• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Sanksi Uni Eropa Terhadap Produk CPO Asal Indonesia

BAB III : SANKSI TERHADAP PRODUK CLUDE PALM OIL (CPO) DAN

C. Dampak Sanksi Uni Eropa Terhadap Produk CPO Asal Indonesia

Uni Eropa atau Europe Union adalah organisasi kerjasama regional dibidang ekonomi dan politik Negara di Eropa, juga merupakan organisasi antar-pemerintahan dan supra-nasional, yang beranggotakan Negara-Negara Eropa.

Sejak 1 Juli 2013 telah memiliki 28 Negara anggota. Persatuan ini didirikan atas nama tersebut di bawah Perjanjian Uni Eropa (yang lebih dikenal dengan Perjanjian Maastricht) pada 1992. Namun, banyak aspek dari UNI EROPA timbul sebelum tanggal tersebut melalui organisasi sebelumnya, kembali ke tahun 1950-an. Uni Eropa bukanlah sebuah Negara federal atau organisasi internasional dalam pengertian tradisional, melainkan sebuah badan otonom di antara keduanya.

Dalam bidang hukum, istilah yang digunakan untuk organisasi ini adalah

“organisasi supranasional”. Di beberapa bidang, keputusan-keputusan ditetapkan melalui musyawarah dan mufakat di antara Negara-Negara anggota, dan di bidang-bidang lainnya lembaga-lembaga organ yang bersifat supranasional menjalankan tanggung jawabnya tanpa perlu persetujuan anggota-anggotanya.

Lembaga organ penting di dalam Uni Eropa adalah Komisi Eropa, Dewan Uni

Eropa, Dewan Eropa, Mahkamah Eropa, dan Bank Sentral Eropa. Di samping itu, terdapat pula Parlemen Eropa yang anggota-anggotanya dipilih langsung oleh warga Negara anggota.

Negara-Negara anggotanya tetap menjadi Negara yang berdaulat dan independen, tetapi mereka menggabungkan kedaulatan mereka dengan maksud untuk memperoleh kekuatan dan pengaruh kolektif yang lebih besar. Namun, mereka terikat oleh serangkaian traktat yang telah mereka tanda tangani seiring dengan perkembangannya. Semua traktat tersebut harus disepakati oleh masing-masing Negara anggota, kemudian diratifikasi baik oleh parlemen nasional atau melalui referendum.

Kegiatan Uni Eropa pada awalnya hanya terbatas pada kegiatan perdagangan. Akan tetapi sejalan dengan pertambahan anggota Uni Eropa, berkembang pula bentuk kerjasama itu. Kerjasama tersebut adalah dalam bidang ekonomi yang lebih luas, seperti kebijakan perpajakan, perindustrian, pertanian dan politik. Upaya ini dilanjutkan dengan membentuk pasaran bersama, sebuah perjanjian untuk menghapus halangan terhadap mobilitas factor produksi sesame Negara anggota Uni Eropa. Dari pergantian namanya dari Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) ke Masyarakat Eropa hingga ke Uni Eropa menandakan bahwa organisasi ini telah berubah dari sebuah kesatuan ekonomi menjadi kesatuan politik. Kecendrungan ini ditandai dengan meningkatnya jumlah kebijakan dalam Uni Eropa.

Tapi untuk menjadi anggota Uni Eropa tidaklah mudah. Berbeda dengan ASEAN yang didasarkan latar belakang sejarah yang sama dan regionalnya Uni Eropa justru punya persyaratan yang harus dipenuhi. Untuk menjadi anggota Uni Eropa, suatu Negara harus memiliki demokrasi yang stabil dan menjamin supremasi hukum, hak-hak asasi manusia, dan perlindungan kaum minoritas.

Selain itu, Negara tersebut juga harus memiliki ekonomi pasar yang berfungsi serta administrasi publik yang dapat menerapkan dan mengelola undang-undang Uni Eropa. Tidak semua Negara Eropa menjadi anggota Uni Eropa. Negara-Negara yang berada dalam wilayah Eropa, namun masih menjadi kandidat anggota Uni Eropa yaitu Islandia, Republik Macedonia (Bekas Yugoslavia), Montenegro, Serbia, dan Turki.

