D. Keadaan Pendidikan
2. Dampak Degradasi Moral Terhadap Kekerasan Simbolik di SMA Negeri 3 Gowa Dari Aspek Teori Habitus
Degradasi moral merupakan masalah sosial yang terjadi di masyarakat, saat ini moral remaja mengalami tingkat degradasi yang tinggi. Kondisi pendidikan saat ini cenderung mengalami dinamika perubahan orientasi, bahkan mengarah pada persimpangan jalan. Di satu sisi pendidikan telah meningkatkan kualitas kompetensi ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi di sisi lain kompetensi karakter terabaikan. Padahal, karakter merupakan fondasi bangsa yang sangat penting dan perlu ditanamkan sejak dini.
Degradasi moral pendidikan merupakan penururnan moral seorang siswa dan dampak dari degradasi moral ini berupa terjadinya kekerasan simbolik. Kekerasan simbolik sendiri tidak sama dengan kekerasan fisik, kekerasan simbolik ini tidak dapat dilihat secara kasat mata. Salah satu
dampak degradasi moral terhadap kekerasan simbolik yang terjadi di SMA Negeri 3 Gowa adalah berupa rendahnya rasa hormat dan timbulnya rasa kebencian dalam kelas..
Sebagaimana yang dikemukan oleh Bourdieu dalam habitus bahwa habitus adalah struktur yang dibentuk sekaligus membentuk dunia sosial.
Habitus adalah struktur subjektif internal yang diperoleh seseorang melalui pengalamannya dengan menginternalisasi struktur objektif eksternal dunia sosial tempat ia hidup. Habitus bisa disebut sebagai Kebiasaan.
Pembentukan. Habitus dipengaruhi oleh dunia sosial yakni kelas sosial.
Artinya setiap kelas sosial masyarakat mempunyai Habitus yang berbeda-beda.
Pendidikan seringkali menjadi sebuah ajang perebutan oleh kelompok sosial yang ada di masyarakat. Disini dunia Pendidikan dipandang berdasarkan perspektif Pierre Bourdieu adalah “Ranah Sosial”, Ranah Sosial adalah wilayah terbatas yang di dalamnya terdapat perjuangan atau manuver yang memperebutkan sumber atau pertaruhan dan akses terbatas. Arena adalah taruhan yang dipertaruhkan seperti gaya hidup, perumahan, pekerjaan, kekuasaan (politik), intelektual, kelas sosial, ekonomi, prestise dll. Jelas dalam sebuah pertarungan dalam ranah sosial sangat ditentukan oleh modal.
Modal adalah sumber-sumber daya yang mempunyai nilai tertentu yang dimiliki oleh seseorang agar dapat bertahan dalam suatu arena. Setiap arena menuntut individu untuk mempunyai modal-modal khusus agar dapat hidup baik dan bertahan didalamnya. Modal disini bukan hanya diartikan
berdasarkan logika ekonomi yang sempit. Bourdieu membedakan empat jenis modal: ekonomi, budaya, sosial, dan simbolik.
Kekerasan Simbolik sama halnya dengan Dominasi Simbolik dimana penindasan dengan menggunakan simbol-simbol (sloganistik, sederhana, populer). Penindasan ini tidak dirasakan sebagai penindasan, tetapi sebagai sesuatu yang secara normal perlu dilakukan. Artinya, penindasan tersebut telah mendapatkan persetujuan dari pihak yang ditindas itu sendiri.
Kekerasan Simbolik dilakukan agar kemudian orang yang ditindas menganggap tatanan itu sebagai sesuatu yang adil. Agar orang yang ditindas tersebut menganggap pandangan yang dominan ini sebagai yang benar.
Pandangan kelas elit dianggap mewakili pandangan masyarakat secara keseluruhan atau berlaku secara universal, maka harus dipatuhi oleh masyarakat secara keseluruhan. Disinilah terjadi Kekerasan Simbolik dalam dunia Pendidikan.
Menurut Bourdieu kekerasan simbolik yang terjadi dalam dunia pendidikan bahwa adanya habitus. Habitus dipengaruhi oleh dunia sosial yakni kelas sosial. Artinya setiap kelas sosial masyarakat mempunyai habitus yang berbeda-beda. Hal ini yang menyebabkan kekerasan simbolik itu terjadi karena adanya pengaruh dunia sosial yang dapat menyebabkan terjadiya degradasi moral atau menurunnya moral siswa. Hal inilah yang menyebabkan kekerasan simbolik yang terjadi di SMA Negeri 3 Gowa karena di pengaruhi oleh dunia sosial dan merupakan dampak degradasi moral. Moral siswa menjadi menurun diakibatkan perkembangan teknologi dan kurangnya
pendidikan karakter yang didapatkan di sekolah, serta kurangnya pengawasan dari orang tua siswa, serta pengaruh lingkungan yang tidak baik akan memperburuk perilaku atau moral anak.
