BAB II DAMPAK PENCEMARAN LINTAS BATAS LINGKUNGAN
C. Dampak Pencemaran Lingkungan di Laut Timor akibat
Sejalan dengan kemajuan pengetahuan dan teknologi, kemudahan yang diperoleh manusia untuk mencapai suatu tujuan dengan melalui lautan dapat juga
40
Syahmin A.K, Beberapa Perkembangan dan Masalah Hukum Laut Internasional (Bandung, Binacipta, 1988), hal.6
menimbulkan akibat-akibat yang merugikan lingkungan hidup di laut. Kenyataan itu bukan hanya disebabkan karena pelayaran oleh kapal-kapal yang semakin banyak tetapi juga kapal-kapal yang berlayar tersebut kurang memperhatikan aspek pencemaran yang diakibatkannya. Selain itu, kenyataan tersebut juga disebabkan karena pencemaran yang terjadi akibat eksplorasi dan eksploitasi minyak di lautan.
Dengan terjadinya tumpahan minyak di laut maka menimbulkan akibat langsung atau seketika maupun tidak langsung. Sebagai akibat langsung dari pencemaran itu adalah :
1. Di bidang perikanan, hilangnya kesempatan nelayan untuk menangkap ikan.
2. Rusaknya pertanian dan peternakan di laut, seperti pengambilan rumput laut dan ganggang laut, peternakan kerang, ikan, udang dan lain sebagainya.
3. Matinya burung-burung laut terutama camar laut dan sebangsa bebek yang keracunan akibat makanan.
4. Matinya binatang-binatang laut seperti elephansteal, singa laut dan binatang-binatang lainnya.
Sedangkan akibat tidak langsung dari pencemaran laut tersebut adalah dalam hubungannya dengan ekologi. Terjadinya penurunan terhadap kualitas air laut dan lingkungan yang berlangsung terus menerus tanpa disadari.
Laut Timor adalah perpanjangan Samudera Hindia yang terletak antara pulau Timor, kini terbagi antara Indonesia dan Timtim, dan Northen Territory Australia. Di timur berbatasan dengan Laut Arafuru, secara teknis perpanjangan Samudera Pasifik. Laut Timor Sea memiliki 2 teluk kecil di pesisir Australia Utara, Teluk Joseph Bonaparte dan Teluk Van Diemen. Kota Australia Darwin ialah satu-satunya kota besar yang terletak di tepi laut adjoin.41
Laut ini memiliki luas 480 km (300 mil), meliputi daerah sekitar 610.000 km persegi (235.000 mil persegi). Titik terdalamnya ialah Palung Timor di utara laut ini, yang mencapai kedalaman 3.300 m (10.800 kaki). Bagian lainnya lebih dangkal, dengan rata-rata kedalaman yang kurang dari 200 m (650 kaki). Merupakan tempat utama untuk badai tropis dan topan.
Sejumlah pulau terletak di laut ini, termasuk Pulau Melville di laut lepas pantai Australia dan Kepulauan Ashmore dan Cartier yang diperintah Australia. Diperkirakan penduduk asli Australia mencapai Australia dengan “loncatan pulau” menyeberangi Laut Timor.
Di dasar Laut Timor terdapat cadangan minyak dan gas dalam jumlah besar. Australia dan Timor Timur telah mengalami pertentangan panjang atas hak eksploitasi di daerah yang terkenal sebagai Celah Timor. Klaim wilayah Australia meluas ke sumbu batimetrik (garis kedalaman punggung laut terbesar) di Palung Timor. Ini melengkapi klaim territorial Timor Timur, yang mengikuti bekas
41
Wikipedia, “Laut Timor”, sebagaimana dimuat dalam,
http://id.wikipedia.org/wiki/LautTimor, diakses pada tanggal 28 Februari 2011.
koloninya Portugal dalam mengklaim bahwa garis yang membagi itu harus ditengah-tengah kedua negara.