Gagasan untuk menyatukan Negara-Negaran Eropa telah dimulai sejak akhir abad ke-18 ketika Napoleon berupaya menyatukan Eropa di bawah Kekaisaran Perancis. Sejarah berulang kembali ketika Adolf Hilter mencoba menundukkan Eropa di bawah The Third Reich. Usaya menyatukan Eropa secara damai dimulai pada tahum 1923 oleh pemimpin Pan-Uni Eropaan Movement dari Austria melalui gagasan “United States of Uni Eropa”. Pada tahun 1929, Menteri Luar Negeri Perancis, Aristide Briad mengusulkan dibentuknya “Uni Eropaan Union” dalam kerangka Liga Bangsa-Bangsa (LeagUni Eropa of Nations). Usaha-usaha tersebut gagal terutama disebabkan oleh kuatnya rasa nasionalitas dan kekuatan imperialism waktu itu.

Pemikiran untuk membentuk Eropa bersatu diperkenalkan kembali oleh Perdana Menteri Inggris. Winston Churchill, dalam pidatonya di Basel, Swiss,

tahun 1946. Churchill mengharapkan bahwa mesyarakat Eropa dapat hidup secara damai dalam rasa aman dan kebebasan melalui suatu “Eropa Serikat”.

Rencana rekonstruksi Negara-Negara di kawasan Eropa Barat pasca pasca Perang Dunia II mendapat dukungan dari Amerika Serikat. Pada tahun 1949, Amerika Serikat dan beberapa Negara Eropa Barat membentuk aliansi keamanan North Atlantic Treaty Organization (NATO). Sejak saat itu Amerika Serikat memberikan bantuan ekonomi, Marshall Plan, ke kawasan Eropa Barat. Negara-Negara penerima Marshall Plan tergabung dalam Organization for Uni Eropaan Economic Development (OEED). Tujuan utama Amerika Serikat pada pada saat itu adalah berupaya menciptakan suatu aliansi di kawasan Eropa Barat untuk menghadapi kekuatan komunis serta mencegah konflik di kawasan ini.

Selanjutnya, perkembangan integrasi Eropa melalui pembentukan institusi internasional dapat dilihat dalam beberapa tahapan. Dengan tujuan agar Negara yang ingin bergabung dengan keanggotaan Uni Eropa mematuhi segala isi dari perjanjian ini, karena setiap periodenya berbeda mengenai persyaratan keanggotaan Uni Eropa. Tahapan dari perjajian tersebut adalah :

1. The Treaty of Paris (ECSC), 1952

Proses integrasi Eropa bermula dari dibentuknya “Komunitas Batu Bara dan Baja Eropa” (Uni Eropaan Coal and Steel Community/ECSC), yang Traktat-nya ditandatangani tanggal 18 April 1951 di Paris dan berlaku sejak 25 Juli 1952 sampai tahun 2002. Tujuan utama ECSC Treaty adalah penghapusan berbagai hambatan perdagangan dan menciptakan suatu pasar bersama dimana produk, pekerja dan modal dari sektor batu bara dan baja dari

Negara-Negara anggotanya dapat bergerak dengan bebas. Traktat ini ditandatangani oleh Belanda, Belgia, Italia, Jerman, Luksemburg dan Perancis. Hasil utama :

a. Pembentukan Uni Eropaan Coal and Steel Community (ECSC)

b. Penghapusan rivalitas lama antara Jerman dan Perancis, dan memberi dasar bagi pembentukan “Federasi Eropa”.

2. The Treaty of Rome (Uni Eroparatom dan EEC), 1957

Pada tanggal 1-2 Juni 1955, para menlu 6 Negara penandatangan ECSC Treaty bersidang di Messina, Itali, dan memutuskan untuk memperluas integrasi Eropa ke semua bidang ekonomi. Pada tanggal 25 Maret 1957 di Roma ditandatangani Uni Eropaan Atomic Energy Community (EAEC), namun lebih dikenal dengan Uni Eroparatom dan Uni Eropaan Economic Community (EEC). Keduanya mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1958. Jika ECSC dan Uni Eroparatom merupakan traktat yang spesifik, detail dan rigid law treaties, maka EEC Treaty lebih merupakan sebuah framework treaty.

