• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Sosialisme Dalam Pandangan Islam

2. Dasar-dasar perintah Agama

Dalam pada mengarangkan perintah-perintah yang berhubungan dengan jalannya ibadat, maka Nabi Muhammad Saw adalah pengubah terbesar tentang persoalan Ihwal pergaulan hidup manusia bersama (sosiale hervormer) yang terkenal oleh dunia. Dalam menjalankan perubahan itu, ia tidak melupakan asas-asas demokratis tentang persamaan dan persaudaraan, demikian juga asas-asas sosialisme.

Menurut perintah agama yang telah ditetapkan oleh Muhammad, sekalian orang Islam, kaya ataupun miskin, dari berbagai macam suku bangsa dan warna kulit, pada setiap Juma‟at harus datang berkumpul di dalam masjid dan menjalankan shalat tanpa ada perbedaan sedikitpun juga

41 https://tafsirweb.com/9103-quran-surat-asy-syura-ayat-13.html, diakses pada tanggal 23/07/2020, Jam 02:29.

42 H.O.S Tjokroaminoto, Islam dan Sosialisme,... h.39.

tentang identitas duniawi, dan tetap satu pimpinan dibawah imam yang dipilih bersama dalam kelompok tersebut.

Dua kali dalam setahun seluruh masyarakat muslim datang berkumul untuk melaksanakan shalat dan bersilaturrahmi satu sama lai dengan rasa persaudaraannya. akhirnya setiap muslim diwajibkan satu kali dalam hidupnya untuk mengunjungi Mekkah pada waktu yang telah ditentukan, bersama dengan puluhan bahkan ribuan saudara sesama umat Islam dipenjuru dunia.

Didalam kumpulan besar tersebut banyak dari mereka yang berdatangan dari berbagai macam asal dan berkumpul disatu tempat yang sama, dengan berpakaian sama, beraktivitas sama, buka kepala (bagi laki-laki) dan kaki telanjang, orang-orang yang tinggi dan rendah derajatnya dari bermacam-macam latar belakang, bersatu tanpa mempersoalkan perbedaan tersebut.

Kumpulan besar terjadi pada tiap-tiap tahun ini adalah satu pertunjukan sosialisme cara Islam dan itulah contoh nyata dari nilai dan persamaan dan persaudaraan. Dalam wujud masyarakat tersebut tidak terlihat perbedaan antara siraja dan rakyat biasa. Hal ini bukan saja menanamkan tetapi juga diikuti oleh perasaan, bahwa semua manusia itu merupakan satu kesatuan dan diwajibkan kepada mereka untuk berlaku adil satu sama lain dengan persamaan yang sempurna sebagai anggota persaudaraan.

Kumpulan besar tersebut bukan saja menunjukkan persamaan harga dan persamaan derajat diantara tiap-tiap individu, tetapi juga memperlihatkan persamaan visi kemanusiaan yang mengabdikan diri kepada sang pencipta yang esa. Seperti itu kehidupan dalam Islam yang digambarkan oleh Tjokroaminoto dengan berbagai landasan dan akar yang diinterpretasikan kedalam bentuk yang lebih mudah dipahami masyarakat kala itu. Sosialisme di dalam Islam bukan hanya sekedar teori yang diajarkan, tetapi dilakukan sebagai bentuk kasih sayang sesama manusia serta wujud iman seorang manusia kepada sang penciptanya.43

3. KEDERMAWANAN DALAM ISLAM

Nabi Muhammad SAW berlaku dermawan dengan asas-asas yang bersifat sosialistik. Al-qur‟an berulang-ulang kali menyatakan, bahwa memberi sedekah itu bukan saja bersifat kebaikan, tetapi juga merupakan suatu keharusan yang jelas dan tidak boleh diabaikan. Tentang pemberian sedekah itu Allah berfirman dalam Q.S Ali Imran, Ayat 92 ٰىَّتَح َّرِبألٱ ۟اوُلاٌََت يل

ۚ َىوُّبِحُت اَّوِه ۟اوُقِفٌُت

نيِلَع ۦَِِب َ َّللهٱ َّىِئَف ءأىَش يِه ۟اوُقِفٌُت اَهَو .Terjemah Arti: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya .

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram) Kalian tidak akan bisa mendapatkan syurga sehingga kalian menyedekahkan

43 H.O.S Tjokroaminoto, Islam dan Sosialisme,... h.39-42.

sesuatu dari apa yang kalian cintai. Dan apa saja yang kalian sedekahkan dengan itu,walau sedikit ataupun banyak, niscaya Allah Mengetahuinya, dan Dia akan memberikan balasan kepada setiap orang yang berinfak sesuai dengan amalnya.44

Maksud melaksanakan perintah persoalan kedermawan dalam syari‟at Islam ternyata ada tida pembagian, yang mana masing-masingnya mempunyai dasar sosialistik :

 Akan membangun rasa ridha mengorbankan diri dan lebih

mendahulukan kesejahteraan bersana dari pada kepentingan pribadi.

Lebih baik tersiksa sendiri ketimbang membiarkan orang banyak mati kelaparan, inilah pokok cita-cita yang ditafsirkan oleh Tjokro.

 Membagikan kekayaan kepada saudara di dalam dunia Islam. Hal ini

dipertunjukkan dalam pemberiaan zakat sebagai salah satu pokok dalam rukun Islam yang dimaknai sebagai bentuk mensejahterakan kehidupan bersama.

 Untuk menuntun perasaan orang, supaya tidak menjadikan status

sosial sebagai alasan untuk menindas ataupun mencela satu sama lain.

Dasar sosialistik dari ketiga pembagian diatas tersebut perlu sekali untuk ditanamkan dalam hati serta dalam pergaulan hidup bersama oleh bangsa Arab di zaman dahulu, karena banyak sombong disebabkan

44 https://tafsirweb.com/1224-quran-surat-ali-imran-ayat-92.html, diakses tanggal 26-07-2020, Jam 15:08.

perbedaan latar belakang sosial. Itulah nilai yang harus ditanamkan kembali kepada masyarakat modern saat ini.

4. PERSAUDARAAN ISLAM

Islam merupakan agama yang bersifat demokratis dan telah menetapkan banyak hukum yang berisifat sosialistik bagi orang-orang yang memeluknya Islam membunuh perbedaan kasta dan kelas karena begitu sempurna, sehingga para budak aman dahulu itu juga memiliki kesamaan derajat dalam masyarakat sosial dan tidak ada aturan-aturan yang berbeda dapat mereka terima dalam kelompok manusia.45

Dalam al-qur‟an juga diperjelas lagi masalah persaudaraan dalam Islam seperti yang difirmankan Allah SWT َيأيَب اوُحِل أصَأَف ةَوأخِإ َىوٌُِهأؤُوألا اَوًَِّإ َىوُوَحأرُت أنُكَّلَعَل َ َّالله اوُقَّتاَو ۚ أنُكأيَوَخَأ, artinya : Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Q.S Al-Hujurat Ayat 10).46

Hal ini merupakan salah satu nilai yang diperjuangkan oleh Rasullullah kala itu, sehingga kesejhateraan dapat dirasakan dalam ruanng lingkup kehidupan yang luas, disanalah tataran sosial yang matang bisa lahir, akibat dihilangkannya perbedaan dalam segi apapun. Dengan sebenar-benarnya persaudaraan dalam Islam merupakan persaudaraan yang sempurna, baik di dunia maupun di akhirat.

45 H.O.S Tjokroaminoto, Islam dan Sosialisme,... h.45.

46 https://tafsirq.com/49-al-hujurat/ayat-10, diakses tanggal, 26-07-2020, Jam 18:31.

