BAB II KEBIJAKAN PUBLIK
D. Dampak Kebijakan Publik
Salah satu tahapan dalam kebijakan publik adalah evaluasi, yang dilakukan setelah sebuah kebijakan diimplementasikan. Hal ini bertujuan untuk memenuhi tiga tujuan utama yaitu:
1. Untuk menguji apakah kebijakan yang diimplementasikan telah mencapai tujuannya
2. Untuk menunjukkan akuntabilitas pelaksana publik terhadap kebijakan yang telah diimplementasikan
3. Untuk memberikan masukan pada kebijakan-kebijakan publik yang akan datang.15
Ada empat dasar tipe evaluasi menurut Finance yang sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai yaitu:
1. Evaluasi kecocokan (appropriateness) menguji dan mengevaluasi tentang apakah kebijakan yang sedang berlangsung cocok untuk dipertahankan? Apakah kebijakan baru dibutuhkan untuk mengganti kebijakan ini? Siapakah yang seharusnya menjalankan kebijakan publik tersebut apakah pemerintah atau sektor swasta?
Jawaban atas pertanyaan ini memungkinkan penentuan tingkat kecocokan implementasi kebijakan.
2. Evaluasi efektivitas (effectiveness evaluation) menguji dan menilai apakah program kebijakan tersebut menghasilkan hasil dan dampak kebijakan yang diharapkan? Apakah tujuan yang dicapai dapat terwujud? Apakah dampak yang diharapkan sebanding dengan usaha yang telah dilakukan? Tipe ini memfokuskan pada mekanisme pengujian berdasarkan tujuan yang ingin dicapai yang biasanya secara tertulis tersedia dalam setiap kebijakan publik.
3. Evaluasi efisiensi merupakan pengujian dan penilaian berdasarkan tolok ukur ekonomis, yaitu apakah input yang digunakan sebanding dengan output kebijakannya? Apakah cukup efisien untuk mencapai dampak kebijakan?
15 Abdulkahar Badjuri dan Teguh Yuwono, Op.cit, hal.132.
KEBIJAKAN DANA DESA BAGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN PEMBANGUNAN DESA
15 4. Evaluasi meta (meta evaluations) yaitu menguji dan menilai terhadap proses evaluasi. Apakah evaluasi yang dilakukan oleh lembaga berwenang sudah profesional? Apakah evaluasi tersebut sensitif terhadap kondisi sosial, kultural dan lingkungan?16
5. Pengukuran evaluasi bervariasi sesuai dengan tipe evaluasinya.
Secara umum evaluasi kinerja kebijakan mengacu kepada empat indikator pokok yaitu indikator input, process, outputs dan outcomes.17 Indikator input memfokuskan pada penilaian bagaimana sebuah kebijakan ditransformasikan dalam bentuk pelayanan langsung kepada masyarakat. Indikator ini meliputi aspek efektivitas dan efisiensi dari metode atau cara yang dipakai untuk melaksanakan kebijakan publik tertentu. Indikator outputs memfokuskan penilaian pada hasil atau produk yang dapat dihasilkan dari sistem atau proses kebijakan publik. Indikator outcomes (dampak) memfokuskan pada pertanyaan dampak yang diterima oleh masyarakat luas atau pihak yang terkena kebijakan.18 Dalam penelitian ini akan melihat pada dampak, dengan sendirinya indikator outcomes inilah yang digunakan sehingga evaluasi efektivitas dipakai untuk melihat dampak dana desa 1 Milyar yang digulirkan Presiden Joko Widodo terhadap pemberdayaan masyarakat dan pembangunan desa.
16 Ibid, hal. 135-136.
17 Ibid, hal. 138-139.
18 Ibid.
A. Definisi Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan dapat diartikan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan yang diinginkan oleh individu, kelompok dan masyarakat luas agar memilki kemampuan dan dapat mengontrol lingkungannya.
Pemberdayaan dapat diartikan sebagai pemberi daya (empowerment) atau penguatan (strengthening)19
Konsep pemberdayaan dapat dikatakan merupakan jawaban atas realitas ketidakberdayaan (disempowerment). Masyarakat yang tidak berdaya adalah pihak yang tidak memiliki daya atau kehilangan daya.
