• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERGESERAN KONFLIK DARI ANTAR PARTAI MENJADI KONFLIK INTERNAL PARTAI DI DAPIL I KABUPATEN TAPANULI UTARA

3.2 Pergeseran Konflik

3.2.1 Dampak Perubahan Sistem Pemilu

Sistem pemilu di Indonesia sebagaimana yang diatur dalam

undang-undang pemilu menerapkan sistem proporsional.38Sistem proporsional ini sangat

mempengaruhi fungsi perwakilan (representatif functional) di lembaga legislatif,

dimana untuk mendapatkan wakil-wakil di parlemen maka suatu daerah pemilihan harus diwakili oleh beberapa orang yang dipilih oleh rakyat melalui pemilihan umum. Bentuk perwakilan yang ditawarkan oleh sistem proporsional pun harus       

mempertimbangkan kapasitas, kuantitas, luas wilayah dan kemajemukan di tengah masyarakat. Legitimasi dari jumlah suara hasil pemilu melalui sistem proporsional ini kemudian menjadi pertanggungjawaban setiap wakil terpilih kepada konstituen di daerah pemilihannya masing-masing.

Sistem pemilu yang digunakan untuk pemilu 2014 memang tidak jauh berbeda dengan sistem pemilu yang digunakan pada tahun 2009 yaitu masih menggunakan sistem proporsional terbuka. Hal ini merupakan perubahan dari sistem pemilu yang dilaksanakan pada pemilu tahun 2004.Pemilu Legislatif 2004 yang lalu dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang No 12 Tahun 2003 Tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Dalam Undang-Undang tersebut menentukan 2 cara penetapan calon legislatif terpilih, yaitu berdasarkan angka Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) dimana calon yang memperoleh suara melebihi atau sama dengan BPP terlebih dahulu ditetapkan sebagai calon terpilih, dan berdasarkan nomor urut dari daftar calon yang diajukan Parpol peserta Pemilu di daerah pemilihan masing-masing.

Berdasarkan Undang-Undang tersebut, mekanisme penetapan calon terpilih anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota sebagaimana tertulis dalam Pasal 107 ayat 2b menyatakan bahwa Penetapan nama calon yang tidak mencapai angka BPP, penetapan calon terpilih ditetapkan berdasarkan nomor urut pada daftar calon di daerah pemilihan yang bersangkutan. Hal

iniberarti bahwa calon dengan nomor urut kecil lebih memiliki peluang untuk duduk dalam lembaga legislatif dibanding calon dengan nomor urut besar, meskipun calon dengan nomor urut kecil mendapatkan suara yang lebih sedikit dari pada calon dengan nomor urut besar.

Secara umum Sistem pemilu yang digunakan pada pemilu 2004 adalah adalah sistem proporsional terbuka setengah. Sistem proporsional terbuka setengah dapat diartikan sebagai sistem pemilu proporsional dengan daftar calon terbuka dan secara bebas dipilih oleh rakyat, akan tetapi dalam hal penetapan caleg terpilih didasarkan pada nomor urut terkecil (bagi yang tidak mencapai angka BPP). Dengan kata lain meskipun nomor urut besar memiliki suara yang lebih banyak dari nomor urut kecil akan tetapi suaranya akan tetap di berikan kepada nomor urut yang lebih kecil.

Dikatakan setengah karena dalam hal ini partai masih memegang peranan penting dalam menentukan nomor urut. Partai sebagai kendaraan politik memiliki standart tertentu dalam proses rekrutmen para calon legislatif. Namun idealnya dalam proses rekrutmen caleg, sebuah partai seharusnya wajib mempertimbangkan kualitas, sumber daya serta akuntabilitas seseorang yang ingin mencalonkan diri. Akan tetapi dengan sistem pemilu proporsional terbuka setengah, pertimbangan-pertimbangan tersebut bisa jadi terabaikan. Kendala utama dalam hal ini adalah karena mekanisme penentuan caleg terpilih didasarkan atas nomor urut terkecil .