5. ISLAM DAN ANASIR-ANASIR SOSIALISME

Berdasarkan pengamatan serta analisa Tjokro, di dalam paham sosialisme ada tiga anasir, yaitu: kemerdekaan (vrijheid-liberty), persamaan (gelijkheid-equality) dan persaudaraan (broederschap fraternity). Ketiga nilai ini dijadikan point-point penting dalam makna aturan-aturan Islam dan merupakan maksud dari kesatuan serta persatuan yang diperujuangkan oleh Rasullullah.

a. Kemerdekaan

Setiap umat Islam seharusnya tidak boleh menakuti apapun di dunia ini, melainkan kepada Allah SWT. La haula wala kuwata illa billah (tidak ada pertolongan dan kekuatan, melainkan dari pada Allah belaka), iya kana’budu wa iya kanasta’in (hanyalah Tuhan saja yang kita sembah dan hanyalah Tuhan sendiri tempat kita meminta pertolongan).

Beberapa orang Arab, yang tidak biasa tinggal di pemukiman tetap, belum pernah menyaksikan perumahan batu, dengan pakaian yang buruk mereka dikirimkan untuk menghadap raja-raja Persia dan Roma yang berkuasa, meskipun raja-raja ini menunjukkan kekuasaan dan kebesarannya, orang-orang Arab tadi tidak menundukkan badannya serta tidak merasa takut sedikitpun.47

Sesungguhnya di dunia ini tidak ada suatu hal apapun yang dapat membuat mereka lemah. Kelompok tersebut tidak merasa bertanggungjawab kepada apapun juga, melainkan kepada Tuhan sang

47 H.O.S Tjokroaminoto, Islam dan Sosialisme,... h.47.

pencipta. Kemerdekaan seperti udara dan merasakan seluas-luasnya kemerdekaan yang orang pikirkan, itulah yang dipertunjukkan bangsa Arab kala itu.

Dari apa yang Tjokro sampaikan diatas, dapat kita maknai jika masih ada hal di dunia ini yang masih membuat kita ketergantungan maka bisa dikatakan masih dalam kondisi terjajah dan belum merdeka sepenuhya dari persoalan duniawi. Allah adalah sebaik-baik tempat kita bergantung, tidak ada satupun persoalan didunia ini yang mampu menduakan Dia dalam pikiran dan jiwa seorang umat muslim.

b. Persamaan

Tentang persamaan, kaum Muslimin pada zaman dulu bukan hanya menganggap diri mereka sama, namun sampai pada merasakan satu kesatuan yang utuh tanpa bisa dipisahkan satu sama lain. Dalam pergaulan hidup bersama diantara mereka tidak ada perbedaan derajat dan tidak ada pula sebaba-sebab yang boleh menimbulkan perbedaam kelas.48

Persamaan yang adil seperti yang diperlihat kaum muslim terdahulu, menyebabkan segenap umat muslim menjadi satu badan dan satu nyawa. Cita-cita persamaan yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad Saw adalah seperti berikut:

“segala orang Islam adalah sebagai satu orang. Apabila seseorang merasa sakit dikepalanya, seluruh badannya merasa sakit juga, dan kalau matanya sakit, segenap badanya merasa sakit juga. Semua muslimin

48 H.O.S Tjokroaminoto, Islam dan Sosialisme,... h.50.

merupakan satu bina-bina, beberapa bagian menguatkan bagian yang lainnya, dengan laku yang demikian itu juga setiap umat saling menguatkan”.

Orang Islam tidak memperkenankan mereka yang bukan Islam membuat perbedaan antara satu sama lainnya. Apalagi mereka menerima utusan-utusan raja Kristen, dan ketika utusan itu menurut adat kebiasaannya sendiri berjongkok di muka para pemimpin Islam, maka itu tidak dipebolehkan oleh pemimpin muslim tersebut, sebab mereka merupakan makhluk Tuhan juga.