Daya disini berarti kekuatan. Dapat dikatakan bahwa masyarakat yang tidak berdaya adalah masyarakat yang kehilangan kekuatannya. Berikut ini beberapa keterbatasan masyarakat desa yaitu:
1. Masalah kesejahteraan, di mana kesejahteraan masyarakat desa tergolong rendah.
2. Masalah akses terhadap sumber daya, bisa dikatakan akses masyarakat desa juga rendah.
3. Kesadaran. Masyarakat desa umumnya percaya keadaan mereka terkait dengan nasib, kemampuan untuk memahami persoalan-persoalan yang dihadapi juga terbatas, sehingga banyak permasalahan yang tidak bisa diselesaikan.
4. Masalah partisipasi. Keterlibatan masyarakat desa dalam pengambilan keputusan-keputusan yang menyangkut diri mereka ditentukan oleh golongan elit. Sebagian kalangan menilai masalah ini muncul sebagai akibat lemahnya kapasitas masyarakat.20
Berkaitan dengan masalah-masalah yang dikemukakan di atas, maka diperlukan pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat mempunyai maksud untuk mentransformasikan kesadaran rakyat dan mendekatkan masyarakat dengan akses untuk perbaikan kehidupannya.
Suatu transformasi kesadaran bermakna tindakan untuk
19 Aprilia Theresia, dkk. Pembangunan Berbasis Masyarakat, Bandung, Alfabeta, 2014, hal. 117.
20 Team work Lapera, Politik Pemberdayaan Jalan Mewujudkan Otonomi Desa, Yogyakarta: Lapera Pustaka Utama, 2001, hal. 52-54.
KEBIJAKAN DANA DESA BAGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN PEMBANGUNAN DESA
19 mengembangkan pendidikan politik guna mengembangkan wacana alternatif sehingga dominasi atau bahkan hegemoni negara bisa diatasi.
Upaya mendekatkan masyarakat dengan akses terhadap perbaikan kehidupan dengan redistribusi sumber-sumber ekonomi. Oleh karena itu, langkah pemberdayaan mustahil dijalankan jika tidak memuat langkah pengorganisasian masyarakat. Langkah-langkah pemberdayaan masyarakat dengan maksud utama untuk:
1. Memungkinkan rakyat secara mandiri (otonom) mengorganisasi diri dan dengan demikian akan memudahkan rakyat menghadapi situasi-situasi sulit serta mampu menolak berbagai kecenderungan yang merugikan.
2. Memungkinkan ekspresi aspirasi dan berusaha memperjuangkannya 3. Memungkinkan diatasinya persoalan-persoalan dalam dinamika
pembangunan dan menjadi cermin adanya kepercayaam kepada rakyat, bahwa rakyat tidak perlu dimaknai sebagai sumber kebodohan melainkan subyek pembangunan yang juga memiliki kemampuan.21
Menurut Sumaryadi, tujuan pemberdayaan masyarakat pada dasarnya adalah membantu pengembangan manusiawi yang otentik dan integral dari masyarakat yang lemah, miskin, marjinal, kaum kecil dan memberdayakan kelompok-kelompok masyarakat tersebut secara sosio ekonomis, sehingga mereka dapat lebih mandiri dan dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka, namun sanggup berperan serta dalam pengembangan masyarakat.22 Menurut UU No.6 Tahun 2014 yang dimaksud pemberdayaan masyarakat desa adalah upaya mengembangkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan, sikap, ketrampilan, perilaku, kemampuan, kesadaran, serta memanfaatkan sumber daya melalui penetapan kebijakan, program, kegiatan, dan pendampingan yang sesuai dengan
21 Team Work Lapera, Op.cit, hal. 55-56.
22 I Nyoman Sumaryadi, Perencanaan Pembangunan Daerah Otonom dan Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: Citra Utama, 2005, hal.25.
esensi masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat desa.
