INDIKATOR SATUAN TARGET REALISASI %CAPAIAN
Pembangunan jaringan gas kota
- Jumlah wilayah dibangun jaringan gas kota
- Rumah tangga tersambung gas kota
Lokasi SR 2 8.000 2 7.636 100 95 Pemanfaatan gas dalam negeri :
- Presentase alokasi gas domestik
- Fasilitasi pembangunan FSRU
% unit 59 1 55 1 93 100
Pembangunan infrastruktur SPBG Lokasi 2 3 150
Pembangunan kilang mini LPG (multiyears) *) unit 1 1 63,83
Pada 6 Juli 2015 terbit Peraturan Menteri ESDM nomor 20 tentang Pengoperasian Jaringan Distribusi Gas Bumi untuk Rumah Tangga yang Dibangun oleh Pemerintah dan adanya penugasan pengalihan pengoperasian jargas eksisting yang dikelola oleh BUMD kepada BUMN melalui Keputusan Menteri ESDM nomor 3328 tentang Penugasan kepada PT Pertamina (Persero) serta nomor 3337 kepada PT Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk dalam Pengoperasian Jaringan Distribusi Gas Bumi untuk Rumah Tangga yang Dibangun oleh Pemerintah.
Hal ini dilakukan dengan harapan BUMN mampu
melakukan pengembangan pembangunan secara masif dalam rangka mewujudkan diversiikasi energi dan meningkatkan pemanfaatan gas bumi untuk bahan bakar sektor rumah tangga.
Berdasarkan Keputusan Menteri tersebut, beberapa kota telah mulai dilakukan pengalihan pengoperasian oleh PT Pertamina (Persero) dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero), Tbk yaitu: Kota Sidoarjo dan Kota Surabaya per tanggal 22 November 2015, Kota Tarakan 15 Desember 2015. Kota yang lain masih dalam proses pengalihan pengoperasian dan menentukan skema kerjasama yang tepat antara BUMD dan BUMN dalam mengoperasikan jargas. Pada tahun 2015, pembangunan Jargas dilaksanakan di Kota Lhoksukon dan Kota Pekanbaru yang dipecah menjadi 3 paket pekerjaan yaitu pembangunan pipa transmisi Lhoksukon, pembangunan pipa distribusi Lhoksukon, dan pembangunan jargas Pekanbaru.
Hingga 31 Desember 2015, kegiatan konstruksi
pipa transmisi jargas Kota Lhoksukon mencapai 87,075%, konstruksi pipa distribusi Kota Lhoksukon mencapai 89,345%, dan konstruksi pembangunan jargas Pekanbaru mencapai 76%. Sisa konstruksi dilanjutkan dengan mekanisme yang terdapat dalam Peraturan Menteri Keuangan 194/PMK.05/2014 tentang Penyelesaian Pekerjaan Melewati Akhir Tahun Anggaran.
Pelaksanaan konstruksi Jargas T. A. 2015 tidak dapat terselesaikan 100% karena terdapat banyak faktor antara lain: pekerjaan pelelangan Jargas mulai T. A. 2015 dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) berdasarkan penugasan dari Kementerian ESDM. Masa peralihan tersebut yang membuat proses lelang mundur dari perencanaan yang mengakibatkan pekerjaan tidak dapat terselesaikan di akhir T. A. 2015.
Pembangunan isik Jargas meliputi pembangunan
Metering Regulation Station (MR/S) (Kota
Lhoksukon), Regulation Sector (RS) yang dapat memenuhi maksimal 400 Sambungan Rumah (SR), jaringan pipa yang panjang dan susunan diameter yang bervariasi (Carbon Steel (CS) Ø 4 inch, pipa
PolyEthylene (PE) berukuran Ø 180 mm, Ø 90 mm, Ø 63 mm, Ø 32 mm, dan Ø 20 mm), serta meter dan regulator pada setiap sambungan rumah.
