• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak terhadap Pengem – angan —˜ ™š arakat › ekitar

ANALISIS DAMPAK PEMBANGUNAN

4.2. Dampak terhadap Pengem – angan —˜ ™š arakat › ekitar

Smelter

Pengembangan masyarakat merupakan bagian dari

Corporate Social Responsibility (CSR), yaitu bentuk kontribusi

perusahaan untuk keberlangsungan kehidupan masyarakat di sekitar proyek, baik secara sosial, ekonomi dan lingkungan masyarakat. Menurut World Bank, CSR adalah komitmen dari bisnis untuk berkontribusi bagi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas kehidupan sehingga berdampak baik bagi bisnis sekaligus baik bagi kehidupan sosial. Para pengamat bisnis juga mengartikan CSR sebagai bentuk komitmen usaha untuk bertindak secara etis, beroperasi secara legal, dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup karyawan beserta keluarganya, masyarakat lokal, dan masyarakat secara lebih luas.

Kini dunia usaha tidak lagi hanya memperhatikan catatan keuangan perusahaan semata (single bottom line), melainkan sudah meliputi aspek keuangan, aspek sosial, dan aspek lingkungan (disebut triple bottom line). Sinergi dari tiga elemen ini merupakan kunci dari konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable

development). Upaya CSR yang berkelanjutan dimaksud untuk

mendorong dunia usaha lebih etis dalam menjalankan aktivitasnya agar tidak berdampak buruk pada masyarakat dan lingkungan hidupnya, sehingga pada akhirnya dunia usaha akan dapat bertahan secara berkelanjutan untuk memperoleh manfaat ekonomi yang menjadi tujuan dibentuknya dunia usaha. Tanggung jawab sosial perusahaan memberikan implikasi positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, meringankan beban pembiayaan pembangunan pemerintah, memperkuat investasi dunia usaha, serta semakin kuatnya jaringan kemitraan antara masyarakat, pemerintah dengan dunia usaha (Wahyudi, Iœ,žž Ÿ  œ

Tanggung j¡¢ab sosial perusahaan merupakan strategi bisnis yang dapat digunakan untuk menjaga kelangsungan hidup suatu perseroan, termasuk perusahaan pembangunan smelter nikel di Pr£ ¤insi Sul¡¢esi Tenggar¡œ ¥alam hal ini, terdapat tiga komponen yang harus diperhatikan oleh perseroan yaitu ¦Widjaja, Gœ, ž ž Ÿ  :

§   Sustainability Ekonomi

yaitu mencari keuntungan. Perusahaan akan dapat menjaga

sustainability sosial dan lingkungan jika perusahaan tersebut

mendapatkan keuntungan. Bisnis perusahaan smelter terkait dengan beberapa hal, antara lain: pasokan bahan baku, pengolahan dan pemurnian hasil tambang, konstribusi terhadap pendapatan negara baik dari pajak maupun PNBP, serta penguatan fiskal pemerintah Pusat dan Daerah.

2) Sustainability Sosial

Berdirinya sebuah perusahaan ditengah masyarakat tentunya akan membawa dampak tertentu pula bagi masyarakat setempat. Sustainability sosial terkait dengan upaya perusahaan dalam mengutamakan nilai-nilai yang tumbuh di masyarakat.

3) Sustainability Lingkungan

Perusahaan seringkali dipandang memiliki andil yang besar dalam terjadinya global warming. Program CSR merupakan investasi bagi perusahaan demi pertumbuhan dan keberlanjutan

(sustainability) perusahaan. Hal ini berarti CSR bukan lagi

dilihat sebagai sentra biaya (cost center) melainkan sebagia sentra laba (profit center) di masa mendatang (Widjaja AªT,

« ¬ ¬­ ® ª

Limbah B3 yang dihasilkan dari proses produksi smelter harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yakni zero waste melalui 3R ¯reuse, recycle, recovery® ª °al yang penting adalah masyarakat sekitar jangan hanya dikasih limbahnya saja, tapi program ±SR dan pengembangan masyarakat smelter harus diberik² ³ª

Pelaks² ³²² ³ ±SR di bidang pertambangan mineral dan batubara di Indonesia diatur dalam beberapa peraturan perundang-undangan, antara lain: ´ ´ µomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, ´´ µomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal, ´ ´ µomor 19 Tahun 2003 tentang