Permendes Nomor 22 Tahun 2016 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa 2017, sebagai pedoman umum tentang arah kebijakan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa yang dibiayai dengan Dana Desa. Dalam Pasal 7 Permendes No. 22 Tahun 2016 disebutkan dana desa digunakan untuk membiayai program dan kegiatan bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa, yang diprioritaskan meliputi antara lain:
1. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pembangunan desa;
2. Pengembangan kapasitas masyarakat desa;
3. Pengembangan ketahanan masyarakat desa;
4. Pengembangan sistem informasi desa;
5. Dukungan pengelolaan kegiatan pelayanan sosial dasar di bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan perempuan dan anak, serta pemberdayaan masyarakat marginal dan anggota masyarakat desa penyandang disabilitas
6. Dukungan kesiapsiagaan menghadapi bencana alam, penanganan bencana alam serta penanganan kejadian luar biasa lainnya
7. Dukungan permodalan dan pengelolaan usaha ekonomi produktif yang dikelola oleh BUM Desa
8. Dukungan pengelolaan usaha ekonomi oleh kelompok masyarakat, koperasi dan atau lembaga ekonomi masyarakat desa lainnya
9. Pengembangan kerjasama antar desa dan kerjasama desa dengan pihak ketiga
Permendes No. 22 Tahun 2016 diperbarui dengan Permendes No.19 Tahun 2017 Tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2018. Terdapat sedikit perubahan regulasi tersebut yang dijelaskan dalam bab berikutnya.
B. Tujuan Pemberdayaan Masyarakat
Menurut Ambar Teguh Sulistiani, tujuan yang ingin dicapai dari pemberdayaan masyarakat adalah untuk membentuk individu dan
KEBIJAKAN DANA DESA BAGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN PEMBANGUNAN DESA
21 masyarakat menjadi mandiri. Kemandirian tersebut meliputi kemandirian berpikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan tersebut. Kemandirian masyarakat adalah merupakan suatu kondisi yang dialami masyarakat yang ditandai oleh kemampuan kognitif, konatif, psikomotorik, afektif, dengan pengarahan sumber daya yang dimiliki oleh lingkungan masyarakat tersebut.23
Menurut Paul Freire dalam Keban dan Lele, pemberdayaan masyarakat berinti pada suatu metodologi yang disebut conscientization yaitu merupakan proses belajar untuk melihat kontradiksi sosial, ekonomi, dan politik dalam masyarakat. Paradigma ini mendorong masyarakat untuk mencari cara menciptakan kebebasan dari struktur-struktur yang opresif. Bertolak dari pengertian ini maka sebuah partisipasi masyarakat tidak hanya sebatas pada pelaksanaan suatu program saja melainkan menyentuh pada nilai politik.
C. Indikator Pemberdayaan Masyarakat
UNICEF mengajukan 5 dimensi sebagai tolak ukur keberhasilan pemberdayaan masyarakat, terdiri dari kesejahteraan, akses, kesadaran kritis, partisipasi, dan kontrol. Lima dimensi tersebut adalah kategori analisis yang bersifat dinamis, satu sama lain berhubungan secara sinergis, saling menguatkan dan melengkapi. Berikut adalah uraian lebih rinci dari masing masing dimensi:
1. Kesejahteraan. Dimensi ini merupakan tingkat kesejahteraan masyarakat yang diukur dari tercukupinya kebutuhan dasar seperti sandang, papan, pangan, pendapatan, pendidikan dan kesehatan.
2. Akses. Dimensi ini menyangkut kesetaraan dalam akses terhadap sumber daya dan manfaat yang dihasilkan oleh adanya sumber daya. Tidak adanya akses merupakan penghalang terjadinya peningkatan kesejahteraan. Kesenjangan pada dimensi ini
23 Aprilia Theresia, dkk. Pembangunan Berbasis Masyarakat, Bandung, Alfabeta, 2014, hal. 20.
disebabkan oleh tidak adanya kesetaraan akses terhadap sumber daya yang dipunyai oleh mereka yang berada di kelas lebih tinggi dibanding mereka dari kelas rendah, yang berkuasa dan dikuasai, pusat dan pinggiran. Sumber daya dapat berupa waktu, tenaga, lahan, kredit, informasi, keterampilan, dan sebagainya.
3. Kesadaran kritis. Kesenjangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat bukanlah tatanan alamiah yang berlangsung demikian sejak kapanpun atau semata-mata memang kehendak Tuhan, melainkan bersifat struktural sebagai akibat dari adanya diskriminasi yang melembaga. Keberdayaan masyarakat pada tingkat ini berarti berupa kesadaran masyarakat bahwa kesenjangan tersebut adalah bentukan sosial yang dapat dan harus diubah.