Berikut rincian pembangunan isik jaringan gas bumi untuk rumah tangga tahun anggaran 2015:
• PembangunanJaringanGasKota
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI
62
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI63
Tabel 15. Realisasi Pembangunan Jargas 2015
Tabel 16. Kebijakan Gas Bumi Indonesia
Grafik16. Pemanfaatan Gas Bumi (status Oktober 2015)
No PembangunanJaringanGasBumi Sambungan
Rumah (SR) Kecamatan / Kelurahan / Desa 1 Pembangunan Jaringan Gas Bumi untuk
Rumah Tangga di Pekanbaru 3.713
3 Kelurahan yaitu : Tanjung Rhu, Pesisir, dan Sekip
2 Pembangunan Jaringan Gas Bumi untuk Rumah Tangga di Lhoksukon
a. Pembangunan Jaringan Transmisi - -
b. Pembangunan Jaringan Gas Bumi
untuk Rumah Tangga 3.923
2 Kecamatan yaitu Tanah Luas dan Lhoksukon
• PemanfaatanGasDalamNegeri
- Presentasealokasigasdomestik
UU 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi mengamanatkan bahwa pemerintah menjamin efesiensi dan efektiitas tersedianya minyak dan gas bumi baik sebagai sumber energi maupun sebagai
Graik di bawah ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan rata-rata 9% sejak tahun 2003 hingga tahun 2015, dan sejak tahun 2013 volume gas
bahan baku untuk kebutuhan dalam negeri. Untuk itu, pada Renstra Ditjen Migas 2015 – 2019 terdapat indikator tersebut di mana perencanaan hingga tahun 2019 disusun sebagaimana tabel berikut:
untuk memenuhi kebutuhan domestik lebih besar dibandingkan ekspor.
SasaranProgram/SasaranKegiatan/
Indikator 2015 2016 2017 2018 2019
Prosentase Alokasi Gas Domestik 59% 61% 62% 63% 64%
1480 1466 1513 2341 2527 2913 3323 3379 3267 3631 3774 3785 3703.36 4937 4416 4202 4008 3820 3775 3681 4336 4078 3550 3402 3237 3047.89 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 BBTUD Domestik Ekspor
Hingga Oktober tahun 2015, realisasi alokasi gas
untuk kebutuhan domestik sebesar 55% terhadap target 59% pada tahun 2015 atau tercapai sebesar 93%.
Kurang optimalnya realisasi penyerapan domestik dikarenakan menurunnya demand oleh konsumen dalam negeri akibat dari melemahnya perekonomian. Selain itu, kendala teknis dan operasional di lapangan migas juga menjadi kendala dalam kurang optimalnya pemanfaatan gas untuk domestik.
Isu-isu strategis yang berkembang dan mempengaruhi kebijakan untuk penetapan alokasi
gas bumi untuk kebutuhan dalam negeri meliputi: - Telah diterbitkan Permen ESDM Nomor 37
Tahun 2015 tentang Ketentuan dan Tata Cara
PenetapanAlokasidanPemanfaatansertaHarga
Gas Bumi telah dibahas dengan stakeholder. - Telah diinalisasi draft Perpres Penyesuaian
HargaGasuntukIndustriTertentu.
Dalam rangka pengelolaan gas bumi sebagi penggerak kegiatan ekonomi dan pendorong bagi perwujudan ketahanan energi nasional, pemerintah melakukan perubahan paradigma tata kelola gas bumi Indonesia. Kebijakan gas bumi mengalami perubahan struktur seperti yang tertera dalam tabel di bawah ini:
Kebijakan Awal Arah Kebijakan
Tujuan Penyelenggaraan kegiatan usaha Gas Bumi bertujuan untuk meningkatkan pendapatan negara untuk memberikan konstribusi sebesar-besarnya bagi perekonomian nasional dan mengembangkan serta memperkuat posisi industri dan perdagangan Indonesia.
Tujuan Penyelenggaraan kegiatan usaha Gas Bumi untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional.
Pemanfaatan a. Pemanfaatan Gas Bumi untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri yang akan digunakan sebagai sumber energi, bahan baku, maupun keperluan lainnya dengan memperhatikan keekonomian harga Gas Bumi yang bersangkutan;
b. Sumber gas yang besar dan berada di remote area dimanfaatkan untuk ekspor dikarenakan belum adanya infrastruktur serta demi kepentingan ketahanan ekonomi.
Pemanfaatan a. Mengutamakan pemanfaatan gas bumi sebagai bahan baku dan pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri;
b. Meningkatkan pemanfaatan bahan bakar gas, khususnya di sektor transportasi dan rumah tangga, antara lain melalui percepatan pembangunan infrastruktur gas dan pengalihan subsidi Bahan Bakar Minyak.
