• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KAWIN HAMIL DI LUAR NIKAH

C. Dampak Perkawinan Hamil di Luar Nikah

Perbuatan hamil di luar nikah dengan lain jenis kelamin, mempunyai dampak sama dengan zina yang mana sangat buruk bagi pelakunya dan bagi masyarakat banyak. Di antaranya adalah:

1. Terhadap pelaku wanita.

Pelaku wanita akan cenderung lebih mudah melakukan perbuatan buruk/kejahatan berikutnya dari pada melakukan perbuatan baik/kembali pada perbuatan baik, dan mereka juga cenderung untuk mengulangi perbuatannya. Secara sosial, wanita itu akan mendapatkan sanksi dari masyarakat berupa pandangan minor terhadap dirinya dan akan mendapat kesulitan untuk menikah dengan pria yang masih suci karena ada larangan dari hukum Islam.8

7

Nina Surtiretna, Bimbingan Seks Pandangan Islam dan Medis, (Bandung: PT. Remaja

Rosdakarya, 1996), Cet. Ke-1, h. 214.

8

Yahya Abdurahman al-Khatib. Hukum-Hukum Wanita Hamil. (Ibadah, Perdata dan Pidana). (Bangil : Al-Izzah, 2003) Ke-1. H.81)

43

2. Terhadap pelaku pria.

Dia akan lebih mudah terdorong untuk melakukan kejahatan berikutnya, perilaku zina butuh biaya terutama bagi kaum pria untuk mendapatkan wanita yang punya motif ekonomi dan karena itu pria cenderung akan menggunakan/berdaya upaya menggunakan peluang/ atau kesempatan mendapatkan harta melalui cara yang haram. Pada pandangan lain, para pezina akan mendapatkan sanksi pidana atau minimal sanksi akhirat. Perbuatan zina juga berdampak pada keluarga pria yang sudah berkeluarga akan mudah retak rumah tangganya.9

3. Terhadap keluarga besar si pelaku.

Perbuatan zina akan menimbulkan duka cita yang amat dalam bagi anggota keluarga besaroya. Rasa malu yang amat dalam bagi anggota besarnya terutama orang tua pelaku wanita terhadap masyarakat yang mengetahui dan mencemoohkannya.Rasa penyesalan bagi orang tua yang bertanggung jawab mendidik anak perempuannya, pupusnya harapan orang tua pelaku wanita untuk mendapatkan anak menantu yang masih suci karena adanya larangan dari agama Islam.10

4. Terhadap masyarakat luas dan agama.

Perbuatan zina memiliki dampak terhadap masyarakat luas dan agama sendiri, zina juga di nilai menyebabkan rusaknya keturunan dan kehormatan wanita dan keluarga dalam masyarakat yang menjadi salah

9

Slamet Abidin dan H. Aminuddin. Fiqh Munakahat, (Bandung : CV Pustaka Setia, 1999) Cet Ke-1.Jilid I.h.36

10

Tim Redaksi Fokus Media, Komplikasi Hukum Islam, (Bandung : Fokus Media, 2005)h.7

satu tujuan syariat Islam.Zina juga bakal mempertinggi jumlah aborsi dalam masyarakat, itu berarti pelaku zina tidak menghargai lagi nyawa anak manusia yang juga menjadi salah satu tujuan Syariat Islam.Perbuatan itu juga merendahkan akal sehat manusia di bawah nafsu syahwat sehingga merusak tujuan Syariat Islam di bidang pemeliharaan akal sehat manusia.11

11

Mahd-Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan, Hukum Kewarisan, Hukum Acara Peradilan Agama dan Zakat menurut Hukum Islam, (Jakarta : PT. Aidakarya Agung, 1981) Cet Ke-1.h.22

45 BAB IV

PANDANGAN HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF TENT YANG PERKAWINAN WANITA HAMIL DILUAR NIKAH

A. Status Hukum Kawin Hamil Menurut Fiqh dan Kompilasi Hukum Islam 1. Kawin Hamil Menurut Fiqh

Islam menghendaki agar komunitas muslim bersih dari penyakit – penyakit masyarakat yang sangat merusak seperti zina. Oleh karena itu, Islam berusaha menghilangkan tempat-tempat tumbuhnya kerusakan dan menutup celah-celah yang menuju kepada kerusakan. Selanjutnya Islam mensyariatkan berbagai al-hudud (sanksi pidana) untuk mencegah semuanya. Setelah Islam membimbing individu-individu muslim agar selalu mengingat Allah, baik ketika sendirian maupun ketika bersama orang lain.