Tujuan utama EEC Treaty adalah penciptaan suatu pasar bersama diantara Negara-Negara anggotanya melalui Pencapaian suatu Custom Unions yang di satu sisi melibatkan penghapusan customs duties, import quotas dan berbagai hambatan perdagangan lain diantara Negara anggota, serta di sisi lain memberlakukan suatu Common Customs Tariff (CCT) vis-á-vis Negara ketiga (non anggota). Implementasi, inter alia melalui harmonisasi kebijakan-kebijakan nasional anggota, 4 freedom of movement - barang, jasa, pekerja dan modal.

Hasil utamanya yaitu :

a. Ketiga Communities tersebut masing-masing memiliki organ eksekutif yang berbeda-beda. Namun sejak tanggal 1 Juli 1967 dibentuk satu Dewan dan satu Komisi untuk lebih memudahkan manajemen kebijakan bersama yang semakin luas, dimana Komisi Eropa mewarisi wewenang ECSC High Authority, EEC Commission dan Uni Eroparatom Commission. Sejak saat itu ketiga communities tersebut dikenal sebagai Uni Eropaan Communities (EC).

b. Pembentukan Dewan Menteri UNI EROPA, yang menggantikan Special Council of Ministers di ketiga Communities, dan melembagakan “Rotating Council Presidency” untuk masa jabatan selama 6 bulan.

c. Membentuk Badan Audit Masyarakat Eropa, menggantikan Badan-badan Audit ECSC, Uni Eroparatom dan EEC.

3. Schengen Agreement, 1985

Pada tanggal 14 Juni 1985, Belanda, Belgia, Jerman, Luksemburg dan Perancis menandatangani Schengen Agreement, dimana mereka sepakat untuk secara bertahap menghapuskan pemeriksaan di perbatasan mereka dan menjamin pergerakan bebas manusia, baik warga mereka maupun warga Negara lain. Perjanjian ini kemudian diperluas dengan memasukkan Itali (1990), Portugal dan Spanyol (1991), Yunani (1992), Austria (1995), Denmark, Finlandia, Norwegia dan Swedia (1996).

4. Single Act, Brussels, 1987

Berdasarkan White Paper yang disusun oleh Komisi Eropa dibawah kepemimpinan JacqUni Eropas Delors pada tahun 1984, Masyarakat Eropa mencanangkan pembentukan sebuah Pasar Tunggal Eropa. Single Uni Eropaan Act, yang ditandatangani pada bulan Pebruari 1986, dan mulai berlaku mulai tanggal 1 Juli 1987, terutama ditujukan sebagai suplemen EEC Treaty. Tujuan utama Single Act adalah pencapaian pasar internal yang ditargetkan untuk dicapai sebelum 31 Desember 1992.

Hasil utama:

a. Melembagakan pertemuan reguler antara Kepala Negara dan/atau Pemerintahan Negara anggota Masyarakat Eropa, yang bertemu paling tidak setahun dua kali, dengan dihadiri oleh Presiden Komisi Eropa.

b. Uni Eropaan Political Cooperation secara resmi diterima sebagai forum koordinasi dan konsultasi antar pemerintah.

c. Seluruh persetujuan asosiasi dan kerjasama serta perluasan Masyarakat Eropa harus mendapat persetujuan Parlemen Eropa.

5. The Treaty of Maastricht (Treaty on Uni Eropaan Union), 1992

Treaty on Uni Eropaan Union (TUNI EROPA) yang ditandatangani di Maastricht pada tanggal 7 Februari 1992 dan mulai berlaku tanggal 1 November 1993, mengubah Uni Eropaan Communities (EC) menjadi Uni Eropaan Union (UNI EROPA). TUNI EROPA mencakup, memasukkan dan memodifikasi traktat-traktat terdahulu (ECSC, Uni Eroparatom dan EEC). Jika Treaties establishing Uni Eropaan Community (TEC) memiliki karakter

integrasi dan kerjasama ekonomi yang sangat kuat, maka TUNI EROPA menambahkan karakter lain yaitu kerjasama dibidang Common Foreign and Security Policy (CFSP) dan Justice and Home Affairs (JHA).

