• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.3. Penyelesaian Sengketa Secara Diplomatik oleh Indonesia

3.3.2. Dampak Diplomasi terhadap Kepntingan Nasional

118Ana Sofa Yuking.2011.Kepastian Hukum Dalam Undang-undang Minerba. Law Review Volume XI No. 1 - Juli 2011Universitas Pelita Harapan,Jakarta.Ha.42

Ketiga,sedang berlangsung negosiasi dengan PT.Freeport.Perlu dketahui bahwa pemerintah Indonesia juga melakukan negosiasi kembali pada PT.Freeport tidak lama sebelum negosiasi dengan PT.Newmont Nusa Tenggara berlangsung.Dalam negosiasi tersebut menghasilkan kesepakatan kedua pihak dan akhirnya Freeport beroperasi lagi dengan normal. Ini bisa menjadi acuan bagi PT.Newmont Nusa Tenggara untuk mempersiapkan diri dalam melobby pemerintah melalui tawaran yang mereka ajukan sehingga dapat diterima dan disepakati bersama.

3.3.2.Dampak Diplomasi terhadap Kepntingan Nasional

Diplomasi memiliki peran yang penting untuk melihat kekuatan suatu negara melalui kekuatan kebijakan yang ada di dalamnya.Itulah sebabnya Indonesia berupaya melakukannya dengan tujuan mempertahankan kepentingan nasional.Dimana negara akan mendapat keuntungan yang lebih banyak lagi dari hasil sumber daya alam.Keuntungan ini diperoleh dari perusahaan-perusahaan yang melakukan ekplorasi.Dari keuntugan tersebut penerimaan negara akan semakin meningkat dan berdampak pada pembangunan.

Dapat dilihat bahwa penyelesaian masalah mineral dan batubara masih dimotivasi pada sectoral oriented.Artinya,hanya berfokus kepada satu sektor saja,yaitu ekonomi.Menurut sejarah perjalanan kebijakan umum energi di Indonesia,para perumus kebijakan lebih condong pada konsep kelangkka relatif.Oleh karena itu,mereka dapat saja berpikir bahwa aktifitas pembangunan ekonomi yang ekspansif dan eksploitatif masih dapat ditolerir sepanjang membawa manfaat bagi manusia.Sebagai konsekuensinya,persepsi dan konsep yang muncul masih kurang mendapat perhatian serius apalagi mencari jalan keluar terhadap aspek moral atau keserakahan manusia dalam mengeksploitasi sumber daya energi dan sumber daya alam lainnya.Maksudnya,rasionalitas ekonomi (pasar) cenderung berada di atas segalanya.119

Konsep peningkatan nilai tambah melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam merupakan manifestasi dari ekonomi arus tengah (mainstream) yang berdasar asas profit maximization dalam pengambilan keputusan sampai saat ini,dan masih lebih dominan dibandingkan dengans asas moral incentives dalam meredam mesin perekonomian nasional yang cenderung eksploitatif.Eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam,sepanjang membawa manfaat pada pertumbuhan ekonomi nasional,hampir selalu memperoleh pembenaran.Oleh karenanya,sasaran akhir menuju pembangunan berkelanjutan masih sukar untuk dicapai dalam kerangka kebijakan ekonomi yang cenderung ekspansif seperti

119 Bastanul Arifin.2001.Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia : Persiapan Ekonomi,Etika dan Praksis Kebijakan.Penerbit Erlangga : Jakarta.Hal 47-48

sekarang.Justru yang terjadi adalah masalah baru yang mempengaruhi masa depan suatu bangsa.

Orientasi sektor ekonomi mengarah kepada peningkatan nilai tambah hasil tambang mineral dan batubara akan semakin terlihat jika diwujudkan dengan berkembangnya industri pengolahan dan pemurnian melalui pabrik smelter.Semakin banyak produksi yang diperoleh dari hasil bahan mentah makan semakin meningkat pula penerimaan negara.Namun jika lihat lebih jauh akan berdampak kepada ketahanan sumber daya.Dengan semakin meningkatnya produksi makan akan semakin berkurang pula ketersediaan sumber daya mineral dan batubara.Sebab sudah begitu lama sumber daya yang tidak terbarukan ini dieksploitasi secara terus meneruh oleh banyak perusahaan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Oleh karena itu perlu pengawasan khusus terkait jumlah cadangan dan kadar kandungan, jumlah produksi/penjualan dan harga penjualan. Tak kalah penting, pengawasan terhadap optimasi penerimaan negara (baik dari royalti, landrent, dan pajak), dampak ekonomi nasional dalam skala luas berupa pemenuhan kebutuhan domestik, industri hilir tambang (smelting) dan penggunaan kandungan lokal, besaran tarif royalti per komoditi dan besaran kewajiban pajak, kewajaran dan kepatuhan pembayaran pajak.120