4. Partisipasi. Keberdayaan dalam tingkat ini adalah masyarakat terlibat dalam berbagai lembaga yang ada di dalamnya. Artinya, masyarakat ikut andil dalam proses pengambilan keputusan dan dengan demikian maka kepentingan mereka tidak terabaikan 5. Kontrol. Keberdayaan dalam konteks ini adalah semua lapisan
masyarakat ikut memegang kendali terhadap sumber daya yang ada. Artinya, dengan sumber daya yang ada, semua lapisan masyarakat dapat memenuhi hak-haknya, bukan hanya segelintir orang yang berkuasa saja yang menikmati sumber daya, akan tetapi semua lapisan masyarakat secara keseluruhan. dapat mengendalikan serta mengelola sumber daya yang dimiliki.24 D. Strategi Pemberdayaan Masyarakat
Dalam beberapa situasi, strategi pemberdayaan dapat saja dilakukan secara individual, meskipun pada gilirannya strategi ini tetap berkaitan dengan kolektivitas, dalam arti mengkaitkan klien dengan sumber atau sistem lain diluar dirinya.25 Dalam konteks pekerjaan sosial,
24 Edi Suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat (Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial Rakyat Dan Pekerjaan Sosial, Cet.5, Bandung: PT.
Refika Aditama, 2014, hal. 63.
25 Ibid.
KEBIJAKAN DANA DESA BAGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN PEMBANGUNAN DESA
23 pemberdayaan dapat dilakukan dengan tiga aras atau matra pemberdayaan, yaitu:
1. Aras Mikro, pemberdayaan dilakukan terhadap masyarakat (klien) secara individu melalui bimbingan, konseling, stress management, crisis intervetion. Tujuan utamanya adalah membimbing dan melatih dalam menjalankan tugas-tugas kehidupannya. Model ini sering disebut sebagai pendekatan yang berpusat pada tugas (task centered approach).
2. Aras Mezzo, pemberdayaan dilakukan terhadap sekelompok masyarakat (klien). Pemberdayaan dilakukan dengan menggunakan sekelompok sebagai media intervensi. Pendidikan dan pelatihan, dinamika kelompok, biasanya digunakan sebagai strategi dalam meningkatkan kesadaran, pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap masyarakat agar memiliki kemampuan memecahkan permasalahan yang dihadapinya.
3. Aras Makro, pendekatan ini disebut juga sebagai strategi sistem besar, karena sasaran perubahan diarahkan pada sistem lingkungan yang lebih luas. Perumusan kebijakan, perencanaan sosial, kampanye, aksi sosial, lobbying, pengorganisasian masyarakat, manajemen konflik, adalah beberapa strategi dalam pendekatan ini. Strategi sistem besar memandang klien sebagai orang yang memiliki kompetensi untuk memahami situasi-situasi mereka sendiri, dan untuk memilih serta menentukan strategi yang tepat untuk bertindak.26
E. Perencanaan Program
Pengembangan dan pemberdayaan masyarakat seringkali melibatkan perencanaan, pengkoordinasian dan pengembangan berbagai aktivitas pembuatan program atau proyek kemasyarakatan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup atau kesejahteraan sosial masyarakat.
Sebagai suatu kegiatan kolektif, pemberdayaan masyarakat melibatkan
26 Ibid., hal. 67.
beberapa aktor, seperti pekerja sosial, masyarakat tempat, lembaga atau instansi yang terkait, yang saling bekerjasama mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai evaluasi terhadap program atau proyek pembangunan yang perumusannya dilakukan melalui perencanaan program.27
Hakekat perencanaan atau model perencanaan, dan proses perencanaan program, perencanaan dalah sebuah proses penting dalam menentukan keberhasilan suatu tindakan. Perencanaan pada hakekatnya merupakan usaha secara sadar, terorganisir dan terus menerus dilakukan guna memilih alternatif yang terbaik dari sejumlah alternatif untuk mencapai tujuan tertentu.
