dan T. II-2) maka Tergugat II Konvensi telah berhasil membuktikan dalil bantahan/sangkalannya, yaitu bahwa tidak ada hubungan hukum jual beli aspal antara Penggugat dengan Tergugat II Konvensi, bahwa total pembelian aspal

Tergugat II dari Tergugat I hanya sebanyak tiga ratus sembilan belas (319) drum dan telah dibayar.

Menimbang, bahwa kemudian begitu pula setelah Majelis mencermati bukti-bukti tertulis selain dan selebihnya P-3 sampai dengan P-6 sebagaimana yang diajukan Penggugat Konvensi tersebut, ternyata tidak ada satupun surat bukti yang menunjukkan adanya hubungan hukum jual beli aspal antara Penggugat Konvensi dan Tergugat II Konvensi, apalagi membuktikan adanya selisih sebanyak enam puluh tiga (63) drum aspal yang belum dibayar oleh Tergugat II Konvensi kepada Penggugat Konvensi, bahkan bukti P-3 tersebut telah dibantah kebenarannya oleh saksi Suwitno.

Menimbang, bahwa ternyata dari ke enam orang saksi yang diajukan oleh Penggugat Konvensi tersebut, tidak seorangpun yang menerangkan secara tandas dan gamblang tentang hubungan kerjasama jual beli aspal antara Penggugat Konvensi dengan Tergugat II Konvensi, oleh karena saksi Akhmad Safroni hanya menerangkan jika pernah mencoba akan menurunkan aspal sebanyak lima puluh (50) drum aspal di daerah Babakan disaksikan Tergugat I Konvensi, saksi Acis menerangkan jika lima puluh (50) drum aspal tersebut adalah kepunyaan Penggugat Konvensi yang disuplai oleh Tergugat I Konvensi untuk Tergugat II Konvensi, akan tetapi hal tersebut hanya bersifat de auditu tanpa dikuatkan bukti lain terlebih ternyata terbukti saksi tersebut punya hubungan kerjasama dalam penyertaan modal dengan Tergugat I Konvensi, saksi Priyo Suharyadi menerangkan pernah mengantar aspal ke depan rumah Tergugat II Konvensi dan menyatakan jika ada perjanjian kerjasama antara

Penggugat Konvensi dengan Tergugat Konvensi akan tetapi terhadap perjanjian tersebut saksi lupa, saksi Isno Wiyanto menerangkan jika pernah mengantar lima puluh (50) drum aspal ke Babakan tempat Tergugat II Konvensi dan menyatakan jika dalam nota surat antaran tertera jika aspal dari Penggugat ke Tergugat II Konvensi dan yang menerimakan saat itu adalah Tergugat I Konvensi, akan tetapi notanya tidak diajukan menjadi bukti, kesemua saksi di atas seragam menyebut jika tanggal pengantaran aspal tersebut tanggal 15 Agustus 2006, sedangkan saksi selebihnya pada pokoknya menerangkan jika Tergugat I Konvensi pernah mengantar aspal pada Tergugat II Konvensi.

Menimbang, bahwa selanjutnya saksi Tergugat II Konvensi justru memberikan keterangan yang kontradiktif dengan keterangan saksi-saksi Penggugat Konvensi dengan menyatakan pengiriman lima puluh (50) drum aspal dimana saksi Akhmad safroni tidak jadi bongkar adalah pada hari Jumat tanggal 1 September 2006 (saksi Akhmad Jakiman) sesuai pula dengan bukti P-2/T. II-1, selanjutnya ada juga yang menyatakan jika hubungan kerjasama aspal adalah antara Tergugat I Konvensi dengan Tergugat II Konvensi tanpa pernah melibatkan Penggugat Konvensi (saksi Manis Bin Madroji).

Menimbang, bahwa dari seluruh pertimbangan-pertimbangan di atas, maka didapati petunjuk adalah benar jika ada kerjasama penyediaan aspal antara Penggugat Konvensi dengan Tergugat I Konvensi, selanjutnya ada pula kerjasama tentang penyediaan aspal antara Tergugat I Konvensi dengan Tergugat II Konvensi, akan tetapi Majelis tidak mendapatkan keyakinan yang cukup tentang adanya hubungan

kerjasama jual beli aspal antara Penggugat Konvensi dengan Tergugat II Konvensi, oleh karena bukti-bukti tertulis tidak mendukung akan hal tersebut dan dibantah oleh Tergugat II Konvensi melalui saksi-saksinya.

Menimbang, bahwa berdasarakan hal tersebut Majelis berpendapat penggugat Konvensi tidak dapat membuktikan hubungan hukumnya berupa perjanjian jual beli aspal dengan Tergugat II Konvensi, apalagi lebih jauh membuktikan akan cidera janji Tergugat II Konvensi.

Menimbang, bahwa oleh karenanya adalah berdasar jika gugatan Penggugat Konvensi ditolak untuk seluruhnya.

Dokumen terkait