Firman Allah ketika mengkhithabi Ummahatul Mu’minin radliyallahu ‘anhunna :
بٍٍٍ اجَ حِ ءِارَوَ نٍٍْ مِ نَّ هُوُْلَأسٍٍْ افَ اعًٍٍ اَتمَ نَّ هُوْمُُتْلَأسٍٍَ اَذِإوَ
نَّ هِِبوُْلقُوَ مُْكِبوُْلقُِل رُهَْطَأ مُْكِلَذ
Artinya : Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.( Al-Ahzab : 53 )
Ayat ini adalah yang dinamakan dengan ayat hijab, turun tahun ke 5 H di bulan Dzul Qa’dah, ini mencakup dengan kemuthlaqannya dan tanpa ada perselisihan akan perintah menutupi anggota badan termasuk wajah dan telapak tangan tanpa kecuali, namun orang-orang yang mengatakan bahwa wajah dan telapak tangan tidak harus ditutup mereka beranggapan bahwa ayat itu khusus buat Ummahatul Mu’minin, nah untuk mengetahui apakah dakwaa / klaim mereka ini benar atau salah maka perlu kita bahas dengan tuntas ayat ini sesuai kajian ilmiyyah yang benar.
.
Syaikhul Mufassirin Al Imam Abu Ja’far Muhammad Ibnu Jarir Ath Thabari rahimahullah mengatakan dalam tafsir ayat ini : نَّ هُوْمُُتْلَأسَ اَذِإوَ بٍ اجَ حِ ءِارَوَ نْ مِ نَّ هُوُْلَأسْ افَ اعً اَتمَ
Dan jika kalian meminta suatu
kebutuhan kepada isteri-isteri Rasulullah dan kepada wanita-wanita orang- orang mu’min yang bukan istri kalian,” بٍ اجَ حِ ءِارَوَ نْ مِ نَّ هُوُْلَأسْ افَ ,”(maka mintalah) dari balik penghalang antara kalian dengan mereka dan janganlah kalian masuk menemui mereka langsung di rumahnya. رُهَْطَأ مُْكِلَذ نَّ هِِبوُْلقُوَ مُْكِبوُْلقُِل Allah mengatakan : cara kalian meminta sesuatu kepada mereka dari balik tabir itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka dari akibat pandangan mata padanya yang masuk kedalam hati laki-laki tentang hal yang berhubungan dengan wanita, serta hal itu lebih menjaga agar syaitan tidak mampu mengendalikan diri kalian dan mereka.148
Al Imam Abu Bakar Al Jashshash Al Hanafi rahimahullah berkata : Firman- Nya Ta’ala بٍ اجَ حِ ءِارَوَ نْ مِ نَّ هُوُْلَأسْ افَ اعً اَتمَ نَّ هُوْمُُتْلَأسَ اَذِإوَ telah mengandung larangan memandang isteri-isteri Nabi , dan Dia menjelaskan dengannya bahwa hal itu lebih suci buat hati kalian dan hati mereka, karena pandangan satu sama lain bisa menimbulkan hasrat dan syahwat, maka Allah memutus hal itu dengan hijab yang dimestikan oleh sebab ini. Firman-Nya هُ للا لوْ سُ رَ اوُْذؤُْت نْ َأ مْ ُكَل نَ اَك امَوَ (Dan tidak selayaknya kalian
Ini adalah dalil pertama tentang hijab dari Al Qur’an berikut penafsiran para ahli tafsir dari kaum salaf dan ulama muta’akhkhirin. (pent)
menyakiti Rasulullah) yaitu dengan apa yang dijelaskan dalam ayat ini berupa wajibnya meminta izin, dan meninggalkan lama-lama duduk untuk berbincang- bincang di sisinya, serta hijab antara dia dengan isteri-isterinya. Dan hukum ini meskipun turun khusus kepada Nabi dan isteri-isterinya namun maknanya umum mencakup beliau dan yang lainnya, karena kita diperintahkan untuk mengikutinya dan beriqtida kepadanya kecuali dalam hal yang khusus buat beliau saja.149Dan ini sepertinya mengisyaratkan kepada firman-Nya,”نَ اَك ْدقَ َل
ةٌ َنسَ حَ ٌةوَ سْ ُأ هِللا لِوْسُرَ يْ فِ مْ ُكَل ( sungguh telah ada bagi kalian dalam diri Rasulullah suri tauladan yang baik) dan ayat-ayat lainnya yang
memerintahkan untuk mengikuti beliau , dan yang dijadikan acuan adalah keumuman lafadz bukan kekhususan sebab(َل ظِ فْ َّللا ِموْمُعُِب ُةرَْبعِْلَا بِ َبسَّ لا صِ وْ صُ خُ ِب ).