B² ¶ ² ³ ´saha Milik µegara, ¶²³ ´´µomor 40 Tahun 2007 tentang

Perseroan Terbatasª Pengatur²³ ±SR di antara undang-undang yang ada saat ini tidak seragamª

´ ´ µomor 25 Tahun 2007 m· ¸ajibkan seluruh penanam modal melaksanakan program ±SR perusahaan, sedangk² ³ ´ ´ µomor 40 Tahun 2007 hanya m· ¸ajibkan korporasi yang kegiatan usahanya di bi¶² ³¹ ¶² ³ºatau berkaitan dengan sumber daya alam melaksanakan tanggung j²¸ab sosial perus²»² ² ³ª

Pengaturan sumber pembiayaan CSR juga masih belum seragam. Menurut Pasal 88 UU Nomor 19 Tahun 2003, dana CSR diambil dari laba bersih perusahaan yang berarti bukan merupakan biaya bagi perusahaan, sedangkan menurut UU Nomor 40 Tahun 2007 sebagaimana disebutkan dalam Pasal 74 ayat (2), sumber pembiayaan CSR wajib dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya bagi perseroan. Dengan disahkannya UU Nomor 40 Tahun 2007, pelaksanaan CSR oleh perseroan yang sebelumnya merupakan tanggung jawab nonhukum berubah menjadi tanggung jawab hukum (liability).

CSR sebagai tanggung jawab sosial perusahaan harus dimaknai bukan lagi hanya sekedar responsibility karena bersifat

voluntary, tetapi harus dilakukan sebagai mandatory dalam makna

liability karena disertai dengan sanksi. Tanggung jawab sosial

perusahaan dalam konteks penanaman modal harus dimaknai sebagai instrumen untuk mengurangi praktek bisnis yang tidak etis (Sukarmi, 2013). Berkaitan dengan biaya CSR, UU Nomor 36 Tahun 2008, yang merupakan perubahan keempat atas UU Nomor 7 Tahun 1983, telah mengakomodasikannya dalam Pasal 6 ayat (1) huruf i sampai m, yang mengatur jenis-jenis sumbangan sehubungan dengan tanggung jawab sosial perusahaan yang dapat dibiayakan oleh perusahan, yaitu: sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional, penelitian dan pengembangan yang dilakukan di Indonesia, pembangunan infrastruktur sosial, fasilitas pendidikan serta pembinaan olahraga yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. Hal ini berarti semakin banyak biaya terkait CSR yang boleh menjadi pengurang penghasilan bruto yang diatur dalam UU PPh Nomor 36 Tahun 2008.

Pengaturan lebih lanjut biaya CSR diatur melalui PP Nomor 93 Tahun 2010 yang memuat persyaratan yang cukup ketat bagi perusahaan yang memperoleh insentif perpajakan terkait biaya CSR, yaitu: hanya perusahaan/Wajib Pajak yang telah memperoleh keuntungan secara fiskal yang dapat membebankan biaya tanggung j¼ ½ab sosial perusahaan ¾memperoleh insentif pajak penghasil¼ ¿ À Á

Wajib Pajak yang belum memperoleh keuntungan secara fiskal

¾menurut laporan SPT TaÂÿ¼ ¿ À tindak memperoleh insentif PPh atau tidak dapat membebankan biaya-biaya terkait pelaksanaan tanggung j¼½ab sosial perus¼Â¼¼ ¿Á

perusahaan dalam rangka memenuhi kewajiban sebagaimana diatur dalam Pasal 74 UU Nomor 40 Tahun 2007 dapat mempengaruhi kepatuhan Wajib Pajak dalam membayar pajakÄtax complianceÅ dan bahkan dapat mendorong Wajib Pajak untuk melakukan upaya penghindaran pajak Ätax avoidanceÅÆ Adanya kÇ Èajiban bagi perseroan untuk menganggarkan biayÉ ÊSR Ë ÉÌ É ÉÈal tahun berdampak adanya ketidakpastian apakah memperoleh insentif pajak atau tidak, tergantung kinerja perseroan pada akhir tÉÍÎ ÏÆ