Hal ini menjadi sorotan publik tentang kualitas anggota legislatif.Kinerja para anggota legislatif yang notabene adalah mandataris dari rakyat diragukan legalitasnya.Mekanisme penetapan calon legislatif terpilih berdasarkan nomorurut sebagaimana yang dilaksanakan pada pemilu 2004 yang lalu, menuai kontroversi karena dianggap kurang demokratis.

Pada pemilu 2009, Mahkamah Konstitusi menetapkan bahwa penetuan calon terpilih di dasarkan pada suara terbanyak, yaitu apabila jumlah suara yang diperoleh tidak memenuhi BPP maka seanjutnya di tentukan berdasarkan suara terbanyak.MK menilai kedaulatan rakyat dan keadilan akan terganggu. Jika ada dua caleg yang mendapatkan suara yang jauh berbeda ekstrem, terpaksa caleg yang mendapatkan suara terbanyak dikalahkan caleg yang mendapatkan suara kecil, tetapi nomor urut lebih kecil. MK juga menyatakan, memberi hak kepada caleg terpilih sesuai nomor urut sama artinya dengan memasung suara rakyat untuk memilih caleg sesuai pilihannya dan mengabaikan tingkat legitimasi caleg terpilih berdasarkan suara terbanyak.

Dengan keputusan tersebut, maka sistem pemilu yang digunakan pada pemilu 2009 adalah sistem proporsional terbuka terbatas. Dikatakan terbatas karena yang berhak mendapatkan kursi adalah partai-partai yang mendapatkan suara mencapai angka BPP atau mendekati angka BPP melalui akumulasi suara yang didapatkan oleh para caleg dari partai tersebut di suatu daerah

pemilihan,kemudian wakil rakyat akan ditentukan berdasarkan perolehan suara terbanyak pada daftar caleg partai yang mendapatkan kursi tersebut.

Sistem pemilu ini sedikit lebih demokratis dibandingkan dengan sistem pemilu pada tahun 2004.Para caleg tidak perlu berebut nomor urut melainkan terdorong meraih dukungan semaksimal mungkin. Dengan cara ini kompetisi antar caleg menjadi lebih terbuka. Bagi pemilih, selain memilih partai mereka bebas memilih caleg yang lebih disukainya.Suara pemilih jadi lebih berarti karena caleg terpilih ditentukan berdasarkan perolehan suara terbanyak.

Pemilu Legislatif 2014 menjadi pertarungan terbuka yang sengit baik itu antar partai-partai politik maupun secara internal partai politik bagi calon legislatif yang telah masuk dalam daftar calon tetap di KPU. Hal ini disebabkan karena perubahan sistem pemilihan yang sebelumnya berdasarkan nomor urut menjadi mekanisme suara terbanyak sesuai dengan hasil keputusan Mahkamah Konstitusi No. 22-24/PUU-VI/2008 menganulir pasal 214 UU No. 10/2008 tentang penetapan calon terpilih ditentukan oleh batasminimal perolehan suara 30% Bilangan Pembagi Pemilih (BPP), jika batasminimal tersebut tidak tercapai maka penentuan calon terpilih selanjutnyaberdasarkan nomor urut.

Ketentuan klausul pasal tersebut memang masih memposisikannomor urut sebagai faktor dominan.Keuntungan besar diperoleh calonlegislatif (caleg) dengan nomor urut atas. Meski caleg lain dengan nomorurut bawah sudah bekerja keras, jika mereka tidak mencapai perolehansuara minimal 30% BPP, maka secara

otomatis nomor urut diatasnya yangakan memperoleh limpahan suara dan kursi. Pengalaman dalam praktekpemilu sebelumnya, sangat sulit bagi seorang caleg untuk meraih batassuara tersebut.Sehingga pada posisi ini, aspek keseimbangan, keadilan danketerbukaan demokrasi telah terpasung oleh sistem nomor urut.

