BAB VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
6.3. Dampak Sosial, Ekonomi dan Lingkungan yang Dirasakan Masyarakat Dusun Badegan Atas Keberadaan Bank Sampah Gemah
6.3.1. Dampak Sosial Keberadaan Bank Sampah Gemah Ripah
Dampak sosial keberadaan Bank Sampah Gemah Ripah dianalisis berdasarkan jumlah tenaga kerja yang terserap, persepsi warga sekitar, dan ada tidaknya perubahan perilaku dalam penanganan sampah rumah tangga. Persepsi masyarakat sekitar tentang pengelolaan sampah yang dilakukan bank sampah diketahui dari dua bahasan yaitu mengenai pengetahuan tentang keberadaan bank sampah dan manfaat sosial yang dirasakan warga sekitar atas keberadaan bank sampah.
Dampak sosial keberadaan Bank Sampah Gemah Ripah salah satunya dapat dilihat dari ada tidaknya pengaruh dan dorongan terhadap warga sekitar (pada tingkat rumah tangga) untuk melakukan pemilahan sampah, walaupun perubahan pola perilaku tersebut tidaklah mudah karena berkaitan dengan cara perubahan kultur dan cara pandang. Perubahan perilaku responden dalam menangani sampah rumah tangganya dilihat dari perilaku responden sebelum dan sesudah adanya bank sampah di wilayah tempat tinggal responden.
Salah satu manfaat sosial adanya bank sampah yaitu mampu melibatkan masyarakat dengan adanya penyerapan tenaga kerja. Sebagian besar tenaga kerja yang terserap masih bersifat sukarela dan hanya 1 orang yang diberikan upah sebagai pengangkut sampah untuk sistem tabungan komunal. Bank sampah berencana akan merekrut tenaga kerja lagi jika program menominalkan sendiri sampah yang ditabungkan warga sudah berjalan, karena untuk menominalkan
sampah tersebut membutuhkan tenaga kerja yang terampil agar tidak terjadi kesalahan dalam menominalkan sampah.
Mengidentifikasi persepsi masyarakat sekitar mengenai dampak sosial keberadaan Bank Sampah Gemah Ripah dilakukan dengan wawancara kepada 86 responden yang telah mengetahui keberadaan bank sampah seperti pada Tabel-8. Responden mengetahui keberadaan bank sampah di sekitar rumahnya terutama dari sosialisasi yang dilakukan oleh pengelola bank sampah sebanyak 48 responden (55,81 persen). Keberadaan bank sampah sendiri sudah diketahui sebagian besar responden yaitu sebanyak 50 responden atau sebesar 58,14 persen sejak awal bank sampah berdiri yaitu pada Bulan Juni tahun 2008. Pihak pengelola bank sampah melakukan sosialisasi besar-besaran sebelum bank sampah tersebut didirikan hingga saat ini masih terus melakukan sosialisasi sehingga sebagian besar responden telah mengetahui keberadaan bank sampah sejak awal.
Tabel 8. Pengetahuan Responden tentang keberadaan bank sampah
Pertanyaan Pilihan Jumlah Persentase
Sumber Informasi Media Massa 0 0
Tetangga/Teman 19 22,1 Pejabat Pemerintah 15 17,44 Sosialisasi 48 55,81 Lain-lain(observasi langsung) 4 4,65 Lama mengetahui
adanya bank sampah Sejak awal 50 58,14
8 bulan 2 2,32
6 bulan 23 26,74
5 bulan 2 2,32
3 bulan 3 3,50
2 bulan 6 6,98
Adanya bank sampah diakui sebagian besar responden telah memberikan perbaikan dalam pelayanan sampah yaitu sebanyak 69 responden (80,23 persen) karena bank sampah memberikan fasilitas tempat sampah untuk memudahkan pemilahan sampah bagi warga secara komunal serta 1 gerobak sampah untuk mengangkut sampah. Hal ini mengindikasikan bahwa fasilitas pelayanan sampah yang ada di Dusun Badegan meningkat selain fasilitas dari Dinas Pekerjaan Umum yang memang sudah kurang aktif. Responden yang menjawab tidak ada perbaikan dalam pelayanan sampah beranggapan bahwa fasilitas yang diberikan bank sampah masih belum cukup memadai untuk menampung semua sampah yang dihasilkan oleh warga dan ada juga responden yang sudah menjual sampah yang dihasilkannya kepada pengepul sampah sehingga mereka tidak merasa adanya perbaikan dalam pelayanan sampah karena tidak membuang sampah di tempat sampah yang disediakan oleh Dinas Pekerjaan Umum atau yang disediakan oleh Bank Sampah Gemah Ripah.
Tabel 9. Persepsi Manfaat Sosial Keberadaan Bank Sampah Gemah Ripah Manfaat Sosial Jawaban Jumlah Persentase
Perbaikan pelayanan sampah Ada 69 80,23
Tidak 17 19,77
Perbaikan kualitas kesehatan masyarakat Ada 47 54,65
Tidak 39 45,35
Memberikan edukasi tentang pentingnya
pengelolaan sampah Ya 71 82,56
Tidak 15 17,44
Memberikan edukasi tentang pentingnya
menabung Ya 46 53,49
Tidak 40 46,51
Sumber : diolah dari data Primer
Sebelum Bank sampah Gemah Ripah berdiri, banyak warga Dusun Badegan yang terserang penyakit demam berdarah. Oleh karena itu, sekelompok masyarakat mengusahakan pencegahan terjangkitnya penyakit demam berdarah
dengan mendirikan bank sampah. Bank sampah diharapkan dapat mengurangi sampah yang masih tercecer di tempat-tempat yang tidak semestinya, salah satunya kaleng yang sering dijadikan tempat hidup nyamuk pembawa penyakit tersebut. Sebanyak 47 responden atau sebesar 54,65 persen berpendapat bahwa keberadaan bank sampah dapat membantu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Dusun badegan dengan semakin berkurangnya warga yang terserang penyakit demam berdarah. Pendapat 47 responden tersebut juga didukung dengan data dari puskesmas yang menangani warga Dusun Badegan seperti pada Tabel- 10.