Penelitian yang dilakukan Spicer, Song, Ì ÉÏÐarbrough menemukan hubungan yang signifikan antara tax fairness dan tax evasion, dimana ketika pembayar pajak mÇÏÑ ÉÏÑÑÉË Ò ÉÍÈa sistem pajak adalah adil maka tingkat penghindaran pajak Ätax avoidanceÅ akan berkurang, atau dengan kata lain pembayar pajak semakin patuh dalam membayar pajaknyÉÆ

Program ÊÓR berdampak positif bagi masyarakat tergantung kepada orientasi dan kapasitas perusahaan smelter, dan terutama pemerintah ÄPusat dan ÔaerÉÍÅ sebagai pengelola sumber daya alamÆ Õrientasi dan kapasitas perusahaan smelter sangat ditentukan oleh sejauh mana pemahamannya terÍÉ ÌÉË ÊSR sebagai salah satu iÏÖ Ç ×tasi social untuk keberlangsungan bisnisnya, yaitu:

ØÅ Meningkatkan citra perusÉÍÉÉÏÆ

Melakukan kegiatÉÏ ÊSR, konsumen dapat lebih mengenal perusahaan sebagai perusahaan yang selalu melakukan kegiatan yang baik bagi masyarakatÆ

Ù Å Memperkuat citraÄbrandÅ perusÉÍÉÉÏÆ

Melalui kegiatan memberikan product knowledge kepada konsumen dengan cara membagikan produk secara gratis, dapat menimbulkan kesadaran konsumen akan keberadaan produk perusahaan sehingga dapat meningkatkan citra perusÉÍÉ ÉÏÆ

ÚÅ Mengembangkan kerja sama dengan para pemangku kepentiÏÑÉÏÆ

Melaksanakan kegiatÉÏ ÊSR, perusahaan tentunya tidak mampu mengerjakan sendiri, jadi harus dibantu dengan para pemangku kepentingan, seperti pemerintah daerah, masyarakat, dan uniÖ ÇÛsitas lokalÆ Maka perusahaan dapat membuka relasi yang baik dengan para pemangku kepentingan tersebutÆ

4) Membedakan perusahaan dengan pesaingnya.

Jika CSR dilakukan sendiri oleh perusahaan, perusahaan mempunyai kesempatan menonjolkan keunggulan komparatifnya sehingga dapat membedakannya dengan pesaing yang menawarkan produk atau jasa yang sama.

5) Menghasilkan inovasi dan pembelajaran untuk meningkatkan pengaruh perusahaan.

Memilih kegiatan CSR yang sesuai dengan kegiatan utama perusahaan memerlukan kreativitas. Merencanakan CSR secara konsisten dan berkala dapat memicu inovasi dalam perusahaan yang pada akhirnya dapat meningkatkan peran dan posisi perusahaan dalam bisnis global.

Studi Bank Dunia (Lawrence, 2003) menunjukkan peran pemerintah terkait dengan CSR meliputi pengembangan kebijakan yang menyehatkan pasar, keikutsertaan sumber daya, dukungan politik bagi pelaku CSR, menciptakan insentif dan peningkatan kemampuan organisasi. Untuk Indonesia, pelaksanaan CSR membutuhkan dukungan pemerintah daerah, kepastian hukum, dan jaminan ketertiban sosial. Pemerintah dapat mengambil peran penting tanpa harus melakukan regulasi di tengah situasi hukum dan politik saat ini. Di tengah persoalan kemiskinan dan keterbelakangan yang dialami Indonesia, pemerintah harus berperan sebagai koordinator penanganan krisis melalui CSR.

Pemerintah bisa menetapkan bidang-bidang penanganan yang menjadi fokus, dengan masukan pihak yang kompeten. Setelah itu, pemerintah memfasilitasi, mendukung, dan memberi penghargaan pada kalangan bisnis yang mau terlibat dalam upaya besar ini. Pemerintah juga dapat mengawasi proses interaksi antara pelaku bisnis dan kelompok-kelompok lain agar terjadi proses interaksi yang lebih adil dan menghindarkan proses manipulasi atau pengancaman satu pihak terhadap yang lain. Intinya manfaat CSR bagi masyarakat yaitu dapat mengembangkan diri dan usahanya sehingga sasaran untuk mencapai kesejahteraan tercapai.

