BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Pengertian Anak
2.3.4 Dampak Perceraian Terhadap Anak
Apapun alasannya, tidak ada perceraian yang ideal dialami oleh pasangan suami isteri. Begitu juga dengan harapan anak yang tidak menginginkan adanya perpisahan antara kedua orangtuanya. Jika saja orang tua bersedia mencari penasihat sebelum bercerai, bukannya setelah
bercerai sebagian masalah tentang anak-anak praktis akan tertangani. Anak-anak tidak mempunyai pikiran bahwa orang tuanya akan bercerai, walaupun mereka sering menyaksikan pertengkaran. Mereka akan terkejut, marah, merasa bersalah dan bingung jika diberitahukan
bahwa orang tuanya akan bercerai (Balson, 1999:18).
Perceraian pasti membawa dampak negatif yang dapat mengganggu psikologis pada tumbuh kembang anak. Perceraian tak hanya mengakibatkan penurunan prestasi belajar anak melainkan juga menyebabkan anak mengalami kesulitan beradaptasi terhadap lingkungan yang baru sehingga menimbulkan pemberontakan dalam skala kecil dan besar yang diwujudkan dalam
perilaku anak dalam lingkungan sekolah maupun rumah. Adapun dampak perceraian terhadap anak dilihat dari perspektif Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak : a. Anak akan merasa terbuang dan tidak diperhatikan
Jika Ibu dan Ayah berpisah atau bersiap-siap untuk berpisah, maka biasanya anak akan
disergap rasa takut kehilangan salah satu dari orangtuanya. Anak akan berpikir bahwa ia akan menjadi seorang yang sendiri di dunia ini.
Tak hanya dari orangtuanya tapi juga dari keluarga besar lainnya yang membuat sianak akan merasa kurang diperhatikan dari sebelum kedua orangtuanya berpisah. Sebab dalam pikiran anak akan terbentuk pola pikir yang mengarah bahwa jika kedua orangtuanya bercerai maka ia juga akan kehilangan sebahagian dari keluarga besar lainnya.
c. Merasa bersalah
Banyak anak korban perceraian yang menganggap bahwa salah satu penyebab perceraian orangtuanya adalah karena kesalahannya. Misalnya, karena sianak malas belajar, nakal, dan suka berbohong jadi ayah dan ibu bercerai.
d. Anak akan berubah menjadi tidak kooperatif
Biasanya ditandai dengan kenakalan-kenakalan yang tidak wajar seperti merusak barang, anak menjadi pemberang dan mudah tersinggung. Anak-anak yang menjadi korban perceraian dari orangtuanya, dapat juga menimbulkan anak tidak peduli dengan keadaan
sekelilingnya, karena ia merasa cemburu dengan teman-teman sebaya atau anak-anak yang lainnya yang masih mempunyai keluarga lengkap.
e. Anak terlihat depresi dan selalu menyendiri
Tanda yang paling terlihat dari dampak ini adalah anak jadi sulit makan, sering
membicarakan hal-hal yang menyedihkan bahkan cenderung melakukan hal-hal yang membahayakan dan selalu memikirkan orangtuanya yang bercerai.
f. Pemberontakan terhadap ajaran agama
Pemberontakan disini dimaksudkan bahwa anak akan melakukan perlawanan terhadap
ajaran agama yang ia yakini, sekan-akan Tuhan tidak melindungi keluarganya dari malapetaka tersebut sehingga anak mengalami penurunan terhadap kegiatan kerohaniannya.