Sekitar dua tahun yang lalu, masalah pencemaran laut akibat tumpahan minyak kembali terulang dalam perairan wilayah Indonesia. Tepatnya pada tanggal 21 Agustus 2009 sumur minyak Montara yang bersumber dari Ladang Montara (The Montara Well Head Platform) di Blok “West Atlas Laut Timor” perairan Australia bocor dan menumpahkan minyak jenis light crude oil, dengan kandungan sulfur 0,5% hydrogen sulfide dan carbon dioxide, lebih rendah dari kandungan sulfur dalam sour crude oil. Kandungan tersebut sangat berbahaya bagi kehidupan keragaman hayati laut, terutama jika terdampar dipesisir. Ladang minyak Montara dioperasikan oleh PTT Public Company Limited (PTT PCL atau PTT). 42
Tumpahan minyak tersebut meluas hingga perairan Celah Timor (Timor Gap) yang merupakan perairan perbatasan antara Indonesia, Australia dan Timor Leste. Luas efek cemaran tumpahan minyak dari sumur yang terletak di Blok Atlas Barat Laut Timor tersebut sekitar 75% masuk wilayah Indonesia, merugikan nelayan di Nusa Tenggara Timur, khususnya di perairan Rote Ndao.43
42
PTT merupakan perusahaan milik negara Thailand, yang semula bernama The Petroleum Authority of Thailand, yang melakukan kegiatan usaha dalam bidang gas dan minyak. PTT merupakan afiliasi dari PTT Eksploration and Production, PTT Chemicals, PTT Aromatics dan Refining and PTT Green Energy. PTT merupakan perusahaan kelas dunia yang masuk kedalam 500 perusahaan Fortune Global dan berada pada renking 118 dalam 500 perusahaan tersebut.
43
Dari berbagai sumber: Wikipedia (06/11/2010, 01:23); Tribunenews.Com, Kupang; upstreamonline.com, Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) (06/11/2010, 01:23). Masing-masing sumber menyajikan data yang berbeda-beda.
Dampak tumpahan minyak mentah terhadap Perairan Indonesia akibat pencemaran di Laut Timor menimbulkan beberapa hal, yakni :
a. Kerusakan Ekosistem Laut yang ada di Perairan Laut Indonesia
b. Tumpahan minyak yang memasuki wilayah perairan Indonesia dari 30 Agustus s/d 3 Oktober 2009 seluas 16.420 km2.
c. Adanya penurunan pendapatan nelayan dan petani rumput laut di sekitar pulau Timor dan Rote yang diakibatkan menurunnya jumlah tangkapan ikan dan kegagalan panen rumput laut.
Air laut adalah suatu komponen yang berinteraksi dengan lingkungan daratan, dimana buangan limbah dari daratan akan bermuara ke laut. Selain itu air laut juga sebagai tempat penerimaan polutan (bahan cemar) yang jatuh dari atmosfir. Limbah tersebut yang mengandung polutan kemudian masuk ke dalam ekosistem perairan pantai dan laut. Sebagian larut dalam air, sebagian tenggelam ke dasar dan terkonsentrasi ke sedimen, dan sebagian masuk ke dalam jaringan tubuh organisme laut (termasuk fitoplankton, ikan, udang, cumi-cumi, kerang, rumput laut dan lain-lain). Kemudian, polutan tersebut yang masuk ke air diserap langsung oleh fitoplankton.
Fitoplankton adalah produsen dan sebagai tropik level pertama dalam rantai makanan. Kemudian fitoplankton dimakan zooplankton. Konsentrasi polutan dalam tubuh zooplankton lebih tinggi dibanding dalam tubuh fitoplankton karena zooplankton memangsa fitoplankton sebanyak-banyaknya. Fitoplankton dan zooplankton dimakan oleh ikan-ikan planktivores (pemakan plankton) sebagai tropik level kedua. Ikan planktivores dimangsa ikan karnivores (pemakan ikan
atau hewan) sebagai tropik level ketiga, selanjutnya dimangsa oleh ikan predator sebagai tropik level tertinggi. Ikan predator dan ikan yang berumur panjang mengandung konsentrasi polutan dalam tubuhnya paling tinggi di antara seluruh organism laut. Kerang juga mengandung logam berat yang tinggi karena cara makannya dengan menyaring air masuk ke dalam insangnya setiap saat dan fitoplankton ikut tertelan.
Polutan ikut masuk ke dalam tubuhnya dan terakumulasi terus-menerus dan bahkan bisa melebihi konsentrasi yang di air. Polutan tersebut mengikuti rantai makanan mulai dari fitoplankton sampai ikan predator dan pada akhirnya sampai ke manusia. Bila polutan ini berada dalam jaringan tubuh organisme laut tersebut dalam konsentrasi yang tinggi, kemudian dijadikan sebagai bahan makanan maka akan berbahaya bagi kesehatan manusia. Karena kesehatan manusia sangat dipengaruhi oleh makanan yang dimakan. Makanan yang berasal dari daerah yang tercemar kemungkinan besar juga tercemar. Demikian juga makanan laut (seafood) yang berasal dari pantai dan laut yang tercemar juga mengandung bahan polutan yang tinggi. Salah satu polutan yang paling berbahaya bagi kesehatan manusia adalah logam berat.
