• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Terhadap Religius Siswa di SMAN 9 Malang Kota

B. Hasil Penelitian

3. Dampak Terhadap Religius Siswa di SMAN 9 Malang Kota

Berdasarkan fakta dan pendapat masyarakat tentang, maraknya tindak kejahatan dan hilangnya etika dalam pergaulan sehari-hari disebabkan karena adanya penurunan kualitas sikap dan moral yang dimiliki anak-anak. Yang kemudian menjadikan pendidikan dituntut untuk terus membenahi sistem, pergantian kurikulum pun menjadi sesuatu yang tidak bisa di hindarkan guna memperbaiki kualitas pendidikan. Kemudian hadirlah Kurikulum 2013 sebagai jawaban dari pemerintah sebagai bentuk membenahi pendidikan di Indonesia. Kurikulum ini berusaha untuk menjawab keresahan bersama yakni pendidikan haruslah mampu membentuk karakter siswa melalui pendidikan karakter yang terintegrasi dalam dalam setiap aktivitas pembelajaran. Kurikulum 2013 mulai diterapkan di berbagai sekolah dalam satuan tingkatan pendidikan tidak terkecuali di SMAN 9 Malang.

Dalam penerapan Kurikulum 2013, pihak sekolah mengembangkan pendidikan yang berlandaskan pada agama. Segala bentuk aktivitas peserta didik di sekolah selalu dikaitkan dengan ajaran agama. Karena dengan keyakinan agama yang mendalamlah dapat menjadikan peserta didikselau merasa diawasi, dan menjaga diri dari hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan. Proses penerapan pendidikan berbasis agama yang

dilakukan secara terus menerus inilah yang kemudian dapat disebut sebagai budaya religius.

Budaya religius yang ada di sekolah merupakan semangat, sikap dan pola perilaku serta kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan warga sekolah secara konsisten.Pengembangan pendidikan agama adalah bentuk upaya agar ajaran agama tidak hanya mengetahui tentang ajaran dan nilai agama ataupun bisa mempraktekan apa yang diketahui setalah diajarkan oleh sekolah, tetapi tujuan utama dari pengembangan pendidikan agama melalui budaya religius ini adalah menjalani hidup atas dasar ajaran dan nilai-nilai agama.

Karenanya, pendidikan agama harus mengutamakan pada pembentukan karakter, agar peserta didik tidak hanya memiliki kompeten, tetapi sampai pada kemauan dan menjadi kebiasaan dalam menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Budaya religius yang diterapkan oleh sekolah ada berbagai bentuk. Ada yang diterapkan dalam keseharian peserta didik, mingguan, dan pertahun.Bentuk-bentuk pendidikan karakter melalui budaya religius yang diterapkan di SMAN 9 Malang, dijelaskan oleh Bapak Syafilin, sebagai berikut:

Diterapkannya pendidikan karakter di SMAN 09 Malang sudah berlangsung sejak lama, adanya peraturan pemerintah mengenai “Pemantapan Pendidikan Karakter” menjadi alasan penguat untuk memasifkan pendidikan karakter di SMAN 09 Malang. Pendidikan ini diharapkan tidak hanya memperhatikan sisi kognitif peserta didik saja, tetapi juga

harus memperhatikan sisi kecerdasan spiritual, emosional dan skill peserta didik.83

Meskipun penerapan sudah berlangsung lama, namun bukan lah hal yang mudah dalam membentuk karakter kepada ratusan peserta didik yang dimiliki oleh SMAN 9 Malang. Perlunya kerja sama serta komitmen yang tinggi baik dalam perencanaan, pengorganisasian, penerapan, dan tahap evaluasi yang melibatkan semua pihak, guna mencapai tujuan pendidikan nasional dan merealisasikan visi, misi, dan tujuan SMAN 9 Malang itu sendiri. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan berbagai informan, implikasi yang dirasakan setelah diterapkannya budaya religius ini adalah banyak terjadi perubahan dari perserta didik dan respon positif dari wali murid. Disampaikan oleh Pak Suhandoko selaku Waka Kurikulum sebagai berikut :

Perubahan yang paling terasa pada peserta didik adalah peduli akan kebersihan lingkungan. Coba saja Ibu perhatikan, apakah ada sampah berserakan di sekolah? Kesadaran lainnya peserta didik lebih rapih dalam menyusun sepatunya.84

Perubahan peserta didik itupun disampaikan langsung oleh beberapa wali murid kepada guru wali kelas, seperti yang disampaikan oleh Pak Hamim guru PAI.

