BAB II LANDASAN TEORI
2. Dasar Hukum Asuransi Syariah
Praktik asuransi syariah tidak disebutkan secar tegas dalam Al-Qur‟an, tidak ada sebuah ayatpun secara nyata yang menjelaskan tentang praktik asuransi. Al-Qur‟an hanya mengakomondasi beberapa ayat yang
13
mempuyai muatan nilai-nilai dasar yang ada dalam praktik asuransi, seperti nilai dasar tolong menolong, kerja sama, atau semangat untuk melakukan proteksi terhadap peristiwa kerugian yang diderita dimasa yang akan datang. Sebagai mana firman Allah. 14
1. QS al-Maidah [5] ayat 2:
َٰ نٱَٰ َٗهَػَٰ ْإََُٔبَؼَتَٔ
َٰ ِّشِج
َٰ قَّتنٱَٔ
َٰ َٖٕ
َٰ
َِٰ لٱََٰٗهَػَٰ ْإََُٔبَؼَتَٰ َلََٔ
َٰ ث
َٰ نٱََٰٔ ِى
َٰ ذُؼ
َٰ ٌِ َٔ
َٰ
َٰ ََّللٱَْٰإُقَّتٱَٔ
َٰ
َٰ نٱَُٰذِٚذَشََٰ َّللٱَٰ ٌَِّإ
َِٰةبَقِؼ
٢
َٰ
15Artinya : “.... Tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”.( QS al-Maidah [5] ayat 2 )
Ayat ini memuat perintah (amr) tolong-menolong antara sesama manusia. Dalam bisnis asuransi, nilai ini terlihat dalam praktik kerelaan anggota (nasabah) perusahaan asuransi untuk mneyisihkan dananya agar digunakan sebagai dana sosial (tabarru‟). dana sosial ini berbetuk rekening tabarru‟ pada perusahaan asuransi dan difungsikan untuk menolong salah satu anggota (nasabah) yang sedang mengalami musibah.16 2. Surah al-Baqarah [2]:185
َٰ نٱَُٰىُكِثَُٰ َّللٱَُٰذِٚشُٚ
َٰ سُٛ
َٰ نٱَُٰىُكِثَُٰذِٚشَُٰٚ َلََََٰٔش
َٰ سُؼ
ََٰش
....
َٰ
185
َٰ
17Artinya: “.... Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak
menghendaki kesukaran bagimu...” (QS. al-Baqarah [2]
ayat 185 ).
14 Abdul Manan, Hukum Ekonomi Syariah (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2012), h. 245.
15
QS al-Maidah [5] ayat 2
16
Hasan Ali, Asuransi dalam Perspektif Hukum Islam (Jakarta: Kencana, 2004), h. 106.
3. Surah At-Taghabun [64] ayat 11:18
َٰ بَي
َٰ
َٰ رِئِثَٰ َّلَِإٍَٰخَجِٛصُّيٍَِٰيَٰ َةبَصَأ
َٰهَِّللٱٌَِٰ
َٰ
َٰ ؤٍََُٰٚئَ
َٰ ٍِي
َٰ
َٰ ََِٰٓٚ َّللٱِث
َٰ هَقَِٰذ
ََُّٰج
َٰ ۥَٰ
َٰ َٙشَِّٰمُكِثَُٰ َّللٱَٔ
َٰ ىِٛهَػٍَٰء
َٰ
11
19Artinya: Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang
kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS.
at-Taghabun [64] ayat 11)
Dalam ayat tersebut Allah menegaskan bahwa segala musibah dan kerugian yang diderita oleh manusia tidak dapat diketahui dengan pasti, kapan musibah tersebut akan datang dan berapa besar kerugian yang akan dideritanya. Dengan hal tersebut sudah semestinya manusia berusaha agar menghindari kerugian dan meminimalkan kerugian itu sekecil mungkin. Salah satu cara yang diajarkan oleh ajaran agama adalah memperbanyak berdoa kepada Allah SWT agar terhindar dari musibah di dunia ini. Dalam kaitan dalam bisnis asuransi, diharapkan manusia mengelola resiko yang terjadi akibat musibah itu dengan melakukan perlindungan (proteksi) jiwanya dan hartanya yang diakibatkan dari kerugian tersebut.20
b) Hadist / Sunnah Rasulullah SAW
18
Nurul Huda dkk, Op. Cit., h. 166.