Dominasi nomor urut pada pasal 214 sebelum dianulir oleh MK,sesungguhnya tak berbeda jauh dengan sistem proporsional terbuka pada Pemilu 2004 lalu.Hanya aspek 30% BPP saja yangmenjadi warna baru.Meski demikian, secara politis, yang diutamakanadalah nomor urut.Sebab perolehan angka 30% BPP bagi caleg di internalparpol merupakan faktor yang sedemikian sulit setelah perolehan kursiparpol sebesar 50% BPP.Di satu sisi, banyaknya parpol kontestan pemilu dan melimpahnyacaleg di masing-masing parpol kian membingungkan masyarakat pemilih.Preverensi pemilih yang diprediksi akan terpecah-belah oleh kehadiranparpol baru, akan diperparah oleh prediksi besarnya kesalahan memilihkarena kesulitan membedakan kertas suara untuk anggota DPR RI danDPRD.Di sisi lain, rendahnyaaspirasi rakyat pemilih terhadap parpol dan calegnya. Sehingga pendulang suara yang awalnya diharapkan dapat mengangkat perolehan suara parpol dan caleg kini kian menipis.

Perubahan sistem pemilihan tersebut menuai pro dan kontra dari kalangan partai itu sendiri maupun dari pihak lain. Sistem suara terbanyak mengundang banyaknya pendapat baik dari sisi positif maupun negatif.Dari sisi positif, sistem tersebut dianggap lebih meneguhkan kedaulatan hak demokratis agar rakyat

memilih calon langsung yang dikehendaki untuk dapat mewakilinya dirinya dan tidak mengandalkan elitis. Kemudian dari sisi negatif, sistem tersebut mengakibatkan peran partai menurun dan juga merusak proses kaderisasi partai karena dinilai tidak adanya kualifikasi caleg berdasarkan kredibilitas calon tersebut.

Menanggapi hal sistem pemilu yang dilaksanakan pada pemilu legislatif 2014, Maruli Panjaitan, S.Pd yang merupakan calon dari partai PDIP nomor urut 7 memberi komentar:

“..nomor urut bukan prioritas, sekarang suara terbanyaklah yang menetukan. Siapa yang mempunyai suara paling banyak maka dialah yang menjadi pemenang. Sistemnya seperti itu, jadi tidak ada alasan lagi bahwa nomor urut menjadi faktor utama dalam penentuan siapa pemenang.”39

Memang dalam penentuan calon terpilih di dasarkan pada suara terbanyak, hal ini lebih demokratis karena rakyat dapat memilih sendiri siapa calon yang dianggap dapat mewakilinya di bandingkan dari sistem nomor urut, namun dalam persaingan yang lebih terbuka tersebut akan sangat rawan terjadinya konflik sesama calon dari partai karena calon akan lebih mengutamakan popularitasnya dan melakukan segala cara untuk dapat menang dalam pemilu.

Pemilu 2014 mengundang maraknya konflik, jika pada pemilu sebelumnya konflik terjadi antar partai politik untuk memperebutkan suara, namun saat ini

      

39

Wawancara peneliti dengan informan (calon legislatif partai PDIP Dapil I) pada hari rabu 03 April 2014, pukul 10.20

telah meluas dan bergeser ke dalam konflik internal partai politik.Kondisi ini disebabkan oleh pertarungan dan perebutan suara antar calon legislatif dalam satu partai.Sebab mekanisme penetapan calon terpilih ditentukan oleh jumlah suara terbanyak yang diperoleh oleh masing-masing calon legislatif tanpa melihat nomor urut yang biasanya mencerminkan kapabilitas dan kapasitas kader parpol.

Dalam hal ini, pertarungan antar calon legislatif dalam sebuah partai politik menjadi lebih kompetitif dan berusaha untuk mendulang suara sebanyak-banyaknya.Calon dengan nomor urut kecil yang mempunyai kualitas, integritas dan mutu belum tentu bisa menang dalam pemilu legislatif, namun calon dengan nomor urut besar yang mempunyai popularitas dapat menang apabila mempunyai suara lebih banyak saat pemilu. Karena peluang setiap calon legislatif untuk menang adalah sama sehingga kondisi seperti ini sangat rentan terjadinya konflik, bukan lagi antar partai politik melainkan telah bergeser menjadi konflik antar sesama calon legislatif dalam satu partai.

