• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak ASEAN Plus Three Free Trade Area (FTA) terhadap Ekonomi Makro Indonesia

TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

6.1. Dampak ASEAN Plus Three Free Trade Area (FTA) terhadap Ekonomi Makro Indonesia

Pengaruh penghapusan tarif terhadap beberapa peubah ekonomi makro di masing-masing negara (ASEAN, Cina, Jepang dan Rep. Korea) sesuai dengan kesepakatan kerjasama ASEAN Plus Three (ASEAN, Cina, Jepang dan Rep. Korea) pada komoditi yang diperdagangkan dapat dilihat pada Tabel 6.2. Penghapusan tarif berdampak pada peningkatan kesejahteraan semua negara anggota ASEAN dan Cina, Jepang serta Rep. Korea yang terlihat dari adanya peningkatan nilai equivalent variation pada masing-masing negara ASEAN Plus Three. Hal ini mengimplikasikan bahwa pembentukan kerjasama FTA ASEAN

Plus Three setidaknya memiliki pengaruh positif bagi negara yang terlibat. Peningkatan kesejahteraan yang terjadi pada ASEAN Plus Three karena adanya

trade creation effect dimana kesejahteraan masyarakat meningkat karena memperoleh barang dengan harga yang relatif lebih murah. Trade creation adalah penggantian produk domestik negara yang melakukan FTA dengan produk impor yang lebih murah dari anggota lain. Jika seluruh sumber daya digunakan secara

full employment dan dengan melakukan spesialisasi berdasarkan comparative advantage, masing-masing negara akan memperoleh dampak positif berupa peningkatan kesejahteraan masyarakat karena memperoleh barang dengan harga yang relatif lebih murah. Indonesia mengalami peningkatan kesejahteraan sebesar US$ 685.90 juta. Sementara peningkatan terkecil dialami oleh Filipina yaitu sebesar US$ 148.85 juta dan peningkatan paling besar dialami oleh Jepang yaitu sebesar US$ 8428.85 juta. Jika dibandingkan dengan negara sesama ASEAN lainnya seperti Thailand dan Malaysia, Indonesia masih mengalami peningkatan yang jauh lebih kecil. Hal ini mencerminkan bahwa trade creation effect di Thailand dan Malaysia lebih berpengaruh positif dibanding di Indonesia.

Jika dilihat dampak FTA dalam skema ASEAN Plus Three terhadap performa pertumbuhan nasional, maka secara keseluruhan terjadi peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) riil di semua negara ASEAN Plus Three, kecuali Singapura yang mengalami penurunan PDB riil sebesar 0.03 persen. Sebagai negara berkembang yang masih mengandalkan ekspor sebagai instrumen untuk mengejar pertumbuhan ekonomi, peningkatan PDB riil yang dialami Indonesia relatif kecil, yaitu hanya sebesar 0.18 persen. Lebih kecil dibanding Filipina, Malaysia dan Thailand. Dimana Thailand mengalami peningkatan PDB riil paling besar yaitu sebesar 1.34 persen. Di kawasan Asia Timur, Rep. Korea mengalami peningkatan PDB riil paling besar, yaitu 0.56 persen. Sementara peningkatan PDB riil pada Cina dan Jepang masing-masing hanya sebesar 0.13 persen dan 0.05 persen. Kuantitas PDB meningkat dengan besaran yang relatif kecil dan lebih disebabkan oleh peningkatan konsumsi walaupun di satu sisi investasi meningkat, tetapi peningkatannya relatif kecil untuk mendorong peningkatan PDB kuantitas (volume). Uraian tersebut dapat dilihat pada Tabel 6.2.

Peningkatan PDB riil Indonesia dan negara ASEAN Plus Three lainnya lebih disebabkan karena peningkatan investasi dan konsumsi rumah tangga. Namun investasi yang terjadi di Indonesia jauh lebih kecil dari yang terjadi di Malaysia dan Thailand. Ini menunjukkan bahwa daya tarik Investasi di Indonesia lebih lemah jika dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand. Hal ini diperkuat dengan data Global Competitiveness Index dalam World Economic Forum (2010), dimana peringkat Indonesia jauh berada di bawah Malaysia dan Thailand.

Indonesia berperingkat 44, sementara Thailand berada pada peringkat 38 dan Malaysia peringkat 26.