19 QS. at-Taghabun [64] ayat 11
20
Pengertian sunnah secara bahasa adalah jalan yang ditempuh )ةقي رطلا ةك ولسملا), tradisi, dan terpuji. Jama‟nya sunan. Nabi SAW.
Bersabdah.
.ِةَم اَيِقْلا ِم ْوَ ي َلَِا اَِبِ َلِمَع ْنَم ُرْجَأَو اَى ُرْجَأ ُوَللَف ًةَنَسَح ًةَّنُس َّنَس ْنَم
َّنَس ْنَمَو
.ِةَم اَيِقْلا ِمْوَ ي َلَِا اَِبِ َلِمَع ْنَمُرْزِوَو اَىُرْزِو ِوْيَلَعَ ف ًةَئِّيَس ًةَّنُس
21
Artinya : Barang siapa mengadakan sesuatu sunnah (jalan) yang baik,
maka baginya pahala sunnah itu dan pahala orang lain yang mengerjakanya hingga hari kiamat. Dan barang siapa mengerjakan sesuatu sunnah yang buruk, maka atasnya dosa membuat sunnah buruk itu dan dosa orang yang mengerjakan hingga hari kiamat.
Hadis ini memberikan pengertian bahwa perkataan “sunnah” diartikan “jalan”, sebagaimana yang dikehendaki oleh ilmu bahasa sendiri.
Kalangan ahli agama di dalam memberikan pengertian sunnah berbeda-beda, sebab para ulama memandang sunnah dari segi yang berlainan. Ulama hadis memberikan pengertian sunnah sebagai berikut:
. َكِلَذ ُرْ يَغ ْوَأ ٍرْي ِرْقَ ت ْوَأ ٍلْوَ ق ْنِم َمَّلَسَو ِوْيَلَع ِوَّللا ىَّلَص ِِّبَِّنلا ِنَع َلِقُن اَم
Artinya : “Segala yang dinukilkan dari Nabi SAW. Baik berupa
perkataan, perbuatan, taqrirnya atau selain itu”.
Jadi menurut pengertian ini, sunnah meliputi biografi Nabi, sifat-sifat Nabi baik yang berupa fisik, umpamanya; mengenai tubuhnya, rambutnya dan sebagainya, maupun yang mengenai psikis dan akhlak
Nabi dalam keadaan sehari-hari sebelum atau sesudah bi‟tsah (diangkat) menjadi Rasul.22
1. Hadis tentang aqila
ِةَرْ يَرُى ِبَِا ْنَع
ُوْنَع وَّللا ىِضَر
ْتَمَرَ ف ٍلْيَزُى ْنِم ِناَتَأ َرْمِا ْتَلَ تَتْ قِا : َلاَق
اَف اَهِنْطَب ِفِاَمَو اَهْ تَلَ تَقَ ف ٍرَجَِبِ ىَرْخُلاْأ اَُهُاَدْحِا
ِِبَِّنلا ِلََا اْوُمَصَتْخ
ْمَّلَسَو وَّللا ىَّلَص
ْلا ًةَيِد ىَضَقَو ٌةَدْيِلَوْوَأ ٌةَّرَغ اَهِنْيِنَج ًةَيِد َّنَأ ىَضَقَ ف
ِةَأْرَم
ىر اخبلا هاور[ .اَهِتَلِقاَع ىَلَع
]
23Artinya : “Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, dia berkata berselisih
dua orang wanita dari suku Huzail, kemudian salah satu wanita tersebut melempar batu ke wanita yang lain sehingga mengakibatkan kematian wanita tersebut beserta janin yang dikandungnya. Maka ahli waris dari wanita yang meninggal tersebut mengadukan peristiwa tersebut kepada Rasulullah SAW., maka Rasulullah SAW., memutuskan ganti rugi dari pembunuhan terhadap terhadap janin tersebut dengan pembebasan seorang budak laki-laki atau perempuan, dan memutuskan ganti rugi kematian wanita tersebut dengan uang darap (diyat) yang dibayarkan oleh aqilahnya (kerabat dari orang tua laki-laki)”. (HR. Bukhari)
Hadits diatas menjelaskan tentang praktik aqilah yang telah menjadi tradisi di masyarakat Arab. Aqilah dalam hadits di atas dimaknai dengan ashabah (kerab dari orang tua laki-laki) yang mempunyai kewajiban menanggung dendan (diyat) jika ada salah satu anggota sukunya melakukan pembunuhan terhadap suku anggota yang lain. Penanggungan bersama oleh aqilah-nya merupakan suatu kegiatan yang mempunyai unsur seperti yang berlaku pada bisnis
22
Ibid., h. 114.
