Gambar 1 Skema aliran udara di sekitar spot tekanan rendah (di Belahan Bumi Utara). Graden tekanan di
gambarkan oleh panah berwarna biru.
(Sumber:http://www.windows.ucrar.edu/earth/images/
bumi, jarang sekali terjadi siklon di wilayah 5 derajat LU/
LS apalagi sampai di wilayah 0 derajat, tetapi kenyataan
nya ada juga siklon yang sampai wilayah 5 derajat LU/
LS seperti kejadian siklon Vamei tahun 2001 dan siklon Agni tahun 2004. Di Atlantik utara dan Pasifik timur laut, angin pasat atau angin yang bergerak ke arah barat membawa gelombang tropis ke arah barat, dari Afrika ke laut Karibia, lalu ke Amerika utara terakhir sampai di laut Pasifik tengah. Gelombang tropis ini merupakan
Informasi Data INDERAJA
prekursor bagi siklon tropis. Di lautan Hindia dan Pa
sifik barat, perkembangan siklon lebih ditentukan oleh gerakan musiman dari palung monsun atau zona tekan
an rendah atau ITCZ (Inter Tropical Convergence Zone) dibandingkan oleh gelombang. Siklon tropis juga dapat dibangkitkan oleh sistem lain seperti sistem tekanan rendah, sistem tekanan tinggi, front panas dan front di
ngin (Velasco and Fritsch, 1987; Chen and Frank, 1993;
Emanuel, 1993; Zehr, 1992).
Tempat terjadi yang berdekatan dengan wilayah In
donesia ditambah dengan sistem pemicunya yang sangat berhubungan dengan kondisi cuaca dan iklim Indonesia, maka siklon tropis merupakan unsur atmosfer yang per
lu dikaji. Selain meneliti variabilitasnya dan perilakunya dipandang perlu untuk meneliti dampak siklon tropis terhadap atmosfer Indonesia, khususnya curah hujan.
Terlebih akhirakhir ini siklon tropis mengalami pening
katan frekuensi dan kekuatan (Emanuel, 2005; Webster et al., 2005).
Untuk mempelajari perilaku dan dampak siklon tro
pis terhadap kondisi atmosfer Indonesia digunakan data radar presipitasi (PR), TRMM (Tropical Rainfall Measu
ring Mission), Microwave Imager (TMI) dan VIRS (Vis
ible and Infrared Scanner) yang diunduh dari http://
trmm.gsfc.nasa.gov untuk periode tahun 2008 dan 2009 serta data angin NNR (NCEP/ NCAR Reanalysis) dari http://www.esrl.noaa.gov/psd/. PR mempunyai resolu
si horisontal ~ 5 km dan dapat memberikan informasi struktur vertikal hujan dan salju mulai permukaan sam
pai ketinggian 20 km. TMI adalah sensor gelombang mikro yang dirancang untuk memberikan informasi kuantitas curah hujan melalui pengukuran jumlah uap air, jumlah air dalam awan dan intensitas curah hujan.
VIRS adalah pemantau radiasi yang datang dari bumi dalam 5 wilayah spektral, dari visibel sampai infrared, atau dari 0,63 sampai 12 mikrometer. Wilayah penelitian dibatasi di teluk Benggala dan lautan Pasifik Barat (di tunjukkan dengan anak panah pada Gambar 2), sebagai lokasi terjadinya siklon yang berdekatan dengan wilayah Indonesia.
Siklon di Pasifik Barat
Pada tahun 2008, data gabungan dari PR, TMI dan VIRS (http://trmm.gsfc.nasa.gov) menunjukkan ter
jadi 74 kejadian siklon dari 47 siklon yang berbeda di la utan Pasifik barat. Berarti, ada siklon yang terjadi lebih
Gambar 2. Peta lokasi badai dan lokasi penelitian (Sumber:http://www.windows.ucar.edu/earth/images/)
Informasi Data INDERAJA
Gambar 3. Frekuensi kejadian siklon di lautan Pasifik barat tahun 2008 dari satu kali yaitu siklonsiklon 96W, INVEST,
91W, 90W, 97W, 96W, 24W, 21W, 16W, 98W dan VONGFONG (Gambar 3).
Frekuensi kejadian siklon 96W dan 24W tertinggi selama tahun 2008 yaitu 5 kejadian.