Al Imam Abu Bakar Muhammad Ibnu Abdillah yang lebih terkenal dengan Ibnu Al ‘Arabi Al Maliki rahimahullah berkata : Masalah yang ke tiga belas-firman-Nya ءِارَوَ نْ مِ نَّ هُوُْلَأسْ افَ اعً اَتمَ نَّ هُوْمُُتْلَأسَ اَذِإوَ بٍ اجَ حِ dan dalam penafsiran lafadz mata’ ada empat pendapat : pertama : pinjaman (‘ariyah), kedua : kebutuhan, ketiga : fatwa, keempat : lembaran Al Qur‘an, dan ini menunjukan bahwa Allah memberikan izin untuk meminta sesuatu baik kebutuhan atau fatwa kepada mereka dari balik hijab, dan wanita itu seluruhnya adalah aurat, badannya dan suaranya, maka tidak boleh
membukanya sedikitpun kecuali karena dharurat atau kebutuhan seperti persaksian atasnya atau penyakit di badannya atau menanyakan kepadanya tentang sesuatu yang hanya ada pada dia. Masalah yang ke empat belas- firman-Nya. نَّ هِِبوُْلقُوَ مُْكِبوُْلقُِل رُهَْطَأ مُْكِلَذ maknanya : itu lebih menghilangkan kecurigaan dan lebih menjauhi tuduhan (tuhmah) serta lebih kuat dalam menjaga. Dan ini menunjukan bahwa tidak selayaknya seorangpun terlalu percaya kepada dirinya di saat khalwat dengan wanita yang tidak halal baginya, maka sesungguhnya menjauhi hal itu lebih lebih baik bagi keadaannya dan lebih menjaga bagi dirinya dan lebih sempurna bagi kehormatannya.150
Al Imam Abu Abdillah Muhammad Ibnu Ahmad Al Anshari Al Qurthubi Al Maliki rahimahullah : Dalam ayat ini ada dalil bahwa Allah memberikan izin untuk meminta sesuatu baik kebutuhan atau fatwa kepada mereka dari balik hijab, dan termasuk dalam hal ini adalah seluruh wanita berdasarkan makna (yang terkandung) dan berdasarkan kandungan Ushul Syari’ah bahwa wanita itu seluruh (tubuh)nya adalah aurat, badan dan suaranya sebagaimana yang lalu, maka tidak boleh membukanya sedikitpun kecuali karena kebutuhan seperti persaksian atasnya atau penyakit di badannya atau menanyakan
kepadanya tentang sesuatu yang hanya ada pada dia.151
Dan yang menguatkan keumuman ayat hijab ini dan bahwa ayat ini tidak khusus bagi Ummahat Al Mu’minin radliyallahu ‘anhunna saja adalah firman- Nya sesudahnya :
ءِاَنْبَأ َلوَ نَّ هِِناوَخِْإ َلوَ نَّ هِِئاَنْبَأ َلوَ نَّ هِِئآبآ يْ فِ نَّ هِْيَلعَ حَاَنجُ َلوَ
نَّ هُُنامَْيَأ تْ َ كَلمَ امَ َلوَ نَّ هِِئاسَ ِ ن َلوَ نَّ هِِتاوَخََأ ءِاَنْبَأ َلوَ نَّ هِِناوَخِْإ
اًدْيهِشَ ءٍيْ شَ لِّ ُك ىَلعَ نَ اَك هَ للا نَّ ِإ هَللا نَْيقَِّتاوَ
149 Ahkam Al Qur’an 3/369-370. 150 Ahkam Al Qur’an 3/1578-1579.Artinya : Tidak ada dosa atas mereka (untuk berjumpa tanpa tabir) dengan babak-bapak mereka, anak-anak laki-laki
mereka, saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara mereka yang perempuan, perempuan-perempuan yang beriman dan hamba sahaya yang mereka miliki, dan bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha menyaksikan segala sesuatu.(Al Ahzab 55)
Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata : Tatkala Allah memerintahkan kaum wanita untuk berhujab dari laki-laki yang bukan mahram maka Dia menjelaskan bahwa kerabat-kerabat (yang disebutkan) itu tidak wajib atas wanita untuk berihtijab dari mereka, sebagaimana Dia telah mengecualikan mereka di dalam surat An Nur dalam pembahasan firmanNya نَ ْيدِْبُي َلوَ نَّ هِِتَلوْعُُبِل َّلِإ نَّ هَُتَنْيزِ .152
An Nasafi rahimahullah berkata dalam tafsirnya : Tatkala ayat hijab ini turun para bapak, anak-anak laki-laki, dan para kerabat berkata : Wahai Rasulullah apakah kami juga harus mengajak bicara mereka dari belakang tabir ? Maka turun : Tidak ada dosa atas mereka (untuk berjumpa tanpa tabir) dengan babak-bapak mereka, anak-anak laki-laki mereka, saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudar laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara mereka yang perempuan, perempuan-perempuan yang beriman,” yaitu wanita- wanita mu’minah,” dan hamba sahaya yang mereka miliki,” yaitu tidak ada dosa atas mereka untuk tidak berhijab dari mereka.153
Syaikh Ismail Haqqa Al Barausawa rahimahullah : ,” Apabila kamu
meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi),”alat-alat yang berguna (ma’un) dan yang lainnya,” maka mintalah dari belakang tabir,”dari belakang penghalang, dan dikatakan dari luar pintu,” Cara yang demikian itu,” yaitu meminta suatu kebutuhan dari belakang tabir adalah ,” lebih suci bagi hatimu dan hati mereka,”yaitu lebih mensucikan dari hasrat jiwa dan khayalan syaithani, karena masing-masing dari laki-laki dan perempuan bila tidak melihat yang lainnya tidak terjadi apa-apa di dalam hatinya, berkata dalam Kasyful Asrar : (Dia) memindahkan mereka dari kebiasaan adat kepada kebiasaan syari’at dan kebiasaan ibadah, dan menjelaskan bahwa manusia itu tetap manusia, meskipun mereka itu dari golongan sahabat dan isteri-isteri Nabi
, seorang pun dari laki-laki dan wanita tidak merasa aman atas dirinya, dan oleh sebab itu peraturan syari’at sangat memperketat yaitu janganlah laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita yang tidak ada hubungan kemahraman di antara keduanya, sebagaimana sabdanya : janganlah sekali-kali seorang laki- laki berkhalwat dengan seorang wanita, karena sesungguhnya yang ketiga adalah syaitan,” Dan Umar menginginkan sekali hijab dipasang terhadap mereka, dan beliau sering menyebutkannya, serta beliau mengharapkan adanya ayat yang turun tentang hal ini, beliau pernah berkata : Seandainya saya ditaati dalam hal kalian tentu kalian tidak akan dilihat oleh satu mata pun,” dan pernah berkata juga,”Adalah para wanita sebelum turun ayat ini mereka
152
Tafsir Al Qur’an Al ‘Adhim 3/503.
tampak di hadapan laki-laki.154”yaitu firman-Nya ,’ اعً اَتمَ نَّ هُوْمُُتْلَأس
َ اَذِإوَ نَّ هِِبوُْلقُوَ مُْكِبوُْلقُِل رُهَْطَأ مُْكِلَذ بٍاجَحِ ءِارَوَ نْ مِ نَّ هُوُْلَأسْ افَ .
