6. HASIL DAN PEMBAHASAN
6.4. Dampak Ekonomi Kegiatan Wisata Situ Babakan
Kegiatan wisata dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat di sekitar obyek wisata tersebut. Dampak ekonomi kegiatan wisata dapat dilihat dengan mengikuti aliran pengeluaran pengunjung. Kegiatan wisata diharapkan dapat memberikan efek pengganda (multipier effect) bagi masyarakat sekitar obyek wisata. Efek pengganda tersebut dapat diukur melalui dampak dari tambahan pengeluaran terhadap ekonomi (Horwath Tourism and Leisure Consulting 1981).
Dampak terhadap ekonomi yang ditimbulkan oleh kegiatan wisata terbagi dalam dampak langsung (direct effect), dampak tidak langsung (indirect effect), dan dampak lanjutan (induced effect) (Vanhove 2005). Dampak ekonomi langsung merupakan manfaat yang langsung dirasakan oleh penerima awal dari pengeluaran pengunjung. Dampak tidak langsung adalah aktivitas ekonomi lokal dari pembelanjaan unit usaha yang menerima dampak langsung. Dampak lanjutan dapat diartikan sebagai aktivitas ekonomi di tingkat rumah tangga dari pendapatan yang bersumber dari unit usaha penerima dampak langsung.
Dampak ekonomi tersebut dapat diperoleh dengan terlebih dahulu mengetahui jumlah pengeluaran wisatawan dalam kawasan wisata. Proporsi pengeluaran pengunjung Situ Babakan disajikan dalam Tabel 11 dan keterangan lebih lanjut disajikan pada Lampiran 7.
Berdasarkan Tabel 11, diketahui bahwa sebagian besar proporsi pengeluaran responden pengunjung di Situ Babakan digunakan untuk konsumsi di kawasan wisata, yaitu sebesar 30,78%. Hal ini terjadi karena sebagian besar makanan yang dijual di Situ Babakan merupakan makanan khas Betawi yang jarang didapati di tempat lain. Selain itu, sebagian besar unit usaha di Situ Babakan menjual makanan dan minuman sehingga berpengaruh terhadap proporsi pengeluaran pengunjung di lokasi wisata.
61 Tabel 11. Proporsi Pengeluaran Responden Pengunjung Situ Babakan
Biaya Rata-Rata
Pengeluaran (Rp)
Persentase (%) Pengeluaran di Luar Kawasan Wisata
Biaya transportasi 8.971,43 13,81
Konsumsi dari rumah 11.666,67 17,95
Pengeluaran di Luar Lokasi Wisata per Kunjungan 20.638,10 31,76 Pengeluaran di Dalam Kawasan Wisata
Tiket masuk 2.000,00 3,08
Parkir 2.596,15 4,00
Konsumsi di kawasan wisata 20.000,00 30,78
Permainan 5.000,00 7,69
Suvenir 10.000,00 15,39
Toilet 4.750,00 7,31
Pengeluaran di Lokasi Wisata per Kunjungan 44.346,15 68,24
Pengeluaran per Kunjungan 64.984,25 100,00
Sumber: Hasil Analisis Data (2014)
Pengeluaran pengunjung di dalam kawasan wisata akan memberikan dampak positif bagi perekonomian sekitar obyek wisata, sedangkan pengeluaran pengunjung di luar kawasan wisata dinamakan dengan kebocoran (leakage) yaitu pengeluaran pengunjung untuk transportasi dan konsumsi yang dibawa dari rumah. Pengeluaran pengunjung di dalam kawasan wisata diestimasi dengan cara mengalikan jumlah kunjungan per bulan (16.649 kunjungan) dengan rata-rata pengeluaran pengunjung dalam kawasan wisata per kali kunjungan (Rp 44.346,15) sehingga diperoleh total pengeluaran pengunjung per bulan yang berpengaruh terhadap ekonomi lokal adalah sebesar Rp 738.319.115,38.