Dari 47 siklon baru 21 yang sudah diberi nama sisanya hanya diberi kode. Siklon terjadi ham
pir sepanjang tahun dengan waktu hidup satu sampai 11 hari. Siklon SINLAKU adalah siklon dengan waktu hidup terlama tahun 2008, yaitu 11 hari. Kekuatan siklon yang diidentifikasi dengan estimasi kecepatan angin permukaan maksimum sangat bervariasi (Cooper et al., 2008). Kecepatan angin pada siklon tahun 2008 bervariasi mulai 33 knot sampai 145 knot. Siklon JANGMI mempunyai kecepatan angin terbesar yaitu 145 knot, yang terjadi mulai 23 September sampai 1 Oktober 2008 (Tabel 1). Bentuk vi
sual siklon JANGMI pada tanggal 26 September 2008 yang terekam oleh PR, TMI dan VIRS di
perlihatkan pada (Gambar 4). Gambar terse
but juga menunjukkan distribusi spasial curah hujan pada dinding siklon. Garis penampang yang dibuat melalui siklon tersebut menunjuk
kan aktivitas hujan yang aktif pada dinding si
klon, sedangkan pada mata siklon cuaca tampak cerah. Semakin jauh dari mata siklon curah hu
jan semakin kecil. Curah hujan tertinggi berada pada wilayah dengan jarak kurang dari 1 derajat (~111 km) dari mata siklon. Salah satu siklon dengan kecepatan angin rendah yaitu 40 knot
Nama Periode Peringatan V
(knot) P
tS 01W 13 16 Januari 13 40 (mb)992
tY 02WNeoguri 14 20 April 23 100 948
StY 03WRammasum 7 12 Mei 23 135 921
tS 04WMatmo 14 16 Mei 9 40 992
tY 05W Halong 15 20 Mei 19 75 966
tY 06W Nakri 27 Mei 3 Juni 29 125 929
tY 07W Fengshen 18 25 Juni 29 110 940
tY 08WKalmaegi 14 18 Juli 19 90 955
tY 09W FungWong 24 28 Juli 18 95 951
tS 10WKammuri 4 6 Agustus 12 50 985
tS 11W 13 14 Agustus 7 35 996
tS 12WVongfong 14 16 Agustus 9 55 981
tY 13WNuri 17 22 Agustus 24 100 948
tS 14W 26 28 Agustus 7 35 996
tY 15W Sinlaku 8 20 September 47 125 929
tS 16W 10 11 September 8 35 996
tS 17W 14 September 1 40 992
tY 18WHagupit 18 24 September 24 125 929
StY 19WJangmi 23 September 1
Oktober 29 145 914
tS 20WMekkhala 28 30 September 7 55 981
tS 21WHigos 29 September 4
Oktober 21 45 988
tS 22W 14 15 Oktober 6 35 996
tS 23WBavi 18 20 Oktober 6 50 985
tS 24W Maysak 7 10 November 14 55 981
tS 25WHaishen 15 16 November 4 40 992
tS 26WNoul 16 17 November 7 40 992
tY 27W Dolphin 10 18 Desember 33 90 955
0
DOLPHIN 27W 96W INVESt 91W 90W NOUL 97W MAYSAK 96W 94W 24W 93W BAVI IN2 22W HIGOS MEKKHALA JANGMI 21W 99W HAGUPIt SINLAKU 17W 16W 98W 95W 14W NURI 13W VONGFONG 92W 11W PHANFONE KAMMURI 10W FUNG_WONG KALMAEG 08W FENGSHEN NAKRI HALONG 04W RAMMASUN 03W NEOGURI 02W 01W
1 2 3 4 5 6 7 8 9 3 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47
Frekuensi
Nama siklon
2008
Keterangan:
Angka dalam kolom Peringatan menunjukkan jumlah peringatan yang dikeluarkan NASA terkait meningkatnya kekuatan angin pada siklon.