Sesungguhnya Islam telah mengharamkan zina dan hal-hal yang membangkitkannya, seperti pergaulan yang diharamkan dan pertemuan tertutup (khahvat) yang berdampak pada tindakan negatif.1

Untuk itu, ada banyak ayat Al-Qur’an yang mendidik dan membimbing masyarakat muslim kepada nilai-nilai yang luhur, di antaranya adalah firman Allah SWT:

1

Yahya Abdurrahman al-Khathib, Hukum-hukum Wanita Hamil, (Ibadah, Perdata dan

































/رونلا)

:

(

Artinya: Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah

mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya

Allah Maha mengetahui apayang mereka perbuat”.





























/رونلا) ... : (

Artinya: Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka

menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.

Ayat itu memerintahkan agar memelihara furuj (kehormatan) dari korban syahwat yang tidak halal, menjaga hati dari berpikir hal-hal yang tidak halal, dan menjaga komunitas masyarakat dari mengikuti keinginan syahwat dan kesenangannya dengan tanpa batas.2

Dalam kitab-kitab fiqih ada dibicarakan tentang boleh, tidaknya seseorang nikah dalarn keadaan hamil, apakah hamil yang sah karena ditinggal suami, atau hamil akibat hubungan di luar nikah. Bila hamil di

2

Yahya Abdurrahman al-Khathib, Hukum-hukum Wanita Hamil, (Ibadah, Perdata dan

47

luar nikah, maka akan terbilang dalam persoalan zina. Hal ini juga diperselisihkan menikahi pezina.

Zina menurut bahasa berasal dari kata yang

artinya berzina, berbuat zina.3 Sedangkan menurut istilah adalah :

a. Perbuatan bersegama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikatoleh hubungan pernikahan (perkawinan).

b. Perbuatan bersegama seorang wanita yang terikat perkawinan denganseorang laki-laki yang bukan suaminya.4

Zina menurut Jurjani ialah :

Artinya : “Memasukkan penis (zakar) ke dalam vagina (farj) bukan miliknya (bukan istrinya) dan tidak ada unsur syubhat

(kesurupan atau kekeliruan).”

Dari defnisi di atas dapat dipahami, bahwa suatu perbuatan dapat dikatakan zina, apabila sudah memenuhi dua unsur, yaitu :

a. Ada persetubuhan antara dua orang yang berbeda jenis kelaminya; b. Tidak ada kesurupan atau kekeliruan (syubhat) dalam perbuatan

seks.6

3

H. M. Yonus, Qomus ‘Arobiyyun – Indunisiyyun, (Jakarta: PT. Hidayakarya Agung,

1989), Cet. Ke-8,h. 158.

4

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai

Pustaka, 1988), Cet. Ke-I, h. 1018.

5

M. Ali Hasan, Masail Fiqhiyah al-Haditsa, (Jakarta: PT. Raja Grafrndo Persada, 2000),

Tentang hukum menikahi wanita pezina para ahli fiqh berbeda pendapat menjadi tiga pendapat yaitu:

a. Sesungguhnya tidak ada kewajiban iddah bagi wanita pezina (artinya wanita yang telah berzina boleh langsung dinikahi tanpa iddah), baik ia hamil atau tidak. dari perzinaan itu, baik ia memiliki suami atau tidak memiliki suami, sehingga seketika itu juga suaminya boleh mencampurinya, dan boleh mengawini bagi laki-laki yang telah menzinainya atau orang lain menikahinya seketika itu juga, baik ia hamil atau tidak. Namun, jika ia hamil (dari berzina itu dan memiliki suami), maka suaminya dimakruhkan mencampurinya sampai ia melahirkan. (ini adalah madzhab Syafi’i).7

b. Apabila wanita yang dizinahi itu tidak hamil, maka sah (boleh) menikahinya, baik dengan laki-laki yang tidak menzinainya atau dengan laki-laki yang menzinainya. Dan bagi wanita tersebut tidak perlu iddah. Semua itu telah menjadi kesepakatan (madzhab Hanafi). Sehingga, apabila laki-laki yang menzinai itu sendiri yang menikahinya, maka halal mencampurinya menurut kesepakatan madzhab Hanafi. Sedangkan anaknya, apabila wanita itu melahirkan setelah masa enam bulan dari pernikahannya, maka anak tersebut dinasabkan kepadanya. Namun, apabila masa melahirkannya kurang dari masa itu, maka anak tersebut tidak dinasabkan kepadanya, sehingga anak tersebut tidak bisa menerima warisan dari suami