6.4.1.Dampak Ekonomi Langsung (Direct Impact)
Pengunjung yang datang ke suatu obyek wisata akan membelanjakan uangnya pada unit usaha yang terdapat pada obyek wisata tersebut. Aliran uang tersebut akan menjadi dampak langsung berupa pendapatan unit usaha. Sebagian dari penerimaan unit usaha dialokasikan untuk biaya operasional, sedangkan sebagian lainnya menjadi pendapatan pemilik unit usaha. Proporsi alokasi penerimaan responden unit usaha di Situ Babakan disajikan pada Tabel 12.
Tabel 12. Proporsi Alokasi Penerimaan Responden Unit Usaha di Situ Babakan
Komponen Biaya Proporsi (%)
Pendapatan Pemilik 48,76
Upah Tenaga Kerja 1,28
Biaya Operasional 47,46
Transportasi 1,78
Biaya Pemeliharaan 0,56
Lain-lain 0,16
Total 100,00
Sumber: Hasil Analisis Data (2014)
Pendapatan unit usaha diperoleh setelah penerimaan unit usaha dialokasikan untuk biaya-biaya pengelolaan. Sebagian besar pengeluaran unit usaha digunakan untuk biaya operasional unit usaha tersebut, antara lain biaya sewa, kebersihan, dan bahan baku dengan proporsi 47,46%. Pengeluaran tersebut juga digunakan untuk biaya transportasi dan upah tenaga kerja, masing-masing sebesar 1,78% dan 1,28%. Sisanya digunakan untuk biaya pemeliharaan dan lain-lain.
Terdapat perbedaan antara penerimaan rata-rata antara responden yang memiliki unit usaha tetap berupa warung atau kios dan responden yang memiliki unit usaha tidak tetap (pedagang asongan). Perbedaan tersebut disajikan pada Tabel 13 berikut.
Tabel 13. Proporsi Penerimaan Responden Unit Usaha di Situ Babakan
Jenis Unit Usaha Rata-Rata Penerimaan (Rp) (a) Rata-Rata Biaya (Rp) (b) Rata-Rata Pendapatan (Rp) (c) = (a) - (b) Proporsi (%) (d) = [(c)/(a) x 100] Tetap 5.247.222,22 3.097.555,56 2.149.667,67 40,97 Tidak tetap 5.279.166,67 2.809.166,67 2.470.000,00 46,79 Rata-Rata 43,88
Sumber: Hasil Analisis Data (2014)
Pendapatan unit usaha merupakan dampak langsung dari kegiatan wisata di Situ Babakan. Perhitungan dampak langsung dari kegiatan wisata di Situ Babakan dapat dilihat pada Tabel 14.
63 Tabel 14. Pendapatan Unit Usaha per Bulan
Jenis Unit Usaha
Pendapatan per Bulan (Rp)
(a)
Jumlah Unit Usaha (unit)
(b)
Pendapatan Total Unit Usaha per Bulan (Rp)
(c) = (a) x (b)
Tetap 2.149.666,67 167 358.994.334,89
Tidak tetap 2.470.000,00 62 153.140.000,00
Total Pendapatan 512.134.334,89
Sumber: Hasil Analisis Data (2014)
Dampak ekonomi langsung dari kegiatan wisata di Situ Babakan diperoleh dari pendapatan total unit usaha. Berdasarkan Tabel 14, diketahui bahwa dampak ekonomi langsung di Situ Babakan adalah sebesar Rp 512.134.334,89 per bulan. 6.4.2.Dampak Ekonomi Tidak Langsung (Indirect Impact)
Aliran uang dari pengunjung Situ Babakan akan menjadi penerimaan unit usaha secara langsung. Kemudian unit usaha menggunakan penerimaan tersebut untuk menjalankan usahanya dengan mengeluarkan beberapa macam biaya. Biaya tersebut antara lain biaya sewa, kebersihan, bahan baku, pemeliharaan, upah tenaga kerja, transportasi, dan lain-lain. Proporsi pengeluaran unit usaha disajikan pada Tabel 15.
