METODOLOGI PENELITIAN
B. Dalil-dalil Hasil Penelitian
Terdapat sejumlah dalil yang dihasilkan dari penelitian ini;
1. Pola pembelajaran yang menarik akan menghasilkan perubahan perilaku yang beragam dan pada akhirnya dapat membentuk kompetensi secara utuh.
Model Pembelajaran Praktik Mengajar Reflektif (MP2MR) menghadapkan mahasiswa pada suasana belajar yang variatif, menantang, dan menarik. Mulai dari mencoba mengaplikasikan kemampuan teoritis yang sudah diperoleh sebelumnya sampai kepada menganalisis kekurangan secara intrinsik dan ekstrinsik serta menggali kemampuan untuk menindaklanjuti kekurangan tersebut secara kontinu berdasarkan langkah-langkah yang sudah disusun secara jelas.
Model pembelajaran ini sangat menantang mahasiswa untuk melengkapi dan meningkatkan kemampuannya walaupun melalui upaya yang tidak sederhana, seperti membaca buku-buku sumber, berdiskusi, meminta dikritik oleh supevisor, melaksanakan sejumlah tugas, mencoba mengambil keputusan untuk memilih aspek kemampuan yang akan ditingkatkan sampai merumuskan perencanaan tindak lanjut dengan melatih kemampuan menggunakan keterampilan bahasa tulisan.
Belajar dengan cara mengalami tersebut ternyata dapat menghasilkan perubahan perilaku yang lebih menyeluruh walaupun memerlukan waktu yang relatif lebih lama akan tetapi pada akhirnya bermuara pada pembentukan kompetensi secara utuh.
2. Evaluasi secara intrinsik lebih efektif untuk meningkatkan kompetensi.
Penguasaan kompetensi tidak hanya mencerminkan sebuah kemampuan yang berada pada tataran pengetahuan. Kompetensi harus bisa direfleksikan menjadi kebiasaan berpikir dan bertindak secara kontinu dan konsisten. Sungguh pun sebuah kompetensi memiliki standar mutlak yang bisa diukur tingkat ketercapaiannya tetapi untuk proses mencapai kompetensi tersebut akan sangat
efektif jika didasarkan pada kekuatan dan kelemahan yang dirasakan sendiri oleh mahasiswa, selanjutnya mereka merasa tertantang untuk menindaklanjutinya sesuai dengan kebutuhan mereka.
Jika pengembangan kompetensi lebih didasari oleh evaluasi secara ekstrinsik, maka upaya pengembangan kompetensi pun hanya akan dilaksanakan saat dievaluasi dan akan berhenti manakala tidak dilaksanakan evaluasi. Padahal sesungguhnya untuk mencapai predikat guru yang profesional, upaya peningkatan kompetensi saat PPL hanya merupakan awal dari aktivitas yang harus dilaksanakan secara kontinu. Oleh karena itu upaya akan menjadi kebisaan manakala mahasiswa sudah menjadi guru dan tidak akan berhenti saat mahasiswa mengakhiri PPL.
3. Suasana pembelajaran yang hangat dan terbuka tidak hanya mempermudah mencapai tujuan yang direncanakan, tetapi juga menghasilkan dampak pengiring yang lebih luas dan bermakna.
Mahasiswa yang berperan sebagai praktikan dan dosen yang berperan sebagai supervisor sering kali terpisahkan oleh dinding perbedaan peran tersebut. Jika kondisi tersebut menimbulkan jarak antara mahasiswa dan dosen yang telalu jauh, maka seringkali kehadiran dosen pada saat mahasiswa melaksanakan praktik mengajar dapat menimbulkan suasana yang tidak menyenangkan dan mengakibatkan mahasiswa menjadi gugup, tegang, atau panik.
Program Pengalaman Lapangan (PPL) dengan menggunakan MP2MR dilandasi oleh suasana pembelajaran yang hangat dan terbuka. Peran superviror tidak sebagai pemberi saran, pembuat keputusan ataupun penilai yang otoriter,
mereka hadir dalam suasana pembelajaran baik ketika mahasiswa melaksanakan praktik mengajar maupun ketika melalui tahap-tahap reflektif dengan membawa peran sebagai partner berdialog dan berdiskusi. Untuk mengkritik kelemahan mahasiswa pun diupayakan dengan cara mengembangkan pertanyaan-pertanyaan dengan teknik menggali (probing) atau mendorong (promting) dan menjauhi peran sebagai pemberi saran (advicer), sehingga mahasiswa dengan masing-masing kemampuannya dapat mencari, menyempurnakan dan bahkan memperbaharui kemampuannya secara terbuka dan tidak dihantui perasaan takut.
