• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaksanaan penataan kawasan Jalan Pangeran Antasari memiliki pengaruh

terhadap kawasan bersangkutan. Perubahan yang terjadi di sekitar kawasan disadari

oleh pemerintah kota sebagai konsekuensi logis adanya pelaksanaan penataan

kawasan. Perubahan pola penggunaan lahan, distribusi penduduk, sistem

perangkutan, sarana/prasarana pelayanan kota dan perubahan kondisi lingkungan

hidup merupakan sesuatu yang tak terelakkan. Penataan kawasan yang dilakukan

telah mempertimbangkan kemungkinan yang terjadi, sehingga dapat memperkecil

penyimpangan tujuan pelaksanaan penataan kawasan.

5.1 Perubahan Pola Penggunaan Lahan

Kawasan Jalan Pangeran Antasari memiliki luas kurang lebih 759 Ha,

berdasarkan hasil inventarisasi penggunaan lahan selama 10 tahun (1990-2000) terdiri

dari perumahan, jasa/jalan, perusahaan/perdagangan, pertanian, rawa-rawa, dan tanah

kosong/lain-lain. Penggunaan lahan hingga saat ini didominasi oleh sektor perumahan

yaitu mencapai 398 Ha, diikuti oleh lahan untuk pertanian sebesar 132 Ha, lahan

kosong sebesar 96,3 Ha, perusahaan/perdagangan sebesar 89,12 Ha, jasa,

sarana/prasarana pelayanan kota dan rawa-rawa masing-masing sebesar 19,81 Ha,

19,75 Ha dan 4 Ha. Untuk lebih jelasnya penggunaan lahan selama 10 tahun (1990-

Tabel 5. Perubahan Penggunaan Lahan (Ha) Kawasan Jalan Pangeran Antasari Tahun 1990-2000.

No Jenis Penggunaan Tahun/Luas Ha

1990 2000 % perubahan 1 Perumahan/Pemukiman 216 398 84,26% 2 Jalan/Jasa Jalan 2,47 19,81 702,02% 4 Perusahaan/Perdagangan 15,75 89,12 465,84% 5 Pertanian 454,64 132 -70,97% 6 Rawa-Rawa 12 4 -66,67% 7 Tanah Kosong 52,58 96,3 83,15% 8 Sarana/Prasarana Pelayanan Kota 5,65 19,75 249,56%

Sumber: - Neraca Sumber Daya Alam (NSDA) Bandar Lampung, Tahun 2001 - Data diolah

Perubahan penggunaan lahan terbesar adalah untuk penggunaan jasa. Ini

dimungkinkan dengan adanya pelebaran Jalan Pangeran Antasari dari lebar 6 meter

menjadi 18 meter, dan juga pelebaran jalan pendukung yang menghubungkan Jalan

Pangeran Antasari dengan kawasan pemukiman dan perdagangan. Konsekuensi logis

diubahnya peruntukkan kawasan menjadi pusat perdagangan dan jasa adalah

berkembangnya kawasan menjadi pusat perdagangan. Jika pada tahun 1990,

penggunaan lahan untuk perdagangan/perusahaan hanya 15,75 Ha, maka memasuki

tahun 2000 telah mencapai 89,12 Ha. Lahan perdagangan/perusahaan umumnya

terletak di pinggir Jalan Pangeran Antasari.

Peningkatan yang cukup menggembirakan adalah adanya pertambahan yang

cukup besar untuk sarana/prasarana pelayanan kota. Ini setidaknya mengindikasikan

adanya perhatian yang cukup dari Pemerintah Kota Bandar Lampung untuk

memberikan pemerataan pelayanan pada masyarakat. Usaha pemerintah kota untuk

pembangunan fisik sarana/prasarana pelayanan kota saja, tetapi penekanan yang

paling penting adalah pelayanan aparatur pemerintah terhadap masyarakat.