Dampak pengembangan masyarakat sekitar smelter

ditelusuri berdasarkan perpajakan di atas dapat dikelompokan sebagai berikut:

1) Pelaksanaan CSR tanpa melalui lembaga tidak mendapat insentif Pajak kepada Wajib Pajak

Pelaksanakan program CSR secara langsung dengan menyelenggarakan sendiri kegiatan sosial atau menyerahkan bantuan/sumbangan ke masyarakat tanpa melalui lembaga resmi tidak dapat membebankan biaya yang dikeluarakan (tidak memperoleh insentif pajak). Pasal 2 PP Nomor 93 Tahun 2010 mengatakan bahwa perusahaan yang mengeluarkan biaya CSR agar dapat membebankan biaya yang dikeluarkan harus memenuhi syarat bahwa lembaga yang menerima sumbangan dan/atau biaya memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak, kecuali badan yang dikecualikan sebagai subjek pajak sebagaimana diatur dalam Ü Ü Ýomor 36 Tahun 2008Þ ßari sisi Pajak Pertamàá âá ã Ýilai, korporasi yang melaksanakan tanggung jáäab sosial perusahaan å æSRç dengan memberikan barang kena pajak hasil produk perusahaan secara langsung ataupun melalui lembaga resmi harus membayar PPÝ sebesar 10% dari nilai barang yang diserahkan yang dikategorikan sebagai PPÝ

atas pemakaian sendiri èá ãéatau pemberian cuma-cuma atas Barang Kena Pajak sebagaimana diataur dalam Pasal 1A ayat

å ê ç huruf d ÜÜ Ýomor 42 Tahun 2009 tentang PPÝ dan

PPnBMÞ

ëç Pì ã í íî ãáã èá ãá æSR untuk lingkungan hidup memperoleh

insentif pajakÞ

Perusahaan dalam menerapkáã

æSR yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan proses produksi, yang meliputi pengendalian polusi dalam menjalankan operasi bisnis, pencegahan dan perbaikan kerusakan lingkungan akibat pemrosesan sumber daya alam dan kï ãð ì ñsi sumber daya alamÞ ßilihat dari ketentuan pajak penghasilan sebagaimana diatur dalam Ü Ü Ýomor 36 tahun 2008 pasal 6 ayat åê ç

berbunyi biaya pengolahan limbah merupakan biaya yang dapat dikurangkan sebagai pengurang Penghasilan Kena PajakÞ Üntuk perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan pada Pasal 9 ayatå êç huruf c butir 5 diaturà á âäa pembentukan atau pemupukan dana cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan dapat dikurangkan dari Penghasilan Kena PajakÞ

Terkait dengan Pajak Pertamà á âáã Ýilai, pembelian material yang merupakan Barang Kena Pajak untuk membangun fasilitas pengolahan limbah tetap terutang PPÝ Þßemikian juga atas pembayaran jasa atau imbalan dalam pembangunan fasilitas pengolahan limbah akan terhutang PPh Pasal ëê éPasal 26 atau PasalëòéPasalëóÜ ÜÝomor 36 Tá â îãëôôõÞ

3) Praktek CSR dalam bentuk pemberian hasil produk secara cuma-cuma tidak memperoleh insentif pajak.

Perusahaan yang melakukan promosi dengan membagi-bagikan produknya sebagai sampel di masyarakat, berdasarkan UU Nomor 36 Tahun 2008 biaya yang dikeluarkan tersebut bukan biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto (tidak memperoleh insentif pajak) karena merupakan pemberian kenikmatan atau natura seperti yang diatur dalam Pasal 9 ayat (1) huruf e UU Nomor 36 Tahun 2008. Apabila perusahaan memilih untuk menyerahkan produknya untuk program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) maka perusahan harus membayar PPN sebesar 10% dari nilai produk yang disumbangkan kepada masyarakat.

4) CSR di bidang pendidikan dan kesehatan diberikan insentif pajak.