Ketika proses pembelajaran berlangsung dalam suasana seperti ini, bukan hanya mendorong mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan sesuai dengan tujuan yang direncanakan akan tetapi banyak kemampuan lain seperti kemampuan bertanggung jawab, disiplin, toleransi, kesabaran, rasa menghargai, komitmen, kemandirian, keterbukaan, dan kejujuran sebagai dampak pengiring yang dapat dicapai melalui MP2MR.
4. Tidak ada hubungan antara tingginya frekwensi praktik mengajar dengan kuantifikasi skor hasil praktik mengajar.
Praktik mengajar model konvensional memiliki target jumlah praktik mengajar yang harus dipenuhi oleh semua mahasiswa dalam waktu yang sama. Kondisi ini memaksa menyeragamkan kemampuan mahasiswa agar dapat memulai dan mengakhiri PPL dalam waktu yang bersamaan. Oleh karena itu skor kelulusan yang dicapai oleh mahasiswa tidak dapat mencerminkan kadar penguasaan kompetensi secara jelas dan objektif.
C.Rekomendasi
Sesuai dengan tujuan penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan suatu model pembelajaran praktik mengajar yang dapat meningkatkan kompetensi pedagogik mahasiswa, berikut ini disampaikan beberapa rekomendasi;
1. Bagi Program Studi S1 PGSD dan UPT PPL
Model Pembelajaran Praktik Mengajar Reflektif menjadikan mata kuliah Program Pengalaman Lapangan (PPL) sebagai muara program pendidikan keguruan. Setelah terbukti efektivitasnya dalam meningkatkan kompetensi pedagogik mahasiswa calon guru sebagai persiapan menapaki profesi pendidik profesional sesuai dengan visi, misi, dan tujuan LPTK, maka direkomendasikan kepada Program Studi S1 PGSD berkoordinasi dengan UPT PPL untuk menggunakan model ini baik dalam mempersiapkan calon guru SD melalui jalur reguler, pendidikan guru dalam jabatan (inservice training), maupun untuk Program Profesi Guru (PPG). Sejurus dengan itu diperlukan penataan kebijakan yang terkait dengan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengontrolan, dan pembiayaan.
a. Aspek Substanstif
Peningkatan kompetensi pedagogik merupakan target MP2MR yang dijabarkan dari tujuan LPTK. Oleh karena itu pelaksanaan PPL harus dilandasi oleh penyusunan rencana yang jelas, rinci dan menggambarkan target yang memprioritaskan ketercapaian tujuan LPTK. Target praktik mengajar yang selama ini mengharuskan semua mahasiswa melaksanakan praktik mengajar sebanyak 32 kali atau 10 kali pun harus ditinjau ulang. Sebab pola itu tidak
dilandasi aktivitas reflektif sehingga praktik mengajar hanya menjadi kegiatan rutinitas saja.
Model Pembelajaran Praktik Mengajar Reflektif perlu didukung oleh komitmen yang tinggi antara dosen dan guru pamong. Hal ini menjadi perhatian utama, sebab peran mata kuliah praktik mengajar bukan hanya menjadi prasyarat kelulusan mahasiswa atau sekedar wajib diikuti oleh semua mahasiswa, tetapi di balik itu terdapat latar belakang pentingnya mata kuliah sebagai muara pembentukan kompetensi bagi mahasiswa. oleh karena itu sangat diperlukan dosen dan guru pamong yang memiliki tanggung jawab tinggi dalam merancang, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran ini.
b. Teknis Pelaksanaan
Penempatan mata kuliah praktik mengajar di semester genap berbenturan
dengan tingginya aktivitas sekolah di penghujung tahun pelajaran, ketika itu sekolah menghadapi persiapan ujian akhir sekolah, ujian kenaikan kelas, ujian nasional, dan persiapan penerimaan siswa baru. Dalam kondisi seperti ini guru pamong tidak bisa fokus pada pembinaan mahasiswa praktikan, sehingga sering terjadi masalah-masalah mahasiswa tidak terpecahkan. Padahal pelaksanaan MP2MR bukan hanya memerlukan intensitas kehadiran dosen dan guru pamong yang tinggi tetapi kehadiran mereka diharapkan dapat membimbing, memonitor, dan mengevaluasi secara objektif dan komprehensif.
c. Aspek Kontrol
Model Pembelajaran Praktik Mengajar Reflektif menekankan pada ketercapaian penguasaan kompetensi bukan sebatas keterlaksaan praktik mengajar. Oleh karena itu perlu dilakukan kontrol melalui laporan kemajuan (progress report) dari dosen pembimbing secara terjadwal, misalkan pada tengah semester, sehingga untuk setengah semester ke depan akan diketahui dengan pasti mahasiswa yang sudah bisa segera menyudahi tugas praktik mengajarnya dan mahasiswa yang harus sampai akhir semester, atau bahkan ada mahasiswa yang memerlukan tambahan waktu.