c. Persaudaraan

Persaudaraan dalam masyarakat muslim satu sama lainnya sangat erat, baik dalam segi nilai maupun pengaplikasiannya. Rasa cinta yang tumbuh diantara umat seperti mereka mencitai dirinya sendiri, Nabi Muhammad bersabda: ُيِهأؤُي َلْ : َلا َق يِبٌَّلا أيَع الله لأوُسَر ِمِداَخ كِلاَه ِيأب ِسًََأ َةَزأوَح أيِبَأ أيَع َِِسأفٌَِل ُّبِحُي اَه َِأيِخَلْ َّبِحُي ىَّتَح أنُكُدَحَأ, artinya: Dari Abu Hamzah Anas bin Malik, khadim (pembantu) Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam, dari Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam, Beliau berkata, “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”. Hadits ini dikeluarkan oleh Iman Al Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al Iman, Bab Min Al Iman An Yuhibba Liakhihi Ma Yuhibbu Linafsihi, no. 13 dan Imam Muslim dalam Shahih-nya, kitab

Al Iman, Bab Al Dalil „Ala Ana Min Khishal Al Iman An Yuhibba Liakhihi Al Muslim Ma Yuhibbu Linafsihi Min Al Khair, no. 45.49

Cita-cita persaudaraan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw sangatlah luas, sehingga Rasull pun meminta kepada orang-orang yang mengikutinya, hendaklah memperlakukan orang lain sebagaimana mereka memperlakukan dirinya sendiri.

Kekuatan perasaan bersama-sama dan persaudaraan Islam begitu besar, sehingga seorang sufi Fariduddin Attar pada suatu waktu telah melahirkan harapan seperti yang beliau katakan “ Mudah-mudahan kesusahan kalian ditaruh di dalam hatiku, supaya kita semua terhindar dari kesusahan”.50 Dengan sebenar-benarnya persaudaraan di dalam Islam adalah sesempurnanya persaudaraan, baik di dunia maupun persaudaraan di akhirat.

B. PEMIKIRAN H. AGUS SALIM

H. Agus Salim merupakan salah satu anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPK). Pemikirannya tentangnilai Islam dan nasionalisme dalam sebuah negara turut berperan dalam pembentukan konstitusi negara Indonesia.

KH. Agus Salim merupakan seorang putra bangsa kelahiran Kota Gadang, Bukittinggi, Minangkabau, 8 Oktober 1884. Agus Salim lahir dari pasangan Angku Sutan Mohammad Salim dan Siti Zainab. Ayahnya

49 https://almanhaj.or.id/3002-mencintai-saudara-seiman-termasuk-kesempurnaan-iman.html, diakses tanggal, 27-07-2020, Jam 01:50.

50 H.O.S Tjokroaminoto, Islam dan Sosialisme,... h.51-52.

adalah seorang kepala jaksa di Pengadilan Tinggi Riau. Nama kelahiran Agus Salim adalah Mashudul Haq yang memiliki arti “pembela kebenaran”.

Agus Salim merupakan anak yang terdidik dari kecil, ia menempuh pendidikannya di ELS (Europeese Lagere School) dan HBS di Jakarta.

Ketika lulus, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda. Banyak kalangan di era kemerdekaan menilai Agus Salim merupakan sosok yang cerdas dan pandai. Ia menguasai sembilan bahasa asing, di antaranya Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Arab, Turki dan Jepang. Pada waktu muda ia bahkan merantau sampai ke Arab Saudi untuk memperkaya pemikiran dan ilmunya.

Pada tahun 1906, Agus Salim melanjutkan pekerjaannya dan menuju ke Jeddah, Arab Saudi sebagai pegawai di Konsulat Belanda di sana. Dia Arab Saudi inilah Agus Salim berkenal dan menimba ilmu kepada Syekh Ahmad Khatib yang masih merupakan pamannya.

Pengalaman bekerja diluar negri tidak membuat Agus salim lupa terhadap negaranya. Setelah merasakan banyak mendapatkan pengalaman yang banyak, ia kembali ke tanah asal dan melanjutkan karir ke dalam dunia jurnalistik sejak tahun 1915 di Harian Neratja sebagai Redaktur II.

Kemudian itu, ia diangkat menjadi Ketua Redaksi. Kegiatannya dalam bidang jurnalistik terus berlangsung meskipun telah menikah dan dikaruniai delapan orang anak.

