• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENYELENGGAR AAN PENDIDIK AN ANAK USIA DINI

C. MANFAAT DAN DAMPAK BOP PAUD 1. Manfaat BOP PAUD

2. Dampak BOP PAUD

Dampak penggunaan BOP PAUD dapat dilihat dari berbagai kriteria, antara lain yaitu 1) peningkatan mutu pembelajaran lembaga yang mendapatkan dana BOP PAUD; dan 2) peningkatan akses siswa miskin.

Pada awal bagian ini telah disinggung bagaimana Pemerintah mengatur penggunaan dana BOP PAUD, dengan harapan semua lembaga PAUD mendapatkan manfaatnya dan berdampak sesuai dengan kriteria tersebut di atas.

a. Peningkatan Mutu Pembelajaran

Pembelajaran yang baik dilaksanakan secara sistematis dan berkesinambungan. Kualitas pembelajaran dapat diukur dan ditentukan oleh sejauh mana kegiatan pembelajaran dapat mengubah perilaku anak sesuai dengan tujuan kompetensi yang telah ditetapkan. Untuk itu guru perlu memperhatikan cara anak usia dini belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran PAUD. Anak usia dini belajar secara bertahap dengan cara berpikir yang khas dan mampu belajar dengan berbagai cara bahkan anak mampu belajar dari proses interaksi dengan lingkungannya.

Dengan memanfaatkan media dan sumber belajar yang mudah ditemukan anak, serta dukungan dari guru, maka anak dapat belajar secara optimal. Dalam hal ini dana BOP PAUD dapat dimanfaatkan dengan maksimal untuk mendukung penyediaan media dan sumber belajar dalam rangka mempermudah proses belajar dan menciptakan pembelajaran yang menyenangkan baik di dalam maupun di luar kelas. Dengan dimunculkan-nya penggunaan dana BOP PAUD bagi penyediaan alat permainan edukatif (APE) dalam juknis sangat membantu kegiatan pembelajaran. Sehingga sarana pembelajaran anak di kelas lebih lengkap dan terakomodir tanpa harus membebani orang tua. Selain itu, berdasarkan hasil diskusi dengan responden diketahui bahwa dana BOP sangat membantu penyediaan bahan habis pakai untuk pembelajaran peserta didik. Bahkan untuk beberapa bahan masih tersisa dari penyediaan yang dipenuhi melalui anggaran BOP PAUD dari tahun-tahun sebelumnya, sehingga pengelola merasa perlu untuk mengalihkan anggaran untuk pemenuhan kegiatan pembelajaran bagi keperluan lainnya, seperti dialihkan untuk perawatan sarana yang diakui oleh pengelola lembaga rentan rusak sehingga membutuhkan biaya perawatan yang besar.

Lengkapnya sarana pembelajaran baik bagi siswa maupun tenaga pendidik berpengaruh terhadap situasi pembelajaran dan memotivasi anak dalam belajar. Karena pada dasarnya anak akan banyak belajar dari alat atau sarana yang digunakannya saat bermain. Berdasarkan hal ini maka

seharusnyalah sarana pembelajaran menjadi utama dalam pembelajaran anak di PAUD, sehingga tenaga pendidik dan penyelenggara/pengelola lembaga dapat mengantisipasi dengan melengkapi kebutuhan anak tersebut dengan sarana belajar dengan berbagai inovasi, tidak melulu dari bahan pabrikan namun bahan yang ada di sekitar anak dapat digunakan sebagai sarana dan sumber belajar. Dengan demikian maka kelebihan bahan habis pakai dapat dimanfaatkan lembaga untuk penggunaan terhadap kebutuhan kegiatan pembelajaran dan bermain lainnya, sehingga persentase yang dialokasikan oleh pemerintah dapat terpenuhi dengan maksimal.

Peningkatan mutu pembelajaran dalam hal ini diukur dari kelengkapan sumber belajar yang digunakan guru dan dimanfaatkan anak sebagai penunjang pembelajaran sehingga pembelajaran berlangsung dengan lebih efektif dan efisien sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai. Sebagian guru menganggap bahwa sumber belajar yang dapat optimal menarik perhatian anak adalah melalui penyajian animasi dan visual yang menarik.

