VII. ANALISIS SIMULASI KEBIJAKAN
7.5. Dampak Perubahan Harga Beras Dunia dan Kebijakan
Pemerintah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Setiap kebijakan yang dilakukan diarahkan untuk memaksimumkan kesejahteraan konsumen maupun produsen. Kesejahteraan dapat digambarkan melalui surplus konsumen, surplus produsen, dan penerimaan pemerintah. Tabel 33 menunjukkan dampak perubahan harga beras dunia, kebijakan domestik, dan kombinasinya terhadap indikator kesejahteraan.
Pada tingkat integrasi pasar sangat lemah, peningkatan harga beras dunia 26 persen dapat ditransmisikan terhadap peningkatan harga domestik, baik harga ditingkat konsumen (pengecer) maupun ditingkat petani. Hal tersebut menyebabkan kosumen beras mengurangi permintaan beras, sedangkan produsen meningkatkan produksi padi. Oleh sebab itu, berdasarkan Tabel 33, dapat ditunjukkan bahwa peningkatan harga dunia 26 persen (simulasi 1) merugikan konsumen terlihat dari perubahan nilai surplus konsumen yang negatif, dimana
kesejahteraan konsumen menurun sebesar Rp 26.250 milyar. Akan tetapi, produsen mengalami keuntungan dengan semakin meningkatnya harga dunia. Peningkatan harga dunia sebesar 26 persen meningkatkan kesejahteraan produsen, terlihat dari perubahan surplus produsen yang positif, yakni Rp 16.930 milyar. Pemerintah masih memperoleh penerimaan yang lebih tinggi, yakni meningkat Rp 3.780 milyar. Hal tersebut karena persentase peningkatan harga impor beras, sebagai akibat dari peningkatan harga dunia, meningkat lebih tinggi dibandingkan dengan respon penurunan jumlah beras yang diimpor. Akan tetapi secara nasional peningkatan harga dunia menurunkan kesejahteraan masyarakat, dapat dilihat dari net surplus yang negatif (Rp 5.550 milyar). Peningkatan kesejahteraan produsen bersih dan pemerintah karena peningkatan harga dunia tidak dapat menutupi kerugian konsumen bersih.
Peningkatan harga dunia dengan besaran perubahan yang sama yakni 26 persen pada kondisi harga beras dunia ditransmisikan dengan derajat yang lebih kuat terhadap harga beras domestik (simulasi 2), berdampak lebih besar dibandingkan dengan dampak peningkatan harga dunia pada kondisi integrasi pasar terintegrasi lemah. Kondisi tersebut terlihat pada perubahan surplus konsumen yang lebih besar dimana surplus konsumen berkurang sebesar Rp 340.590 milyar dan surplus produsen meningkat Rp 203.198 milyar. Hal tersebut karena presentase peningkatan produksi padi pada simulasi 2 lebih tinggi dari simulasi 1, begitu juga permintaan beras yang menurun lebih tinggi. Berbeda dengan simulasi 1 penerimaan pemerintah berkurang sebesar Rp 14.360 milyar karena pada kondisi transmisi harga dunia yang lebih kuat, perubahan harga dunia dapat ditransmisikan lebih besar terhadap harga domestik dan respon pengurangan
jumlah beras yang diimpor juga lebih besar. Sehingga dapat dikemukakan bahwa semakin tinggi derajat transmisi harga atau semakin tinggi integrasi pasar maka perubahan kesejahteraan masyarakat semakin tinggi dengan semakin tingginya fluktuasi harga atau dengan kata lain pasar domestik akan semakin tergantung dengan pasar dunia. Tingginya dampak harga dunia tersebut terlihat dari perubahan net surplus yang lebih besar pada simulasi 2 yakni transmisi harga dengan derajat yang lebih kuat dibandingkan dengan simulasi 1, dimana besarnya net surplus masing-masing simulai 1 dan simulasi 2 berturut turut adalah berkurang sebesar Rp 5.550 milyar dan Rp 151. 755 milyar.
Berdasarkan Tabel 33 menunjukkan bahwa alternatif kebijakan peningkatan harga pembelian pemerintah (HPP) 14 persen (simulasi 3) merupakan alternatif kebijakan yang bias terhadap produsen. Peningkatan HPP meningkatkan surplus produsen sebesar Rp 4 331.126 milyar. Kenaikan surplus produsen ini terjadi karena kenaikan HPP meningkatkan harga gabah di tingkat petani dan
produksi padi. Akan tetapi, surplus konsumen mengalami penurunan sebesar Rp 4 720.400 milyar karena peningkatan HPP menyebabkan harga eceran yang
lebih tinggi dan permintaan yang lebih rendah. Penerimaan pemerintah juga menurun sebesar Rp 3.473 milyar karena peningkatan HPP menyebabkan jumlah impor beras Indonesia dan harga impor beras menurun. Kebijakan peningkatan HPP 14 persen tidak efisien karena kerugian yang diterima konsumen, termasuk net consumer beras, lebih tinggi dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh produsen, terlihat dari net surplus yang negatif yakni sebesar Rp 392.745 milyar.