Agus Salim akhirnya menjadi Pemimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta. Karir di dunia jurnalistiknya cukup banyak diantaranya adalah mendirikan surat kabar Fadjar Asia, sebagai Redaktur Harian Moestika di Yogyakarta dan membuka kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO).

Karir politik Agus Salim boleh dikatakan berawal dari Syarikat Islam (SI) HOS Tjokroaminoto dan perkenalannya dengan Abdul Muis.

Agus Salim banyak belajar dari kedua tokoh tersebut. Agus Salim pernah menggantikan tokoh tersebut di dalam volksraad di tahun 1921-1924.

Akan tetapi, ia akhirnya terpental juga karena merasa perjuangan dari dalam dan jalur kooperatif dengan pemerintah kolonial tidak membuahkan hasil apa-apa.51

Islam adalah agama dinamis dan tidak rigid, karena ia dapat merespons ajarannya dalam lintas tempat dan zaman. Pondasi-pondasi agama memang tidak boleh diubah, akan tetapi pemikiran kegamaan harus dikontekstualisir dengan kemajuan zaman. Agama Islam tidak akan dipandang lagi sebagai pusaka yang menghalang-halangi kemajuan, tidak lagi sebagai tempat lari, karena takut ancaman akhirat. Islam dijunjung tinggi sejauh ia menjadi bagian terpenting dari prinsipprinsip kehidupan yang dinamis dan progresif.52

51 Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia : (Jakarta: LP3ES, 1973) h. 48

52 Suhatno dkk, Tokoh Pemikir Paham Kebangsaan: Haji Agus Salim dan Muhammad Husni Tamrin (Jakarta: Cv Dwi Jaya Karya, 1995), 23.

Kutipan di atas merupakan salah satu pendapat Haji Agus Salim dalam memandang Islam, sekaligus menggambarkan kecendekiawan yang mengutamakan peranan intelektual, namun sekaligus tidak mau terjebak dalam romantika teoretis yang “kebablasan”, sehingga membuat identitas pribadi menjadi kabur dari hakikat kesejatian yang substantif.

Pendapat tersebut sekaligus memperjelas pengakuan terhadap agama Islam sebagai “obor spiritual” pada diri seorang Haji Agus Salim, terlebih dalam memandang objektivitas ajaran agama. Sikap progresif terlihat jelas dalam susunan kalimat di atas, bebas dari tekanan, objektif sekaligus merupakan himbauan rasional terhadap umat Islam.

Ada sebuah pertanyaan dari Taufik Abdullah yang cukup menyita perhatian bagi orang yang sedang berdiskusi tentang founding fathers Indonesia.53Pertanyaan itu adalah bagaimana menerangkan hasil sebuah public opinion poll yang diadakan oleh harian “Abadi” (1951), yang menyatakan bahwa Haji Agus Salim sebagai salah seorang dari “10 Orang Besar di Tanah Air”? Sukarno dan Hatta terpilih, jelas masuk akal. Mereka adalah Presiden dan Wakil Presiden. Natsir, Sartono, Syahrir adalah tokoh-tokoh partai, tetapi siapa sosok Haji Agus Salim? Mungkin jawaban dari pertanyaan tersebut terletak pada peranan lain yang selama hayat masih dikandung badan, tak pernah ditinggalkan oleh Haji Agus Salim yakni

53 Taufik Abdullah, “Haji Agus Salim dan Pembentukan Tradisi Kecendekiaan Islam di Indonesia” dalam Haji Tanzil dkk (ed.), Seratus Tahun Haji Agus Salim (Jakarta: Sinar Harapan, 1984), 216

mejadi pemikir dan intelektual Islam yang selalu melebarkan sayap ke

wilayah sosial yang semakin luas yaitu kaumterpelajar Islam.