6

Yahya Abdurrahman al-Khathib, Hukum-hukum Wanita Hamil, (Ibadah, Perdata dan

Pidana), h. 40

7

49

ibunya, kecuali kalau suami itu berkata: “anak ini dari saya, bukan dari zina.” Adapun ketika wanita yang dizinai itu hamil, maka boleh menikahinya menurut Abu Hanifah dan Muhammad An-Nakhai, tetapi suami tidak boleh mencampurinya sampai melahirkan. Sedangkan Abu Yusuf dan Zufar dari madzhab Hanafi berpendapat jika wanita yang dizinai itu hamil, maka tidak boleh langsung menikahinya.8

c. Wanita pezina itu tidak boleh langsung dinikahi ia wajib beriddah

beberapa quru’ jika dengan berzina itu ia tidak hamil, dan dengan melahirkan jika ia hamil apabila ia mempunyai suami, maka suami haram, mencampurinya sampai iddahnya habis dengan beberapa

quru' atau melahirkan. Ini adalah pendapat Rabi’ah. At-Tsauri, al-Auza’i dan Ishaq, dan ia juga merupakan madzhab Maliki dan Hambali. Menurut madzhab Maliki, (rahim) wanita itu menjadi bersih (istibrd) dengan tiga kali haid atau dengan berlalunya tiga bulan. Sedang menurut Imam Ahmad (rahim) wanita itu menjadi bersih dengan tiga kali haid. Ibnu Qudamah berpendapat, bahwa untuk menjadikan rahim wanita itu bersih cukup dengan sekali haid saja. Pendapat ini didukung dan dibela dengan sungguh-sungguh oleh Ibnu Taimiyah. Madzhab Hambali mensyaratkan syarat lain

8

untuk halalnya menikahi wanita pezina, yaitu harus bertaubat dari perbuatan zina.9

Secara umum, kita dapat berkata bahwa pernikahan yang disebutkan di atas dinilai sah oleh banyak ulama, walau memang ada ulama yang menyatakan bahwa peniikahan itu tidak sah. Sahabat Nabi SAW Ibnu Abbas ra. Berpendapat bahwa hubungan dua jenis kelamin yang tidak didahului oleh pernikahan yang sah, lalu dilaksanakan sesudahnya pernikahan yang sah, menjadikan hubungan tersebut awalnya haram dan akhirnya halal. Dengan kata lain, pernikahan orang yang telah berzina dengan seorang perempuan, kemudian menikahinya dengan sah, dapat diserupakan dengan atau dianalogikan dengan keadaan seorang yang mencuri buah dari kebun seseorang, kemudian dia membeli dengan sah kebun tersebut bersama seluruh buahnya. Apa yang dicurinya (sebelum pembelian itu) haram. Sedangkan yang dibelinya setelah pencuriannya itu adalah halal. Inilah pendapat Imam Syafi’i dan Abu Hanifah. Sedangkan, Imam Malik menilai bahwa siapa yang berzina dengan seseorang kemudian dia menikahinya, pernikahan terebut tidaklah sah dan dengan demikian hubungan seks keduanya adalah haram, sepanjang janin masih dikandung oleh perempuan yang dinikahinya itu. Pernikahan baru sah bila akad nikad dilakukan setelah kelahiran anak.10

9

Ali Mustafa Yaqub, Fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal, (Jakarta: PT. Pustaka Firdaus,

2007), Cet. Pertama, h. 260-263, dan Syaikh Muhammad bin Ibrahim Abu Asy-Syaikh dkk,

Fatwa-fatwa Tentang Wanita, Penerjemah Amir Hamzah Fakhrudin, (Jakarta: Darul Haq, 2001), Jilid 2, h. 140-141.