Tabel 6. Tingkat Kerapatan Bangunan (Perumahan) di Kawasan Jalan Pangeran Antasari

luas (Ha) 1990 2002 % Perubahan 1 Kota Baru 123 13,65 15,8 15,75% 2 Tanjung Agung 27 42,62 49 14,97% 3 Kebun Jeruk 25 35,1 46,6 32,76% 4 Sawah Lama 12 59,67 80,3 34,57% 5 Sawah Brebes 30 45,46 58,4 28,46% 6 Jagabaya I 17 23,5 32,7 39,15% 7 Kedamaian 318 4,1 5,63 37,32% 8 Jagabaya II 207 12,45 16,2 30,12%

Sumber : - Bandar Lampung dalam Angka, Tahun 2000 - Data diolah

Untuk pemukiman hanya mengalami peningkatan sebesar 84,26% dari 216

Ha menjadi 398 Ha. Jika melihat dari perubahan tersebut memang terlihat kecil akan

tetapi jika dikaitkan dengan tingkat kerapatan bangunan akan terlihat bahwa terjadi

peningkatan kerapatan bangunan (perumahan) yang cukup signifikan sebagaimana

ditunjukkan Tabel 6.

5.2 Perubahan Distribusi Penduduk

Pelaksanaan penataan kawasan yang dilakukan pada Jalan Pangeran Antasari

membawa perubahan yang cukup mencolok. Untuk distribusi penduduk berdasarkan

pada data kelurahan yang melingkupinya terjadi peningkatan jumlah penduduk yang

cukup signifikan (Tabel 7). Peningkatan yang terjadi ternyata melebihi rata-rata

perubahan jumlah penduduk kelurahan lain yang berada di Kota Bandar Lampung

Tabel 7. Jumlah Penduduk Kawasan Jalan Pangeran Antasari 1990 2002 % Peningkatan 1 Kota Baru 11.965 16.579 38,56% 2 Tanjung Agung 6.834 8.973 31,30% 3 Kebun Jeruk 5.947 8.633 45,17% 4 Sawah Lama 5.910 8.748 48,02% 5 Sawah Brebes 8.191 11.924 45,57% 6 Jagabaya I 3.647 5.293 45,13% 7 Kedamaian 7.162 11.936 66,66% 8 Jagabaya II 6.329 11.830 86,92% 55.985 83.916 49,89%

Sumber : - Bandar Lampung Dalam Angka, Tahun 2000 - Data diolah

Peningkatan jumlah penduduk yang tercantum dalam Tabel 7 menunjukkan

angka yang sangat tinggi, hal ini didorong oleh masih rendahnya harga tanah di

kawasan tersebut serta ketersediaan lahan yang cukup luas. Di samping itu di

kawasan Jalan Pangeran Antasari bermunculan komplek perumahan/pemukiman yang

terletak di Kelurahan Kedamaian dan Jagabaya II, sehingga mendorong peningkatan

jumlah penduduk.

5.3 Perubahan Sistem Perangkutan

Sistem perangkutan mengandung pengertian sistem transportasi suatu

kawasan yang terkait erat dengan jaringan jalan raya, meliputi jaringan jalan, terminal

angkutan umum dan jaringan angkutan umum. Sebagaimana diketahui jaringan jalan

di Kota Bandar Lampung memiliki pola radial yang menghubungkan suatu kawasan

dengan kawasan lain secara berkesinambungan. Untuk Jalan Pangeran Antasari, pola

itupun sebenarnya digunakan dengan melakukan perubahan fungsi jalan Ridwan Rais

daerah milik jalan 12 M). Perubahan fungsi jalan di sekitar kawasan Jalan Pangeran

Antasari dilakukan secara berkesinambungan dan terus menerus sehingga jaringan

jalan yang ada diharapkan mampu memperlancar mobilitas masyarakat. Beberapa

perubahan fungsi jalan di sekitar Jalan Pangeran Antasari dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Perubahan Fungsi Jalan di Kawasan Jalan Pangeran Antasari No Nama Jalan Fungsi Semula Fungsi Ubahan