Namun hal itu menjadi tidak pas dengan pola belajar dan perkembangan anak usia dini yang mengedepankan keterlibatan psikomotorik untuk merangsang perkembangan kognisi anak secara alamiah sesuai dengan tingkat perkembangan usia. Hal ini merupakan tugas Dinas Pendidikan dan pengelola PAUD pada khususnya untuk secara berkesinambungan memberikan pemahaman melalui pelatihan kepada guru agar memiliki pengayaan kompetensi untuk menunjang tugas mereka.

b. Peningkatan Akses Peserta Didik Miskin

Kontribusi BOP PAUD terhadap perkembangan jumlah peserta didik PAUD untuk semua satuan PAUD rata-rata terdapat peningkatan. Hal ini juga disampaikan oleh Dinas Pendidikan dalam diskusi kelompok terpimpin, bahwa dengan adanya BOP PAUD banyak satuan PAUD baru yang telah didirikan oleh masyarakat, terutama untuk daerah-daerah yang semula belum terlayani PAUD. Meningkatnya satuan PAUD ini tentunya akan meluaskan akses siswa di lingkungan sekitar untuk mendapatkan

layanan pendidikan. Dari olah data kuesioner kontribusi BOP PAUD terhadap perkembangan siswa PAUD tahun 2018 ke tahun 2019 ditemukan kenaikan jumlah peserta didik di TK, KB, SPS maupun TPA walau presentasinya kecil. Peningkatan untuk peserta didik TK sebesar 4 persen, KB 6 persen, SPS 3 persen dan TPA sebesar 8 persen. Peningkatan jumlah PAUD untuk TPA tergolong paling tinggi diantara satuan PAUD lainnya.

Hal ini dikarenakan banyaknya pasangan usia muda yang keduanya bekerja dan tidak mempunyai asisten rumah tangga sehingga menitipkan anaknya di TPA (Grafik 1).

Grafik 1. Dampak BOP terhadap Peningkatan Jumlah Siswa PAUD

Peningkatan akses peserta didik ini diakui oleh penyelenggara lembaga tidak serta merta membawa peningkatan terhadap akses peserta didik dengan status sosial ekonomi rendah, bahkan di Kota Batu diakui bahwa sangat kesulitan mencari peserta didik dari kriteria ini. Hal ini dikarenakan masyarakat yang tinggal di Kota Batu memiliki status sosial ekonomi menengah ke atas. Di sebagian besar daerah akses peserta didik berstatus sosial ekonomi rendah dalam penyelenggaraan PAUD cenderung stabil, hal ini karena tersedianya jenis layanan yang berbeda di setiap daerah sehingga masyarakat dapat memilih lembaga penyelenggara layanan PAUD sesuai

dengan kemampuan ekonominya. Berbeda yang dimaksud dalam hal ini adalah tidak hanya berbeda jenis layanannya namun termasuk juga berbeda pengelolaannya, ada yang dikelola oleh organisasi besar, sedang, kecil dan bahkan perorangan. Walaupun demikian, setiap jenis layanan PAUD memiliki kebijakan untuk melayani peserta didik dengan status sosial ekonomi yang demikian, yaitu dengan adanya kebijakan subsidi silang dan pemberian keringanan biaya sekolah sesuai dengan kondisi ekonomi orang tua peserta didik yang meliputi pemberian diskon iuran bulanan orang tua dan kemudahan mendapatkan seragam sekolah melalui sumbangan seragam dari alumni atau cicilan pembayaran uang seragam selama satu tahun.

Kebijakan pemberian diskon ini bervariasi, dengan pilihan diskon mulai 25%, 50%, 75% dan bahkan 100%. Namun kebijakan ini hanya dimiliki oleh lembaga penyelenggara PAUD yang besar dan biasanya memiliki peserta didik banyak, satu kelompok memiliki beberapa kelas paralel. Namun tidak demikian bagi lembaga penyelenggara kecil dan dikelola oleh perorangan, kebijakan yang diberikan adalah berupa keringanan pembayaran melalui metode cicilan dan bebas biaya seragam. Pengelola berupaya mengumpulkan seragam yang dimiliki oleh alumni secara sukarela untuk diberikan kepada mereka yang ekonominya kurang beruntung.

B

ab ini menguraikan efektivitas penggunaan Bantuan Operasional Penyelenggaraan PAUD berkaitan dengan: 1) kontribusi penggunaan BOP PAUD; 2) realisasi penggunaan BOP PAUD di satuan PAUD (Taman Kanak-kanak, Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak, dan Satuan PAUD Sejenis); dan 3) penentuan satuan biaya penyelenggaraan PAUD. Penekanan pada efektivitas bertujuan untuk mengetahui keberhasilan lembaga PAUD sesuai dengan tujuan pemberian bantuan dana BOP PAUD.

Dokumen terkait