Pada waktu minyak yang terkilang tinggi tumpah dipermukaan air bersih, minyak tersebut akan membentuk lensa yang tebalnya bergantung dari jenis minyak. Kecepatan penyebaran akan bergantung pada suhu udara dan laut, angin dan arus laut serta jenis minyak.
Komponen minyak yang tidak dapat larut di dalam air akan mengapung yang menyebabkan air laut berwarna hitam. Beberapa komponen minyak tenggelam dan terakumulasi di dalam sedimen sebagai deposit hitam pada pasir dan batuan-batuan di pantai. Komponen hidrokarbon yang bersifat toksin berpengaruh pada reproduksi, perkembangan, pertumbuhan dan perilaku biota laut terutama pada plankton bahkan dapat mematikan ikan dengan sendirinya dapat menurunkan produksi ikan. Proses emulfikasi merupakan sumber mortalitas bagi organism, terutama pada telur, larva dan perkembangan embrio karena pada tahap ini sangat rentan pada lingkungan tercemar, akibatnya terjadi pencemaran minyak yang dapat digolongkan menjadi 2 bagian yaitu :
- Akibat jangka pendek. Molekul hidrokarbon minyak dapat merusak membrane sel biota laut, mengakibatkan keluarnya cairan sel dan berpenetrasinya bahan tersebut kedalam sel. Berbagai jenis udang dan ikan akan beraroma dan berbau minyak, sehingga menurun mutunya oksigen, keracunan karbon dioksida dan keracunan langsung oleh bahan berbahaya.
- Akibat jangka panjang. Lebih banyak mengancam biota muda. Minyak dalam laut dapat termakan oleh biota laut, sebagian senyawa minyak dapat dikeluarkan bersama-sama makanan, sedang sebagian lagi dapat terakumulasi dalam senyawa lemak dan protein. Sifat akumulasi ini dapat dipindahkan dari organisma satu ke organisma yang lainnya melalui rantai makanan. Akumulasi minyak didalam zooplankton dapat berpindah ke ikan pemangsanya. Demikian seterusnya bila ikan yang lebih kecil dimakan oleh ikan yang lebih besar, hewan-hewan laut lainnya atau dimakan oleh manusia.
Di air laut yang bersih, minyak dapat menyebar dengan cepat menjadi pola-pola sirkular. Misalnya 1 M minyak mentah Timur Tengah dalam 10 menit dapat menyebar menjadi lingkaran yang bergaris tengah 48 M dengan ketebalan rata-rata 0,5 mm dan dalam 100 menit lingkaran ini membesar sehingga bergaris tengah 100 M dengan ketebalan rata-rata 100 mm.44 Secara tidak langsung, pencemaran laut akibat minyak mentah dengan susunannya yang sangat kompleks dapat membinasakan kekayaan laut dan mengganggu kesuburan lumpur di atas laut. Ikan yang hidup disekitar laut akan tercemar atau mati dan banyak pula yang berimigrasi ke daerah lain.
Minyak yang tergenang di atas permukaan laut akan menghalangi sinar matahari masuk sampai ke lapisan air dimana ikan berdiam. Lapisan minyak juga akan menghalangi pertukaran gas dari atmosfer dan mengurangi kelarutan oksigen yang akhirnya sampai pada tingkat yang tidak cukup untuk mendukung bentuk kehidupan laut yang aerob. Lapisan minyak yang tergenang tersebut juga akan mempengaruhi pertumbuhan rumput laut dan tumbuhan laut lainnya jika menempel pada permukaan daunnya, karena dapat mengganggu proses metabolisme pada tumbuhan tersebut seperti respirasi, selain itu juga akan menghalangi masuknya sinar matahari ke dalam zona euphotik, sehingga rantai makanan yang berawal pada plankton akan terputus jika lapisan minyak tersebut tenggelam dan menutupi substrat selain akan mematikan organism benthos juga akan terjadi pembusukan akar pada tumbuhan yang ada di laut.