Tabel 10. Data jumlah warga Dusun Badegan yang terserang penyakit demam berdarah. Tahun Jumlah 2005 8 2006 18 2007 6 2008 1 Maret 2009 0
Sumber: Data Tidak Diterbitkan dari Puskesmas Bantul II Dusun Geblag
Pendapat lain berasal dari 39 responden (45,35 persen) yang beranggapan bahwa keberadaan bank sampah tidak mempengaruhi kesehatan masyarakat secara signifikan karena bank sampah masih belum lama berdiri dan penyakit demam berdarah termasuk penyakit musiman. Hal tersebut mengindikasikan bahwa berkurangnya warga Dusun Badegan yang terserang penyakit demam berdarah bukan karena keberadaan Bank Sampah Gemah Ripah.
Dampak sosial lainnya dari keberadaan Bank Sampah Gemah Ripah adalah secara tidak langsung dapat memberikan edukasi tentang pentingnya pengelolaan sampah yang diakui oleh 71 responden (82,56 persen). Hal ini
memanfaatkan kembali sampah. Selain itu, sebanyak 46 responden atau sebesar 53,49 persen berpendapat bahwa bank sampah juga memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menabung.
Uji perubahan perilaku dilakukan dengan uji non-parametrik dan sampel berhubungan McNemar. Uji dilakukan dengan hipotesis :
Ho : Tidak ada perubahan perilaku antara sebelum dan sesudah adanya bank sampah
H1 : Ada perubahan perilaku antara sebelum dan sesudah adanya bank sampah Jika nilai signature (2-tailed)lebih kecil dari taraf nyata (α) 10 persen maka tolak Ho yang artinya ada perubahan perilaku sebelum dan sesudah adanya Bank Sampah Gemah Ripah. Hasil tolak Ho menunjukkan bahwa keberadaan bank sampah mampu menimbulkan dorongan perubahan perilaku pada jenis perilaku yang diuji. Hasil pengujian terhadap perilaku penanganan sampah rumah tangga pada 86 responden yang bertempat tinggal di sekitar Bank Sampah Gemah Ripah tertera pada Tabel-11.
Berdasarkan uji tersebut, maka perubahan perilaku yang nyata/signifikan adalah membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah rumah tangga ketika mengumpulkannya, menyediakan wadah atau tempat sampah khusus di rumah untuk memudahkan pemilahan dan mengurangi aktivitas membakar sampah.
Adanya korelasi/hubungan pada perilaku membuang sampah pada tempatnya dan mengurangi aktivitas membakar sampah antara sebelum dan sesudah adanya bank sampah dikarenakan sejak adanya bank sampah, pengetahuan masyarakat menjadi meningkat. Sampah mempunyai nilai lebih yang dapat mendatangkan manfaat sehingga daripada dibuang atau dibakar yang dapat
menimbulkan polusi udara, lebih baik sampah tersebut ditabungkan ke bank sampah baik secara individu maupun komunal. Perilaku menyediakan wadah khusus atau tempat sampah terpisah untuk sampah non-organik dipengaruhi perilaku memilah sampah rumah tangga pada saat pengumpulan, karena untuk memudahkan pemilahan sampah dirumah, sebagian besar responden menyediakan tempat sampah yang terpisah.
Tabel 11. Hasil Analisis Data Perubahan Perilaku Responden No. Perilaku yang dinilai Sig nyata (α)Taraf
Perubahan perilaku 1 Membuang sampah pada
tempatnya 0,000 0,10 Ada
2 Mengurangi aktivitas
membakar sampah 0,002 0,10 Ada
3 Menyediakan wadah atau tempat sampah khusus di rumah untuk memudahkan pemilahan
0,000 0,10 Ada
4 Memilah sampah rumah tangga ketika
mengumpulkannya
0,000 0,10 Ada
5 Meminimalkan penggunaan
plastik (reduce) 0,123 0,10 Tidak
6 Menggunakan kembali barang-barang yang masih bisa digunakan (reuse)
0,153 0,10 Tidak
7 Terdorong untuk mendaur
ulang sampah (recycle) 0,180 0,10 Tidak
Sumber : diolah dari data Primer
Perilaku meminimalkan penggunaan plastik (reduce) dengan contoh membawa tas belanja tersendiri tidak memiliki korelasi/hubungan sebelum dan sesudah adanya bank sampah, hal ini dikarenakan mengurangi penggunaan plastik sangat sulit dilakukan karena masih sangat ketergantungan dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi ibu rumah tangga yang setiap hari ke pasar. Selain itu, adanya rasa malas untuk membawa tas belanja tersendiri sehingga setiap
berbelanja selalu mendapat tersebut.
Menurut responden, kembali barang-barang adanya bank sampah,
yang telah selesai langsung tersebut dibakar. Selain mendaur ulang sampah sosialisasi pelatihan daur memiliki keahlian dal
6.3.2. Dampak Ekonomi Keberdaan Bank Sampah Gemah Ripah