Saat ini baik di Indonesia maupun di negara-negara lain sering kita lihat, dengar dan baca dari media elektronik dan media cetak anak-anak yang dianiaya, ditelantarkan bahkan dibunuh hak-haknya oleh orangtuanya sendiri maupun oleh kerasnya kehidupan. Hak asasi mereka seakan-akan tidak ada lagi dan tercabut begitu saja oleh orang-orang yang kurang
bertanggungjawab. Sebagaimana halnya dengan orang dewasa, anak-anak juga memiliki hak. Hak-hak untuk anak-anak ini diakui dalam Konvensi Hak Anak yang dikeluarkan oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1989. Menurut konvensi tersebut, semua anak tanpa membedakan ras, suku bangsa, agama, jenis kelamin, asal-usul keturunan maupun bahasa
memiliki 4 hak dasar yaitu : a. Hak Atas Kelangsungan Hidup
Termasuk di dalamnya adalah hak atas tingkat kehidupan yang layak, dan pelayanan kesehatan. Artinya anak-anak berhak mendapatkan gizi yang baik, tempat tinggal yang layak
dan perawatan kesehatan yang baik bila anak jatuh sakit. b. Hak Untuk Berkembang
Termasuk di dalamnya adalah hak untuk mendapatkan pendidikan, informasi, waktu luang, berkreasi seni dan budaya, juga hak asasi untuk anak-anak cacat, dimana mereka
berhak mendapatkan perlakuan dan pendidikan khusus. c. Hak Partisipasi
Termasuk di dalamnya adalah hak kebebasan menyatakan pendapat, berserikat dan berkumpul serta ikut serta dalam pengambilan keputusan yang menyangkut dirinya. Jadi,
seharusnya orang-orang dewasa khususnya orangtua tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada anak karena bisa jadi pemaksaan kehendak dapat mengakibatkan beban psikologis terhadap diri anak.
d. Hak Perlindungan
Termasuk di dalamnya adalah perlindungan dari segala bentuk eksploitasi, perlakuan kejam dan sewenang-wenang dalam proses peradilan pidana maupun dalam hal lainnya. Contoh eksploitasi yang paling sering kita lihat adalah mempekerjakan anak-anak di bawah
umur.Untuk itu ada baiknya para orangtua, lembaga-lembaga pendidikan maupun lembaga lain yang terkait dengan anak mengevaluasi kembali, apakah semua hak-hak asasi anak telah dipenuhi/terpenuhi.
Dari hak-hak anak tersebut di atas, saat ini sudah banyak anak-anak yang tidak terpenuhi
haknya, dan anak-anak tersebut kehilangan masa-masa yang mana dapat menunjang tumbuh kembang anak.
2.4 Kesejahteraan Anak
Berdasarkan Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dikatakan sejahtera adalah ketika hak-hak dan kewajiban anak terpenuhi. Didalam pasal 13 ayat 1 (satu) dikatakan “Setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain mana pun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapatkan perlindungan dari perlakuan Diskriminasi, Eksploitasi, Penelantaran, Kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan,
Ketidakadilan, dan Perlakuan yang salah”.
Menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak Pasal 9 bahwa “Orangtua adalah yang pertama-tama bertanggungjawab atas terwujudnya kesejahteraan anak baik secara rohani, jasmani, maupun sosial”.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak Pasal 1 ayat 2, ditentukan bahwa “anak adalah seseorang yang belum mencapai 21 tahun dan belum kawin:, junto 1 a “Kesejahteraan Anak adalah suatu tata cara kehidupan dan penghidupan anak
yang dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar, baik secara rohani, jasmani, maupun sosial”.
Prof Dr. Singgih D Gunarsa menyatakan bahwa ”anak membutuhkan orang lain bagi perkembangannya dan orang lain yang paling pertama dan utama bertanggungjawab adalah
oarangtuanya sendiri”, orangtualah yang bertanggung jawab memperkembangkan keseluruhan eksistensi si anak. Pendapat tersebut memperkuat pernyataan tentang hak-hak anak dan ketentuan yang terkandung dalam Undang-Undang Nomor 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak seperti tercantum dalam Bab III megenai tanggung jawab orang tua terhadap kesejahteraan
anak baik secara rohani, jasmani maupun sosial.
Menurut Undang-Uundang Perkawinan sangat jelas hak dan kewajiban orangtua terhadap anak demi kesejahteraan anak. Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan mengenai hak dan kewajiban orangtua terhadap anak antara lain :
1. Tentang usia belum dewasa bagi seorang anak
Setiap anak yang belum dikatakan dewasa berada dibawah kekuasaan orang tuanya selama mereka tidak dicabut dari kekuasaannya. Misalnya anak tersebut ingin melangsungkan perkawinan, maka anak tersebut harus mendapat ijin dari kedua orang tuanya
karena anak yang dibawah umur masih dalam pengawasan orang tua. 2. Kewajiban dan kekuasaan orangtua
Pada Pasal 45 ayat 1 dikatakan bahwa “Kedua orangtua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka dengan sebaik-baiknya”. Menurut Prof.H.R.Sardjono, memelihara disini
berarti member nafkah hidup bagi sang anak, baik berupa sandang maupun pangan. Mendidik artinya member pendidikan kepada anak seperti menyekolahkan anak dengan membiayai sekolah anak (Malik, 2009:78). Pendapat tersebut semakin memperkuatkan
pernyataan pada Undang-Undang Perlindungan Anak pada Bab IV yang mengenai tentang kewajiban dan hak orangtua.