Tabel 33. Hasil Simulasi Harga Beras Dunia, Kebijakan Domestik dan Simulasi Kombinasi terhadap Indikator Kesejahteraan
Indikator Kesejahteraan Satuan Perubahan Indikator Kesejahteraan
1 2 3 4 5 6 7 8
Surplus konsumen beras Rp Milyar -26.250 -340.590 -4 720.400 -19.690 892.057 -4 651.066 45.940 885.501 Surplus produsen beras Rp Milyar 16.930 203.198 4 331.126 11.284 -530.265 4 291.564 -28.209 -530.265 Penerimaan pemerintah Rp Milyar 3.780 -14.363 -3.473 8.816 -114.068 -11.703 -0.397 -114.068 Net surplus Rp Milyar -5.550 -151.755 -392.745 0.410 247.724 -371.204 17.335 241.168
Keterangan:
Simulasi 1 = peningkatan harga beras dunia 26 persen pada pasar terintegtasi lemah Simulasi 2 = peningkatan harga beras dunia 26 persen pada pasar terintegtasi lebih kuat Simulasi 3 = Peningkatan HPP 14 persen
Simulasi 4 = Peningkatan Persentase Tarif Impor 10 persen Simulasi 5 = Penetapan Kuota Impor Beras 1.57 juta ton
Simulasi 6 = Penurunan Harga Beras Dunia dan Peningkatan HPP 14 persen
Simulasi 7 = Penurunan Harga Beras Dunia dan Peningkatan Persentase Tarif Impor 10 persen Simulasi 8 = Peningkatan Harga Beras Dunia 26 persen dan Penetapan Kuota 1.57 juta ton
Kebijakan peningkatan persentase tarif impor 10 persen (simulasi 4) juga bias terhadap produsen beras. Surplus produsen meningkat Rp 11.284 milyar karena kenaikan harga gabah ditingkat petani. Kenaikan harga gabah ditingkat petani tersebut disebabkan oleh adanya transmisi dari harga beras eceran yang meningkat karena penurunan jumlah impor beras (sebagai salah satu komponen penawaran beras domestik). Akan tetapi, dari sisi konsumen mengalami penurunan kesejahteraan, surplus konsumen menurun Rp 19.690 milyar karena peningkatan tarif impor meningkatkan harga eceran beras dan menurunkan permintaan beras Indonesia. Peningkatan persentase tarif impor mampu meningkatkan pendapatan pemerintah, yakni sebesar Rp 8.816 milyar. Kebijakan peningkatan persentase tarif impor masih efisien karena net surplus masih bernilai positif, kerugian konsumen masih dapat tertutupi oleh surplus produsen dan tambahan penerimaan pemerintah.
Tujuan kebijakan penetapan kuota impor (simulasi 5) adalah untuk meningkatkan ketersediaan beras domestik bagi ketahanan pangan. Berdasarkan Tabel 33, dapat dilihat bahwa kebijakan penetapan kuota impor 1.57 juta ton memang mampu meningkatkan kesejahteraan konsumen, terlihat dari peningkatan surplus konsumen sebesar Rp 892.057 milyar. Hal tersebut karena penetapan kuota 1.57 juta ton menyebabkan harga eceran beras turun dan daya beli masyarakat terhadap beras meningkat. Namun dari sisi produsen, produsen mengalami penurunan kesejahteraan. Hal tersebut terlihat dari penurunan suplus produsen sebesar Rp 530.265 milyar karena penetapan kuota impor yang dilakukan pada saat surplus, menyebabkan harga gabah ditingkat petani menurun dan insentif untuk meningkatkan produksi padi juga berkurang. Dari sisi
pemerintah, penetapan kuota juga mengurangi penerimaan pemerintah dari tarif. Hal tersebut dapat dilihat dari perubahan negatif pada penerimaan pemerintah yakni Rp 247.724 milyar. Secara nasional penetapan kuota impor 1.57 juta ton masih efisien karena pengurangan surplus produsen dan penerimaan pemerintah dapat tertutupi oleh peningkatan kesejahteraan konsumen.