10

M. Quraish Shihab, Perempuan: dari Cinta Sampai Seks dari Nikah Mut'’ah Sampai

51

Dalam masalah kawin hamil terdapat perselisihan pendapat para ulama sebagai berikut:

a. Menurut Pendapat Mazhab Syafi’i

Artinya: “Diperbolehkan berakad nikah dengan wanita pezina walaupun wanita itu dalam keadaan hamil, bahwasannya tidak ada larangan hanya karena kandungan ini”

Alasan yang dimaksudkan dari pengertian bahasa, bahwa nikah artinya akad nikah, sehingga orang-orang hamil tanpa akad nikah terlebih dahulu, tidak dapat disamakan dengan orang-orang yang hamil karena hubungan suami isteri, namun mereka tetap berstatus sesuai dengan keadaan sebelum mereka melakukan perzinaan. Kalau gadis maka tetap berstatus gadis, meskipun sudah tidak perawan lagi atau sudah hamil, bila mereka sebelumnya hidup sebagai janda, maka tetap pula sebagai janda.

Menurut madzhab Syafi’i bahwa wanita hamil sebab zina boleh melakukan perkawinan dengan laki-laki lain,12 beliau beralasan dengan firman Allah SWT :

11

Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, (Kuwait: Darul Bayan, 1969), Jilid Ke-7, h. 228.

12

Zainuddin Ali, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta : Sinar Grafika, 2006), Cet 1, h.45

Artinya : “... Dan dihalalkan oleh Allah bagimu selain wanita yangdemikian itu (yaitu) mencari istri-istri dengan

harta-hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina ...”.

Berdasarkan ayat di atas wanita pezina itu tidak termasuk ke dalam golongan perempuan yang haram dinikahi, sebab itu ia boleh dinikahi, begitu juga firman Allah SWT :



































رونلا) : (

Artinya : “Dan kawinkanlah orcmg-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” Ayat ini juga menunjukkan bahwa wanita pezina yang hamil termasuk golongan wanita yang tidak bersuami.

b. Menurut Madzhab Hanafi

13

53

Artinya : “Sah hukumnya berakad nikah dengan pezina yang sedang hamil, akan tetapi tidak boleh dicampurinya sehingga ia melahirkan.

Jadi wanita hamil boleh dinikahi oleh siapa pun, baik yang menikahinya itu laki-laki yang menghamilinya maupun laki-laki yang bukan menghamilinya, beliau beralasan sama dengan madzhab Syafi’i, namun ada syarat yang beliau kemukakan, yaitu seandainya yang mengawini wanita hamil itu laki-laki yang bukan menghamilinya, maka boleh menikah namun tidak boleh mencampuri wanita itu sebelum ia melahirkan.

c. Menurut Madzbab Hambali

Perempuan pezina, baik ia hamil atau tidak, tidak boleh dikawini oleh laki-laki yang mengetahui keadaannya itu, kecuali dengan dua syarat :

1). Telah habis masa iddahnya, uga kali haid. Namun jika ia hamil, maka iddahnya habis dengan melahirkan anaknya, dan belum boleh mengawininya sebelum habis masa iddahnya itu.

2). Telah taubat wanita itu dari perbuatan maksiatnya, dan jika ia belum bertaubat, maka tidak boleh mengawininya.14

Apabila telah sempurna kedua syarat itu, yaitu telah habis masa iddahnya dan telah bertaubat dari dosanya, maka halal

14

mengawini wanita itu bagi laki-laki yang menzinainya atau laki-laki lain.

d. Menurut Madzhab Maliki

Artinya : “Tidak boleh melaksanakan akad nikah (dengan wanita

pezina yang hamil) sehingga ia bersalin (melahirkan).” Menurut madzhab Maliki wanita hamil. karena zina itu tidak boleh dinikahi oleh siapa pun, baik laki-laki yang menzinainya, maupun oleh laki-laki yang lain. Golongan ini beralasan dengan keumuman ayat atau firman Allah SWT:

Artinya : “Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan

kandungannya.”

Dari ayat di atas nampak bahwa wanita yang hamil baik karena hamil zina, atau karena hamil yang bukan zina, maka tidak boleh mengawini wanita tersebut sampai ia melahirkan.

Dari segi lain kita melihat, bahwa seorang isteri hamil yang dicerai oleh suaminya (fasakh), atau ditinggal mati oleh suaminya, si wanita itu tidak boleh kawin sebelum melahirkan. Sesudah

15

55

melahirkan dan sesudah menjalani nifas baru diperbolehkan untuk kawin.