6. Perluasan Keanggotaan

Berbagai Traktat tersebut kemudian beberapa kali diamandemen, terutama berkaitan dengan penambahan anggota sebagai berikut:

a. 1957: Belgia, Perancis, Jerman, Italia, Luksemburg dan Belanda (6 anggota awal)

b. 1973: Denmark, Irlandia dan Inggris c. 1981: Yunani

d. 1986: Portugal dan Spanyol

e. 1995: Austria, Finlandia dan Swedia

Keanggotaan UNI EROPA terbuka bagi setiap Negara Eropa yang ingin menjadi anggota dengan dua persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu pertama, Negara yang bersangkutan harus berada di benua Eropa, dan kedua, Negara tersebut menerapkan prinsip-prinsip demokrasi, penegakan hukum, penghormatan HAM dan menjalankan segala peraturan perundangan UNI EROPA(acquis communautaires). Proses persiapan dalam rangka perluasaan keanggotaan UNI EROPA ke-6 dari 15 menjadi 25 Negara telah dilakukan dengan target bahwa pada tahun 2004 jumlah Negara anggota UNI EROPA menjadi 25 Negara.

Proses negosiasi UNI EROPA dengan ke-10 Negara kandidat telah selesai pada tanggal 13 Desember 2002. KTT UNI EROPA Kopenhagen

tanggal 12-13 Desember 2002 memutuskan untuk menerima keanggotaan 10 Negara aplikan (Republik Ceko, Estonia, Hongaria, Latvia, Lithuania, Malta, Polandia, Siprus,Republik Slovakia dan Slovenia) mulai 1 Mei 2004, sehingga pada tahun tersebut UNI EROPA akan beranggotakan 25 Negara.

KTT juga memutuskan akan menerima keanggotaan Bulgaria dan Romania yang saat ini masih dalam proses perundingan aksesi, pada tahun 2007.

Sementara itu, Turki masih didorong untuk melakukan reformasi politik dan ekonomi dalam negerinya agar memenuhi kriteria standar UNI EROPA (Copenhagen criteria) dan jadwal perundingan aksesi dengan Negara tersebut baru dapat ditentukan pada KTT UNI EROPA tahun 2004 mendatang.

7. The Treaty of Amsterdam, 1997

Pada pertemuan mereka tanggal 17 Juni 1997 di Amsterdam, Uni Eropaan Council (para Kepala Negara dan Pemerintahan ke-15 Negara anggota UNI EROPA) merevisi TUNI EROPA dan menghasilkan sebuah traktat baru. The Treaty of Amsterdam mempunyai empat tujuan utama, yaitu:

a. Memprioritaskan hak-hak warga Negara dan penyediaan lapangan kerja. Meskipun penyediaan lapangan kerja tetap merupakan kewajiban utama pemerintah nasional, Traktat Amsterdam menekankan perlunya usaha bersama seluruh Negara anggota untuk mengatasi pengangguran, yang dianggap sebagai problem utama Eropa saat ini.

b. Menghapuskan hambatan terakhir menuju freedom of movement dan memperkuat keamanan, dengan meningkatkan kerjasama Negara anggota di bidang Justice and Home Affairs.

c. Memberi UNI EROPA suara yang lebih kuat di dunia internasional dengan menunjuk seorang High Representative for the CFSP.

d. Membuat struktur institusi UNI EROPA lebih efisien, terutama berkaitan dengan gelombang ke-6 enlargement.

Salah satu kritik yang sering dialamatkan pada berbagai traktat mengenai UNI EROPA adalah teks yang rumit dan sangat teknokratis. Hal tersebut membuat traktat dasar UNI EROPA sulit dibaca dan dimengerti, yang pada gilirannya juga dapat memperlemah dukungan publik terhadap proses integrasi Eropa. Traktat Amsterdam merupakan jawaban terhadap kritikan tersebut karena traktat ini memasukkan TUNI EROPA dan TEC, dengan penomoran baru pasal-pasalnya untuk lebih memudahkan pemahaman terhadap traktat mengenai UNI EROPA. Hasil utama:

a. Memberi wewenang Dewan Menteri untuk menjatuhkan hukuman pada Negara anggota (dengan mencabut sementara beberapa hak mereka, termasuk hak voting) jika Negara anggota tersebut melakukan pelanggaran HAM.

b. Menyediakan kemungkinan dilakukannya enhanced cooperation, yaitu: beberapa Negara anggota (minimal 8) dapat melakukan suatu kerjasama meskipun tidak semua Negara anggota menyetujuinya.