44
Pencemaran minyak juga akan merusak ekosistem mangrove. Minyak tersebut berpengaruh terhadap sistem pengakaran mangrove yang berfungsi dalam pertukaran CO2 dan O2, dimana akar tersebut akan tertutup minyak sehingga kadar oksigen dalam akar berkurang. Jika minyak mengendap dalam waktu yang cukup lama akan menyebabkan pembusukan pada akar mangrove yang mengakibatkan kematian pada tumbuhan mangrove tersebut. Tumpahan minyak juga aka menyebabkan kematian fauna-fauna yang hidup berasosiasi dengan hutan mangrove, seperti moluksa, kepiting, ikan , udang dan biota lainnya. Bukti-bukti dilapangan menunjukkan bahwa minyak yang terperangkap di dalam habitat berlumpur tetap mempunyai pengaruh racun selama 20 tahun setelah pencemaran terjadi.45
Ekosistem terumbu karang juga tidak akan luput dari pengaruh pencemaran minyak. Jika terjadi kontak langsung antara minyak dan terumbu karang secara langsung maka akan terjadi kematian terumbu karang secara meluas.46 Akibat jangka panjang yang paling potensial dan paling berbahaya adalah jika minyak masuk ke dalam sedimen. Burung laut merupakan komponen kehidupan pantai yang langsung dapat dilihat dan sangat terpengaruh akibat tumpahan minyak. Akibat yang paling nyata terhadap burung laut adalah terjadinya penyakit fisik. Minyak yang mengapung terutama sekali amat berbahaya bagi kehidupan burung laut yang suka berenang diatas permukaan air seperti burung camar.
45
Ibid
46 Ibid
Tubuh burung akan tertutup oleh minyak kemudian dalam usaha membersihkan tubuh mereka dari minyak mereka biasa akan menjilat bulu-bulunya akibat mereka meminum banyak minyak dan akhirnya meracuni diri sendiri. Disamping itu dengan minyak yang menempel pada bulu burung makan burung akan kehilangan kemampuan untuk mengisolasi temperature sekitar, sehingga mengakibatkan hilangnya panas burung tersebut, yang terjadi secara terus-menerus akan menyebabkan burung tersebut kehilangan nafsu makan dan penggunaan cadangan makanan dalam tubuhnya.
Peristiwa yang sangat besar akibatnya terhadap kehidupan burung laut adalah peristiwa pecahnya kepal tanki Torrey Canyon yang mengakibatkan matinya burung-burung laut sekitar 10.000 ekor di sepanjang pantai dan sekitar 30.000 tertutupi genangan minyak dipermukaan laut yang tercemar oleh minyak.
World Health Organization (selanjutnya disebut WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia dan Food Agriculture Organization (selanjutnya disebut FAO) atau Organisasi Pangan Dunia merekomendasikan untuk tidak mengkonsumsi makanan laut yang tercemar logam berat. Logam berat telah lama dikenal sebagai suatu elemen yang mempunyai daya racun yang sangat potensial dan memiliki kemampuan terakumulasi dalam organ tubuh manusia. Bahkan tidak sedikit yang menyebabkan kematian.
BAB III
PERTANGGUNGJAWABAN PTTEP AUSTRALIA TERHADAP PENCEMARAN LINTAS BATAS OLEH MINYAK DI LAUT TIMOR
MENURUT HUKUM INTERNASIONAL
A.Konsep Pertanggungjawaban Negara Menurut Hukum Internasional Sampai saat ini walaupun belum ada ketentuan yang mapan, tanggung jawab negara tetap merupakan suatu prinsip fundamental dalam hukum internasional. Dalam hal ini baru bisa dikemukakan mengenai syarat-syarat atau karakteristik tanggung jawab negara, seperti dikemukakan oleh Shaw yang dikutip oleh Huala Adolf sebagai berikut :47
1. Ada suatu kewajiban hukum internasional yang berlaku antara dua negara tersebut;
2. Ada suatu perbuatan atau kelalaian yang melanggar kewajiban hukum internasional tersebut yang melahirkan tanggung jawab negara; dan
3. Ada kerusakan atau kerugian sebagai akibat adanya tindakan yang melanggar hukum atau kelalaian
Persyaratan-persyaratan ini kerapkali digunakan untuk menangani sengketa yang berkaitan dengan tanggung jawab negara. Misalnya dalam kasus the Spanish Zone of Morocco Claims. Hakim Huber dalam kasus ini menegaskan bahwa tanggung jawab ini merupakan konsekuensi logis dari adanya suatu hak. Hak-hak yang bersifat internasional tersangkut di dalamnya tanggung jawab Internasional.
