• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak yang di akibatkan oleh Bom Cluster bagi rakyat sipil

BAB IV ; BOM CLUSTER DAN KAITANNYA DENGAN PELANGGARAN

B. Dampak yang di akibatkan oleh Bom Cluster bagi rakyat sipil

C. Pelanggaran protokol tambahan dalam konvensi Jenewa tentang penggunaan senjata berbahaya oleh AS dan Israel dalam konflik Timur Tengah

Upaya upaya yang di lakukan oleh beberapa negara dalam pencegahan dan penghapusan bom Cluster

Bab V di buat dengan tulisan : kesimpulan dan saran yang terdiri dari dua sub bab yaitu kesimpulan dan saran penulis untuk menutup skripsi ini.

BAB II

TINJAUAN UMUM HUKUM HUMANITER A. Pengertian Hukum Humaniter

Peperangan merupakan suatu fenomena yang telah ada sepanjang sejarah kehidupan manusia, yang mau tidak mau ataupun suka tidak suka harus diterima sebagai sesuatu dari bagian kehidupan manusia di dunia ini, perang juga menunjukkan bahwa telah terjadi suatu interaksi atau hubungan antara manusia di bumi ini.

Jika dilihat dari kacamata Hukum Internasional, perang juga merupakan salah satu cara penyelesaian sengketa-sengketa Internasional. Menurut Hukum Internasional ada dua cara penyelesaian sengketa internasional, yaitu penyelesaian sengketa secara damai (Pepaceful settlement of disupute) dan penyelesaian sengketa dengan kekerasan (Settlement of dispute by coercive means).11

11

Fdillah Agus, Bentuk-bentuk sengketa bersenjata, dalam buku (Hukum Humaniter suatu perspektif, editor Fadillah Agus, Pusat Studi Hukum Humaniter Universitas Trisakti dengan Internasional Committee of The Red Cross, Jakarta 1997, Hal 1.

Nofan Herawan : Penggunaan Bom Cluster Dan Kaitannya Dengan Pelanggaran Hukum Humaniter Di Timur Tengah, 2008.

USU Repository © 2009

Suatu peristiwa dapat dikategorikan sebagai suatu keadaan perang, menurut Fadillah Agus adalah apabila telah memenuhi unsur-unsur sebagai berikut :12

1 Adanya konflik yang menggunakan kekuatan bersenjata di suatu wilayah.

2 Intensitas penggunaan kekuatan bersenjata cukup tinggi dan terorganisir.

Istilah atau penyebutan Hukum Humaniter atau lengkapnya disebut Internasional Humanitarian law applicable in armed conflict berawal dari istilah Hukum perang (Laws of War), yang kemudian berkembang menjadi hukum sengketa bersenjata (Laws of Armed Conflict), yang akhirnya pada saat ini baisa dikenal dengan istilah Hukum Humaniter.

G.P.H Haryomataram membagi Hukum Humaniter menjadi dua aturan-aturan pokok, yaitu :13

1. Hukum yang mengatur mengenai cara dan alat yang boleh dipakai untuk berperang (Hukum Den Haag / The Hague Laws).

2. Hukum yang mengatur mengenai perlindungan terhadap kombatan dan penduduk sipil dari akibat perang (Hukum Jenewa / The Geneva Laws).

Sedangkan menurut pendapat ahli lainnya yaitu Muchtar Kusumaatmaja,14

12

Ibid, Hal 3.

13 Haryomataram, Sekelumit Tentang Hukum Humaniter, Sebelas Maret University Press, Surakarta, 1994, Hal 1.

14

Arlina Permana Sari, dkk, Pengantar Hukum Humaniter, Internasional Committee of The Red Cross, Jakarta 1999, hal 1

Nofan Herawan : Penggunaan Bom Cluster Dan Kaitannya Dengan Pelanggaran Hukum Humaniter Di Timur Tengah, 2008.