1 Hayam Wuruk Kolektor Sekunder Kolektor Primer 2 Gajah Mada Kolektor Sekunder Kolektor Primer 3 Ridwan Rais Lokal Sekunder Kolektor Sekunder 4 Arif Rahman Hakim Lokal Sekunder Kolektor Sekunder 5 Dasamuka Lokal Sekunder Lokal Primer 6 Pulau Morotai Lokal Sekunder Lokal Primer

Ket : - Arteri primer Damija 20 M - Kolektor Primer Damija 20 M - Arteri Sekunder Damija 20 M - Kolektor Sekunder Damija 12 M - Lokal Primer Damija 8 M - Lokal Sekunder Damija 5 M Sumber : Data diolah

Kondisi jaringan jalan pada umumnya dalam keadaan baik, dan paling

banyak terbuat dari aspal. Beberapa jalan lokal memerlukan pembangunan lebih

lanjut, seperti perbaikan, dan peningkatan menjadi aspal. Jalan lokal ini masih berupa

jalan tanah, dan lapisan batu gravel.

Angkutan kota yang melintasi kawasan Jalan Pangeran Antasari mengalami

peningkatan jumlah. Jika pada tahun 1988, angkutan umum rute Tanjung Karang-

Sukarame hanya tersedia 50 mobil maka pada tahun 2000 telah menjadi 250 mobil

(Dis_Hub_Bandar_Lampung, Maret 2000), walaupun kenyataan lapangan jumlah angkutan kota dengan rute Tanjung Karang-Sukarame hampir mendekati angka 400

diuntungkan karena tidak lagi tergantung dengan moda angkutan umum lainnya.

Sebelum adanya penataan kawasan Jalan Pangeran Antasari, masyarakat sering

menggunakan angkutan umum becak/ojek dengan biaya yang cukup mahal. Kondisi

ini menguntungkan masyarakat yang mengharapkan adanya angkutan umum yang

murah dan cepat.

5.4 Perubahan Sarana/Prasarana Pelayanan Kota

Penataan kawasan Jalan Pangeran Antasari secara signifikan dapat

meningkatkan distribusi penduduk secara pesat. Peningkatan jumlah penduduk

menuntut adanya penambahan sarana/prasarana pelayanan kota. Penambahan

sarana/prasarana pelayanan kota sejak tahun 1990 hingga 2002 dirasakan telah

mencukupi, walaupun masih ada kekurangan, akan tetapi secara umum telah terjadi

peningkatan. Untuk pendidikan, jumlah sekolah yang ada dipandang mencukupi

begitu pula dengan ruang kelas yang ada. Ditambah lagi keberadaan sekolah swasta

yang penyebarannya cenderung merata di kawasan Jalan Pangeran Antasari.

Meningkatnya jumlah sekolah negeri yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota

Bandar Lampung didasari oleh pemikiran bahwa pendidikan merupakan suatu cara

untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia guna mendukung pembangunan.

Fasilitas pelayanan kota yang ada di sekitar kawasan Jalan Pangeran

Antasari, cukup mengalami peningkatan sebagaimana yang terlihat pada Tabel 9. Pos

polisi yang sebelumnya hanya berjumlah 1 meningkat menjadi 4, penambahan pos

polisi ini diharapkan mampu menjaga ketertiban dan keamanan kawasan secara lebih

memiliki 1 pos polisi. Kantor pos pembantu juga didirikan di Jalan Pangeran Antasari

guna memudahkan masyarakat berkomunikasi dengan surat. Untuk keberadaan taman

dan lapangan olahraga, pada kenyataannya taman hampir bisa dikatakan tidak ada,

walaupun ada sebenarnya hanya sebidang kecil tanah kosong yang ditanami seadanya

dan tidak terawat sehingga keberadaannya luput dari perhatian masyarakat.