120 Firdaus Ilyas.2011.Tambang Newmont Nusa Tenggara dalam Pusaran Politik Rente.Buletin ICW Edisi 1/Juli/2011.hal.1

Tentu kebijakan pengembangan industri smelter akan menajdi sebuah pakasaan jika akhirnya pemerintah Indonesia juga terkesan memaksa perusahaan tambang untuk taat pada peraturan itu.Paksaan ini disertai dengan niat Indonesia untuk bernegosiasi ulang bahkan merubah beberapa peraturan.Ini yang menunjukkan bahwa pemerintah belum tegas dalam menjaga konsistensi kebijakan demi mewujudkan kepentingan nasional.Sehingga undang-undang tersebut berada pada posisi yang lemah.Dikatakan lemah karena di dalamnya tidak terdapat uraian secara jelas mengenai sanksi yang dikenakan bagi perusahaan yang tidak taat melaksanakan undang-undang tersebut.

Itulah sebabnya banyak akhirnya perusahaan bisa bertindak dengan bebas untuk mengaktualisasikan penolakan kebijakan yang ada tempat perusahaan itu berdiri.Dan pemerintah tidak memiliki dasar yang kuat untuk menyeleasikan itu semua hingga akhirnya hanya bisa ikut pada aturan main yang ada di luar kendali negara.Aturan main yang dimaksud ialah sistem yang harus diikuti oleh lembaga internasional dalam hal ini adalah ISCID serta ancaman-ancaman yang berasal dari perusahaan.

Dalam hal mewujudkan diplomasi, kepentinggan pihak yang bersangkutan tentu menjadi dasar utama sehingga menjadi pertambingan bagi aktor yang terlibat tetap kepada tujuan daripada diploamasi itu yaitu mempertahankan dan mewujudkan power.Pihak-pihak yang berkepentingan:

1. Masyarakat berkepentingan untuk hidup sejahtera dan layak pasca tambang.Setelsh sumber daya alam dikelola masyarakat hars dapat merasakan hasil tambang tersebut.

2. Pemerintah pusat dan daerah berkepentingan terhadap keberlanjutan pembangunan wilayah dan menyediaan sumber-sumber ekonomi potensial bagi rakyatnya sebagai perwujudan dari amanat Undang-Undang.

3. PT. Newmont Nusa Tenggara sebagai perusahaan multinasional berkepentingan meninggalkan nama baik di daerah tempat operasi. Meminimalisir stigma sebagai perusahaan yang penguras sumberdaya alam dan merusak lingkungan melalui ketaatan mereka akan konstitusi negara. Memandu proses tersebut, pemahaman pada politik, birokrasi dan kekuasaan dan kepentingan yang melatarbelakangi kebijakan.121

Implementasi UU No. 4/2009 tentang Mineral dan Batubara (UU Minerba) yang disertai larangan ekspor bijih mineral tambang (ore) pada 12 Januari 2014 mendatang bakal menjadi tantangan tersendiri bagi sektor ketenagakerjaan. Kemungkinan perubahan peraturan tidak bisa terhindarkan jika pada akhirnya negara hanya semakin ramah dengan investor asing.Jika masih ingin merevisi batas minimum kadar mineral olahan, menunjukkan lemahnya posisi tawar pemerintah

121DR. Lukman Malanuang .Analisis Isi Peraturan Perundangan Mineral Dari Pusat Hingga Kedaerah.

Di atas kertas, terlihat pemerintah sepertinya memiliki posisi tawar yang tinggi, berwenang, dan berkuasa. Tapi, dalam kenyataannya, suka atau tidak suka, negara tergantung perusahaan-perusahaan besar tambang tersebut dalam pengelolaan dan pengusahaan tambang.Kondisi tersebut mengakibatkan pemerintah menjadi sulit menerapkan sanksi kepada perusahaan-perusahaan besar tersebut jika melanggar aturan. Dan ini justru melemahkan posisi tawar pemrintah dalam berdiplomasi dengan pihak luar.Dalam hal ini adalah perusahaan multinasional.Oleh karena itu, pemerintah perlu memperjelas kewajiban dan juga sanksi bagi perusahaan yang melanggar dalam peraturan pemerintah dan turunannya.Kepetingan nasional akan menjadi taruhannya.