2. Dosen dan Guru Pamong
Agar pelaksanaan MP2MR berhasil sesuai dengan tujuan, maka terdapat beberapa saran untuk dosen dan guru pamong.
Pertama; perlu difahami betul bahwa MP2MR adalah sebuah model
pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan kompetensi pedagogik mahasiswa melalui pengembangan kemampuan berpikir reflektif. Prinsip ini akan membawa konsekwensi pada pelaksanaan tugas dan tanggung jawab guru/dosen untuk tidak terjebak pada aktivitas yang hanya bersifat rutinitas saja.
Kedua; Model ini memerlukan dukungan paradigma baru dari dosen dan guru
pamong baik dalam merancang, melaksanakan, maupun mengevaluasinya. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk menyebarluaskan model hasil pengembangan ini kepada dosen dan guru pamong yang lainnya.
a. Aspek Perencanaan
Model ini memerlukan perencanaan yang jelas. Walaupun komponen pengalaman belajar disesuaikan dengan masalah yang dihadapi oleh mahasiswa secara kontekstual tetapi harus didasari oleh perencanaan yang dijabarkan dari visi, misi, dan tujuan LPTK. Begitu juga tentang organisasi pengalaman belajar untuk semua mahasiswa harus ditata dengan langkah-langkah yang sistematis, sehingga dapat mengarahkan pembelajaran secara efektif.
b. Aspek Pelaksanaan
Model ini sangat memfasilitasi heterogenitas kemampuan mahasiswa, oleh karena itu dosen dan guru pamong harus mengembangkan pembelajaran yang dilandasi oleh prinsip student centered. Mahasiswa diberi kebebasan untuk mengevaluasi kinerjanya secara intrinsik dan berupaya mengatasi setiap kelemahannya berdasarkan tingkat kemampuannya. Dosen pembimbing dan guru pamong harus menempatkan diri sebagai fasilitator dan motivator, yang mampu menciptakan iklim pembelajaran secara rileks dan terbuka, sehingga keberadaannya tidak menjadi ancaman bagi mahasiswa.
c. Aspek Evaluasi
Model ini menjadikan evaluasi hasil sebagai dampak dari evaluasi proses. Oleh karena itu dalam implementasinya dosen dan guru pamong menggunakan pedoman observasi bukan untuk menentukan keputusan tentang keberhasilan atau kegagalan mahasiswa tetapi sebagai upaya untuk menyempurnakan kemampuan yang dilakukan secara kontinu sampai akhirnya ditemukan batas kemampuan
optimal pada setiap mahasiswa walaupun konsekwensinya setiap mahasiswa akan membutuhkan waktu yang berbeda-beda.
3. Sekolah Mitra
Sekolah mitra atau sekolah tempat mahasiswa berpraktik memiliki andil yang besar dalam melaksanakan perannya sebagai partner program studi PGSD. MP2MR menekankan pentingnya kemampuan berpikir reflektif dalam mendukung peningkatan kompetensi pedagogik harus didukung oleh guru pamong yang profesional baik dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru maupun dalam mengembangkan profesinya melalui penelitian-penelitian yang selama ini menuntut pengembangan berpikir ilmiah. Untuk itu sekolah mitra harus menyeksi guru-guru bukan berdasarkan lamanya masa kerja atau senioritas dari aspek usia tetapi yang dapat memenuhi karakteristik di atas.
4. Peneliti
Model ini berhasil dikembangkan pada Program Studi S1 PGSD reguler yang selama ini menggunakan model konkuren dalam pengembangan pendidikian guru. Akan tetapi seiring dengan dibukanya beragam sifat dan jalur program studi ini, maka disarankan untuk peneliti berikutnya agar mengembangkan MP2MR pada program-program baru, misalnya pada Program Pendidikan Guru (PPG) yang menggunakan model konsekutif, atau pada program pendidikan guru dalam jabatan (inservice training) atau bahkan pada program dual mode yang lebih menggunakan pendekatan andragogi.