Tabel 15. Proporsi Pengeluaran Unit Usaha
Komponen Biaya Proporsi (%)
Penerimaan Pemilik 48,76
Upah Tenaga Kerja 1,28
Biaya Operasional 47,46
Transportasi 1,78
Biaya Pemeliharaan 0,56
Lain-lain 0,16
Total 100,00
Sumber: Hasil Analisis Data (2014)
Berdasarkan Tabel 15, diketahui bahwa sebagian besar pengeluaran unit usaha adalah untuk menjadi penerimaan pemilik dan biaya operasional, yaitu masing-masing sebesar 48,76% dan 47,46%. Hanya sebesar 1,28% dari pengeluaran yang digunakan sebagai upah bagi tenaga kerja.
Dampak ekonomi tidak langsung Situ Babakan diestimasi berdasarkan pendapatan tenaga kerja yang bekerja di Situ Babakan. Rata-rata pendapatan tenaga kerja di Situ Babakan adalah Rp 1.411.500,00 per bulan (Lampiran 6).
Rata-rata pendapatan tenaga kerja tersebut lebih rendah daripada Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta Tahun 2014 dalam Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 123 Tahun 2013, yaitu sebesar Rp 2.441.000,00 per bulan. Dampak ekonomi tidak langsung dari kegiatan wisata di Situ Babakan disajikan pada Tabel 16 dan data pendapatan tenaga kerja lokal disajikan pada Lampiran 8. Tabel 16. Estimasi Pendapatan Tenaga Kerja Situ Babakan
Tenaga Kerja Jumlah Tenaga Kerja (orang) (a) Rata-rata Pendapatan Tenaga Kerja (Rp) (b) Total Pendapatan Tenaga Kerja (Rp) [(c) = (a) x (b)]
Pegawai sarana permainan 10 1.133.333,33 11.333.333,33 Pegawai unit usaha 15 1.347.142,86 20.207.142,86 Petugas keamanan 4 1.000.000,00 4.000.000,00 Petugas kebersihan 10 2.000.000,00 20.000.000,00
Petugas parkir 6 1.550.000,00 9.300.000,00
Petugas taman 4 1.200.000,00 4.800.000,00
Petugas tiket masuk 12 500.000,00 6.000.000,00
Total 75.640.476,19
Sumber: Hasil Analisis Data (2014)
Berdasarkan Tabel 16, estimasi dampak ekonomi tidak langsung dari kegiatan wisata di Situ Babakan adalah sebesar Rp 75.640.476,19 per bulan. 6.4.3.Dampak Ekonomi Lanjutan (Induced Impact)
Dampak ekonomi lanjutan (Induced Impact) merupakan dampak ekonomi yang diperoleh berdasarkan pengeluaran tenaga kerja di sekitar kawasan wisata. Tenaga kerja mengeluarkan biaya antara lain untuk kebutuhan konsumsi, uang saku dan sekolah anak, listrik, transportasi, tabungan, dan lain-lain. Sebagian besar pengeluaran tenaga kerja Situ Babakan digunakan untuk kebutuhan konsumsi, yaitu sebesar 54,47%. Proporsi pengeluaran tenaga kerja secara lengkap disajikan pada Tabel 17.
65
Tabel 17. Proporsi Pengeluaran Tenaga Kerja
Pengeluaran Proporsi (%)
Konsumsi 54,47
Uang Saku dan Sekolah Anak 16,24
Listrik 5,95
Transportasi 1,64
Tabungan 8,44
Lainnya 13,26
Jumlah 100,00
Sumber: Hasil Analisis Data (2014)
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa dampak lanjutan yang merupakan pengeluaran tenaga kerja yang kembali berputar di tingkat ekonomi lokal, dalam hal ini berupa biaya konsumsi, uang saku dan sekolah anak, dan biaya transportasi, memiliki persentase keseluruhan sebesar 72,35%. Estimasi dampak lanjutan dapat diperoleh melalui estimasi total pengeluaran yang dikalkulasikan dengan persentase pengeluaran yang berdampak terhadap ekonomi lokal. Berdasarkan hal tersebut, estimasi dampak lanjutan dari kegiatan wisata di Situ Babakan adalah Rp 54.725.884,52 per bulan.