23
Abu‟ Abdillah Muhammad, Shahih Bukhari, juz 7, ( Beirut: Dar Al-Fikr, 1992), h. 336-367
asuransi. kemiripan ini didasarkan atas adanya prinsip saling menanggung (takaful) antara anggota suku.
2. Hadits tentang anjuran menghilangkan kesulitan seseorang
ْمَّلَسَو وَّللا ىَّلَص ِبَِّنّلا ِنَع ُوْنَع وَّللا ىِضَر َةَرْ يَرُى ِبَِأ ْنَع
ْنَم : َلاَق
ْنِمَو ِةَماَيِقْلا ِمْوَ ي ِبْرُك ُوْنَع ُوَّللا َسَّفَ ن اَيْ نُّدلا ِبَرُك ٍنِمْؤُم ْنَع َسَّفَ ن
]ملسم هاور[ ِةَرِخَلأْاَو اَيْ نُّدلا ِفِ ِوْيَلَع وَّللا َرَّسَي ٍرِسْعُم ىَلَع َرَّسَي
24
Artinya : Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw., beliau bersabdah :
“siapa saja yang menghilangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitan yang dialami orang mukmin, maka Allah akan menghilangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitanya padahari kiamat. Siapa saja yang memudahkan urusan orang yang mengalami kesulitan, maka Allah akan memudahkan urusanya baik di dunia maupun diakhirat”
(HR. Muslim)
Dalam hadits tersebut tersirat adanya anjuran untuk saling membantu antara sesama manusia dengan menghilangkan kesulitan seseorang atau dengan mempermudah urusan duniawinya, niscaya Allah SWT., akan mempermudah segala urusan dunia dan urusan akhiratnya.25 Dalam perusahaan asuransi, kandungan hadits di atas terlihat dalam bentuk pembayaran dana sosial (tabarru‟) dari anggota (nasabah) perusahaan asuransi yang sejak awal mengikhlaskan dananya untuk kepentingan sosial, yaitu membantu dan mempermudah urusan saudaranya yang kebetulan mendapatkan musibah atau bencana (peril).26
24
Al-Iman Abi Zakariya Yahya Ibnu Sarf An-Nawawi Al-Dhamasqi, Syarah Shahih
Muslim, di Tahqi‟ oleh Ngimad Zakiy Al-Barudiy, Juz 17 (Mesir: Al-Makhtabah Al-Thaufiqiya
2008) h. 17
25
Ibid., h. 116.
26
c) Ijma
Para sahabat telah melakukan ittifaq (kesepakatan) dalam hal ini
(aqilah) dalam hal aqilah yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab.
Adanya ijma atau kesepakatan ini tampak tidak ada sahabat lainnya yang menentang pelaksananaan aqilah ini. Aqilah adalah iuran darah yang dilakukan oleh keluarga dari pihak laki-laki (ashabah) dari sisi pembunuh (orang yang menyebabkan kematian orang lain secara tidak sewenang-wenang).
Dalam hal ini kelompoklah yang menanggung pembayaran, karena sipembunuh merupakan anggota dari kelompok tersebut. Dengan tidak adanya sahabat yang menentang khalifah Umar r.a., bisa disimpulkan bahwa telah terdapat ijma di kalangan sahabat Nabi SAW., mengenai persoalan ini.27