• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.2.1 Dana Pihak Ketiga (DPK)

Dana pihak ketiga merupakan salah satu sumber dana bank yang diperoleh dart masyarakat dalam bentuk simpanan yang berupa giro, tabungan dan deposito. Dana-dana yang dihimpim davi masyarakat merupakan sumber dana terbesar dan bisa mencapai 80%-90% dari sehiruh dana yang dikelola oleh bank.

1) Giro

Giro adalah simpanan pihak ketiga pada bank yang penarikannya dapat ditakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro dan snrat perintah pembayaran lainnya atau dengan cara pemindahbukuan. Dalam pelaksanaannya, giro ditatausahakan oleh bank dalam suatu rekening yang disebut rekening koran. Jenis rekening giro ini dapat berupa rekening atas nama perorangan, badan usaha atau lembaga dan rekening bersama. Menurut Siamat (2005:298), sifat sumber dana ini dapat dikategorikan sangat labil, karena pemegang rekening giro dapat menarik dananya setiap saat tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu kepada bank. Jenis simpanan masyarakat ini tidak memiliki jatuh tempo.

2) Tabungan

Tabungan adalah simpanan pihak ketiga yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurat syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu. Sumber dana yang berasal dari tabungan mempunyai biaya yang lebih tinggi dibanding dengan giro, sasarannya adalah nasabah perorangan dan dari sisi pengendapan dananya relative lebih stabil dibandingkan dengan giro.

3) Deposito

Deposito adalah simpanan pihak ketiga yang penarikannya hanya dapat dilakukan dalamjangka waktn tertentu berdasarkan perjanjian nasabali dengan bank. Menurut Siamat (2005: 300), dari sudut biaya, deposito rnempakan dana yang relarif mahal dibandingkan dengan sumber dana lainnya (giro dan tabungan). Kelebihan sumber dana ini adalah penarikannya yang dapat diperkirakan berdasarkan tanggal jatuh tempo. Berbeda dengau giro, dana deposito akan mengendap di bank karena para pemegangnya (deposan) tertarik dengan tingkat bunga yang ditawarkau oleh bank dan adanya keyakinan bahwa pada saat jatuh tempo (apabila tidak ingin memperpanjang) dananya dapat ditarik kembali. Ada beberapa jenis deposito, yaitit:

a) deposito berjangka (time deposit), adalah deposito yang dibuat atas nama dan tidak dapat dtpindahtangankan,

b) sertifikat deposito (certificate of deposit), adalah deposito yang diterbitkan atas unjuk dan dapat dipindahtangankan atau diperjualbelikan serta dapat dijadikan sebagai jaminan bagi pemohon kredit

c) deposit on call, adalah sejenis deposito berjangka yang pengambilannya dapat dilakukan sewaktu-waktu, asalkan memberitahu bank dua hari sebelumnya.

Keberhasilan bank dalam menghimpun dana dan masyarakat ditentukan oleh berbagai faktor yang harus dicermati bank dalam menempuh kebijakan yang berkaitan dengan penghimpunan dana dari masyarakat. Mennrut Abdullah (2005: 21), adapun faktor-faktor yang dimaksud meliputi;

1) Kepercayaan masyarakat, merupakan hal penting yang dipertirnbangkan (calon nasabah. mengingat masyarakat membutuhkan jaminan kelancaran penarikan kembali dananya apabila suatu saat dibutuhkan. Tingkat kepercayaan masyarakat atau calon nasabali ditentukan oleh kinerja bank yang mencerminkan bonafit alau tidak dalam mengelola dana nasabah,

2) Pendapatan masyarakat, perubahan tingkat pendapatan masyarakat akaii ikut menentukan perkeinbangan penghimpunan dana. Apabila terjadi kenaikan pendapatan masyarakat pada tingkat yang lebih tinggi daripada kenaikan harga, maka akan mendorong masyarakat untuk menghimpun dananya (saving) mengingat hal tersebut berarti pendapatan masyarakat lebih besar daripada pengeluaran konsumsi masyarakat,