3. Kewajiban anak terhadap orangtua
Kewajiban anak sudah sepantasnya untuk menghormati dan menaati kehendak orangtua
mereka. Segala yang ditaati oleh sianak tidaklah semua kehendak orangtua saja melainkan segala kehendak yang baik.
Undang-Undang Nomor 4 tahun 1979 (dalam Soerjono Soekanto. 1992:127) yang mengatur kesejahteraan anak Pasal 2, menyebutkan hak-hak anak sebagai berikut :
1. Anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan berdasarkan kasih sayang di dalam keluarga maupun di dalam asuhan khusus untuk tumbuh kembang secara wajar. 2. Anak berhak atas pelayanan untuk mengembangkan kemampuan dan kehidupan sosialnya
sesuai dengan kebudayaan dan kepribadian bangsa untuk menjadi warga negara yang baik
dan berguna.
3. Anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan baik semasa dalam kandungan maupun sesudah dilahirkan.
4. Anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau
menghambat pertumbuhan dan perkembangannya secara wajar.
2.5 KPAID-SU (Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah Sumatera Utara)
Beberapa tahun terakhir ini, tindak kekerasan, pemaksaan, eksploitasi bahkan
perdagangan anak semakin banyak terjadi. Tindakan tersebut dilakukan oleh perorangan atau kelompok sindikat dengan berbagai modus operandi seperti tindak pidana penjualan bayi/ balita,
penculikan anak, perkosaan/ sodomi anak, tenaga kerja anak dan sebagainya. Praktek penjualan bayi sering dilakukan dengan dalih adopsi.
Kondisi ekonomi keluarga yang miskin, tidak harmonis, pengangguran ikut pula menyebabkan terjadinya kekerasan terhadap anak dalam keluarga. Harapan orangtua yang terlalu
tinggi dalam mendidik anak serta tanpa melihat potensi tumbuh kembang anak, minat dan bakat dan keinginan anak dapat dikategorikan sebagai kekerasan terhadap anak. Di sisi lain perlindungan terhadap anak semakin bervariasi dan beragam bentuk dan tempatnya, mulai dari lingkungan rumah tangga, yayasan/ panti asuhan, pondok pesantren, lembaga swdaya
masyarakat (LSM), yayasan pemerintah dan sebagainya.
Berdasarkan pengalaman tidak diketahuinya kasus-kasus tersebut di tengah-tengah masyarakat, karena tidak tersedianya sarana dan informasi yang mudah di akses kemana mereka memberikan pengaduan atau rujukan atas kasus yang dialami. Pada sisi lain tidak semua aparat
penegak hukum (Kepolisian, kejaksaan, hakim, pengacara/ advokat) mengerti tentang ketentuan-ketentuan yang ada di dalam Undang-undang Perlindungan Anak. Ada ketentuan-ketentuan hukum tersebut yang belum dilakukan sinkronisasi dan hormonisasi oleh masyarakat karena apabila masyarakat mengadukan permasalahan kekerasan terhadap anak kepada pihak kepolisian dapat
menimbulkan citra buruk dalam keluarga.