Perencanaan sosial masyarakat memiliki kaitan yang erat dengan perencanaan pelayanan kesejahteraan sosial. Dengan demikian, meskipun perencanaan sosial masih sering diartikan secara luas (menyangkut kemiskinan, pendidikan, kesehatan), perencanaan sosial pada hakikatnya menunjuk pada perencanaan mengenai program pelayanan kesejahteraan sosial maka bidang kesejahteraan sosial ini merujuk pada suatu serangkaian kegiatan yang terorganisasi ditujukan untuk memungkinkan individu, kelompok serta masyarakat dapat memperbaiki keadaan, menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada, serta dapat berpartisipasi dalam tugas-tugas pembangunan.28
F. Sasaran Pemberdayaan
Perlu dipikirkan siapa yang sesungguhnya menjadi sasaran pemberdayaan. Schumacher memiliki pandangan pemberdayaan sebagai suatu bagian dari masyarakat miskin dengan tidak harus menghilangkan ketimpangan struktural lebih dahulu. Masyarakat miskin sesungguhnya juga memiliki daya untuk membangun, dengan demikian memberikan “kail jauh lebih tepat daripada memberikan ikan”. Pemaknaan pemberdayaan selanjutnya sering dengan konsep
27 Ibid., hal. 132.
28 Ibid., hal 133.
KEBIJAKAN DANA DESA BAGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN PEMBANGUNAN DESA
25 good govermance. Konsep ini mengetengahkan ada tiga pilar yang harus dipertemukan dalam proses pemberdayaan masyarakat. Ketiga pilar tersebut adalah pemerintah, swasta dan masyarakat yang hendaknya menjalin hubungan kemitraan yang selaras.29
29 Ambar Teguh Sulistiani, Kemitraan dan Model-Model Pemberdayaan, Yogyakarta:
Gava Media, 2004, hal. 90.
ВАВ4
PEMBAN GUNAN DESA
A. Definisi Pembangunan Desa
Menurut Bintoro mengartikan pembangunan sebagai proses pengendalian administrasi oleh pemerintah untuk merealisasikan pertumbuhan yang direncanakan ke arah sesuatu keadaan yang dianggap lebih baik dan kemajuan di berbagai bidang kehidupan bangsa untuk mendorong dan mendukung perubahan-perubahan suatu masyarakat ke arah keadaan yang lebih baik di kemudian hari.30 Sementara pembangunan secara umum diartikan sebagai suatu perubahan tingkat kesejahteraan secara sengaja dan terukur.31
Pembangunan secara tradisional menurut Michael P.Todaro, diartikan sebagai kapasitas dari sebuah perekonomian nasional, yang kondisi-kondisi ekonomi awalnya kurang lebih bersifat statis dalam kurun waktu cukup lama, untuk menciptakan dan mempertahankan kenaikan tahunan atas pendapatan nasional bruto atau GDP. Jadi, untuk mengukur kemajuan pembangunan adalah tingkat pertumbuhan pendapatan perkapita pada tingkatan suatu negara.32 Berdasarkan tolak ukur tersebut, maka bisa dilihat dari kegiatan konsumsi dan investasi masyarakat, sebagai indikator ekonomi. Selain indikator ekonomi, indikator-indikator sosial yang mencerminkan sebuah keberhasilan pembangunan yaitu tingkat pendidikan, kondisi-kondisi dan kualitas kesehatan dan pelayanannya, kecukupan kebutuhan akan perumahan dan sebagainya.
Dalam Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 3 Tahun 2015 tentang Pendampingan Desa, Pasal 1 Ayat 9, Pembangunan Desa adalah upaya peningkatan kualitas hidup dan kehidupan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat Desa. Pembangunan desa tidak terlepas dari konteks manajemen
30 Bintoro Tjokroamidjojo, Pengantar Administrasi Pembangunan, Jakarta: PT Gunung Agung, 1995, hal. 14.
31 Riant Nugroho dan Randy R.Wrihatnolo, Manajemen Perencanaan Pembangunan, Jakarta: Kompas-Gramedia, 2011, hal.1.
32 Michael P.Todaro, Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga Jilid 1, Edisi 7, Jakarta:
Erlangga, 2000, hal. 17.