Dengan bergesernya kepentingan nasional dalam pencapaian kebijakan mengenai peningkatan nilai tambah melalui pengembangan industry smelter maka akan terlihat bahwa upaya-upaya yang selama ini dilakukan dalam diplomasi menjadi bias dan tidak berjalan sesuai dfungsi dan tujuannya.Artinya,interaksi yang terjadi menjadi sebiuah kesia-siaan jika akhirnya kepentingan nasional dalam sektor sember daya alam berlum dapat terlihat dan dirasakan hingga sekarang.

Menurut Dr.Kusumohamidjojo pada dasarnya diplomasi memikul 3 tugas politik,yakni :

1.Meniadakan suatu keadaan yang merugikan kepentingan nasional, 2.Mempertahankan keadaan yang mengunutungkan kepentingan nasional,

3.Menegakkan keadaan yang diperlukan demi kepentingan nasional,

Ketiga tugas ini dapat diukur melalui negosiasi yang berlangsung antara kedua pihak,baik negara dengan negara maupun negara dengan perusahaan dalam hal ini adalah perusahaan asing atau multinational corporate (MNC) :

1. Untuk menghindari sesuatu yang merugikan kepentingan nasional,negara memilih untuk membuka peluang negosiasi di tengah sengketa yang diajukan oleh PT.Newmont Nusa Tenggara.Sebab negosiasi lebih baik dilakukan dalam menemukan kesepahaman dan kesepakatan daripada menempuh jalur hukum yang justru lebih mengorbankan banyak hal.Namun nyatanya negosiasi dilakukan kurang baik karena pemerintah akhirnya cenderung terbawa arus oleh sikap penolakan PT.Newmont Nusa Tenggara.Sehingga negara kehilangan fokus dalam pencapaian kepentingan nasional.Pemerintah tidak mampu menlihat dan memanfaatkan situasi karena erundingan dilakukan pada waktu yang tidak tepat.

2. Dalam mempertahankan keadaan yang menguntungkan kepentingan nasional tentu harus dilihat dari posisi kebijakan yang dipermasalahkan tersebut.Keadaan yang dimaksud ialah bagaimana kebijakan dibentuk demi kepentingan nasional.Kebijakan yang diramu dalam Undang-Undang No.4 Tahun 2009 sudah pasti dipertimbangkan begitu matang sehingga untuk keuntungan yang diperoleh di dalam undang-undang tersebut juga sudah dijamin oleh negara.Jadi,selama negara masih memandang

pentingnya Undang-Undang untuk diterapkan dan melakukan berbagai upaya untuk menjaga nilai undang-undang itu maka negara sudah dikatakan mampu mempertahankan keadaan yang menguntungkan kepentingan nasional.Namun yang ditemukan keadaan yang menguntungkan dalam hal ini adalah power negara kian melemah.Negara tidak punya dasar yang kuat dalam menjaga kedaualatannya karena berbagai regulasi mengalami perubahan yang tidak wajar baik dalam substansi maupun teknis.Semakin lama bukan negara lagi yang akhirnya memanfaatkan keadaan untuk mecapai kepentingan melainkan perusahan asing.

3. Menegakkan keadaan yang diperlukan demi kepentingan nasional.Lebih spesifik lagi bilamana keadaan yang ingin dipertahankan menemukan kendala hingga akhirnya menjadi masalah,sebuah negara harus mengupayakan hal yang lebih agar apa yang ingin dipertahankan tidak bergeser dan tetap pada posisinya sebagai landasan untuk mewujudkan kepentingan nasional.Artinya,banyak hal yang harus disikapi pemerintah Indonesia dalam mengadapi tantangan kebijakan ini sehingga ketegasan utuk menanggapi penolakan tidak perlu direspon secara berlebihan.Ketika negara diperhadapkan dengan berbagai ancaman,maka yang paling penting ialah bagaimana negara tersebut tetap menjadikan Undang-undang sebagi role of modelnya.Sekalipun penutupan perusaan terjadi,itu tidak menjadi masalah sebab masih banyak pihak yang ingin mengelola sumber daya

alam Indonsia dan masih banyak pihak yang harus hidup dari hasi hasil sumber daya itu seperti yang diamanatkan dalam Undang-undan Dasar 1945 Pasal 33.