Selanjutnya mengenai pria yang kawin dengan wanita yang dihamii oleh orang lain, terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama antara lain, yaitu:

1). Imam Abu Yusuf mengatakan, keduanya tidak boleh dikawinkan, sebab, bila dikawinkan perkawinannya itu batal (fasid).16

Pendapat beliau ini berdasarkan pada firman Allah SWT :

































رونلا) : (

Artinya: “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.” (An-Nurr 24:3).

Ibnu Qudamah sejalan pendapatnya dengan pendapat Imam Abu Yusuf dan menambahkan, bahwa seorang pria tidak boleh mengawini wanita yang diketahuinya telah berbuat zina dengan orang lain, kecuali dengan dua syarat:

a). Wanita tersebut telah melahirkan, bila dia hamil, jadi dalam keadaan hamil tidak boleh kawin.

16

H. Abdurrahman Ghazaly, Fiqh Munakahat, (Jakarta: Kencana, 2006), Get. Ke-2, h. 125,

dan M. AH Hasan, Pedoman Hidup Berumah Tangga Dalam Islam, (Jakarta; Siraja, 2003), h.

b). Wanita tersebut telah menjalani hukuman dera (cambuk), apakah diahamil atau tidak.17

2). Imam Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani mengatakan, bahwa perkawinannya itu sah, tetapi haram baginya bercampur, selama bayi yang dikandungnya belum lahir. Pendapat ini berdasarkan hadits:

Artinya : “Dari Abi Sa’id al-Khudri, sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda di medan perang Authus:

“Janganlah engkau campuri wanita yang hamil,

sehingga lahir (kandungannya).” (HR. Abu Daud)

3). Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i berpendapat, bahwa perkawinan itu di anggap sah, karena tidak terkait dengan perkawinan orang lain (tidak ada masa iddah). Wanita itu boleh juga dicampuri, karena tidak mungkin nasab (keturunan) bayi yang dikandung itu ternodai oleh sperma suaminya. Sedang bayi tersebut bukan keturunan orang yang mengawini ibunya itu (anak di luar nikah).

17

Ibrahim Husen, Fiqh Perbandingan Masalah Pernikahan, h.129.

18

Ibnu Hajar al-Asqalany, Bulughul Maram, (Semarang: Usaha Bersama, 1956), h. 246.

57

2. Kawin Hamil Menurut Kompilasi Hukum Islam

Menikahi wanita hamil karena zina bukanlah masalah baru hal ini pernah terjadi pada masa Rasulullah, oleh karena itu penulis ingin meneliti kembali sejauh mana relevansi baik menurut hukum Islam, Undang-undang No,l tahun 1974 maupun KHI (Kompilasi Hukum Islam).

Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) telah mengatur masalah perkawinan wanita hamil karena zina yang terdapat dalam bab VIII pasal 53 yang berbunyi :

a). Seorang wanita hamil di luar nikah dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya

b). Perkawinan yang wanita tersebut pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunngu lebih dahulu kelahiran anaknya

c). Dengan diiangsungkannya perkainan pada saat wanita itu hanmil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandungnya lahir.19

Penegasan KHI ini sesuai dengan pendapat yang diutarakan oleh As-Shabuni dalam kitabnya Ar-Rawa'i al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam min Al-Qur’an bahwa, ada dua pendapat tentang menikahkan orang yang telah berzina, yaitu:

a. Pendapat yang mengharamkan untuk menikahkan orang yang telah berzina, hal ini telah dikutip dari riwayat Sayyidina Ali, al-Barra’, A’isyah dan Ibnu Mas’ud. Mereka menyandarkan pendapat para dhahir dari Firman Allah SWT. Surat An-Nuur ayat 3, dijelaskan

19

bahwa “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan wanita yang berzina, atau wanita yang musyrik” begitu dengan sebaliknya.20 Mereka berpendapat bahwa surat An-Nuur di atas memberitahukan suatu pemahaman menikahi mereka yang telah berzina, dan lebih tegasnya dapat dilihat di akhir ayat yang berbunyi “Dan hal demikian diharamkan bagi orang-orang mukmin.” Sayyidina Ali sungguh pernah berkata bahwa apabila seorang laki-laki berzina maka ia dipisahkan dengan isterinya, dan begitu pula sebaliknya.21 b. Pendapat yang membolehkan untuk menikah mereka yang telah

berzina yaitu diambil dari pendapat Abu Bakar, Umar dan Ibnu Abbas, dan ini adalah pendapat jumhur ulama yang mereka menyandarkan pendapatnya kepada beberapa salah satu yang sanad terakhirnya dari Siti Aisyah bahwa Rasulullah SAW, ditanya tentang seorang laki-laki yang berzina dengan perempuan dan hendak menikahinya beliau bersabda : “Permulaannya adalah zina akhirnya adalah nikah, dan sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal (nikah).”22