Negara yang tidak (atau belum) menyetujui kerjasama tersebut dapat

bergabung di kemudian hari. Salah satu contohnya adalah bentuk-bentuk kerjasama dalam kerangka CFSP.

c. Memasukkan Schengen Agreement dalam TUNI EROPA (dengan pilihan opt-out bagi Inggris dan Irlandia).

d. Menjadikan asylum, visa dan imigrasi sebagai kebijakan bersama (kecuali bagi Inggris dan Irlandia). Dalam waktu lima tahun, Negara-Negara anggota dapat memutuskan apakah akan menggunakan qualified majority voting.

8. The Treaty of Nice, 2000

Pertemuan Uni Eropaan Council tanggal 7-9 Desember 2000 di Nice mengadopsi sebuah Traktat baru yang membawa perubahan bagi empat masalah institusional: komposisi dan jumlah Komisioner di Komisi Eropa, bobot suara di Dewan Uni Eropa, mengganti unanimity dengan qualified majority dalam proses pengambilan keputusan dan pengeratan kerjasama.

Traktat ini belum berlaku, masih menunggu proses ratifikasi di masing-masing Negara anggota. Tanggal 1 Februari 2003, Traktat tersebut mulai berlaku.

Hasil utama:

a. Dengan memperhatikan perluasan anggota UNI EROPA, membatasi jumlah anggota Parlemen maksimal sebanya 732 orang dan sekaligus memberi alokasi jumlah kursi tiap Negara anggota (sudah termasuk Negara anggota baru).

b. Mengganti mekanisme pengambilan keputusan bagi 30 pasal dalam TUNI EROPA yang sebelumnya menggunakan unanimity dan diganti dengan menggunakan mekanisme qualified majority voting.

c. Merubah bobot suara Negara-Negara anggota UNI EROPA mulai 1 Januari 2005 (sudah termasuk Negara-Negara anggota baru).

d. Mulai 2005, membatasi jumlah Komisioner, 1 Komisioner tiap 1 Negara, dan batas maksimum jumlah Komisioner akan ditetapkan setelah UNI EROPA beranggotakan 27 Negara, serta memperkuat posisi Presiden Komisi.

e. Memberi dorongan bagi terselenggaranya Konvensi Masa Depan Eropa, yang digunakan sebagai persiapan bagi penyelenggaraan Intergovernmental Conference di tahun 2003

9. Konvensi Masa Depan Eropa dan Traktat Aksesi 10 Negara Anggota Baru Berbagai traktat UNI EROPA tersebut mungkin akan segera mengalami perubahan, sebagai hasil dari Konvensi mengenai Masa Depan UNI EROPA dan Traktat Aksesi 10 Negara anggota baru yang ditandatangani tanggal 16 April 2003 dan akan mulai berlaku mulai tanggal 1 Mei 2004.

Sementara ini beberapa pembahasan utama adalah di bidang:

a. Penyederhanaan traktat-traktat UNI EROPA kedalam satu Traktat, dengan penyajian yang lebih jelas dan lebih mudah dimengerti.

b. Demarkasi kewenangan (who does what in the UNI EROPA, wewenang UNI EROPA, wewenang Negara anggota, (dll)

c. Peran Parlemen Negara-Negara anggota dalam struktur UNI EROPA.

d. Status Charter of Fundamental Rights yang diproklamirkan di Nice.

Tujuan lain dari UNI EROPA adalah untuk mengimplementasikan Economic and Monetary Union (EMU) dengan memperkenalkan satu mata uang Eropa yaitu Uni Eroparo untuk semua Negara anggota UNI EROPA. Hal ini masih dikembangkan di Uni Eropa karena sampai saat ini masih ada beberapa Negara yang tidak menggunakan Uni Eroparo sebagai mata uang mereka walaupun mereka adalah anggota Uni Eropa.