H. Agus Slaim membawa hasil kajian Islam kepada generasi Muslim didikan Barat yang sekuler tapi tetap beriman. Sebagaimana yang dilaporkan oleh Muhammad Roem bahwa tokoh-tokoh seperti Natsir, Roem, Kasman, Prawoto, Jusuf Wibisono, adalah anak didik Haji Agus Salim yang belajar agama dari tempat yang satu ke tempat yang lain, tergantung kemana Haji Agus Salim dan keluarga pindah rumah dari gang becek ke gang becek lain. Boleh dikatakan bahwa dari “mulut” Haji Agus Salim lah para tokoh tersebut mengenal Islam secara cerdas, kritis, komprehensif, dan modern.54

Pandangan Haji Agus Salim terhadap Islam dapat dikatakan sangat reflektif dan progresif. Salah satu akibat kolonialisasi terhadap umat Islam di Indonesia telah secara politis menciptakan jurang pemisah nilai-nilai universal Islam dengan nilai-nilai modernitas yang berkembang di Barat.

Haji Agus Salim merupakan sedikit dari banyak tokoh Islam yang secara strategis dapat menyinergikan Islam dengan nilai-nilai modern substantif.

Haji Agus Salim mengatakan bahwa akal dan rasionalitas adalah suatu yang harus digunakan, tetapi kalau tidak dibimbing oleh pengakuan dalil

54 Mohamad Roem, “Haji Agus Salim” dalam Haji Tanzil dkk (ed.), Seratus Tahun Haji Agus Salim (Jakarta: Sinar Harapan, 1984) h. 178.

yang diwahyukan, kesemua hanya akan mengalami kesialan dunia dan akhirat.55

1. Perspektif H. Agus Salim tentang Aqidah

Tema-tema dalam kajian Haji Agus Salim tentang aqidah meliputi tiga hal, yakni tauhid, takdir dan tawakal ini. Ketiganya, oleh Haji Agus Salim, dituangkan dalam sebuah buku khusus yang berjudul: “Keterangan Filsafat Tentang Tauhid, Takdir, dan Tawakal” pada tahun 1953 yang diterbitkan ulang pada tahun 1967 oleh Tintamas. Dari judul buku tersebut sudah jelas sekali bahwa Haji Agus Salim mengambil sudut pandang filsafat yang kental nuansa logika.

Walau demikian Haji Agus Salim sangat mengakui ketika mengkaji tentang ketuhanan dari sudut pandang rasional semata, terdapat sangat banyak hal-hal yang belum bisa dicapai, namun dikarenakan dalam diri manusia terdapat akal pikiran, maka dimensi ketuhanan tentu harus bisa diterima oleh pikiran.56 Karena itu Haji Agus Salim berusaha membawa akal manusia memahami ketuhanan secara logis.

Haji Agus Salim mengungkapkan perjalanan umat manusia yang begitu kuat berkeyakinan terhadap Islam ini, berasal dari Allah Tuhan Sejati, karena sudah seribu tahun lebih ajaran Islam tahan terhadap kritik dan tahan uji, walaupun terdapat kenyataan-kenyataan yang dipersoalkan,

55 Solichin Salam, “Ulama Intelek” dalam Haji Tanzil dkk (ed.), Seratus Tahun Haji Agus Salim (Jakarta: Sinar Harapan, 1984) h. 195.

56 Haji Agus Salim, Keterangan Filsafat tentang Tauhid, Taqdir, dan Tawakal (Jakarta:

Tintamas, 1967) h. 12.

namun hal itu berasal dari aplikasi pelaksanaan ajaran Islam bukan dari sumber ajaran Islam.

Ajaran agama (Islam) bila diaplikasikan dengan benar dan menurut Haji Agus Salim, bisa membuka pintu kemajuan ilmu pengetahuan yang mengantarkan manusia kepada pengakuan bahwa dibalik alam tabiat ini ada pengertian yang menembus ke daerah alam gaib. Pembahasan tauhid oleh Haji Agus Salim ini, tidak hanya didasarkan dari kreasi subjektif, namun merujuk kitab yang relevan disamping Qur‟an dan Hadîts.