Dilihat dari perspektif konflik, pemilu legislatif 2014 merupakan sebuah suasana dan arena konflik kepentingan yang ingin berebut kekuasaan.Masing-masing individu yang bertarung dalam pesta demokrasi itu berusaha untuk menyingkirkan lawan-lawannya tak terkecuali sesama partai. Banyak kasus yang terekam oleh media bahwa masing-masing calon legislatif beserta massa pendukungnya dalam satu partai saling ejek. Ini mengindikasikan adanya konflik di internal partai itu.Mekanisme pemilihan langsung ini telah menggeser konflik pada ranah internal.Hasilnya adalah adanya perpecahan partai politik.

Melihat konstelasi demikian, konflik semakin diperparah dengan perebutan massa masing-masing calon legislatif tidak hanya antar partai, tetapi juga internal partai. Sebagai contoh dari hasil pengamatan penulis, di beberapa daerah di Kecamatan Tarutung terjadi ketegangan antara calon legislatif yang sedang berkampanye dengan calon legislatif lain dari partai yang sama. Maraknya

Money Politik yang dilakukan secara tumpang tindih kepada masyarakat untuk mendapatkan suara mengidentifikasi bahwa pertarungan dilakukan dengan segala cara untuk meraup massa sebanyak-banyaknya.Konflik juga biasanya terjadi antara caleg yang benar-benar dari kader partai dengan caleg dari non partai yang hanya menggunakan partai sebagai batu loncatan untuk memperoleh kekuasaan.

Terkait rentannya konflik dalam internal partai politik, hal tersebut menjadi fenomena yang timbul dalam dalam pertarungan antar calon pada pemilu legislatif di Dapil I bahkan di Dapil lainnya di Kabupaten Tapanuli Utara. Menanggapi hal tersebut, Josua Lumbantobing salah seorang calon anggota legislatif dari Partai Golkar memberikan tanggapan demikian:

“…Pergantian sistem pemilihan yang didasarkan pada suara terbanyak membuat persaingan antar calon semakin sengit bahkan sesama calon internal sekalipun. Karena peluang menang adalah sama, tidak didasarkan pada nomor urut lagi. Namun yang menjadi perhatian adalah timbulnya gesekan-gesekan yang akan menimbulkan benturan antar calon yang disebabkan para calon akan berusaha menggunakan segala cara untuk bisa menang bahkan para calon akan saling menjatuhkan.”40

      

40 Wawancara peneliti dengan informan (calon legislatif partai golkar Dapil I) pada hari Jumat 04 April 2014, pukul 09.30

Dalam hal ini setiap calon legislatif menganggap peluang yang sama untuk dapat menang dalam pemilihan yang membuat pertarungan dan kompetisi antarcaleg dalam satu partai juga akan jauh lebih sengit dibanding sebelumnya.

Perubahan aturan main berimplikasi diantaranya adalah fenomena munculnya kompetisi para caleg baik itu dalam partai yang sama. Dampak dari perubahan sistem tersebut juga berdampak pada besarnya biaya kampanye yang dikeluarkan, bukan parpol peserta pemilu yang mengeluarkan biaya tersebut melainkan puluhan calon dari setiap partai yang berkompetisi di satu dapil. Hal ini mengindikasi bahwa para calon rela mengeluarkan biaya yang

sebanyak-banyaknya dalam hal proses kampanye dan bahkan jual beli suara (money politik)

antara calon dengan masyarakat sering terjadi. Selain itu, penetapan calon terpilih yang didasarkan pada suara terbanyak cenderung menghasilkan kualitas calon yang kurang berkompeten karena menganggap dirinya terpilih bukan karena partai melainkan karena popularitas atau usahanya sendiri.