Al Imam Muhammad Ibnu Ali Ibnu Muhammad Asy Syaukani rahimahullah berkata : Dan isyarat dengan firman-Nya مْ ُكِلَذ(Cara yang demikian itu) kembali pada meminta kebutuhan kepada mereka dari belakang hijab, dan dikatakan juga : Isyarat itu kembali pada semua yang disebutkan yaitu tidak masuk tanpa ada izin, tidak lama-lama ngobrol di saat masuk, dan meminta kebutuhan. Namun pendapat yang pertama adalah yang lebih utama. Dan isim isyarat (مْ ُكِلَذ )adalah mubtada sedang khabarnya adalah رُهَْطَأ نَّ هِِبوُْلقُوَ مُْكِبوُْلقُِل yaitu lebih mensucikan baginya dari kecurigaan dan hasrat jahat yang mengganggu benak laki-laki tentang wanita dan benak wanita tentang laki-laki. Dan dalam hal ini ada pelajaran bagi setiap orang yang beriman dan peringatan baginya dari terlalu percaya dengan dirinya ketika berkhalwat dengan wanita yang tidak halal baginya, dan ngobrol dengannya tanpa memakai hijab, dan dalam firman-Nya : نَّ هِِئآبآ يْ فِ نَّ هِْيَلعَ حَاَنجُ َل
َلوَ نَّ هِِتاوَخََأ ءِاَنْبَأ َلوَ نَّ هِِناوَخِْإ ءِاَنْبَأ َلوَ نَّ هِِناوَخِْإ َلوَ نَّ هِِئاَنْبَأ َلوَ نَّ هِِئاسَ ِن Dia mengatakan نهِ ِئاسَ ِن َلوَ penyandaran ini menuntut bahwa yang dimaksud adalah wanita-wanita mu’minah, karena wanita-wanita kafir tidak bisa dipercaya dalam menjaga aurat (wanita mu’minah), sedangkan para wanita seluruh (tubuh)nya adalah aurat.155
Al Imam As Sayuthi rahimahullah berkata : Ini adalah ayat hijab yang dengannya Ummahatul Mu’minin mendapat perintah setelah sebelumnya keadaan wanita tidak berhijab.156
Al ‘Alamah Al Qur’aniy Muhammad Al Amin Al Syinqithi rahimahullah berkata : Telah terdahulu dalam tarjamah (maksudnya muqaddimah) Al Kitab Al Mubarak bahwa diantara bayan (penjelasan) yang dijelaskan dalam
tarjamah itu adalah bila sebagian ulama mengatakan suatu pendapat tentang makna suatu ayat, dan dalam ayat itu sendiri ada qarinah yang menunjukan tidak benarnya pendapat ini, dan kami telah menyebutkan beberapa contoh di sana, dan masih banyak contoh yang ada di dalam Al Kitab ini yang belum kami sebutkan dalam tarjamah, dan diantara contoh yang kami sebutkan dalam tarjamah itu adalah ayat yang mulia ini, kami telah mengatakan dalam
tarjamah Al Kitab Al Mubarak ini : Dan diantara contohnya adalah perkataan banyak orang : Bahwa ayat hijab yaitu firman-Nya اعً اَتمَ نَّ هُوْمُُتْلَأسَ اَذِإوَ بٍ اجَ حِ ءِارَوَ نْ مِ نَّ هُوُْلَأسْ افَ adalah khusus bagi isteri-isteri Nabi , maka sesungguhnya penetapan alasan (illah) hukum ini yaitu pengharusan hijab oleh Allah dengan keberadaannya lebih mensucikan bagi hati laki-laki dan wanita dari kecurigaan dalam firman-Nya : نَّ هِِبوُْلقُوَ مُْكِبوُْلقُِل رُهَْطَأ مُْكِلَذ merupakan qarinah yang jelas yang menunjukan keumuman hukum ini (mencakup isteri-isteri Nabi dan wanita muslimah lainnya), karena tidak ada seorang muslim pun mengatakan bahwa selain isteri-isteri Nabi tidak membutuhkan kepada kesucian hati mereka dan hati para lelaki dari kecurigaan maksiat dari diri para wanita. Dan sudah menjadi suatu kepastian dalam ilmu Ushul Fiqh bahwa illat (alasan hukum) itu mencakup seluruh yang dimasuki
154 Ruhul bayan 7/215 155
Fathul Qadir 4/298.