Tauhid dimaknai oleh Haji Agus Salim sebagai kajian tentang keesaan Allah. Sebagaimana ditegaskan dalam penuturan berikut:

“Keesaan Allah artinya bahwa Allah esa, tidak ada bersekutu, tidak berbilang, tidak pula berbagi-berbagi. Hal demikian ditekankan dengan tujuan supaya umat Islam tidak lagi berbuat shirk (menyekutukan Allah) dan khurafat.

2. Perspektif Haji Agus Salim tentang Syari’ah

Di setiap pembahasan suatu tema, Haji Agus Salim hampir dipastikan selalu merujuk pada sumber al-Qur‟ân atau pun h}adîth secara eksplisit atau secara implisit, demikian pula pada pemahaman kata ibadah ini. Haji Agus Salim termasuk orang yang memandang ibadah dalam arti luas, sebagaimana yang diungkapkan berikut: “…bahwa ibadah kepada Allah tidak terbatas rukun-rukun ibadah, kepercayaan inipun nyata mengenai segala perbuatan dalam kehidupan manusia”, ini berarti ibadah bukan hanya diartikan sebagai ritualitas belaka.

Adapun takwa merupakan kesinambungan dari ibadah. Kata takwa menurut Haji Agus Salim tidak dapat diartikan sebagai takut, namun harus dimaknai sebagai hati-hati. Jadi aplikasi dari takwa adalah selalu hati-hati menjalankan sesuatu yang sudah menjadi kewajiban dari Tuhan jangan sampai tergelincir meninggalkan kewajiban tersebut. Semua kewajiban yang demikian disebut fard.

Ketidaksepakatan Haji Agus Salim pada kata fard} diartikan sebagai tuntutan, karena kata tuntutan berasosiasi dengan beban. Haji Agus Salim lebih setuju pemaknaan fard} tersebut sebagi “bagian yang tertentu”, yakni satu pemberian bagian yang ditentukan untuk yang menerima. Keadaan demikian merupakan konsekuensi Haji Agus Salim sebagai seorang ahli bahasa. Ini bukan berarti hal yang menunjukan sisi kelebihan Haji Agus Salim, namun bisa jadi termasuk kekurangan yang bersangkutan.

Kenapa termasuk kekurangan? Karena semua istilah dalam sharî„at Islam tidak bisa dimaknai dan diaplikasikan hanya berdasarkan pengertian menurut bahasa saja, namun harus benar-benar mencerminkan keadaan yang sejati menurut kaidah sumber ajaran Islam yang pasti. Sebagai contoh pengertian salat menurut bahasa adalah doa, namun menurut kaidah fiqih berdasar Sunnah Nabi Muhammad SAW, salat adalah suatu ibadah yang dimulai dengan niat dan diakhiri dengan salam berdasarkan rukun dan syarat tertentu. Haji Agus Salim mengawali pembahasan berkenaan

dengan tema ibadah dan takwa ini, dari keadaan nafsu di dalam diri manusia yang merupakan pemberian Tuhan.

3. Perspektif Haji Agus Salim tentang Ideologi

Terdapat sebuah kesan dilematis ketika Haji Agus Salim menyodorkan wacana tentang pemahaman sila pertama Pancasila. Di satu sisi Haji Agus Salim menegaskan umat Islam tak perlu menyampaikan makna mendalam dari Ketuhanan Yang Maha Esa dari sudut pandang ajaran Islam, apabila berada di forum nasional, namun di sisi lain apabila makna tersebut hanya sebatas slogan pengakuan atas nama agama, tentu hal ini bertentangan dengan prinsip dasar Islam.

Secara tersirat Haji Agus Salim ingin menyatakan, biarkanlah makna kalimat tersebut hanya teryakini oleh intern umat Islam sendiri dan

Secara tersirat Haji Agus Salim ingin menyatakan, biarkanlah makna kalimat tersebut hanya teryakini oleh intern umat Islam sendiri dan

Dokumen terkait