Jika dilihat hasil simulasi penghapusan tarif terhadap PDB deflator atau tingkat inflasi di negara ASEAN, Cina, Jepang dan Rep. Korea meski meningkatkan inflasi, namun peningkatannya relatif kecil, bahkan untuk Malaysia dan Filipina terjadi penurunan tingkat inflasi yakni masing-masing sebesar 0.29 persen dan 0.17 persen. Sedangakan Indonesia meningkat sebesar 0.25 persen, Singapura sebesar 1.12 persen, Thailand sebesar 3.53 persen. Untuk Cina, Jepang dan Rep. Korea meningkat masing-masing sebesar 0.35 persen; 1,07 persen dan 1.58 persen. Meningkatnya PDB deflator di negara-negara ASEAN ini, termasuk Indonesia, salah satunya karena masih tingginya tingkat ketergantungan beberapa komoditi impor khususnya dari Cina yang harganya menjadi meningkat sehingga mempengaruhi indeks harga umum. Secara umum hal tersebut mengartikan bahwa antar sesama negara ASEAN Plus Three mengalami saling ketergantungan terhadap barang-barang impor dari sesama negara ASEAN Plus Three itu sendiri. Dengan adanya saling ketergantungan tersebut, ketika tarif impor dihapuskan, maka permintaan terhadap barang-barang impor dapat dipastikan langsung meningkat, sehingga harganya pun akan meningkat menyesuaikan tingkat permintaan dan mempengaruhi indeks harga umum.

Variabel Term of Trade (TOT) atau kurs riil mencerminkan harga relatif barang-barang antara dua negara. Dari hasil simulasi, TOT negara ASEAN menjadi meningkat karena adanya penghapusan tarif impor (kecuali Filipina). Kurs riil atau TOT tinggi mencerminkan barang-barang impor relatif lebih murah dan barang-barang domestik di negara-negara ASEAN relatif lebih mahal. Hal ini berarti dengan adanya penghapusan tarif impor maka negara ASEAN semakin turun daya saingnya, dimana dalam hal ini Thailand yang paling besar mengalami peningkatan TOT. Sedangkan TOT Cina, menurun sebesar 0.004 persen, yang menandakan produk yang diperdagangkan dari Cina sedikit meningkat daya saingnya dengan penghapusan tarif di negara-negara ASEAN, Cina, Jepang dan Rep. Korea.

Lebih jauh, dampak kenaikan atau penurunan ekspor dan impor secara total masing-masing sektor di negara ASEAN, Cina, Jepang dan Rep. Korea maupun sebaliknya berdampak pada neraca perdagangan di hampir seluruh negara

yang terlibat. Pada Tabel 6.2 terlihat bahwa neraca perdagangan semua negara mengalami penurunan, namun sebenarnya dengan adanya FTA ini justru memperbaiki neraca perdagangan diantara sesama negara ASEAN Plus Three. Karena pada kondisi awal sebelum diberlakukannya FTA neraca perdagangan di hampir seluruh negara yang terlibat sudah mengalami defisit yang jauh lebih besar (Tabel 6.1). Pada Tabel 6.1 terlihat perbedaan neraca perdagangan antara sebelum FTA dan sesudah FTA. Pada umumnya neraca perdagangan setiap negara menjadi lebih baik setelah adanya FTA, kecuali yang dialami oleh Thailand. Perubahan neraca perdagangan yang relatif paling baik dialami oleh Singapura, yaitu dari US$ -3,950.80 juta menjadi US$ -97.69 juta. Sementara Indonesia berubah dari US$ -4,959.60 juta menjadi US$ -491.09 juta. Karena semakin kecilnya defisit neraca perdagangan, hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya FTA mampu memperbaiki kinerja perdagangan masing-masing negara yang terlibat.

Tabel 6.1. Neraca Perdagangan Sebelum dan Setelah ASEAN Plus Three FTA (Juta dolar) Negara Neraca Perdagangan Sebelum FTA Neraca Perdagangan Setelah FTA Indonesia -4,959.60 -491.09 Malaysia -4,743.90 -1,136.65 Filipina -1,543.80 -289.05 Singapura -3,950.80 -97.69 Thailand -5,824.90 -13,730.20 Cina -18,840.20 -3,521.26 Jepang -23,105.50 -2,732.31 Korea -12,090.10 -2,231.78

Sumber: Data Base GTAP versi 7.0 (diolah)

Peningkatan TOT (term of trade) atau kurs riil mengakibatkan barang-barang dan jasa Indonesia relatif lebih mahal dibandingkan barang-barang dan jasa dari luar negeri. Hal ini mengakibatkan peningkatan impor Indonesia masih lebih besar dari peningkatan ekspornya (Tabel 6.2). Walaupun demikian, perubahan penurunannya tergolong kecil dibandingkan Malaysia dan Thailand serta lebih kecil juga dibandingkan negara-negara Asia Timur. Neraca perdagangan yang negatif juga merupakan signal bahwa peningkatan investasi dibiayai oleh saving

(tabungan). Secara teoritis, kenaikan permintaan investasi akan menurunkan tabungan bersih dan mengurangi persediaan rupiah yang diinvestasikan ke luar

negeri, sehingga kurs riil keseimbangan akan meningkat dan mengakibatkan kurs rupiah mengalami apresiasi, barang-barang domestik menjadi relatif lebih mahal terhadap barang luar negeri, dan ekspor netto turun. Pada gilirannya, hal ini mengakibatkan neraca perdagangan menjadi negatif.