Perusahaan dapat melaksanakan program tanggung jawab sosialnya ke masyarakat berupa aktivitas di bidang pendidikan dan kesehatan. Dalam bidang pendidikan, yang dapat diberikan oleh perusahaan berupa pemberian beasiswa kepada siswa-siswa berprestasi ataupun siswa-siswa yang tidak mampu, ataupun sumbangan untuk penyediaan sarana dan prasarana sekolah. Di bidang kesehatan, perusahaan biasanya memberikan bantuan penyediaan sarana dan prasarana kesehatan seperti puskesmas, program khitanan massal, imunisasi untuk masyarakat umum dan program lainnya. Apabila program CSR dilaksanakan dalam bentuk pemberian beasiswa, maka berdasarkan Pasal 6 ayat (1) huruf g UU Nomor 36 Tahun 2008 dapat dibiayakan oleh perusahaan pemberi beasiswa. Dari sisi penerima beasiswa, beasiwa tersebut merupakan penghasilan yang tidak termasuk sebagai Obyek Pajak sebagaimana diatur dalam pasal 4 ayat (3) huruf l UU Nomor 38 Tahun 2008.

5) CSR untuk pengembangan regional dan komunitas memperoleh fasilitas pajak dalam mengembangkan wilayah. Perusahaan pertambangan dan perkebunan membangun infrastruktur yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan, isu perpajakan yang dapat ditarik dari permasalahan tersebut adalah pembangunan infrastruktur wilayah itu akan berakibat positif bagi mobilitas perusahaan dan wilayah sekitar. Sehingga

meningkat. Perusahaan dapat mengurangi biaya-biaya yang terjadi karena ketiadaan infrastruktur. Pembangunan infrastruktur tersebut dapat dikurangkan sebagai pengurang dalam penghasilan bruto. Sehingga dalam jangka panjang akan terjadi penurunan biaya produksi yang akan berakibat pada meningkatnya laba perusahaan.

Program pengembangan masyarakat (CSR) merupakan salah satu kebijakan Sektor ESDM mengenai peningkatan nilai tambah komoditas pertambangan, di samping melalui kegiatan pengolahan dan pemurnian dalam negeri, peningkatan muatan lokal (local content), dan penyerapan tenaga kerja dari lokal. Di Sektor ESDM, community development (comdev) adalah bagian dari tanggung jawab korporat (Corporate Social Responsibility, CSR) yang merupakan komitmen bisnis untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan karyawan perusahaan, keluarga karyawan tersebut berikut komunitas setempat (lokal) dan masyarakat secara keseluruhan, dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan.

Keseluruhan peran sektor ESDM memiliki satu muara tujuan, yaitu mengkonversi keunggulan potensi sumber daya alam yang dimiliki oleh Indonesia, berupa potensi energi dan mineral, yang dikenal sebagai comparative advantage yang merupakan keunggulan yang bersifat ösementar÷ø menjadi keunggulan potensi Sumber ùaya Manusi÷ úSùMû yang dikenal sebagai competitive

advantage yang merupakan keunggulan yang bersifatökualitasøü

ýpaya mengkþ ÿ o si comparative advantage menjadi

competitive advantage yang paling potensial adalah melalui

peningkatan kualitas SùM dalam bidang pendidik÷ÿü Pendidikan berdampak besar dalam meningkatkan kualitas SùM yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan úknowledgeû, ketrampilan úabilityû)

dan budi pekerti úattitudeû. Implementasi program CSR secara nyata, yaitu dengan pemberian beasiswa, bantuan sarana dan prasarana pendidikan dan sarana olah raga, pelatihan, bantuan tenaga guru, dan pelatihan bagi guru, pembangunan tempat ibadah, pengadaan air bersih, pemberdayaan pertanian dan peternakan secara moderÿ ü

Pada tahun 2013, realisasi dana comd o d÷ÿ CSR sektor ESùM yang digunakan untuk pengembangan masyarakat dan untuk mendukung kegiatan di masyarakat sebesar Rp1,688 triliun dari target yang telah ditetapkan sebesar Rp2,12 triliun atau 79,77%,

realisasinya mencapai Rp 2.26 triliun. Dana ini berasal dari perusahaan pertambangan umum, perusahaan migas, dan perusahaan listrik (Gambar 4.3).

Sumber: Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah KESDM 2013

Gambar 4.3.