Sesuai dengan amanat Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak bahwa setiap daerah baik provinsi maupun kabupaten/ kota dapat membentuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID). Pembentukan KPAID bukan merupakan
kewajiban atau keharusan tetapi merupakan kebutuhan daerah masing-masing. Karena itu, KPAID-SU merupakan refleksi dari kedudukan KPAI seperti tercantum pada pasal 9 ayat (1) Keppres No. 77 tahun 2003 tentang KPAI berbunyi ” Apabila dipandang perlu dalam menunjang
pelaksanaan tugasnya Komisi Perlindungan Anak dapat membentuk perwakilan di daerah”. Kata perwakilan dalam rumusan tersebut merupakan perwakilan lembaga pusat di daerah, demi kepentingan terbaik bagi anak, sesuai dan semangat UU No. 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah. Hubungan kerja KPAI dan KPAID-SU bukan bersifat hirarkis tetapi bersifat koordinatif
fungsional. Dengan demikian sifat independensi KPAID-SU tetap terjamin sejalan dengan visi, misi dan strategi KPAI.
Sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Gubernur Provinsi Sumatera Utara No.463/026.K/2006, maka dibentuklah Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah Sumatera
Utara (KPAID-SU) yang terletak di Kantor Gubernur Sumatera Utara Jl. Dipnegoro No. 30 Medan Sumatera Utara.
KPAID-SU bersifat independen yang dibentuk untuk mendorong dan memfasilitasi dan mengawasi penyelenggaraan perlindungan hak-hak anak baik hak hidup, hak sipil, hak tumbuh
kembang, hak berpartisipasi sesuai dengan keinginan, minat, bakat dan kebutuhannya. Pemenuhan hak-hak tersebut dilakukan dengan tujuan ”demi kepentingan terbaik bagi anak” sebagai generasi penerus sekaligus pemilik dan pengelola masa depan bangsa dan negara.
Adapun dasar hukum yang menguatkan lembaga Negara ini, yakni UUD 1945 dan Pasal
28, dan adapun dasar hukum lainnya yang seperti :
a. Undang-undang RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
b. KEPRES No. 39 tahun 1990 tentang Ratifikasi Konvensi Hak-hak Anak tahun 1989 c. KEPRES No. 77 tahun 2003 tentang Perlindungan Anak Indonesia
d. SK. Gubernur Sumatera Utara No. 463/026.K/2006 tanggal 23 Januari 2006 tentang Pembentukan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah Provinsi Sumatera Utara
e. SK. Gubernur Sumatera Utara No. 463/1682/K/Tahun 2009 tanggal 19 Mei 2009 tentang Komisi Perlindungan Anak Indonesia.
Adapun strategi yang di ciptakan dalam dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah Provinsi Sumatera Utara (KPAID-SU) yaitu :
a. Pengarusutamaan anak (child measntreamling) dalam perumusan dan pelaksanaan pembangunan b. Pemberdayaan masyarakat (community empowerment) dalam upaya mendorong partisipasi
masyarakat bagi pelaksanaan perlindungan anak
c. Pengembangan jejaring kerjasama dengan berbagai pihak dalam upaya perlindungan anak
d. Membangun kesadaran anak akan hak-haknya
e. Pengkajian, penyempurnaan, penyerasian produk hukum dan penegak supermasi hukum dalam rangka perlindungan anak
Fungsi dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah Provinsi Sumatera Utara
(KPAID-SU) itu sendiri adalah sebagai berikut : a) Fungsi Sosialisasi dan Pembangunan
b) Fungsi Riset dan Kajian
c) Fungsi Monitoring dan Evaluasi
d) Fungsi Supervisi
e) Fungsi Penyelia Data dan Informasi
Tugas utama daripada Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah Provinsi Sumatera Utara (KPAID-SU) itu sendiri adalah sebagai berikut :
a) Melakukan Sosialisasi dan Advokasi tentang Peraturan Perundang-undangan yang berkaitan tentang anak
b) Melakukan Pengkajian peraturan Perundang-undangan, Kebijakan Pemerintah dan kondisi pendukung lainnya baik di bidang sosial, ekonomi dan budaya
c) Menyampaikan dan member masukan, saran dan pertimbangan kepada berbagai pihak terutama Gubernur, DPRD, Instansi Pemerintah terkait di tingkat Provinsi dan
Kabupaten/Kota
d) Mengumpulkan data dan informasi tentang masalah perlindungan anak
e) Melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan perlindungan anak di Provinsi Sumatera Utara
f) Memberikan laporan, saran, masukan atau pertimbangan kepada Gubernur Provinsi Sumatera Utara dalam rangka penyelenggaraan perlindungan anak di Provinsi Sumatera Utara.