Dilihat dari neraca perdagangan dengan negara-negara selain ASEAN Plus Three maka terjadi peningkatan. Misalnya pada rest of Asia dan rest of the World. Hal ini menunjukkan bahwa defisit neraca perdagangan yang dialami oleh negara-negara yang terlibat dalam ASEAN Plus Three FTA dapat dikompensasi apabila negara-negara tersebut melakukan perdagangan dengan kawasan lain.

Variabel investasi pada masing-masing negara menunjukkan performa yang berbeda-beda akibat skema FTA ASEAN Plus Three. Diharapkan dengan FTA ASEAN Plus Three akan memberikan fasilitas bagi penanam modal. Bentuk fasilitas yang diberikan kepada penanam modal sesuai dengan Undang-Undang RI Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal Bab X Pasal 4(a) pajak penghasilan melalui pengurangan penghasilan netto sampai tingkat tertentu terhadap jumlah penanaman modal yang dilakukan dalam waktu tertentu, (b) pembebasan atau keringanan bea masuk atas impor barang modal, mesin, atau peralatan untuk keperluan produksi yang belum dapat diproduksi di dalam negeri, (c) pembebasan atau keringanan bea masuk bahan baku atau bahan penolong untuk keperluan produksi untuk jangka waktu tertentu dan persyaratan tertentu, (d) pembebasan atau penangguhan Pajak Pertambahan Nilai (PPn) atas impor barang modal atau mesin atau peralatan untuk keperluan produksi di dalam negeri selama jangka waktu tertentu, (e) penyusutan atau amortisasi yang dipercepat, (f) keringanan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Berdasarkan hasil simulasi yang ditunjukkan pada Tabel 6.2, investasi Indonesia meningkat relatif kecil yaitu sebesar 1.57 persen, sedangkan Thailand mengalami peningkatan terbesar mencapai 36.81 persen dan Malaysia sebesar 10.01 persen. Walaupun untuk Indonesia peningkatan investasi relatif kecil diharapkan dapat memperluas kesempatan kerja yang disertai dengan peningkatan keahlian dan keterampilan sehingga dalam jangka panjang output dapat ditingkatkan dan efisiensi dapat tercapai. Dengan peningkatan output domestik maka dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan akan mengurangi volume impor.

Jika seluruh sumber daya digunakan secara penuh dan dengan melakukan spesialisasi berdasarkan comparative advantage, masing-masing negara akan memperoleh dampak positif akibat liberalisasi berupa peningkatan kesejahteraan karena memperoleh barang dengan harga yang relatif murah. Efek positif dari

trade creation tidak hanya berlaku bagi masyarakat yang melakukan konsumsi namun Pemerintah yang juga melakukan belanja negara, juga mengalami peningkatan. Pengeluaran Pemerintah menjadi meningkat dengan adanya penghapusan tarif impor. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan pengeluaran Pemerintah yang positif dialami kedua belah pihak yaitu negara-negara ASEAN maupun Cina, Jepang dan Rep. Korea. Pengeluaran pemerintah yang terbesar terjadi pada negara Thailand yaitu sebesar 6.63 persen, diikuti Jepang dan Rep Korea masing-masing sebesar 1.16 persen dan 2.49 persen. Sementara itu pengeluaran pemerintah yang terjadi bagi Indonesia meningkat sebesar 0.53 persen.

Dibukanya perdagangan antara ASEAN, Cina, Jepang dan Rep Korea mempunyai konsekuensi yang luas terhadap perekonomian, salah satunya terhadap konsumsi (consumption effect). Secara teori, salah satu pengaruh pada konsumsi masyarakat adalah bergesernya garis Consumption Possibility Frontier

(CPF) ke atas. Ini berarti bahwa adanya perdagangan membuat masyarakat bisa mengkonsumsi dalam jumlah yang lebih besar daripada sebelum adanya perdagangan. Dengan kata lain bahwa pendapatan riil masyarakat (yaitu pendapatan yang diukur dari berapa jumlah barang yang bisa dibeli oleh jumlah uang tersebut) meningkat dengan adanya perdagangan. Hasil simulasi kebijakan menunjukkan bahwa konsumsi di negara ASEAN Plus Three naik akibat dihapusnya tarif impor dikedua belah pihak. Konsumsi Indonesia mengalami peningkatan sebesar 0.5 persen. Persentase peningkatan konsumsi tertinggi diduduki oleh Thailand sebesar 6.25 persen. Sementara konsumsi di negara Filipina hanya akan meningkat sebesar 0.17 persen. Cina, jepang dan Rep Korea juga mengalami peningkatan konsumsi, yaitu masing-masing sebesar 0.57 persen, 1.13 persen dan 2.03 persen. Seluruh informasi mengenai dampak ASEAN Plus Three FTA terhadap konsumsi pada masing-masing negara ditunjukkan pada Tabel 6.2.

Tabel 6.2. Dampak FTA dalam Skema ASEAN Plus Three terhadap Peubah Ekonomi Makro Negara Neraca Perdagangan (US$ juta) Kesejahteraan (US$ juta) PDB riil (%) Term of trade (%) PDB