SUMUT SYARIAH CABANG LUBUK PAKAM
B. Dasar Hukum Pelaksanaan Bagi Hasil Pada Bank Sumut Syariah Cabang Lubuk Pakam
2. Dasar Hukum Dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits
Pelaksanaan operasional bank syariah didasarkan atas prinsip-prinsip berikut:69
1) Larangan riba. Riba dalam Islam hukumnya haram. Hal ini diatur dalam Al Qur’an dan Al-Hadits sebagai dasar hukum , yaitu:
a. Q.S. AlBaqarah (2) : 275-179 b. Q.S. Ali Imran (3) : 130 c. Q.S. Ar-Rum (30) : 39
d. Hadits Rasulullah SAW.
Riwayat Al-Hakim: “Dan sabda Nabi SAW : dosa riba adalah lebih besar di sisi Allah Ta’ala daripada tiga puluh tiga kali perzinaan yang dilakukan seorang lelaki dalam Islam”
2) Mengutamakan dan mempromosikan perdagangan dan jual beli. Dasar hukumnya adalah:
a. Q.S. An-Nisa (4) : 29;
b. Q.S. Faathir (35) : 29-30, Ash-Shaff (61) : 10-11, dan At-Taubah (9) : 111; dan
c. Hadits Rasulullah SAW.
Hadits Riwayat Al-Bazaar, bahwa Nabi SAW pernah ditanya: “Mata pencaharian apa yang paling baik? Nabi menjawab: “Seorang pekerja dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mulus dan bersih”.
69
Amin Azis., Mengembangkan Bank Islam di Indonesia, Buku Kesatu, Cetakan Pertama Penerbit Bangkit, 1992.
3) Keadilan. Dasar hukumnya antara lain Q.S.Al-Israa (17): 16-35, An-Nisaa (4): 160-161, Q.S. Al-An’am (6) : 162
4) Kebersamaan dan Tolong Menolong. Dasar hukumnya antar lain Q.S. Al-Asr
(103) : 1-3, Al-A’raf (7) : 10, (4) : 32, Al-Baqarah (2) : 212. Hadits Nabi SAW sebagai berikut:
“Hadits Riwayat Thabrani yang artinya: “Bila kalian telah selesai shalat shubuh janganlah kalian tidur, lalu mencari rizki kalian”.
Adapun bentuk-bentuk nyata prinsip-prinsip perbankan syariah tersebut di atas diwujudkan dalam benutuk-bentuk usaha berikut ini:70
a. Al-Wadi’ah. Yaitu perjanjian antara pemilik barang (termasuk uang)
dengan penyimpanan (termasuk bank) dimana pihak penyimpanan bersedia untuk menyimpan dan menjaga keselamatan barang dan atau uang yang dititipkan kepadanya. Jadi al-wadi’ah ini merupakan titipan murni yang dipercayakan oleh pemiliknya. Semua manfaat dan keuntungan yang diperoleh dalam penggunaan barang tesebut menjadi hak penyimpan. Dasar hukum Al Wadi’ah ialah: Q.S. Al-Baqarah : 238 dan
Q.S. An-Nisa : 58.
b. Al-Mudharabah. Yaitu perjanjian antar pemilik modal (uang atau barang) dengan pengusaha (enterpreneur). Dalam perjanjian ini pemilik modal membiayai sepenuhnya suatu proyek usaha dan pengusaha, setuju untuk mengelola proyek tersebut dengan pembagian hasil sesuai dengan perjanjian. Pemilik modal tidak diperkenankan ikut dalam pengelolaan
70
usaha, tetapi diperbolehkan membuat usulan dan melakukan pengawasan. Apabila usaha yang dibiayai mengalami kerugian, maka kerugian tersebut sepenuhnya ditanggung oleh pemilik modal, kecuali apabila kerugian tersebut terjadi karena penyelewengan atau penyalahgunaan oleh pengusaha. Dasar hukum Al-Mudharabah ialah: Q.S. Al-Muzammil : 20,
Q.S. Al Jumm’ah : 10 dan Q.S. Al-Baqarah : 198.
c. Al-Musyarakah. Yaitu perjanjian kerjasama antara dua pihak atau lebih
pemilik modal (uang atau barang) untuk membiayai suatu usaha. Keuntungan dari usaha tersebut dibagi sesuai dengan persetujuan antara pihak-pihak tersebut, yang tidak harus sama dengan pangsa pasar modal masing-masing pihak. Dalam hal terjadi kerugian, maka pembagian kerugian dilakukan sesuai pangsa modal masing-masing. Dasar hukum Al- Musyarakah adalah: Q.S. An-Nisa: 12 dan Q.S Shad : 24, dan Hadits Qudsi
yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Allah SWT telah berkata, “ Aku menyertai dua pihak yang sedang berkongsi selama salah satu dari keduanya tidak mengkhianati yang lain, seandainya berkhianat maka Aku keluar dari peyertaan tersebut” (HR. Abu Daud).