KEBIJAKAN DANA DESA BAGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN PEMBANGUNAN DESA
29 pembangunan daerah baik di tingkat kabupaten maupun tingkat provinsi karena kedudukan desa dalam konteks yang lebih luas (sosial, ekonomi, akses pasar, dan politik) harus melihat keterkaitan antardesa, desa dalam kecamatan, antarkecamatan dan kabupaten dan antar kabupaten.33 Pembangunan desa memiliki sebuah peran yang cukup penting dalam projek pembangunan nasional, karena pembangunan desa cakupannya sangat luas, yang menjadi dasar dari sebuah pembangunan. Pembangunan desa ditujukan untuk peningkatan kualitas dan kehidupan masyarakat desa. Banyak hal yang harus dilaksanakan dalam hal pembangunan desa itu. Dalam pelaksanaan pembangunan desa seharusnya mengacu pada pencapaian tujuan dari pembangunan yaitu mewujudkan kehidupan masyarakat pedesaan yang mandiri, maju, sejahtera, dan berkeadilan.34 Karena pembangunan desa ini merupakan salah satu agenda besar untuk mengawal implementasi UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa yang dilaksanakan secara sistematis, konsisten, dan berkelanjutan dengan jalan fasilitasi, supervisi, dan pendampingan.
Pembangunan desa memiliki peranan yang penting dalam konteks pembangunan nasioanal. Pembangunan desa ini tidak hanya melulu membicarakan tentang pembangunan fisik saja, namun pembangunan non fisik juga sangat perlu diperhatikan dalam konteks pembangunan.
Faktor sumber daya manusia adalah modal utama dalam pelaksanaan pembangunan khususnya pembangunan di desa. Pembangunan masyarakat desa harus diperbaiki dan ditingkatkan untuk menunjang adanya pembangunan desa. Pembentukan karakter masyarakat desa dapat dilakukan dengan diadakannya pengembangan kemampuan sumber daya manusianya sendiri. Dengan adanya aktivitas-aktivitas yang positif akan dapat meningkatkan kreativitas serta kesadaran lingkungan yang semakin tinggi. Pendampingan adalah salah satu hal
33 Wahjudin, dalam Nurman, Strategi Pembangunan Daerah, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, Cetakan ke-1, 2015, hal. 266-267.
34 Adisasmita, Rahardjo, Pembangunan Pedesaan dan Perkotaan, Yogyakarta, Graha Ilmu, 2006, hal. 3.
yang sangat diharapkan oleh pemerintah pusat khususnya Kementerian Desa yang mencetuskan adanya sebuah pendampingan, karena pendampingan ini bukan hanya mendampingi pelaksanaan proyek yang masuk ke desa, bukan mendampingi dan mengawasi masalah dana Desa, tetapi yang dimaksudkan adalah pendampingan secara utuh terhadap desa.
Di sisi lain pemerintah desa memiliki peran yang sangat penting dalam upaya menciptakan lingkup yang mendorong tumbuhnya prakarsa dan swadaya masyarakat di pedesaan. Pemerintah desa menyandang peran dalam mengupayakan terciptanya atmosfir yang dapat mendorong kemauan masyarakat untuk bekerja sama membangun pedesaan, dan disisi lain masyarakat juga berperan aktif dalam mengupayakan berjalannya pembangunan dengan maksimal. Sehingga upaya pembangunan di desa ini diharapkan dapat memberikan solusi untuk sebuah perubahan sosial di masyarakat desa sendiri dan memberikan arti desa sebagai sebuah basic perubahan.
B. Tujuan Pembangunan Desa
Menurut Adisasmita, Rahardjo, dalam sebuah pembangunan desa, maka akan terlaksana dengan baik dan terarah sesuai dengan tujuan awal. Secara khusus dari pembangunan desa sebagai berikut:
1. Meningkatkan kemampuan kelembagaan masyarakat di tingkat desa dalam penyusunan perencanaan pembangunan secara partisipatif;
2. Meningkatkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam memberikan makna dalam perencanaan pembangunan;
3. Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pembangunan; dan 4. Menghasilkan keterpaduan antar bidang/sektor dan kelembagaan
dalam kerangka.