47
Huala Adolf, Aspek-Aspek Negara Dalam Hukum Internasional (Jakarta, Radha Grafindo Persada, 1996) hal.174
Tanggung jawab ini melahirkan kewajiban untuk mengganti kerugian manakala suatu negara tidak memenuhi kewajibannya.48
Negara sebagai subjek hukum internasional adalah pihak yang dapat dibebani hak dan kewajiban yang diatur oleh hukum internasional. Hak dan kewajiban yang diatur oleh hukum internasional itu mencakup hak dan kewajiban yang di atur oleh hukum internasional material dan hukum internasional formal.49
Adapun pandangan lain dinyatakan oleh Kelsen yang menyatakan bahwa individu merupakan subjek hukum yang sesungguhnya dari hukum internasional, karena individu merupakan subjek dari segala hukum nasional maupun internasional. Hal ini bertitik tolak dari anggapan bahwa negara dijalankan dan dibentuk oleh sekumpulan individu yang terikat hukum. Namun pandangan di atas tidak bisa diberlakukan begitu saja mengingat pengaturan hukum internasional sudah mengatur mengenai hak dan kewajiban negara. Tanggung jawab secara harfiah dapat diartikan keadaan wajib menanggung segala sesuatunya jika terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan atau juga berarti hak yang berfungsi menerima pembebanan sebagai akibat sikapnya oleh pihak lain.50
Menurut Sugeng Istanto, pertanggungjawaban berarti kewajiban memberikan jawaban yang merupakan perhitungan atas semua hal yang terjadi dan kewajiban untuk memberikan pemulihan atas kerugian yang mungkin ditimbulkan. Menurut hukum internasional pertanggungjawaban negara timbul
48
Huala Adolf, ibid., hal. 174-175
49
F, Soegeng Istanto, Hukum Internasional, (Yogyakarta, UAJ, 1994) hal. 16 50
dalam hal negara itu merugikan negara lain. Pertanggungjawaban negara dibatasi pada pertanggungjawaban atas perbuatan yang melanggar hukum internasional saja. Perbuatan suatu negara yang merugikan negara lain tetapi tidak melanggar hukum internasional tidak menimbulkan pertanggungjawaban. Misalnya perbuatan negara menolak seorang warga negara asing yang masuk ke dalam wilayah negaranya.51
Pertanggungjawaban negara atas responsibility of states mengandung kewajiban dalam bagian dari suatu negara untuk memperbaiki kerusakan yang dihasilkan sari sebuah serangan yang dilakukan dalam wilayah yurisdiksinya dan melawan anggota lainnya dari komunitas internasional.52 Prinsip bahwa setiap negara adalah berdaulat memang diakui dan dilindungi oleh hukum internasional. Oleh karena itu semua negara yang menjadi bagian dari masyarakat internasional harus menghormati dan mengetahui hal tersebut.
Namun kedaulatan yang dimiliki oleh suatu negara itu tidak terbatas. Artinya dalam melaksanakan hak berdaulat itu terkait di dalamnya kewajiban untuk tidak menyalahgunakan kedaulatan tersebut. Suatu negara dapat dimintai pertanggungjawaban untuk tindakan-tindakannya yang melawan hukum akibat kelalaian-kelalaiannya. Latar belakang timbulnya tanggung jawab di dalam hukum internasional adalah bahwa tidak ada satu negara pun di dunia yang dapat menikmati hak-haknya tanpa menghormati hak negara lain. Setiap perbuatan atau
51
F. Sugeng Istanto, Op.cit., hal. 77
52
Joseph.P. Haris, Introduction to the Law of Nations, McGraw Hill SeriesInc (New York-Toronto-London, 1935), hal. 133
kelalaian terhadap hak negara lain, menyebabkan negara wajib untuk memperbaiki pelanggaran hak tersebut.