Sementara itu Kompilasi Hukum Islam yang secara khusus dalam Babnya mengatur perkawinan wanita hamil, yaitu bab VIII Pasal 53 ayat (1), (2) dan (3), di dalamnya ditetapkan bahwa “wanita hamil diluar

20

Ash-Shabuni, Rawa’i al-Bayaan Tafsir Ayat Al-Ahkam min Al-Qur’an, (Jakarta: Daar

al-Kutub al-Islamiyah, 2001), h.33.

21

Ash-Shabuni, Rawa;i al-Bayaan Tafsir Ayat al-Ahkam min al-Qur’an, h.33.

22

59

nikah dapat dinikahi dengan laki-laki yang menghamilinya, tanpa harus menunggu kelahiran anak yang ada dalam kandungannya terlebih dahulu, dan perkawinan saat hamil tidak diperlukan lagi perkawinan ulang setelah anak yang dikandungnya lahir.

Dengan demikian perkawinan wanita hamil di luar nikah ditetapkan oleh KHI, bahwa wanita hamil di luar nikah dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya, dan dapat ditafsirkan pula kata “dapat” bahwa wanita hamil di luar nikah dapat dikawinkan dengan laki – laki lain yang tidak menghamilinya.

Berarti perkawinan wanita hamil di luar nikah boleh dilkukan baik dengan pria yang menghamilinya atau pun pria lain yang tidak menghamilinya yang ingin bertanggung jawab terhadap wanita tersebut, karena bisa jadi kehamiilan itu bukan atas dasar perbuatan zina melainkan pekosaan terhadapnya yang dilakukan oleh laki-laki yang tidak jelas keberadaanya.

Oleh sebab itu, wanita hamil di luar nikah boleh dinikahkan dengan pria mana pun yang mau bertanggung jawab, karena apabila wanita hamil tidak dapat dinikahkan dengan pria lain yang tidak menghamilinya sedangkan pria yang menghamilinya tidak bertanggung jawab, dan tidak dilaksanakannya pernikahan dalam batas – batas tertentu akan menimbulkan dampak psikologis bagi keluarga wanita tersebut.

B. Status Hukum Kawin Hamil Menurut Undang-Undang Nomor. 1 Tahun 1974

Pada massa kolonial, penguasa Hindia Belanda berkepentinagn untuk mengukuhkan pengaruh dan kekuasaanya atas warga jajahan dengan cara mengatur mereka melalui serangkaian produk Undang-undang termasuk di dalamnya adalah hukum perkawinan yang merupakan bentuk produk Hukum Perdata dengan istilah Burgerlijk Wetboek (BW).

Undang-undang perkawinan pada masa itu di mulai pada tahun 1937 yaitu, dengan diedarkannya Ordinansi (peraturan) tentang pencatatan perkawinan, hingga kemudian Undang-undang tersebut dikodifikasikan dan mulai disusunnya Undang-undang perkawinan pada tahun 1974 yang dipengaruhi model cipil marriage dan menghilangkan ketentuan rumusan undang-undang terdahulu pada zaman colonial yang lebih membatasi ruang gerak perempuan yang akhirnya terbentuklah Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 yang diresmikan oleh presiden Soeharto pada tanggal 2 juni 1974.

Dalam BW maupun kodifikasi undang-undang tersebut, yakni Undang-undang Nomor. 1 tahun 1974 tidak mengatur secara rinci mengenai perkawinan wanita hamil, garis besar undang-undang tersebut, hanya mengatur mengenai:

1. Perkawinan

2. Hak dan kewajiban suami isteri

3. Harta bersama menurut undang-undang dan pengurusan 4. Perjanjian kawin

61

5. Gabungan harta bersama/perjanjian kawin pada perkawinan kedua dan selanjutnya

6. Pemisah harta dan benda 7. Pembubaran perkawinan

Dokumen terkait