Untuk memperbaiki moral bangsa untuk menghadapi berbagai kasus penyimpangan perilaku siswa, yang tak kalah penting, faktor lembaga pendidikan juga memegang peranan penting dalam mengembalikan moral siswa. Lembaga pendidikan ini tak hanya meliputi sekolah dan pendidik tetapi juga masjid sebagai pusat penegakkan adab.
81
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang kekerasan simbolik terhadap guru studi pada degradasi moral pendidikan di SMA Negeri 3 Gowa, dapat disimpulkan bahwa :
1. Bentuk kekrasan simbolik guru yang terjadi di SMA Negeri 3 Gowa berupa kerapian pakaian. Pada saat proses belajar mengajar ada siswa yang pakainnya tidak rapi seperti tidak memakai seragam atau ada yang kaki bajunya diluar. Sedangkan bentuk kekerasan simbolik kedua yang terjadi di SMA Negeri 3 Gowa adalah perangkingan. Adanya perengkingan ini membuat siswa menjadi terklasifikasi berdasarkan prestasi dalam hal belajar. Hal ini terjadi dikarena guru tidak hanya menilai dari satu aspek saja yaitu pengetahuan akan tetapi dinilai dari aspek sikap. Makanya terjadi perbedaan dalam hal perengkingan.
2. Dampak dari degradasi moral terhadap kekerasan simbolik di SMA Negeri 3 Gowa yaitu rendahnya rasa hormat. Karena adanya degradasi moral ini siswa tidak lagi bisa mengharagai dan menghormati gurunya, yang amna guru tersebut merupakan pengganti orang tua di sekolah. Dampak degradasi moral selanjutnya yaitu terjadinya kebencian dalam kelas hal ini sebabkan karena adanya rasa iri. Rasa iri ini terjadi karena ada siswa yang merasa teristimewakan jika siswanya pintar dan bagi siswa yang kurang dalam hal prestasi akan merasa tersudutkan.
B. Saran
1. Untuk guru, sebaiknya lebih mendekatkan diri kepada siswa dan intropeksi diri, apa yang salah dari dirinya kenapa siswa tidak menyukainya sehingga timbul kekerasan simbolik yang dialaminya
2. Untuk siswa, harus lebih menghargai guru karena guru merupakan orang tua kedua yang harus di hotmati. Guru sering menasehati dan menegur itu karena guru tersebut ingin melihat agar siswa tersebut baik.
3. Untuk penulis selanjutnya agar lebih mengkaji lebih dalam lagi mengenai kekerasan simbolik dalam dampak degradasi moral. Kemudian peneliti seanjutnya dapat melakukan penelitian di beberapa sekolah agar dapat membandingkan kekerasan simbolik dan dampak degradasi moral terhadap kekerasan simbolik.
83 Cipta.
Aswari, Aan. 2017. Sistem Penanggulangan Tindakan Kekerasan Oleh Wali Siswa Terhadap Pendidik Smk Negeri 2 Makassar. Sistem Penanggulangan Tindakan. I (1). 14-23.
Assegaf, Rachman. 2003. Kondisi Dan Pemicu Kekerasandalam Pendidikan. Istiqro'. I (I). 37-54.
Baharuddin. 2011. Pendidikan dan Psikologi Perkembangan. Yogyakarta. Ar-Ruzz.
Badan Pusat Statistika. 2017. Proyeksi Jumlah Penduduk Menurut Kecamayan Di Kabupaten Gowa . Gowa : Badan Pusat Statistika
Bourdieu, Pierre. 2007. Language And Symbolic Power. Malden : Polity Press.
Creswell, W. Jhon. 2016. Research Design Pendekatan Kualitatif, Pendekatan Kuantitatif, Dan Campuran.Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Dewanto, Agung, Satriyo. Perlindungan Guru Di Era Reformasi. Jurnal Pendidikan.
Daryanto dan Muhammad Farid. 2013. Konsep Dasar Manaajemen Pendidikan Nasional. Yogyakarta: Gava Media.
Elizabeth B. Hurlock. 1978. Perkembangan Anak: Jakarta: Penerbit Erlangga.
Habullah. 2008. Dasar-dasar ilmu pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Harun. 2016. Perlindungan hukum profesi guru dalam perspektif hukum positif. Jurnal law and justice. I (1).74-84.
Kaharuddin. 2017. Sosiologi Hukum. Gundarma Ilmu.
Kant, Immanuel, 2004, Dasar-dasar Metafisika Moral, Terj. Robby H Abror, Insight Reference, Yogyakarta.