Ketentuan hukum internasional yang mengatur masalah tanggung jawab negara hingga kini belum ada yang mapan, dan terus mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan zaman. Para ahli hukum internasional mengakui bahwa tanggung jawab negara merupakan suatu prinsip fundamental hukum internasional.53 International Law Commision (ILC) merupakan sebuah badan PBB yang bertugas mengurusi dan membahas draft tentang ketentuan tanggung jawab negara. Walaupun masih dalam bentuk draft tetapi karena disusun oleh para ahli hukum terkemuka yang mewakili berbagai kebudayaan terpenting di dunia dan mempunyai nilai tinggi serta tergabung dalam panitia hukum internasional, seperti yang tergabung dalam kepanitiaan penyusunan draft tentang tanggung jawab negara di dalam ILC, maka ketentuan tanggung jawab negara ini dapat digunakan sebagai sumber tambahan di dalam hukum internasional.54
Menurut Sharon Wiliiams, ada empat kriteria yang dapat digunakan untuk menetapkan adanya pertanggungjawaban negara, yaitu :55
1. Subjective fault criteria 2. Objective fault criteria
53
M.N. Shaw, International Law (Butterworths, 1986), hal. 466, Ian Brownlie, Principles
of Public International Law, (1978), hal. 431, seperti yang dikutip oleh Huala Adolf, Aspek-Aspek Negara dalam Hukum Internasional (Jakarta, Radja Grafindo, 1996), hal. 174
54
Mochtar Kusumaatmadja, op.cit., hal. 143
55
Sharon Williams, Public International Governing Trans-boundary Pollution (University of Queensland L.J, 1984), hal. 114-118, dikutip oleh Marsudi Triatmodjo, ibid, hal. 177
3. Strict Liability 4. Absolute Liability
Subjective fault criteria menentukan arti pentingnya kesalahan, baik dolus maupun culpa si pelaku untuk menetapkan adanya pertanggungjawaban negara. Dalam konsep objective fault criteria ditentukan adanya pertanggungjawaban negara yang timbul dari adanya suatu pelanggaran terhadap suatu kewajiban internasional. Jika suatu negara dapat menunjukkan adanya force majeure atau adanya tindakan pihak ketiga, negara yang bersangkutan dapat dibebaskan dari pertanggungjawaban tersebut.
Konsep strict liability membebani negara dengan pertanggungjawaban terhadap perbuatan atau tidak berbuat yang terjadi di wilayahnya yang menimbulkan pencemaran dan mengakibatkan kerugian di wilayah negara lain, meskipun berbagai persyaratan pencegahan pencemaran telah diterapkan. Dalam konsep ini acts of God, tindakan pihak ketiga atau force majeure dapat digunakan sebagai alasan pemaaf (exculpate). Menurut konsep absolute liability tidak ada alasan pemaaf yang dapat digunakan seperti dalam strict liability, sehingga dalam konsep ini terdapat total pertanggungjawaban walaupun segala standar telah dipenuhi.56
Daud Silalahi menyatakan bahwa konsep state responsibility-liability (tanggung jawab negara atas lingkungan) dalam kerangka hukum lingkungan internasional mengacu pada pembahasan the principle of sovereignity dan the
56 Ibid
freedom high-seas. Pelaksanaan kegiatan di dalam suatu wilayah negara terhadap lingkungannya merupakan perwujudan kedaulatan dari suatu negara. Jika kegiatan tersebut menimbulkan kerugian bagi negara lainnya (the act injuries to another states) maka timbullah tanggung jawab negara
Prinsip responsibility-liability dikaitkan pula dengan legal strategy, yakni upaya untuk melakukan pencegahan terhadap aktifitas dengan cara menetapkan/mengatur standar permissible injury atau ambang batas dari kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkunagn (environmental injuries) dapat pula dianggap sebagai ongkos eksternal yang timbul dari kegiatan ekonomi. Adanya kerusakan lingkungan ditetapkan berdasarkan ambang batas atau baku mutu lingkungan.57
Penetapan permisible level of injury (ambang batas kerusakan dari lingkungan) dilakukan melalui hasil putusan pengadilan internasional, atau penetapan standar perbuatan/tindakan yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan, dan melalui pelaksanaan fungsi pengaturan oleh badan-badan internasional. Sebagian besar tanggung jawab negara ini didasarkan pada ketentuan larangan injury of one state to another. Jika akibat timbul di luar wilayah suatu negara, pada wilayah yang termasuk common heritage to mankind
57
Daud Silalahi, 1996, Hukum Lingkungan Dalam Sistem Penegakan Hukum Lingkungan
(wilayah-wilayah yang merupakan warisan bersama umat manusia) maka tanggung jawab yang timbul adalah tanggung jawab internasional.58
Salah satu prinsip yang terkenal dari hukum lingkungan internasional adalah sic utere tuo, ut alienum non laedas atau principles of good neighbourliness. Pada intinya prinsip ini mengatakan kedaulatan wilayah suatu negara tidak boleh diganggu oleh negara lain. Hal ini patut berlaku pada saat terjadi aktifitas dalam negara yang mengganggu negara lain. Ada juga prinsip lain yakni preservation and the protection of environment yang menegaskan bahwa tindakan-tindakan perlu diambil untuk mencegah dampak buruk kerusakan lingkungan bagi kondisi