3) Pelayanan pihak perbankan, pelayanan kepada nasabah juga menentukan keberhasilan bank, dimana nsasyarakat meiighendaki pelayanan pihak bank yang cepat, terampil dan peduli keramahan kepada nasabah yang nasabah yang dilayaninya

4) Ekspetasi tingkat bunga, bunga simpanan merupakan sesuatu yang diharapkan oieh siapa saja yang menyimpan dananya di bank karena bunga meaipakan bagian pendapatan nasabah penyiinpan. Perkiraan peadapatan yang akan diterima dan resiko dari keputusan menyimpan dajia di bank merupakan hal

yang selalu dipertimbangkan masyarakat dibandiiig dengan alternatif investasi lain. Dengan demtkian apabila bank meningkatkan bunga simpanan maka akan mendorong meningkatnya simpanan masyarakat apabila alternatif-alternatif investasi lainnya menimbulkan resiko yang kiirang lebih sama. 2.2.2 Permodalan Bank

Permodalan menipakan salah satu sumber dana bank yang berasal dari modal sendiri dan sering disebut sebagai dana piliak kesatu. Dana tersebut berasal dari pemilik bank atau para pemegang saham, baik para pemegang saham pendiri maupim pihak pemegang sahara yang ikut dalam usaha bank tersebut pada waktu kemudian, tennasuk para pemegang sahara publik (jika misalnya bank tersebut sudah go public).

Modal adalah sejumlah dana yang ditanamkan ke dalam suatu badan usaha oleh para pemiliknya nntuk melakukan berbagai macam kegiatan usaha yang akan dilakukannya (Dendawijaya, 2005; 46). Menumt Muljono (1996: 227), secara populer modal dapatlah didefinisikan sebagai jumlah dana yang ditanamkan dalam sualu perusahaan oleh para pemiliknya untuk pembentukan suatu badan usaha dan dalam perkembangannya modal tersebut dapat susut karena kerugian ataupun berkembang karena keuntungan yang diperoleh. Dengan demikian modal bank merupakan dana yaag diinvestasikan oleh pemilik pada waktu pendirian bank yang dimaksudkan untuk membiayai usaha bank.

Sesuai Peraturan Bank Indonesia Nomor: 3/21/PBI/2001 lahun 2001 bank wajib menyediakan modal minimum sebesar 8% dari aktiva tertimbang menurut resiko. Ketentuan minimum permodalan biasanya menggunakan suatu ukuran

yang disebut Capital Adequacy Ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal dan dilakukan dengan membandingkan jumlah modal yang dimiliki bank (modal inti dan modal pelengkap) dengan jumlah aktiva tertimbang menurut resiko (ATMR). Rasio kecukupan modal yang vvajib dipelihara oleh bank adalah minimal 8% dan bank yang tidak dapat inemenuhi ketentuan tersebut akan ditempatkan dalam pengawasan kliusus. Dalam menghitung aktiva tertimbang menurut resiko, terhadap masing-masing aktiva diberikan bobot resiko yang besarnya didasarkan pada kadar resiko yang terkandung pada aktiva itu sendiri atau bobot resiko yang didasarkan pada kadar resiko yang didasarkan pada golongan nasabah, penjamin serta sifat agunan (Siamat 2005:254).

Rasio kecukupan modal (CAR) adalah rasio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menyanggah atau menunjang aktiva yang mengandung resiko (tenitaina kredit dan aktiva lainnya seperti penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain). Rasio ini juga merupakan indikator terhadap kemampuan bank untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai akibat dari kerugian bank yang disebabkan oleh aktiva yang beresiko (Dendawijaya 2005:121). Kecukupan modal (CAR) diformulasikan sebagai berikut:

% 100 risiko menurut g tertimban Aktiva bank Modal CAR x

Dokumen terkait