Bukan maksud melebih-lebihkan ya Bu. Jadi untuk menjalin komunikasi yang baik dengan wali murid, setiap wali kelas punya grup whasapp dengan wali murid.Dan sering dari wali murid, menyampaikan terimakasih dan bersyukur karena

83 Hasil Wawancara dengan Bapak Syafilin, Guru Matematika dan Humas, Hari Rabu, 13 September 2017, Pukul 09.00 , di Kantor Humas

84Hasil Wawancara dengan Bapak Suhandoko, Guru Fisika dan Waka Kurikulum, Hari Rabu, 04 Oktober 2017, Pukul 12.00 , di Ruang Waka Kurikulum

anaknya masuk SMAN 9 Malang. Salah satu perubahannya anaknya jadi rajin shalat dan tepat waktu. Bisa diliat juga dari wali murid juga banyak yang semakin royal dalam memberikan sumbangan untuk kegiatan-kegiatan sosial yang diadakan SMAN 9 Malang.85

Sesuai dengan pernyataan dari beberapa informan, dalam membentuk karater peserta didik yang berjumlah ratusan bukanlah sesuatu yang mudah yang bisa dilakukan dalam sekejap mata. Hal inipun penulis amati secara langsung, adanya perbedaan sikap antara kelas 7dan kelas 8. Kelas 7 yang merupakan masa peralihan dari SMP menuju SMA tentunya lebih mudah untuk diberi arahan dan diperingati dalam bertindak, kelas 7 memiliki karater yang lebih sopan dan santun dalam bertegur sapa dengan orang yang baru ditemui nya. Penulis mengobservasi perilaku peserta didik dalam beberapa kegiatan yang sedang berlangsung seperti proses pembelajaran ketika di kelas, bertegur sapa di kamar mandi, bertemu di kantin, dan pada kegiatan keputrian.

Berbeda dengan kelas 7, kelas 8 merasa lebih senior karena sudah mengetahui seluk beluk dan budaya sekolah menjadikan beberapa dari mereka bersikap acuh. Hal ini peneliti temukan ketika sedang mengobservasi kegiatan proses pembelajaran dan kegiatan keputrian di kelas 8. Peneliti menemukan adanya ketidaksinkronan antara tujuan diterapkannya kegiatan keputrian dengan perilaku siswi-siswi ketika dimulai nya jam keputrian. Pada tanggal 29 Agustus 2017, peneliti diberi

85Hasil Observasi dan Wawancara Informal dengan Bapak Hamim Thohari, Guru PAI, Hari Jumat, 18 Agustus 2017, Pukul 06.30, di Kelas Agama

kesempatan untuk menyampaikan materi “ tata cara shalat yang baik dan benar” pada kelas keputrian. Kelas keputrian ini berisikan sekitar 20-25 siswi. Ketika peneliti mencoba untuk membuka materi, banyak peserta didik yang tidak mau melepaskan kesibukannya masing-masing seperti bermain handphone, menonton drama korea, bermain kartu uno, mendengarkan lagu, tidur-tiduran, dan mengobrol dengan temannya.

Maka, berdasarkan hasil penelitian baik berupa observasi, dokumentasi dan wawancara, peneliti menemukan adanya implikasi keberhasilan SMAN 9 Malang dalam menerapkan pendidikan karakter melaui budaya religius, adalah sebagai berikut:

a. Peserta didik sering tersenyum dan menyapa siapaun yang ditemuinya. Ketika peserta didik berpapasan dengan yang lebih tua, secara tida langsung mengucapkan “maaf permisi” dan menundukan kepala. b. Menjadikan peserta didik terbiasa untuk membaca Alqur’an, yang

secara tidak langsung kebiasaan ini dapat memperbaiki cara membaca Alqur’an dan dari kebiasaan ini juga banyak dari peseta didik yang sudah lancar dan belum lancar dalam membaca Alqur’an menjadi hafal akan surat-surat yang ada di buku Literasi.

c. Peserta didik hafal asmaul husna dan begitu semangat dalam menyebutkan asmaul husna. Peserta didik juga hafal akan shalawat dan doa-doa pendek yang kemudian dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti berdoa sebelum memulai pelajaran.

d. Sebagian peserta didik mulai terbiasa melakukan shalat dhuha, dan sebagian lagi masih melalui ajakan dari guru-guru mata pelajaran. e. Pakaian yang dikenakan oleh peserta didik dapat dikatakan cukup baik,

karena tidak memakai pakaian ketat dan tidak dandan terlalu berlebihan.

f. Peserta didik memiliki empati dan simpati yang lebih tinggi, dan menjadi lebih kreatif dan inovatif dalam mengadakan suatu kegiatan sekolah. Seperti dalam kegiatan sinau sosial berupa donor darah, kegiatan konser amal mengundang band-band papan atas, pentas seni, dan bakti sosial ke yayasan-yayasan dan ke desa dari proses perencanaan, kegiatan, mencari dana, dan evaluasi dilakukan secara mandiri oleh peserta didik.

g. Peserta didik memahami toleransi dalam beragama, tidak membeda-bedakan agama lain.

h. Peserta didik memiliki kejujuran yang baik, hal ini peneliti temukan ketika peneliti tidak sengaja meninggalkan barang di lobby tengah selama berjam-jam, namun ketika peneliti mengambil barang yang ditinggalkan masih ada dalam posisi yang sama.

i. Peserta didik menjaga kerapihan dan kebersihan di lingkungan sekolah. Terbiasa merapihkan sandal sebelum memasuki masjid atau aula. Sedikit sekali peneliti temui sampah berserakan di lingkungan sekolah.

1. Perencanaan Pendidikan Karakter Melalui Budaya Religius Di SMAN 9