Tabel 1. Siklon tropis di Pasifik barat tahun 2008 (Sumber: Cooper et al. , 2008)
Informasi Data INDERAJA
Gambar 5. Kiri: Gambar visual dan curah hujan siklon HIGOS, Kanan: Penampang curah hujan di tengah siklon dari
titik A sampai titik B (http://trmm.gsfc.nasa.gov)
Tabel 2. Siklon tropis di Pasifik barat tahun 2009 (Sumber: Cooper et al. , 2008)
Nama Periode Peringatan V
(knot) P
Wan 12 20 September 33 140 918
tY 16W Koppu 13 15 September 9 75 966
tY 17W Ketsana 25 29 September 19 90 955
tD 18W 27 30 September 13 30 1000
StY 19W Parma 27 September 14 Oktober 68 135 921 StY 20W Melor 29 September 9 Oktober 38 150 910
tS 21W Nepartak 8 13 Oktober 20 55 981
StY 22W Lupit 14 26 Oktober 49 918
tY 23W Mirinae 26 Oktober 2 November 31 140 955
tD 24W 2 3 November 2 90 1003
tS 25W 7 9 November 10 25 988
StY 26W Nida 22 November 03 Desember 45 150 910
tD 27W 23 24 November 5 30 1000
tD 28W 5 Desember 1 30 1000
tS 01C Maka 14 18 Agustus 15 45 988
tD 02C 30 Agustus 2 30 1000
Gambar 4. Kiri: Gambar visual dan curah hujan siklon JANGMI, Kanan: Penampang curah hujan di tengah siklon
dari titik A sampai titik B
adalah siklon HIGOS, bentuk visualnya diperlihatkan pada (Gambar 5). Siklon HIGOS adalah salah satu siklon yang bentuknya tidak simetris dan mata siklon juga kurang jelas terlihat. Ini merupakan salah satu tanda siklon yang lemah.
Pada tahun 2009, terjadi 76 kejadian dari 50 jenis siklon di lautan Pasifik Barat.
Siklonsiklon yang terjadi lebih dari satu kali pada tahun 2009 adalah 99W, 98W, 97W, 96W, 95W, 94W, 93W, 92W, 91W, 90W dan AL (Gambar 6). Siklon terjadi hampir sepanjang tahun, dengan waktu hidup (life time) satu sampai empat be
las hari. Siklon PARMA adalah siklon dengan waktu hidup terlama tahun 2009, yaitu 18 hari. Kecepatan angin dalam si
klon bervariasi dari 25 knot (siklon 24 W) sampai 150 knot (Tabel 2).
Dari uraian di atas nampak bahwa frekuensi kejadian siklon tahun 2008 dan 2009 tidak menunjukkan perbedaan yang berarti. Dari perbandingan antar tahun tersebut juga teridentifikasi bahwa tidak semua siklon mempunyai periode satu ta
hun atau dengan kata lain siklon tidak se
lalu berulang setiap tahun, bahkan siklon yang muncul tahun 2008 berbeda dengan yang terjadi pada tahun 2009.
Siklon di Teluk Benggala
Di teluk Benggala, pada tahun 2008 terjadi 14 kejadian dari 13 jenis siklon,
Informasi Data INDERAJA
0 1 2 3 4 5 6
91W AL 97W 28W NIDA 96W 27W 93W 92W 25W 98W 24W
MIRINAE NONAME LUPIt 22W
PARMA NEPARtAK MELOR 18W 19W
KEtSANA 99W 17W CHOIWAN KOPPU 16W MUJIGAE DUJUAN 95W 13W 90W
VAMCO 11W 94W EtAU MORAKOt 10W GONI MOLAVE 07W 06W SOUDELOR 05W
NANG
KA 04W LINFA KUJIRA CHANHOM INVESt
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011121314151617181920212223242526272829303132333435363738394041424344454647484950
Nama siklon 2009
Tabel 3. Siklon tropis di Hindia Utara tahun 2008 (Sumber: Cooper et al. , 2008)
Nama Periode Peringatan V (knot)
1BNargis 27 April 3 Mei 25 115
2B 16 September 2 45
3A 20 23 Oktober 11 30
4BRashmi 26 27 Oktober 5 45
5B KhaiMuk 14 16 November 9 45
6BNisha 25 27 November 7 50
7B 4 7 Desember 13 35
Gambar 7. Frekuensi kejadian siklon di teluk Benggala tahun 2008
Gambar 6. Frekuensi kejadian siklon di lautan Pasifik barat tahun 2009
atau ada siklon yang terjadi dua kali yaitu siklon 92B, siklon lain hanya terjadi satu kali (Gambar 7). Sik
lon NARGIS adalah siklon de ngan kekuatan angin tertinggi pada ta
hun 2008, yaitu 115 knot (Tabel 3). Meskipun cukup kuat, tetapi siklon ini tidak membentuk mata siklon atau mata siklon tidak jelas.
Distribusi spasial curah hujan nam
pak berkumpul ditengah siklon (Gambar 8. Kiri). Siklon NISHA (Gambar 8. Kanan) dengan inten
sitas yang lebih kecil menunjukkan distribusi spasial curah hujan yang hampir sama dengan siklon NAR
GIS, namun siklon NARGIS menun
jukkan bentuk yang lebih simetris dibandingkan siklon NISHA.
