II. TINJAUAN PUSTAKA
2.5. Dampak Konflik Antar Warga
Dalam sebuah konflik akan menimbulkan berbagai macam dampak. Dampak konflik antar warga yang paling berbahaya adalah dampak terhadap psikologis, dampak terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan dampak terhadap budaya. Dari berbagai macam dampak tersebut tidak selamanya bernilai negatif, namun juga ada dampak yang bernilai positif, dampak-dampak tersebut adalah sebgai berikut:
2.5.1. Psikologis
Dari sisi psikologis, dampak dari konflik antar warga ini akan menimbulkan rasa trauma, selalu merasa tidak aman, bahkan berkurang/hilangnya rasa kepercayaan diri dari individu dalam masyarakat tersebut. Hal ini karena pada dasarnya setiap individu memiliki kebutuhan yang berbeda dengan yang lainya, dan kebutuhan itu harus terpenuhi sesuai dengan kadarnya msing-masing.
Maslow (dalam Wijono, 2012) mengungkapkan tingkat kebutuhan individu yang kaitanya dengan kebutuhan hidup untuk mencapai sebuah ketenangan yang harus terpenuhi padda setiap individunya adalah:
1. Kebutuhan fisiologis(physiologycal needs)
Kebutuhan fisiologis ini merupakan kebutuhan tingkat pertama yang paling rendah dan paing mendasar. Kebutuhan ini terdiri atas makan, minum, pernapasan, dan kebutuhan yang bersifat biologis lainya.
2. Kebutuhan akan rasa aman(safety needs)
Kebutuhan-kebutuhan yang termasuk dalam kebutuhan rasa aman ini adalah kestabilan, ketergantungan, perlindungan,bebas dari rasa takut, dan ancaman.
3. Kebutuhan sosial dan kasih sayang(sosial and belongingness nedds) Adalah kebutuhan untuk bersosialisasi, berkomunikasi, dan merasa diterima serta dibutuhkan oleh orang lain.
4. Kebutuhan harga diri(self esteem needs)
Dalam kebutuhan harga diri ini dapat dibagi menjadi dua kategori. Pertama, kebutuhan terhadap kekuasaan, berprestasi, pemenuhan diri, kekuatan dan kemampuan untuk memberikan keyakinan dan kehidupan serta kebebasan. Kedua, adalah kebutuhan terhadap nama baik (reputation) atau prestise, status, keberhasilan, pengakuan, perhatian, dan penghargaan.
5. Kebutuhan alkulturasi diri(self actualization needs)
Pada tingkat kebutuhan ini, masing-masing ingin mewujudkan diri sebagai individu yang mempunyai kemampuan unik, seperti tanggung jawab, kebutuhan pertumbuhan dan pengembangan diri, kemajuan, berprestasi, dan alkulturasi.
Adanya konflik antar warga ini merupakan suatu guncangan bagi warga yang berkonflik maupun bagi warga lain yang terkena imbasnya dari konflik ini. Sehingga rasa trauma, selalu merasa tidak aman, bahkan berkurang/hilangnya rasa kepercayaan diri itu akan sulit untuk dipulihkan kembali seperti semula.
2.5.2. Sosial
Dalam konflik antar warga ini, pasti akan sangan mudah terlihat dampaknyan dalam berkehidupan sosial. Karena pola kehidupan sosial inilah yang kelak akan menentukan dan akan terlihat keberadaan konflik itu. Diteksi bahwa konflik itu masih ada atau tidak akan mudah kita ketahui hanya dengan cara mengamati kehidupan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik itu.
Sebagaimana yang dinyatakan Wood dan Jacson (dalam Martono 2011:223) bahwa:
Perubahan sosial merupakan basis yang menentukan cirri-ciri gerakan sosial, dan gerakan sosial berkaitan berkaitan erat dengan perubahan sosial. Gerakan sosial memiliki berbagai cara menurut mereka paling tepat dalam rangka mewujudkan cita-citanya. Gerakan sosial sering diwujudkan dalam bentuk gerakan protes, pemberontakan, kudeta, sampai prilaku anarkis.
Menurut Wijono (2012:235), pola kehidupan sosial itulah yang dapat dengan mudah kita ketahui akan keberadaan konflik itu. Karena hal ini bisa kita lihat dampaknya dalam kehidupan, baik itu berupa dampak positif atau dampak negatif dari konflik bagi kehidupan sosial, adapun dampak-dampaknya adalah sebagai berikut:
Dampak Positif Konflik
1) Membawa masalah-masalah yang diabaikan sebelumnya secara terbuka, 2) Memotovasi orang lain untuk memahami setiap posisi orang lain, 3) Mendorong ide-ide baru, memfasilitasi perbaikan dan perubahan,
4) Dapat meningkatkan kualitas keputusan dengan cara mendorong orang untuk membuat asumsi melakukan perbuatan.