illat itu (ma’lul), dan hal ini diisyaratkan dalam Maraaqis Su’ud dengan perkataannya :
Dan terkadang mengkhususkan dan terkadang mengumumkan Terhadap hukum asalnya, namun dia itu tidak pernah terobek
Selesai tempat tujuan dari perkataan kami dalam tarjamah tersebut, dan dengan penjelasan yang telah kami sebutkan maka anda bisa mengetahui bahwa dalam ayat ini ada dalil yang jelas yang menunjukan bahwa wajibnya hijab ini umum mencakup seluruh wanita bukan khusus bagi isteri-isteri Nabi -meskipun asal lafadznya khusus buat mereka- karena keumuman illatnya menunjukan keumuman hukum di dalamnya. Sedangkan maslakul ‘illah (pokok alasan) yang menunjukan bahwa firman-Nya : رُهَْطَأ مُْكِلَذ نَّ هِِبوُْلقُوَ مُْكِبوُْلقُِل adalah illat (alasan hukum) bagi firman-Nya : بٍ اجَ حِ ءِارَوَ نْ مِ نَّ هُوُْلَأسْ افَ yaitu Al Maslak yang terkenal dalam ilmu Ushul dengan nama Maslakul ‘iima’ wat Tanbih. Sedangkan definisi atau batasan maslak yang bisa diterapkan pada juz’iyyahnya ini adalah : Disertainya suatu hukum syar’i dengan suatu sifat yang seandainya sifat ini adalah bukan alasan bagi hukum tersebut maka perkataan tersebut cacat menurut penilaian orang-orang yang memahami
Pengarang Maraqis Su’ud mendefinisikan dilalah Al ‘iimaa wat tanbih dalam pembahasan dilalatul Iqtidha wal Isyarah Wal ‘iimaa wat Tanbih dengan perkataannya :
Dilalah Al ‘iimaa wat tanbih
Dalam disiplin ilmu ini dimaksudkan menurut para ahlinya Adalah menyertainya suatu sifat terhadap hukum yang
bila bukan untuk tujuan illat (alasan hukum itu), maka dicela oleh orang yang pandai.
Dan beliau mendefinisikan Al ‘iimaa wat tanbih juga dalam masaalikul ‘illah dengan perkataannya :
Dan yang ketiga : Al ‘iimaa yaitu penyertaan suatu sifat
terhadap suatu hukum yang keduanya dilafalkan tanpa ada ketinggalan dan sifat itu atau nadhir itu
menyertainya, membantu bagi yang lainnya
Maka firman-Nya : نَّ هِِبوُْلقُوَ مُْكِبوُْلقُِل رُهَْطَأ مُْكِلَذ seandainya bukan alasan hukum bagi firman-Nya: بٍ اجَ حِ ءِارَوَ نْ مِ نَّ هُوُْلَأسْ افَ maka tentu perkataan ini cacat tidak teratur benar menurut orang yang pandai lagi ‘arif. Oleh sebab itu bila anda mengetahui bahwa firman-Nya : رُهَْطَأ مُْكِلَذ نَّ هِِبوُْلقُوَ مُْكِبوُْلقُِلadalah illah (alasan hukum) bagi firman-Nya : مْ ُكِلَذ نَّ هِِبوُْلقُوَ مُْكِبوُْلقُِل رُهَْطَأ dan anda juga mengetahui bahwa hukum illat itu umum, maka ketahuilah sesungguhnya illat bisa membuat umum ma’lulnya dan bisa juga mengkhususkannya sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam bait syair Maraqis Su’ud, dan dengannya anda mengetahui bahwa ayat hijab itu umum karena keumuman illatnya, dan bila hukum ayat ini umum dengan dilalah qarinah qur’aniyyah maka ketahuilah bahwa hijab itu wajib atas seluruh wanita berdasarkan dilalah Al Qur’an .157