Grafik Penggunaan Dana Comdev Sektor ESDM Tahun 2009-2013

Kewajiban untuk melaksanakan CSR telah diatur dalam Pasal 74 ayat (1) dan (2) UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Sejalan dengan hal tersebut, maka sesuai dengan Pasal 108 dan Pasal 109 UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, pemegang Izin saha Pertamb nn IP dan Izin saha Pertambangan Khusus IPK ajib menyusun program com Program com lakukan dalam rangka mempersiapkan kehidupan pasca tambn life after mining bagi daerah maupun masyarakat sekitarnya serta sebagai in tasi yang memiliki nilai keuntungan jangka panjang, yaitu dengan diperolehnya social license to operate.

Realisasi com katakan berhasil apabila mampu menciptakan kemandirian masyarakat, bukan ketergantungan, sehingga tujuan dan cita-cita konsep pembangunan berkelanjutan benar-benar dapat dicapai dan dapat memberikan kontribusi optimal terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan dan daerah khususn Pembangunan subsektor mineral dan batubara akan

keberlanjutan lingkungan dan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat, tentunya dengan didukung oleh program dan alokasi dana yang tepat sasaran.

Adapun yang menjadi hambatan dan permasalahan tidak terealisasinya target kinerja jumlah anggaran comdev subsektor mineral dan batubara disebabkan oleh tidak stabilnya harga pasar internasional akibat over supply bagi beberapa komoditas mineral dan batubara berdampak pada sebagian perusahaan menghentikan kegiatan operasi produksi, dan hal ini tentunya mengurangi alokasi peruntukan dana comdev. Perusahaan PKP2B yang melaksanakan comdev sebanyak 68 perusahaan, antara lain PT. Berau Coal, PT. Kaltim Prima Coal, PT. Adaro Indonesia, PT. Arutmin, dan PT. Gunung Bayan Pratama Coal. Sedangkan perusahaan KK yang melaksanakan comdev sebanyak 17 perusahaan, antara lain PT.

Freeport Indonesia, PT. e mont usa Tenggara, PT. usa

Hamahera Minerals, PT.ale Indonesia, dan PT. atarang Mining.

Pertumbuhan anggaran come untuk IUP/BUM dalam kurun

aktu lima tahun terakhir sebesar 55%/ta . Pertumbuhan anggaran come untuk PKP2B dalam kur aktu lima tahun terakhir sebesar 18,3% dan pertumbuhan anggaran come untuk KK dalam kur aktu lima tahun terakhir rata-rata mengalami penurunan sebesar -6,8%. amun demikian, ditengah lesunya perekonomian dunia akibat tekanan resesi di beberapa negara tujuan ekspor komoditas mineral dan batubara, anggaran come

untuk keseluruhan KK/PKP2B dan IUP/BUM mencatatkan pertumbuhan yang positif sebesar 1,8%/ta .

Tabel..

Realisasi D a aomeSubsektor Mineral dan Batubara Tahun 2009-2013 N Perusahaan Realisasi (Rp. J a) 2009 2010 2011 2012 2013 1 I P M 8 !560 2 " 8!189 2 # $ !000 3 % %!000 3 $ %!000 2 PKP2B 1 &1 !600 2$!784 28% !907 2 &3 !406 3$!409 3 KK 1!2 23!895 1 !1 1!336 1!12 1 !422 1!2 ##!251 8%!934 Total 1!$ %2!055 1 ! 3 % !309 1!# # !329 1!8# % !657 1 !$#!342 Sumber: Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah KES'M 2013

Realisasi anggaran comdev dilaksanakan oleh perusahaan melalui program-program sebagai berikut:

1) Pemanfaatan Sarana dan Prasarana Perusahaan untuk keperluan

a) Pelatihan pemuda/masyarakat dalam keahlian khusus yang dimiliki oleh perusahaan, seperti; mengelas, bubut, bengkel. b) Pelatihan keterampilan kreatif dengan memanfaatkan

bahan limbah industri, dan penyaluran penjualannya (bekerja sama dengan dinas terkait).