Komara, endang. 2016. Perlindungan profesi guru di Indonesia. Jurnal Indonesia untuk kajian pendidikan. I(2).151-160.
Langgulung, Hasan, 1979. Pendidikan Islam Indonesia; Mencari Kepastian Historis, dalam Islam Indonesia Menatap Masa Depan. Jakarta : P3M,.
Lickona, Thomas. 1992. Educating for Character, How Our School Can Teach Respecr and Rresponsbility, Batam Book, New York.
Moleong, Lexy J. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Muslich, Mansur. 2011. Pendidikan Karakter : Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta : PT Bumi Aksara.
Muryono, Sigit. 2009. Empati, Penalaran moral dan Pola asuh, telaah bimbingan Konseling. Gala Ilmu Semesta. Yogyakarta.
Nurmacievibeer.blogspot.com.2019/10/degradasi-moral.html.
Purwaningsih, Eendang. 2010. Keluarga Dalam Mewujudkan Pendidikan Nilai Sebagai Upaya Mengatasi Nilai Degradasi Moral. Jurnal Pendidikan dan Humaniora. I (I).
43-55.
Putri, Rina Oktafia. 2018. Praktek Kekerasan Simbolik (Relasi Guru dan Peserta didik dalam Pendidikan Islam). Millah: Jurnal studi Agama. XVII (2). 319-339.
Redaksi Sinar Grafika. 2016. Undang-Undang Guru Dan Dosen. Jakarta: Sinar Grafika.
Remaja Rosdakarya.
SMA Negeri 3 Gowa. 2017. Daftar Nama Kepala Sekolah. Gowa : SMA Negeri 3 Gowa.
Sudirman. (2011). Interaksi dan Motivasi Belajar dan Mengajar. Jakarta : PT. Grafindo Indonesia
Sugiyono (2015). Metode Penelitian Kombinasi (Mix Methods). Bandung: Alfabeta.
Survey Sosial Ekonomi Nasional. 2016. Presentase Pebduduk Berumur 7-24 Tahun Yang Masih Sekolah Menurut Jenis Kelamin Dan Status Pendidikan Di Kabupaten Gowa. Gowa : SUSENA
Syarifuddin,dkk. 2016. Teori Sosiologi. Yogyakarta: Writing Revolution.
Thompson, R.A. (2006). Emotion Regulation: Conceptual foundation. In J.J. Gross (ed). Handbook of emotion regulation. New York: Guilford Press.
Tim Penyusun. 2018. Buku Panduan Penulisan Skripsi (Khusus Bagi Mahasiswa Bidang Kajian Penelitian Social Budaya). Makassar: Prodi Pendidikan Sosiologi FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar.
Tim Penyusun. 2019. Buku Panduan Penulisan Proposal dan Skripsi. Makassar: Prodi Pendidikan Sosiologi FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar.
Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional.
Undang-undang tahun 2005 No. 14. 2005. Undang-undagan guru dan dosen, cintra umbara. Bandung.
Kekerasan simbolik dalam degradasi moral di SMA Negeri 3 Gowa ialah : a. Sarana dan Prasarana sekolah
b. Stategi pengembangan kuriklum pembelajaran berbasis K13 c. Pengembangan kurikulum pembelajaran berbasis K13
No Aspek yang
Ada dua kekerasan simbolik yang terjadi di SMA Negeri 3 Gowa, yang pertama adalah kerapian pakaian, artinya ada siswa yang pakaiannya kurang rapi seperi tidak memakai seragam atau kaki bajunya diluar sedangkan kekerasan simbolik yang kedua adalah perangkingan, artinya adanya pembeda atau siswa dibeda-bedakan dalamb hal pemberian degradasi moral yang pertama adalah rendahnya rasa hormat
Untuk sarana dan prasarana yang ada di SMA Negeri 3 Gowa dapat dilihat pada table berikut ini :
No Fasilitas Jumlah Ket.
1 Kelas 30 Baik
2 Kantor Wakasek 1 Baik
3 Kantor Guru 1 Baik
4 Kantor Kepsek 1 Baik
5 Tata Usaha 1 Baik
6 BK 1 Baik
7 Ruang UKS 1 Baik
8 Ruang Organisasi Kesiswaan 1 Baik
9 WC 6 Baik
10 Perpustakaan 1 Baik
11 Laboratorium IPA 1 Baik
12 Laboratorium Multimedia 1 Baik
13 Masjid 1 Baik
14 Kantin 3 Baik
15 Gudang 1 Baik
16 Koperasi 1 Baik
17 Penjaga sekolah 1 Baik
Prasarana 2019 sekolah dapat dilihat pada tabel berikut.
A. Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Gowa