USU Repository © 2009

Hukum Perang itu dapat dibagi sebagai berikut:

1) Jus ad bellum, yaitu Hukum tentang perang, mengatur tentang dalam hal

bagaimana Negara dibenarkan menggunakan kekerasan bersenjata.

2) Jus in bello, yaitu Hukum yang berlaku dalam perang, dan ini dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu:

a. Hukum yang mengatur cara dilakukannya perang (Conduct of War). Bagian ini biasanya disebut The Hague Laws.

b. Hukum yang mengatur perlindungan orang-orang yang menjadi korban perang. Ini lazimnya disebut The Geneva Laws.

Sedangkan defenisi Hukum Humaniter Internasional yang diberikan oleh F. Sugeng Istanto adalah keseluruhan ketentuan hukum, yang merupakan bagian dari hukum internasional publik yang mengatur tingkah laku manusia dalam pertikaian bersenjata yang didasarkan pada pertimbangan kemanusiaan dengan tujuan melindungi manusia.15

15

F. Sugeng Istanto, Penerapan Hukum Humaniter Internasional pada orang sipil dan perlindungannya dalam pertikaian bersenjata. Makalah pada seminar Nasional tentang palang merah internasional dalaml peritkaian bersenjata non-internasional, Ujung Pandang, 12-13 Maret 1979.

Semula istilah-istilah yang sering dipergunakan adalah Hukum Perang. Akan tetapi karena istilah perang tidak terlalu disukai, yang mungkin disebabkan oleh trauma yang berkepanjangan akan perang dunia ke II yang telah menelan banyak korban, baik itu pihak sipil maupun pihak militer, maka dilakukan upaya-upaya untuk menghindarkan dan bahkan meniadakan perang. Upaya-upaya yang dilakukan tersebut antara lain melalui:

Nofan Herawan : Penggunaan Bom Cluster Dan Kaitannya Dengan Pelanggaran Hukum Humaniter Di Timur Tengah, 2008.

USU Repository © 2009

Pembentukan LBB (Liga Bangsa-Bangsa)

Karena para anggota organisasi yang terdiri dari bangsa-bangsa yang ada dunia ini sepakat untuk menjamin perdamaian dan keamanan, maka para anggota menerima kewajiban untuk tidak memilih jalan perang, apabila mereka terlibat dalam suatu permusuhan.

Pembentukan Kellog-Briand pact

Kellog-Briand Pact disebut juga dengan Paris Act 1928. Anggota-anggota dari perjanjian ini menolak atau tidak mengakui perang sebagai alat ppolitik nasional dan mereka sepakat akan mengubah hubungan mereka hanya dengan jalan damai.

Pengertian Internasional Armed Conflict dapat diketemukan dalam Commentatary Konvensi Jenewa 1949, sebagai berikut: 16

Jika di dalam Konvensi Jenewa yang dikategorikan sebagai sengketa bersenjata internasional adalah sengketa bersenjata yang terjadi antar negara, maka dalam Potocol I (I0 Thn 1977 terdapat perkembangan yang menarik dimana CAR conflict juga termasuk dalam sengketa bersenjata internasional. Adapun yang dimaksud dengan CAR Conflict atau yang lebih dikenal dengan nama War of national Liberation, ini adalah fighting against colonial domiration; alien occupation; and against racist regime.

any difference arising between two states and leading to the intervention of members of the armed confilct within the meaning of article two (2), even if one of the parties denies the existence of state of war. It makes no difference how long the conflict lasts, or how much slaughter takes place.

17

16

Jean S. Pictet et. Al, Commentary II Geneva Convention, ICRC, Geneva, 1960, P. 28, seperti dikutip oleh Fadillah Agus , Op. Cit Hal 4.

17

Nofan Herawan : Penggunaan Bom Cluster Dan Kaitannya Dengan Pelanggaran Hukum Humaniter Di Timur Tengah, 2008.