6.4.4.Efek Pengganda (Multiplier Effect)
Nilai efek pengganda digunakan untuk mengukur dampak dari pengeluaran pengunjung terhadap perekonomian lokal. Efek pengganda dapat diketahui dari jumlah pengeluaran pengunjung selama melakukan wisata di Situ Babakan. Menurut META-Project (2001), terdapat tiga ukuran untuk mengetahui dampak ekonomi wisata di tingkat lokal, yaitu (1) Keynesian income multiplier yang diperoleh dari dampak langsung atas pengeluaran pengunjung, (2) ratio income multiplier tipe I yang diperoleh dari dampak tidak langsung atas pengeluaran pengunjung, dan (3) ratio income multiplier tipe II yang diperoleh dari dampak lanjutan. Besar nilai pengganda dari ketiga ukuran tersebut disajikan pada Tabel 18.
Tabel 18. Nilai Efek Pengganda dari Pengeluaran Pengunjung Situ Babakan
Multiplier Nilai
Keynesian Income Multiplier 0,87
Ratio Income Multiplier Tipe I 1,15
Ratio Income Multiplier Tipe II 1,25
Sumber: Hasil Analisis Data (2014)
Berdasarkan Tabel 18, diketahui bahwa nilai Keynesian income multiplier adalah 0,87. Artinya, setiap peningkatan pengeluaran pengunjung sebesar Rp 1.000 akan berdampak terhadap perekonomian lokal sebesar Rp 870. Nilai ratio income multiplier tipe I sebesar 1,13 yang berarti setiap peningkatan penerimaan unit usaha sebesar Rp 1.000 akan mengakibatkan peningkatan pendapatan pemilik usaha dan tenaga kerja sebesar Rp 1.150. Nilai ratio income multiplier tipe II sebesar 1,22 menunjukkan bahwa setiap kenaikan Rp 1.000 pada penerimaan unit usaha akan meningkatkan pendapatan pemilik usaha, tenaga kerja, dan pengeluaran tenaga kerja di tingkat ekonomi lokal sebanyak Rp 1.250 yang akan berputar pada masyarakat lokal. Perhitungan efek pengganda secara lengkap disajikan pada Lampiran 9.
Penelitian Mutiarani (2011) di Situ Cipondoh pada tahun 2010-2011 juga meneliti mengenai efek pengganda yang dihasilkan dari kegiatan wisata Situ Cipondoh. Nilai Keynesian income multiplier Situ Cipondoh pada tahun 2010- 2011 adalah sebesar 4,04 sedangkan nilai ratio income multiplier tipe I dan II masing-masing sebesar 1,08 dan 1,16. Bila dibandingkan dengan nilai ratio income multiplier Situ Babakan, dapat disimpulkan bahwa dampak peningkatan penerimaan unit usaha di Situ Babakan terhadap pemilik unit usaha, tenaga kerja, dan pengeluaran tenaga kerja di tingkat ekonomi lokal adalah cukup besar. Namun, bila dibandingkan dengan dampak dari kegiatan wisata Situ Cipondoh terhadap ekonomi lokal, dampak dari kegiatan wisata di Situ Babakan terhadap ekonomi lokal lebih kecil ditilik dari nilai Keynesian income multiplier yaitu 0,87 sementara nilai Keynesian income multiplier Situ Cipondoh adalah 4,04.
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa Situ Babakan belum memberikan dampak langsung yang besar bagi masyarakat sekitarnya. Akan tetapi, Situ Babakan telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap masyarakat sekitar secara tidak langsung dan lanjutan.
67