Dampak Negatif Konflik
1) Dapat menimbulkan emosi dan stress negatif,
2) Berkurangya komunikasi yang digunakan sebagai persyaratan untuk kordinasi,
3) Munculnya pertukaran gaya partisipasi menjadi gaya otoritatif, 4) Dapat menimbulkan prasangka-prasangka negatif,
5) Memberikan tekanan loyalitas terhadap sebuah kelompok.
Pendapat lain menyatakan, dampak konflik yang terjad adalah tergantung dari jenis konflik itu sendiri dan bagaimana alur konflik itu berlangsung (Brown, 1997:89). Setidaknya ada tiga kemungkinan yang terjadi sebagai akibat perpecahan konflik etnis yakni:
1) Terjadinya rekonsiliasi secara damai; 2) Perpisahan etnis secara damai; 3) Perang saudara.
Dengan kata lain, kelompok-kelompok yang berkonflik bisa setuju untuk hidup bersama secara damai, setuju secara damai untuk berpisan, atau terus berperang untuk menentukan siapa yang berhak menjadi penguasa atas semuanya.
2.5.3. Ekonomi
Dalam sebuah konflik antar warga yang melibatkan banyak masa. Pada umunya prilaku masa yang membuat kerusuhan akan menyebabkan banyaknya kerugian dibidang ekonomi. Contohnya perusakan fasilitas umum, pembakaran rumah, perusakan tanaman pertanian, perusakan barang-barang produksi, penjarahan barang, dan lain sebagainya.
Sebagaimana menurut Selo Soemardjan (1999:11) yang menerangkan bahwa kerusuhan itu merujuk pada aksi kolektif yang spontan, tidak terorganisasi, tidak bertujuan, dan biasanya melibatkan penggunaan kekerasan, baik untuk menghancurkan, menjarah barang, atau menyerang orang lain.
Artinya begitu besarnya dampak dibidang perekonomian yang akan ditimbulkan dari sebuah konflik antar warga ini, diantaranya:
Pertama, kemiskinan, adalah dimana korban dari sebuah konflik tersebut menderita kerugian rusaknya fasilitas, penjarahan, bahkan ketika ada anggota keluarga yang terluka maka pengobatan secara pribadi.
Kedua,turunya aktifitas perekonomian, dalam hal jual beli akan menurut, dimana adanya rasa trauma akan kepemilikan barang-barang yang telah dijarah, ataupun juga karena keadaan keuangan yang tidak memungkinkan.
Ketiga,melonjaknya kebutuhan pokok, keadaan yang belum stabil dimanfaatkan para pedagang untuk menaikan harga kebutuhan pokok.
2.5.4. Budaya
Budaya dalam KLBI (1998:107) adalah pikiran manusia atau seseuatu hal yang mempunyai peradaban. Sedangkan Koentjaraningrat (2002:180) menjelaskan kebudayaan itu merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
Dari pendapat Koentjaraningrat diatas dapat diketahui bahwa seseungguhnya kebudayaan itu merupakan sebuah hasil karya pemikiran manusia dalam rangka mencipkatan sebuah kehidupan yang mempunyai peradaban.
Runtuhnya nilai budaya dan hilangya kewibawaan sebuah budaya adalah dampak dari konflik antar warga, hal ini bisa neyebabkan tidak lagi adanya rasa bangga, kepercayaan diri kepada warga yang memiliki sebuah kebudayaan itu. Akibatnya kemodernisasian akan menghapuskan sebuah budaya yang ada.
Nanang Martono (2011:86), menyatakan bahwa keadaan manusia modern akan mengubah cara pandang terhadap seorang individu, ketika individu tidak lagi dihargai dari sisi usia. Manusia modern lebih melihat dan menghargai individu dari sisi keahlian serta ketrampilan yang dimilikinya. Berbeda dengan masyarakat tradisional yang lebih melihat individu dari sisi usia, senioritas dan yunioritas.
Dari ungkapan Nanang di atas menunjukan keruntuhan sebuah nilai budaa itu akan menjadikan berkurangnya nilai moral seseorang. Kaitanya dengan kelompok budaya adalah ketika rasa etnosentris melekat pada masing-masing pemilik kebudayaan tersebut, maka kelak ketika mereka hidup bersama dengan kelompok beda etnis, yang akan terjadi adalah tidak lagi adnaya penghormatan kepada kelompok budaya lain.
Anggapan akan kelompoknya yang memiliki nilai paling sempurna daripada kelompok budaya lain akan semakin melekat dengan masyarakat. Hal ini aabila tidak terselesaikan secara terbuka maka akan menimbulkan sebuah konflik laten yang berbahaya bagi kelompok etnis tersebut.