Nama Periode Peringatan V (knot)
Bijli 15 17 April 12 50
Aila 24 25 Mei 7 65
05 September 1 40
Phyan 09 11 November 1 40
Ward 11 14 Desember 12 45
Tabel 4. Siklon tropis di Hindia Utara /teluk Benggala tahun 2009
(Sumber: Cooper et al. 2008)
Informasi Data INDERAJA
Gambar 8. Siklon NARGIS (kiri), Siklon NISHA (kanan)
Keterangan gambar: Kiri: Gambar visual dan curah hujan siklon NARGIS/NISHA, Kanan: Curah hujan di tengah siklon dari titik A sampai titik B (http://trmm.gsfc.nasa.gov)
A A B
B
B
B A
A
Gambar 9. Frekuensi kejadian siklon di teluk Benggala tahun 2009
Pada tahun 2009 terjadi 12 kejadian dari 11 jenis si
klon di teluk Benggala. Siklon 94B terjadi dua kali pada tahun tersebut, sedangkan siklon lain hanya terjadi satu kali (Gambar 9). Di teluk Benggala frekuensi kejadian siklon lebih rendah dibandingkan di Pasifik barat, si
klus hidupnyapun lebih pendek dibandingkan siklon di Pasifik barat yaitu satu sampai enam hari. Siklon NAR
GIS adalah siklon yang mempunyai life time terlama (6 hari) pada tahun 2008, dan siklon WARD (4 hari) pada tahun 2009 (Tabel 4). Gambar 9 juga menunjukkan bahwa tidak terjadi peningkatan frekuensi siklon pada tahun 2009 dibandingkan tahun 2008.
Karena lokasi siklon di Pasifik Barat dan Benggala dekat dengan wilayah Indonesia, putaran/spin siklon akan menarik massa atmosfer (udara dan atau awan) dari
Gambar 10. Vektor angin NNR pada 28 April 2008 (Sumber: http://www.esrl.noaa.gov/psd/).
Informasi Data INDERAJA
B A
A B
Gambar 11. Kiri: Image radar tRMM untuk siklon 06B (Sumber: htttp://trmm.gsfc.nasa.gov), Kanan: Vektor angin dari NNR (Sumber: http://www.esrl.noaa.gov/psd/) pada 12 November 2009)
Gambar 12. Curah hujan kumulatif bulanan tahun 2008 dan 2009 berdasarkan tRMM untuk wilayah Indonesia (10o LU s/d 15o LS, 95o Bt s/d 145 oBt).
atas wilayah Indonesia akibatnya di atas wilayah Indone
sia menjadi cerah. Kasus seperti ini terjadi pada saat ter
jadi siklon NARGIS tanggal 28 April 2008 dan siklon 06 B pada tahun 2009. Ditunjukkan oleh angin dari NNR, ter
jadi pengalihan massa udara/awan dari laut Hindia yang seharusnya masuk ke wilayah Indonesia tertarik ke arah Teluk Benggala (Gambar 10 dan Gambar 11).
Curah hujan bulanan dari Precipitation Radar TRMM di wilayah Indonesia pada tahun 2008 lebih tinggi daripa
da tahun 2009 terutama setelah bulan Mei (Gambar 12).
Perbedaan curah hujan kumulatif bulanan juga dipenga
ruhi oleh suplai massa dari lautan Hindia dan lautan Pa
sifik. Pada tahun 2008 suplai massa dari lautan Hindia selatan ke wilayah Indonesia berlangsung sampai bulan
0 50 100 150 200 250 300
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Curah hujan (mm)
Bulan
Ratarata untuk : 10oLU15oLS, 95oBt145oBt
2008 2009
April sedangkan pada tahun 2009 hanya sampai bulan Maret. Dari lautan Pasifik, suplai massa pada tahun 2008 berlangsung dari bulan Januari sampai Juli dan Novem
ber sampai Desember. Pada tahun 2009, suplai terjadi dari bulan Januari sampai Juni dan bulan Desember. Ini berarti, suplai massa dari kedua lautan tersebut pada ta
hun 2009 lebih kecil dibandingkan tahun 2008. Kondisi seperti ini merupakan salah satu penyebab jumlah hujan tahun 2009 lebih rendah daripada jumlah curah hujan ta
hun 2008, karena massa udara dari lautan Pasifik dan lautan Hindia adalah massa udara dengan kadar uap air dan salinitas yang tinggi sehingga dapat meningkatkan aktivitas konveksi basah atau konveksi dengan peluang terjadinya hujan yang tinggi.
Informasi Data INDERAJA
Oleh: Gokmaria Sitanggang
Peneliti di Bidang Bangfatja, Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi Penginderaan Jauh LAPAN.