• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Fenomena Sosial Gyaru dalam Lingkungan

BAB III DAMPAK FENOMENA SOSIAL GYARU DALAM

3.2 Dampak Fenomena Sosial Gyaru dalam Lingkungan

juga ada dibentuk geng oleh ketua dan anggotanya sebagai pengikut. Ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi untuk menjadi salah satu anggota geng tersebut dan salah satunya adalah untuk berpenampilan sesuai dengan ketentuan geng, seperti pada geng gadis ganguro. Mereka harus mengubah penampilan mereka menjadi ganguro yang tentunya merupakan salah satu norma kelompok yang telah dicanangkan oleh perkumpulan tersebut, disertai dengan norma-norma kelompok lainnya yang ditentukan dalam kelompok tersebut. Norma-norma tersebut tentunya tidak sama dengan kelompok yang lain karena merupakan kreasi kelompok, dimana terkesan kurang menyenangkan dan agak kaku. Mereka ingin menunjukkan ciri khas “pemberani” dan “menantang”, sehingga kelompok-kelompok semacam ini berlomba- lomba menciptakan kebiasaan-kebiasaan yang unik sesuai dengan minat masing-masing kelompok dan berlawanan dengan norma sosial di Jepang pada umumnya.

Sebagai seorang ketua geng, mau tidak mau seorang ketua harus memprioritaskan penampilan dan juga aktivitas yang berhubungan dengan dunia ganguro sebagai rutinitas kesehariannya. Jika dia tidak memenuhi

39

kewajibannya sebagai seorang pimpinan, maka para anggota akan memandang sebelah mata terhadap dirinya dan tentunya nama baik kelompok di mata para pengikut ganguro akan meredup. Biasanya untuk dapat masuk ke dalam perkumpulan yang popular, seorang gadis rela menghabiskan begitu banyak uang untuk membuat penampilannya sebaik mungkin agar dapat diterima dalam perkumpulan tersebut. Mereka merasakan kebosanan dan kehambaran di rumahnya sendiri dan hendak mencari suasana baru dan teman-teman yang membuat dia merasa penting dan dibutuhkan dan ingin mencari jati diri yang sesungguhnya dengan menjadi seorang pengikut ganguro.

Berada di lingkungan teman-temannya memberikan ketenangan batin tersendiri baginya. kurang merasa betah berada di rumah, apalagi dikarenakan berbagai macam peraturan dan larangan yang digalakkan di rumahnya. Oleh karena itu, dengan berkumpul bersama teman-teman gengnya, dapat dengan bebas berbuat sesukanya dan tidak perlu membatasi dirinya, selama hal itu tidak melanggar norma-norma kelompok yang berlaku. Karenanya, haruslah senantiasa menjadikan norma-norma kelompok dan kesetiakawanan sebagai kepentingan utama dalam kehidupan sehari-harinya, agar dia tidak dikucilkan oleh teman-temannya tersebut. Mereka menganggap bahwa keberadaannya maupun keterikatannya dengan suatu kelompok akan membuat dia lebih percaya diri dan berharap agar orang- orang di sekitarnya memandang dia sebagai seseorang yang pandai bergaul dan memiliki banyak teman. Jalan pikiran yang seperti ini disebabkan karena dia ingin dianggap dewasa dan tidak ingin lagi terlalu didikte maupun diatur oleh keluarganya. Akan tetapi, anggota yang tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk berpenampilan maksimal selayaknya seorang gadis

40

ganguro, maka tidak mungkin baginya untuk mendapat rasa hormat dari para anggota geng. Perilaku semacam ini dapat merusak moral dan kepribadian. Sebagai seorang gadis remaja yang mudah tergoda oleh banyak pengaruh negatif di sekitarnya, terutama budaya kepopuleran dan trend.

Timbul tenggelamnya suatu trend tentunya membawa dampak-dampak psikologis terhadap kaum remaja, khususnya remaja putri yang memiliki kecenderungan untuk mengikuti trend mode. Kebanyakan dari dampak-dampak tersebut cenderung bersifat negatif dan dapat merusak mental kaum remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan baik fisik maupun pertumbuhan psikologis. Salah satu dampak buruk yang dapat menimpa kaum remaja putri jika mereka terlalu terpaku pada perputaran trend adalah mereka akan menjadi manusia yang konsumtif dan materialistis, karena banyak trend masa kini yang mengacu pada hal-hal yang berbau kepopuleran dan berharga mahal. Oleh karena itu, kaum remaja menjadi lebih fanatik akan semua trend yang populer, apalagi yang harganya cenderung di atas rata-rata.

Seorang gadis remaja yang malu memperlihatkan jati diri sesungguhnya dan merasa bahwa jati diri ganguro-nya membuat dia lebih populer dan lebih diterima oleh teman-temannya, pada akhirnya berusaha keras menutupi kepribadian maupun penampilan fisik yang sesungguhnya dengan dandanan ganguro. Dia tidak yakin bahwa dia akan memiliki teman sebanyak yang dia miliki sekarang, jika dia hanya berpenampilan biasa-biasa saja selayaknya remaja Jepang normal pada umumnya.