Berdasarkan Tabel 33 (simulasi 6) terlihat bahwa peningkatan HPP 14 persen efektif untuk melindungi produsen (petani) dari penurunan harga beras dunia 26 persen. Hal tersebut terlihat dari perubahan surplus produsen yang positif yakni Rp 4291.56 milyar. Akan tetapi, kesejahteraan konsumen menurun sebesar Rp 4 651.07 milyar, karena peningkatan HPP yang meningkatkan harga gabah di tingkat petani ditransmisikan terhadap peningkatan harga beras eceran dan permintaan beras yang menurun. Dalam kondisi ini terjadi distribusi pendapatan dari konsumen ke produsen. Penerimaan pemerintah berkurang karena peningkatan HPP menyebabkan semakin tingginya insentif petani untuk berproduksi padi. Hal tersebut menyebabkan produksi padi meningkat dan jumlah beras yang diimpor juga berkurang. Secara nasional, kebijakan peningkatan HPP 14 persen ketika harga dunia menurun, menurunkan kesejahteraan nasional terlihat dari net surplus yang negatif yakni sebesar Rp 371.20 milyar.
Simulasi penurunan harga beras dunia 26 persen dan peningkatan tarif impor beras 10 persen (simulasi 7) menurunkan kesejahteraan produsen sebesar Rp 28.209 milyar, sedangkan konsumen mengalami peningkatan surplus sebesar Rp 45.940 milyar dan penerimaan pemerintah berkurang Rp 0.397 milyar karena berkurangnya jumlah impor yang merupakan implikasi dari peningkatan tarif
impor. Secara nasional kebijakan peningkatan tarif ini masih dapat dikatakan efisien terlihat dari net surplus positif sebesar Rp 17.335 milyar.
Kebijakan penetapan kuota impor beras 1.57 juta ton dapat melindungi konsumen dari tingginya harga beras dunia. Hal tersebut terlihat dari simulasi 8 yaitu simulasi peningkatan harga beras dunia 26 persen dan penetapan kuota impor 1.57 juta ton meningkatkan surplus konsumen sebesar Rp 885.501 milyar. Tingginya harga dunia tidak mengurangi jumlah beras yang diimpor, jumlah beras impor meningkat karena pemerintah menetapkan kuota impor yang lebih tinggi yakni sebesar 1.57 juta ton. Tingginya jumlah impor beras Indonesia meningkatkan penawaran beras domestik sehingga harga eceran beras menurun dan konsumen beras mampu mengkonsumsi beras dengan jumlah yang lebih banyak. Namun tingginya harga beras dunia tidak dapat menjadi insentif bagi produsen beras dalam berproduksi. Produsen mengalami penurunan kesejahteraan, terlihat dari suplus produsen yang menurun sebesar Rp 530.365 milyar. Hal tersebut karena rendahnya harga beras eceran ditransmisikan terhadap harga gabah ditingkat petani sehingga harga menjadi lebih rendah dan menjadi disinsentif bagi produsen untuk melakukan produksi padi. Hal tersebut terlihat dari menurunnya jumlah produksi padi dan beras Indonesia.
Dari sisi penerimaan pemerintah, pemerintah menurun sebesar Rp 114.068 milyar karena tidak ada lagi pendapatan pemerintah dari tarif. Namun secara nasional, penetapan kuota impor 1.57 juta ton mampu melindungi kondisi perbesaran nasional ketika harga beras dunia meningkat, net surplus meningkat Rp 241.186 milyar. Gambaran peningkatan harga dunia 26 persen dengan
penetapan kuota impor beras 1.57 juta ton terhadap perubahan indikator kesejahteraan ekonomi pada periode 2006-2008 dapat dilihat pada Tabel 33.
Secara umum dapat terlihat pada Tabel 33 bahwa kebijakan yang bias konsumen beras cenderung juga menguntungkan secara nasional dan efisien artinya kerugian produsen dan atau pemerintah mampu tertutupi oleh kelebihan surplus konsumen misalnya pada skenario simulasi 4 (peningkatan tarif impor 10 persen), simulasi 5 (penetapan kuota 1.57 juta ton) dan simulasi 7 dan 8 yaitu kombinasi perubahan harga dunia dengan kebijakan peningkatan tarif impor dan kuota impor beras. Kebijakan pemerintah yang bias produsen seperti kebijakan peningkatan HPP cenderung menurunkan kesejahteraan nasional. Tingginya keuntungan yang diperoleh produsen karena insentif harga yang lebih tinggi tidak mampu menutupi kerugian konsumen karena merosotnya daya beli terhadap komoditas beras. Hal tersebut mengindikasikan besarnya jumlah konsumen beras Indonesia, bahkan sebagian besar produsen beras Indonesia juga merupakan konsumen beras (net consumer) sehingga tingginya harga beras baik sebagai akibat peningkatan HPP atau dampak eksternal (peningkatan harga dunia) mengurangi kesejahteraan konsumen dan produsen yang juga merupakan net consumer, sebaliknya jika harga beras rendah karena kebijakan tarif impor dan kuota, tidak hanya konsumen yang diuntungkan tetapi juga produsen beras yang merupakan net consumer.