Pelaksana Penguasaan oleh Negara atas Gas Bumi diselenggarakan oleh Pemerintah sebagai Pemegang Kuasa Pertambangan. Dan pengusahaannya dilaksanakan oleh BadanUsahaberdasarIzinUsaha.
Penyelenggaraan Gas Bumi Melalui Pipa oleh Pemerintah dan dilaksanakan oleh Badan Usaha Penyangga.
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI
64
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI65
64
65
BAB I PENDAHULUAN
BAB II PERENCANAAN KINERJA
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI TAHUN 2015
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI TAHUN 2015 BAB IV PENUTUP LAPORAN
KINERJA
2015
LAPORAN
Kebijakan Awal Arah Kebijakan Pelaksanaan Pemanfaatan Gas Bumi bagi
konsumen dilaksanakan melalui proses penunjukan penjual Gas Bumi bagian Negara:
a. Alokasi gas bagi BUMD / Energi Daerah Penghasil tidak dimanfaatkan bagi keperluan penyediaan listrik dan belum mendukung peningkatan perekonomian daerah penghasil; b. Alokasi gas bagi BUMD
cenderung melahirkan trader– trader tanpa fasilitas jaringan distribusi gas bumi;
c. Pelaksanaan kegiatan usaha Gas Bumi dilakukan berdasarkan Rencana Induk Jaringan Transmisi dan Distribusi Gas Bumi Nasional.
Pelaksanaan a. Pelaksanaan kegiatan usaha Gas Bumi Melalui Pipa dilaksanakan oleh BUMN, Badan Usaha dan BUMDdenganIzinUsaha; b. Pelaksanaan kegiatan usaha Gas
Bumi Melalui Pipa dilaksanakan dengan penawaran langsung (prinsip irst come irst serve); c. Badan Usaha Penyangga melakukan
agregasi harga gas, menjamin penyediaan dan pendistribusian harga sampai kepada konsumen akhir serta menstimulus percepatan pembangunan infrastruktur (perlu dipertimbangkan playing field bagi Badan Usaha Niaga (Swasta) lain; d. Diperlukan dokumen Rencana
Induk Pengembangan Infrastruktur Gas Bumi Nasional (untuk mengakomodir pengusahaan Gas bumi yang berasal dari LNG).
Pemerintah menyusun fondasi dan perangkat administrasi serta hukum dalam rangka perubahan tata kelola gas bumi Indonesia tersebut namun hal yang paling utama yang perlu segera dilaksanakan adalah evaluasi dan pengawasan terhadap trader gas bumi di Indonesia. Untuk itu pemerintah menerbitkan
Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi melihat bahwa pada dasarnya Pembangunan FSRU/ Regasiikasi on-shore/LNG terminal merupakan salah satu cara pendistribusian gas bumi yang cukup handal untuk pemenuhan kebutuhan gas, namun
Peraturan Menteri ESDM No. 37 Tahun 2015 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penetapan Alokasi
dan Pemanfaatan serta Harga Gas Bumi yang
menggantikan Peraturan Menteri ESDM No. 3 Tahun 2010 tentang Alokasi dan Pemanfaatan Gas Bumi untuk Pemenuhan Kebutuhan Dalam Negeri.
Untuk itu sampai dengan tahun 2015, pemerintah kembali memfasilitasi pembangunan Terminal Regasiikasi dan Penyimpanan di Arun NAD dengan kapasitas 3 MTPA. Regasiikasi Arun dibangun dengan mengonversikan Arun LNG plant, di mana biaya yang dibutuhkan lebih rendah daripada
mendirikan terminal regasiikasi baru. Hal ini
merupakan proyek PT. Pertamina (Persero) melalui PT Perta Arun Gas dengan kapasitas regasiikasi LNG Arun sebesar 400 MMSCFD (3 MTPA).
Tahapan pembangunan Terminal Regasiikasi dan Penyimpanan Arun dimulai dengan FID (Final
SasaranProgram/SasaranKegiatan/Indikator 2015 2016 2017 2018 2019 Fasilitasi pembangunan FSRU/Regasiikasi on-shore/LNG
terminal 1 2 1 1 2
Gambar 12. Lokasi FSRU Arun
• FasilitasipembangunanFSRU
Sampai dengan tahun 2014, Pemerintah telah memfasilitasi 2 pembangunan Floating Storage Regasification Unit (FSRU) yaitu FSRU Nusantara Regas di DKI Jakarta (status beroperasi) dan FSRU Labuhan Maringgai di Lampung (status beroperasi).