BAB IV PENUTUP

4.1.Kesimpulan

Kebijakan mengenai peningkatan nilai tabahhasil tambang melalui pengembangan industri smelter kembali mendapat perhatian ketika akhirnya banyak peraturan-peraturan baru melalui perubahan regulasi yang sudah dikaji.Ini merupakan upaya yang dilakukan pemerintah ketika menanggapi banyaknya perusahaan tambang yang menolak kebijaknan tersebut.Perubahan peraturan yang menjadi perhatian ialahPeraturan Pemerintah No. 1 tahun 2014 dimana pelaksanaannya diterbitkan Peraturan Menteri ESDM No. 1 tahun 2014 dengan ketentuan bahwa izin ekspor yang awalnya ditutup guna merangsang pembangunan smelter akhirnya dibuka kembali.Jangka waktu pembangunan smelter diperpanjang setelah masanya sudah habis.Kadar kemurnian hasil tambang juga diturunkan agar dapat diekspor.

Benang merahnya ialah telah terjadi inkonsitensi ketentuan yang telah diputuskan bersama melalui UU yang mengaturnya dan wajib dijalankan oleh pemerintah sebagaimana yang diatur UU Mineral dan Batubara No.4 tahun 2009. Dengann proses yang sangat lambat tersebut justru membuat industri pertambangan di Indonesia tidak semakin baik sebab hasil dari peningkatan nilai tambah hasi tambang masih belum bisa dirasakan.Hal ini terlihatdari belum ada fasilitas pengolahan dan pemurniah yang dibangun oleh PT.Newmont Nusa Tenggara sekalipun sudah diperpajang melalui perubahan peraturan tersebut.

Semakin lama prinsip kepentingan nasional yangterkandung dalam kebijakan tersebut yang awalnya merupakan kepentingan nasional primer (Primary Interest) telah bergeser menjadi kepentingan nasional yang bersifat kondisional sekalipun dianggap penting sebagai kepentingan nasional pada waktu tertentu.Inilah yang disebut dengan kepentingan yang masuk dalam kategori Variable Interest.Sehingga terkesan bahwa optimalisasi hasil sumbe daya alam menjadi hal yang tidak diprioritaskan lagi.Inkonsistensi ini menunjukkan bahwa poweryang dimiliki Indonesia berada pada posisi yang lemah ketika berhadapan dengan nacaman dari luar yakni persusahaan multinasional.

Kelemahan pemerintah Indonesia dalam mewujudkan kepentingan nasional justru menambah persoalan bagi negara.Hal ini terlihatdari bagaimana PT.Newmont Nusa Tenggara semakin menunjukkan reaksi kerasnya melaui penghentian operasi tambang beserta karyawannya dan membawa kasus ini ke jalur hukum,arbitrase internasional.Namun Pemerintah Indonesai menyikapi gugatan ini secara berlebihan karena justru akan merugikan negara. Reaksi yang tidak perlu ditanggapi dengan gugatan balik bahkan lembaga arbitrase yang berbeda.Hal ini akan membawa pemerintah Indonesia ke dalam permasalah yang baru sama seperti penolakan yang tetap diserukan PT.Newmont mengenai Permen No.1 Tahun 2014. Sehingga pemerintah sudah kehilangan fokus dimana bukan lagi kepada konsistensi kebijakan atau undang-undang namun lebih kepada menghindari konflik.Hal ini berdampak kepada melemahnya posisi tawar Indonesia. Dampak lainnya adalah birokrasi pemerintah Indonesia yang akhinya

terfragmentasi. Fragmentasi tersebut menyebabkan koordinasi di antara Kementerian ESDM dengan yang lain menjadi tidak baik karena berjalan smasing-masing.

Tentu kebijakan pengembangan industri smelter akan menajadi sebuah pakasaan jika akhirnya pemerintah Indonesia juga terkesan memaksa perusahaan tambang untuk taat pada peraturan itu.Paksaan ini disertai dengan niat Indonesia untuk bernegosiasi ulang bahkan merubah beberapa peraturan.Negosiasi yangbaik dan berasaskan saling menguntungkan pun tidakbisa dilakukan olh pemerintah Indoesia.Sebab dalam prosesnya,perundingan-perundingan terjadi di waktuyangtepat dan objek perundingan pun tidakberlandaskan kepentingan nasional lagi.

Ini yang menunjukkan bahwa pemerintah belum tegas dalam menjaga konsistensi kebijakan demi mewujudkan kepentingan nasional.Sehingga undang-undang tersebut berada pada posisi yang lemah.Dikatakan lemah karena di dalamnya tidak terdapat uraian secara jelas mengenai sanksi yang dikenakan bagi perusahaan yang tidak taat melaksanakan undang-undang tersebut.

