nggaran Dana Desa senilai Rp24,83 triliun telah dialokasikan untuk seluruh Gampong di Aceh selama tahun 2015 sampai dengan tahun 2020. Anggaran ini merupakan bagian dari anggaran Dana Desa yang telah dialokasikan senilai Rp268,93 triliun untuk seluruh desa di Indonesia.
Untuk Aceh, Dana Desa dialokasikan untuk seluruh gampong baik di Kabupaten maupun Kota. Berbeda dengan daerah-daerah lain yang hanya dialokasikan untuk desa di Kabupaten tidak untuk kelurahan di Kota. Untuk tahun 2020, alokasi Dana Desa untuk Aceh adalah sebesar Rp4,98 triliun bagi 6.497 Desa yang tersebar di 23 Kabupaten dan Kota.
Dana Desa adalah jawaban dari amanah Undang-Undang tentang Desa untuk untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat desa. Pada akhirnya Dana Desa dapat digunakan sebagai salah satu jalan untuk percepatan pengentasan kemiskinan, peningkatan pelayanan publik di desa, memajukan perekonomian desa dan mengatasi kesenjangan pembangunan antar desa.
Menurut Profil Kemiskinan dan Ketimpangan Pengeluaran Penduduk Aceh Maret 2020 yang dirilis BPS Provinsi Aceh, jumlah orang miskin di Aceh rentang tahun 2017-2020 mencapai 814,91 ribu orang atau 14,99 persen yang tersebar di perkotaan dan pedesaan. Ukuran ketimpangan Gini Ratio Aceh menunjukkan peningkatan tipis dari sebelumnya di September 2019 sebesar 0,321 menjadi 0,323 di Maret 2020.
Desa mempunyai peran penting dalam percepatan penurunan tingkat kemiskinan dan kesenjangan pembangunan secara nasional. Hal ini karena di Desa terdapat entitas pemerintahan terkecil yaitu pemerintah desa. Entitas yang langsung berhadapan dengan permasalahan dan kebutuhan masyarakat, sehingga Desa dapat menjadi pintu masuk kebijakan pemerintah yang tepat untuk menetapkan prioritas pembangunan yang berbasis kebutuhan riil masyarakat di masing-masing desa.
Dengan adanya dukungan penyaluran Dana Desa, desa dituntut kemandiriannya. Kemandirian untuk menggali potensi desa dan sumber-sumber produksi dengan memberdayakan masyarakatnya. Salah satu ukuran yang digunakan pemerintah dalam hal ini Kementerian Desa untuk mengukur kemandirian desa adalah menggunakan Indeks Desa Membangun (IDM).
IDM ditujukan untuk memperkuat pencapaian sasaran pembangunan prioritas sebagaimana tertuang di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
24
(RPJMN) 2015–2019, yaitu mengurangi jumlah Desa Tertinggal sampai 5000 Desa, dan meningkatkan jumlah Desa Mandiri sedikitnya 2000 Desa pada tahun 2019.
Indeks ini digunakan untuk mengukur sejauh mana program-program yang dibiayai Dana Desa memberikan dampak pada pembangunan desa. IDM mengkluster status desa dalam 5 kategori, yaitu (i) Desa Sangat Tertinggal; (ii) Desa Tertinggal; (iii) Desa Berkembang; (iv) Desa Maju; dan (v) Desa Mandiri dengan menggunakan indkator Indeks Ketahanan Sosial (IKS), Indeks Ketahanan Ekonomi (IKE), Indeks Ketahanan Lingkungan/Ekologi (IKL).