Rasa malu terhadap wajah dan jati diri yang sesungguhnya itu tentu saja diakibatkan oleh lingkungan sekitarnya yang dapat berupa teman-temannya,

41

orang tua, sekolah, dan sebagainya. Mungkin saja orang-orang di sekitarnya pernah atau bahkan seringkali mengkritik dan mencela penampilan, wajah, maupun perilaku yang sesungguhnya sebelum dia menjadi seorang ganguro yang telah berubah total.

Mereka merupakan kaum remaja yang diliputi dengan rasa tidak puas dengan segala sesuatu yang datar dan seragam. Oleh karena itu terciptalah berbagai macam trend mode yang unik untuk menunjukkan emosi dan minat mereka yang sesungguhnya secara jasmaniah dalam bentuk pakaian dan dandanan, seperti halnya ganguro maupun yamanba. Hal ini sesuai dengan pernyataan Turiel dalam Anastasia (2007:43-44) mengenai psikologis perilaku remaja, yaitu:

Remaja tidak lagi menerima hasil pemikiran yang kaku, sederhana, dan absolut yang diberikan pada mereka selama ini tanpa bantahan. Secara kritis, remaja akan lebih banyak melakukan pengamatan keluar dan membandingkannya dengan hal-hal yang selama ini diajarkan dan ditanamkan kepadanya. Baginya dunia menjadi lebih luas dan seringkali membingungkan, terutama jika ia terbiasa dididik dalam suatu lingkungan tertentu saja selama masa kanak-kanak.

Para gadis yamanba yang memiliki penampilan ekstrim, juga menunjukkan bahwa awalnya mereka memang merupakan gadis-gadis remaja yang berani mencoba hal-hal baru dan tidak malu untuk bereksperimen dengan penampilan mereka, diikuti juga dengan tutur sapa serta gaya bicara mereka yang berbeda dengan ciri-ciri gadis remaja Jepang biasa. Para gadis yamanba pada dasarnya memiliki jiwa petualang yang menggemari hal-hal unik dan berani, bahkan dapat mengundang kritik pedas maupun kontroversi. Akan tetapi, jika

42

penampilan mereka mengundang kontroversi dan kritik pedas dari orang-orang awam di sekitar mereka, mereka malah merasa semakin percaya diri karena mereka menganggap kritik dan komentar tersebut sebagai bentuk bahwa ada yang memperhatikan mereka, jadi mereka secara tidak langsung telah berhasil mewujudkan keinginan untuk menarik perhatian orang lain. Sesungguhnya keberanian kaum remaja dalam bereksperimen dan mencoba hal-hal baru merupakan hal yang positif dan patut dikembangkan, selama hal itu tidak merusak moral dan hidup mereka.

Interaksi dengan teman sebaya merupakan hal yang sangat penting di usia remaja yang dapat menolong remaja dalam memberikan gambaran mengenai pilihan-pilihan yang ada dan nilai-nilai yang dapat dimiliki oleh remaja yang akan membentuk identitas diri remaja tersebut (Berk, 2007). Interaksi dengan teman sebaya dapat mempengaruhi pandangan remaja mengenai hubungan dengan orang lain, seperti, apa nilai yang diyakini ketika bersahabat dengan orang lain dan ketika akan memilih pasangan hidup nantinya. Selain itu, teman sebaya juga dapat mempengaruhi remaja dalam hal pencarian informasi mengenai karir dan juga mempengaruhi keputusan remaja dalam memilih karir.

Menurut Papalia dalam Purba (2007:25), interaksi dengan teman sebaya merupakan sumber dari adanya rasa kasih sayang, simpati dan saling memahami bagi remaja. Melalui interaksi dengan teman sebaya remaja dapat mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan moral, yaitu pengetahuan mengenai apa yang benar dan salah serta mempelajari nilai-nilai yang berkaitan dengan politik dan agama, seperti adanya keinginan untuk memperhatikan kesejahteraan dalam kehidupan masyarakat, serta memilih keyakinan yang tepat bagi dirinya.

43

Sekolah dan komunitas yang menawarkan kesempatan yang luas dan beragam dalam hal pencarian yang dilakukan oleh remaja juga mendukung perkembangan identitas. Sekolah dapat membantu remaja dalam penyediaan kelas yang memiliki tingkat pemikiran yang tinggi, kegiatan ekstrakulikuler yang membuat remaja memiliki tanggung jawab dalam peran yang diambilnya, tersedianya guru atau konselor yang dapat mengarahkan remaja pada pemilihan akan bidang-bidang yang diminatinya, seperti jurusan yang ingin diambilnya nantinya, serta tersedianya program-program pembelajaran yang dapat menjadi suatu sarana dimana remaja dapat memperoleh gambaran mengenai dunia pekerjaan yang sesungguhnya ketika remaja berada pada usia dewasa nantinya.

Dokumen terkait