USU Repository © 2009

Dapat dikatakan bahwa ketentuan ini merupakan suatu perubahan yang mendasar, dimana didalamnya yang tercakup sengketa bersenjata tidak hanya melibatkan antar negara saja, akan tetapi dapat juga dilakukan oleh suatu bangsa (peoples) yang belum mempunyai atau belum memenuhi syarat-syarat sebagai suatu Negara.

Sikap untuk menghindari peperangan berpengaruh dalam perubahan penggunaan istilah, sehingga mengakibatkan istilah Hukum Perang berubah menjadi Hukum Sengketa Bersenjata (Laws of Armed Conflict). Mengenai hal ini Edward Kossoy18

Dengan adanya perkembangan baru ini, maka istilah Hukum sengketa bersenjata mengalami perubahan lagi, yaitu dalam hal ini diganti dengan istilah Hukum Humaniter Internasional yang berlaku dalam sengketa bersenjata atau biasa disebut

(International Humanitarian Law Applicable in Armed Conflict) dan sering juga Berpendapat :

“ The term of armed conflict tends to replace at least in all relevant legal formulation, the older nation of war. On purely legal consideration the replacement for war by ‘ Armed Conflict’ seems more justified and logical”

Istilah hukum sengketa bersenjata (Law of Armed Conflict) dapat dikatakan sekarang ini sebagai pengganti Hukum perang (Law of War) banyak dipakai dalam konvensi-konvensi Jenewa 1949 dan kedua protocol tambahannya. Dalam perkembangan selanjutnya, yaitu pada awal permulaan abad ke-20, diusahakan untuk mengatur cara-cara berperang, yang isi dari konsepsi-konsepsinya banyak dipengaruhi oleh asa kemanusiaan (Humanity Principle).

Nofan Herawan : Penggunaan Bom Cluster Dan Kaitannya Dengan Pelanggaran Hukum Humaniter Di Timur Tengah, 2008.

USU Repository © 2009

disebut Hukum Humaniter Internasional (International Humanitarian Law). Walaupun memiliki istilah-istilah tersebut pada dasarnya memiliki arti yang sama.

Dalam kajian kepustakaan Hukum Internasional istilah Hukum Humaniter merupakan suatu istilah yang dianggap masih relatif baru, istilah ini baru lahir sekitar tahun 1970-an, ditandai dengan diadakannya Conference of Government Exper on the Reaffimation and Development in Armed Conflict pada tahun 1971. Selanjutnya pada tahun-tahun berikutnya yaitu tahun 1974, 1975, 1976, dan seperti 1977 diadakanlah suatu konfrensi yang bertajuk Diplomatic Conference on the Reaffirmation and Development of International Humanitarian Law Applicate in Armed Conflict.

Sebagai bidang kajian baru dalam wacana Hukum Internasional, maka terdapat berbagai macam rumusan-rumusan atau defenisi mengenai Hukum Humaniter ini yang dibuat oleh para pakar yang berkompeten dengan ruang lingkup Humaniter itu sendiri. Rumusan-rumusan yang diberikan pada dasarnya hampir sama namun beda penyampaiannya saja, diantaranya :

Jean Pictet menyatakan bahwa19

Lain pula halnya dengan Geza

“International Humanitarian Law in the wide sense is Constitutional legal provison, whether written and customary, ensuring respect for individual and his well being”.

20

19

Pictet, The Principles of International Humanitarian Low, dalam Arlina Permana Sari, Ibid Hal 9

20

Geja Herzegh, Recent Problem Of Interntional Humanitarian Law, dalam Ibid.

yang merumuskan Hukum Humaniter Internasional dalam defenisinya sendiri yaitu: “Part of the rules of public international law which serve as the protection of individuals in time of armed conflict. Its place is

Nofan Herawan : Penggunaan Bom Cluster Dan Kaitannya Dengan Pelanggaran Hukum Humaniter Di Timur Tengah, 2008.