Berdasarkan pengalaman kinerja Renstra 2010 – 2014 terhadap fasilitasi Pembangunan Regasiikasi/ Terminal/FSRU, Ditjen Migas mendapatkan penugasan yang tertuang dalam renstra Ditjen Migas 2015 – 2019 berupa:
bukan berarti pembangunan tersebut wajib secara jumlah output tetapi bagaimana output tersebut dapat memenuhi outcome yaitu pemenuhan kebutuhan gas bumi domestik.
InvestmentDecision) pada 15 Februari 2013. Regas EPC dilaksanakan dalam waktu 18 bulan dan selesai pada November 2014, di mana mengalami kemunduran terhadap target penyelesaian pada September 2014.
HalinidisebabkanolehkomitmenekspormelaluiLNG
Arun dari EMOI terlambat dari rencana Agustus 2014 menjadi Oktober 2014, selain itu terdapat perubahan pekerjaan dari regas ditambah Liquefied Natural Gas
(LNG)HubsehinggaGas In dimulai pada 29 Januari 2015. Fasilitas Receiving dan Regastification Terminal
ini terintegrasi dengan pipa transmisi Arun-Belawan dengan kapasitas pipa sebesar 200 MMSCFD. Pembangunan pipa Arun-Belawan sepanjang 340 km ini dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan gas bumi di Wilayah Aceh dan Sumatera Utara.
Supply dari Kilang LNG Bontang dan fasilitas LNG Tangguh, Papua Barat dimanfaatkan untuk mentransportasikan gas sebagai pemenuhan kebutuhan listrik dan industri di Medan melalui pipa Arun - Belawan, dengan konsumen 1 PLN Belawan, 2 Kawasan Industri Medan (KIM), dan 3 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Seperti yang sudah dijelaskan di atas terkait peran pembangunan Pembangunan FSRU/Regasiikasi
on-shore/LNG terminal, oleh karena itu dalam memfasilitasi Pembangunan fasilitas Arun LNG
Receiving dan Regasification Terminal, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi melakukan rapat koordinasi dan melihat untuk dapat dievaluasi terkait pola distribusi dan bisnis kerja dari Arun ini mengingat peruntukan dalam memenuhi kebutuhan demand
kelistrikan dan industri di Aceh dan Sumatera Utara di mana telah ditetapkan alokasi LNG untuk kebutuhan PT PLN Persero sebesar 14 kargo melalui fasilitas regasiikasi Arun oleh Menteri ESDM.
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI
66
DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI DIREKTORAT JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI67
Capaian kinerja pembangunan infrastruktur SPBG pada ketiga lokasi tersebut adalah sebagai berikut: - Pelaksanaan Pembangunan SPBG Mother
Station di Balikpapan sampai dengan tanggal 31 Desember 2015 meliputi pondasi main equipment yang sudah dicor dan pipeline sudah 20 joint dari total 99 joint.
- Pelaksanaan Pembangunan SPBG OnlineStation
di Bekasi sampai dengan tanggal 31 Desember 2015 meliputi equipment yang sudah onbase dan
canopydispenserprogress 95%.
- Pelaksanaan Pembangunan SPBG Online Station di Depok sampai dengan tanggal 31 Desember 2015 meliputi main equipment yang sudah
onbase, pipeline ROW sudah 1,8 km dari 4,8 km
danmasihterdapatkendaladidalamperizinan.
Sejak tahun 2010, Ditjen Migas telah menganggarkan pembangunan kilang mini LPG yang dimulai dari pekerjaan FEED, UKL/UPL, kajian kelembagaan dan pada tahun 2012 dilakukan pembebasan lahan dan pengurusan perijinan.
Pada tahun 2012, telah dibebaskan lahan seluas
3,2 Ha di desa Sekayu, Musi Banyuasin, Sumatera
Selatan. Dasar pemilihan lokasi adalah dekat dengan sumber bahan baku yaitu Lapangan Jata yang berada di wilayah PT Medco E&P Indonesia. Selain itu, lokasi pembangunan kilang mini LPG telah mendapat persetujuan lokasi dari Bupati Musi Banyuasin.
Pada tahun 2013, telah dipilih kontraktor EPC Kilang Mini melalui proses tender dengan masa berlaku kontrak selama 15 bulan (Multi Years Contract) dengan anggaran Rp 100 milyar.