Penambahan 5 lapangan olahraga yang sama sekali baru tentu menggembirakan

walaupun yang dimaksud dengan lapangan olahraga adalah lapangan bulu tangkis

yang umumnya terletak di lahan kantor kelurahan.

Tabel 9. Fasilitas Pelayanan Kota di Kawasan Jalan Pangeran Antasari Tahun 2002

No Fasilitas Jumlah 1990 2002 1 Pemerintahan dan Pelayanan Umum

- Pos Polisi 1 4 - Kantor Pos Pembantu 1 1 - Taman dan Lapangan Olahraga 2 7 2 Peribadatan - Masjid 23 35 - Langgar 54 65 - Mushola 7 12 - Gereja 1 2 3 Pelayanan Kesehatan - Puskesmas - 1 - Puskesmas Pembantu 1 3 - Rumah Bersalin 1 3 - Posyandu 102 142

Sumber : - Bandar Lampung Dalam Angka, Tahun 2000 - Data diolah

Fasilitas peribadatan bagi masyarakat dianggap cukup memadai, walaupun

beberapa anggota masyarakat menanyakan ketiadaan Masjid yang memiliki kapasitas

menampung jemaah yang banyak. Akan tetapi jika dilihat dari segi jumlah cukup

langgar dari 54 menjadi 65, dan mushola dari 7 menjadi 12. Untuk masjid,

penambahan jumlah memang benar-benar terjadi atau dengan kata lain bukan hasil

renovasi langgar/mushola. Sedangkan untuk langgar penambahan 11 langgar tersebut

merupakan hasil renovasi mushola sehingga menjadi langgar.

Keberadaan gereja memang telah ada sebelum terjadi penataan kawasan,

walaupun hanya berupa bangunan sederhana. Seiring dengan semakin banyaknya

penduduk yang membutuhkan keberadaan gereja maka dilakukan renovasi terhadap

bangunan yang ada. Sedangkan penambahan gereja yang baru merupakan hasil

pindahan dari kawasan lain.

Pelayanan kesehatan agaknya menjadi perhatian serius pemerintah Bandar

Lampung, dengan adanya penambahan 2 puskesmas pembantu dan 1 puskesmas

diharapkan akan mampu memberikan pelayanan kesehatan yang memadai bagi

masyarakat sekitar. Keberadaan sarana pelayanan kesehatan sangat membantu

masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang murah dan dekat,

walaupun untuk jasa pelayanannya acapkali kurang memuaskan. Beberapa anggota

masyarakat mengeluhkan lambannya pelayanan dan setelah siang hari tenaga medis

di fasilitas pelayanan kesehatan ini seringkali tidak ada. Dengan demikian sebenarnya

bukan hanya bangunan fisik untuk sarana pelayanan yang diperbanyak tetapi

profesionalisme aparat yang bertugas, sehingga fungsi pelayanan masyarakat dapat

5.5 Perubahan Kondisi Lingkungan Hidup

Dampak penataan kawasan pada lingkungan hidup terasa pada ketersediaan

sarana persampahan dan drainase. Jumlah penduduk yang mendiami sekitar kawasan

meningkat tajam, kondisi ini tidak diiringi oleh ketersediaan sarana persampahan

yang tertata baik. Akibatnya masyarakat sering kali mengeluhkan adanya timbunan

sampah yang bertumpuk di beberapa bahu jalan.

Dinas Kebersihan mengelola pengangkutan sampah di jalan protokol yang

meliputi sampah usaha perdagangan dan industri, sedangkan untuk sampah di pasar-

pasar umum pengangkutannya dilakukan oleh Dinas Pasar. Sementara untuk sampah

di lingkungan pemukiman di organisir oleh kecamatan dan kelurahan melalui Satuan

Organisasi Kebersihan Lingkungan (SOKLI). Untuk pemukiman kondisi

persampahan agak memprihatinkan, dengan terbatasnya petugas SOKLI dan

renumerasi mengakibatkan tidak sempurnanya pelayanan persampahan.