Dengan banyaknya caleg dan terbatasnya kursi, maka dampaknya masyarakat jadi resah dan bingung karena tarik-menarik antarcaleg, bahkan bisa bertengkar antarcaleg dari partai politik yang sama sehingga menimbulkan konflik. Artinya jika dalam satu dapil memiliki jumlah kursi yang banyak untuk diperebutkan maka peluang terjadinya politik uang di dapil tersebut semakin besar karena jual beli suara akan sangat besar terjadi.

Perubahan sistem pemilu yang didasarkan pada suara terbanyak pada pemilu legislatif 2014 lalu banyak mengundang konflik di antaranya persaingan para calon dalam satu partai seperti yang diamati oleh penulis di dapil I

Kabupaten Tapanuli Utara. Maraknya moneypolitikyang dilakukan para calon

mengindikasi bahwa para calon akan berusaha melakukan segala cara dan lebih mengandalkan figure dalam mensosialisasikan dirinya kepada konstituen dalam upaya mendulang suara sebanyak-banyaknya.

Sistem pemilihan umum proporsional dengan tata cara penetapan calon terpilih berdasarkan urutan suara terbanyak menimbulkan berbagai bentuk penyimpangan, baik berupa pelanggaran undang-undang maupun penyimpangan terhadap sistem proporsional. Hal ini terjadi karena sistem ini diterapkan dalam masyarakat yang partai politiknya dirasuki pragmatisme dan para pemilihnya tidak percaya kepada janji politisi, dalam proses pencalonan yang dilakukan partai politik, partai cenderung lebih memilih calon yang mempunyai popularitas yang dapat mendongkrak suara partai dan elektabilitas partai saja, selain itu maraknya politik uang yang di lakukan para calon untuk jual beli suara.

Pergeseran konflik menjadi konflik internal partai disebabkan adanya perubahan atas sistem pemilihan dari sistem proporsional tertutup menjadi proporsional terbuka, dengan penentuan calon terilih dari nomor urut menjadi suara terbanyak.Kondisi tersebut membuat persaingan antar calon semakin bebas dan terbuka dan disinyalir semakin maraknya politik uang, biaya kampanye yang

tinggi dan menjadikan kader partai yang tidak memiliki ideologi dan tidak peduli terhadap visi dan misi partai karena lebih mengutamakan kepentingan untuk menang dalam pemilu. Hal tersebut akan memicu konflik antara calon dalam satu partai.

Dilihat dari pemilu-pemilu sebelumnya, banyak kalangan menilai bahwa pemilu legislatif 2014 merupakan paling buruk karena banyaknya kecurangan-kecurangan yang menimbulkan konflik antar caleg dan juga praktek politik uang yang dilakukan oleh para caleg semakin marak. Menurut Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini, berpendapat bahwa di dunia ini tak ada sistem yang terbaik, yang ada adalah sistem yang cocok bagi sebuah negara itu.Dikatakan bangsa ini belum siap dengan sistem terbuka sebab kaderisasi partai tidak berjalan baik dan perekrutan caleg

secara instan.Akhirnya saat pemilu terjadi kanibalisme antarinternal partai.41

Sehingga dapat ditarik kesimpulan sederhana, bahwa sistem pemilu proporsional terbuka dengan mekanisme suara terbayak menimbulkan lebih banyak konflik daripada sistem nomor urut walaupun kedua sistem tersebut mempunyai sisi positif dan negatif.Namun, pengalaman membuktikan sistem proporsional tertutup jauh lebih baik, jauh lebih demokratis.Ini bukan hanya karena pertimbangan pragmatis, tapi juga idealisme, yakni nilai-nilai demokrasi yang hendak dicapai.Sistem nomor urut memperkuat kepartaian, memperkuat kaderisasi, mencegah korupsi dan kolusi yang lebih masif yang langsung       

merugikan rakyat, dan membuat demokrasi lebih berkualitas.Yang paling penting bagi rakyat adalah dalam penyusunan nomor urut caleg, faktor kapabilitas dan integritas caleg benar-benar menjadi pertimbangan utama.

Dokumen terkait