USU Repository © 2009

beside the norm of warfare it is closely related to them but must be clearly distinguish from these its purpose and spirit being different”.

Sedangkan Muchtar Kusumaatmaja21

Ebsjorn Rosenbland,

mengemukakan bahwa Hukum Humaniter itu adalah : “Bagian dari hokum yang mengatur ketentuan-ketentuan perlindungan korban perang, berlainan dengan hokum perang yang mengatur perang itu sendiri dan segala sesuatu yang menyangkut cara melakukan perang itu sendiri.

22

1. Metoda dan sarana perang

merumuskan bahwa Hukum Humaniter Internasional dengan mengadakan pembedaan antara:

The Law Of Armed Conflict, berhubungan dengan : Permulaan dan berakhirnya pertikaian

Penduduk wilayah lawan

Hubungan pihak bertikai dengan negara netral

Sedangkan Law of Warfare, ini antara lain mencakup :

2. Status kombatan

3. Perlindungan yang sakit, tawanan perang dan rang sipil.

Panitia tetap (Pantap) Hukum Humaniter, Departemen Hukum dan Perundang-undangan merumuskan sebagai berikut23

“ Hukum Humaniter sebagai keseluruhan asas, kaidah dan ketentuan-ketentuan Internasional baik tertulis maupun tidak tertulis yang mencakup Hukum

:

21 Mochtar Kusumaatmaja, Hukum Internasional Humaniter dalam Pelaksanaan Dan Penerapannya di Indonesia, 1980, dalam Ibid.

22

Ibid, Hal 10

23

Nofan Herawan : Penggunaan Bom Cluster Dan Kaitannya Dengan Pelanggaran Hukum Humaniter Di Timur Tengah, 2008.

USU Repository © 2009

Perang dan Hak Asasi Manusia, bertujuan untuk menjamin penghormatan terhadap harkat dan martabat seseorang”.

Dengan melihat, memperhatikan serta mencermati pengertian dari kesemua defenisi-defenisi yang telah diungkap oleh para ahli diatas, maka rung lingkup dari Hukum Humaniter dapatlah kita dikelompokkan ke dalam tiga kelompok, yaitu kelompok aliran luas, kelompok aliran tengah dan kelompok aliran sempit. Jean Pictet misalnya, ia pada dasarnya penganut pengertian Hukum Humaniter dalam arti pengertian yang luas, yaitu bahwa Hukum Humaniter mencakup baik Hukum Jenewa, Hukum Den Haag dan Hak Asasi Manusia.

Sebaliknya dengan Geza Herzegh yang menganut aliran sempit, dimana menurut pendapatnya Hukum Humaniter hanya menyangkut Hukum Jenewa. Sedangkan Starke dan Haryomatoram yang defenisinya tidak diurai disini menganut aliran tengah dimana mereka menyatakan bahwa Hukum Humaniter terdiri atas Hukum Jenewa dan Hukum Den Haag24

Hampir tidak mungkin bagi siapa pun juga untuk memberi bukti dokumenter kapan dan dimana aturan-aturan mengenai Hukum Humaniter ini pertama kali timbul, dan tentunya akan lebih sulit lagi untuk menyebutkan “Pencipta” atau “penggagas” dari Hukum Humaniter tersebut. Sekalipun dalam bentuknya yang sekarng relatif baru, Hukum Humaniter Internasional atau Hukum Sengketa bersenjata, atau juga Hukum Perang, memiliki suatu sejarah yang sangat panjang. Bahkan Hukum ini sama tuanya

.

B. Sejarah dan perkembangan Hukum Humaniter

24

Nofan Herawan : Penggunaan Bom Cluster Dan Kaitannya Dengan Pelanggaran Hukum Humaniter Di Timur Tengah, 2008.