Untuk air limbah Kota Bandar Lampung sampai saat ini belum memiliki

sistem jaringan air limbah untuk menampung dan menyalurkan limbah perkotaan.

Pada umumnya air limbah dari kamar mandi dan dapur dialirkan secara terpisah dari

buangan manusia. Secara keseluruhan 57% air limbah kamar mandi dan dapur

(limbah rumah tangga) dialirkan ke saluran atau alur drainase dan 40% lainnya

dialirkan ke lubang rembesan. Pemerintah Kota Bandar Lampung sampai saat ini

belum memiliki peraturan dan belum melaksanakan pengawasan terhadap dimensi

atau standar ukuran septic tank dan sistem rembesan setempat. Oleh sebab itu, saluran

dari septic tank dan air limbah rumah tangga. Alur sungai yang digunakan sebagai

jaringan drainase primer adalah Way Kedamaian beserta alur sungainya.

Badan sungai dan jaringan drainase di Kota Bandar Lampung selain

berfungsi menerima dan mengalirkan limpahan air permukaan juga berfungsi sebagai

tempat pembuangan limbah domestik, industri maupun aktivitas perkotaan lainnya.

Sungai-sungai yang ada di Kota Bandar Lampung merupakan jenis sungai yang

bercabang, ruas-ruas sungai/anak sungai yang menyusun alur aliran yang terbesar,

dan terpanjang diklasifikasikan sebagai saluran drainase primer. Sedangkan anak

sungai/cabang sungai yang bermuara ke alur tersebut disebut saluran drainase

sekunder dan seterusnya sebagai aliran drainase tersier dan kuarter.

Kondisi bantaran sungai Way Kedamaian cenderung memprihatinkan akibat

pembangunan yang tidak memperhatikan aspek lingkungan, sehingga dapat berakibat

fatal bagi sungai itu sendiri maupun masyarakat sekitarnya. Pembelokan alur sungai

untuk kepentingan sesaat akan menimbulkan perubahan aliran sungai pada badan

sungai, dan akan menyebabkan gerusan pada sisi sungai tersebut, sehingga aliran

akan berubah dan sedimen yang terangkut juga akan mengalami perubahan ke arah

yang tidak baik dan pada akhirnya akan terjadi banjir.

Tingkat kebisingan yang dirasakan masyarakat sekarang ini memang cukup

mengganggu, untuk Jalan Pangeran Antasari setiap hari dilewati oleh 6.329

kendaraan jauh di atas data tahun 1981 yang hanya dilewati oleh 347 kendaraan

melewati kawasan ini tentu saja akan meningkatkan polusi udara dan suara, sehingga

kualitas lingkungan hidup akan menurun.

5.6 Ikhtisar

Perubahan akibat penataan kawasan terjadi secara nyata. Perubahan

distribusi penduduk mempengaruhi pola penggunaan lahan dengan adanya

peningkatan luasan pemukiman/perumahan. Begitu pula dengan tingkat kerapatan

yang meningkat pesat bila dibandingkan dengan data tahun 1990, kerapatan bangunan

merupakan satu indikasi terjadinya peningkatan jumlah penduduk. Sistem

perangkutan mengalami peningkatan dengan semakin meningkatnya panjang dan luas

jalan yang terbangun. Kemudahan angkutan umum merupakan suatu kondisi yang

secara jelas menguntungkan masyarakat dengan pengadaan moda angkutan yang

murah dan terjangkau.

Untuk sarana/prasarana pelayanan kota terjadi peningkatan jumlah yang

tidak diiringi dengan peningkatan kualitas pelayanan. Masyarakat melihat

peningkatan sarana/prasarana pelayanan kota seharusnya diiringi dengan peningkatan

kinerja aparatur pemerintah. Kinerja aparatur pemerintah merupakan fokus perhatian

VI.

PANDANGAN MASYARAKAT TENTANG KINERJA