Menurut pendapat lain menjelaskan bahwa tujuan dari pembangunan desa di bagi menjadi 2, yaitu pembangunan desa jangka panjang dan pembangunan desa jangka pendek. Tujuan pembangunan jangka panjang yaitu terwujudnya peningkatan kesejahteraan
KEBIJAKAN DANA DESA BAGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN PEMBANGUNAN DESA
31 masyarakat desa yang secara langsung dilakukan melalui peningkatan kesempatan kerja, kesempatan berusaha dan pendapatan berdasarkan pada pendekatan bina lingkungan, bina usaha, dan bina manusia, dan secara tidak langsung adalah meletakkan dasar-dasar yang kokoh bagi pembangunan nasional. Sedangkan tujuan pembangunan desa jangka pendek yaitu peningkatan efektivitas dan efisiensi dalam pelaksanaan kegiatan ekonomi dan dalam pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya alam.35
Memaknai beberapa pendapat mengenai tujuan pembangunan desa menurut beberapa teori para ahli, bahwasannya hakikat tujuan dari pembangunan desa adalah meningkatkan kualitas hidup dari masyarakat desa melalui kegiatan-kegiatan pencapaian tujuan dari berbagai bidang (sosial, ekonomi, pendidikan, sarana kesehatan, budaya, agama, politik, dan keamanan) secara berkesinambungan dengan tetap mengedepankan kesamaan hak sekaligus tetap menjunjung tinggi keadilan seluruh masyarakat.
C. Perencanaan Pembangunan Desa
Melakukan misi menjadikan sebuah desa menjadi mandiri ini adalah hal yang sangat penting. Membangun suatu hal harus dimulai dengan yang namanya proses perencanaan. Membicarakan masalah pembangunan desa, harus mengetahui proses dari perencanaan pembangunan desa yang baik. Menciptakan sebuah pembangunan desa yang efektif, bukan semata-mata karena adanya kesempatan, namun merupakan hasil dari penentuan beberapa pilihan yang akan diambil dalam prioritas kegiatan. Proses perencanaan yang baik, maka akan menimbulkan sebuah program yang baik pula, dan dalam pelaksanaan program tersebut pemerintah akan membutuhkan partisipasi masyarakat untuk ikut bekerjasama dalam menjalankan program tersebut. Wujud nyata sebuah kewenangan dalam mengatur pembangunan desa adalah pada proses merencanakan, melaksanakan,
35 Ibid., hal. 57.
dan mengevaluasi sendiri kegiatan pembangunan.
Dalam perjalanan kegiatan perencanaan pembangunan seorang pendamping harus dapat menjalankan tugasnya dengan baik, apabila pendamping dapat memahami dinamika masyarakat dan pemerintah desa dalam hal perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, karena pemahaman pendamping akan perencanaan pembangunan serta pelaksanaan program-programnya sangat penting dilakukan.
Dengan demikian, maka pendamping akan dapat bekerjasama dengan pemerintah desa dan masyarakat secara baik sesuai porsi yang sudah ditentukan.
Pemerintah Desa dapat menyusun sebuah perencanaan pembangunan desa harus sesuai dengan kewenangannya sebagai pemerintah desa, namun harus tetap mengacu pada perencanaan pembangunan yang sudah dibuat di tingkat Kabupaten/Kota. Pada perencanaan dan pelaksanaan sebuah pembangunan desa, pemerintah desa didampingi oleh pihak-pihak yang lebih kompeten dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang secara teknisnya ini dilaksanakan oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) daerah kabupaten/kota. Sedangkan untuk mengkoordinasikan program pembangunan desanya, Kepala Desa ini didampingi oleh seorang pendamping professional. Sedangkan
Pemerintah Desa dapat menyusun sebuah perencanaan pembangunan desa harus sesuai dengan kewenangannya sebagai pemerintah desa, namun harus tetap mengacu pada perencanaan pembangunan yang sudah dibuat di tingkat Kabupaten/Kota. Pada perencanaan dan pelaksanaan sebuah pembangunan desa, pemerintah desa didampingi oleh pihak-pihak yang lebih kompeten dari pemerintah daerah kabupaten/kota yang secara teknisnya ini dilaksanakan oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) daerah kabupaten/kota. Sedangkan untuk mengkoordinasikan program pembangunan desanya, Kepala Desa ini didampingi oleh seorang pendamping professional. Sedangkan