Jadi, secara garis besar bisa ditarik dua tujuan utama pembentukan Uni Eropa, yaitu:

1. Terjalinnya kerjasama antar Negara anggota di bidang ekonomi yang fokus terhadap keleluasaan gerak sumber produksi, manusia (sumber tenaga kerja), hasil produksi, dan jasa tanpa tarif atau minimal dengan kesegaraman tarif yang rendah.

2. Terjalinnya kerjasama antar Negara anggota di bidang politik sehingga dapat mengurangi dampak negatif rivalitas antar Negara-Negara besar di Eropa yang telah ada sejak dahulu kala sehingga bisa menghindari terjadinya perang kembali di Eropa, serta menjadi salah satu kekuatan di dunia dalam regulasi internasional.

Uni Eropa juga berperan dalam menangani perdagangan internasional termasuk dalam penjualan CPO. Saat ini produk biodiesel Indonesia juga berorientasi ke pasar ekspor khususnya pasar ekspor Eropa yang semakin lama

semakin tinggi permintaan untuk kebutuhan bahan bakar transportasi dan pembangkit listrik. Di beberapa negara, pengembangan biofuel berbasis minyak nabati sudah dikembangkan yang mandatori. Uni Eropa telah semenjak 10 tahun lalu menggunakan campuran biofuel di sektor transportasinya, yang bahan bakunya diambil dari minyak rapeseed. Itu sebabnya, biodiesel sawit lebih diminati karena harganya kompetitif dari biodiesel minyak nabati lain seperti kedelai.

Data Eurostat menunjukkan 90% atau 2,5 juta metrik ton impor biodiesel pada 2011, dipasok biodiesel sawit dari Indonesia dan biodiesel kedelai Argentina. Tingkat selisih harga kedua produk impor ini sekitar US$ 60-US$ 110 per metrik ton dari biodiesel yang diproduksi Uni Eropa. Namun murahnya harga jual biodiesel sawit ini, memicu tuduhan dumping.

Indonesia sebagai negara pengekspor bahan bakar nabati didunia, bahkan 90% Uni Eropa mengimpor biodiesel dari Indonesia. Namun, Uni Eropa mengklaim bahwa Indonesia telah menjual biodiesel kepada anggota Uni Eropa dengan harga dibawah nilai normal mereka. Menurut hasil investigasi Uni Eropa, pemberlakuan bea masuk tambahan karena industri biodiesel di Uni Eropa dirugikan dengan impor biodiesel asal Indonesia dan Argentina. Beberapa industri yang mengalami kerugian secara material adalah Verbio AG (VBK) asal Jerman, Diester Industrie SAS asal Perancis dan Novaol Srl asal Italia. Pemberlakuan BMAD ini dimulai dari investigasi oleh Komisi Eropa yang berasal dari pengaduan oleh European Biodiesel Board (EBB) yang merupakan grup resmi biodiesel di Eropa yang tergabung juga dalam beberapa perusahaan. EBB

mengatakan Indonesia menjual harga biodiesel mereka dibawah rata-rata sehingga hal ini merugikan banyak pihak.

Uni Eropa bakal menerapkan tarif bea masuk anti dumping ini harus dibayar selama 6 bulan atau bisa diperpanjang hingga lima tahun. Pangsa pasar eksportir Indonesia meningkat menjadi 19,3% di pasar biodiesel Uni Eropa dalam satu tahun terakhir terhitung dari Juni 2012, sebelumnya hanya 9,1% pada 2009, eksportir Indonesia meraih keuntungan dengan pesat, karena berhasil meningkatkan pangsa pasar dari 1,4% menjadi 8,5% di pasar Eropa. Melihat produksi biodiesel yang secara otomatis mengalami kerugian. Maka dari itu, Pemerintah harus memiliki langkah yang jelas dan nyata untuk megatasi kasus ini.