Klasifikasi Status Desa berdasarkan IDM
No Status Desa Nilai Batas
1 Sangat Tertinggal ≤ 0,491 2 Tertinggal > 0,491 dan ≤ 0,599 3 Berkembang > 0,599 dan ≤ 0,707 4 Maju > 0,707dan ≤ 0,815
5 Mandiri > 0,815
Berdasarkan Rilis Data IDM Kementerian Desa, di tahun 2015 rata-rata IDM Aceh adalah sebesar 0,552 dengan status Tertinggal dan di tahun 2020 naik menjadi 0,6129 dengan status Berkembang. Berikut rincian status desa di Aceh :
Jumlah Desa berdasarkan Status Desa IDM
No Status Desa 2015 2020 1 Sangat Tertinggal 963 205 2 Tertinggal 4.211 2.404 3 Berkembang 1.226 3.458 4 Maju 105 397 5 Mandiri 5 32
Jika menilik data di atas, di tahun 2015 Aceh masih didominasi oleh desa atau gampong tertinggal yang mencapai 4.211 Gampong atau 64,70 persen dari total gampong di Aceh sementara itu desa atau gampong mandiri hanya 5 gampong atau 0,08 persen. Tampak bahwa masih ada kesenjangan dan ketidakmerataan pembangunan antar desa di Aceh. Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti kondisi geografis yang membuat keterbatasan terhadap akses fasilitas kesehatan, pendidikan dan perekonomian serta beragamnya tingkat pemanfaatan potensi desa yang ada.
Kemudian jika menilik data IDM di tahun 2020 yang juga sudah dirilis oleh Kementerian Desa, sudah ada peningkatan IDM di Aceh dimana status menjadi desa berkembang. Aceh patut mendapatkan apresiasi karena jumlah desa berkembang,
25
maju dan mandiri bertambah secara signifikan dalam 5 tahun terakhir. Hal ini setidaknya mengggambarkan bahwa selama 5 tahun alokasi Dana Desa sebesar Rp24,83 triliun dapat menjadi salah satu pemicu peningkatan pembangunan, kesejahteraan dan kemandirian gampong-gampong di Aceh.
Capaian ini setidaknya dapat menjadi titik awal usaha pemerintah pusat dan pemerintah Aceh dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat desa dan pemerataan pembangunan. Meskipun di tahun 2020 ini, dengan adanya wabah pandemi COVID-19, gerak roda perekonomian berada pada pertumbuhan yang negatif. Kondisi dimana fokus penggunaan Dana Desa yang lebih diutamakan untuk BLT Desa. Fokus untuk membantu masyarakat desa yang terimbas dengan kehilangan pekerjaannya sehingga tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan dasar rumah tangganya.
Sejalan dengan kondisi ini, di tahun 2021 pemerintah telah menetapkan prioritas penggunaan dana desa untuk: Pertama, pemulihan perekonomian desa melalui (i) program padat karya; (ii) jaring pengaman sosial berupa bantuan langsung tunai, pemberdayaan UMKM dan sektor pertanian; serta (iii) program pengembangan potensi desa, produk unggulan desa, kawasan perdesaan melalui peningkatan peran BUMDesa. Kedua, Pengembangan sektor prioritas yang terdiri dari pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) melalui (i) pengembangan Desa Digital; (ii) Program Ketahanan Pangan dan Ketahanan Hewani sesuai dengan karakteristik desa melalui pengembangan usaha budidaya pertanian, perikanan, dan peternakan di desa; (iii) pengembangan pariwisata melalui pembangunan dan pengembangan desa wisata; (iv) peningkatan infrastruktur dan konektivitas melalui pengembangan infrastruktur Desa yang pelaksanaannya diprioritaskan dengan padat karya tunai; serta (v) program kesehatan nasional melalui perbaikan fasilitas poskesdes dan polindes, pencegahan penyakit menular, peningkatan gizi masyarakat dan penurunan stunting di Desa.
Capaian Aceh dan kebijakan tahun 2021 di atas diharapkan dapat menjadi momentum semua pihak untuk terus memberikan yang terbaik dalam pembangunan di desa. Pembangunan yang dapat menjadi langkah dalam percepatan pengentasan kemiskinan, peningkatan pelayanan publik di desa, memajukan perekonomian desa dan mengatasi kesenjangan pembangunan antar desa.
KEMENTERIAN KEUANGAN
DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN
Kantor Wilayah
Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Aceh
Komplek Gedung Keuangan Negara, Gedung A Lantai II-III Jl. Teungku Chik Ditiro
Telepon (0651) 22462, Faksimile (0651) 22432 Banda Aceh 2341