Secara umum terdapat kendala pada proses
pengadaan lahan dan kendala perizinan oleh
pemerintah daerah setempat yang tidak dapat direalisasikan secara paralel dan ditambah dengan adanya demo dan penolakan untuk pembangunan SPBG dari warga sekitar. Kendala lahan dapat berupa nilai penawaran harga oleh pemilik lahan untuk pembangunan SPBG yang melebihi harga yang telah disampaikan oleh appraisal KJPP dan adanya perbedaan antara hasil pengukuran yang dilakukan oleh Badan Pertanahan Nasional dengan pemilik lahan untuk kepentingan pembangunan SPBG, sehingga secara teknis harus diselesaikan terlebih dahulu yang akan membawa dampak pada bertambahnya waktu untuk pembangunan SPBG secara keseluruhan.
Sampai dengan akhir tahun 2015, progress pembangunan kilang mini LPG adalah 63,83%, penyebab keterlambatan pembangunan kilang mini LPG tersebut adalah:
1. Belum datangnya peralatan utama yang diimpor dari China, di antaranya adalah Gas Dryer,
Refrigerant System, dan Gas Compressor Set Capacity 2,2 MMSCFD;
2. Belum dilanjutkannya fabrikasi peralatan di
Workshop Cilegon;
3. Terhentinya pekerjaan di site sejak tanggal 16 November 2015.
Beberapa opsi yang akan dilakukan untuk penyelesaian proyek kilang mini LPG, adalah:
1. Penugasan khusus kepada PT Pertamina (Persero); atau
2. Pelelangan sisa pekerjaan kepada kontraktor lain.
• PembangunanInfrastrukturSPBG
• PembangunanKilangMiniLPG (Multiyears)
Sesuai baseline sasaran kerja Ditjen Migas awal Tahun 2015 dan tambahan anggaran dalam APBN-P 2015 untuk pembangunan sarana bahan bakar gas (BBG), direncanakan akan dilaksanakan kegiatan pembangunan infrastruktur SPBG sebanyak 2 lokasi (sesuai dengan anggaran APBN T. A. 2015). Selain itu terdapat tambahan pengerjaan pembangunan infrastruktur sesuai dengan Renstra 2015 – 2019 di mana pada tahun 2015 ditargetkan pembangunan SPBG Mother Station sebanyak 6 unit, SPBG Online Station
sebanyak 7 unit, SPBG DaughterStation 6 unit, Gas Transport Module (GTM) sebanyak 6 unit, dan ruas pipa distribusi sebanyak 2 ruas yang dibebankan pada anggaran APBN T. A. 2015. Dari target total pembangunan SPBG tahun 2015 sebanyak 21 unit SPBG, pada awal tahun 2015 direncanakan akan dibangun 22 unit yang terdiri dari beberapa calon
lokasi lahan yang pelaksanaannya sesuai dengan tugas yang diberikan kepada Tim Pendamping Pengadaan Lahan ref. Surat Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi No. 257.K/73/ DJM.T/2015 pada tanggal 29 April 2015 tentang Tim Pendamping Pengadaan Lahan untuk Kegiatan Pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas di Provinsi DKI Jakarta, Banten Jawa Barat, Jawa Tengah dan Kalimantan Timur Tahun Anggaran 2015.
Namun pada progress-nya, hanya terdapat 18 (delapan belas) lahan dari target awal sejumlah 22 (dua puluh dua) lahan calon SPBG yang terealisasi pengadaannya. Sedangkan terdapat 4 (empat) lahan yang tidak dapat diteruskan proses pengadaannya dikarenakan adanya pertimbangan teknis dan non-teknis, antara lain:
• PembangunanSaranaBahanBakarGas(BBG)
No. Wilayah LokasiTanah PenyebabPembatalan
1. Tj. Priok O/L Beberapa opsi
lahan
− Opsi lokasi tidak memenuhi spesiikasi (ukuran, harga, potensi
market, posisi lahan, kelengkapan dokumen)
− Timeline/Waktu pengadaan tanah yang sudah tidak memadai untuk disesuaikan dengan jadwal EPC
2. Cilegon D/S
3. Cirebon O/L
4. Cakung D/S Lahan Aset
Pertamina
− Masih ada permasalahan hukum
− Masih membutuhkan waktu untuk pengosongan lahan
− Timeline/Waktu pengadaan tanah yang sudah tidak memadai untuk disesuaikan dengan jadwal EPC