USU Repository © 2009

dengan perang peradapan manusia, dan perang sama tuanya dengan kehidupan manusia di bumi.25

Pada zaman atau masa peradapan ini para pemimpin militer baisanya memerintahkan pasukan mereka untuk menyelematkan musuh yang tertangkap, memperlakukan mereka dengan baik, kemudian juga menyelamatkan penduduk sipil musuh dan pada waktu penghentian permusuhan makan pihak-pihak yang berperang biasanya bersepakat untuk memperlakukan tawanan perang dengan baik. Sebelum peperangan dimulai, maka kedua belah pihak akan saling memberi tanda peringatan terlebih dahulu. Lalu untuk menghindari luka yang berlebihan maka ujung panah tidak akan diarahkan ke hati. Dengan segera setelah ada yang terbunuh atau terluka,

Sampai kepada bentuknya yang sekarang, Hukum Humaniter Internasional telah mengalami perkembangan-perkembangan yng sangat penjang, dalam rentang waktu yang sangat panjangitu telah banyak upaya-upaya yang dilakukan untuk memanusiawikan perang. Selama masa tersebut terdapat usaha-usaha untuk memberikan perlindungan kepada orang-oarang dari kekejaman perang dayan perlakuan semena-mena dari pihak-pihak yang terlibat perang.

Upaya-upaya tersebut, yang sering sekali mengalami pasang surut, juga mengalami hambatan-hambatan yang cukup berarti serta kesulitan-kesulitan sebagaimana akan tergambar dalam uraian-uraian berikut ini. Disini penulis akan membagi periode perkembangan Hukum Humaniter ke dalam beberapa era sebagai berikut;

B.1. Perkembangan Pada Zaman Kuno

25

Nofan Herawan : Penggunaan Bom Cluster Dan Kaitannya Dengan Pelanggaran Hukum Humaniter Di Timur Tengah, 2008.

USU Repository © 2009

pertempuran akan berhenti selama 15 hari. Gencatan senjata semacam ini sangat dihormati, sehingga para prajurit dikedua pihak ditarik dari medan pertempuran.

Juga dalam berbagai peradapan besar dalam rentang tahun 3000 s/d 1500 SM upaya-upaya seperti itu berjalan terus, hal ini dikemukakan oleh Pictet, antara lain sebagai berikut 26

Hampir serupa juga dengan yang terjadi pada bangsa Hittite, dalam melakukan peperangan mereka benar-benar menggungkan cara-cara yang sangat manusiawi. Hukum yang mereka miliki didasarkan atas keadilan dan integritas mereka. Mereka biasanya

:

Didalam adab dan kebiasaan Bangsa-bangsa Sumeria, perang sudah menjadi semacam lembaga yang telah teroganisir tentang segala sesuatunya. Ini ditandai dengan adanya pernyataan perang bila ingin atau telah disepakati untuk berperang, juga dilakukan arbitrasi dalam masalah yang berkaitan dengan perang, serta memperlakukan kekebalan bagi utusan musuh dan mengadakan perjanjian-perjanjian perdamaian.

Demikian juga dengan kebudayaan Mesir Kuno, sebagaimana yang disebutkan dalam “Seven Works of True Mercy”, bahwa pada peperangan dimasa itu ada perintah dari pimpinan militer untuk memberikan makanan, minuman, pakaian, dan perlindungan kepada pihak musuh, juga perintah untuk merawat musuh yang sakit, dan menguburkan yang mati. Perintah lain yang dianggap terlalu klise adalah pada masa itu ada perintah yang menyatakan “anda juga harus memberikan makanan kepada musuh anda”. Seorang tamu, bahkan musuh pun tak boleh diganggu, demikian kira-kira prinsip mereka pada masa itu.

26

Pictet, Jean. Development and Principles of International Humatarian Law.Henry Dunant Institute 1985 hal 7

Nofan Herawan : Penggunaan Bom Cluster Dan Kaitannya Dengan Pelanggaran Hukum Humaniter Di Timur Tengah, 2008.