2) Pemberdayaan masyarakat berupa Peningkatan Ekonomi Penduduk sekitar

a) Membentuk kelompok untuk membantu “meningkatkan kualitas, kuantitas dan packaging, serta jaringan menjual” (

* + Memanfaatkan hasil produksi untuk dimanfaatkan sebagai

gift perus, -,, 0(

c+ Melatih tenaga kerja local yang mempersiapkan rehabilitasi lahan pertam*, 04,0(

5+ Pelayanan Masyarakat, berupa Bantuan Bencana Alam dan

6onasi79harity 7 :ilantropi

, + Peningkatan Pendidikan Penduduk Sekitar(

* + Pemberian beasis;a bagi murid sekolah berprestasi( c+ Pemberian bantuan sarana dan prasarana pendidik, 0(

<+ Pengembangan Infrastruktur, berupa Sarana, seperti Sarana

Ibadah, Sarana =mum, Sarana Kesehatan, dan lainny,(

Berdasarkan perkiraan dampak pembangunan smelter

terhadap pengembangan masyarakat sekitar proyek di Pr> ?insi Sul, ;esi Tenggara adalah di antaranya:

@+ Pembukaan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan sehingga bisa meningkatkan taraf hidup bagi masyarakat,

A+ Pembangunan infrastuktur publik dan fasilitas sosial, operasi

smelter akan membangun berbagai fasilitas publik untuk

mendukung operasinya dan dalam akti? vtasnya diharapkan juga membangun fasilitas sosial untuk kar an smelter yang dalam

insteraksi sosialnya tidak tertutup kemungkinan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar proyek,

3) Program Pendidikan, dimana perusahaan terkait memberikan bantuan baik berupa program beasiswa untuk anak-anak sekolah dan gerakan pembasmian buta huruf lainnya,

4) Gerakan penghijauan, dimana usaha pembangunan smelter

nikel ini diharapkan sebagai ujung tombak gerakan pelestarian lingkungan yang berkesinambungan,

5) Pemeliharaan biosatwa untuk mendukung upaya perlindungan satwa-satwa di daerah pusat pendirian pabrik, sehingga ekosistem alam yang tetap terjaga dan lestari,

6) Pemeliharaan amdal lingkungan, sebagai usaha minimalisasi dampak terhadap kerusakaan lingkungan dari aktifitas pabrik sehingga keseimbangan alam tetap terjaga, dan

7) Pemberdayaan masyarakat sekitar, yaitu pemberian latihan-latihan yang bersifat edukatif temasuk bantuan modal bagi warga sekitar sehingga terbentuk masyarakat yang mandiri baik secara ekonomi maupun secara psikologis.

Begitu besar peranan dari dibangunnya smelter nikel di Provinsi Sulawesi Tenggara tentunya harus didasarkan kepada kebijakan Pemerintah serta pro rakyat dan lingkungan sehingga terjadi timbal-balik yang saling menguntungkan; tidak untuk saat ini, namun juga untuk masa yang akan datang. Usaha pendirian smelter

harus terencana sehingga arah pembangunan makin jelas dan berdampak positif bagi masyarakat, lingkungan, dan kultur sosial masyarakat Provinsi Sulawesi Tenggara.

Berikut ini akan dibahas kondisi pembangunan smelter

beberapa perusahaan dan dampaknya terhadap pengembangan masyarakat sekitar proyek.

PT BEnekaTGmIGng (Persero)T IK

Sejak tahun 2010-2014, realisasi produksi feronikel dari Unit Bisnis Pertambangan Nikel (UBPN) di Provinsi Sulawesi Tenggara selalu mencapai target produksi. Pada tahun 2014, realisasi produksi feronikel mencapai 16.851 ton, menurun jika dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai 18.249 ton. Sejak tahun 2011, realisasi ekspor feronikel selalu di atas target yang telah

ditetapkan, tetapi pada tahun 2013 realisasi ekspor feronikel jauh di bawah target yang telah ditetapkan. Hal ini dikarenakan saat itu harga feronikel sedang turun sehingga stock yang ada disimpan. Sampai L MOQ RO Sebruari 2015, realisasi ekspor feronikel telah mencapaiVW155 TXOYiW Sama halnya dengan feronikel, sejak tahun 2011 realisasi produksi bijih nikel Zore[ melebihi target yang telah ditetapkRO \alaupun pada tahun 2014, target produksi bijih nikel tidak tercapaiW Sejak tahun 2010, realisasi ekspor bijih nikel selalu di atas target yang telah ditetapkan, tetapi ada tahun 2013 realisasi ekspor feronikel sedikit di ]R\ah target yang telah ditetapkROW

Masalah-masalah yang dialami PTW Aneka Tam]RO Q ZPerserX [ Tbk adalah masih dibutuhkan pendanaan untuk S ^T, SGA dan Anode