d. Al-Murabahah dan Al- Bai’u Bithaman Ajil. Al-Murabahah adalah
persetujuan jual beli suatu barang dengan harga sebesar harga pokok ditambah dengan keuntungan yang disepakati bersama dengan pembayaran ditangguhkan 1bulan sampai 1 tahun. Persetujuan tersebut juga meliputi cara pembayaran sekaligus. Sedangkan Al-Bai’u Bithaman
Ajil adalah persetujuan jual beli dengan harga sebesar harga pokok ditambah dengan keuntungan yang disepakati bersama. Persetujuan ini termasuk pula jangka waktu pembayaran dan jumlah angsuran. Dasar hukum dari kedua jenis persetujuan ini di dalam Al Qur’an adalah : Q.S.
An-Nisa : 29 dan Q.S. Al Baqarah : 275 dan Hadits Nabi SAW yang
berbunyi:
(1) Dari sabda ra. Bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tiga perkara di dalamnya terdapat keberkatan, yaitu (1) menjual dengan pembayaran secara kredit, (2) muqaradhah (nama lain dari mudharabah), (3) mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah dan bukan untuk dijual. (HR. Ibnu Majah, Subli Assalam)
(2) Dari Abu Said Al-Hudri bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan secara suka sama suka”. (HR. Al Baihaqi, Ibnu Majah dan Sahih menurut Ibnu Hibban).
e. Al-Ijarah dan Al-Ta’jiri. Al-Ijarah adalah perjanjian antara pemilik barang dengan penyewa yang membolehkan penyewa memanfaatkan barang tersebut dengan membayar sewa sesuai dengan persetujuan kedua belah pihak. Setelah masa sewa berakhir, maka barang akan dikembalikan kepada pemilik. Sedangkan Al-Ta’jiri adalah perjanjian antara barang dengan penyewa yang membolehkan penyewa untuk memanfaatkan barang tersebut dengan membayar sewa sesuai dengan persetujuan kedua belah pihak. Setelah berakhir masa sewa, maka pemilik barang menjual barang tersebut kepada penyewa dengan harga yang disetujui kedua belah
pihak. Dasar hukum Al-Ijarah dan Al-Ta’jiri adalah Q. S. Al-Qashas : 26 dan Q. S. At-Thalaq : 6.
f. Al-Qardhul Hasa. Yaitu suatu pinjaman yang diberikan atas kewajiban
sosial semata, dimana peminjam tidak berkewajiban untuk mengembalikan apapun kecuali modal pinjaman dan biaya administrasi. Dasar hukumnya adalah : Q. S. Al Baqarah : 245 dan Q. S. Al-Muazammil : 20. Dasar hukum berupa Hadits adalah Ibnu Mas’ud ra yang diriwayatkan oleh Riwayat Muslim, bahwa Rasulullah SAW telah berasbda,
“Barangsiapa yang telah melepaskan saudaranya yang miskin dari satu kesusahan-kesusahan dunia maka Allah akan lepaskan satu kesusahan padanya di hari akhir. Barangsiapa telah membantu saudaranya yang kesulitan di dunia, maka Allah akan membantunya di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah selalu membantu seorang hamba, selama hamba tersebut membantu saudaranya”.
Selain fasilitas-fasilitas di atas, bank syariah juga memberikan fasilitas berupa produk-produk di bawah ini:
1. Al-Kafalah. Yaitu pemberian garansi kepada nasabah untuk menjamin
pelaksanaan proyek dan pemenuhan kewajiban tertentu oleh pihak yang dijamin dengan cara bank meminta pihak yang dijamin dengan cara meminta pihak yang dijamin untuk menyetorkan sejumlah dana sebagai setoran jaminan dengan prinsip Al-Wadi’ah. Hasilnya, bank akan memperoleh fee.
2. Al-Hiwalah. Yaitu jasa bank untuk melakukan kegiatan transfer (kiriman uang) atau pengalihan tagihan. Dari kegiatan ini bank akan memperoleh
3. Al-Wakalah. Yaitu jasa penitipan uang atau surat berharga, untuk itu bank mendapat kuasa dari yang menitipkan untuk mengelola uang atau surat berharga tersebut. Dalam hal ini bank akan memperoleh fee sebagai jasanya.
4. Al-Sharf. Yaitu kegiatan jual beli suatu mata uang dengan mata uang
lainnya. Jika yang diperjualbelikan adalah mata uang yang sama maka nilai mata uang tersebut haruslah sama dan penyerahannya juga dilakukan pada waktu yang sama.