USU Repository © 2009

menandatangani pernyataan atau traktat pada saat akan memulai peperangan. Para penduduk yang menyerah, yang berasal dari kota, tidak diganggu. Kota-kota dimana para penduduknya melakukan perlawanan akan di tindak secara tegas. Namun ini merupakan pengecualian terhadap kota-kota yang dirusak dan penduduknya dibantai atau dijadikan budak. Kemurahan hati mereka sangat jauh berbeda dengan bangsa Assiria yang juga memiliki kekuatan saat itu, dimana bangsa ini terkenal dengan kekejamannya dalam merebut kemenangan.

Sedangkan sistem perang pada peradapan di India sebagaimana yang tercantum dalam syair kepahlawanan Mahabatra dan Undang-Undang Manu,27

Sedangkan dalam espos sejarah peperangan di Indonesia pada masa lampau dapat kita lihat beberapa kebiasaan nenek moyang kita dalam melaksanakan hukum perang itu. Kebiasaan dan Hukum perang itu terbagi dalam beberapa periode yaitu : Periode pra-sejarah, periode Klasik, dan periode Islam. Praktek dari kebiasaan dan hukum perang yang dilakukan mereka biasanya tentang adanya suatu pernyataan perang diantara pihak-pihak yang berperang. Kemudian tentang perlakuan terhadap tawanan

bahwa para Satria dilarang untuk membunuh musuh cacat, yang sudah menyerah, dan yang luka-luka sehingga harus dipulangkan kerumah mereka setelah diobati. Selain itu ada larangan untuk mengarahkan senjata dengan sasaran menusuk ke hati juga tidak boleh menggunakan panah beracun dan panah api, telah adanya pengaturan mengenai penyitaan hak milik musuh dan syarat-syarat bagi penahanan para tawanan, juga mengenai dilarangnya pernyataan tidak menyediakan tempat tinggal.

27

Kitab Undang-undang Manu merupakan kitab undang-undang tertua yang ada di India yang dipakai sebagai dasar untuk melaksanakan hubungan dengan negara-negara lain, serta berisi cerita tentang saksi yang akan dijatuhkan kepada seseorang yang tidak memiliki perintah Raja.

Nofan Herawan : Penggunaan Bom Cluster Dan Kaitannya Dengan Pelanggaran Hukum Humaniter Di Timur Tengah, 2008.

USU Repository © 2009

perang, larangan untuk menjadikan wanita anak-anak sebagai sasaran perang, dan juga tentang pengaturan untuk mengakhiri perang. Dalam sebuah prasasti yang ditemukan di Sumatera Selatan (Prasasti Talang Tuo) misalnya, berisikan berita Raja yang memuat tentang kutukan dan Ultimatum. Jadi bagi mereka yang melawan perintah Raja, akan diserang oleh Bala tentara Raja. Begitu pula pada masa kerajaan Gowa diketahui adalanya perintah raja yang memerintahkah memperlakukan tawanan perang dengan baik.

B.2. Perkembangan Pada Zaman Abad Pertengahan

Perkembangan Hukum Humaniter pada zaman abad pertengahan ini banyak dipengaruhi oleh ajaran-ajaran dari berbagai Agama. Dari agama Kristen, agama Islam, juga dari ajaran-ajaran filosofi kesatrian.

Dalam agama Kristen diajarkan system perang yang menyumbangkan banyak ide bagi terciptanya konsep “Perang yang Adil” atau Just War. Sedangkan dalam Islam ajaran perang tercantum dalam Kitab suci agama Islam “Al-Quran” dimana didalam surah AL-Baqarah: 190, 191, Surah Al-Anfal: 39, Surah Al-Taubah: 5, Surah Al-Haj: 39, dijelaskan secara gamplang apa dan bagaimana kedudukan perang dalam Islam, dimana secara garis besar dijelaskan bahwa dalam Islam perang itu dianggap sebagai suatu sarana untuk membela diri, bukan untuk mencari musuh apalagi untuk unjuk kekuatan, perang dalam Islam digunakan untuk menghancurkan kemungkaran yang ada. Sedangkan kalau melihat dari prinsip filosofi kesatriaan yang berkembang pada zaman abad pertenghan saat itu, kita dapat melihat bahwa bagaimana mereka membuat pengumuman perang dan pelarangan penggunaan beberapa senjata yang dianggap tidak perlu.