Kekayaan kelapa sawit Indonesia sebenarnya menjadi bukti bahwa produksi biodiesel Indonesia yang tinggi. Sehingga, produksi yang tinggi dan banyak menjadikan harga biodiesel ini menjadi lebih murah. 50

Namun, hal ini menjadi senjata Uni Eropa untuk mengenakan tariff tambahan yaitu bea masuk anti dumping atau BMAD yang merupakan sanksi kepada negara-negara yang melakukan dumping. Sebelumnya produk biodiesel Indonesia membuat kerugian terhadap sejumlah perusahaan biodiesel Eropa pasalnya harga jual yang diberikan Indonesia lebih murah dari pasar ekspor di Eropa. Maka dari itu Uni Eropa menerapkan BMAD terhadap produk biodiesel Indonesia. Pangsa pasar eksportir Indonesia meningkat menjadi 19,3% di pasar biodiesel Uni Eropa dalam satu tahun terakhir terhitung dari Juni 2012, sebelumnya hanya 9,1% pada 2009, eksportir Indonesia meraih keuntungan

50 Saatnya pasar biodiesel tumbuh, dalam

http://www.sawitindonesia.com/rubrikasimajalah/hot-issue/saatnya-pasar-biodiesel-tumbuh diakses pada 12 Juni 2019

dengan pesat. Saat ini mengalami penurunan karena bea masuk tambahan oleh Uni Eropa tersebut. Melihat hal ini, Indonesia harus memiliki langkah yang juelas untuk menyelesaikan kasus seperti ini, karena selain dari segi kerugian ekonomi Indonesia juga akan kehilangan pasar besar yang menjadi pasar eksportir biodiesel besar dari Indonesia.51

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dampak dari pelarangan produk CPO Indonesia oleh Uni Eropa Mengakibatkan kerugian bagi ekspor CPO Indonesia. Sejak terjadinya kampanye hitam atas produk CPO Indonesia oleh Uni Eropa, menyebabkan terjadinya penurunan aktivitas ekspor Indonesia di bidang produk CPO. Hal ini tentu akan mengakibatkan kerugian materiil.

51 Ibid.

A. Indonesia Menurunkan Produksi Biodiesel Dalam Negeri

Konsumsi bahan bakar nabati (BBN) sebagai energi terbarukan (renewable energy) di Indonesia maupun dunia saat ini masih rendah, yakni di bawah 10 persen dari konsumsi total energi. Energi fosil (minyak bumi, gas dan batu bara, Red) diperkirakan masih akan dominan hingga 20-30 tahun ke depan. Guna mendorong pengembangan dan pemanfaatan BBN, pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan, termasuk aturan mengenai kewajiban pemakaian biodiesel.52

Kemajuan biodiesel Indonesia sejalan dengan kemajuan ekspor produk Indonesia ke negara-negara asing seperti Amerika dan negara-negara di Eropa.

Khususnya Uni Eropa merupakan pasar terbesar ekspor produksi biodiesel Indonesia. Namun, hal ini merupakan kendala yang memberikan dampak yang signifikan terhadap proses produksi biodiesel Indonesia. Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia (Aprobi) memperkirakan ekspor biodiesel tahun 2014 sama dengan realisasi tahun 2013 sebanyak 1,8 juta kiloliter (KL). Salah satu penyebabnya adalah belum dihapuskannya bea masuk (BM) antidumping yang dikenakan Uni Eropa (UE) terhadap produk biodiesel asai Indonesia sejak tahun lalu.53

52 Ibid.

53 Ekspor Biodiesel Tahun ini Diprediksi Stagnan, dalam http://www.starbrainindonesia.com/berita/media/34 853/3/ekspor-biodiesel-tahun-ini-diprediksistagnan diakses pada 6 Mei 2019

Ekspor biodiesel Indonesia ke UE pada 2012 mencapai 1,5 juta KL.

Namun pada 2013 melorot menjadi hanya setengahnya. Kendati demikian, total volume ekspor biodiesel secara keseluruhan pada 2013 naik menjadi 1,8 juta KL karena ditopang permintaan dari Filipina, India, dan Amerika Serikat (AS).

Pengenaan pajak tinggi karena tuduhan anti-dumping oleh UE membuat ekspor merosot, Tuduhan antidumping biodiesel Indonesia tersebut sudah dilancarkan UE sejak tahun lalu. Hal itu berlaku setelah UE membuktikan biodiesel yang

Pengenaan pajak tinggi karena tuduhan anti-dumping oleh UE membuat ekspor merosot, Tuduhan antidumping biodiesel Indonesia tersebut sudah dilancarkan UE sejak tahun lalu. Hal itu berlaku setelah UE membuktikan biodiesel yang

Dokumen terkait