Itulah sebabnya banyak akhirnya perusahaan bisa bertindak dengan bebas untuk mengaktualisasikan penolakan kebijakan yang ada tempat perusahaan itu berdiri.Dan pemerintah tidak memiliki dasar yang kuat untuk menyeleasikan itu semua hingga akhirnya hanya bisa ikut pada aturan main yang ada di luar kendali negara.Aturan main yang dimaksud ialah sistem yang harus diikuti oleh lembaga

internasional dalam hal ini adalah ISCID serta ancaman-ancaman yang berasal dari perusahaan.

Dengan bergesernya kepentingan nasional dalam pencapaian kebijakan mengenai peningkatan nilai tambah melalui pengembangan industry smelter maka akan terlihat bahwa upaya-upaya yang selama ini dilakukan dalam diplomasi menjadi bias dan tidak berjalan sesuai dfungsi dan tujuannya.Artinya,interaksi yang terjadi menjadi sebiuah kesia-siaan jika akhirnya kepentingan nasional dalam sektor sumber daya alam berlum dapat terlihat dan dirasakan hingga sekarang.

Ketika negara diperhadapkan dengan berbagai ancaman,maka yang paling penting ialah bagaimana negara tersebut tetap menjadikan Undang-undang sebagi role of modelnya.Sekalipun penutupan perusaan terjadi,itu tidak menjadi masalah sebab masih banyak pihak yang ingin mengelola sumber daya alam Indonsia dan masih banyak pihak yang harus hidup dari hasi hasil sumber daya itu seperti yang diamanatkan dalam Undang-undanG Dasar 1945 Pasal 33.

4.2.Saran

Dari hasil penelitian ini yang mendeskripsikan tentang diplomasi Indonesia dalam mengahadapi gugatan arbitrase internasional PT.Newmont Nusa Tenggara terkain pengembangan industri smleter telah menghasil rumusan kesimpulan sebagaimana yang telah diterangkan diatas.Berdasar kesimpulan tersebut diatas,maka harapan penulis baik yang bersifat akademis maupun substansi dari penelitian ini akan dituangkan dalam bentuk saran di bawah ini .Adapun beberapa saran tersebut antara lain :

1. Kiranya dilakukan kajian yang lebih luas dan mendalam ketika menerbitkan sebuah kebijakan dan bentuk perundang-undangan.Sangat penting dilakukan karena akan mempengaruhi posisi power negara.Dalam prosesnya,tentu harus melibatkan semua pihak yang berkaitan dalam kebijakan tersebut sehingga kepentingan bersama tetap berlaku.Sehingga tidak menjadi sebuah alasan bagi pihak mana pun untuk tidak taat atau menolak kebijakan itu.Dengan dasar yang kuat maka kepentingan nasional bisa dipertahankan.

2. Dalam hal menghadapi masalah penolakan kebijakan kiranya pemerintah tidak perlu menanggapi hal tersebut dengan berlebihan.Pemerintah harus fokus pada tujuan utama dan tidak terbawa arus di luar kendali negara karena akan justru menambah persoalan baru.Bilamana ada permasalahan

dalam sebuah kebijakan pemerintah harus bersikap tegas melalui sanksi-sanki yang ada dalam undang-undang.

3. Ketika berhadapan dengan negara atu perusahaan asing dalam sebuah diplomasi hal penting yang perlu diperhatikan ialah negara terlebih dahulu memastikan keutuhan power yang ada.Dalam hal ini adalah undang-undang dasar,sumber daya alam dan sumber daya manusia yang tetap baik.Kondisi demikian akan mempertahankan posisi tawar Indonesia di tingkat internasional

4. Dalam menjalankan fungsi utama diplomasi itu sendiri,suatu negosiasi juga harus dievaluasi lagi bagi pemerintah baik dalam pelaksanaannya maupun hal yang lebih substansif lagi.Lebih baik melakukan perundingan ketika sebuah peraturan atau regulasi belum mengalami perubahan.Jika negosiasi dilakukan saat peraturan sudah diubah dan diterbitkan kembali maka tidak menutup kemungkinan regulasi akan berubah lagi ke depannya sehingga realisasi dari sebuah kebijaka tidak pernah terwujud.Objek perundingan menjadi hal yang utama dari perundingan.Oleh sebab itu,negara tetap berdiri pada tujuan awal yang menjadi prioritas utama sesuai dengan kepentingan nasional yang tercantum dalam undang-undan dasar.Artinya,ketika melakukan perundingan hal yang harus disesuaikan ialah bagaiman hasil kesepakatan itu tetap mengarah pada pembangunan dengan optimalisasi hasil sumber daya mineral dan batubara.

Dokumen terkait