Nofan Herawan : Penggunaan Bom Cluster Dan Kaitannya Dengan Pelanggaran Hukum Humaniter Di Timur Tengah, 2008.

USU Repository © 2009

Kemajuan mengenai Hukum Humaniter yang signifikan mulai terlihat pada abad ke-18, terutama sekali setelah berakhirnya perang Napoleon. Perubahan besar terjadi diantara tahun 1850 sampai pecahnya perang dunia I. disini praktek-praktek Negara kemudian menjadi hukum dan kebiasaan bagi negara tersebut dalam berperang (Jus in Bello28

Konvensi 1864, yaitu Konvensi bagi perbaikan keadaan tentara yang luka ataupun cedera di medan peperangan, terutama perang darat. Konvensi 1864 dipandang sebagai konvensi yang mempelopori lahirnya konvensi-konvensi Jenewa berikutnya yang berkaitan dengan perlindungan korban perang. Konvensi ini merupakan langkah pertama dalam mengkodifikasikan ketentuan perang didarat. Berdasarkan konvensi ini maka unit-unit dan personil kesehatan bersifat netral, tidak boleh diserang dan tidak boleh

dihalangi-).

Salah satu tonggak penting dalam perkembangan Hukum Humaniter ini adalah dengan berdirinya Organisasi Palang Merah dan di tanda tanganinya Konvensi bersama di Jenewa yang dikenal dengan Konvensi Jenewa pada tahun 1864. Pada waktu yang hampir bersamaan di Amerika Serikat Presiden Abraham Lincoln meminta Lieber, yaitu seorang pakar Hukum imigran Jerman, untuk menyusun suatu aturan dalam perang. Hasilnya, lahirlah Instructions for Government of Armies of the United States atau disebut juga Lieber Code, dan dipublikasikan pada tahun 1863. Kode lieber ini memuat semua aturan-aturan secara rinci pada semua keadaan dan tahapan dalam perang darat, tindakan-tindakan perang yang benar, perlakuan terhadap sipil, perlakuan terhadap kelompok orang-orang tertentu seperti tawanan perang, bagaimana penanganan mereka yang cedera dan sebagainya.

28

Nofan Herawan : Penggunaan Bom Cluster Dan Kaitannya Dengan Pelanggaran Hukum Humaniter Di Timur Tengah, 2008.

USU Repository © 2009

halangi dalam menjalankan tugasnya. Begitu pula masalah penduduk setempat yang membantu pekerjaan kemanusiaan bagi yang luka dan mati baik kawan ataupun lawan tidak boleh dihukum. Konvensi ini juga memperkenalkan tanda palang merah di atas dasar putih sebagai tanda pengenal bagi bangunan-bangunan yang digunakan sebagai posko kesehatan juga tanda pengenal bagi personil-personil kesehatan. Tanda palang Merah diatas dasar putih inilah yang kemudian menjadi lambang dari palang merah internasional atau International Committee of the Red Cross yang sebelumnya bernama International Committee For the Aid of the Wounded,International Committee For the Aid of the Wounded, yang didirikan oleh beberapa warga Jenewa dan Henry Dunant pada tahun 1863.

Dengan demikian, tidak seperti pada masa-masa zaman sebelum ini yang terjadi melalui proses hukum kebiasaan, maka pada masa ini perkembangan-perkembangan yang sangat penting bagi hukum Humaniter Internasional, dikembangkan lewat atau melalui Traktat-traktat umum yang ditandatangani oleh mayoritas Negara-negara anggota setelah

Dokumen terkait